25.3.06

Profil

  Posted by Picasa

Cinta Sahabat kepada Rasul

Salah satu hadits yang terkenal mengungkapkan betapa penting kecintaan kaum muslimin pada Rasulullah SAW. Sabda beliau, “Tidak sempurna iman seorang di antara kamu sebelum ia lebih mencintai aku daripada mencintai ibu-bapaknya, anaknya, dan semua manusia” (HR Bukhari). Memang, mencintai Rasulullah SAW merupakan salah satu bukti keimanan seorang muslim. Sebaliknya, iman pulalah yang membuat para sahabat sangat setia mendampingi beliau, baik dalam susah maupun senang, dalam damai maupun perang. Kecintaan itu bukan hanya di lidah, melainkan terwujud dengan perbuatan nyata.
Betapa cinta sahabat kepada Rasulullah SAW, tergambar ketika Rasulullah SAW bersama Abubakar ash-Shiddiq beristirahat di Gua Tsur dalam perjalanan hijrah dari Makkah ke Madinah secara sembunyi-sembunyi. Kala itu Rasuklullah SAW tertidur berbantalkan paha Abubakar. Tiba-tiba Abubakar merasa kesakitan karena kakinya digigit kalajengking. Tapi, dia berusaha sekiat tenaga menahan sakit, hingga mencucurkan airmata, jangan sampai pahanya bergerak – khawatir Rasulullah SAW terbangun.
Salah seorang sahabat, Zaid bin Datsima, tak gentar menghadapi ancaman kaum kafir karena begitu luar biasa kecintaannya kepada Rasulullah SAW. Ketika itu, ia sempat disandera oleh kaum musyrik Makkah dan akan dibunuh. ”Hari ini, tidakkah engkau berharap Muhammad akan bersama dengan kita sehingga kami dapat memotong kepalanya, dan engkau dapat kembali kepada keluargamu?” kata Abu Sufyan kepadanya.
“Demi Allah, aku tidak berharap sekarang ini Muhammad berada di sini, di mana satu duri pun dapat menyakitinya – jika hal itu menjadi syarat agar aku dapat kembali ke keluargaku,” jawab Zaid tegas. “Wah, aku belum pernah melihat seorang pun yang begitu sayang kepada orang lain seperti para sahabat Muhammad menyayangi Muhammad,” sahut Abu Sofyan.
Kisah kecintaan sahabat kepada Rasulullah SAW banyak diungkapkan dalam sejarah. Salah satunya ditunjukan oleh Umar bin Khatthab. ”Ya, Rasulullah. Aku mencintaimu lebih dari segalanya, kecuali jiwaku,” kata Umar. Mendengar itu, Rasulullah SAW menjawab, ”Tak seorang pun di antara kalian beriman, sampai aku lebih mereka cintai daripada jiwamu.”

Hari Kiamat
”Demi Dzat yang menurunkan kitab suci Al-Quran kepadamu, aku mencintaimu melebihi kecintaanku kepada jiwaku sendiri,” sahut Umar spontan. Maka Rasulullah SAW pun menukas, ”Wahai Umar, kini kamu telah mendapatkan iman itu” (HR Bukhari).
Penhormatan dan pemuliaan terhadap Rasulullah SAW memang merupakan perintah Allah SWT. Firman Allah, “Sesungguhnya Kami mengutus engkau sebagai saksi, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, supaya kamu sekalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menguatkan-Nya, membesarkan-Nya, dan bertasbih kepada-Nya di waktu pagi dan petang (QS Al Fath : 8-9).
Sebuah ayat menekankan pentingnya kecintaan terhadap Allah SWT dan Rasulullah SAW, ”Katakanlah (wahai Muhammad), jika ayah-ayahmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, isteri-isterimu, keluargamu, harta kekayaanmu, perdagangan yang kamu kekhawatirkan kerugiannya, dan rumah yang kamu senangi, lebih kalian cintai dari pada Allah dan Rasul-Nya, dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak akan memberi hidayah kepada orang-orang fasik” (QS At-Taubah: 24).
Kecintaan kaum muslimin kepada Rasulullah SAW juga merupakan faktor penting bagi keselamatannya di hari kiamat kelak. Hal itu terungkap ketika suatu hari seorang sahabat bertanya kepada rasulullah SAW, ”Kapankah datangnya hari kiamat?” Maka jawab Rasulullah SAW, ”Apa yang sudah engkau persiapkan untuk menghadapinya?” Jawab sahabat itu, “Saya tidak mempersiapkannya dengan banyak shalat, puasa, dan sedekah, tapi dengan mencintaimu dalam hati.” Lalu, sabda Rasulullah SAW, ”Insya Allah, engkau akan bersama orang yang engkau cintai itu.”
Menurut Ibnu Mas’ud, Abu Musa al-Asy’ari, Shafwan, dan Abu Dzar, Rasulullah SAW telah bersabda mengenai seseorang yang dengan tulus mencintainya, ”Seseorang akan berada di Yaumil Mahsyar bersama orang yang dicintainya.” Mendengar itu, para sahabat sangat berbahagia karena mereka sangat mencintai beliau.
Suatu hari seorang sahabat hadir dalam majelis Rasulullah SAW, lalu berkata, “Wahai Rasulullah, aku saya mencintaimu lebih dari mencintai nyawa, harta dan keluargaku. Jika berada di rumah, aku selalu memikirkanmu. Aku selalu tak bersabar untuk dapat berjumpa denganmu. Bagaimana jadinya jika aku tidak menjumpaimu lagi, karena engkau pasti akan wafat, demikian juga aku. Kemudian engkau akan mencapai derajat Anbiya, sedangkan aku tidak?”
Mendengar itu Rasulullah terdiam. Tak lama kemudian datanglah Malaikat Jibril menyampaikan wahyu, ”Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, mereka akan bersama orang yang diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, shiddiqin, syuhada, dan shalihin. Mereka adalah sebaik-baik sahabat, dan itulah karunia Allah Yang Maha Mengetahui” (QS An-Nisa : 69-70). Kecintaan para sahabat kepada Rasulullah SAW inilah pula yang menggerakkan mereka menyebarkan berdakwah ke seluruh penjuru dunia.

Terduduk Lemas
Kecintaan luar biasa kepada Rasulullah SAW itu tergambar pada diri seorang perempuan – beberapa saat usai Perang Uhud. Dia baru saja kehilangan ayah, kakak laki-laki dan suaminya yang gugur sebagai syuhada. Ia bukannya meratapi mereka, tapi menanyakan nasib rasulullah SAW, ”Apa yang terjadi pada diri Rasulullah, semoga Allah memberkati dan melimpahkan kedamaian kepadanya.”
”Nabi baik-baik saja sebagaimana engkau mengharapkannya,” jawab para sahabat. Lalu kata perempuan itu lagi, “Tunjukanlah dia kepadaku hingga aku dapat memandangnya.” Kemudian para sahabat menunjukan posisi Rasulullah SAW. “Sungguh, kini semua deritaku tak ada artinya. Sebab, engkau selamat,” kata perempuan itu kepada Rasulullah SAW.
”Mereka yang mencintaiku dengan sangat mendalam adalah orang-orang yang menjemputku. Sebagian dari mereka bersedia mengorbankan keluarga dan kekayaannya untuk berjumpa denganku,” sabda Rasulullah SAW sebagaimana diceritakan oleh Abu Hurairah (HR Muslim, Bukhari, Abu Dzar).
Setelah Rasulullah SAW wafat, kaum muslimin masih senantiasa mencintainya. Suatu malam, Khalifah Umar bin Khatthab melakukan inspeksi di seantero kota Makkah. Ketika itulah, demikian cerita Zayd ibn Aslam dalam sebuah riwayat, Umar menjumpai sebuah rumah bercahaya terang. Di dalamnya seorang perempuan tua mendendangkan sebuah syair yang mengharukan sambil menabuh rebana, hingga Umar terharu lalu terduduk lemas, menangis:
Rasulullah, engkaulah yang setiap malam / senantiasa bangun beribadah / dan pada akhir malam menangis / Aku tak tahu dapatkah bertemu lagi dengan kekasihku / Rasulullah telah wafat / Aku tak tahu bisakah kita bertemu lagi

Betapa kecintaan sahabat Bilal kepada Rasulullah SAW, terungkap menjelang ia meninggal. Bilal melarang isterinya bersedih hati, sebab, katanya, “Justeru ini adalah kesempatan yang menyenangkan, karena besok aku akan berjumpa dengan Rasulullah SAW dan para sahabatnya.” Wafatnya Rasulullah SAW merupakan kesedihan luar biasa bagi para sahabat dan pencintanya. Dikisahkan, ada seorang perempuan yang menangis di makam Rasulullah SAW sampai ia meninggal.
Demikianlah gambaran betapa luar biasa kecintaan para sahabat kepada Rasulullah SAW. Untuk mengungkapkan rasa cinta itu, sewajarnyalah jika kaum muslimin meneladani akhlaq beliau, menerapkan sunnahnya, mengikuti kata-kata dan seluruh perbuatannya, menaati perintah dan menjauhi larangannya. Itulah cinta sejati, sebagaimana perintah Allah SWT dalam surah Ali Imran ayat 31: “Katakanlah (wahai Muhammad), jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.”
AST/SB

Saat ke Gresik

  Posted by Picasa

22.3.06

Mayada (Sosok)

Suaranya Mirip Ummu Kultsum

Suaranya bak suara emas Ummu Kulsum. Ia sudah menerbitkan 12 album termasuk tiga album kompilasi dengan artis lain.

Artis ini kerap muncul di layar kaca melantunkan lagu-lagu shalawat. Ia adalah Mayada, 16 tahun, yang nama aslinya Umi Mayadah. Namanya meroket sejak ia mengeluarkan album Cahaya Rasul 1 pada 1999, kumpulan shalawat yang di masa silam dinyanyikan oleh Ummu Kultsum, penyanyi legendaris Mesir.
Sejak kecil, anak sulung pasangan H. Adnan Ya’kub Limbong dan Hj. Sunarti Yusuf itu sudah belajar mengaji. Maklum, orangtuanya adalah juara qari dan qariah tingkat nasional. Ayahnya, juara MTQ TVRI/RRI 1986, sementara ibundanya juara MTQ Sulawesi Utara.
Minat Maya dalam berqiraah memang sudah tampak sejak kecil. Setiap kali ada tayangan qiraah di televisi, ia langsung duduk bersimpuh lalu menirukan suara qari di layar kaca. Ketika itu orangtuanya mengira anaknya hanya main-main saja. Bahkan terkadang Maya mengigau membaca Al-Quran layaknya seorang qariah.
Mendengar igauan cucunya itu, sang kakek yang kebetulan tidur bersamanya, kontak menangis. "Sub-hanallah, ini anak mengigaunya saja mengaji, lain dari pada yang lain, " kata kakeknya. Tahu Maya berbakat dalam seni baca Al-Quran, ayahnya mendidik anak sulungnya itu tehnik membaca Al-Quran yang benar.
Dengan sabar, Adnan Ya’kub menurunkan keahliannya dalam hal qiraah sab’ah (tujuh jenis qiraah) kepada anaknya tercinta. Latihan yang sangat disiplin itu ternyata tidak sia-sia. Ketika usianya menginjak tujuh tahun, Maya telah menguasai qiraah sab’ah, sehingga berhasil meraih juara I Musabaqah Tilawatil Quran tingkat Nasional di Jambi pada 1997 untuk kategori anak-anak. Lalu suara emasnya direkam dalam sebuah album qiraah anak-anak.
Selain itu, ternyata Maya juga gemar lagu-lagu shalawat. Kebetulan orangtuanya memiliki koleksi album shalawat cukup banyak, sehingga Maya dapat belajar dengan leluasa. Setelah cukup lancar, ia meluncurkan sebuah album shalawat. Kebetulan, Habib Husein Alaydrus -- produser sebuah perusahaan rekaman -- tengah mencari artis yang cocok untuk menyanyikan lagu-lagu Ummu Kultsum.
Habib Husein Alaydrus pernah ikut serta dalam perekaman album shalawat Nur Muhaammad SAW dan Ziarah Rasul yang dibawakan oleh Haddad Alwi. Suatu hari, Habib Husein menerima sebuah kaset qiraah Maya, dan langsung tertarik. Ketika menjalani tes rekaman, ternyata Maya mampu melantunkan lagu-lagu Ummu Kultsum.
"Pertama kali bikin album, saya grogi. Tapi saya senang, dan seru," tutur Maya. Akhirnya, dalam waktu relatif singkat, pada 1999 sebuah album shawalat, Cahaya Rasul 1, berhasil dirilis. Ketika itulahsuara Maya banyak terdengar di radio dan televisi, apalagi memasuki bulan Ramadhan.
Sejak itu nama Mayada dikenal luas sebagai penyanyi cilik untuk lagu-lagu shalawat, sejajar dengan Sulis, Wafiq Azizah, dan lain lain. Maya tak pernah khawatir bersaing, sebab baginya persaingan harus dilihat secara positif sebagai fastabiqul khairat (berlomba dalam kebaikan). Bahkan ketika mengikuti MTQ, Maya sering minta sekamar dengan Wafiq Azizah.
Setelah album Cahaya Rasul 1, setiap kali menyambut Ramadhan, Maya selalu merilis album shalawat. Hingga sekarang sudah terbit 12 album, terdiri dari tujuh album Cahaya Rasul, tiga kompilasi dengan artis lain, dan dua lagi karet qiraah dan shalawat.. Sejak itu Maya sering diundang menggelar konser di berbagai kota-kota besar, termasuk tawaran konser di luar negeri. Beberapa waktu lalu ia menggelar konser di Kualalumpur dan Hongkong.
Ada penggemar yang mengirim surat, ada pula yang berkunjung ke rumah. Tapi, ada penggemar yang unik: bertandang ke rumah membawa oleh-oleh sekeranjang mangga. Tentu keluarganya senang. Tapi, ada yang bikin sedih. Dalam setiap konser, ada penggemar yang berlebihan dengan menarik-narik bajunya, menungguinya di depan rumah (bahkan sampai bermalam di teras), memanjat pagar rumah, atau membaca puisi di depan rumah.
Tapi, yang paling bikin sedih Maya ialah ulah para pembajak yang mencuri album shalawatnya. Praktis, semua albumnya selalu dibajak sehingga ia banyak merugikan. "Baru seminggu masternya keluar, kaset bajakannya sudah beredar," katanya sedih.
AST/Ft AST
Caption:
Lead
Bersama orangtuanya. Belajar qiraah dan shalawat sejak kecil
Bersama Habib Husein Alaydrus. Suara Maya mirip suara Ummu Kultsum

Habib Husein bin Hadi Al-Hamid (Haul)

Seimbangkan Hablumminallah dan Hablumminannas

Habib Husein bin Hadi Al-Hamid adalah seorang waliyullah yang berusia panjang. Anugerah usia panjang ini, antara lain, karena semasa hidup ia senantiasa menyeimbangkan ibadah hablumminallah dan hablumminannas.
Sabtu sore, 11 Maret 2006, Kompleks Ponpes Islam Al-Habib Muhammad Shodiq di Desa Brani Kulon, Maron, Probolinggo, Jawa Timur, telah didatangi muhibin yang hendak menghadiri acara Haul Habib Husein bin Hadi Al-Hamid, salah seorang waliyullah yang tersohor di kawasan itu.
Menurut sahibulbait, Habib Abdul Qadir bin Muhammad Shodiq bin Husein bin Al-Hamid, cucu Habib Husein, sang wali lahir di Hadramaut, Yaman Selatan, tahun 1862 M, dari pasangan Habib Hadi bin Salim Al-Hamid dan Ummu Hani. Dari kecil, Habib Husein dididik langsung oleh kedua orangtuanya. Habib Hadi dikenal sebagai salah seorang wali yang kesohor di Hadramaut.
Di usia 86 tahun, pada 1929 M, Habib Husein masih senang mengembara ke berbagai negeri, termasuk ke Gujarat, India, dengan menggunakan kapal laut bersama saudagar Arab. Sejak itu ia meninggalkan Yaman dan tidak pernah kembali lagi.
Habib Husein tinggal di Gujarat selama dua tahun. Setelah itu, dia mengembara ke Indonesia dengan menggunakan kapal saudagar yang menuju Batavia. Selanjutnya ke kota Pekalongan dan berguru kepada seorang wali besar, yakni Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib Alattas, hingga beberapa tahun.
Kepada wali yang sangat terkenal di kota Pekalongan itu, Habib Husein mendalami ilmu kewalian. Dan, sebagai tanda bahwa Habib Husein telah mencapai maqam kewalian, dia dihadiahi sebuah sorban dan kopiah putih dari Habib Ahmad Alattas.
Atas pesan gurunya, Habib Husein kemudian mengasah ilmu kepada Habib Muhammad bin Muhammad Al-Muhdhor, yang tidak lain adalah guru Habib Ahmad Alatas. Selama menjadi murid Habib Muhammad, Habib Husein senantiasa mendapat perintah untuk berdakwah ke berbagai daerah.
Salah satu tugasnya yang terakhir dari gurunya itu, Habib Husein diperintahkan untuk menyebarkan dakwah ke Desa Brani Kulon pada 1939. Saat itu kondisi Desa Brani masih berupa hutan belantara dan banyak sarang penyamun.
Ibadah amaliah rutin Habib Husein adalah tiap habis maghrib membaca Ratib Hadad, membaca shalawat 12.000 kali dalam semalam, shalat Subuh berjamaah, al-Wirdul Lathif dan wirid-wirid lainnya. Amal Habib Husein bukan saja ibadah kepada Allah SWT, hablumminnallah, tapi juga menjalin hubungan yang erat dengan sesama, hablumminannas. Tak pelak, dengan keseimbangan amaliah itu, dakwahnya diterima dengan baik oleh masyarakat luas.
Habib Husein termasuk seorang waliyullah yang berumur panjang dan jauh dari penyakit. Ketika ditanya kenapa ia selalu sehat, Habib Husein menjawab, "Di hati saya, tidak ada sedikit pun rasa iri dan dengki terhadap orang lain." Kunci Habib Husein berumur panjang, antara lain, ia secara istiqamah shalat Subuh berjamaah di masjid dan gemar melakukan jalan kaki sekitar satu jam.
Habib Husein wafat hari Jumat Legi, 11 Safar 1406 H/25 Januari 1986, dalam usia 124 tahun. Jenazahnya kemudian dimakamkan di sebelah utara Masjid Al-Mubarok, Desa Brani Kulon.
Selepas shalat Isya berjamaah, tepat pukul 21.00 para santri dan jamaah mengadakan acara Khataman Quran di kompleks makam Habib Husein. Acara dipimpin Habib Abdul Qadir bin Muhammad Shodiq dan berakhir pada pukul 23.00.
Puncak acara haul sendiri berlangsung pada hari Minggu (12/3). Sejak pagi hari, jamaah kaum muslimin dari berbagai kota sekitar Probolinggo telah berkumpul di seputar Masjid Al-Mubarok. Mereka datang dengan kendaraan pribadi maupun mobil carteran. Tak kurang, jamaah yang hadir mencapai 35.000 orang.
Ketika jarum jam tepat menunjuk pukul 09.00, acara haul disambut dengan pembacaan Kasidah Burdah yang dibawakan oleh kelompok hadrah Mamba ’Ali dari Desa Alas Tengah pimpinan Habib Umar Ba’Ali. Kurang lebih acara berlangsung sekitar satu jam. Acara dilanjutkan dengan pembacaan maulid Simthud Durar secara bergantian. Dimulai oleh Habib Abdul Qadir bin Muh Shodiq bin Husein Al-Hamid, lalu Habib Syekh bin Salim Al-Muhdhor, Habib Thalib bin Salim Al-Muhdhor, Habib Hasan bin Muhammad bin Hud Assegaf, Habib Idrus Baraqhbah, Habib Umar Ba’Ali, Habib Syekh bin Ahmad Assegaf, dan Habib Syekh bin Abubakar. Pembacaan doa Maulid oleh Habib Muhammad Shodiq bin Husein bin Hadi Al-Hamid.
Bupati Probolinggo, H. Hasan Aminuddin, dalam sambutannya, selain mengucapkan selamat datang kepada jamaah, juga mengajak mereka meneladani perjuangan Habib Husein bin Hadi Al-Hamid. "Almarhum adalah orang yang istiqamah mengamalkan Islam Ahlussunah wal Jama’ah."
Sementara itu, tausiyah utama disampaikan oleh Habib Muhammad Shodiq bin Husein bin Hadi Al-Hamid, pengasuh Pondok Pesantren Islam Al-Habib Muhammad Shodiq, Desa Brani Kulon. "Berjuanglah dengan landasan taqwa, wasilah, dan tepat dalam wadahnya. Sehingga tujuan sebuah tatanan masyarakat yang baldatun thayibatun warabun ghafur tercapai," katanya.
Acara haul diakhiri dengan doa penutup Habib Thalib dan Habib Hasan. Selanjutnya para jamaah dijamu dengan nasi kebuli puluhan ribu piring.
AST/Ft. AST
Caption:
Lead
Suasana haul Habib Husein. Dihadiri ribuan kaum muslimin
Habib Muh Shodiq bin Husein Al-Hamid (di podium). Meneladani perjuangan almarhum
Jamaah menyimak tausiyah. Mengharap berkah haul
Habib Husein bin Hadi Al-Hamid. Istiqamah shalat Subuh
Jamaah menghadiri haul Habib Husein. Memenuhi jalanan

Habib Soleh bin Ahmad Alaydrus (Figur)

Figur

Habib Soleh bin Ahmad bin Salim Alaydrus

Pakar Hadits Kota Malang

Habib Soleh bin Ahmad bin Salim Alaydrus rajin menyampaikan tausiah di sejumlah masjelis taklim di Jawa Timur. Dia dikenal sebagai salah satu pengajar ilmu hadits yang mumpuni dari kota Malang.
Reputasinya sebagai ulama dan muballigh sudah diakui kaum muslimin di Jawa Timur. Ilmu agamanya pun cukup mendalam. Wajah ulama yang shaleh ini selalu tampak bersih, tutur katanya halus dan dengan gaya bertutur yang enak didengar. Dia dikenal sebagai pakar hadits yang mumpuni dari kota Malang. Selain rajin memberi ceramah di berbagai tempat, ia juga berstatus sebagai pengajar tetap Pondok Pesantren Darul Hadits Al-Faqihiyyah Malang, Jawa Timur.
Dialah Habib Soleh bin Ahmad bin Salim Alaydrus, yang lahir di Malang, 18 Juni 1957. Sejak kecil dia selalu berada di lingkungan yang taat beragama. Pendidikan dasar Habib Soleh terasah sejak ia masuk Madrasah Ibtidaiyah At-Taroqi, Malang, yang dikelola ayahnya, Habib Ahmad bin Salim Alaydrus. "Ayah adalah orang yang betul-betul mencintai pendidikan. Hampir 30 tahun hidupnya disumbangkan untuk Madrasah At-Taroqi," kesan Habib Soleh.
Selain cinta pendidikan, Habib Ahmad juga dalam kehidupan sehari-hari sangat sederhana. "Beliau adalah orang yang wara’, dan hanya mau makan dari hasil jerih payahnya sendiri. Ini yang sulit ditiru banyak orang pada zaman sekarang."
Selepas lulus dari madrasah, ia melanjutkan ke jenjang pendidikan Tsanawiyah di Ponpes Darul Hadits Al-Faqihiyyah Malang. Pada pondok pesantren ini ia mempelajari dasar-dasar ilmu hadits dari Habib Abdullah bin Abdul Qadir bin Bilfagih. Banyak kesan selama ia menimba ilmu di ponpes yang berdiri sejak 12 Rabiul Awal 1364 H/12 Februari 1945 ini.
Habib Soleh sangat mengagumi sang guru, Habib Abdullah bin Abdul Qadir bin Ahmad Bilfagih, yang sekaligus mertuanya. Ia memang dikenal sebagai muballigh yang termasyhur. "Habib Abdullah, menurut saya, sangat kuat dalam menghafal hadits. Ia hafal jutaan hadits serta sanad-sanadnya dan nama-nama kitab sekaligus halamannya," ujarnya.
Selepas dari Pondok Pesantren Darul Hadist Al-Faqihiyyah, Habib Soleh kemudian belajar di Ribath Maliki, Makkah. Sejak 1997, dia belajar agama kepada Imam Assayid Muhammad Al-Maliki. Baginya, Sayid Muhanmmad Maliki tidak sekadar guru, tapi juga sumber inspirasi.
Selama mengaji di Ribath Sayid Muhammad Alwi Al-Maliki, ia sangat menyenangi pelajaran hadits. Terutama kitab Shahih Bukhari. "Shahih Bukhari merupakan dasar hukum-hukum Islam yang ada, karena itu sangat saya gemari," kata Habib Soleh.
Di dalam tradisi Ribath Maliki, kitab Bukhari dan Muslim bila diajarkan selalu diulang, dan pengulangannya secara mendetail. Selain kedua kitab hadits utama itu, dia juga mempelajari kitab ummahatus sitt (induk kitab hadits yang enam), seperti kitab hadits dari Abu Dawud, Tirmidzi, Nasai, Ibnu Majah, Ad-Darimi.
Belajar di Ribath Maliki sering dilakukan di Masjidil Haram. Semua murid Sayid Maliki ini duduk sekitar empat sampai lima jam. Padahal santri-santri banyak yang mengeluh sering beser (kencing). Hingga akhirnya beberapa santri memberanikan diri bertanya pada Sayid Muhammad, "Bagaimana kami sering kencing (beser)?"
Mendengar pertanyaan santri-santrinya, Sayid Muhammad menjawab, "Wahai anak-anakku, air zamzam itu diperuntukkan bagi apa saja. Sekarang doakan agar tidak kencing selama di Masjidil Haram."
Benarlah apa yang diucapkan oleh sang guru, semua santri kemudian minum air zamzam sambil memohon untuk tidak kencing selama di Masjidil Haram. Padahal tiap 15 menit mereka minum air zamzam itu. Perkataan sang guru ini berdasarkan sabda Rasulullah SAW, "Air zamzam itu diperuntukkan bagi apa saja, pasti terkabul."
Selama di Makkah, ia bersama santri-santri Indonesia yang lain, seperti Habib Abdul Qadir bin Ahmad Al-Hadad (Al-Hawi), Habib Ahmad bin Husein Assegaf (Bangil), Muhammad bin Idrus Al-Hadad, dan Muhammad bin Husein Alatas (cucu Habib Ali Bungur), Habib Muhammad bin Ali Al-Habsyi (Probolinggo), dan lain-lain. Sedangkan dari kalangan ulama pesantren, di antaranya K.H. Thoefur Arafat (Purworejo), K.H. Jauhari (Magelang), K.H. Ali Karar (Madura), dan lain-lain.
Banyak pengalaman yang menarik selama dia menimba ilmu di Ribath Maliki. Hampir setiap malam Sayid Muhammad Al-Maliki mengajak santri-santrinya ke Masjidil Haram. "Kalau dia masuk ke masjid, banyak orang yang datang kepadanya. Sayid Maliki sudah menyiapkan sedikit bekal. Dan terkadang dalam tasnya ada uang untuk diberikan kepada mereka yang membutuhkan," kenang Habib Soleh mengenai sosok gurunya itu.
Tidak jarang, kata Habib Soleh, hampir semua santrinya diajak ke rumah orang-orang jompo untuk membagi-bagikan bantuan. Selepas itu mereka kembali ke Masjidil Haram untuk mengaji. "Kami didoakan, insya Allah, menjadi ulama yang barakah dan bermanfaat ilmunya."
Setelah menempuh pendidikan di Ribath Maliki selama sepuluh tahun, Habib Soleh pulang ke Indonesia tahun 1988. Kemudian ia menikah dengan salah satu putri Habib Abdullah bin Abdul Qadir Bilfagih dan sekaligus mengajar di Ponpes Darul Hadits. Ia juga membuka majelis taklim di rumahnya, Jln. Bareng Raya Gg. 1 No. 2, yang bernama Majelis Taklim wa Dakwah lil Habib Soleh Alaydrus. Pengajian dilakukan setiap hari Jumat, Senin, dan malam Rabu.
Sekarang aktivitasnya banyak dicurahkan untuk mengajar, di samping menjadi kepala sekolah Madrasah Tsanawiyah At-Taroqi. "Pada bulan-bulan tertentu, saya juga menyempatkan diri mengisi tausiah, seperti di Malaysia, Singapura, dan Brunai Darussalam," kata bapak enam anak (empat putra dan dua putri) ini.
Adapun materi yang disampaikan dalam tiap taklimnya, Habib Soleh merujuk kitab-kitab ulama salaf, seperti Minhajuth-Thalibin, karya Imam Nawawi, Al Muhadzdzab, karya Imam Ishaqi As-Sirazi, untuk tasawuf; sedang kitab hadits rujukannya adalah Al Adzkar an-Nawawiyah. Minhajul Qawim, karya Syekh Bafadhal, Sabilul Iftikar, karya Habib Abdullah Al-Hadad, Jauharud Tauhid, karya Al-Jazairi, Ihya Ulumiddin, Bidayatul Hidayah, karya Imam Ghazali, Shahih Bukhari, karya Imam Bukhari, Jam’u jawawi, karya Imam Subkhi, An-Nasaih ad-Diniyah, karya Habib Abdullah Al-Hadad.
Selain berdakwah lewat taklim, dia juga telah mengarang 11 kitab yang dijadikan acuan dalam mengajar di banyak pondok pesantren. Kitab-kitab itu, di antaranya, Asy-Syafiyah fi Istilahatil Fuqaha’ asy-Syafi’iyyah, Faidhul Allam fi Akhkamis Salam, Annasyrul Fa’ikh fi Tartibil Fawatih, Is’aful Muhtaj fi Syarhi al-Qilat al-Murajahah fil-Minhaj, Nailul Arab fi Muqaddimatil Khuthab, Lawami’un Nurissany fi Manaqibil Imam Muhammad Al-Maliki al-Hasany, Al-Injaz fi Matsali Ahlil Hijaz.
AST/Ft. AST
FOTO:
Foto calon Cover majalah dan lead figur sudah di Emma, lagi dipilih...
Caption:
Cover. Habib Soleh bin Ahmad Alaydrus (pada Mbak Emma)
Lead Figur (Foto ini juga pada Mbak Emma)
Bersama para habib. Rujukannya banyak
Sedang memberi tausiah. Rajin bertaklim
Bersama Habib Ahmad bin Zein. Bertahun-tahun menimba ilmu di Makkah
Sedang berceramah. Penulis kitab yang produktif

Habib Syekh bin Ahmad Al-Musawa (Figur 4)

Guru para Kiai dan Habaib

Ia dikenal sebagai guru para ulama dan habaib. Seperti ulama yang lain, masa mudanya dihabiskan untuk menuntut ilmu. Meski sudah berusia 85 tahun, ia masih membuka taklim di Surabaya.
Sore itu langit cerah. Suasana di sekitar sebuah gedung di perkampungan Arab Jalan Kalimasudik II Surabaya tampak lengang. Melalui lorong gang sempit di kawasan yang tak jauh dari kompleks Ampel, alKisah sempat berziarah ke rumah Habib Syekh bin Ahmad Al-Musawa, seorang ulama yang kini sudah berusia 85 tahun. Dulu, ia dikenal sebagai muballigh di berbagai majelis taklim di Jakarta. Bisa dimaklumi jika cukup banyak santrinya yang kini menjadi ulama di Jakarta, seperti K.H. Abdurrahman Nawawi, K.H. Thoyib Izzi, K.H. Zain, dan lain-lain.
Lahir di Purwakarta, Jawa Barat, pada 1921, Habib Syekh Al-Musawa putra pasangan Habib Ahmad bin Muhammad Al-Musawa dan Sayidah Sa’diyah. Sejak kecil, putra kedua dari tiga bersaudara ini dididik langsung oleh ayahandanya, seorang ulama yang cukup terkenal di masanya. Pada 1930, menginjak usia sembilan tahun, ia belajar ke sebuah rubath (pesantren) di Tarim, Hadramaut. Di sana ia berguru kepada Habib Ahmad bin Umar Asy-Syathiry, pengarang kitab Al-Yaqut an-Nafis, dan Habib Abdullah bin Umar Asy-Syathiry, pengasuh Rubath Tarim. Ia belajar fiqih, tafsir, nahwu, sharaf, balaghah, dan tasawuf, selama 10 tahun.
Namun yang paling ia senangi ialah tasawuf. "Pelajaran tasawuf sangat saya senangi, karena merupakan salah satu jalan manusia mendekatkan diri kepada Allah SWT. Tasawuf juga menganjurkan orang menjadi bijaksana dan lebih berakhlak," kata Habib Syekh bin Ahmad Al-Musawa. Selain itu, menurut dia, tasawuf mudah dipelajari – baik dalam keadaan senang maupun susah. Maka ia pun dengan tekun mempelajari kitab tasawuf karya Imam Ghazali, seperti Ihya’ Ulumiddin, Bidayah al-Hidayah, dan lain-lain.
Semangat belajarnya yang tinggi membawanya belajar ke Makkah Al-Mukarramah. Meski waktu itu Timur Tengah tak lepas dari imbas suasana Perang Dunia I, tekadnya yang besar tak menyurutkan langkahnya menuju Makkah. Di tengah kecamuk perang itulah, dengan mengendarai unta ia berangkat dari Tarim ke Makkah. Di tengah perjalanan Habib Syekh Al-Musawa terpaksa singgah di beberapa desa, bahkan sempat pula mengajar di perkampungan Arab Badui. Bisa dimaklumi jika perjalanan itu makan waktu sekitar dua bulan.
Di Tanah Suci, ia langsung belajar kepada Sayid Alwy bin Muhammad Al-Maliky. Bermukim di Makkah sekitar lima tahun, Habib Syekh bin Ahmad Al-Musawa juga berguru kepada Habib Alwy Shahab, Habib Abdulbari bin Syekh Alaydrus, dan Sayid Amin Al-Kutbi. Di Makkah, ia sempat bertemu para santri asal Indonesia, seperti Habib Ali bin Zain Shahab (Pekalongan), Habib Abdullah Alkaf (Tegal), Habib Abdullah Syami Alatas (Jakarta), Habib Husein bin Abdullah Alatas (Bogor).
Islamic Centre
Pada 1947 Habib Syekh Al-Musawa pulang, lalu menikah dengan Sayidah Nur binti Zubaid di Surabaya. Tak lama kemudian ia mengajar di Madrasah Al-Khairiyah, sambil berguru kepada Habib Muhammad Assegaf di Kapasan, Surabaya. Setelah gurunya itu wafat, ia menggantikan mengajar di majelis taklim almarhum. Tiga tahun kemudian Habib Syekh bin Ahmad Al-Musawa pindah ke Jakarta, mengajar setiap Minggu pagi di majelis taklim Kwitang yang diasuh oleh Habib Muhammad Alhabsyi selama enam tahun. Ia membantu Habib Muhammad membangun Islamic Centre Indonesia (ICI), antara lain berangkat ke beberapa negara Islam di Timur Tengah pada 1967 untuk mencari dana pembangunan ICI.
Setelah pembangunan ICI selesai, Habib Syekh Al-Musawa mengajar majelis taklim asuhan K.H. Muhammad Zein di Kampung Makassar, Kramat Jati, selama setahun. Dan sejak 1971 ia mengajar di Madrasah Az-Ziyadah asuhan K.H. Zayadi Muhajir selama 30 tahun. Setelah Kiai Muhajir wafat, Habib Syekh bin Ahmad Al-Musawa menggantikan almarhum mengasuh taklim sampai 2003. Selain mengajar di Az-Ziyadah, ia juga mengajar di majelis taklim Habib Muhammad bin Aqil bin Yahya di Jalan Pedati, Jakarta Timur. Bukan hanya itu, ketika itu ia juga mengajar di 30 majelis taklim lain di berbagai tempat di Jakarta.
Pada 2003, Habib Syekh Al-Musawa kembali ke Surabaya, tinggal di rumahnya yang sekarang di Jalan Kalimasudik II. Bapak delapan anak ini (dua putra, enam putri) sekarang lebih banyak beristirahat di rumah. Meski begitu, banyak santri dari sekitar Surabaya yang datang mengaji kepadanya. Ia mengajar fiqih, nahwu, sharaf, balaghah, tafsir, dan tasawuf.
Saat ini fisiknya memang sudah berubah. Dulu gagah dan tampan, kini agak kurus, sementara wajahnya tampak agak cekung. Hanya dua-tiga patah kata yang ia bisa ucapkan, itu pun tentu saja tak lagi lantang seperti dulu ketika masih muda, saat ia masih bergiat sebagai muballigh. Jalannya pun tak lagi gesit.
Meski begitu, semangatnya untuk membangkitkan dakwah masih bergelora. Ia, misalnya, tetap menyampaikan tausiah, meski hanya kepada para tamunya.
Sorot matanya pun masih jernih, pertanda jiwa dan kalbunya bersih pula. Dengan segala keterbatasannya, Habib Syekh bin Ahmad Al-Musawa menerima tamu dengan hangat. Meski sulit berbicara, ulama yang selalu mengenakan gamis dan serban putih ini justru lebih sering menanyakan kondisi kesehatan tamunya.
Selain mengajar privat para santri yang datang ke rumah, ia masih sempat mengajar tasawuf di Majelis Burdah asuhan Habib Syekh bin Muhammad Alaydrus di Jalan Ketapang Kecil setiap Kamis sore sampai menjelang maghrib. Salah satu buah karyanya yang mutakhir ialah kitab Muqtathafat fi al-Masail al-Khilafiyyah (Beberapa Petikan Masalah Khilafiah). Dan kini, meski sudah agak uzur, ia masih bersemangat menyelesaikan sebuah kitab tentang pernikahan dalam pandangan empat ulama madzhab.
AST/Ft. AST
Caption Foto:
Habib Syekh bin Ahmad Al-Musawa (untuk Pin Up)
2. Habib Syekh bersama seorang anaknya. Masih bersemangat berdakwah
3. Habib Syekh usia 60-an tahun. Mengajar 30 majelis taklim
4. Habib Syekh Al-Musawa di ICI Kwitang, Jakarta. Berdakwah ke berbagai pelosok

Habib Hasan bin Umar Baagil (Figur 3)

Pengasuh Darul Mustafa Jawa Timur

Selain sering mengisi taklim di berbagai daerah pinggiran di Jawa Timur, Habib Hasan juga dikenal sebagai pengasuh Pondok Pesantren Al-Huda, salah satu cabang Ponpes Darul Mustafa, Tarim, Hadramaut.

Usianya baru 30 tahun, tapi reputasinya sebagai ulama dan muballigh sudah diakui oleh kaum muslimin di Surabaya. Ilmu agamanya pun cukup mendalam. Wajar, karena ia adalah salah satu alumnus Ponpes Darul Mustafa, Tarim, Hadramaut. Wajah ulama muda yang shaleh ini, selain ganteng, juga bersih. Tutur katanya halus, dengan gaya yang enak didengar. Seperti kebanyakan habib, ia pun memelihara jenggot, yang dibiarkannya terjurai. Kalau sedang memakai iqamah, ulama muda ini mirip Habib Munzhir Al-Musawa, pengasuh Majelis Taklim Rasulullah di Jakarta.
Dialah Habib Hasan bin Umar Baagil, putra Habib Umar Baagil, salah seorang ulama yang terkenal di Surabaya. Habib Hasan juga dikenal sebagai pengasuh Ponpes Al-Huda, di Jln. K.H. Mas Mansyur 220 Surabaya. Ponpes Al-Huda bisa dikatakan satu-satunya cabang Pondok Darul Mustafa di Jawa Timur.
Lahir di Surabaya, pada 28 Desember 1976, sejak kecil ia selalu berada di lingkungan yang taat beragama. “Sejak kecil saya sering diajak ke berbagai majelis taklim di Surabaya. Dari situ saya mendapat banyak manfaat, antara lain berkah dari beberapa kiai dan habib yang termasyhur,” kenang Habib Hasan.
Bisa dimaklumi, sebab ayahandanya memang dikenal sebagai muballigh yang termasyhur pula. Pengalaman masa kecil itu juga yang mendorongnya selalu memperdalam ilmu agama. “Ketika masih kecil, saya pernah dititipkan ke Ponpes Darut Tauhid di Malang untuk belajar agama. Di Malang, sehari-hari saya tekun belajar agama. Pengalaman yang sungguh mengesankan,” ujarnya dengan senyum khasnya.
Di Ponpes Darut Tauhid ini ia menyelesaikan sekolah sampai tingkat SMA. Sepulangnya dari Malang, ia memperdalam agama pada Ustadz Ahmad Baraja Surabaya. Selama di majelis taklim Ustadz Ahmad Baraja, ia juga sempat belajar pada ayahanda, sang Ustadz Umar bin Ahmad Baraja. ”Beliau adalah salah seorang ulama di kota ini. Cara mengajarnya mengesankan.”
Kemudian, pada 1995 ia berangkat ke Hadramaut dan belajar di Ribath Habib Umar bin Hafidz. Habib Umar bin Hasan sangat bersyukur bisa belajar di pesantren yang mencetak ribuan santri muda terkemuka di seluruh dunia ini serta menjadi benteng Madzhab Syafi’i di Yaman. Muridnya berdatangan dari mana-mana, termasuk Indonesia. “Alhamdulillah, selama di Hadramaut, kami dididik ilmu zhahir dan batin. Gemblengan ilmu agama, seperti fiqih dan tasawuf, sangat ditekankan,” tuturnya.
Selama di Hadramaut, Habib Umar bin Hasan mendapat bimbingan dari Habib Umar bin Hafidz, Habib Abdullah As-Shahab, Habib Salim Asy-Syathiry, dan Habib Hasan Syathiry. Namun guru yang paling berkesan baginya selama di sana adalah Habib Umar bin Hafidz. Habib Umar, menurutnya, bukan sekadar guru biasa, tapi juga sumber inspirasi. “Kalau beliau sedang memberikan wejangan, sangat menyentuh hati, terutama saat berbicara di majelis Maulid,” kata Habib Hasan.
Dan yang paling mengesankan dari sang guru adalah semangatnya dalam berdakwah. “Hampir setiap Senin malam membuat pengajian terbuka yang dinamakan Jalsatul Isnain. Pengajian ini unik, sebab dilaksanakan di jalan raya, yang dihadiri masyarakat kota Tarim,” tambahnya.
Santri-santri dari Indonesia yang ada di Ribath Tarim, di antaranya, Habib Jindan bin Novel bin Salim bin Jindan, Habib Munzhir Al-Musawa, Habib Ahmad bin Novel, Habib Soleh Al-Jufry (Surakarta).

Kiblat Pelajaran
Selepas lulus dari Darul Mustafa tahun 2003, ia menetap di Surabaya. Ia langsung mengajar di Pesantren Al-Huda, yang saat itu masih diasuh oleh sang ayah. “Dan, karena Ponpes Al-Huda merupakan cabang Ponpes Darul Mustafa Tarim Hadramaut yang ada di Jawa Timur, arah dan kiblat pelajaran Al-Huda sama persis seperti Pondok Darul Mustafa Hadramaut,” ujar bapak satu putra ini.
Untuk menjadi santri Al-Huda, ada beberapa syarat utama. Selain punya kemauan kuat untuk belajar menuntut ilmu bidang fiqih, nahwu, dan hadits, calon santri juga harus sudah bisa memahami berbicara dan menulis bahasa Arab dengan baik. “Syarat utama menjadi santri di Pondok Al-Huda ini adalah umur santri di atas empat belas tahun, laki-laki, bisa membaca Al-Quran, dan mendapat izin dari orangtua atau wali santri,” katanya.
Di Pesantren Al-Huda, para santri mempelajari kitab secara berjenjang, dari yang yang mudah hingga yang paling puncak. Misalnya, dalam ilmu fiqih, para santri mempelajari kitab Risalatul Jami`ah, Safinatun Naja, Al-Muqaddimah Al-Hadramiyyah, Matan Abi Suja’, Az-Zubad, Yaqutun Nafis, `Umdatus Salik, hingga Minhajuth Thalibin, sering disebut salah satu puncak kitab ilmu fiqih Madzhab Syafi’i.
Dalam program bahasa Arab, mereka mempelajari kitab Al-Ajurumiyyah, Mutammimatul Ajurumiyyah, dan Alfiyyah Ibni Malik. Sementara untuk tauhid, para santri mengkaji kitab Aqidatul `Awam, Al-Aqidah, karya Imam Abdullah bin Alwi Al-Haddad. Dan, dalam bidang hadis, mereka membedah kitab Mukhtarul Ahadis, karya Habib Umar bin Hafidz, dan Arba`in An-Nawawiyyah (empat puluh hadits himpunan Imam Nawawi). Khusus untuk tasawuf, para santri menelaah kitab Risalatul Mu`awanah dan karya-karya lain Habib Abdullah Al-Haddad, serta Bidayatul Hidayah dan Ihya Ulumiddin, karya Imam Ghazali.
Pada perkembangan terakhir, para santri juga mendapat pendidikan keterampilan menggunakan komputer dan latihan pidato. “Ini semua untuk meningkatkan keterampilan santri dalam mengembangkan dakwah,” tambah Habib Hasan.
Selain disibukkan sebagai pengajar Pondok Al-Huda, Habib muda ini juga berdakwah ke masyarakat. Ia dikenal sebagai dai yang banyak disukai kalangan muda, karena materi dakwahnya sering menyentuh persoalan remaja, seperti narkoba, kenakalan remaja, dan lain-lain. Pada setiap hari Senin, Habib Hasan pagi membuka taklim di rumahnya yang diikuti masyarakat sekitar kawasan Kapasan (Jln. K.H. Mas Mansyur), dan tentu saja para santri dari Ponpes Al-Huda.

AST/Ft. AST
\\NS1\alkisah_komp\SBY\Habib Hasan bin Umar Baagil
Foto Cover sudah di Emma (pada Alkisah Redaksi)

Caption:
Habib Hasan bin Umar Baagil
Habib Hasan bersama santri-santrinya. Calon ulama masa depan
Santri-santri Al-Huda belajar komputer. Membekali diri menjadi dai yang tangguh
Pondok Pesantren Al-Huda. Cabang Darul Mustafa di Jawa Timur

Habib Husein bin Abdullah Assegaf (Figur 2)

Telaga Ilmu Kota Gresik

Habib Husein bin Abdullah bin Muhammad Assegaf adalah tokoh penting. Ilmunya bak telaga yang tak pernah kering, membuatnya menjadi rujukan para habib.

Di kalangan para habib di Jawa Timur, nama Habib Husein bin Abdullah bin Muhammad Assegaf memiliki tempat tersendiri. Dia dianggap wali dengan kedudukan dan kedekatan di hadapan Tuhan. Orang yang belum pernah ketemu dengannya tentu tak menyangka dia seorang ulama besar. Orangnya sangat terbuka dan tak pernah mengagungkan dirinya di hadapan orang lain. Setiap orang yang datang, selalu diajaknya bicara dengan lemah lembut dan penuh keakraban. Hampir setiap orang yang menemuinya ingin segera mencium tangannya.
Jarang keluar kota, ia lebih banyak mengajar dan sekaligus menjadi khadam (pelayan) Majelis Abubakar bin Muhammad Assegaf, di dekat rumahnya. Hampir setiap hari ia mengajar kitab Ihya Ulumuddin dan kitab-kitab klasik kepada jamaahnya. Puncaknya pada pertengahan bulan Dzulhijjah pada saat haul Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf.
Di majelis ini, dia menemui banyak tamunya, yang tak pernah sepi. Rumah Habib Abubakar ini senantiasa terbuka untuk siapa saja. Ia kerap berbicara dalam bahasa Arab dengan tamu-tamunya, dengan bahasa Arab yang tinggi, yang menandakan keterpelajarannya serta kualitas pengetahuannya.
Wibawa Habib Husein akan terlihat jika ia tampil dalam kerumunan kalangan habaib. Misalnya, pada suatu acara rauhah (acara kekeluargaan di kalangan Alawiyyin – keturunan Alawiy). Tepat habis shalat Ashar, orang-orang dengan baju putih-putih mulai berdatangan ke tempat itu. Aroma wangi menonjol sekali dari asap dupa kayu gaharu khas Arab.
Para tamu duduk berimpitan menghadap Habib Husein, yang diapit beberapa habib sepuh. Acara rauhah dimulai dengan pembacaan kasidah oleh seorang sayid muda yang juga mengenakan pakaian serba putih. Ia melantunkan kasidah berbahasa Arab yang dikutip dari syair-syair lama tentang puja-puji kepada Rasulullah. Suaranya melengking tinggi dalam nada Syikah, lantas turun rendah mendayu-dayu dalam nada Nahawand.
Semua orang dibuat khusyuk mendengarkan kasidah sayid muda itu. Selanjutnya, beberapa habib muda membaca lembar demi lembar kitab Ihya Ulumuddin, karya Hujjatul Islam Al-Imam al-Ghazali, di hadapannya. Dengan kata-kata lembut, sang habib menggunakan bahasa Arab membetulkan satu per satu setiap kesalahan bacaan dari para habib yang datang di acara khataman kitab Ihya itu.
Habib Husein memang memiliki banyak kelebihan di luar habaib yang lain. Di samping sebagai sesepuh para habib di kota Gresik dan sekitarnya, ia juga dikenal sebagai salah seorang yang cakap menggunakan bahasa asing – tak kurang tiga bahasa asing dikuasainya: Inggris, Prancis, dan tentu saja bahasa Arab. Tidak mengherankan, karena ia banyak bergaul dengan ulama-ulama yang ada di luar negeri.
Banyak hal yang dapat digali dari Habib Husein. Salah satunya adalah penguasaan khazanah kesejarahan wali-wali Allah asal Hadramaut. Yang luar biasa, keterangan yang diberikan dalam mengomentari para tokoh tersebut diucapkan di luar kepala. Lelaki kelahiran Surabaya tahun 1941 ini memang dikenal sebagai tokoh yang mumpuni.
Mengenal tokoh ini seperti mengenal biografi berjalanan. Hal itu ditunjukkan dengan kepiawaian Habib Husein dalam meriwayatkan berbagai tokoh di balik sejarah Islam dan ulama-ulama Hadramaut. Kepiawaiannya dalam hal ini bisa dilihat ketika ia menjelaskan dengan cermat para tokoh ulama Hadramaut. Misalnya, tentang kehidupan Al-Faqihul Muqaddam, Habib Abdullah Al-Hadad (Shahiburratib), dan seluruh nama besar dari kalangan keturunan Rasulullah dari Sayyidina Husein bin Ali. Dengan tutur kata yang halus, ia bercerita tentang sisi lain para pendahulu itu. Habib menyebut tahun atau usia seorang tokoh secara akurat.
Jangan heran, kepandaiannya ini, baik dari segi bahasa maupun sejarah para auliya’ Hadramaut, mengantarkannya menjadi pemandu bagi 55 kiai terkemua di Jawa Timur, untuk tur ziarah dan umrah pada biro perjalanan umrah dan haji Al-Mastur, pimpinan H. Bargowi, di Surabaya sejak tahun 2005.

Mengaji sejak Kecil
Sejak kecil mengaji pada Madrasah Al-Khairiyah sampai tahun 1955. Pendidikannya kemudian berlanjut dengan belajar kepada Habib Abdulqadir Bilfagih di Pondok Pesantren Darul Hadist Malang sampai 1958.
Pada 1958, dia kembali ke Surabaya dan menetap di Jln. Ketapang Adiguno. Di lingkungan Ampel ini, ia belajar fiqih dan nahwu sharaf kepada Habib Muhammad bin Ahmad Assegaf, salah seorang ulama terkemuka Surabaya yang tinggal di kawasan Kapasan. Menurutnya, Habib Muhammad bin Ahmad Assegaf adalah ulama yang alim, ahli fiqih setaraf dengan mufti, pemberi fatwa.
“Orang-orang tertentu yang mengenal dia mengetahui kebesaran dan keilmuan Habib Muhammad bin Ahmad Assegaf. Banyak ulama yang menanyakan masalah-masalah fiqih kepadanya. Kalau ada masalah yang tidak dapat dipecahkan, larinya ke Habib Muhammad,” kata Habib Husein mengomentari gurunya itu.
Menurut Habib Husein, Habib Muhammad adalah orang yang sangat sederhana. Namun di balik kesederhanaannya itu tersimpan mahkota ilmu yang luas. Habib Muhammad pernah bercerita kepadanya, ”Andai kata ada masalah fiqih, saya bisa memberi fatwa dengan empat madzab dengan dalil dan ilat-nya,” demikian Habib Husein menirukan perkataan Habib Muhammad.
Di majelis taklim Habib Muhammad bin Ahmad Assegaf inilah, banyak juga ulama seangkatannya yang belajar kepada sang habib, seperti Habib Abdurrahman bin Seggaf Assegaf, Habib Hamid bin Seggaf, Habib Alwi Al- Hasani, dan lain-lain. “Saya termasuk yang paling muda waktu itu,” katanya.
Banyak hal yang menarik dari sosok Habib Muhammad Assegaf. Di antaranya, dia dikenal sebagai ulama yang tawadhu’. “Meskipun, dari yang hadir, dia didebat, Habib Muhammad tidak marah.Yang dikatakan, ‘Kau salah. Tidak percaya? Coba kau rujuk lagi’. Setelah seminggu datang untuk dirujuk, betul apa yang dikatakan Habib Muhammad. Sekalipun dibantah, ia tidak pernah marah-marah,” demikian kesan Habib Husein terhadap gurunya.
Selepas dari kota Surabaya, ia pindah ke kota Gresik tahun 1972 dan menikah di kota itu. Kini dia dikaruniai 12 anak, tiga putra dan sembilan putri. Di kota Gresik inilah ia mempelajari tasawuf kepada Habib Ali bin Abubakar bin Muhammad Assegaf. Setiap hari, ia mengaji kitab Ihya Ulumuddin dengan tekun. ”Inti-inti ilmu untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT itu dipelajari dari ilmu-ilmu tasawuf,” katanya.
Akhir 1982, Habib Ali bin Ahmad Assegaf, yang meneruskan tradisi mengajar di Majelis Taklim Abubakar bin Muhammad Assegaf, mengatakan, ”Husein, siapa di antara kita yang mati dulu harus mengawasi anak-anak. Jadi, seumpama saya mati dulu, Habib Ali yang mengawasi anak saya. Begitu pula jika Habib Ali mati dulu, sayalah yang mengawasi anak-anaknya.”
Selepas Habib Ali meninggal, Habib Husein mulai mengajar taklim di majelis ini sampai sekarang. Dan yang saat ini ia kerjakan di majelis taklim hanya meneruskan apa yang sudah dilakukan oleh Habib Abubakar. ”Saya hanya melanjutkan.”
Kini, setiap pagi ia mengajar kitab Ihya Ulumuddin secara rutin di majelis taklim. Tidak hanya itu, dia juga mengajar taklim di majelis-majelis yang ada di sekitar rumahnya. Keinginannya yang belum tercapai adalah membuka pondok pesantren di Gresik dengan anak-anak muda dari lulusan Hadramaut.
“Tempatnya sudah ada, dan sudah diberi nama oleh Habib Umar bin Hafidz, yaitu Pondok Pesantren Al-Ridwan. Insya Allah, satu tahun lagi dibuka,” ujarnya.

AST/Ft. AST

Foto: Komp_SBY\Komplet Habib Husein Gresik


Caption Foto:
Habib Husein di tengah jamaah. Selalu menjadi sumber rujukan
Habib Husein saat arak-arakan. Menjadi rujukan para habib
Habib Husein membaca maulid. Majelisnya dipenuhi dengan ilmu
Bersama Habib Abdulqadir dan Habib Abubakar. Seperti anak sendiri

Habib Thohir bin Abdullah Al-Kaf (Figur 1)

Lebih Banyak Menjaga Akidah

Sebagian besar waktunya dihabiskan untuk berdakwah. Berbagai tempat telah ia rambah, untuk membentengi umat dari pendangkalan akidah.

Gaya berdakwah dai yang satu ini sangat khas, suara bariton yang berat dan dalam. Orasinya terkesan galak, penuh nada kritik namun bertanggung jawab. Sesekali dalam ceramahnya, ia menyelipkan canda-canda yang segar. Sehingga, dalam tiap pengajian yang diisi olehnya, ribuan jamaah betah mendengarkan sampai acara pengajian berakhir.

Jamaahnya banyak tersebar di berbagai wilayah di Indonesia. Dialah Habib Thohir bin Abdullah Al-Kaf, salah satu keluarga Al-Kaf yang paling keras dalam berdakwah dari tujuh bersaudara anak lelaki Habib Abdullah Al-Kaf. Sebagai pendakwah, pria kelahiraan Tegal, 15 Agustus 1960, ini dikenal sangat konsisten dalam membentengi umat dari pendangkalan akidah, terutama oleh berkembangnya aliran sesat.

Mengenakan baju koko putih dan bersarung, demikian tampilan sederhana habib yang sebagian besar waktunya habis untuk berdakwah ini. Ditunjang oleh sosoknya yang tinggi besar, kalau sedang berbicara di atas panggung, nada bariton yang berat dan suara menggelegar, itulah ciri khasnya. Gaya pidatonya berapi-api penuh semangat, sehingga dai ini terkesan angker. Namun, di balik kesehariannya, ia adalah seorang yang berhati lembut, bertutur kata pelan dan bersahaja.

Habib Thohir mendapatkan pendidikan agama dari ayah, Habib Abdullah Al-Kaf, yang dikenal sebagai ulama senior di Jawa Tengah. Kemudian SD dan SMP Al-Khairiyah di Tegal. Baru, pada tahun 1980, menjadi santri Sayid Al-Maliki di Pesantren Al-Haramayn asy-Asyarifain Makkah. Dia menjadi santri selama enam tahun bersama adiknya, Habib Hamid bin Abdullah Al-Kaf. Habib Hamid kini dikenal sebagai muballigh dan pemimpin Pondok Pesantren Al-Haramayn asy-Asyarifain, Jln. Ganceng, Pondok Ranggon, Cilangkap, Jakarta Timur.

Pulang ke Indonesia tahun 1986, Habib Thohir langsung terjun ke bidang dakwah, dan pernah juga menjadi ustaz di beberapa pesantren. Kini, meski berkeluarga di Pekalongan, dia lebih banyak membina umat di Tegal, khususnya di Masjid Zainal Abidin. Di masjid yang terletak di Jalan Duku Tegal itulah, dia mengadakan majelis taklim yang diberi nama "Majelis Taklim Zainal Abidin".

Dia berharap, pesantren Zainal Abidin, yang sejak lama digagasnya, akan bisa dibangun di Tegal. Sebab sudah banyak orang tua yang ingin menitipkan anaknya kepadanya. Namun, cita-citanya itu tampaknya masih akan lama terwujud, sebab sekarang jadwal berdakwahnya masih padat.

Pendangkalan Akidah

Ketika disingung dengan isu aktual berdakwah, Habib Thohir dengan penuh semangat menyatakan, tantangan terberat umat Islam saat ini adalah adanya pendakalan akidah lewat aliran sesat. "Berdakwah, menurut saya, sebenarnya lebih dari gerakan moral. Sebab saat ini umat Islam Indonesia khususnya masih sering terjebak gerakan aliran sesat. Jadi saya sekarang berkonsentrasi untuk berdakwah, lebih banyak menyoroti tentang akidah, terutama fenomena banyaknya aliran sesat itu," kata Habib Thohir membuka perbincangan.

"Jadi, kalau Habib Rizieq memerangi kemaksiatan lahiriah, seperti perjudian, mabuk-mabukan, dan pelacuran, saya lebih banyak memerangi kemungkaran dalam akidah yang diakibatkan oleh aliran sesat, seperti Ahmadiyah dan lainnya," ujar ayah dua anak ini.

Hampir dalam berbagai dakwah, entah dalam kesempatan majelis taklim, haul, ataupun seminar, dia selalu memperingatkan beberapa kesesatan yang dilancarkan kepada kaum muslimin di Indonesia. Sebab Islam di Indonesia, menurutnya, adalah Islam warisan Walisanga, yaitu Ahlusunnah wal Jamaah, bukan Syiah maupun Ahmadiyah, misalnya. Nama Habib Thohir lebih banyak dikenal oleh kaum muslimin yang tinggal di pelosok-pelosok desa. Karena dia lebih senang berdakwah di daerah-daerah, bahkan masuk di pedesaan.

"Yang paling penting sekarang adalah menjaga akidah, jangan sampai ketidaktahuan mereka pada akidah Ahlussunah wal Jamaah, menjadi sasaran empuk propagandis aliran sesat yang merusak pokok-pokok kepercayaan umat Islam," kata Habib Thohir.

Habib Thohir juga mengharapkan, para ulama dan cendekiawan mempunyai sikap dan kepedulian untuk membentengi umat Islam dari kerusakan akidah. Kepada sesama Ahlussunah wal Jamaah, diharapkan tidak perlu lagi berdebat soal furu’iyyah (masalah cabang-cabang agama), seperti tahlil, Maulid, haul, dan lainnya.

"Jangan dianggap bahwa orang-orang yang menjalankan ritus ini tidak mempunyai argumentasi. Dan sewaktu berdebat dengan orang-orang semacam ini berarti berhadapan dengan saudara sendiri. Perlu diketahui juga, mayoritas umat Islam Indonesia adalah paham Ahlussunah wal Jamaah, yang senang tahlil, Maulid, haul, dan lain-lain. Dakwah semacam ini, dipastikan akan mendapat tantangan. Contoh di kota Mataram beberapa waktu lalu, sebuah pondok pesantren dibakar, karena melarang talqin. Ini bisa timbul di tempat lain," katanya dengan nada penuh prihatin.

Habib Thohir menambahkan, perdebatan semacam persoalan furu’iyyah sebaiknya segera diakhiri. Menurutnya perdebatan-perdebatan semacam itu sangat kontraproduktif bagi umat Islam. "Di saat kita membutuhkan energi, kekuatan, dan ilmu kita untuk sesuatu yang sangat berbahaya menimpa umat – terutama aliran sesat – kita kok masih berdebat soal khilafiyah?" kata bapak dua orang putra ini.

Karena panggilan rasa persatuan itulah, Habib Thohir senantiasa menggandeng semua pihak untuk bisa duduk bersama dan bahu-membahu membangun dan berdakwah untuk umat.

"Jadi paham aliran sesat dan paham-paham di luar Islam, seperti sekularisme, pluralisme, dan liberalisme perlu diluruskan. Ini dapat merusak akidah umat Islam, karena paham-paham ini mengarah para pemurtadan. Alasannya sudah cukup kuat, yakni memutuskan akal, merekayasa fiqih lintas agama karena fiqih Islam dianggap tidak demokratis, dan berupaya meragukan kaidah keislaman," kata Habib Thohir lagi.

Amar Ma’ruf

Tekadnya untuk memerangi aliran sesat semakin mantap ketika dia menjadi pemrasaran dalam seminar Sekitar Syi’ah di Aula Masjid Istiqlal pada 1997. Sikapnya terus berlanjut dengan berbagai seminar di dalam maupun luar negeri.

"Kita diperintahkan oleh Nabi untuk bangkit, tidak diam. Mana yang bangkit? Siapa yang berjuang dan menantang arus ini (pendangkalan akidah – Red.)?"

Habib Thohir, selain berdakwah dengan pidato-pidatonya yang kerap menolak aliran sesat, juga telah menuliskan karyanya dengan judul Mengapa Kita Menolak Syiah?, serta beberapa buku lainnya. Namun, dia merasakan lebih mantap untuk menjelaskan kepada umat lewat dakwah bil lisan, sebab umat belum terbiasa untuk membaca buku.

Dia sangat menyesalkan lambannya penanganan yang dilakukan oleh pemerintah dan lembaga-lembaga keagamaan. Padahal, menurutnya, gerakan aliran sesat itu sekarang masih berjalan, walaupun dalam skala yang kecil dan sembunyi-sembunyi. "Di saat orang lain diam, saya katakan, saya menyediakan diri untuk menghadapinya sekalipun sendirian!"

Ketika disinggung tentang maraknya kegiatan terorisme yang banyak menimpa umat Islam, Habib Thohir dengan keras menentangnya. "Islam tidak mengenal teroris, keberadaan orang-orang yang melaksanakan kegiatan terorisme sangat merugikan citra Islam. Sehingga dilihat, seakan-akan Islam itu kejam, keras, tidak kenal kasih sayang."

Habib Thohir sendiri merasakan betapa masyarakat kita, dan skala yang lebih luas internasional, begitu ketat dalam menanggapi fenomena terorisme. Ia mengisahkan pernah "diinterogasi" petugas intelijen dan imigrasi di perbatasan antara Malaysia dan Singapura.

Kisahnya bermula ketika dia mendapat undangan untuk mengisi peringatan haul di Masjid Ba’alawi Singapura. "Saya sampai dua jam diinterogasi, dikira teroris. Ditanya ini-itu, sampai menanyakan istri dan anak, pendidikan, sekitar dua jam. Sangat melelahkan. Itu salah satu imbas efek terorisme," kata Habib Thohir.

Bahkan tidak hanya terjadi ketika di Singapura. Pulang ke tanah air pun, dia masih merasakan efek terorisme. Ketika masuk bandara, mall, hotel, ia selalu diperiksa dengan ketat. "Ini semua karena ‘efek samping’ suatu perbuatan saudara kita yang salah sasaran. Dan ini justru menjadi kesempatan bagi orang-orang di luar Islam untuk menjelek-jelekkan citra Islam," komentarnya mengenai terorisme.

Karenanya, untuk menyudahi persoalan terorisme, Habib Thohir mengimbau umat Islam untuk mendefinisikan kembali makna dan hakikat jihad. Yakni, jihad tidak dibenarkan menggunakan bom. Menurutnya, teror bom hanya akan mengganggu kehidupan umat manusia. Jihad merupakan sarana dakwah, bukan tujuan, sehingga harus dilaksanakan secara baik, bermanfaat luas, dan jauh dari anarkisme dan kekerasan.

Jihad itu mempunyai aturan main yang sangat luas. Jadi, berjihadlah seperti yang dilakukan Nabi Muhammad SAW. "Kapan kita harus perang, kepada siapa kita berperang, dan siapa saja yang harus kita perangi? Perempuan, anak-anak, orang yang sedang beribadah sekalipun nonmuslim, tidak boleh dibunuh. Binatang tidak boleh dibunuh, bahkan pohon dan barang-barang pun tidak boleh dirusak!"

AST/SB

Caption:

Habib Thohir bin Abdullah Al-Kaf

Habib Thohir dalam acara haul. Salah satu murid Syekh Maliki

Gaya Habib Thohir sedang berpidato. Suara bariton dan pidatonya berapi-api

Habib Thohir dan muhibin. Memerangi pendangkalan akidah

Habib Thohir. Jihad dalam Islam penuh dengan kasih sayang

Habib Syekh bin Salim Al-Attas ke-27 (haul 6)

Ulama dan Pejuang yang Gigih

Keluasan ilmunya telah melahirkan ulama-ulama yang mumpuni di berbagai daerah.

Perangai dan kepribadiannya yang luhur, membuatnya dihormati sekaligus dicintai berbagai lapisan masyarakat.

Sinar pagi yang cerah mengiringi langkah ribuan jemaah yang kemudian berkumpul di Pondok Pesantren Al-Masyhad, Sukaraja, Sukabumi. Pakaian mereka yang serba putih menambah keagungan acara yang akan berlangsung pada Minggu, 4 September 2005, yaitu haul seorang ulama warak ke-27, Habib Syekh bin Salim Al-Attas.

Peringatan haul ini berbarengan dengan peringatan Khataman Qiraah Al-Bukhari, sekaligus Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW. Tampak wajah jemaah yang datang dari berbagai pelosok tanah air, bahkan dari mancanegara, seperti Singapura dan Malaysia, bersinar memancarkan ukhuwah Islamiah di antara mereka.

Sebelum pelaksanaan haul tersebut digelar, Sabtu malam, 3 September 2005 di Pondok Pesantren Al-Masyad tersebut diadakan pembacaan Ratib Al-Attas yang berlanjut dengan ramah tamah tamu undangan, dengan hiburan musik marawis.

Tepat pukul 8 pagi, para habib, keluarga Pondok Al-Masyhad, serta tamu yang hadir, secara bergantian membaca satu per satu halaman kitab Bukhari, yang memuat sekitar 7.000 hadis sahih. Sementara itu, para jemaah menyimak pembacaan kitab hadis tersebut dengan khidmat. Di sela-sela pembacaan, terkadang diselingi lantunan kasidah dari kelompok hadrah Al-Masyhad pimpinan Ustaz Abdul Karim.

Menjelang siang, acara berlanjut dengan pembacaan manakib Habib Syekh bin Salim Al-Attas oleh Habib Zein bin Hamid Al-Attas. Kemudian, Habib Rizieq Syihab menyampaikan tausiahnya. Dengan penuh semangat, habib FPI itu menyampaikan hikmah Isra Mikraj serta keagungan cinta Nabi Muhammad SAW kepada umatnya.

"Dalam perjalanan Isra Mikraj pun, Rasulullah SAW senantiasa ingat kepada umatnya. Karena itu, sepatutnya kita bersyukur kepada Allah SWT, karena mengutus rasul yang menyayangi umatnya. Allah SWT dalam Al-Quran menggambarkan bagaimana sifat Rasulullah SAW. ‘Sungguh telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin’." (QS 9, At-Tawbah: 128).

Kasih sayang Rasulullah SAW, kata habib berkacamata minus ini, tidak hanya pada umat ketika beliau masih hidup, tapi juga bahkan kepada umat yang akan datang sesudah beliau wafat. Sebuah hadis menggambarkan kecintaan beliau kepada umatnya: Tatkala Rasulullah SAW sedang duduk bersama para sahabat, beliau berbicara sendiri, "Ahbabi...! Ahbabi...! (Kekasihku...! Kekasihku...!) Kapan aku melihat mereka? Kapan aku bisa bertemu orang yang paling kukasihi?"

Saat itu sahabat-sahabat yang hadir tertegun mendengar ucapan Baginda Rasulullah. Salah seorang sahabat memberanikan diri bertanya, "Ya Rasulullah, bukankah kami, yang saat ini duduk bersamamu, mengorbankan apa saja untuk perjuanganmu, adalah kekasihmu?"

Nabi Muhammad menjawab, "Kalian bukan kekasihku, akan tetapi kalian adalah sahabatku."

Jawaban tersebut membuat penasaran para sahabat. Maka ia bertanya lagi, "Kalau bukan kami yang menjadi kekasih-kekasihmu, lalu siapa gerangan para kekasihmu yang berulang kali Baginda ucapkan?"

"Kekasihku yang aku rindukan, sehingga aku ingin sekali bertemu dan berkumpul bersama mereka, adalah segolongan kaum dari umatku yang tidak pernah melihatku tapi mereka beriman kepadaku."

Jadi, kata Habib Rizieq, jangan disangka Rasulullah tidak mencintai umatnya yang belum pernah beliau lihat. "Beliau sangat mencintai kita. Karena itu, janganlah kita menyakiti beliau dengan menyimpang dari ajaran yang beliau sampaikan. Banyak-banyaklah beramal saleh dan berjuanglah di jalan yang lurus, bekali diri kita dengan ilmu yang bermanfaat."

Hafal Al-Quran

Acara puncak haul ditandai dengan pembacaan tahlil dan manakib Habib Syekh bin Salim Al-Attas. Manakib habib kelahiran Huraidhah, Hadramaut, Yaman, ini disampaikan oleh Habib Zein bin Hamid Al-Attas.

Dalam manakib tersebut diceritakan, Habib Syekh bin Salim Al-Attas adalah intelektual sekaligus guru para ulama termasyhur di Jawa. Ia cucu kesepuluh Shahibur-Ratib Al-Attas, Habib Umar bin Abdurrahman Al-Attas.

Masa pendidikannya dimulai dari asuhan ayahnya, Habib Salim bin Umar bin Syekh Al-Attas, yang wafat tahun 1956. Saat berusia tujuh tahun, Habib Syekh memperoleh bimbingan langsung dari Habib Abdullah bin Alwi Al-Attas, ulama kelahiran Cirebon yang menetap di kota Huraidhah, Yaman. Kemudian ia mempelajari beberapa ilmu qiraat Al-Quran di bawah bimbingan Syekh Sa’id bin Sabbah, yang piawai dan terkenal dalam bidang qiraat Al-Quran.

Pada usia 12 tahun, Habib Syekh telah hafal Al-Quran secara sempurna, dan terus mendalami berbagai ilmu ushul dan furu’, pokok-pokok dan cabang-cabang pengetahuan Islam, dari Habib Ahmad bin Hasan Al-Attas.

Habib Syekh hijrah ke Indonesia pada usia 27 tahun, pada 1338 H/1920 M, tepatnya di kota Tegal. Dengan gigih ia memulai dakwahnya, menyebarkan ajaran Rasulullah SAW dan memurnikannya dari berbagai penyimpangan. Perkawinannya dengan putri bangsawan dari Kota Bahari ini, membuat syiar Islamnya meluas, dan hubungannya dengan tokoh-tokoh masyarakat semakin baik. Keluhuran pribadinya membuat namanya semakin bersinar.

Di zaman kemerdekaan, Habib Syekh tidak tinggal diam. Bersama putra pribumi, K.H. Ahmad Sanusi dari Sukabumi, ia berjuang merebut kemerdekaan Republik Indonesia sejak tahun 1942. Pasca-kemerdekaan, ia aktif dalam partai politik. Ia menduduki jabatan penasihat Partai Islam Masyumi. Dan diangkat oleh Presiden Soekarno sebagai anggota Panca Tunggal, tim penasihat presiden.

Bagi setiap murid dan siapa saja yang menghadiri pengajian yang digelarnya, ia selalu memberikan sejumlah uang serta kitab yang dibutuhkan secara cuma-cuma. Hasil perjuangan dakwah dan mengajar tampak meluas di kemudian hari, hingga banyak muridnya menjadi ulama yang mumpuni dan mempunyai lembaga pendidikan di berbagai tempat, terutama di daerah-daerah Jawa Barat. Di antaranya, K.H. Abdullah bin Husain, Sukabumi; K.H. Abdullah bin Nuh, Bogor; K.H. Abdullah Mahfudz, Sukabumi; K.H. Muhammad Masthuro, Sukabumi.

Habib Syekh bin Salim Al-Attas wafat pada hari Sabtu tanggal 25 Rajab 1398 Hijriah, bertepatan dengan 1 Juli 1978, dalam usia 86 tahun, dimakamkan keesokan harinya di selatan Masjid Jami Tifar, Kompleks Pondok Pesantren Al-Masturiyah, Tifar, Cisaat, Sukabumi.

AST/Ft. AO

Caption Foto:

1. Makam Habib Syekh bin Salim Al-Attas. Keikhlasannya berdakwah melahirkan ulama yang mumpuni

2. Habib Rizieq mengisahkan keagungan cinta Rasulullah. Limpahan rahmat Allah kepada umat

3. Habib kelahiran Hadramaut yang berjuang merebut kemerdekaan RI. Penasihat Presiden Soekarno

4. Jemaah khidmat mengkuti acara khataman dan haul. Agenda tahunan Al-Masyhad

Haul Tiga Ulama Besar (Haul 5)

Habib Umar bin Abdurrahman Al-Attas, Habib Syekh bin Salim Al-Attas, dan K.H. Muhammad Masthuro adalah tiga ulama yang membaktikan diri berjuang mesyiarkan ajaran Islam. Haulnya bertujuan agar kita mengingat kebaikan-kebaikan mereka serta meneladaninya.

Tak seperti biasanya, pagi itu, 3 September 2005, Pondok Pesantren Al-Masthuriyah, yang terletak di Desa Tifar, Cisaat, Sukabumi, sudah ramai oleh puluhan ribu orang berpakaian serba putih. Mereka sengaja datang ke kompleks pesantren tersebut untuk mengikuti haul tiga ulama besar: Habib Umar bin Abdurrahman Al-Attas, pengarang Ratib Al-Attas, Habib Syekh bin Salim Al-Attas, dan K.H. Muhammad Masthuro, pendiri Pondok Pesantren Al-Masthuriyah.
Acara peringatan haul yang dimulai sekitar pukul 08.30 ini diawali dengan pembacaan tahlil, tasbih, tahmid, takbir, dan doa yang dipimpin oleh Habib Umar bin Abdullah Al-Attas, sesepuh Majelis Zikir dan Wirid Asmaul Husna, Bendungan Hilir, Jakarta. Setelah itu, dibacakan sekilas manakib Habib Umar bin Abdurrahman Al-Attas, disambung dengan Manakib K.H. Muhammad Masthuro.
Dalam uraian hikmah haul, Habib Hamid bin Hud Al-Attas mengatakan, ulama mempunyai peran besar dalam menuju terciptanya masyarakat aman, tenteram, dan penuh kedamaian. “Karena itu, diharapkan kita semua mencintai para ulama karena ilmunya, dan menjalankan apa yang disampaikan sebaik-baiknya. Karena apa yang diajarkan ulama adalah jalan menuju keridaan Allah dan Rasulullah.”
Dalam sebuah hadis, kata Habib Hamid, Rasulullah SAW menjelaskan, jika masyarakat sudah membenci para ulama, dan yang disenangi hanya kehidupan duniawi, Allah akan menghukum mereka dengan empat perkara. Yaitu, musim kemarau yang dahsyat, penguasa yang kejam terhadap rakyat, pengkhianatan dari penguasa, dan kebencian yang luar biasa dari musuh.
Namun begitu, Habib Hamid juga menekankan kepada para alim ulama agar menjadi pengayom masyarakat yang teguh berjalan di atas petunjuk Allah, tidak silau oleh harta dan jabatan. “Jika para ulama teguh berpegang pada risalah Rasulullah SAW, insya Allah masyarakat yang aman, tenteram, dan penuh kedamaian akan tercipta. Dalam sebuah hadis, Baginda Rasulullah mengatakan, bila dalam sebuah negara ada empat macam golongan manusia seperti berikut ini, penduduknya akan aman dari malapetaka. Yaitu, adanya pemimpin yang adil, orang alim yang berjalan atas petunjuk Allah, para guru yang beramar makruf nahi mungkar serta senantiasa mendorong masyarakat untuk menuntut ilmu, dan yang terakhir adalah kaum wanita yang menutup aurat.”
Sementara itu, Habib Syekh bin Ali Al-Jufry menyampaikan kepada jemaah pentingnya memperingati haul. “Dalam haul, kita akan menyebut kebaikan orang yang sudah meninggal, apalagi kalau mereka adalah guru-guru kita. Supaya kita dapat mengikuti keteladanan yang mereka ajarkan.”
Pemimpin Pondok Pesantren Al-Khairaat, Condet, Jakarta Timur, itu juga mengajak para jemaah meneladani perjuangan Rasulullah SAW dan para generasi penerus untuk menyebarkan ilmu. “Yang paling penting adalah meniru keteladanan Rasulullah yang senantiasa memohon ampun kepada Allah SWT. Walaupun maksum, terjaga dari maksiat, beliau bersumpah, ‘Demi Allah, sesungguhnnya aku setiap hari beristigfar dan bertobat kepada Allah seratus kali’.”
Nabi SAW sendiri, yang tidak punya dosa, beristigfar seratus kali sehari. Tetapi kita, yang tidak maksum, belum tentu sempat beristigfar setiap hari. “Makanya di antara umat Islam banyak yang tertimpa bencana, karena cara hidupnya tidak benar.”
Habib Syekh Ali Al-Jufry kemudian menceritakan ketawadukan Habib Umar bin Abdurrahman Al-Attas, yang patut ditiru umat. “Suatu hari Habib Umar bin Abdurrahman Al-Attas pergi dari Huraidhah, Hadramaut. Saat hendak pergi, ia bertemu Habib Abdullah Al-Hadad, pengarang Ratib Al-Haddad, yang memita ijazahnya. Habib Umar berkata, ‘Saya akan memberi ijazah, tetapi ada syaratnya. Yakni, Anda mengijazahkan saya juga’,” kata Habib Umar.
Ketika itu, usia Habib Umar jauh lebih tua dari Habib Abdullah Al-Hadad. Ia sudah dikenal sebagai wali qutub, tingkatan wali tertinggi, yang mempunyai karamah luar biasa. Namun, ia tetap menghargai yang muda.
“Ini adalah pelajaran untuk kita semua. Singkirkan kecintaan kita kepada kedudukan. Buang jauh-jauh! Para ulama itu mengajar kita semua dengan lillahi ta’ala (tanpa pamrih),” kata Habib Syekh Ali Al-Jufry.
Cerita lain yang dituturkan oleh Habib Syekh Ali Al-Jufry adalah kebaikan Habib Syekh bin Salim Al-Attas, cucu kesepuluh Habib Umar bin Abdurrahman Al-Attas. “Ulama lain kalau mengajar dapat uang, tapi Habib Syekh kalau mengajar justru keluar uang. Ajengan-ajengan dari mana-mana yang datang mengaji, pulangnya diberi ongkos oleh Habib Syekh.”
Kisah terakhir yang disampaikan kepada jemaah adalah kisah K.H. Muhammad Masthuro. Kisah sang pendiri Pondok Pesantren Al-Masthuriyah yang juga murid Habib Syekh bin Salim Al-Attas tersebut diceritakan oleh putranya, K.H. E. Fakhrudin Masthuro.
K.H. Muhammad Masthuro lahir di Kampung Tifar pada 1901. Ia adalah putra dari K.H. Ansol. Sebenarnya, nama ayahnya itu adalah Asror. Karena menjadi buronan kompeni Belanda, ia mengganti nama menjadi Ansol, untuk menghilangkan jejak. Nenek moyang K.H. Masthuro adalah pejuang yang gigih dalam menentang penjajah, bahkan kalau dilacak lebih jauh ia masih keturunan Maulana Syarif Hidayatullah atau lebih terkenal dengan julukan Sunan Gunungjati, salah seorang Walisanga yang makamnya di Cirebon.
Masthuro kecil belajar mengaji pada sang bapak. Setelah tiga belas tahun belajar di rumah, ia meninggalkan kampung halamannya untuk mendalami ilmu agama kepada K.H. Qurtubi, K.H. Ghozali, K.H. Asy’ari, dan sekolah di Ahmadiyah, yang didirikan oleh H. Ahmad di Sukabumi.
Setelah menyantri 13 tahun di berbagai pesantren di Jawa Barat, ia mendirikan pesantren pada tanggal 9 Rabiulakhir 1338 H/1 Januari 1920 M, dengan nama Masthuriyah, yang oleh masyarakat setempat lebih dikenal Pesantren Tipar. Setelah 48 tahun mengabdi kepada masyarakat dengan membina para santri, K.H. Masthuro wafat pada 1968.
Saat jarum jam menunjuk angka 12, acara haul tiga orang ulama besar itu ditutup dengan doa oleh Habib Abdul Rahman bin Alwi Al-Habsyi dari Kwitang, Jakarta. Jemaah pun dijamu dengan hidangan nasi kebuli, kemudian salat Zuhur berjemaah di Masjid Jami’ Al-Masthuriyah.

AST/Ft. AO

Kepsyen Foto:

1. Habib Syekh Ali Al-Jufry. Mengajak jemaah meneladani para alim ulama
2. Habib Hamid bin Hud Al-Attas. Ulama berperan menciptakan masyarakat yang aman dan tenteram
3. Habib Umar bin Abdullah Al-Attas memimpin doa tahlil. Khidmat mengikuti haul
4. K.H. E. Fakhruddin Masthuro. Mengikuti jejak sang ayah
5. Dihadiri puluhan ribu jemaah. Mencintai ulama karena ilmunya

21.3.06

Habib Salim bin Jindan (Manakib)

Ulama dan Pejuang Kemerdekaan

Ulama Jakarta ini menguasai beberapa ilmu agama. Banyak ulama dan habaib berguru kepadanya. Koleksi kitabnya berjumlah ratusan. Ia juga pejuang kemerdekaan.

Pada periode 1940-1960, di Jakarta ada tiga habaib yang seiring sejalan dalam berdakwah. Mereka itu: Habib Ali bin Abdurahman Alhabsyi (Kwitang), Ali bin Husein Alatas (Bungur) dan Habib Salim bin Jindan (Otista). Hampir semua habaib dan ulama di Jakarta berguru kepada mereka, terutama kepada Habib Salim bin Jindan – yang memiliki koleksi sekitar 15.000 kitab, termasuk kitab yang langka. Sementara Habib Salim sendiri menulis sekitar 100 kitab, antara lain tentang hadits dan tarikh, termasuk yang belum dicetak.
Lahir di Surabaya pada 18 Rajab 1324 (7 September 1906) dan wafat di Jakarta pada 16 Rabiulawal 1389 (1 Juni 1969), nama lengkapnya Habib Salim bin Ahmad bin Husain bin Saleh bin Abdullah bin Umar bin Abdullah bin Jindan. Seperti lazimnya para ulama, sejak kecil ia juga mendapat pendidikan agama dari ayahandanya.
Menginjak usia remaja ia memperdalam agama kepada Habib Abdullah bin Muhsin Alatas (Habib Empang, Bogor), Habib Muhammad bin Ahmad Al-Muhdhar (Bondowoso), Habib Muhammad bin Idrus Alhabsyi (Surabaya), Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf (Gresik), K.H. Cholil bin Abdul Muthalib (Kiai Cholil Bangkalan), dan Habib Alwi bin Abdullah Syahab di Tarim, Hadramaut.
Selain itu ia juga berguru kepada Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfagih, seorang ahli hadits dan fuqaha, yang sat itu juga memimpin Madrasah Al-Khairiyah di Surabaya. Bukan hanya itu, ia juga rajin menghadiri beberapa majelis taklim yang digelar oleh para ulama besar. Kalau dihitung, sudah ratusan ulama besar yang ia kunjungi.
Dari perjalanan taklimnya itu, akhirnya Habib Salim mampu menguasai berbagai ilmu agama, terutama hadits, tarikh dan nasab. Ia juga hafal sejumlah kitab hadits. Berkat penguasaannya terhadap ilmu hadits ia mendapat gelar sebagai muhaddist, dan karena menguasai ilmu sanad maka ia digelari sebagai musnid.
Mengenai guru-gurunya itu, Habib Salim pernah berkata, “Aku telah berkumpul dan hadir di majelis mereka. Dan sesungguhnya majelis mereka menyerupai majelis para sahabat Rasulullah SAW dimana terdapat kekhusyukan, ketenangan dan kharisma mereka.” Adapun guru yang paling berkesan di hatinya ialah Habib Alwi bin Muhammad Alhaddad dan Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf. Tentang mereka, Habib Salim pernah berkata, ”Cukuplah bagi kami mereka itu sebagai panutan dan suri tauladan.”
Pada 1940 ia hijrah ke Jakarta. Di sini selain membuka majelis taklim ia juga berdakwah ke berbagai daerah. Di masa perjuangan menjelang kemerdekaan, Habib Salim ikut serta membakar semangat para pejuang untuk berjihad melawan penjajah Belanda. Itu sebabnya ia pernah ditangkap, baik di masa penjajahan Jepang maupun ketika Belanda ingin kembali menjajah Indonesia seperti pada Aksi Polisionil I pada 1947 dan 1948.
Dalam tahanan penjajah, ia sering disiksa: dipukul, ditendang, disetrum. Namun, ia tetap tabah, pantang menyerah. Niatnya bukan hanya demi amar makruf nahi munkar, menentang kebatilan dan kemungkaran, tetapi juga demi kemerdekaan tanah airnya. Sebab, hubbul wathan minal iman – cinta tanah air adalah sebagian dari pada iman.

Kembali Berdakwah
Setelah Indonesia benar-benar aman, Habib Salim sama sekali tidak mempedulikan apakah perjuangannya demi kemerdekaan tanah air itu dihargai atau tidak. Ia ikhlas berjuang, kemudian kembali membuka majelis taklim yang diberi nama Qashar Al-Wafiddin. Ia juga kembalin berdakwah dan mengajar, baik di Jakarta, di beberapa daerah maupun di luar negeri, seperti Singapura, Malaysia, Kamboja.
Ketika berdakwah di daerah-daerah itulah ia mengumpulkan data-data sejarah Islam. Dengan cermat dan tekun ia kumpulkan sejarah perkembangan Islam di Ternate, Maluku, Ambon, Sulawesi, Kalimantan, Nusa Tenggara, Timor Timur, Pulau Roti, Sumatera, Pulau Jawa. Ia juga mendirikan sebuah perpustakaan bernama Al-Fakhriah.
Di masa itu Habib Salim juga dikenal sebagai ulama yang ahli dalam menjawab berbagai persoalan – yang kadang-kadang menjebak. Misalnya, suatu hari, ketika ia ditanya oleh seorang pendeta, ”Habib, yang lebih mulia itu yang masih hidup atau yang sudah mati?” Maka jawab Habib Salim, “Semua orang akan menjawab, yang hidup lebih mulia dari yang mati. Sebab yang mati sudah jadi bangkai.”
Lalu kata pendeta itu, “Kalau begitu Isa bin Maryam lebih mulia dari Muhammad bin Abdullah. Sebab, Muhammad sudah meninggal, sementara Isa -- menurut keyakinan Habib -- belum mati, masih hidup.”
“Kalau begitu berarti ibu saya lebih mulia dari Maryam. Sebab, Maryam sudah meninggal, sedang ibu saya masih hidup. Itu, dia ada di belakang,” jawab Habib Salim enteng. Mendengar jawaban diplomatis itu, si pendeta terbungkam seribu bahasa, lalu pamit pulang. Ketika itu banyak kaum Nasrani yang akhirnya memeluk Islam setelah bertukar pikiran dengan Habib Salim.
Habib Salim memang ahli berdebat dan orator ulung. Pendiriannya pun teguh. Sejak lama, jauh-jauh hari, ia sudah memperingatkan bahaya kerusakan moral akibat pornografi dan kemaksiatan. “Para wanita mestinya jangan membuka aurat mereka, karena hal ini merupakan penyakit yang disebut tabarruj, atau memamerkan aurat, yang bisa menyebar ke seluruh rumah kaum muslimin,” kata Habib Salim kala itu.
Ulama besar ini wafat di Jakarta pada 16 Rabiulawal 1389 (1 Juni 1969). Ketika itu ratusan ribu kaum muslimin dari berbagai pelosok datang bertakziah ke rumahnya di Jalan Otto Iskandar Dinata, Jakarta Timur. Iring-iringan para pelayat begitu panjang sampai ke Condet. Jasadnya dimakamkan di kompleks Masjid Alhawi, Condet, Jakarta Timur.
Almarhum meninggalkan dua putera, Habib Shalahudin dan Habib Novel yang juga sudah menyusul ayahandanya. Namun, dakwah mereka tetap diteruskan oleh anak keturunan mereka. Mereka, misalnya, membuka majelis taklim dan menggelar maulid (termasuk haul Habib Salim) di rumah peninggalan Habib Salim di Jalan Otto Iskandar Dinata.
Belakangan, nama perpustakaan Habib Salim, yaitu Al-Fachriyyah, diresmikan sebagai nama pondok pesantren yang didirikan oleh Habib Novel bin Salim di Ciledug, Tangerang. Kini pesantren tersebut diasuh oleh Habib Jindan bin Novel bin Salim dan Habib Ahmad bin Novel bin Salim – dua putra almarhum Habib Novel. “Sekarang ini sulit mendapatkan seorang ulama seperti jid (kakek) kami. Meski begitu, kami tetap mewarisi semangatnya dalam berdakwah di daerah-daerah yang sulit dijangkau,” kata Habib Ahmad, cucu Habib Salim bin Jindan.
Ada sebuah nasihat almarhum Habib Salim bin Jindan yang sampai sekarang tetap diingat oleh keturunan dan para jemaahnya, ialah pentingnya menjaga akhlak keluarga. ”Kewajiban kaum muslimin, khususnya orangtua untuk menasihati keluarga mereka, menjaga dan mendidik mereka, menjauhkan mereka dari orang-orang yang bisa merusak akhlak. Sebab, orangtua adalah wasilah (perantara) dalam menuntun anak-anak. Nasihat seorang ayah dan ibu lebih berpengaruh pada anak-anak dibanding nasehat orang lain.”

Disarikan dari Manakib Habib Salim bin Jindan karya Habib Ahmad bin Novel bin Salim oleh AST. Ft: AO & AST.

Pelajaran Hakikat Rasulullah (Mutiara Rasul 7)

Rasulullah SAW terlambat hadir di masjid untuk mengimami shalat Subuh, karena bermimpi mendapat pelajaran hakikat dari Alah SWT.

Sejak adzan Subuh berkumandang sampai menjelang fajar, Rasulullah SAW belum muncul di masjid. Para sahabat sudah gelisah. Beberapa sahabat diutus menemui Rasulullah SAW di rumahnya. Namun yang lain mencegah, sebab mereka yakin Rasulullah SAW akan hadir. Maka mereka pun menunggu Rasulullah SAW sembari membaca Al-Quran.
Tak lama kemudian, Rasulullah SAW masuk ke masjid dan memerintahkan salah seorang sahabat membaca iqamat. Kemudian beliau menjadi imam dan mempercepat shalatnya. Seusai salam, beliau membaca doa dengan suara keras. Suaranya yang jernih penuh wibawa menggetarkan para jemaah. Lalu beliau bersabda, ”Tetaplah kalian berada di shaf masing-masing.”
Rasulullah SAW lalu menghadap ke arah jamaah dengan pandangan yang sejuk. Wajahnya yang putih bersinar menandakan suasana hati yang sedang gembira. Matanya yang indah dan tajam menatap jamaah satu per satu. Para jamaah tertunduk, tak berani menatap wajah Rasulullah SAW yang agung.
Sejurus kemudian beliau bersabda, ”Aku akan memberi tahu kalian apa yang membuatku terlambat datang. Semalam aku bangun mengambil air wudhu, lalu mendirikan shalat. Dalam shalatku aku tertidur karena kantuk yang amat berat. Ternyata aku bermimpi bersama Allah SWT dalam rupa yang sangat gemilang.”
Setelah diam sejurus, beliau meneruskan sabdanya, “Dia berfirman, ‘Wahai Muhammad!’ Aku menjawab, ‘Labbaika ya Rabbi’.”
”Mengapa para malaikat berselisih?”
“Hamba tidak tahu.”
Lalu Rasululah SAW melanjutkan ceritanya, “Allah SWT bertanya sampai tiga kali. Kulihat Dia meletakkan telapak-Nya di atas bahuku, hingga dapat kurasakan dingin jari-jari-Nya di dadaku. Segala sesuatu tampak jelas di depanku, dan aku mengetahuinya. Lalu Dia berfirman lagi, ‘Wahai Muhammad...’.”
”Labbaika ya Rabbi.”
“Tentang apa para malaikat berselisih?”
”Tentang penebus-penebus dosa.”
”Apa penebus dosa-dosa itu?”
”Langkah menuju kebaikan, duduk di masjid setelah shalat, mengguyurkan air wudhu pada saat-saat tidak disukai.”
”Tentang apa mereka berselisih?”
”Tentang memberi makan, ucapan yang lemah lembut, shalat malam ketika manusia tidur nyenyak.”
”Mintalah!”
”Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu taufik untuk mengerjakan hal-hal yang baik, meninggalkan yang munkar, mencintai orang-orang miskin, dan agar Engkau mengampuniku dan merahmatiku jika Engkau hendak menimpakan cobaan.”
Setelah itu Rasulullah SAW membaca sebuah doa pendek yang semalam dipanjatkan kepada Allah SWT, ”Allahuma inni as-aluka khubaka wa hubba man yukhibbuka wa kulla ‘amalin yuqarribuni illa khubbika.” (Ya Allah, aku mohon kepada-Mu kecintaan-Mu dan kecintaan orang yang mencintai-Mu, serta kecintaan kepada amal yang mendekatkan kepada kecintaan kepada-Mu).
Kemudian, dengan suara sangat pelan – sementara matanya yang mulia berkaca-kaca – Rasulullah SAW mengakhiri sabdanya, ”Ini adalah pelajaran hakikat. Maka pelajarilah!”
AST

Ketika ditanya tentang iman, Rasulullah SAW bersabda, “Iman adalah kesabaran dan suka memaafkan.” (HR Ahmad, Thabrani, dan Ibnu Hiban)

HabibAbubakarbinMuhammadAssegaf (Haul 4)

Haul Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf ke-50

Semarak dengan Ukhuwah Islamiyah

Haul Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf ke-51 kembali diperingati dengan acara mengkhatamkan kitab Ihya Ulumuddin. Tradisi yang sudah berlangsung puluhan tahun.

Peringatan Haul Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf ke-50 berlangsung pada 16-17 Dzulhijah 1427 H (16-17/1), memancarkan kesemarakan ukhuwah Islamiyah. Sekitar lima puluh ribu jamaah datang untuk memperingati acara haul yang berada di Jln. K.H. Zuber Kabupaten Gresik. Mereka tidak hanya datang dari Jawa Timur, bahkan dari berbagai pelosok tanah air. Jakarta, Semarang, Surakarta, Banjarmasin, Samarinda, Palembang, dan lain-lain.
Sebelum puncak pelaksanaan haul, sore hari sebelumnya, Senin (16/1), dilaksanakan acara Rauhah, pembukaan, dengan acara khataman kitab Ihya’ Ulumuddin, karya Imam Al-Ghazali. Acara khataman kitab karya Hujjatul Islam ini sudah berlangsung sejak puluhan tahun yang lalu dan mentradisi hingga saat ini.
Satu per satu jamaah yang duduk di bagian depan majelis membaca kitab tasawuf itu dengan hikmat. Bila ada kesalahan, Habib Husein bin Abdullah bin Muhammad Assegaf dengan sabar dan telaten membetulkan setiap kesalahan bacaaan para jamaah. Acara ini berlangsung selepas shalat Ashar sampai pukul 19.00.
Setelah acara santap malam dengan hidangan nasi kebuli, jamaah kebanyakan telah pulang ke penginapan atau masjid terdekat, padahal pada jam sembilan malam acara dilanjutkan dengan acara pembacaan maulid Diba’. Praktis acara yang biasa disebut Marhaban ini hanya diikuti oleh sahibulbait dan jamaah yang ada di sekitar kompleks majelis haul. Acara ini diiringi kelompok rebana Al-Muhibbin dari Tulungagung di bawah pimpinan K.H. Nawawi Muhammad, dan berakhir tepat pukul 23.00.
Menginjak hari Selasa (17/1), selepas shalat Subuh, yang dipimpin Ali bin Alwi Al-Habsyi dari Solo, acara dilanjutkan dengan dzikir oleh Habib Alwi Al Habsy. Setelah itu dibacakan pesan-pesan Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf dalam bahasa Arab oleh Habib Ali bin Alwi Al-Habsyi yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh Habib Abubakar bin Hasan Assegaf dari Pasuruan. Lalu, para habib membaca maulid Simthud Durar secara bergiliran. Begitu acara berakhir, jamaah pun kembali dijamu dengan sarapan pagi berupa nasi kebuli.
Tepat pukul 09.00 acara dilanjutkan dengan puncak acara haul, yakni ziarah dan tausyiah di kompleks makam Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf. Para habib yang datang, oleh jamaah kemudian diarak dengan diiringi rebana Al-Muhibbin dari Tulungagung menuju kompleks makam. Setelah berjalan kaki sekitar lima ratus meter dari Jln. K.H. Zuber, sampailah mereka ke kompleks makam yang ada di sisi kanan depan Masjid Jami di Alun-alun Gresik.
Pada pukul 10 tepat acara pembukaan pun dimulai dengan pembacaan surah Al-Fatihah,Ya-Sin, dan tahlil yang dipimpin oleh Habib Hasan bin Muhammad bin Hud Assegaf. Selepas dibacakan manakib Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf oleh Abdulkadir bin Ali bin Ahmad Assegaf yang langsung diterjemahkan oleh Habib Anis bin Muhammad bin Syekh Assegaf, acara berlanjut dengan mauizah hasanah. Tampil sebagai pembicara pertama Habib Soleh bin Ahmad Alaydrus, pengasuh Pondok Pesantren Darul Hadits, Malang, yang banyak menyoroti persoalan moral bangsa.
Sementara Habib Jindan bin Novel bin Salim bin Jindan dalam tausyiahnya mengajak jamaah untuk meneladani perjalanan hidup Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf dan para ulama salaf. ”Kita sibuk dengan dunia kita, hingga kita lupa dengan perjalanan hidup para ulama salaf yang shaleh, termasuk Habib Abubakar, yang perjalanannya semua hanya untuk Allah SWT serta berusaha memberikan manfaat lahir dan batin bagi umat manusia,” kata Habib Jindan, yang juga pengasuh Pondok Pesantren Al-Fakhriyyah, Ciledug, Tangerang.
Sedangkan Habib Thohir bin Abdullah Alkaf dari Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, sebagai pembicara terakhir menyampaikan pentingnya meneladani Rasulullah SAW dan para ulama salaf. Dengan suara bariton khas yang lantang dan penuh semangat, Habib Thohir menyatakan, ”Berusahalah untuk menyenangkan Habibuna Muhammad SAW. Koreksilah, sebab waktu kita tinggal sedikit, mari kita tingkatkan ibadah kita kepada Allah SWT!”
Acara ditutup dengan doa Wahbah, yang dipimpin Habib Muhammad bin Syekh Assegaf, dan doa penutup oleh Habib Husein bin Abdullah Assegaf. Selepas acara shalat Dzuhur berjamaah di Masjid Jami Gresik, jamaah kemudian kembali ke tempat acara haul untuk menyantap hidangan nasi kebuli yang telah disediakan sahibulbait.

Pembacaan Manakib
Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf lahir di kota Besuki, Jawa Timur, pada tahun 1285 H/1865 M. Semenjak kecil dia sudah ditinggal ayahnya, yang wafat di kota Gresik. Pada tahun 1293 H/1873 M, Habib Abubakar berangkat ke Hadramaut karena memenuhi permintaan neneknya, Syaikhah Fatimah binti Abdullah ‘Allan.
Dia berangkat ke sana ditemani Al-Mukarram Muhammad Bazmul. Sesampainya di sana, dia disambut paman, sekaligus juga gurunya, Abdullah bin Umar Assegaf, beserta keluarganya. Kemudian ia tinggal di kediaman Habib Syekh bin Umar bin Segaf Assegaf.
Di kota Seiwun dia belajar ilmu fiqih dan tasawuf kepada pamannya, Habib Abdullah bin Umar Assegaf. Hiduplah Habib Abubakar di bawah bimbingan gurunya itu. Bahkan dia dibiasakan oleh gurunya untuk bangun malam dan shalat Tahajjud meskipun masih kecil. Selain berguru kepada pamannya, ia juga menuntut ilmu dari para ulama besar yang ada di sana. Seperti Habib Al-Qutub Ali bin Muhammad Alhabsyi, Habib Muhammad bin Ali Assegaf, Habib Idrus bin Umar Alhabsyi, Habib Ahmad bin Hasan Alatas, Habib Imam Abdurrahman bin Muhammad, Almasyhur (mufti Hadramaut saat itu), Habib Syekh bin Idrus Alaydrus, Habib Al-Qutub Ali bin Muhamad Alhabsyi. Sungguh telah terlihat tanda-tanda kebesaran dalam diri Habib Abubakar, kelak akan menjadi seorang yang mempunyai kedudukan tinggi.
Pada tahun 1302 H/1882 M, ia pun akhirnya kembali ke Pulau Jawa bersama Habib Alwi bin Segaf Assegaf, dan menuju kota Besuki. Di kota inilah ia mulai mensyiarkan dakwah Islamiyah di kalangan masyarakat. Kemudian pada tahun 1305 H/1885 M, di saat usianya masih 20 tahun, ia pindah menuju kota Gresik.
Di Pulau Jawa, ia pun masih aktif menuntut ilmu dari para ulama, di antaranya Habib Abdullah bin Muhsin Alatas (Bogor), Habib Abdullah bin Ali Alhaddad (wafat di Jombang), Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib Alatas (Pekalongan), Habib Al-Qutub Abubakar bin Umar Bin Yahya (Surabaya), Habib Muhammad bin Idrus Alhabsyi (Surabaya), Habib Muhammad bin Ahmad Almuhdhor (wafat di Surabaya).
Semenjak itu, Habib Abubakar mulai membuka majlis taklim dan dzikir di kediamannya di kota Gresik. Masyarakat pun menyambut dakwahnya dengan begitu antusias. Dalam majlisnya, ia setidaknya telah mengkhatamkan kitab Ihya’ Ulumuddin sebanyak 40 kali. Dan merupakan kebiasaan, setiap kali dikhatamkannya pembacaan kitab tersebut, ia selalu mengundang jamuan kepada masyarakat luas.
Praktis majlis taklimnya senantiasa penuh dengan mudzakarah dan irsyad (diskusi dan petunjuk) menuju jalan para pendahulunya. Majlisnya tak pernah kosong dari pembacaan kitab-kitab mereka. Itulah yang ia lakukan semasa hayatnya, mengajak manusia kepada kebesaran Ilahi. Waktu demi waktu berganti, sampai kepada suatu waktu ketika Allah memanggilnya. Di saat terakhir akhir hayatnya, ia melakukan puasa selama 15 hari, dan setelah itu ia pun menghadap ke haribaan Ilahi. Dia wafat pada tahun 1376 H/1956 M pada usia 91 tahun. Jasadnya kemudian disemayamkan di sebelah Masjid Jami, Gresik.
Walaupun Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf sudah berpulang ke rahmatullah, kalam-kalamnya masih terdengar dan membekas di hati para pendengarnya. Akhlak-akhlaknya masih menggoreskan kesan mendalam di mata orang-orang yang melihatnya dan mengukir keindahan iman di kehidupan para pencintanya.
AST/Ft. AST


Foto: Komp_SBY\05Gresik

1. Khataman kitab Ihya’ Ulumuddin. Meneruskan tradisi Habib Abubakar
2. Makan nasi kebuli. Sampai tiga kali
3. Pembacaan maulid Simthud Durar. Penuh hikmah
4. Arak-arakan menuju makam. Mengiring para habib
5. Pembacaan manakib dan tausyiah. Meneladani perjalanan hidup Nabi
6. Jamaah di acara haul. Dihadiri sekitar 50.000 jamaah

Habib Sholeh bin Abdullah Assegaff (Haul 3)

Mengenang Guru yang Shalih

Habib Sholeh adalah seorang pengajar yang mumpuni. Seorang guru yang shalih dan menjadi teladan bagi masyarakat Cirebon dan sekitarnya.

Mushalla Al-Barakah di Kebon Syarif, Jalan Bahagia, Cirebon, telah dipadati jamaah dari berbagai wilayah sekitarnya, Sabtu pagi (18/2). Mereka datang untuk memperingati haul ke-5 Ustadz Saleh, sebutan lain untuk Habib Sholeh, seorang ulama yang di masa hidupnya dikenal sebagai tokoh karismatik dan memiliki pengaruh yang sangat besar di wilayah Cirebon dan sekitarnya.
Tepat pukul 09.00, acara dimulai dengan pembacaan tahlil oleh Habib Abdurrahman Al-Kaff, yang kemudian disambung dengan pembacaan maulid Simthud Durar. Habib yang hadir dan turut membaca kitab maulid karya Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi itu, antara lain, Habib Muhammad bin Syekh bin Yahya, Habib Abdullah Fauzi Assegaff (putra sulung Habib Sholeh), Habib Utsman bin Yahya (saudara seibu Habib Sholeh), Habib Ahmad bin Yahya.
Mengawali acara haul, Habib Abdullah Fauzi, shahibul haul, menyampaikan terima kasih atas kehadiran jamaah pada acara haul yang sebagian datang dari Jakarta. Habib Idrus bin Hasyim Alatas dari Jakarta tampil memberi mau’izhah hasanah. Ia menyampaikan pentingnya keutamaan mendoakan orang-orang yang sudah meninggal. ”Doa yang ditujukan untuk orang meninggal (doa untuk arwah) pasti sampai, sebagaimana firman-Nya, ’Dan orang-orang yang datang sesudah mereka, mereka berdoa, ‘Ya Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang’.” (QS Al-Hasyr: 10).
Dalam kesempatan itu Habib Idrus juga menjelaskan pentingnya memperingati haul. “Memperingati haul ini mengingatkan kita kembali kepada sosok seorang pendidik yang ikhlas. Habib Sholeh telah menciptakan dan meninggalkan sesuatu yang sangat bermanfaat, dimulai sedikit demi sedikit dari madrasah yang diasuhnya. Mudah-mudahan madrasah yang ia tinggalkan ini tidak dibisniskan. Sebab sekarang pendidikan sudah dibisniskan,” katanya.
Sejak muda hingga akhir hayatnya, Habib Sholeh memang dikenal sebagai seorang pendidik dalam arti yang sesungguhnya. Sebagian besar waktunya dihabiskan untuk berbagai aktivitas mendidik masyarakat, baik melalui madrasah yang dipimpinnya, majelis-majelis taklim yang diasuhnya, maupun dakwah-dakwah yang disampaikannya di berbagai tempat – baik di wilayah Cirebon dan sekitarnya maupun di daerah-daerah lain. Melalui ceramahnya yang berlangsung satu jam itu, Habib Idrus juga mengajak jamaah untuk kembali menggiatkan shalat Subuh berjamaah.
Haul kelima Habib Sholeh ini ditutup dengan doa oleh Habib Muhammad bin Syekh bin Yahya, pengasuh Pondok Pesantren Jagasatru yang juga ketua MUI Kodya Cirebon. Selesai acara, jamaah dijamu dengan hidangan nasi kebuli sebagaimana kelaziman pada acara-acara yang diadakan di tempat habaib.

Hidup Sederhana
Habib Sholeh bin Abdullah Assegaff dilahirkan pada tahun 1925 di Kampung Kebon Syarief, kota Cirebon. Ia putra pasangan Sayyid Abdullah bin Abdurrahman Assegaff dengan Hj. Siti Aminah binti H. Ibrahim. Ayahandanya wafat ketika ia berusia sekitar lima tahun.
Masyarakat, khususnya yang berada di wilayah III Cirebon dan Jawa Barat pada umumnya, lebih mengenalnya dengan panggilan Ustadz Saleh daripada Habib Sholeh bin Abdullah Assegaff. Sebab, sejak berusia 16 tahun ia menjadi guru di Madrasah Diniyah Al-Islamiyah Darul Hikam, sebuah madrasah atau sekolah agama resmi yang pertama sekali didirikan di kota Cirebon. Sekolah ini didirikan tahun 1910 oleh tokoh-tokoh agama dari kalangan keturunan Arab, khususnya kalangan Alawiyin.
Sejak kecil Ustadz Saleh hidup penuh dengan kesederhanaan. Pada usia 12 tahun ia menyelesaikan sekolah Madrasah Diniyah Ibtidaiyah. Setelah itu bermaksud melanjutkan sekolah ke Jakarta atau Bandung, tetapi tak jadi diteruskan karena tak tega harus tinggal terlalu jauh dengan ibundanya yang hidup seorang diri. Akhirnya ia memutuskan belajar di Pesantren Babakan, Ciwaringin, Cirebon. Ia sempat juga menimba ilmu di berbagai pondok pesantren sekitar Babakan (Palimanan, Kempek, Balerante, dan lain-lain) sambil muthala’ah (mengkaji ilmu sendiri) dengan tekun.
Setiap hari Jumat ia pulang ke Cirebon untuk menjenguk sang ibu dan menyiapkan bekal seadanya. Tetapi ini tidak berlangsung lama dan akhirnya ia memutuskan untuk tinggal bersama ibunya di rumah. Di samping itu, ia juga membantu memenuhi kebutuhan-kebutuhan kakeknya, Habib Abdurrahman bin Muhammad Assegaff, dan pamannya, Habib Muhammad bin Abdurrahman Assegaff.
Sejak muda Ustadz Saleh telah ikut dalam majelis-majelis rauhah bersama orang-orang tua. Dari berbagai majelis taklim itulah ia banyak belajar bahasa Arab. Jadi, di samping belajar di sekolah dan belajar sendiri, ia banyak menimba ilmu bahasa Arab dari pergaulan. Kemampuan bahasa Arabnya yang sangat bagus membuatnya tidak minder bergaul dengan orang-orang tua. Ia pun menguasai bahasa Jawa dan Sunda dengan bagus. Lebih dari itu, penuturan bahasa Indonesianya juga baik, tidak terpengaruh logat dan dialek bahasa daerah.
Di madrasah tempatnya mengabdi, Madrasah Darul Hikam, ia terutama mengajar pelajaran-pelajaran bahasa Arab, seperti nahwu, sharaf, lughah, insya’, imla’. Selain itu juga pelajaran sejarah, baik sejarah Islam maupun sejarah umum, dan juga pelajaran akhlak yang diambil dari kisah-kisah para nabi, sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in, dan lain-lain. Bahkan, ia juga mengajarkan lagu-lagu Islami dan lagu-lagu yang bernuansa perjuangan. Untuk keperluan mengajar, ia memiliki kebiasaan yang bagus, yakni selalu membuat diktat yang ia tulis sendiri, baik dengan tulisan tangan maupun ketikan.
Ustadz Saleh dikenal sebagai seorang yang tekun mengajar. Pagi hari ia mengajar di Darul Hikam, sedangkan siangnya di Madrasah Muallimin. Di samping itu juga mengajar di SMP Muhammadiyah, yang tak jauh dari Darul Hikam.

Gemar Membaca
Semasa muda, Ustadz Saleh berdagang batik bersama kawannya, Ustadz Hasan Bayasut. Ia pun pernah bekerja menulis Al-Quran untuk Percetakan Al-Ma’arif, Bandung, dan menulis kitab Maulid Azab. Hiasan-hiasan khat (kaligrafi) Arab juga sering dibuatnya, karena ia memang memiliki kemampuan yang sangat baik dalam menulis tulisan Arab dengan berbagai gaya tulisan.
Ustadz Saleh juga dikenal sangat gemar membaca. Ia tidak hanya senang membaca kitab-kitab agama, baik dalam bahasa Arab maupun yang lainnya, melainkan juga buku-buku pengetahuan umum dalam berbagai disiplin ilmu yang erat kaitannya dengan agama.
Di sela-sela tumpukan kitabnya ditemukan berbagai majalah, terutama majalah Islam. Meskipun ia tidak pernah duduk di bangku kuliah, bahkan sekolah menengah pun tidak, salah satu bacaannya di waktu muda, di tahun lima puluhan, adalah majalah Media, majalah yang diterbitkan oleh Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam. Beberapa nomor majalah ini edisi tahun 1957 dan 1958 masih tersimpan rapi. Pada kulit mukanya dan halaman pertama terdapat nama dan tanda tangannya disertai tanggal diterimanya majalah-majalah itu.
Ustadz Saleh juga mengajar di IAIN Cirebon. Bahkan, ia termasuk yang mempelopori pendiriannya dan terlibat dalam proses pengalihan status dari Fakultas Tarbiyah UII Cirebon menjadi IAIN. Di sini ia mengajar sebagai dosen bahasa Arab dan sejarah Islam. Ia diangkat menjadi dosen IAIN Cirebon karena penguasaan bahasa Arabnya yang baik, dan juga pengetahuan sejarah Islam yang luas.
Habib Sholeh wafat pada 13 Muharram 1420 H/2000 M dan dimakamkan di kota Cirebon.
AY, AST
Caption:
1. Lead Cover
2. Pembacaan maulid Simthud Durar. Mengharap berkah haul
3. Jamaah menyimak tausiyah. Meneladani perjuangan Habib Sholeh
4. Ustadz Saleh. Pakar bahasa Arab dan sejarah Islam
5. Bersama tamu-tamunya. Pelukis kaligrafi

Habib Ahmad bin Abdullah bin Hasan Alattas (Haul )

Penggagas Majelis Zikir Asmaul Husna

Selama hidupnya, Habib Ahmad berjuang keras agar masyarakat yang berada di lingkungannya meninggalkan perbuatan syirik serta kemungkaran. Majelis zikir yang digagasnya kini berkembang hingga mempunyai cabang sekitar 1.000 majelis.

Bila maut telah tiba, cinta, nama, harta, semua akan mengucapkan selamat jalan kepada pemiliknya. Semua kembali ke asalnya, tingallah kenangan yang membekas dan terus hidup di hati manusia yang ditinggalkan. Begitu pula dengan kisah hidup almarhum Habib Ahmad bin Abdullah bin Hasan Alattas. Walau sudah 11 tahun telah pulang ke rahmatullah, budi baiknya selalu dikenang dan menjadi teladan anak-cucu serta jemaah yang pernah dibimbingnya menuju jalan Allah.
Pada Ahad, 11 Juli yang lalu, Majelis Zikir Asmaul Husna pimpinan Habib Idrus bin Bagir Alattas menggelar haul Habib Ahmad bin Abdullah bin Hasan Alattas ke-11. Ribuan jemaah dari berbagai pelosok tanah air berjubel memadati lokasi peringatan haul yang berada di belakang pasar Bendungan Hilir, Jakarta. Bahkan ada juga yang datang dari mancanegara, seperti Singapura, Malaysia, dan Hadramaut. Semua hadir untuk mengingat perjuangan Habib Ahmad dalam mensyiarkan ajaran Rasulullah SAW.
Haul yang dimulai tepat pukul 10 pagi ini berlangsung khidmat. Seusai pembacaan Ratib Alattas secara berjemaah, tampak di atas panggung Habib Isa bin Ahmad Alattas memimpin zikir Asmaul Husna, dilanjutkan dengan pembacaan Surah Yasin dipimpin oleh Ustaz Fauzan, zikir tahlil oleh Habib Hud bin Bagir Alattas, dan ditutup dengan zikir Asmaul Husna kembali oleh Habib Umar bin Abdullah Alattas.
Tepat pukul 11 siang, Imam Afifi, imam salah satu masjid di Singapura, dalam ceramahnya mengisahkan peranan dakwah Habib Ahmad saat berada di Negeri Singa tersebut, sekitar 12 tahun lalu. “Almarhum sempat mengijazahkan Asmaul Husna. Sampai sekarang wirid tersebut masih menjadi pegangan masyarakat dalam beribadah,” katanya.
Imam Afifi melanjutkan ceritanya, saat ia sakit parah, Habib Ahmad sengaja datang ke Singapura untuk mendoakan dirinya. Imam Afifi kemudian sembuh total. “Insya Allah, saya tidak akan melupakan budi baik Habib Ahmad yang datang ke Singapura khusus untuk mendoakan kesembuhan saya, hingga saya sembuh dan sehat hingga sekarang,” katanya lagi.
Sebelum pembicara kedua tampil, Habib Muhsin bin Umar Alattas, yang terkenal dengan panggilan Muhsin Alattas, melagukan kasidah dari kitab maulid Simthud Durar. Kemudian, Habib Syekh bin Ali Al-Jufri, yang mendapat kesempatan kedua, menyampaikan ceramahnya tentang keutamaan mengenang kebaikan-kebaikan orang yang sudah wafat.
“Terutama orang-orang yang sudah berjasa membimbing kita ke jalan yang baik, seperti Habib Ahmad. Beliau senantiasa mengajak jemaah untuk mengamalkan wirid-wirid Asmaul Husna,” katanya.
Menurutnya, Habib Ahmad adalah sosok ulama yang sangat mencintai Allah, tawaduk, dan sederhana dalam kesehariannya. “Kebiasaan semacam inilah yang paling gampang kita tiru,” katanya lagi seraya mengajak jemaah untuk membersihkan hati agar menjadi orang saleh.
Tak kalah menariknya tausiah Habib Jindan bin Novel bin Salim bin Jindan, yang juga mengajak jemaah untuk meneladani perjuangan orang-orang saleh, termasuk Habib Ahmad.
“Aulia Allah adalah orang-orang yang memahami hakikat penciptaan manusia di muka bumi. Bagi mereka, Allah adalah segalanya. Sehingga Allah memuliakan mereka dengan rahmat dan kasih sayang-Nya, dan menjadikan mereka sebagai wali-Nya,” kata Habib Jindan, pengasuh Pondok Pesantren Al-Fakhriyah, Ciledug, ini.
Perjalanan syiar Islam Habib Ahmad meluas, dimulai sejak tahun 1958. Ia melihat, masyarakat di sekitarnya cenderung kepada perbuatan syirik dan kemungkaran, dan menjadi pemandangan sehari-hari.
Sebelum berdakwah luas, terlebih dahulu ia mengajak sanak dan kerabatnya untuk tetap teguh berada di jalan Allah, menjauhi larangan-Nya, dan menjalankan semua perintah-Nya. Lambat laun, syiar Islam yang disemaikan Habib Ahmad tumbuh dan berkembang. Masyarakat luas mulai tertarik dengan cara berdakwah Habib Ahmad yang santun dan penuh kasih. Zikir Asmaul Husna yang diajarkannya pun dirasakan jemaah sangat menyentuh kalbu.
Setiap kali ia menggelar pengajian di suatu tempat, jemaah yang datang semakin bertambah. Sehingga banyak usulan agar pengajian Habib Ahmad ditetapkan di satu tempat, tidak berpindah-pindah, yakni di kediamannya sendiri. Maka, sejak 1978, rumah Habib Ahmad menjadi tempat taklim tetap jemaah.
Keberadaan Majelis Zikir Asmaul Husna berkembang dari waktu ke waktu. Karena jemaah yang datang tidak hanya dari sekitar Bendungan Hilir, Jakarta, tapi juga Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan, Ambon, hingga ke Malaysia, Singapura, dan Thailand. Maka, pada tahun 1984, ia membuka cabang di daerah-daerah tersebut. Hingga saat ini jumlah Majelis Zikir Asmaul Husna tercatat mencapai 1.000 majelis.
Jasad Habib Ahmad kini terbaring di kompleks pemakaman Al-Hawi, Condet, Jakarta. Sebelum haul digelar, malamnya, sekitar pukul 9, jemaah berziarah ke makamnya. Peringatan haul ini bukan sekadar peringatan biasa. Karena diharapkan jemaah yang hadir meneladani perjuangan penggagas Majelis Zikir Asmaul Husna ini dalam menegakkan kalimat tauhid.
AST/Ft. AST

Kepsyen foto:
01. Tausiah dari Habib Jindan bin Novel. Meneladani kesalehan Habib Ahmad
02. Puncak acara haul. Dihadiri ribuan jemaah, dalam dan luar negeri
03. Habib Syekh Al-Jufri mengisahkan keteladanan Habib Ahmad. Pentingnya menjaga kebersihan hati

Habib Ali bin Ahmad bin Zen Al-Aidid (Haul 1)

Wali Keramat dari Pulau Panggang

Ia adalah mubalig yang pertama kali menyebarkan Islam di Pulau Panggang dan sekitarnya. Hingga kini pantulan karamah wali Allah itu masih terasa. Minggu 25 Desember lalu adalah peringatan haulnya yang ke-115.

Di sebelah utara Jakarta terdapat gugusan kepulauan yang terdiri dari 108 pulau kecil, disebut Kepulauan Seribu. Satu di antaranya adalah Pulau Panggang, sekitar 60 km di sebelah utara kota Jakarta. Pulau seluas 0,9 hektare itu bisa dicapai dalam waktu empat jam dengan perahu motor dari pelabuhan Muara Angke, Jakarta Utara.
Di sanalah, Minggu pagi 25 Desember lalu, berlangsung haul ke-115 Habib Ali bin Ahmad bin Zen Al-Aidid, yang juga dikenal sebagai Wali Keramat Habib Panggang. Ia adalah ulama dan mubalig asal Hadramaut yang pada abad ke-18 bertandang ke Nusantara untuk berdakwah. Ia wafat pada 20 Zulkaidah 1312 H/1892 M.
Sejak sehari sebelum haul digelar, ratusan jemaah sudah mulai berdatangan dari berbagai penjuru. Dari Jakarta, Bogor, Tangerang, Depok, Bekasi, Banten, dan daerah-daerah lain. Pulau Panggang merupakan sebuah kelurahan tersendiri, masuk dalam Kecamatan Pulau Seribu Utara, Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu, Jakarta.
Sejak malam Minggu, warga Pulau Panggang sudah memulai haul dengan membaca maulid Barzanji selama sekitar satu jam. Setelah itu mereka menikmati hiburan berupa marawis yang disajikan oleh Al-Faydhah, pimpinan Sayid M. Bagir bin Hamid Nagib bin Syekh Abu Bakar dari Pondok Pesantren Al-Khairat, Rawalumbu, Bekasi Timur. Acara ini berlangsung sampai sekitar pukul 22.00 WIB.
Pagi harinya, Minggu 25 Desember, bangunan makam Habib Ali bin Ahmad bin Zen Al-Aidid yang berukuran 10 x 10 meter telah dihias. Puluhan umbul-umbul berwarna-warni dipajang menghiasi jalan-jalan menuju makam. Bersamaan dengan itu serombongan anak-anak berpawai keliling kampung menyenandungkan lagu-lagu marawis. Selain sebagai pemberitahuan akan dimulainya haul, juga untuk menyambut para tamu dari Jakarta.
Peringatan haul pagi itu digelar di musala kompleks makam. Sejak pukul delapan, jemaah sudah memadati kompleks makam – luber sampai ke pelataran. Ketika jemaah dan para tamu kehormatan hendak memasuki kompleks makam, Habib Zen bin Hasan bin Hasyim Al-Aidid, cicit almarhum, memimpin salam ‘ibadallah, salah satu syair tawasul manakib Syekh Abdul Qadir Jailani. Dilanjutkan pembacaan zikir, tahlil, dan selawat. Setelah itu segenap jemaah membaca surah Ya-Sin, dipimpin oleh Muhammad bin Abdurrahman Alatas, pengasuh Pesantren Nur Rahmah, Serpong, Tangerang, Banten. Acara ziarah itu ditutup dengan doa, dipandu oleh Habib Zen bin Hasan bin Hasyim Al-Aidid, sang cicit.
Usai berziarah, para habib dan segenap jemaah kembali ke aula makam untuk mengikuti tausiah dari para ulama. Tampak hadir, antara lain, Habib Alwi bin Husein Aidid, sesepuh Himpunan Keluarga Maula Aidid. Adapun pembicara dalam acara tausiah tersebut, antara lain, Habib Muhammad bin Abdurrahman Alatas, pengasuh Pesantren Nur Rahmah, Serpong. Setelah itu tampil K.H. Sholeh, ulama asli Betawi dari Pasar Kemis, Tangerang. Tausiah itu diakhiri oleh Habib Nagib bin Syekh Abu Bakar, pengasuh Pesantren Al-Khairat, Rawalumbu, Bekasi Timur.

Rawan Perampokan
Pada abad ke-18, pertama kali Habib Ali ke Nusantara bersama empat kawannya: Habib Abdullah bin Muhsin Alatas, Kramat Empang Bogor; Habib Muhammad bin Ahmad Al-Muhdor, Bondowoso, Surabaya; Habib Muhammad bin Idrus Al-Habsyi, Ampel, Surabaya; dan Habib Salim Alatas, Malaysia. Habib Ali ke Batavia, sementara keempat kawannya masing-masing menyebar ke kota-kota dan negeri di atas.
Di Batavia, Habib Ali bermukim di Kebon Jeruk dan menikah dengan syarifah setempat, Zakhroh binti Syarif Muhsin Al-Habsyi. Dari perkawinan itu, mereka dikaruniai seorang putra, Hasyim bin Ali Aidid. Di sana, ia berdakwah kurang lebih selama dua tahun. Suatu hari ia mendengar kabar, di sebelah utara Jakarta ada sebuah pulau yang rawan perampokan dan jauh dari dakwah Islam, Pulau Panggang.
Beberapa waktu kemudian ia memutuskan untuk mengunjungi pulau tersebut. Ketika Habib Ali hendak menyeberang, ternyata tak ada perahu. Maka ia pun bertafakur dan berdoa kepada Allah SWT. Seperti halnya para ulama besar lainnya, Habib Ali juga memiliki karamah. Tak lama kemudian muncullah seribu lumba-lumba menghampirinya. Ia lalu menggelar sajadah di atas punggung lumba-lumba tersebut, berlayar menuju Pulau Panggang. Kemudian ia bermukim di sana, mengajar, dan berdakwah.
Sosoknya sangat sederhana, cinta kebersamaan, mencintai fakir miskin dan anak yatim. Bisa dimaklumi jika dakwahnya mudah diterima oleh warga pulau dan sekitarnya. Dengan pendekatan tasawuf, terutama yang ia petik dari kitab Ihya Ulumuddin, karya Imam Ghazali, Habib Ali mengajar dan berdakwah ke segenap pelosok pulau. Bahkan belakangan ia memperluas jaringan dakwah sampai ke Palembang, Singapura, dan Malaka.
Karamah lainnya, suatu malam, usai berdakwah di Kramat Luar Batang, Penjaringan, Jakarta Utara, ia pulang ke Pulau Panggang. Di tengah laut, perahunya diadang gerombolan perompak. Tapi, dengan tenang Habib Ali melemparkan sepotong kayu kecil ke tengah laut. Ajaib, kayu itu berubah menjadi karang, dan perahu-perahu perompak itu tersangkut di karang. Maka, berkat pertolongan Allah SWT itu, Habib Ali dan rombongan selamat sampai di rumahnya di Pulau Panggang.
Suatu hari, warga Pulau Panggang diangkut ke Batavia dengan sebuah kapal Belanda, konon untuk dieksekusi. Beberapa perahu kecil berisi penduduk ditarik dengan rantai besi ke arah kapal Belanda yang membuang sauh jauh dari pantai. Mendengar kabar itu, Habib Ali menangis, lantas berdoa, ”Ya Allah, selamatkanlah seluruh penduduk Pulau Panggang.” Doanya didengar dan dikabulkan oleh Allah SWT. Rantai besi yang digunakan untuk menarik perahu berisi penduduk itu tiba-tiba putus, sehingga Belanda urung membawa penduduk ke Batavia.
Hingga akhir hayatnya, Habib Ali mengajar dan berdakwah di Pulau Panggang. Suatu malam, ia mendapat isyarat bahwa sebentar lagi ia akan wafat. Ketika itu sebenarnya ia ingin pulang ke Palembang, namun urung. Dan kepada para santrinya ia menyatakan, “Saya tidak jadi ke Palembang.” Benar apa yang ia katakan: keesokan harinya, 20 Zulkaidah 1312 H/1892 M, ia wafat, dan dimakamkan di sebuah kawasan di ujung timur Pulau Panggang.
Sesungguhnya, jenazah almarhum akan dibawa ke Batavia untuk dimakamkan di sana. Namun, ketika jenazah sudah berada di atas perahu yang sudah berlayar beberapa saat, tiba-tiba tiang layar perahu patah dan perahu terbawa arus kembali ke Pulau Panggang. Hal ini terjadi berturut-turut sampai tiga kali. Akhirnya, penduduk kampung memaknani peristiwa itu sebagai kehendak sang Habib untuk dimakamkan di pulau tersebut.
Habib Ali bin Ahmad bin Zen Al-Aidid adalah seorang ulama besar yang langka, yang berani merintis dakwah di kawasan terpencil, dan berhasil.

AST/Ft. AST

Syekh Akbar Abdul Fatah (Kisah Wali)

Syekh Akbar Abdul Fatah

“Si Linggis” dari Desa Cidahu

Ia adalah salah seorang wali besar di Tanah Jawa. Sejak muda ia sudah terkenal dengan sebutan “Si Linggis”, karena analisisnya yang sangat tajam setiap kali mengkaji ilmu-ilmu agama dengan pendekatan tasawuf.

Di Desa Cidahu, Tasikmalaya, Jawa Barat, pada akhir abad ke-19, tepatnya tahun 1884, lahirlah seorang jabang bayi yang kelak menjadi ulama besar. Orangtuanya memberinya nama Abdul Fatah. Sejak muda ia sudah tertarik pada kehidupan rohaniah dengan menimba ilmu tarekat pada K.H. Sudja’i, guru mursyid Tarekat Tijaniyah, selama tujuh tahun sejak 1903.
Selama menjadi santri, Abdul Fatah terkenal dengan sebutan “Si Linggis”, karena analisisnya terhadap berbagai ilmu agama yang sangat tajam. Terutama ketika ia menganalisis dengan menggunakan ilmu nahu dan saraf dengan pendekatan tasawuf. Ia suka belajar dengan membaca berbagai kitab, sehingga beberapa pelajaran yang belum sempat disampaikan oleh gurunya sudah ia kuasai.
Suatu hari, ia membaca ayat 17 surah Al-Kahfi, “Barang siapa diberi hidayah oleh Allah, dia termasuk orang yang diberi petunjuk; dan barang siapa yang disesatkan oleh Allah, dia sekali-sekali tidak akan mendapatkan seorang wali yang mursyid.” Ia lalu bertanya kepada Kiai Sudja’i, “Siapakah wali mursyid yang dimaksud dalam ayat ini?” Kiai Sudja’i menjelaskan perihal wali mursyid sebagai guru tarekat, sementara mencari wali mursyid merupakan keharusan. Tapi, karena Kiai Sudja’i mengaku bukan wali mursyid, Abdul Fatah disarankan untuk mencari wali mursyidnya.
Maka berangkatlah Abdul Fatah mencari wali mursyid dengan mengunjungi para ulama di Jawa dan Sumatra. Karena belum menemukan, ia lalu mencarinya ke Timur Tengah, khususnya Mekah. Maka pada 1922 ia pun berangkatlah, dengan membawa seluruh anggota keluarganya. Sampai di Singapura, kapal yang mereka tumpangi rusak. Terpaksalah ia bermukim di Negeri Singa itu. Ia tinggal di Kampung Watu Lima, kemudian di Kampung Gelang Serai, selama lima tahun. Di sanalah ia, suatu hari, bertemu Syekh Abdul Alim Ash-Shiddiqy dan Syekh Abdullah Dagistani, yang mengajarkan Tarekat Sanusiyah.
Pada 1928, setelah memulangkan keluarganya ke Tasikmalaya, ia berangkat ke Mekah bersama beberapa jemaah haji Indonesia, seperti K.H. Toha dari Pesantren Cintawana, Tasikmalaya, dan K.H. Sanusi dari Pesantren Syamsul Ulum, Gunungpuyuh, Sukabumi (lihat Alkisah edisi 17/III/2005, Khazanah). Selama di Mekah, Abdul Fatah bergabung dengan Zawiyah Sanusiyyah di Jabal Qubais, mengaji kepada Syekh Ahmad Syarif As-Sanusi selama lima tahun.
Karena sangat alim, belakangan Abdul Fatah mendapat kepercayaan membaiat atau menalkin murid tarekat yang baru masuk. Selama belajar tarekat kepada Syekh Ahmad Syarif, ia sempat mengalami berbagai ujian. Suatu hari, ketika tengah mengajar, Syekh Ahmad Syarif mengamuk dalam majelisnya. Apa saja yang ada di dekatnya dilempar ke arah murid-muridnya. Semua muridnya lari berhamburan karena takut. Namun, ada seorang murid yang bergeming, tetap diam di tempat. Dialah Abdul Fatah.

Kursi Istimewa
Sebagai guru mursyid tarekat, Syekh Ahmad Syarif biasa duduk di kursi istimewa, dan tak seorang pun berani mendudukinya. Mengapa? Sebab, siapa yang berani mendudukinya, badannya akan hangus. Suatu hari Syekh Ahmad memerintahkan Abdul Fatah untuk menggantikannya mengajar. Maka dengan tenang Abdul Fatah duduk di kursi istimewa itu, tanpa ada kejadian apa pun yang mencelakakannya.
Akhirnya, pada suatu hari, Syekh Ahmad Syarif memanggilnya. Ia menceritakan, semalam Rasulullah SAW memerintahkan untuk melimpahkan kekhalifahan Tarekat Sanusiyah kepada Abdul Fatah Al-Jawi untuk dikembangkan di negerinya. Sejak itu Abdul Fatah mendapat gelar Syekh Akbar Abdul Fatah. Setelah itu, lebih kurang dua tahun kemudian, Syekh Ahmad Syarif As-Sanusi pun wafat.
Pada 1930, Syekh Akbar Abdul Fatah pulang kampung dengan membawa ajaran Tarekat Sanusiyah, yang di kemudian hari berganti nama menjadi Tarekat Idrisiyah karena tiga alasan. Pertama, untuk berlindung dari tekanan politik kaum kolonialis Belanda. Kedua, kandungan ajaran kedua aliran itu sama, karena Idrisiyah juga merupakan anak Tarekat Sanusiyah, yang sama-sama berguru kepada Syekh Ahmad bin Idris. Ketiga, untuk mendapatkan berkah Syekh Ahmad bin Idris atas keistimewaan lafaz zikirnya yang diajarkan oleh Rasulullah SAW dan Nabi Khidlir, yaitu Fi kulli lamhatin wa nafasin ‘adada ma wasi’ahu ‘ilmullah (.................)
Di Cidahu, Syekh Akbar Abdul Fatah menghadapi berbagai tantangan, baik dari penjajah Belanda maupun para jawara. Namun semua itu ia hadapi tanpa takut sedikit pun. Tiga tahun kemudian ia mulai mendirikan beberapa zawiah di beberapa tempat, terutama di Jawa Barat, masing-masing dilengkapi dengan sebuah masjid, Al-Fatah. Pada 1930, ia sempat berdakwah sampai ke Batavia, singgah di Masjid Kebon Jeruk, kini di kawasan Jakarta Kota. Ia juga sempat mengembangkan tarekat di Masjid Al-Makmur, Tanah Abang, Jakarta Pusat.
Suatu hari ia mengembangkan tarekat di Masjid Al-Falah di Batutulis, kini di kawasan Harmoni, Jakarta Pusat. Di sana ia juga harus menaklukkan para jawara. Dan sejak itu syiar dakwah Islam terus berkembang. Banyak muridnya yang kemudian mewakafkan tanah untuk digunakan sebagai zawiah. Ia juga membangun sebuah asrama untuk tempat tinggal para santri dari jauh. Di tengah kesibukannya mengajar di Batavia, dua minggu sekali ia menyempatkan diri mengajar di kampung halamannya.
Pada 1940, karena pesantrennya di Cidahu sudah tidak bisa menampung jemaah, ia lalu memindahkannya ke Kampung Pagendingan, Kecamatan Cisanyong, Kabupaten Tasikmalaya.
Sebagai wali, Syekh Akbar Abdul Fatah memiliki banyak karamah. Suatu hari, dalam perang kemerdekaan, pasukan Hizbullah, yang terdiri dari para santri pimpinan Syekh Akbar Abdul Fatah, dibombardir oleh pesawat Belanda. Namun, bom-bom itu tidak meledak. Apa pasal? Karena Syekh Akbar Abdul Fatah telah membekali para santrinya dengan air yang telah didoainya. “Air doa” sang wali inilah yang, atas izin Allah SWT, menangkal bom-bom penjajah kafir tersebut.

Perampok Arab
Suatu hari seorang nelayan terdampar sampai ke pantai Australia. Ia kemudian berdoa, “Ya Allah, mengapa Engkau asingkan aku yang lemah ini di sini? Padahal, aku hanya bermaksud mencari nafkah buat anak-istriku. Ya Allah, datangkanlah penolong.” Ketika itulah ia melihat seorang ulama bertubuh tinggi besar berpakaian serba putih. Tiba-tiba ia memindahkan perahu nelayan itu ke tempat asalnya. Setelah selamat, nelayan itu menawarkan ikan besar yang baru saja ditangkapnya kepada ulama penolongnya itu.
Dengan tersenyum, ulama tersebut berkata, “Aku tidak membutuhkan ikan itu. Jika engkau ingin menjumpaiku dan menjadi muridku, datanglah ke Pagendingan, Tasikmalaya.” Setelah itu ulama tinggi bear itu pun lenyap dari pandangan mata. Selang beberapa minggu kemudian, nelayan itu datang ke Pesantren Pagendingan. Di sana ia bertemu seorang ulama yang fisik dan gerak-geriknya persis seperti yang ia lihat di pantai Australia. Ia tiada lain adalah Syekh Akbar Abdul Fatah.
Karamah yang lain terjadi ketika Syekh Akbar Abdul Fatah berada di Mekah. Suatu hari ia ingin berziarah ke makam Rasulullah SAW di Medinah. Membawa bekal secukupnya, bersama beberapa kiai dari Jawa, ia berjalan kaki menuju Medinah. Di tengah perjalanan, rombongan itu diadang perampok bersenjata lengkap. Rombongan peziarah itu terkepung oleh perampok yang mengendarai kuda dengan menghunus pedang. Syekh Akbar lalu memerintahkan rombongannya melepaskan apa saja yang ada di tangannya ke kanan dan kiri, sebagai kepasrahan seorang hamba yang lemah tak berdaya.
Sambil melepaskan apa yang dimiliki, Syekh Akbar berteriak dengan suara lantang, ”Ash-shalatu was salamu ‘alaika ya Rasulallah! Qad Dhaqat hilati, adrikni ya Rasulallah!” (Selawat dan salam serajahtera atas Tuan, wahai Rasulullah! Mohon lenyapkan rintangan jalan kami menuju engkau, wahai Rasulullah!). Ajaib! Kontan para perampok itu berteriak-teriak kesakitan sambil memegang leher mereka, “Ampun ya Syekh Jawa, ampun ya Syekh Jawa! Panas, panas!”
Pemimpin perampok itu lalu minta maaf, mohon dibebaskan dari siksaan. Maka Syekh Akbar pun mendekati dan menepuk pundak para perampok itu satu per satu. Barulah rasa sakit karena panas tak terkirakan di tenggorokan itu reda. Seketika itu pemimpin perampok menyatakan bertobat, dan bersedia mengantarkan rombongan ke mana saja. “Kalian adalah bangsa Arab yang berdekatan dengan kampung Rasulullah SAW, sedangkan kami datang dari negeri yang sangat jauh – tapi demi berziarah kepada Rasulullah SAW. Tidakkah kalian malu melakukan hal yang tidak terpuji ini? Sudah sepantasnya kalian lebih berbangga daripada kami, karena negeri kalian dikunjungi banyak orang dari seluruh pelosok negeri.”
Syekh Akbar Abdul Fatah wafat pada 1947 dalam usia 63 tahun, dimakamkan dalam kompleks Pesantren Al-Fathiyah al-Idrisiyah, Jalan Raya Ciawi Km 8, Kampung Pagendingan, Kecamatan Cisanyong, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Sejak itu pemimpin Tarekat Idrisiyah diserahkan kepada Syekh Akbar Muhammad Dahlan. Pada 11 September 2001 Syekh Dahlan wafat, dan tongkat kepemimpinan tarekat diserahkan kepada Syekh Akbar Muhammad Daud Dahlan.
AST
Caption Foto:
Syekh Abdul Fatah. Berjalan kaki ke Medinah
Makam Syekh Abdul Fatah. Selalu ramai diziarahi
Masjid Al-Fatah di Jalan Batu Tulis, Jakarta Pusat. Markas Tarekat Idrisiyah
Pesantren Al-Fathiyah al-Idrisiyah, Tasikmalaya. Meneruskan tradisi salaf

“Sehubungan dengan masalah ilmu, ada empat macam manusia yang memperoleh pahala: orang yang bertanya, orang yang mengajarkan, orang yang mendengarkan, dan orang yang mencintai ketiga-tiganya.” (HR Abu Nu’aim dari Sayidina Ali)

KH Dr Ahsin Muhammad (tamu kita)

Pakar Ilmu-ilmu Al-Quran

Ia pakar ilmu yang langka: ilmu-ilmu Al-Quran. Lulus sebagai doktor dari sebuah universitas di Madinah dengan cumlaude, ia mengasuh pesantren di Cirebon, untuk mencetak para penghafal Al-Quran.

Bagaimana perasaan Anda jika di malam hari yang gelap, dalam perjalanan melewati gurun yang tandus, sepi bahkan kosong, kendaraan Anda tiba-tiba mogok? Takut, tegang, cemas, tentu menyelimuti perasaan Anda. Bagaimana pula jika tak lama kemudian ada orang yang menolong, membawa Anda dan mobil Anda ke bengkel tanpa mengharapkan apa-apa? Tentu, tak terbayangkan perasaan Anda: lega dan gembira.
Itu hanya salah satu dari sekian banyak kemudahan yang dialami oleh Dr. Ahsin Muhammad. Dari berbagai pengalaman hidupnya, ia semakin meyakini, pertolongan Allah akan hadir bagi mereka yang senantiasa menjaga hubungan dengan Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya. “Barang siapa yang selalu mengingat Allah dalam keadaan senang, Allah akan mengingatnya ketika ia dalam keadaan susah,” ujarnya mengutip sebuah hadits.
Tamu kita kali ini ialah pendiri dan pengasuh Ma`had Darul Qur’an di Arjawinangun, Cirebon, Jawa Barat. Setiap Ahad pagi ia menyelenggarakan pengajian qiraat warasy, yang diikuti para guru Al-Quran dari wilayah Cirebon dan sekitarnya, dan telah berlangsung sekitar tiga bulan. Sebelumnya, materi yang diberikan mencakup semua qiraat mutawatir yang dikenal sebagai qiraat sab`ah. Tetapi karena dipandang terlalu berat, dan menyulitkan mereka yang belum memiliki bekal yang memadai, pengajian ini lalu difokuskan pada salah satu qiraat saja. Dan itu adalah qiraat warasy.
Di masa sekarang, model pengajian yang memberikan materi pendalaman berbagai macam qiraat seperti ini terbilang langka. Mereka yang berminat mempelajarinya pun tidak banyak. Padahal, materi ini sangat dibutuhkan dalam rangka menjaga cara membaca Al-Quran yang tepat. Karena itu, para peserta merasakan manfaatnya – yang kemudian mereka kembangkan di tempat masing-masing.
Berkembangnya pengajian mengenai qiraat dan pendalaman ilmu-ilmu Al-Quran merupakan salah satu obsesinya yang terus diupayakan secara serius. Menurutnya, menjaga kemurnian Al-Quran merupakan tugas mulia. Segala sesuatu yang dapat merusak atau setidaknya mengganggu kemurnian Al-Quran harus dicegah. Karenanya, peredaran buku-buku Yasin Fadhilah yang cara penulisannya tidak membedakan mana bagian yang merupakan ayat Al-Quran dan mana yang bukan, dikecamnya.

Rektor IIQ
”Mestinya Yasin Fadhilah seperti itu ditarik dari peredaran, kemudian direvisi. Penerbit selama ini sembrono mencampuradukkan dan menyamakan ayat Al-Quran dan doa. Seharusnya dibedakan penulisannya, agar jelas mana yang Al-Quran dan mana yang bukan,” katanya.
Menyinggung metode pengajaran Al-Quran, menurutnya selama ini sudah berjalan baik. Selain itu, banyak pesantren yang membuka program menghafal Al-Quran. Kelemahannya, para santri berhenti hanya pada menghafal Al-Quran, tidak berusaha mengembangkan kemampuannya dengan mendalami ilmu Al-Quran, termasuk berbagai qiraatnya.
Dia memang pakar dalam bidang qiraat dan ilmu-ilmu Al-Quran. Itu sebabnya ia lalu diserahi berbagai tugas penting. Sejak 2 November 2005, ia menjabat rektor Institut Ilmu Al-Quran (IIQ), Jakarta, perguruan tinggi yang mencetak para ahli Al-Quran. Posisi ini sebelumnya diduduki tokoh-tokoh yang terkenal pakar di bidang ilmu-ilmu Al-Quran, seperti Prof. K.H. Ali Yafie (2001-2005), sementara rektor sejak IIQ berdiri adalah Prof. H. Ibrahim Hosen (1977-2001).
Bukan itu saja tugas yang diemban pria yang tenang, santun, dan ramah ini. Kini ia juga dipercaya sebagai ketua Tim Revisi Terjemahan dan Tafsir Al-Quran Departemen Agama, yang beranggotakan beberapa pakar ilmu Al-Quran, seperti Prof. Dr. H. Huzaimah T. Yanggo, Prof. Dr. H. Hamdani Anwar, Prof. H. Ali Mustafa Ya’qub, Dr. Hj. Faizah Ali Syibromalisi, dan beberapa pakar lain. Tim ini telah bekerja sejak 2004 dan diperkirakan akan menuntaskan tugas mereka pada 2007.
Keahliannya dalam ilmu Al-Quran membawa berkah tersendiri. Selama beberapa tahun belakangan, setiap Ramadhan ia diundang ke Inggris untuk menjadi imam shalat Tarawih di London dan kota-kota lainnya. Meski begitu ia tetap tinggal bersama keluarga di Cirebon. Setiap minggu ia bolak-balik Jakarta-Cirebon. Senin sampai Kamis ia di Jakarta, hari-hari lain ia habiskan di Cirebon untuk mengajar di pesantren.
Putra pasangan K.H. Muhammad dan Nyi Umi Salamah ini dilahirkan di Arjawinangun, Cirebon, pada 21 Februari 1956. Sejak kecil ia telah menunjukkan bakatnya dalam ilmu-ilmu Al-Quran. Ketika masih duduk di kelas IV SD dan belum lagi dikhitan, ia telah hafal tiga juz Al-Quran, yakni juz 28, 29, dan 30. Karena itu kakeknya dari pihak ibu, K.H. Syathori, pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Darut Tauhid, Arjawinangun, sangat menyayanginya.

Lingkungan Religius
”Ketika saya dikhitan, beliau yang mengurusi semuanya. Saya juga diberi pakaian yang berbeda dari yang lain. Beliau memang sangat berkeinginan, di antara anak-anak atau cucu-cucunya banyak yang hafal Al-Quran. Karena itu, bila ada cucu yang datang dan mencium tangannya, selalu ditepuk-tepuk dadanya sambil berucap, ‘Nanti, di sini ada Al-Quran, ada hadits, ada Alfiyah (salah satu kitab standar ilmu nahwu)’,” tuturnya mengenang sang kakek.
Meskipun tak sempat mengalami masa dewasa sebagian besar cucu-cucunya, apa yang diidam-idamkan oleh sang kakek akhirnya menjadi kenyataan. Ahsin dan ketiga saudara perempuannya, semuanya hafal Al-Quran. Sedang empat saudara laki-lakinya hafal beberapa surah Al-Quran. Ketika kakeknya wafat, Ahsin masih duduk di bangku SMP.
Saat sang kakek masih hidup, Ahsin sering menemaninya mengimami shalat berjamaah. Terkadang ia juga ikut mendengarkan apabila kakeknya membacakan kitab di pengajiannya. “Hanya nguping, seperti anak-anak yang lain,” ujarnya. Meski demikian, ia mendapat banyak hal penting dari kehidupan keseharian sang kakek, seorang ulama yang di masa hidupnya sangat disegani dan dihormati. Menurutnya, sang kakek berjasa menciptakan lingkungan yang religius, yang mencintai ilmu dan ulama. Kakeknya seorang penyabar, mempunyai perhatian pada para santri, dan hampir tidak pernah marah.
Menurutnya resep menghafal Al-Quran ialah doa orangtua yang benar-benar sangat mengharapkan anaknya dapat menghafal Al-Quran. Orangtua yang demikian niscaya akan selalu bermohon kepada Allah dengan sungguh-sungguh. Tentu doa yang demikian kemungkinan diterimanya lebih besar. Karena itu langkah si anak selanjutnya untuk mewujudkan harapan orangtua akan lebih mudah. Selain itu harus ada usaha yang maksimal ketika membimbing anak untuk menghafalkannya.
Ayah lima anak ini menyelesaikan pendidikan dasarnya di SD dan SMP Arjawinangun. Sedangkan dasar-dasar ilmu agama ia pelajari di pesantren milik keluarganya. Selama tiga tahun sejak 1970 ia melanjutkan pelajaran di Pesantren Lirboyo, Kediri, sambil belajar di SMU. Sejak lama, Pesantren Lirboyo memang didominasi oleh para santri asal Cirebon dan sekitarnya.
Di pesantren terkemuka itu ia belajar fiqh dan ilmu-ilmu alat, seperti nahwu, sharaf, dan sebagainya. Sementara di saat libur panjang ia menimba ilmu di pesantren lain. Antara lain, ia pernah mengaji tabarruk kepada K.H. Umar Abdul Manan (Solo) dengan menyetorkan hafalan-hafalan Al-Qurannya. Meski tidak lama belajar kepadanya, tidak sampai dua bulan, ia merasa sangat beruntung, karena bisa memperoleh syahadah sanad dari sang guru.

Ponpes Krapyak
“Tidak semua orang – termasuk para santri yang sudah lama belajar kepada beliau – yang bisa mendapatkannya,” ujarnya. Sertifikat sanad dari Kiai Umar memang sangat didambakan. Dengan sertifikat itu terjaminlah bacaan yang benar, bagus, dan fasih. Juga menunjukkan bobot intelektualitas dan tanggung jawab sebagai seorang hafizh Al-Quran.
Keinginanannya yang kuat untuk mendalami Al-Quran membawanya meneruskan belajar di Pondok Pesantren Al-Munawwir, Krapyak, Yogyakarta (1973- 1976). Ia juga sempat belajar kepada K.H. Arwani (Kudus). Tetapi ketika baru berjalan sekitar dua bulan, ia diminta pulang ke Cirebon untuk menyiapkan keberangkatannya ke Makkah. “Meski demikian, bagi seorang santri, sesingkat apa pun masa belajarnya, ia harus bisa menyerap berbagai ilmu, termasuk akhlak dan keteladanan gurunya,” katanya.
Bulan Agustus 1976 menandai era baru dalam hidupnya. Ia berangkat ke Arab Saudi untuk mendalami ilmu-ilmu agama sebagaimana cita-cita orangtuanya. Mula-mula ia belajar di Makkah. Sekitar satu tahun, 1976-1977, ia mengaji Al-Quran di Masjidil Haram di bawah bimbingan Syekh Abdullah Al-`Arabi, seorang Mesir yang didatangkan oleh Jamaah Tahfizh Al-Quran. Di Masjidil Haram memang banyak kegiatan, salah satunya dikoordinasikan oleh lembaga tersebut.
Ketika itu yang memimpin lembaga tersebut ialah Syekh Shalih Al-Qazzaz, mantan sekjen Rabithah `Alam Islami. Yang juga banyak berperan di lembaga ini ialah Syekh Ibrahim Sa`d, seorang Mesir yang mengatur metode menghafal Al-Quran. Masa itu merupakan kebangkitan Tahfizhul-Qur’an di Arab Saudi. Hal ini tidak terlepas dari partisipasi para masyaikh qurra’ (guru-guru para pembaca Al-Quran) yang berasal dari Mesir, baik di Makkah, Jeddah, Madinah, maupun yang lainnya.
Pengajian di Masjidil Haram ia ikuti pagi hari, sedang sore harinya ia menuntut ilmu di Markaz Ta`lim al-Lughah al-`Arabiyyah. Karena sudah hafal Al-Quran, ketika belajar ia hanya “menyetor” hafalan dan mendalami bacaannya. Di akhir tahun, ia mengikuti ujian dan lulus, mendapat syahadah yang menyatakan bahwa yang bersangkutan dapat membaca Al-Quran secara hafalan dari awal hingga akhir.

Menulis Tahqiq
Pada 1977 ia berangkat ke Madinah al-Munawarah untuk mengikuti kuliah di Fakultas Kulliyatul-Qur’an wa Dirasah Islamiyyah dari Al-Jami`ah Al-Islamiyah. Di sini ia tak mengalami kesulitan berarti, semua berjalan lancar tanpa hambatan. Apalagi ia mendapat beasiswa 200 dolar atau 775 riyal per bulan. Pemberian beasiswa itu, selain sebagai penghargaan bagi mereka yang mempelajari dan menghafal Al-Quran, juga untuk memotivasi para mahasiswa yang kuliah di fakultas tersebut.
Selepas menamatkan pendidikan kesarjanaan, ia melanjutkan ke program pascasarjana di universitas yang sama mengambil Jurusan Tafsir dan Ilmu Al-Quran, selesai pada 1987 dengan tesis Sejarah Perkembangan Ulumul Qur’an. Sedang untuk disertasi ia menulis tahqiq (menulis dan meneliti kembali) kitab At-Taqrib wal-Bayan fi Ma`rifati Syawadzil-Qur’an, karya Ash-Shafrawi, ulama asal Iskandariyah, Mesir, kelahiran 636 H/1216 M.
Dan akhirnya ia meraih gelar doktor dengan yudisium Mumtaz Syaraful ‘Ula (cumlaude) pada 1989. Praktis selama 12 tahun, sejak 1977, ia menghabiskan masa mudanya di Jam’iyyah Al-Islamiyyah, Madinah. Di antara teman dari tanah air yang belajar di sana tapi beda angkatan adalah Hidayat Nur Wahid (ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat) dan Salim Seggaf Al-Jufri (dubes RI di Arab Saudi). Usai belajar di Madinah, ia kembali mengajar di Pondok Pesantren Darut Tauhid, Cirebon, yang diasuh oleh pamannya, K.H. Ibnu Ubaidillah.
Penguasaannya yang mendalam tentang ilmu-ilmu Al-Quran menarik perhatian banyak kalangan. Maka pada 1992, ia diajak oleh K.H. Syukron Makmun, pengasuh Pondok Pesantren Darul Rahman, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, untuk ikut mendirikan Institut Islam Darul Rahman. Pada tahun itu juga ia mengajar di Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran (PTIQ) dan di Institut Agama Islam Negeri (kini Universitas Islam Negeri, UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta. Beberapa tahun kemudian ia diangkat sebagai pengajar tetap di IAIN hingga kini.
Di tengah kesibukannya mengajar, baik di Cirebon, Jakarta, maupun di luar negeri, ia masih berusaha untuk merampungkan buku tentang ilmu-ilmu Al-Quran, sebagai salah satu syarat untuk pengangkatannya sebagai guru besar. ”Sudah selesai saya tulis, tinggal dibukukan,” ujarnya. Kita tunggulah terbitnya buku penting karya pakar Al-Quran ini.

AY, AST/Ft. AY, AST

Caption:
Lead Foto
Di ruang kerjanya. Mengembangkan khazanah ilmu Al-Quran
Pondok Pesantren Darul Quran, Arjawinangun. Mencetak para penghafal Al-Quran
Sedang santai menerima alKisah. Bolak-balik Cirebon-Jakarta
(Untuk insert di COVER)

8.3.06

SIMTHUD-DURAR

Bismillâhir-rahmânir-rahîm

Yâ rabbi shalli `alâ Muhammad  Mâ lâha fil-ufqi nûru kaukab
Yâ rabbi shalli `alâ Muhammad  Al-fâtihil-khâtimil-muqarrab
Yâ rabbi shalli `alâ Muhammad  Al-mushthafâl-mujtabâl-muhabbab
Yâ rabbi shalli `alâ Muhammad  Mâ lâha badrun wa ghâba ghaihab
Yâ rabbi shalli `alâ Muhammad  Mâ rîhu nashrin bin-nashri qad hab
Yâ rabbi shalli `alâ Muhammad  Mâ sâratil-`îsu bathna sabsab
Yâ rabbi shalli `alâ Muhammad  Wa kulli man lilhabîbi yunsab
Yâ rabbi shalli `alâ Muhammad  Wa kulli man linnabî yashhab
Yâ rabbi shalli `alâ Muhammad  Waghfir wa sâmih man kâna adznab
Yâ rabbi shalli `alâ Muhammad  Wa ballighil-kulla kulla mathlab
Yâ rabbi shalli `alâ Muhammad  Wasluk binâ rabbi khaira madzhab
Yâ rabbi shalli `alâ Muhammad  Washlih wa sahhil mâ qad tasha`ab
Yâ rabbi shalli `alâ Muhammad  A`lal-barâ yâ jâhan wa arhab
Yâ rabbi shalli `alâ Muhammad  Ashdaqi `abdin bil-haqqin a`rab
Yâ rabbi shalli `alâ Muhammad  Khairil-warâ manhajan wa ashwab
Yâ rabbi shalli `alâ Muhammad  Mâ thairu yumnin ghannâ fa athrab

***


Yâ rabbi shalli `alâ Muhammad  Asyrafi badrin fil-kauni asyraq
Yâ rabbi shalli `alâ Muhammad  Akrami dâ`in yad`û ilal-haq
Yâ rabbi shalli `alâ Muhammad  Almushthafâsh-shâdiqil-mushaddaq
Yâ rabbi shalli `alâ Muhammad  Ahlal-warâ manthiqan wa ashdaq
Yâ rabbi shalli `alâ Muhammad  Afdhali man bit-tuqâ tahaqqaq
Yâ rabbi shalli `alâ Muhammad  Man bis-sakhâ wal-wafâ takhallaq
Yâ rabbi shalli `alâ Muhammad  Wajma` minasy-syâmli mâ tafarraq
Yâ rabbi shalli `alâ Muhammad  Washlih wa sahhil mâ qad ta`awwaq
Yâ rabbi shalli `alâ Muhammad  Waftah minal-khâiri kulla mughlaq
Yâ rabbi shalli `alâ Muhammad  Wa âlihi wa man bin-nabî ta`allaq
Yâ rabbi shalli `alâ Muhammad  Wa âlihi wa man lilhabîb ya`syaq
Yâ rabbi shalli `alâ Muhammad  Wa man bihablin-nabî tawatstsaq
Yâ rabbi shalli `alâ Muhammad  Yâ rabbi shalli `alaihi wa sallim.


Bismillâhir-rahmânir-rahîm

Alhamdu lillâhil-qawiyyi sulthânuh  alwâdhihi burhânuh  almabsûthi fil-wujûdi karamuhu wa ihsânuh  ta`âlâ majduhu wa `azhuma syânuh  khalaqal-khalqa lihikmah  wa thawâ `alaihâ `ilmah  wa basatha lahum min fâ’idhil-minnati mâ jarat bihi fî aqdârihil-qismah  fa arsala ilaihim asyrafa khalqihi wa ajalla `abîdihi rahmah  ta`allaqat irâdatuhul-azaliyyatu bikhalqi hâdzal-`abdil-mahbûb  fantasyarat âtsâru syarafihi fî `awâlimisy-syahâdati wal-ghuyûb  famâ ajalla hâdzal-mannal-ladzî takarrama bihil-mannân  wa mâ a`zhama hâdzal-fadhlal-ladzî baraza min hadhratil-ihsân  shûratan kâmilatan zhaharat fî haikalin mahmûd  fata`aththarat biwujûdihâ aknâful-wujûd  wa tharrazat burdal-`awâlimi bithirâzit-takrîm. 


Allâhumma shalli wa sallim asyrafash-shalâti wat taslîm
`alâ sayyidinâ wa nabiyyinâ Muhammadinir-ra’ufir-rahîm

Tajallal-haqqu fî `âlami qudsihil-wâsi`  tajalliyan qadhâ bintisyâri fadhlihi fil-qarîbi wasy-syâsi`  falahul-hamdul-ladzî lâ tanhashiru afrâduhu bita`dâd  haitsu abraza min `âlimil-imkân  shûrata hâdzal-insân  liyatasyarrafa biwujûdihits-tsaqalân  wa tantasyira asrâruhu fil-akwân  famâ min sirrinit-tashala bihi qalbu munib  illâ min sawâbighi fadhlil-lâhi `alâ hâdzal-habîb

Ya laqalbin surûruhu qad tawâlâ 
Bihabîbin `ammal-anâma nawâlâ 
Jalla man syarrafal-wujûda binûrin 
Ghamaral-kauna bahjatan wa jamâlâ 
Qad taraqqâ fil-husni a`lâ maqâmin 
Wa tanâhâ fî majdihi wa ta`âlâ 
Lâhazhathul-`uyûnu fîmajtalathu 
Basyaran kâmilan yuzîhudh-dhalâlâ
Wahwa min fauqi `ilmi mâ qad ra’athu 
Rif`atan fî syuûnihi wa kamâlâ. 

Fasubhânal-ladzî abraza min hadhratil-imtinân  Mâ ya`jazu `an washfihil-lisân  Wa yahâru fî ta`aqquli ma`ânîhil-janân  intasyara minhu fî `âlamil-buthûuni wazh-zhuhûr  mâ mala-al-wujûdal-khalqiyya nûr  fatabârakal-lâhu min ilâhin karîm  basysyâratnâ ayâtuhu fidz-dzikril-hakîm  bi bisyârati laqad jâ’akum rasûlum-min anfusikum  `azîzun `alaihi mâ `anittum harîshun `alaikum bil-mu’minîna ra’ufur-rahîm  faman fâ ja’athu hâdzihil-bisyâratu wa talaqqâ hâ biqalbin salîm  faqad hudiya ilâ shirâtim-mustaqîm. 

Allâhumma shalli wa sallim asyrafash-shalâti wat taslîm
`alâ sayyidinâ wa nabiyyinâ Muhammadinir-ra’ufir-rahîm

Wa asyhadu an-lâ ilâha illallâhu wahdahu lâ syarîka lahu syahâdatan tu`ribu bihal-lisân  `ammâ tadhammânahul-janân  minat-tashdîqi bihâ wal-idz`ânn  tasybutu bihâ fish-shudûri minal-îmâni qawâ`iduh  wa talûhu `alâ ahlil-yaqîni min sirri dzâlikal-idz`ân wat-tashdîqi syawâhiduh  wa asyhadu anna sayyidanâ Muhammadanil-`abdash-shâdiqa fî qaulihi wa fi`lih  wal-muballigha `anil-lâhi mâ amarahu bitablîghihi likhalqihi min fardhihi wa naflih  `abdun arsalahul-lâhu lil`âlamîna basyîran wa nadzîra  faballaghar-risâlah  wa addal-âmânah  wa hadal-lâhu bihi minal-ummati basyaran katsîra  fakâna fî zhulmatil-jahli lilmustabshirîna sirâjan wa qamaran munîra  famâ a`zhamahâ min minnatin takarramal-lâhu bihâ `alal-basyar  wa mâ ausa`ahâ min ni`matin intasyara sirruhâ fil-bahri wal-bar  Allâhumma shalli wa sallim bi’ajallish-shalawâti wa ajma`ihâ wa azkat-tahiyyâti wa ausa`iha  `alâ hâdzal-`abdil-ladzî waffâ bihaqqil-`ubûdiyyah  wa baraza fîhâ fî khil`atil-kamal  wa qâma bihaqqir-rubûbiyyati fî mawâthinil-khidmatil-lâhi wa aqbala `alaihi ghâyatal-iqbâl  shalâtan yattashilu bihâ rûhul-mushallî `alaihi bih  fayanbasithu fî qalbihi nûru sirri ta`alluqihi bihi wa hubbih  wa yuktabu bihâ bi`inâyatil-lâhi fî hizbih  wa `alâ âlihi wa shahbihil-ladzînartaqau shahwatal-majdi biqurbih  wa tafayya’û zhilâlasy-syarafil-ashliyyi biwuddihi wa hubbih  mâ `aththral-akwâna binasyri dzikrâhum nasîm. 

Allâhumma shalli wa sallim asyrafash-shalâti wat taslîm
`alâ sayyidinâ wa nabiyyinâ Muhammadinir-ra’ufir-rahîm

(Ammâ ba`d) Falammâ ta`allaqat irâdatul-lâhi fil-`ilmil-qadîm  bizhuhûri asrârit-takhshîshi lilbasyaril-karîm  bit-taqdîmi wat-takrîm  nafadzatil-qudratul-bâhirah  bin-ni`matil-wâsi`ati wal-minnatil-ghâmirah  fanfalaqat baidhatut-tashwîr  fil-`âlamil-muthlaqil-kabîr  `an jamâlin masyhûdin bil-`ain  hâwin liwashfil-kamâlil-muthlaqi wal-husnit-tâmmi waz-zain  fatanaqqala dzalikal-jamâlul-maimûn  fil-ashlâbil-karîmati wal-buthûn  famâ min shulbin dhammah  illâ wa tammat `alaihi minal-lâhin-ni`mah  fahuwal-qamarut-tâmmul-ladzî yatanaqqalu fî burûjih  liyatasyarrafa bihi mauthinus-tiqrârihi wa maudhi`u khurûjih  wa qad qadhatil-aqdârul-azaliyyatu bimâ qadhat wa azhharat min sirri hâdzan-nûri mâ azhharat  wa khashshashat bihi man khashshashat  fakâna mustaqarruhu fil-ashlâbil-fâkhirah  wal-arhâmisy-syarîfatith-thâhirah  hattâ baraza fî `âlamisy-syahâdati basyaran lâ kalbasyar  wa nûran hayyaral-afkâra zhuhûruhu wa bahar  fata`allaqat himmatur-râqimi lihâdzihil-hurûf  bi’an yarquma fî hâdzal-qirthâsi mâ huwa ladaihi min `ajâ’ibi dzâlikan-nûri ma`rûf  wa in kânatil-alsunu lâ tafî bi`usyri mi`syâri aushâfi dzalikal-maushûf  tasywîqan lissâ mi`în  min khawashshil-mu’minîn  wa tarwîhan lilmuta`alliqîna bihâdzan-nûril-mubîn  wa illa fa-anna tu`ribul-aqlam  `an syuûni khairil-anâm  wa lâkin hazzanî ilâ tadwîni mâ hafizhtuhu min siyari asyrafil-makhlûqîn  wa mâ akramahul-lâhu bihi fî maulidihi minal-fadhlil-ladzî `ammal-`âlamîn  wa baqiyat râyatuhu fil-kauni mansyûratan `alâ marril-ayyâmi wasy-syuhûri was-sinîn  da`î ta`alluqi bihâdzihil-hadhratil-karîmah  wa lâ`ijut-tasyawwuqi ilâ samâ`i aushâfihal-`azhîmah  wa la`allal-lâha yanfa`u bihil-mutakallima was-sâmi`  fayadkhulâni fî syafâ`ati hâdzan-nabiyyisy-syâfi`  wa yatarawwahâni birauhi dzâlikan-na`îm

Allâhumma shalli wa sallim asyrafash-shalâti wat taslîm
`alâ sayyidinâ wa nabiyyinâ Muhammadinir-ra’ufir-rahîm

Wa qad âna lilqalami an yakhuththa mâ harrakathu fîhil-anâmil  mimmas-tafâdahul-fahmu min shifâti hâdzal-`abdil-mahbûbil-kâmil  wa syamâ’ilihil-latî hiya ahsanusy-syamâ’il  wa hunâ hasuna an nutsbita mâ balagha ilainâ fî sya’ni hâdzal-habîbi min akhbârin wa âtsar  liyatasyarrafa bikitâbatihil-qalamu wal-qirthâsu wa tatanazzaha fî hadâ’iqihil-asmâ`u wal-abshâr  wa qad balaghanâ fil-ahâdîtsil-masyhûrah  anna awwala syai’in khalaqahul-lâhu huwan-nûrul-mûda`u fî hâdzihish-shûrah  fanûru hâdzâl-habîbi awwalu makhlûqin baraza fil-`âlam  wa minhu tafarra`al-wujûdu khalqan ba`da khalqin fîmâ hadatsa wa mâ taqâdam  wa qad akhraja `abdur-razzâqi bisanadihi `an jâbiribni `abdillâhil-anshâriyyi radhiyallâhu `anhumâ qalâ “qultu yâ Rasûlallâhi bi’abî wa ummî akhbirnî `an awwali syai’in khalaqahul-lâhu qablal-asyyâ’”  qâla yâ jâbiru innal-lâha khalaqa qablal-asyyâ’i nûra nabiyyika Muhammadin shallallâhu `alaihi wa sallama min nûrih  wa qad warada min hadîtsi abî hurairata radhiyallâhu `anhu annahu qâla  qâla rasûlul-lâhi shallallâhu `alaihi wa sallama kuntu awwalan-nabiyyîna fil-khalqi wa âkhirahum fil-ba`ts  wa qad ta`addadatir-riwâyâtu bi’annahu awwalul-khalqi wujûdan wa asyrafuhum maulûda  wa lamma kânatis-sa`âdatul-abadiyyah  lahâ mulâhazhatun khafiyyah ikhtashshat man syâ’at minal-bariyyah  bikamalil-khushûshiyyah  fastauda`at hâdzan-nûral-mubîn  ashlâba wa buthûna man syarrafathu minal-`âlamîn  fatanaqqala hâdzan-nûru min shulbi âdama wa nûhin wa ibrâhîm  hattâ aushalathu yadul-`ilmil-qadîm  ilâ man khashshashathu bit-takrîmi abîhil-karîm `abdillâhib-ni `abdil-muththalibi dzil-qadril-`azhîm  wa ummihil-latî hiyâ fil-makhâwifi âminah  as-sayyidatil-karîmati âmînah  fatalaqqâhu shulbu `abdillâhi fa’alqâhu ilâ bathniha  fadhammathu ahsyâ’uhâ bima`ûnatil-lâhi muhâfazhatan `alâ haqqi hâdzihid-durrati wa shauniha  fahamalathu biri`âyatil-lâhi kamâ warada `anhâ hamlan khafîfan lâ tajidu lahu tsiqalan  wa lâ tasykû minhu alaman wa lâ `ilala  hattâ marrasy-syahru ba`dasy-syahri min hamlih  wa qaruba waqtu burûzihi ilâ `âlamisy-syahâdati litanbasitha `alâ ahli hâdzal-`âlami fuyûdhâtu fadhlih  wa tantasyira fîhi âtsâru majdihish-shamîm 

Allâhumma shalli wa sallim asyrafash-shalâti wat taslîm
`alâ sayyidinâ wa nabiyyinâ Muhammadinir-ra’ufir-rahîm

Wa mundzu `aliqat bihi hâdzihid-durratul-maknûnah  wal-jauharatul-mashûnah  wal-kaunu kulluhu yushbihu wa yumsî fî surûrin wabtihâj  biqurbi zhuhûri isyrâqi hâdzas-sirâj  wal-`uyûnu mutasyawwifatun ilâ burûzih  mutasyawwiqatun ilal-tiqâthi jawâhiri kunûzih  wa kullu dâbbatin li quraisyin nathaqat bifashîhil’`ibârah  mu`linatan bikamâlil-bisyârah  wa mâ min hâmilin hamalat fî dzâlikal-`âm  illâ atat fî hamlihâ bighulâm  min barakâti wa sa`âdati hâdzal-imâm  wa lam tazalil-ardhu was-samâwât  mutadhammikhatan bi`ithril-farahi bimulâqâti asyrafil-bariyyât  wa burûzihi min `âlamil-khafâ’i ilâ `âlamizh-zhuhûr  ba`da tanaqqulihi fil-buthûni wazh-zhuhûr  fa’azharal-lâhu fil-wujûdi bahjatat-takrîm  wa basatha fil-`âlamil-kabîri mâ’idatat-tasyrîfi wat-ta`zhîm  biburûzi hâdzâl-basyaril-karîm. 

Allâhumma shalli wa sallim asyrafash-shalâti wat taslîm
`alâ sayyidinâ wa nabiyyinâ Muhammadinir-ra’ufir-rahîm

Fahîna qaruba awânu wadh`i hâdzal-habîb  a`lanatis-samâwâtu wal-aradhûna wa man fîhinna bit-tarhîb  wa amthârul-jûdil-ilâhiyyi `alâ ahlil-wujûdi tatsij  wa alsinatul-malâ’ikati bit-tabsyîri lil`âlamîna ta`ij  wal-qudratu kasyafat qinâ`a hâdzal-mastûr  liyabruza nûruhu kâmilan fî `âlamizh-zhuhûr  nûran fâqa kulla nûr  wa anfadzal-haqqu hukmah  `alâ man atammal-lâhu `alaihin-ni’mah  min khawâshshil-ummah  an yahdhura `inda wadh`ihi ummah  ta’nîsan lijanâbihal-mas`ûd  wa musyârakatan lahâ fî hâdzas-simâthil-mamdûd  fahadharat bitaufîqil-lâhis-sayyidatu maryamu was-sayyidatu âsiyah  wa ma`ahumâ minal-hûril-`îni man qasamallahu lahu minasy-syarafi bil-qismatil-wâfiyah  fa’atal-waqtul-ladzî rattabal-lâhu `alâ hudhûrihi wujûda hâdzal-maulûd  fan-falaqa shubhul-kamâli minan-nûri `an `amûd  wa barazal-hâmidul-mahmûd  mudz`inan lillâhi bit-ta`zhîmi was-sujûd. 

Mahallul Qiyam (Saat Berdiri)

Asyraqal-kaunubtihâjan  biwujûdil-mushthfahmad
Wa li’ahlil-kauni unsun  wa surûrun qad tajaddad
Fathrabû yâhlal-matsânî  fahazârul-yumni gharrad
Wastadhî’û bijamâlin  fâqa fil-husni tafarrad
Wa lanal-busyrâ bisa`din  mustamirrin laisa yanfad
Haitsu ûtînâ `athâ’an  jama`al-fakhral-mu’abbad
Falirabbî kullu hamdin  jalla an yahshurahul-`ad
Idz habânâ biwujûdil-mushthafal-hâdî Muhammad
Yâ Rasûlallâhi ahlan  bika innâ bika nas`ad
Wa bijâhih yâ ilâhî  jud wa balligh kulla maqsad
Wahdinâ nahja sabîlih  kay bihi nas`ad wa nursyad
Rabbi ballighnâ bijâhih  fî jiwârihi khair maq`ad
Wa shalâtullâhi taghsyâ  asyrafar-rusli Muhammad
Wa salâmun mustamirrun  kulla hînin yatajaddad

Wa hîna baraza shallallâhu `alaihi wa sallama min bathni ummihi baraza râfi`an tharfahu ilas-samâ’  mu’miyan bidzâlikar-raf`i ilâ anna lahu syarafan `alâ majduhu wa samâ  wa kâna waqtu maulidi sayyidil-kaunain  minasy-syuhûri syahra rabî`il-awwali wa minal-ayyâmi yaumal-itsnain  wa maudhi`u wilâdatihi wa qabrihi bil-haramain  wa qad warada annahu shallallâhu `alaihi wa sallama wulida makhtûnan makhûlan maqthû`as-surrah  tawallat dzâlika lisyarafihi `indallâhi aidil-qudrah  wa ma`as burûzihi ilâ hadzal-`âlami zhahara minal-`ajâ’ib  mâ yadullu `alâ annahu asyraful-makhlûqîna wa afdhalul-habâ’ib  faqad warada `an `abdir-rahmânib-ni `aufin `an ummihisy-syaffâ’i radhiyallâhu `anhumâ  qâlat lammâ waladat âminatu radhiyallâhu `anha rasûlallâhi sallallâhu `alaihi wa sallama waqa`a `alâ yadayya fastahalla fasami`tu qa’ilan yaqûlu rahimakal-lâhu au rahimaka rabbuka  qalatisy-syaffâ’u fa’adhâ’a lahu mâ bainal-masyriqi wal-magharib  hattâ nazhartu ilâ ba`dhi qushûrir-rûm  qâlat tsumma albastuhu wa adhja`tuhu falam ansyab an ghasyiyatnî zhulmatun wa ru`bun wa qusya`rîratun `an yamînî  fasami`tu qâ’ilan yaqûlu aina dzahabta bihi qâla ilal-maghrib  wa asfara dzâlika `annî  tsumma `âwadadir-ru`bu wazh-zhulmatu wal-qusya`rîratu `an yasârî  fasami`tu qâ’ilan yaqûlu aina dzhahabta bihi qâla ilal-masyriq  qâlat falam yazalil-hadîtsu minnî `alâ bâlin hattâb-ta`atsullâh  Fakuntu min awalin-nâsi islâmâ  wa kam tarjamatis-sunnatu min `azhîmil-mu`jizât  wa bâhiril-âyâtil-bayyinât  bimâ yaqdhî bi`azhîmi syarafihi `inda maulâh  wa anna `aina `inâyatihi fî kulli hînin tar`âh  wa annahul-hâdî ilash-shirâthil-mustaqîm 

Allâhumma shalli wa sallim asyrafash-shalâti wat taslîm
`alâ sayyidinâ wa nabiyyinâ Muhammadinir-ra’ufir-rahîm

Tsumma innahu shallallâhu `alaihi wa sallama ba`da an hakamatil-qudratu bizhuhûrih  wantasyarat fil-akwâni lawâmi`u nûrih  tasâbaqât ilâ radhâ`ihil-murdhi`ât  wa tawaffarat raghabâtu ahlil-wujûdi fî hadhânati hâdzihidz-dzât  fanafadzal-hukmu minal-hadhratil-`azhîmah  biwâsithatis-sawâbiqil-qadîmah  bi’annal-aulâ bitarbiyati hâdzal-habîbi wa hadhânatihis-sayyidatu halîmah  wa hîna lâhazhathu `uyûnuha  wa baraza fî sya’niha min asrâril-qudratir-rabbâniyyati maknûnuha  nâzala qalbahâ minal-farahi was-surûr  mâ dalla `alâ anna hazhzhaha minal-karâmati `indal-lâhi hazhzhun maufûr  fahanat `alaihi hunuwwal-ummahâti `alal-banîn  wa raghibat fî radhâ`ihi thama`an fî naili barakâtihil-latî syamilatil-`âlamîn  fathalabat min ummihil-karîmah  an tatawallâ radhâ`ahu wa hadhânatahu wa tarbiyatahu bil-`ainir-rahîmah  fa’ajâbathâ bit-talbiyati lidâ`îha  limâ ra’at min shidqihâ fî husnit-tarbiyati wa wufûri dawâ`îha  fatarahhalat bihi ilâ manâzilihâ masrûrah  wa hiya biri`âyatil-lâhi mahfûfatun wa bi`aini `inâyatihi manzhûrah  fasyâhadat fî tharîqihâ min gharîbil-mu`jizât  mâ dallahâ `alâ annahu asyraful-makhlûqât  faqad atat wa syârifuhâ wa atânuhâ dha`îfatân  wa raja`at wa humâ lidawâbbil-qâfilati yasbiqân  wa qad darratisy-syârifu wasy-syiyâhu minal-albân  bimâ hayyaral-`uqûla wal-adzhan  wa baqiya `indahâ fî hadhânatihâ wa zaujihâ sanatain  tatalaqqâ min barakâtihi wa `ajâ’ibi mu`jizâtihi mâ taqarru bihil-`aîn  wa tantasyiru asrâruhu fil-kaunaîn  hattâ wâjahathu malâ’ikatut-takhshîshi wal-ikrâm  bisy-syarafil-ladzî `ammat barakatuhul-ânâm  wa huwa yar`âl-aghnâm  fadh-ja`ûhu `alal-ardhi idhjâ`a tasyrîf  wa syaqqû bathnahu syaqqan lathîf  tsumma akhrajû min qalbihi mâ akhrajûhu wa auda`û fîhi min asrâril-`ilmi wal-hikmati mâ auda`ûhu  wa mâ akhrajal-amlâku min qalbihi adzan.
Wa lâkinnahum zâdûhu thuhran `alâ thuhrin wa huwa ma`a dzâlika fî quwwatin wa tsabât  yatashaffahu min suthûril-qudratil-ilâhiyyati bâhiral-ayât  fabalagha ilâ murdhi`atihish-shâlihatil-`afîfah  mâ hashala `alâ dzâtihisy-syarîfah  fatakhawwafat `alaihi min hâditsin takhsyâh  wa lam tadri annahu mulâhazhun bil-mulâhazhatit-tammati min maulâh  faraddathu ilâ ummihi wa hiya ghairu sakhiyyatin bifirâqih  wa lâkin limâ qâma ma`ahâ min huznil-qalbi `alaihi wa isyfâqih  wa huwa bihamdil-lâhi fî hishnin mâ ni`in wa maqâmin karîm 

Allâhumma shalli wa sallim asyrafash-shalâti wat taslîm
`alâ sayyidinâ wa nabiyyinâ Muhammadinir-ra’ufir-rahîm

Fanasya’a shallal-lâhu `alaihi wa sallama `alâ akmalil-aushâf  yahuffuhu minal-lâhi jamîlur-ri`âyati wa ghâmirul-althâf  fakâna yasyibbu fil-yaumi syabâbash-shabiyyi fisy-syahr  wa yazhharu `alaihi fî shibâhu min syarafil-kamâli mâ yasyhadu lahu bi annahu sayyidu waladi âdama wa lâ fakhr  wa lam yazal wa anjumu su`ûdihi thâli`ah  wal-kâ’inâtu li`ahdihi hâfizhatun wa li’amrihi thâ’i`ah  famâ nafatsa `alâ marîdhin illâ syafâhul-lâh  wa lâ tawajjaha fî ghaitsin illâ wa anzalahu maulâh  hattâ balagha minal-`umri asyuddah  wa madhat lahu min sinnisy-syabâbi wal-kuhûlati muddah  fâja’athul-hadhratul-ilâhiyyatu bimâ syarrafathu bihi wahdah  fanazala `alaihir-rûhul-amîn  bil-busyrâ min rabbil-`âlamîn  fatalâ `alaihi lisânudz-dzikril-hakîm syâhida (wa innaka latulaqqal-qur’âna min ladun hakîm `alîm) fakâna awwala mâ nazala `alaihi min tilkal-hadhrati min jawâmi`il-hikam  qauluhu ta`âlâ: (iqra’ bismir-rabbikal-ladzî khalaq  khalaqal-insâna min `alaq  iqra’ wa rabbukal-akram  alladzî `allama bil-qalam  `allâmal-insâna mâ lam ya`lam)  famâ a`zhamahâ min bisyâratin aushalathâ yadul-ihsân  min hadhratil-imtinân  ilâ hâdzal-insân  wa ayyadathâ bisyâratu (arrahmânu `allamal-qur’ân  khalaqal-insâna `allamahul-bayân)  wa lâ syakka annahu shalal-lâhu `alaihi wa sallama huwal-insânul-maqshûdu bihâdzat-ta`lîm  min hadhratir-rahmânir-rahîm 

Allâhumma shalli wa sallim asyrafash-shalâti wat taslîm
`alâ sayyidinâ wa nabiyyinâ Muhammadinir-ra’ufir-rahîm

Tsumma innahu ba`da mâ nazala `alaihil-wahyul-balîgh  tahammal-a`bâ’ad-da`wati wat-tabligh  fada`al-khalqa ilal-lâhi `alâ bashîrah  fa’ajâbahu bil-idz`âni man kânat lahu bashîratun munîrah  wa hiya ijâbatun sabaqat bihal-aqdhiyyatu wal-aqdâr  tasyarrafa bis-sabqi ilaihal-muhâjirûna wal-anshâr  wa qad akmalal-lâhu bihimmati hâdzal-habîbi wa ashhâbihi hâdzad-dîn  wa akbata bisyiddati ba’sihim qulûbal-kâfirîna wal-mulhidîn  fazhahara `alâ yadaihi min `azhîmil-mu`jizât  mâ yadullu `alâ annahu asyrafu ahlil-ardhi was-samâwat  faminhâ taktsîrul-qalîl  wa bur’ul-`alîl  wa taslîmul-hajar  wa thâ`atusy-syajar  wan-syiqâqul-qamar  wal-ikhbâru bil-mughayyabât  wa hanînul-jidz`il-ladzî huwa min khawâriqil-`âdât  wa syahâdatu dhabbi lahu wal-ghazâlah  bin-nubuwwati war-risâlah  ilâ ghairi dzâlika min bâhiril-âyât  wa gharâ’ibil-mu`jizât  allatî ayyadahul-lâhu bihâ fî risâlatih  wa khashshashahu bihâ min baini bariyyatih  wa qad taqaddamat lahu qablan-nubuwwati irhâshât  hiya `alâ nubuwwatihi wa risâlatihi min aqwal-`alâmat  wa ma`a zhuhûrihâ wan-tisyârihâ sa`ida bihash-shâdiqûna minal-mu’minîn  wa syaqiya bihâl-mukadzdzibûna minal-kâfirîna wal-munâfiqîn  wa talaqqâhâ bit-tashdîqi wat-taslîm  kullu dzî qalbin salîm 

Allâhumma shalli wa sallim asyrafash-shalâti wat taslîm
`alâ sayyidinâ wa nabiyyinâ Muhammadinir-ra’ufir-rahîm

Wa minasy-syarafil-ladzî ikhtashshal-lâhu bihi asyrafa rasûl  mi`râjuhu ilâ hadhratil-lâhil-barril-washûl  wa zhuhûru ayâtil-lâhil-bâhirati fî dzâlikal-mi`râj  wa tasyarrufus-samâwâti wa man fauqahunna bi’isyrâqi nûri dzâlikas-sirâj  faqad `arajal-habîbu shallal-lâhu `alaihi wa sallama wa ma`ahul-amînu jibrîl  ilâ hadhratil-malikil-jalîl  ma`at-tasyrîfi wat-tabjîl  famâ min samâ’in walajahâ illa wa bâdarahu ahluhâ bit-tarhîbi wat-takrîmi wat-ta’hîl  wa kullu rasûlin marra `alaih  basysyarahu bimâ `arafahu min haqqihi `indal-lâhi wa syarîfi manzilatihi ladaih  hattâ jâwazas-sab`ath-thibâq  wa washala ilâ hadhratil-ithlâq  nâzalathu minal-hadhratil-ilâhiyyah  ghawâmirun-nafahâtil-qurbiyyah  wa wâjahathu bit-tahiyyât  wa akramathu bijazîlil-`athiyyât  wa aulathu jamîlal-hibât  wa nâdathu bisyarîfit-taslîmât  ba`da an atsnâ `alâ tilkal-hadhrati bit-tahiyyatil-mubârakâtish-shalawâtith-thayyibât  faya lahâ min nafahâtin ghâmirât  wa tajalliyâtin `âliyâtin fî hadharâtin bâhirât  tasyhadu fîhâdz-dzâtu lidz-dzât  wa tatalaqqâ `awâthifar-rahmât  wa sawâbighal-fuyûdhâti bi’aidil-khudhû`i wal-ikhbât 
Rutabun tasquthul-amâniyyu hasrâ 
Dûnahâ mâ warâa hunna warâu 
`Aqalal-habîbu shallal-lâhu `alaihi wa sallama fî tilkal-hadhrati min sirrihâ mâ `aqal  wat-tashala min `ilmihâ bimat-tashal  fa auhâ ilâ `abdihî mâ auhâ  mâ kadzabal-fu’âdu mâ ra’â  famâ hiya illa minhatun khashshashat bihâ hadhratul-imtinân  hâdzal-insân  wa aulathu min `awâthifihar-rahîmati mâ ya`jizu `an hamlihits-tsaqalân  wa tilka mawâhibu lâ yajsurul-qalamu `alâ syarhi haqâ’iqiha  wa lâ tastathî`ul-alsunu an tu`riba `an khafiyyi daqâ’iqiha  khashshashat bihal-hadhratul-wâsi`ah  hâdzihil-`ainan-nâzhirata wal-udzunas-sâmi`ah  falâ yathma`u thâmi`un fil-iththilâ`i `alâ mastûriha  wal-ihâthati bisyuhûdi nûriha  fa innahâ hadhratun jallat `an nazharin-nâzhirîn  wa rutbatun `azzat `alâ ghairi sayyidil-mursalîn  fahanî-an lilhadhratil-muhammadiyyah  mâ wâjahahâ min `athâyal-hadhratil-ahadiyyah  wa bulûghuhâ ilâ hâdzal-maqâmil-`azhîm 

Allâhumma shalli wa sallim asyrafash-shalâti wat taslîm
`alâ sayyidinâ wa nabiyyinâ Muhammadinir-ra’ufir-rahîm

Wa haitsu tasyarrafatil-asmâ`u bi’akhbari hâdzâl-habîbil-mahbûb  wa mâ hashala lahu minal-karâmati fî `awâlimisy-syahâdati wal-ghuyûb  taharrakat himmatul-mutakallimi ilâ nasyri mahâsini khalqi hâdzas-sayyidi wa akhlâqih  liya`rifas-sâmi`u mâ akramahul-lâhu bihi minal-washfil-hasani wal-khalqil-jamîlil-ladzî khashshashathu bihi `inâyatu khallâqih  falyuqâbilis-sâmi`u mâ umlîhi `alaihi min syarîfil-akhlâqi bi’udzunin wâ`iyah  fa innahu saufa yajma`uhu min aushâfil-habîbi `alar-rutbatil-`âliyah  falaisa yusyâbihu hâdzas-sayyida fî khalqihi wa akhlâqihi basyar  wa lâ yaqifu ahadun min asrâri hikmatil-lâhi fî khalqihi wa khuluqihi `alâ `ainin wa lâ atsar  fa innal-`inâyatal-azaliyyah  thaba`athu `alâ akhlâqin saniyyah  wa aqâmathu fî shûratin hasanatin badriyyah  falaqad kâna shallal-lâhu `alaihi wa sallama marbû`al-qâmah  abyadhal-launi musyarrâban bihumrah  wâsi`al-jabîni hasanahu sya`rahu bainal-jummati wal-wafrah  wa lahul-i`tidâlul-kâmilu fî mafâshilihi wa athrâfih  wal-istiqâmatul-kâmilatu fî mahâsinihi wa aushâfih  lam ya’ti basyrun `alâ mitsli khalqih  fî mahâsini nazharihi wa sam`ihi wa nuthqih  qad khalaqahul-lâhu `alâ ajmali shûrah  fîhâ jamî`ul-mahâsini mahshûrah  wa `alaihâ maqshûrah  idzâ takallama natsara minal-ma`ârifi wal-`ulûmi nafâ’isad-durar wa laqad ûtiya min jawâmi`il-kalimi mâ `ajaza `anil-ityâni bimitslihi mashâqi`ul-bulaghâ’i minal basyar  tatanazzahul-`uyûnu fî hadâ’iqi mahâsini jamâlih  falâ tajidu makhlûqan fil-wujûdi `alâ mitsâlih 

Sayyidun dhihkuhut-tabassumu wal-masy
yul-huwainâ wa naumuhul-ighfâ’u
mâ siwâ khulqihin-nasîmu wa lâ ghai
ru muhayyahur-raudhatul-ghanna’u
rahmatun kulluhu wa hazmun wa `azmun
wa waqârun wa `ishmatun wa hayâ’u
mu`jizul-qauli wal-fi`âli karîmu
alkhalqi wal-khulqi muqsithun mi`thâ’u
Wa idzâ masyâ faka’annamâ yanhaththu min shabab  fayafûtu sarî`al-masyyi min ghairi khabab  fa huwal-kanzul-muthalsamul-ladzî lâ ya’tî `alâ fathi bâbi aushâfihi miftâh  wal-badrut-timmul-ladzî ya’khudzul-albâba idza takhayyalathu au sanâhu lahâ lâh 
habîbun yaghârul-badru min husni wajhihi 
tahayyaratil-albâbu fî washfi ma`nâhu 
famâdzâ yu`ribul-qaulu `an washfin yu`jizul-wâshifîn  au yudrikul-fahmu ma`nâ dzâtin jallat an yakûna lahâ fî washfihâ musyârikun au qarîn 

Kamulat mahâsinuhu falau ahdas-sanâ
lilbadri `inda tamâmihi lam yukhsafi
wa `alâ tafannuni wâshifîhi biwashfihi
yafnazzamânu wa fîhi mâlam yûshafi
famâ ajalla qadrahul-`azhîm  wa ausa`a fadhlahul-`amîm 


Allâhumma shalli wa sallim asyrafash-shalâti wat taslîm
`alâ sayyidinâ wa nabiyyinâ Muhamadinir-ra’ufir-rahîm

Wa laqadit-tashafa shallal-lâhu `alaihi wa sallama min mahâsinil-akhlâq  bimâ tadhîqu `an kitâbatihi buthûnul-aurâq  kâna shalla-lâhu `alaihi wa sallama ahsanan-nâsi khuluqan wa khalqâ  wa awwalahum ilâ makârimil-akhlâqi sabqâ  wa ausa`ahum bil-mu’minîna hilman wa rifqâ  barran ra’ufâ  lâ yaqûlu wa lâ yaf`alu illâ ma`rûfâ  lahul-khuluqus-sahl  wal-lafzhul-muhtawî `alal-ma`nal-jazl  idzâ da`âhul-miskînu ajâbahu ijâbatan mu`ajjalah  wa huwal-abusy-syafîqur-rahîmu bil-yatîmi wal-armalah  wa lahu ma`a suhûlâti akhlâqihil-haibatul-qawiyyah  allatî tarta`idu minhâ farâ’ishul-aqwiyâ’i minal-bariyyah  wa min nasyri thîbihi ta`aththaratith-thuruqu wal-manâzil  wa bi`arfi dzikrihi tathayyabatil-majâlisu wal-mahâfil  fahuwa shalla-lâhu `alaihi wa sallama jâmi`ush-shifâtil-kamâliyyah  wal-munfaridu fî khalqihi wa khuluqihi bi asyrafi khushûshiyyah  famâ min khuluqin fil-bariyyati mahmûd  illâ wa huwa mutalaqqan `an zainil-wujûd 

Ajmaltu fi washfil-habîbi wa sya’nihi
wa lahul-`ulâ fî majdihi wa makânihi
aushâfu `izzin qad ta`âlâ majduha
akhadzat `alâ najmis-suhâ bi`inânihi
Wa qadinbasathal-qalamu fî tadwîni mâ afâdahul-ilmu min waqâ’i`i maulidin-nabiyyil-karîm  wa hikâyati mâ akramal-lâhu bihi hâdzal-`abdal-muqarraba minat-takrîmi wat-ta`zhîmi wal-khuluqil`azhîm  fahasuna minnî an umsika a`innatal-aqlâm  fî hâdzal-maqam  wa aqra’as-salâm  alâ sayyidil-anâm 
Assalâmu `alaika ayyuhan-nabiyyu wa rahmatul-lâhi wa barakâtuhu (tiga kali)
wa bidzâlika yahsunul-khatmu kamâ yahsunut-taqdîm  fa`alaihi afdhalush-shalâti wat-taslîm 

Allâhumma shalli wa sallim asyrafash-shalâti wat taslîm
`alâ sayyidinâ wa nabiyyinâ Muhamadinir-ra’ufir-rahîm

Walamma nazhamal-fikru min darâriyyil-aushâfil-Muhammadiyyati `uqûdâ  tawajjahtu ilal-lâhi mutawassilan bisayyidî wa habibîbî Muhammadin shalla-lâhu `alaihi wa sallama an yaj`ala sa`yî fîhi masykûran wa fi`lî fîhi mahmûdâ  wa an yaktuba `amalî fil-a`mâlil-makqbûlah  wa tawajjuhî fit-tawajjuhâtil-khâlishati wash-shilâtil-maushûlah  allâhumma yâ man ilaihi tatawajjahul-âmâlu fata`ûdu zhâfirah  wa `alâ bâbi `izzatihi tuhaththur-rihâlu fataghsyâhâ minhul-fuyûdhâtul-ghâmirah  natawajjahu ilaik  bi’asyrafil-wasâ’ili ladaik  sayyidil-mursalîn  `abdikash-shâdiqil-amîn  sayyidinâ Muhammadinil-ladzî `ammat risâlatuhul-`âlamîn  An tushalliya wa tusallima `alâ tilkadz-dzâtil-kâmilah  mustauda`i amânatik  wa hafîzhi sirrik  wa hâmili râyati da`watikasy-syâmilah  al-abil-akbar  al-mahbûbi laka wal-mukhashshashi bisysyarafil-afkhar  fî kulli mauthinin min mawâthinil-qurbi wa mazhhar  qâsimi imdâdika fî `ibâdik  wa sâqî ku’ûsi irsyâdika liahli widâdik  sayyidil-kaunain  wa asyrafits-tsaqalain  al-`abdil-mahbûbil-khâlish  al-makhshûshi minka bi ajallil-khashâ’ish  Allâhumma shalli wa sallim `alaihi wa `alâ âlihi wa ashhâbih  wa ahli hadhratiqtirâbihi min ahbâbih  Allâhumma innâ nuqaddimu ilaika jâha hâdzan-nâbiyyil-karîm  wa natawassalu ilaika bisyarafi maqâmihil-`azhîm  an tulâhizhanâ fî harakâtinâ wa sakanâtina bi `aini `inayatik  wa an tahfazhanâ fî jamî`i athwârinâ wa taqallubâtinâ bijamîli ri`âyatik  wa hashîni wiqâyatik  wa an tuballighanâ min syarafil-qurbi ilaika wa ilâ hâdzal-habîbi ghâyata âmâlinâ  wa tataqabbala minna mâ taharraknâ fîhi min niyyatinâ wa a`mâlinâ  wa taj`alanâ fî hadhrati hâdzal-habîbi minal-hâdhirîn  wa fî tharâ’iqit-tibâ`ihi minas-sâlikîn  wa lihaqqika wa haqqihi minal-mu’addîn  wa li`ahdika minal-hâfizhîn  (Allâhumma) inna lanâ athmâ`an fî rahmatikal-khâshshati falâ tuhrimnâ  wa zhunûnan jamîlatan hiya wasîlatunâ ilaika falâ tukhayyibnâ  âmannâ bika wa birasûlika wa mâ jâ’a bihi minad-dîn  wa tawajjahnâ bihi ilaika mustasyfi`în  an tuqâbilal-mudzniba minnâ bil-ghufrân  wal-musî’a bil-ihsân  was-sâ’ila bimâ sa’al  wal-mu’ammila bimâ ammal  wa an taj`alana mimman nashara hâdzal-habîba wa wâzarah  wa wâlâhu wa zhâharah  wa `umma bibarakatihi wa syarîfi wijhatihi aulâdanâ wa wâlidînâ  wa ahla quthrinâ wa wâdîna  wa jamî`al-muslimîna wal-muslimât  wal-mu’minîna wal-mu’minât  fi jamî`il-jihât  wa adim rayatad-dînil-qawîmi fî jamî`il-aqthâri mansyûrah  wa ma`âlimal-islâmi wal-îmâni bi’ahlihâ ma`mûrah  ma`nan wa shûrah  waksyifillâhumma kurbatal-makrûbîn  waqdhi dainal-madînîn  wa taqabbal taubatat-ta’ibîn  wansyur rahmataka `alâ `ibâdikal-mu’minîna ajama`în  wakfi syarral-mu`tadîna wazh-zhâlimîn  wab-suthil-`adla bi wulâtil-haqqi fi jamî`in-nawâhî wal-aqthâr  wa ayyidhum bita’yîdin min `indika wa nashrin `alal-mu`ânidîna minal-munâfiqîna wal-kuffâr  waj-`alnâ yâ rabbi fil-hishnil-hashîni min jamî`il-balâya  wa fil-hirzil-makîni minadz-dzunûbi wal-khathâya  wa adimnâ fil-`amali bithâ`atika wash-shidqi fî khidmatika qâ’imîn  wa idzâ tawaffaitanâ fatawaffanâ muslimîna mu’minîn  wakhtim lanâ minka bikhairin ajma`în  wa shalli wa sallim `alâ hadzal-habîbil-mahbûb  lil-ajsâmi wal-arwâhi wal-qulûb  wa `alâ âlihi wa shahbihi wa man ilaihi mansûb  wa âkhiru da`wânâ anil-hamdu lillâhi rabbil-`âlamîn 

7.3.06

Amal yang diterima Allah SWT (Mutiara Rasul 6)

Setiap amal seseorang akan melewati tujuh langit sebelum diterima oleh Allah SWT.
Pada setiap langit, malaikat penjaga pintu langit akan memeriksa setiap amal hamba-Nya

Muadz bin Jabbal suatu ketika bertemu dengan Rasulullah SAW. Kemudian Rasulullah bersabda, “Wahai Muadz! Sekarang aku akan mengisahkan kepadamu, bila engkau menghafal dan menjaganya akan sangat berguna bagimu. Tapi jika engkau menganggap remeh, maka kelak di hadapan Allah SWT, engkau tidak mempunyai hujjah (alasan) apa pun juga.”
Muadz bin Jabbal mendengarkan dengan cermat setiap perkataan Nabi Muhammad SAW. Kemudian Nabi Muhammad SAW melanjutkan sabdanya, ”Wahai Muadz! Sebelum Allah SWT menciptakan langit dan bumi, Allah SWT telah menciptakan tujuh malaikat yang bertugas sebagai penjaga pintu langit. Setiap langit mempunyai seorang malaikat penjaga. Allah memerintahkan malaikat-Nya untuk mencatat amalan hamba-Nya dan kemudian sang malaikat penjaga membawa catatan amalan tersebut ke langit.”
Rasulullah menceritakan tentang sampainya amal seorang hamba ke langit pertama. Sesampainya di langit pertama, malaikat Hafazhah memuji amalan hamba. Akan tetapi malaikat penjaga pintu berkata pada malaikat Hafazhah, ‘Tamparkan amalan ini ke muka pemiliknya! Aku adalah malaikat penjaga orang-orang yang suka mengumpat atau riba. Aku diperintahkan Allah agar menolak amalan orang yang suka mengumpat atau riba untuk melewati pintu berikutnya.’
Di pintu kedua, terdapat malaikat khusus yang memeriksa, apakah amalan si hamba untuk mengharapkan dunia, dan bila amalan tersebut untuk kepentingan dunia, maka akan ditolak untuk dilaporkan ke atas.
Di pintu ketiga, malaikat memeriksa amal apa pun yang dilakukan oleh manusia. Bila orang yang beramal memiliki sifat sombong, maka malaikat penjaga akan berkata, ‘Berhenti! Dan lemparkan amalan itu ke wajah pemiliknya! Aku malaikat penjaga kibr (sombong), Allah SWT memerintahkanku agar amalan semacam ini tidak melewati pintuku dan tidak disampaikan kepada langit berikutnya. Itu karena salahnya sendiri. Ia sombong di dalam majelis.’
Di hari yang lain, malaikat Hafazhah membawa amalan seorang hamba yang sangat banyak, tapi semuanya tertolak karena amalan tersebut dibarengi sifat ujub atau kesombongan pelakunya. Di hari yang lain lagi, saat amalan seorang hamba naik ke langit. Malaikat penjaga langit kelima akan menolaknya dengan berkata, ’Aku malaikat penjaga sifat hasad (iri). Meskipun amalannya bagus, tetapi ia suka iri pada orang lain yang mendapatkan kenikmatan Allah. Berarti ia membenci yang meridhainya, yaitu Allah SWT. Aku diperintahkan agar amalan semacam itu tidak melewati pintuku.’
Pada kesempatan yang lain, malaikat Hafadzah naik ke langit membawa amalan hamba. Setelah lolos dari langit pertama hingga langit kelima. Tetapi sesampainya di langit keenam malaikat penjaga pintu berkata, ‘Aku malaikat penjaga Rahmat. Amalan yang kelihatan bagus itu tamparkan ke mukanya. Selama hidup ia tidak pernah mengasihani orang lain. Bahkan apabila ada orang yang terkena musibah, ia merasa senang. Aku diperintahkan Allah agar amalan ini tidak melewati pintuku untuk diteruskan ke langit berikutnya.’
Hari yang lain malaikat Hafazhah naik ke langit dengan membawa amalan seorang hamba. Akan tetapi sesampainya di langit ketujuh, malaikat penjaga pintu langit berkata, ‘Aku malaikat penjaga sum’ah (ingin dikenal). Sesungguhnya pemilik amal ini menginginkan ketenaran di dalam setiap perkumpulan. Menginginkan derajat yang tinggi di kala berkumpul dengan kawan. Ingin mendapat pengaruh dari para pemimpin. Aku diperintahkan Allah agar amalan tersebut tidak melewati pintu ini.’
Di kemudian hari, malaikat Hafazhah naik ke langit membawa berbagai amalan hamba dari langit pertama hingga langit ketujuh. Amalan tersebut telah lolos dari para malaikat penjaga. Amalan yang terdiri dari shalat, puasa, zakat, tilawatil Quran, haji, shadaqah dll, tampak berkilau bagai cahaya yang terang. Malaikat Hafazhah selanjutnya menembus hijab hingga sampai di hadapan Allah SWT. Seluruh malaikat menyaksikan amalan itu. Amalan ibadah itu soleh dan diikhlaskan karena Allah.
Lalu Allah berfirman, ‘Wahai Hafadzah! Malaikat penjaga amal hamba-Ku! Aku lah Allah yang mengetahui isi hatinya. Ia beramal bukan untuk-Ku. Tetapi ia beramal untuk selain-Ku. Bukan diniatkan untuk-Ku.’
Dan selanjutnya, Allah SWT melanjutkan firman-Nya, ‘Mereka telah menipu orang lain dan juga kalian. Aku tidak tertipu. Aku mengetahui yang ghaib. Aku melaknatnya!’
Tujuh malaikat di antara tiga ribu malaikat yang hadir kemudian berkata, ‘Ya Allah, dengan demikian tetaplah laknat-Mu dan laknat kami atas mereka.’
Kemudian semua yang ada di langit mengucapkan, ‘Tetaplah laknat Allah kepadanya dan laknatnya orang-orang yang melaknat!’
Mendengar semua kisah yang diceritakan oleh Rasulullah SAW itu, dengan sambil menangis Muadz bertanya, ”Ya Rasulullah! Bagaimana aku bisa selamat dari semua yang engkau ceritakan?”
Rasulullah SAW menjawab, ”Wahai Muadz! Ikutilah nabimu dalam hal keyakinan.”
Muadz bertanya lagi, ”Engkau adalah Rasulullah SAW dan aku adalah Muadz bin Jabbal. Bagaimana aku bisa selamat dan terlepas dari bahaya tersebut?”
Rasulullah SAW menerangkan, ”Memang begitulah bila ada kekurangan dalam amal ibadahmu, maka jagalah lisanmu jangan sampai menjelekkan orang lain, terutama para auliya mu. Ingatlah diri sendiri tatkala hendak menjelekkan orang lain, sehingga sadar bahwa dirimu penuh dengan aib. Jangan menutupi kekurangan dan kesalahanmu dengan menjelekkan orang lain. Jangan menonjolkan diri dengan menekan dan menjatuhkan orang lain. Jangan ria dalam beramal. Jangan mementingkan dunia dengan mengabaikan akhirat. Jangan bersikap kasar di dalam majelis agar orang takut dengan keburukan akhlakmu. Jangan suka mengungkit-ungkit kebaikan dan jangan menghancurkan pribadi orang lain. Kelak engkau akan dirobek-robek dalam jahanam!”
Beliau kemudian membaca firman Allah, ”Demi malaikat-malaikat yang mencabut nyawa dengan keras. Kalian mau tahu seperti apa orang yang dicabut nyawanya, bagaikan orang yang menarik daging dari tulang.”
Mendengar semua keterangan ini, Muadz masih bertanya, ”Ya Rasulullah! Siapa yang kuat menanggung penderitaan semacam itu?”
Rasulullah menjawab, ”Muadz, yang aku ceritakan tadi akan mudah bagi mereka yang dimudahkan Allah. Engkau harus mencintai orang lain sebagaimana engkau mencintai dirimu sendiri dan bencilah terhadap yang engkau benci. Dengan demikian engkau akan selamat.”

AST, dari Ihya’ Ulumuddin

Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh Umar bin Khaththab RA, Rasulullah bersabda, “Setiap amal seseorang tergantung niatnya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Sebagian Ulama Muslimah Indonesia (Kisah Utama)

Sebagian Ulama Muslimah Indonesia

Rahmah El-Yunusiah
Ia anak bungsu dari lima bersaudara, lahir dari pasangan Muhammad Yunus bin Imanuddin dan Rafi’ah, pada Jumat pagi 20 Desember 1900/1 Rajab 1318 H, di Bukit Surungan, Padang Panjang. Sejak kecil ia hanya mendapat pendidikan formal sekolah dasar 3 tahun di kota kelahirannya.
Kemampuannya baca tulis Arab dan Latin diperoleh melalui sekolah Diniyah School (1915) dan bimbingan kedua abangnya, Zaenuddin Labay dan Muhammad Rasyid. Sore hari ia mengaji kepada Haji Abdul Karim Amrullah alias Haji Rasul, ayahanda Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka) di surau Jembatan Besi, Padang Panjang.
Tamat dari Diniyah School, ia mengaji pada Tuanku Mudo Abdul Hamid Hakim, Syekh Abdul Latif Rasyidi, Syekh Muhammad Jamil Jambek, dan Syekh Daud Rasyidi. Sambil mengajar di Diniyah School Putri, ia mengikuti kursus kebidanan di Rumah Sakit Kayu Taman dengan bimbingan Kudi Urai dan Sutan Syahrir, kemudian mendapat izin praktik (1931-1935).
Rahmah yang dikenal keras hati, teguh pendirian, dan kuat kemauan, semangat belajarnya pun sangat kuat. Ia gigih berjuang mewujudkan cita-citanya, yakni mendirikan sekolah khusus kaum perempuan, agar kaum wanita tidak pasrah pada keadaan dan bangkit memperoleh keseteraan dengan kaum laki-laki.
Kenyataan inilah yang mendorong semangatnya untuk mendidik kaum perempuan menurut dasar agama dengan mendirikan Diniyah School Putri. Pada 1 November 1923 sekolah itu dibuka dengan nama Madrasah Diniyah lil Banat dipimpin oleh Rangkayo Rahmah el-Yunusiyah. Saat itu muridnya berjumlah 71 terdiri dari para ibu muda, bertempat di Masjid Pasar Usang. Mula-mula mereka belajar ilmu agama dan tata bahasa Arab. Belakangan sekolah ini menerapkan sistem pendidikan modern, mengabungkan agama, umum dan pendidikan ketrampilan.
Perhatiannya terhadap kaum perempuan tidak hanya ia perjuangkan di Padang saja tapi juga di kota-kota lain. Ia misalnya mendirikan Diniyah School Putri di Kwitang dan Tanah Abang pada 2 dan 7 September 1935, di Jatinegara dan Rawasari, Jakarta, pada 1950. Tidak saja untuk pendidikan dasar, tapi berlanjut sampai perguruan tinggi.
Selain berkiprah di dunia pendidikan, ia juga aktif berjuang untuk mencapai kemerdekaan Indonesia. Bahkan pada era kemerdekaan, ia bergabung dalam berbagai organisasi sosial dan politik. Kiprahnya dimulai dari pembentukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) pada 2 Oktober 1945, kemudian mengayomi lasykar pejuang yang dibentuk oleh organisasi Islam seperti Hizbullah dan Sabilillah, memimpin dapur umum untuk TNI dan lasykar pejuang di Padang Panjang.
Pada 1952-1954 ia menjadi anggota Dewan Pimpinan Pusat Masyumi di Jakarta, dan terpilih sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Sementara (1955-1958). Pada 1958 itu berseberangan dengan Presiden Soekarno yang kala itu lebih condong kepada PKI. Itu sebabnya ia kembali ke dunia pendidikan dengan meningkatkan kualitas Diniyah School Putri.
Kiprahnya dalam dunia pendidikan mendapat perhatian Rektor Universitas Al-Azhar, Kairo, Dr. Syekh Abdurrahman Taj, yang sempat berkunjung ke Diniyah School Putri pada 1955. Pada 1957, ia mendapat gelar sebagai Syaihah oleh Universitas Al-Azhar, setara dengan Syekh Mahmoud Salthout, mantan Rektor Al-Azhar. Ia bepulang ke Rahmatullah pada Rabu 26 Februari 1969 (9 Zulhijah 1388) menjelang magrib, di rumahya.

Nyai Ahmad Dahlan
Ia adalah isteri K.H. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah. Nama kecilnya Sitti Walidah binti Kiai Penghulu Haji Muhammad Fadli bin Kiai Penghulu Haji Ibrahim bin Kiai Muhammad Hassan Pengkol bin Kiai Muhammad Ali Ngraden, Pengkol. Ia dilahirkan di camping santri, Kauman, Yogyakarta, pada 1872. Ia anak keempat dari tujuh bersaudara.
Ibunya bernama Nyai Mas yang cukup dikenal di Kauman, Yogyakarta. Untuk mencukupi kebutuhan keluarga, ayahandanya membuka perusahaan batik di samping sebagai penghulu Kraton Yogyakarta.
Sejak kecil Walidah belajar mengaji Al-Quran dan beberapa kitab agama yang ditulis dalam bahasa Jawa dengan huruf pegon. Ia dikenal sebagai gadis yang lemah-lembut, peramah, sederhana, tenang, tekun, pandai bergaul. Pergaulannya luas, meliputi kalangan bangsawan, cerdik pandai, pemimpin pergerakan, alim ulama, santri, tani, buruh, pemuda, pemudi.
Setelah menjadi isteri K.H.Ahmad Dahlan, ia lebih banyak membantu suaminya dalam persiapan pembentukan dan pertumbuhan Muhammadiyah. Terutama dalam Aisyiah, organisasi wanita Muhammadiyah. Dia termasuk seorang di antara beberapa tokoh wanita Indonesia yang pertama kali berjuang dalam pergerakan wanita. Misalnya, dalam organisasi Sopo Tresno, organisasi pergerakan wanita pertama yang berdiri pada 1914. Pada 1923 Sopo Tresno berganti nama menjadi Aisyiah sebagai bagian dari Muhammadiyah.
Ia termasuk wanita yang memelopori agar kaumnya membuang kepercayaan kolot dengan memperjuangkan hak-hak kaum perempuan yang setara dengan kaum laki-laki. Pengorbanannya cukup besar, terutama ketika kala itu harus menghadapi berbagai rintangan dan celaan dari kaum tua yang menganggap sepak terjangnya “terlalu bebas dan melanggar kesusilaan.”
Nyai Dahlan berpulang ke Rahmatullah pada hari Jum'at, 31 Mei 1946, jam 13:00 WIB di rumahnya, Kauman, Yogyakarta. Jenazahnya dimakamkan di belakang Masjid Besar Kauman.

Sholihah Wahid Hasjim
Ia adalah isteri K.H.A Wahid Hasjim, putra Hadlratusy Syekh K.H. Hasjim Asj’ari, salah seorang pendiri Nahdlatul Ulama. Nama kecilnya Munawarah, lahir di Jombang, Jawa Timur, pada 11 Oktober 1922. Sholihah anak kelima dari pasangan K.H. Bisri Sjansuri dan Nyai Maiah. Sejak kecil ia belajar di Madrasah Ibtidaiyah Pesantren Denanyar, Jombang, milik ayahandanya. Di luar pesantren, ia mengaji kepada ayahandanya pada siang dan malam hari selepas Isya.
Sebelum menikah dengan K.H.A. Wahid Hasjim pada 10 Syawal 1356 H (1936 M), ia telah menikah dengan Abdurrahim, putera K.H. Cholil, Singosari, namun tak berlangsung lama karena Abdurrahim meninggal dunia. Setelah menikah pada usia 16 tahun, ia diboyong ke Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Setelah melahirkan anak pertama, ia aktif dalam pengajian di kalangan muslimat Nahdlatul Ulama.
Di zaman pendudukan Jepang, ia aktif dalam organisasi perempuan bentukan Jepang, Fujinkai. Pada 1944 ia mengikuti suaminya yang diangkat sebagai anggota legislatif di Jakarta. Tapi, enam bulan kemudian ia kembali ke Tebuireng, Jombang.
Pada 1950, K.H.A. Wahid Hasjim diangkat sebagai Menteri Agama dan Sholihah pun mengikuti suaminya ke Jakarta. Tapi, tiga tahun kemudian suaminya wafat. Ketika itu Sholihah berusia 30 tahun, dan sedang mengandung anak bungsunya. Sejak itu ia bertekad untuk membesarkan dan mendidik anak-anaknya. Belakangan ia diangkat sebagai anggota DPRD Jakarta mewakili NU, kemudian anggota DPR Gotong Royong (1958).
Ketika NU menjadi partai, ia aktif dalam berbagai kegiatan Muslimat NU. Ketika NU berfusi dalam Partai Persatuan Pembangunan, ia tetap menjadi anggota legislatif (1978-1987). Ia juga sempat aktif dalam kegiatan Yayasan Dana Bantuan, sejak 1958 sampai akhir hayatnya. Ia juga terlibat aktif dalam mendirikan Ikatan Keluarga Pahlawan Nasional (1974). Ia juga ikut mendirikan dan mengurus Yayasan Bunga Kemboja (1960), yang bergerak dalam pengurusan jenazah, serta mendirikan Panti Harapan Remaja, Jakarta Timur (1976).
Dalam kegiatan keagamaan, ia mendirikan Yayasan Kesejahteraan Muslimat NU (1963), Lembaga Kemaslahatan Keluarga NU (1978), Pengajian Al-Islah (1963), Lembaga Penyantun Lanjut Usia (1976) yang kemudian diubah menjadi Pusat Santunan dalam Keluarga (Pusaka), Majlis Taklim Masjid Jami Matraman. Ia wafat pada 9 Juli 1994.

Rangkayo Rasuna Said
Ia dilahirkan pada 14 September 1910, di Desa Panyinggahan, Maninjau, Sumatra Barat. Ayahnya pengusaha sukses, Muhamad Said, yang terkenal sebagai pemilik CV Tunaro Yunus. Selepas SD, ia melanjutkan belajar di pesantren Ar-Rasyidiyah di bawah asuhan Syekh Abdul Rasyid sebagai satu-satunya santri perempuan.
Kemudian ia melanjutkan pendidikan di Diniyah School Putri di Padang dibawah asuhan Zainudin Labai El-Yunusi, abang kandung Rahmah El-Yunusiah. Di sinilah ia bertemu dengan Rahmah El-Yunusiah. Ketika duduk di kelas 5 dan 6 ia diserahi tugas mengajar di kelas-kelas yang lebih rendah di Diniyah School Putri di Padang Panjang.
Belakangan ia berseberangan dengan Rahmah El-Yunusiah, karena Rahmah tidak menyetujui gagasan Rasuna yang memasukkan pendidikan politik dalam kurikulum. Sementara Rahmah tidak ingin Diniyah School Putri mundur karena para murid dan guru sibuk berpolitik. Akhirnya Rasuna keluar dari Diniyah Shool Putri, dan lebih berkonsentrasi belajar pada para pembaharu Minangkabau seperti Dr. H. Abdul Karim Amrullah.
Pemikiran Haji Rasul sebagai pelopor gerakan kaum muda Minangkabau menjadi inspirasi bagi Rasuna Said – yang belakangan juga tampil sebagai pembaharu dan pemikir yang progresif. Pada 1926, ketika terjadi gempa di Padang Panjang, ia pulang ke Maninjau, dan belajar kepada agama Haji Abdul Majid. Tapi ia tidak betah, karena menganggap pengajarannya kolot. Lalu ia belajar di Sekolah Thawalib di Maninjau selama dua tahun menjadi murid Haji Udin Rahmani.
Belakangan ia memutuskan untuk aktif berpolitik. Ia menjadi sekretaris Sarekat Rakyat. Sebagai dampak dari pemberontakan komunis (1926), empat tahun kemudian Sarekat Rakyat berubah menjadi Sarekat Islam. Ia juga sempat bergabung dalam Soematra Thawalib dan mendirikan Persatoean Moeslimin Indonesia (PERMI) di Bukittinggi (1930).
Selain mengajar di sekolah-sekolah yang didirikan PERMI, ia turut mendirikan berbagai sekolah di berbagai pelosok Sumatra Barat. Kemudian mendirikan Sekolah Thawalib di Padang, dan memimpin Kursus Putri dan Normal Kursus di Bukittinggi. Karena pidato-pidatonya yang keras dan tajam terhadap Belanda, ia ditangkap dan dipenjara.
Keluar dari penjara, ia pulang ke Padang dan lebih banyak menghabiskan waktunya untuk belajar di Islamic College pimpinan K.H. Mochtar Jahja dan Dr. Kusuma Atmaja. Melalui lembaga ini pula kemudian ia menjadi pemimpin redaksi majalah Raya.
Ketika ruang gerak perjuangannya di Padang dirasakan semakin sempit, ia pun pindah ke Medan. Di sini ia mendirikan lembaga pendidikan khusus kaum perempuan, Perguruan Putri, dan menerbitkan majalah Menara Putri. Kepada murid-muridnya ia selalu menyadarkan betapa penting peranan kaum perempuan dalam proses perjuangan untuk mencapai kemerdekaan, dan bahwa peranan kaum perempuan sama pentingnya dengan kaum lelaki.
Pada masa pendudukan Jepang, Rasuna bergabung dalam sebuah organisasi kemasyarakatan bentukan Jepang pimpinan Chatib Sulaiman. Ia bertanggung jawab di bagian proganda dan aktif mensosialisasikan program-program ke seluruh pelosok Sumatra Barat: Padang, Padangpanjang, Bukittinggi, Payakumbuh, Sijunjung, Batusangkar, Maninjau, Pariaman, Kerinci, Paian.
Di zaman kemerdekaan, ia aktif di Badan Penerangan Pemuda Indonesia dan Komite Nasional Indonesia. Pada tahun 1950-an, di masa pemerintahan Republik Indonesia Serikat, ia diangkat sebagai anggota DPR. Dan setelah Dekrit Presiden 5 Juli 1959, ia diangkat sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung.
Rasuna menikah pada usia 19 tahun dengan Duski Samad, aktivis pergerakan yang pernah menjadi gurunya di Sumatra Thawalib. Namun pasangan ini tidak bertahan lama. Kemudian ia menikah dengan Bariun AS di Medan. Lagi-lagi perkawinan ini mengalami nasib serupa dan berakhir dengan perceraian.
Rasuna Said menghembuskan nafas terahir pada 10 Nopember 1965 dalam usia 55 tahun. Sebagai penghormatan atas jasa dan perjuangannya, ia diangkat sebagai Pahlawan Nasional berdasarkan SK Presiden Nomor 084/TK/1974.

Hj Nonoh Hasanah
Ia lahir pada 1938 di Cintapada, Cibeureum, Tasikmalaya, Jawa Barat, sebagai putri kedua dari enam bersaudara pasangan K.H.M. Sjamsuddin dan Hj Qomarijah. Ia hanya belajar sampai kelas IV Sekolah Rakyat, sementara pendidikan agamanya ia peroleh dari Ngaji Ngalong, yakni pengajian yang diselenggarakan secara berpindah-pindah. Selama beberapa waktu ia belajar pada K.H. Khaeruddin di Cisarua, Jawa Barat. Kemudian berguru kepada K.H. Ruhiat di Pondok Pesantren Cipasung, Tasikmalaya, Jawa Barat pada 1950-an ketika usianya baru 12 tahun.
Karena kemampuannya menguasai berbagai kitab dan mampu mengajarkannya, ia menadapat kehormatan menjadi asisten pribadi K.H. Ruhiyat untuk mengajarkan kitab-kitab kecil dan menengah. Setelah delapan tahun nyantri, oleh K.H. Ruhiyat ia dijodohkan dengan santri Cipasung, Ahmad Dimyati (1958). Setelah menikah, ia masih mengabdikan diri di Cipasung, sementara suaminya mendalami ilmu agama di Banten. Baru pada 1959 mereka tinggal bersama di Cintapada, Cibeurem, Tasikmalaya.
Mereka pun membangun sebuah pesantren di Cintapada – yang sebenarnya lebih tua dari Cipasung. Mula-mula Pesantren Cintapada didirikan pada 1918 oleh K.H. Dimyati, mertua Nonoh Hasanah. Sejak ia menjadi pengasuhnya, Pesantren Cintapada khusus menerima para santriwati. Di tengah kesibukannya mengajar, Nonoh Hasanah masih sempat belajar kepada K.H. Abdullah di Purbaratu, Cibeurem, K.H. Kosasih di Bojong Nangka, dan K.H. Najamuddin di Condong, Cibeurem.
Belakangan nama pesantren itu diubah menjadi Pondok Pesantren Al-Hasanah. Pada 1978 jumlah santriwatinya mencapai 8000 orang, mereka datang dari berbagai pelosok Nusantara. Ia juga sempat menulis buku Ashabul Kahfi dalam bahasa Sunda, terjemahan dari Tafsir Al-Khazin juz III halaman 186-1991. Buku ini mendapat rekomendasi K.H. Ilyas Ruhiyat, pengasuh Pesantren Cipasung, Tasikmalaya, dan K.H. Khaer Affandi, pimpinan Pesantren Nurul Huda, Manonjaya, Tasikmalaya. Hj Nonoh Hasanah wafat pada 20 November 1987.
AST, dari berbagai sumber

Liem Hai Thai (Mualaf 2)

Hidayah Itu Datang melalui Mimpi

Dia bermimpi melihat serombongan orang berjubah putih yang memancarkan cahaya melambai-lambai di angkasa mengajaknya bergabung. Ternyata, itulah awal hidayah yang Liem Hai Thai terima.

Sebuah rumah di daerah Ciputat terlihat teduh dan asri. Di halaman tumbuh beraneka tanaman dan bunga beraneka warna, menambah sejuk suasana. Di sanalah, Liem Hai Thai tinggal bersama Ima Ismawati, sang istri tercinta, yang ia nikahi sejak 13 Desember 2003 silam. Ia adalah salah satu dari tujuh besar peserta Mimbar Dai TPI 2005.
Liem, begitu panggilan akrabnya, anak kelima dari sepuluh bersaudara. Sejak kecil, ia tumbuh dalam lingkungan keluarga yang acuh tak acuh dengan persoalan agama. Namun, alhamdulillah, kakak tertuanya, Liem Hai Sing (Muhammad Abdul Nashir), telah memeluk Islam terlebih dahulu. Sejak taman kanak-kanak hingga sekolah lanjutan, ia selalu belajar di sekolah-sekolah umum di Riau.
Masa kecil di sekolah-sekolah umum itulah yang membuatnya mulai berkenalan dengan ajaran Islam. Sebab, mayoritas siswa sekolahnya beragama Islam. Terlebih lagi di sekitar rumahnya, yang sarat nuansa religius.
Setiap materi pelajaran Agama Islam tiba, ia tidak meninggalkan ruang kelas. Walau pada sekolah dasar tersebut disediakan ruang khusus untuk pelajaran agama lain, Liem justru lebih suka tinggal bersama teman-teman yang lain mengikuti mata pelajaran tersebut. Semakin lama mengikuti materi pelajaran Agama Islam, ia semakin tertarik untuk masuk Islam.
“Ketika itu, saya ingin sekali beribadah bersama mereka. Tapi saya belum terpanggil. Mungkin, hidayah belum datang kala itu,” katanya mengenang.
Liem Hai Thai, yang lahir pada 17 Januari 1979 di Dumai, Riau, mengaku lebih terkesan melihat kehidupan kaum muslimin di sekitar rumahnya. Terutama setelah menyaksikan silaturahmi yang akrab di antara mereka. Misalnya, menjelang buka puasa Ramadan, para tetangga saling berbagi makanan. Dan saat hendak ke masjid untuk salat Tarawih, kaum lelaki sama-sama mengenakan kemeja dan sarung dengan rapi.
Demikian pula kaum muslimahnya, mengenakan mukena putih bersih dengan wajah ceria. Mereka berbaur, tak pandang kaya atau miskin. “Tampak bersahaja. Dalam Islam, semua manusia sama derajatnya di mata Tuhan, baik yang miskin maupun kaya,” ujarnya.
Dulu, di kampung halamannya di Dumai, setiap malam menjelang Hari Raya Idulfitri, segenap warga bergotong royong menggelar pawai takbir keliling kampung – baik yang muslim maupun non-muslim. Ketika itu pula, dia secara diam-diam menyaksikan pawai takbir keliling. Pawai takbir yang banyak menyebut-nyebut asma Allah SWT itu sangat membekas dalam kalbunya.”Waktu itu, saya sangat ingin bergabung. Tapi, karena berbeda agama, saya hanya bisa melihat kebersamaan yang besar di antara umat muslim,” kenangnya.
Liem mengaku, dia lebih dekat kepada Islam justru dimuali sejak kecil. Bahkan pada masa kanak-kanak, dia merasa sudah menjadi muslim – meskipun hal itu masih terpendam di dalam hati, dan sekadar mengikuti pelajaran Agama Islam di sekolah. Apalagi sejak sang kakak, Muhammad Abdul Nashir (Liem Hai Sing), sering memberikan masukan dan menyampaikan ajaran Islam dengan ramah dan sabar, sedikit demi sedikit hidayah Allah masuk ke dalam jiwanya.
Dilahirkan dalam keluarga yang penuh pluralitas beragama membuat Liem leluasa untuk memilih agama yang dianggapnya benar. Kala itu, ibunya sendiri beragama Katolik yang teguh, dan bapaknya adalah pemeluk Konghuchu yang patuh. Kebebasan yang ia miliki membuat kesempatan untuk mempelajari Islam ia manfaatkan sebaik-sebaiknya. Apalagi, ada tempat untuk mencurahkan kegelisahan dalam memilih agama yang sering berkecamuk dalam dadanya, yang tidak lain adalah kakaknya sendiri.

Bimbingan Sang Kakak
Setiap pulang ke rumah, Muhammad Abdul Nashir selalu menceritakan ajaran Islam kepada keluarganya. “Di tengah keluarga yang pluralis semacam itu, kakak leluasa mengajarkan Islam kepada kami,” tuturnya. Walau, sikap kakaknya itu tidak sepenuhnya diterima semua keluarganya, terutama sang ayah, Liem Guan Ho, yang sehari-hari mengabdi pada sebuah kelenteng di kotanya.
Perbedaan memeluk agama di tengah keluarganya berpuncak ketika ayahnya bercerai dengan ibundanya. Dan sang kakak memilih tidak tinggal satu atap dengannya. Kendati demikian, kakaknya selalu pulang ke rumah untuk menjenguk dan mengajaknya buat meyakinkan kepadanya akan agama tauhid, Islam.
Setiap pulang ke rumah, ia selalu menceritakan kebaikan ajaran Islam. Mendengar cerita sang kakak yang sangat menarik itu, Liem semakin mendapat tambahan pelajaran agama Islam yang lebih mendalam. “Apalagi, kalau kakak saya sedang menceritakan ajaran Islam tentang hari kiamat, saya senang sekali mendengarnya,” ujarnya.
Hari kiamat yang digambarkan dalam ajaran Islam sangat rasional. Demikian pula dengan adanya kehidupan lain sesudah mati, yang tidak ditemui dalam ajaran agamanya selama ini. Ini yang membuat Liem lebih yakin akan kebenaran Islam.
Hanya kepada Muhammad Abdul Nashir, sang kakaknya, itulah Liem senantiasa mencurahkan semua persoalan agama. Kakaknya pun dengan sabar memberikan gambaran yang mudah dan sederhana tentang ajaran Islam.
Menginjak pendidikan SMP, dia masih senang mengikuti pelajaran Agama Islam. Walau dilarang oleh guru kelas dan teman-temannya, Liem bersikeras mengikuti pelajaran tersebut. “Kala itu saya memang sudah benar-benar mulai tertarik dengan ajaran agama Islam,” ceritanya.
Pada 1990-an Liem mulai gamang. Entah mengapa, ia tidak menemukan ketenteraman jiwa. “Jiwa saya terombang-ambing dalam pencarian kebenaran yang tiada batas dan tidak punya pegangan,” ujarnya.
Ia merasa, apa yang selama ini dipercayainya tidaklah terasa klop lagi dengan kalbunya. Sekitar tujuh tahun dia telah mempelajari Islam secara diam-diam, semuanya didapat di sekolah umum dan cerita-cerita sang kakak. Hingga suatu waktu, ia bermimpi melihat serombongan orang berjubah putih yang memancarkan cahaya melambai-lambai di angkasa mengajaknya bergabung. Tapi, inikah yang namanya hidayah? Dia mencoba menanyakan hal ini kepada kakaknya.
Sang kakak, yang memang senantiasa mengajaknya untuk memeluk agama Islam, hanya menyarankan agar ia segera mengucapkan kalimah syahadat. Namun, sampai saat itu, Liem lagi-lagi belum terbuka sepenuhnya.
Tak lama berselang dari kejadian itu, ia semakin mendalami Islam. Hingga suatu waktu, ia mendengar suara azan yang mengalun syahdu dan indah. Setiap mendengar suara azan, badannya bergetar hebat dan air matanya keluar tak terbendung. ”Suara azan itu memanggil jiwa-jiwa yang gersang untuk menghadap Ilahi,” kata Liem menirukan ucapan kakaknya.
“Saya akhirnya masuk Islam, karena panggilan jiwa, bukan karena paksaan siapa pun,” ujarnya tegas.

Tidak Keberatan
Sebelum memutuskan untuk memeluk Islam, ia terlebih dahulu menyampaikannya pada kakak dan ibundanya. Tentu saja, kabar itu disambut gembira oleh kakaknya, dan ibunya pun tak keberatan. Sang kakak akhirnya menjadi perantara untuk prosesi yang paling bersejarah dalam hidup Liem.
Akhirnya, pada 21 Juni 1994, di Masjid Raya Pasar Duri Riau, ia mengucapkan kalimah syahadat di hadapan H. Arwan, yang saat itu menjabat ketua Badan Silaturahmi dan Remaja Masjid Mandau Riau, dan disaksikan ratusan jemaah masjid itu. Sejak itu pula, nama Liem Hai Thai berganti Muhammad Utsman Anshori.
Setelah mantap memeluk Islam, ia kemudian dititipkan kepada orangtua asuh K.H. Ali Muhsin. Lewat bimbingannya, Liem menimba ilmu di Pondok Pesantren Raudhotul Muhsinin Maqbul Malang, Jawa Timur, kemudian dilanjutkan ke jenjang pendidikan Madrasah Aliyah di Pondok Pesantren Daarul Qolam, Gintung Balaraja, Tangerang, Banten. Setelah lulus Aliyah, ia melanjutkan ke pendidikan tinggi di Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran (PTIQ) Jakarta.
Setelah menempuh berbagai pelajaran agama, hari-hari belakangan ini ia pergunakan untuk syiar Islam. Kesehariannya ia disibukkan sebagai sekretaris Pembina Iman Tauhid Islam (PITI), Jakarta Selatan, dan guru Bimbingan Rohani Keislaman di Lembaga Pemasyarakatan Cipinang.
Kebahagiaannya kini bertambah ketika saudara-saudaranya juga telah memeluk Islam. Dari sepuluh saudaranya, kini sudah enam yang memeluk Islam. Bahkan di bulan Muharam kemarin, ibunda dan adiknya juga mengikuti jejaknya, memeluk Islam. ”Saya berharap, saudara-saudara saya yang lain juga bisa mendapat hidayah, memeluk Islam,” katanya.
Walau tereliminasi setelah masuk 7 besar Mimbar Dai TPI, ia tetap bersemangat untuk berdakwah. ”Berdakwah adalah kewajiban setiap manusia. Saya dalam kesempatan ini juga mohon restu, semoga saya menjadi pendakwah yang sejati bagi kehidupan Islam,” kata dai TPI ini mengakhiri perbincangan.

AST/Ft. AST

Natalie Sarah (Mualaf 1)

Hidayah berkat Tausiah

Tausiah K.H. Abdullah Gymnastiar di Pondok Pesantren Daarut Tauhid yang menyejukkan membuka pintu hatinya untuk mendalami Islam.

Siapa tak kenal artis sinetron Natalie Sarah? Artis pendatang baru yang namanya mencuat lewat sinetron Kawin Gantung itu, di tengah kesibukan shooting-nya, masih menyempatkan diri mengikuti pengajian artis di Jemaah Syamsu Rizal. Artis berdarah Aceh dan Sunda ini memang mualaf, belum lama menjadi muslimah.
Sebelum main sinetron, ia sudah lama berkiprah di dunia model. Kariernya ia tempuh dari bawah, mulai dari model dalam pameran busana dan sebagai cover majalah remaja, kemudian menjadi figuran dalam sebuah sinetron remaja. Selain Doa dan Anugrah 2, sinetron lain yang ia dukung, antara lain, Cintaku di Rumah Susun, Kawin Gantung, dan Dari Temen Jadi Demen produksi Multivision Plus.
Meski lahir dan dibesarkan dalam keluarga Aceh-Sunda, tidak berarti ia cukup dekat dengan suasana dan kehidupan yang Islami. Sebab, orangtuanya beragama Kristen. Maka bisa dimaklumi jika hidayah Allah SWT yang ia terima melalui proses yang cukup panjang. Hidayah itu mulai menyentuh hatinya sekitar empat tahun lalu, ketika ia berusia 18 tahun. Ia lahir 1 Desember 1983 di Bandung. Ketika itu, pada suatu malam, ia bermimpi bertemu seorang kakek berjubah putih yang mengajaknya membaca surah Al-Fatihah.
Sejak itu hatinya mulai bergolak. Timbul semacam pergulatan batin untuk mulai mendekati Islam. Namun, ketika itu ia sama sekali tidak mengenal ajaran Islam. Bahkan makna Al-Fatihah pun ia tidak tahu. “Saya sama sekali tidak tahu makna Al-Fatihah, walaupun ketika di SD saya sering mendengar teman-teman membacanya. Setelah bertanya kepada teman-teman apa makna mimpi tersebut, saya diberi kitab Al-Quran terjemahan. Saya lalu mempelajarinya,” tuturnya.
Namun, karena keluarganya termasuk sangat taat beragama Kristen, sangat sulit bagi mereka untuk menerima jika salah seorang anggota keluarga memeluk agama lain. Meski begitu, tekad Natalie Sarah sudah bulat – ia sudah mantap untuk memeluk Islam. “Sebelum mengucapkan dua kalimah syahadat, saya sudah memikirkan bakal jadi urusan keluarga. Ternyata benar. Dan semua mualaf ternyata memang mengalami hal seperti itu,” tuturnya lagi.
Sarah mendapatkan hidayah Islam di usia yang masih muda, sekitar 18 tahun. Saat itu, rumah tangga orangtuanya di ambang perceraian. Khawatir kehilangan sandaran hidup, ia berusaha mencari pegangan hidup sendiri. Alhamdulillah, ia bertemu seorang sahabat yang kerap mengikuti pengajian di Pesantren Daarut Tauhid, Bandung, asuhan K.H. Abdullah Gymnastiar alias Aa Gym. Maka ia pun ikut sang sahabat mengaji di sana.

Elu Ngapain?
Mengikuti kehidupan Islami, praktik ibadah yang khusyuk dan tausiah Aa Gym yang sejuk di Daarut Tauhid, membawanya menemukan Islam, yang damai. Islam, yang mengajarkan tata cara menata hati, bertolak belakang dengan pemahaman sebelumnya seolah Islam itu keras dan garang. “Soalnya selama ini saya sering mendengar ceramah-ceramah para ustaz yang selalu mendiskreditkan agama tertentu,” katanya.
Bahkan pada hari pertama mengikuti tausiah Aa Gym, air matanya sempat menitik. “Ketika itu ada acara bagi para jemaah untuk kembali kepada diri kita sendiri dengan cara merenung. Di situlah, malam itu, saya benar-benar mengenal diri saya sendiri. Dan saya menangis,” katanya lagi. Tapi, ia sengaja hadir usai salat Isya. Mengapa? Pertama, ia khawatir teman-temannya memergokinya. “Saya takut teman-teman yang tahu saya non-muslim pada teriak, ‘Sarah elu ngapain? Bukan muslim kok ada di sini?’.” Selain itu, ia kan belum bisa salat. Jadi, ia sengaja datang ketika semua jemaah sudah menunaikan salat.
Setelah yakin dengan kebenaran Islam, Natalie, yang ketika itu masih duduk di kelas III SMA, pada bulan Juli 2001 memutuskan menjadi seorang muslimah. Namun, hal itu ia lakukan secara sembunyi-sembunyi – takut ketahuan oleh keluarganya. Seperti mualaf yang lain, ia juga takut bakal diusir oleh keluarga dari rumah, dijauhi teman-teman dan saudaranya.
Memang cukup banyak cobaan yang ia hadapi. Namun, ia tetap berusaha menghadapinya dengan sabar. “Sejak saya menjadi muslimah, sedikit demi sedikit komunitas dan pergaulan saya berubah,” tuturnya. Untuk menghindari keluarganya itulah, setelah lulus SMA ia hijrah ke Jakarta menemani ibunya, Nurmiaty, yang sudah bercerai dengan ayahnya. “Dan di Jakarta saya benar-benar seperti ayam kehilangan induk, karena enggak punya teman sama sekali, sementara beberapa keluarga Mama sering datang ke rumah mengajak pergi beribadat ke gereja,” ujarnya.
Ajakan itu ia tolak dengan halus. Berbagai alasan ia ajukan: malas, ketiduran, dan sebagainya. “Tapi, lama-lama keluarga saya curiga.” Agar tidak ketahuan sudah menjadi muslimah, Sarah mengatur siasat dengan main kucing-kucingan: setiap malam Minggu ia menginap di rumah seorang teman. Meski demikian, sesekali ia terpaksa ikut serta pergi ke gereja. Tapi, di gereja itu ia membaca doanya sendiri kepada Allah SWT.
Suatu hari, ketika ikut serta ke gereja, seorang temannya bertanya, “Sar, kamu kok enggak nyanyi?”
Ia segera menjawab, “Itu kan lagu baru, saya enggak hafal,” sambil terus berzikir. Main kucing-kucingan itu sempat berlangsung selama beberapa tahun. Sarah melakukan ibadah dengan sangat hati-hati, sampai-sampai kepada teman-temannya pun ia tetap mengaku sebagai seorang Kristiani. Pernah suatu ketika ibunya memeriksa tasnya, dan ketahuan ada buku panduan salat di dalamnya. Kontan ia berujar, “Buku itu milik teman yang ketinggalan, akan saya kembalikan.”
Begitu pula ketika ia memasuki dunia sinetron pada 2001, semua awak sinetron menganggap dia masih Kristen. Tapi, ada beberapa teman yang belakangan secara tidak langsung membocorkan bahwa dia sudah muslimah, tapi tidak mau mengaku. Setiap kali masuk waktu salat, ia menunaikannya dengan sembunyi-sembunyi – setelah semua pemain dan awak sinetron selesai salat. Hal itu berlangsung selama dua tahun, sejak 2001 hingga pertengahan 2003.

Bingung Mengubur
Pada pertengahan 2003 itulah, ketika pamannya meninggal dunia, tabir mulai tersingkap. Saat itu, pamannya – yang muslim tapi juga menyembunyikan kemuslimannya seperti halnya Sarah – hampir saja dikubur dengan upacara Kristen, sampai akhirnya ditemukan identitas yang menunjukkan kemuslimannya. Dari kejadian itu Sarah seperti mendapat peringatan, terutama ketika salah seorang anggota keluarga besarnya bilang, “Makanya kalau beragama itu harus jelas. Kalau Islam ya Islam, kalau Kristen ya Kristen. Kalau seperti ini kan menguburnya pun jadinya bingung.”
Namun, sampai sejauh itu, lagi-lagi, ia tak punya nyali untuk mengaku kepada keluarga besarnya sebagai seorang muslimah. Ia hanya berpesan kepada seorang sahabatnya, “Seandainya suatu saat kelak saya meninggal, tolong kuburkan saya secara Islam. Itu wasiat lisan saya, karena soal umur siapa yang tahu.”
Akan tetapi, sekarang, ia sudah secara terang-terangan menyatakan diri sebagai muslimah. Ia juga sudah tidak lagi takut dihujat atau diusir oleh keluarganya. Sebab, secara ekonomi, ia sudah mapan. Apalagi, pada 2003, sebenarnya sudah tersebar berita di sebuah acara infotainment di sebuah televisi swasta bahwa ia seorang mualaf. “Untung acara itu ditayangkan pagi hari, sehingga tak banyak keluarga saya yang tahu. Namun, memasuki tahun 2004, berita bahwa saya mualaf mulai banyak tersiar, sehingga keluarganya banyak yang tahu. Tapi mereka diam saja, karena beranggapan bahwa kelak saya bakal kembali lagi, seperti halnya artis yang lainnya,” katanya.
Baru pada bulan Juni 2005, keluarga besarnya heboh, ketika Sarah bermaksud menunaikan ibadah umrah. “Mereka datang ke rumah untuk menyidang saya,” kenangnya. Saat itu, Sarah sedang berpuasa sunah dan tengah sibuk shooting, sementara tekanan psikologis dari keluarga besarnya tak kunjung henti. Akhirnya ia jatuh sakit dan puasa sunahnya batal. Ia sempat pingsan sejenak, dan merasa berada di tengah lautan manusia yang sedang bertawaf. Bahkan ketika sudah sadar, bibirnya masih melafalkan Labbaikallahumma labaik. Labbaika la syarika laka labbaik. Innal hamda wannikmata laka wal mulk. La syarikalak.
“Sejak itu saya lebih rajin menabung, dan bertekad untuk menunaikan ibadah umrah secepatnya,” katanya lagi. Akhirnya, cita-citanya terkabul. Ketika hendak berangkat, Sarah menemui keluarganya untuk pamitan, dan sempat menangis. Beberapa saat menjelang keberangkatannya ke Tanah Suci, ia sempat berujar lirih, “Ya Allah... masa, saya tidak boleh menginjakkan kaki ini ke Tanah Suci-Mu?” Di Tanah Suci ia memanjatkan segala macam doa, antara lain agar Allah SWT menunjukkan kekuasaan-Nya sehingga keluarga besarnya memahami kemuslimahannya.
Doanya terkabul. Kini, keluarga besarnya sudah memahami pilihan Natalie Sarah memeluk Islam. Mereka bahkan menghormati pilihan itu.

AST/Ft. Dokumentasi AnekaYess!

Anneke Lutfia Putri (Sosok Artis 3)

Artis yang Konsisten Berjilbab

Sudah belasan tahun ia menekuni dunia akting. Dan ketika usianya menginjak 35 tahun, ia mengakui pentingnya berjilbab.

Barangkali dia bisa disebut artis komplet: pemain film, sinetron, penulis artikel, cerpenis, dan penyair. Dialah Anneke Lutfia Putri, kini 35 tahun, yang biasa dipanggil Anneke Putri. Kariernya sebagai pemain film bermula ketika ia mendukung Rano Karno dan Merriam Bellina dalam Tak Ingin Sendiri (1985). Film arahan sutradara Ida Farida produksi PT Kanta Indah Film itu, temanya diangkat dari lagu populer karya penyanyi Dian Pisesha.
Belakangan, bukan hanya main film dan sinetron, ia juga menulis di cerita pendek dan puisi di beberapa majalah dan tabloid hiburan. Ia juga masih sempat menulis cerita anak-anak yang diterbitkan dalam bentuk kaset. Terakhir ia memerankan tokoh Emak dalam serial sinetron Keluarga Cemara arahan Arswendo Atmowiloto – yang sebelumnya dimainkan oleh Lia Warokka dan Novia Kolopaking.
Hampir tak ada gosip negatif yang menyambangi kehidupan artis ini. Bahkan, alhamdulillah, sejak enam tahun terakhir ini ia konsisten mengenakan jilbab. “Pada awalnya masih bolong-bolong, kadang pakai kadang tidak. Baru pakai sekali sudah diledekin teman-teman. Tapi sudah beberapa tahun ini saya pakai jilbab terus,” katanya.
Bisa dipahami jika penampilan ibu tiga anak ini – dua perempuan, satu lelaki, hasil pernikahannya dengan Saiful G. Wathon – sekarang jauh berbeda. Aktivitasnya juga tak jauh dari ibadah. Ia, misalnya, selalu mengikuti pengajian yang dipimpin oleh Ustazah Eli Idris di kawasan Depok. Maka, semakin hari, pengetahuan agamanya pun semakin mantap.
”Ternyata untuk kalimah syahadat itu konsekuensinya cukup berat. Harus konsisten mengamalkan ajaran agama. Dan ternyata berjilbab itu merupakan kewajiban bagi setiap muslimah,” kata artis kelahiran Banyuwangi, Jawa Timur, pada 24 Agustus 1966 ini. “Jilbab bukan hanya dipakai ketika salat, tapi juga dalam kehidupan sehari-hari,” tambahnya.
Menurut Anneke Putri, hikmah dari kehidupan yang Islami itu – konsisten berjilbab, mencari rezeki yang halal, membelanjakannya juga secara halal, memilih makanan halal, dan sebagainya – kini menjadikan hidupnya terasa lebih nyaman, tenang, tenteram, dan bahagia.

Hafal Al-Quran
Lebih-lebih setelah menunaikan ibadah umrah pada 2000, ia bertekad untuk lebih memperbaiki kualitas hidup, memperkaya rohani dan mengurangi kesenangan duniawi. Tapi, ternyata itu tdak mudah. “Iman saya benar-benar diuji. Namun, alhamdulillah, Allah SWT masih menyayangi saya. Secara berangsur-angsur saya bisa memperbanyak amal ibadah,” katanya.
Orang yang paling berperan dalam ber-Islam ialah suaminya. Anneke Putri seperti tercerahkan ketika Saiful, suaminya, berkata kepadanya, “Kalau sudah berhijrah menuju Islam, harus mengamalkan agama secara kafah, jangan setengah-setengah. Saya menikahi kamu tidak hanya di dunia, tapi kepenginnya kelak di akhirat juga bisa kumpul kembali bersama istri dan anak-anak. Tujuan hidup kan akhirat, bukan dunia.”
Ada satu cita-cita yang didambakannya, yaitu agar anak-anaknya kelak bisa menjadi pejuang-pejuang tangguh di jalan Allah. “Saya ingin, Jibril, anak saya yang kedua, kelak bisa hafal Quran,” katanya. Sehubungan dengan niat mulia itu, ia selalu membaca Al-Quran sejak masih hamil. Ketika si Jibril sudah lahir pun, sambil memandikannya sang ibu tak lupa membacakan surah pendek Al-Quran atau selawat Nabi.
“Memang berat, sih, mencita-citakan punya anak yang kelak hafal Al-Quran. Misalnya, makanannya harus benar-benar halal, mendidik membaca Al-Quran sejak masih kecil. Dan kalau hafalan Al-Quran tidak dijaga dengan baik, bisa hilang atau tidak ingat lagi,” tuturnya.
Saat ini, Anneke Putri tengah menikmati nyamannya salat Tahajud. “Sayang kalau waktu salat Tahajud terlewati. Dengan salat Tahajud, saya bisa merasakan kepasrahan total di hadapan Allah. Pada saat seperti itu, saya selalu mohon kepada Allah SWT agar keluarga kami mendapat karunia sebagai keluarga yang sakinah dengan anak yang saleh dan salihah.” Amin.

AST/Ft. AO

6.3.06

Sejarah Terbentuknya Nahdlatoel Oelama

Sebagai “kebangkitan kaum ulama”, Nahdlatul Ulama berdiri untuk mempertahankan kehidupan keagamaan berdasarkan empat mazhab, tapi juga untuk membendung sikap kaku kaum Wahabi.

Begitu Perang Dunia I berakhir pada 1918, Kesultanan Turki Usmani di Turki guncang. Sementara kekuasaan sultan – yang meneruskan tradisi kekhalifahan Islam di seluruh dunia – mulai dipersoalkan oleh kaum nasionalis Turki yang dipimpin oleh Mustafa Kemal Pasha. Akhirnya, pada 1922, Majelis Rakyat Turki menghapus kekuasaan Sultan Abdul Majid dan menjadikan Turki sebagai republik. Dan dua tahun kemudian Majelis menghapuskan lembaga khilafat.
Perkembangan politik di Turki tersebut ternyata cukup bikin bingung dunia Islam. Ada di antara para pemimpin Islam yang kemudian mulai berpikir untuk membentuk khilafat baru. Termasuk kaum muslimin Indonesia, yang merasa ikut bertanggung jawab untuk menyelesaikan masalah tersebut. Saat itu, pada 1924, kebetulan Mesir sedang mempersiapkan sebuah muktamar tentang masalah khilafat tersebut.
Untuk mengantisipasi diselenggarakannya kongres tersebut, pada 4 Oktober 1924 sejumlah ormas Islam membentuk Komite Khilafat di Surabaya. Komite itu diketuai oleh Wondoamiseno (Sarekat Islam), dengan K.H.A. Wahab Chasbullah (kalangan pesantren) sebagai wakil. Dalam Kongres Al-Islam III di Surabaya, Desember 1924, antara lain diputuskan untuk mengirim delegasi ke Kongres Khilafat di Kairo, yang beranggotakan Suryopranoto (Sarekat Islam), A.R. Fachruddin (Muhammadiyah), dan K.H. Wahab Chasbullah (pesantren).
Ternyata Kongres Khilafat di Kairo ditunda, karena perhatian umat Islam seluruh dunia tertuju pada perkembangan di Hijaz (kini Arab Saudi) ketika Ibnu Saud – yang kemudian menjadi raja – mengambil alih kekuasaan Syarif Husein. Berkolaborasi dengan para ulama Wahabi, pemerintahan baru di Hijaz mulai melakukan pembersihan terhadap praktik beragama yang dianggap tak sesuai dengan paham Wahabi, paham yang menganggap praktik-praktik kaum tradisionalis yang tidak tertera dalam Al-Quran dan hadis adalah bid’ah (lihat Kisah Utama Alkisah No. 16/2005). Di Indonesia, gerakan Wahabi itu di satu pihak mendapat sambutan baik dari kalangan Islam modernis, tapi di lain pihak ditolak oleh kalangan kiai dan pesantren.
Pada 21-27 Agustus 1925, digelar Kongres Al-Islam IV di Yogyakarta. Salah satu agendanya ialah membahas undangan Raja Ibnu Saud kepada umat Islam Indonesia untuk menghadiri Kongres Islam se-Dunia di Makkah. Undangan itu juga dibahas dalam Kongres Al-Islam V di Bandung, 5 Februari 1926. Dalam kedua kongres tersebut, kaum muslim modernis, seperti Muhammadiyah dan Sarekat Islam, sangat mendominasi.
Bahkan sebelumnya, 8-10 Januari 1926, mereka juga sudah menggelar pertemuan tersendiri. Dalam pertemuan tersebut diputuskan mengirim H.O.S. Tjokroaminoto (Sarekat Islam) dan K.H. Mas Mansur (Muhammadiyah) untuk menghadiri Kongres Islam se-Dunia di Makkah. Keputusan itu kemudian diperkuat dalam Kongres Al-Islam V di Bandung.

Dalailul Khayrat
K.H.A. Wahab Chasbullah, yang mewakili komunitas kiai dan pesantren, seperti tersingkir dari arena kongres. Beberapa usul yang ia ajukan berdasarkan aspirasi kaum tradisionalis tidak mendapat tanggapan. Begitu pula saran agar Raja Ibnu Saud menghormati tradisi keislaman sebagaimana tercantum dalam kitab Dalailul Khayrat, sepertinya tidak digubris.
Akhirnya, Kiai Wahab dan tiga santrinya meninggalkan arena kongres. Mereka lalu menyelenggarakan pertemuan dengan para ulama di Surabaya. Dalam pertemuan-pertemuan seperti itu, Kiai Wahab tak jemu-jemunya menyodorkan gagasan perlunya membangun sebuah jam’iyah (perkumpulan) kepada para ulama, termasuk kepada gurunya, K.H. Hasjim Asj’ari. Namun, Kiai Hasjim tidak serta merta menerima dan merestui ide tersebut, sebelum melakukan shalat Istikharah selama beberapa bulan.
Dalam pada itu diam-diam Kiai Cholil dari Bangkalan mengamati perkembangan tersebut. Kiai Cholil adalah guru Kiai Hasjim dan Kiai Wahab. Suatu hari ia memanggil seorang santri yang juga masih cucunya, As’ad Syamsul Arifin, yang ketika itu baru berusia 27 tahun. “Saat ini Kiai Hasjim sedang resah. Antarkan dan berikan tongkat ini kepadanya,” kata Kiai Cholil sambil menyerahkan sebatang tongkat. “Baik, Kiai,” jawab As’ad, yang kelak juga menjadi ulama besar.
Lalu Kiai Cholil berpesan kepada cucunya itu, “Bacakanlah ayat-ayat ini kepada Kiai Hasjim: Wama tilka biyaminika ya Musa. Qala hiya ‘ashaya atawakka’u ‘alaiha wa ahusysyu biha ‘ala ghanami awliya fiha ma’aribu ukhra. Qala alqiha ya Musa. Faalqaha faidza hiya hayyatun tas’a. Qala khudzha wala takhaf sanu’iduhi siratahal ula. Wadhmum yadaka ila janahika tahruj baidha’a min ghairi su’in ayatan ukhra. Linuriyaka min ayatinal kubra.” (QS 20: 17-23). Ayat-ayat tersebut mengungkapkan kualitas kepemimpinan Nabi Musa.
Artinya, “Apakah yang di tangan kananmu, hai Musa?” Jawab Musa, “Ini tongkatku, aku bertelekan padanya, dan aku pukul untuk kambingku, dan ada lagi manfaat yang lain.” Allah berfirman, “Lemparkanlah tongkat itu!” Lalu dilemparkannyalah tongkat itu. Maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat. Allah berfirman, “Peganglah ia dan jangan takut. Kami akan mengembalikannya kepada keadaan semula. Kepitkanlah tangan ke ketiakmu, niscaya ia menjadi putih cemerlang tanpa cacat sebagai mu’jizat, untuk Kami perlihatkan kepadamu sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Kami yang sangat besar.”
Maka As’ad pun segera menuju ke Pesantren Tebuireng, kediaman Kiai Hasjim. “Kiai, saya diutus oleh Kiai Cholil untuk menyerahkan tongkat ini kepada Kiai,” kata As’ad sambil mengulurkan sebatang tongkat. Kiai Hasjim menerimanya dengan penuh khidmat. “Ada lagi yang hendak engkau sampaikan?” tanya Kiai Hasjim.
“Ada, Kiai,” jawab As’ad, kemudian membacakan ayat-ayat yang disampaikan oleh Kiai Cholil. Mendengar ayat-ayat itu, hati Kiai Hasjim tergetar. Matanya menerawang, mengenang wajah Kiai Cholil yang tua dan bijak. Ia menangkap isyarat, gurunya itu tidak keberatan jika ia dan teman-temannya mendirikan sebuah jam’iyah.
Sejak itu, keinginan untuk mendirikan jam’iyah semakin matang. Beberapa tahun kemudian, pemuda As’ad muncul lagi. “Kiai, saya diutus oleh Kiai Cholil untuk menyampaikan tasbih ini,” katanya. “Kiai juga diminta mengamalkan doa Ya Jabbar, Ya Qahhar setiap saat,” tambah As’ad. Sekali lagi, pesan gurunya itu diterima oleh Kiai Hasjim dengan penuh khidmat. Dan kini hatinya semakin mantap untuk mendirikan sebuah jam’iyah.

Empat Mazhab
Setahun kemudian, 31 Januari 1926 atau 16 Rajab 1344 H, dalam sebuah pertemuan di rumah Kiai Wahab di Surabaya, yang dihadiri sejumlah ulama dari beberapa pesantren besar di Jawa Tengah dan Jawa Timur, para kiai sepuh sepakat mendirikan Komite Hijaz untuk mengantisipasi gerakan Wahabi, yang didukung secara politik oleh Raja Ibnu Saud. Pertemuan bersejarah itu memang dihadiri oleh beberapa ulama senior yang berpengaruh, seperti K.H. Hasjim Asj’ari, K.H. Bisri Sansuri (keduanya dari Jombang), K.H. Ridlwan Abdullah (Surabaya), K.H. Asnawi (Kudus), K.H. Ma’sum (Lasem), K.H. Nawawi (Pasuruan), K.H. Nahrowi (Malang), K.H. Alwi Abdul Aziz (Surabaya), dan lain-lain.
Pertemuan tersebut antara lain memutuskan, mengirim delegasi yang terdiri dari K.H. Wahab Hasbullah dan Syekh Ahmad Ghunaim Al-Mishri untuk menghadiri Kongres Islam se-Dunia di Makkah sekaligus menemui Raja Ibnu Saud. Mereka membawa pesan para ulama agar Ibnu Saud menghormati ajaran mazhab empat dan memberikan kebebasan dalam menunaikan ibadah. Dalam jawaban tertulisnya, Ibnu Saud hanya menyatakan akan menjamin dan menghormati ajaran empat mazhab dan paham Ahlusunnah wal Jama’ah.
Pertemuan para ulama di Surabaya itu juga menyepakati pembentukan sebuah jam’iyah sebagai wadah para ulama dalam memimpin umat menuju terciptanya izzul Islam wal muslimin (kejayaan Islam dan kaum muslimin). Jam’iyah itu diberi nama Nahdlatoel Oelama (kebangkitan kaum ulama), yang antara lain bertujuan membina masyarakat Islam berdasarkan paham Ahlusunnah wal Jama’ah. Pertemuan tersebut sebenarnya juga merupakan reaksi terhadap policy pemerintah Hindia Belanda yang membatasi umat Islam menunaikan ibadah haji.
Hal itu juga didasarkan pada pengalaman dakwah Walisanga, yang secara cerdas dan kreatif mengislamkan Nusantara tanpa gejolak – yang membedakan Nahdlatul Ulama dengan gerakan Islam modernis. Pada awal berdirinya, NU belum menetapkan anggaran dasar. Baru pada muktamar 1928, organisasi ini menetapkan anggaran dasar untuk mendapatkan pengakuan pemerintah Hindia Belanda. Belakangan, Nahdlatul Ulama menetapkan anutannya terhadap empat mazhab (Hanafi, Maliki, Syafi’i, Hanbali) demi kemaslahatan umat. Artinya, NU tampil sebagai pengawal kesinambungan tradisi dan ajaran empat mazhab dan akidah Ahlusunnah wal Jama’ah.
Nahdlatul Ulama berusaha mempertahankan otoritas ulama dalam menafsirkan ayat atau hadis dari “kecerobohan” penafsiran kaum muda yang mempertanyakan ajaran Islam – yang telah ditafsirkan para ulama salaf saleh (salafus shalih) – yang mereka pandang sudah mapan. Namun itu tidak berarti NU alergi terhadap pembaruan atau modernisme. Beberapa pemikiran Islam modernis juga diserap oleh Nahdlatul Ulama, khususnya berkaitan dengan sistem pendidikan dan kurikulum. Secara perlahan-lahan, madrasah NU juga mengajarkan ilmu umum, di samping pelajaran agama.
Ketika Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia) – sebuah federasi longgar dari semua partai dan ormas Islam – terbentuk pada November 1945, NU dan Muhammadiyah menjadi dua pilar utamanya. Namun, menjelang pemilu pertama tahun 1955, NU keluar dari Masyumi dan mendeklarasikan diri sebagai partai Islam. Hasilnya mengejutkan, partai baru itu muncul sebagai pemenang ketiga setelah Partai Nasional Indonesia (PNI) dan Masyumi.
Di awal Orde Baru tahun 1967, semua partai Islam, termasuk NU, dipaksa oleh pemerintah Soeharto untuk berfusi dalam Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Merasa selalu tersingkirkan, terutama karena dominasi peran Partai Muslimin Indonesia (Parmusi) – yang boleh dikata merupakan jelmaan Masyumi – maka dalam muktamar di Situbondo, Jawa Timur (1984), NU mundur dari PPP, bahkan kemudian menyatakan “kembali ke khitah 1926” alias tidak berpolitik.
Itu tak berarti NU tak berpolitik sama sekali. Sebab, “kembali ke khitah 1926” berarti juga konsolidasi besar-besaran – yang tiada lain juga merupakan langkah politik strategis. Keputusan yang sangat tepat itu belakangan ternyata klop dengan suasana politik paska reformasi tahun 1998 ketika demokrasi mulai mekar. Ketika itulah NU membentuk Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Dan dalam pemilu yang cukup demokrasi, 7 Juni 1999, PKB berhasil leading debagai “lima besar.”

AST/BSH



1.3.06

Opick (sosok Artis 2)

Opick

Mengejar Akhirat, Berkah Dunia Melimpah

Ia berangkat dari bawah. Dulu hidupnya dari utang ke utang, kini ekonomi rumah tangganya semakin membaik. Ia tak lupa mensyukuri nikmat Allah.

Anda suka menyenandungkan lagu Tombo Ati, dan tersentuh oleh syairnya? Anda tahu siapa penggubahnya? Dialah Opick, santri asal Jember, Jawa Timur, yang terinspirasi oleh sebuah folklor pesantren dengan judul sama. Santri yang semula penyanyi rock dan kini populer sebagai pelantun lagu-lagu bernuansa Islam itu, memang lebih dikenal dengan nama panggungnya, Opick. Adapun nama aslinya, Awnur Rafiq lil Firdaus, 29 tahun.
Seperti halnya artis yang lain, sejak Desember 2005 sampai Juni 2006 jadwal Opick sangat padat. Bahkan dalam beberapa acara dia harus manggung sehari dua kali. Memang laris-laris manis, tapi ia juga kelelahan. Sampai-sampai, dalam sebuah acara di Makassar beberapa waktu lalu ia lemas, sehingga pernapasannya harus dibantu dengan oksigen. Meski begitu, dalam setiap penampilan, wajahnya selalu tampak ceria, dan murah senyum.
“Wah, aku capek banget. Tapi, ini semua kan harus dinikmati. Semua ini anugerah Allah SWT,” kata Opick di rumah barunya di kawasan Pulo Gebang, Cakung, Jakarta Utara, dua minggu lalu. Ketika itu ia sedang sibuk menyiapkan perhelatan ratiban untuk melepas keberangkatannya menunaikan ibadah haji.
Ibadah haji itu merupakan salah satu wujud rasa syukurnya kepada Allah SWT berkat kariernya yang sukses. Ratiban itu digelar awal Desember lalu di Masjid At-Taqwa, Cakung, Jakarta Timur. Beberapa mubalig hadir menyampaikan tausiah, antara lain Ustaz Arifin Ilham, Ustaz Jefry Al-Bukhori, dan Ustaz Syubkhi Al-Bughuri.
Kesibukan Opick manggung di berbagai pentas belakangan ini tiada lain berkat suksesnya album Istighfar yang sudah terjual 650 ribu keping. Padahal pada bulan Ramadan lalu, album itu baru terjual 310 ribu keping. Jumlah yang sangat fantastis untuk album religius. Atas prestasinya itu ia diganjar penghargaan double platinum oleh Nadahijrah, perusahaan rekaman yang menaunginya.
“Yang paling membuat saya bahagia ialah siraman doa para ulama dan segenap penggemar yang secara positif merespons album Istighfar. Saya juga menyampaikan terima kasih kepada para penggemar yang telah mengirimkan surat yang jumlahnya cukup banyak,” katanya.
Dan berkah langsungnya ialah ekonomi keluarga yang semakin mapan: rumah baru, mobil mewah, bahkan juga sebuah studio rekaman. “Saya dan keluarga sekarang ini sedang belajar menjadi orang berkecukupan. Dulu kami kan miskin, dan sudah terlatih hidup miskin. Dan ternyata tidak gampang jadi orang kaya. Karena itu kami selalu bersyukur, mensyukuri nikmat Allah,” tambahnya.
Sebelumnya, usai menikah dengan Dian, 22 tahun, pada 15 Juli 2002, Opick mengontrak sebuah rumah petak di kawasan Pulogadung, Jakarta Timur. Seiring dengan kelahiran dan pertumbuhan anak pertama, Ganiya, 2,5 tahun, ekonomi rumah tangga mereka semakin membaik. Padahal, sebelumnya membeli susu buat anak saja sulit. “Ketika itu kami sering kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari,” tutur Dian, yang di bulan Ramadan lalu melahirkan anak kedua, Aina Rahma Ramadana.
Pernah, ketika merekam sebuah album, setiap hari Opick terpaksa meminjam uang kepada produser. Ketika rekaman usai, ia kaget. Ternyata honorarium yang dianggarkan sebanyak Rp 15 juta tinggal Rp 1 juta, karena sudah dipotong utang-utang selama proses rekaman. “Ketika itu hidup saya memang sangat berat. Ngontrak rumah saja beberapa kali berpindah-pindah,” katanya.
Sementara merintis karier dari bawah, rumah tangga Opick tak sepi dari problem ekonomi. Tapi, pasangan ini tetap tabah dan tawakal. Sebab, katanya, “Rumah tangga kami ibarat sekolah dan kami muridnya. Kami belajar dari masalah yang selama ini kami hadapi. Dengan terus belajar, insya Allah kami bisa mengatasi segala masalah,” katanya. Di tengah keprihatinan seperti itu, ia tetap bermusik, bahkan berhasil merampungkan album solo Tak Ada Habisnya - meskipun tidak melejit.

Pasar Malam
Karier musiknya sesungguhnya bermula dari musik rock. Sebelum dikenal sebagai pelantun lagu-lagu religius, Opick pernah bergabung dalam kelompok band anak-anak asal Jember, Timor. Berkali-kali mereka mengirim contoh lagu-lagu rock ke beberapa perusahaan rekaman, tapi tak pernah nembus. Setelah melalui perjuangan yang panjang dan melelahkan, akhirnya mereka melahirkan sebuah album, Nyanyian Perjalanan, yang direkam oleh perusahaan rekaman milik mantan penyanyi rock Log Zhelebour.
Sayang, album itu tak sempat beredar. Mereka lalu bikin album lagi, judulnya Pasar Malam di Kepalamu, kali ini direkam oleh perusahaan rekaman Airo, milik pengusaha dan budayawan Setiawan Djody. Sebagian besar liriknya karya Opick, sebuah di antaranya ditulis bersama penyair Rendra. Belakangan, Opick berkolaborasi dengan Adi Adrian, personel bank NuKLa. Setelah itu ia menyusun album Tak Ada Habisnya, yang diproduseri Pay, mantan personel band Slank. Ia juga pernah berkolaborasi dengan Gito Rollies lewat lagu Cukup Bagiku.
“Saat-saat seperti itu merupakan cobaan paling berat dalam hidup saya. Saya tak tahu harus berbuat apa agar dapur tetap ngebul. Untung istri saya selalu mengingatkan, semua cobaan itu pasti ada hikmahnya,” tutur Opick. Maka, sebagai santri, ia pun lantas bersujud memohon pertolongan Allah SWT. Ia sempat berikrar, kalaupun rezekinya bukan di musik, ia pasrah. “Eh, esoknya datang tawaran jadi juri lomba nasyid dan qiraah. Aneh ya, anak band kok dapat tawaran seperti itu,” ujarnya mengenang.
Sementara merintis karier yang belum jelas juntrungannya itu, Opick menyempatkan diri mengajar mengaji para remaja yang tinggal di sekitar rumahnya. Ketika itulah ia mengenal seorang murid mengajinya, yang rupanya terpesona oleh penampilan Opick. “Saya kaget, kok ada rocker pandai ngaji. Dan suaranya enak lagi,” tutur murid perempuan itu, tiada lain adalah Dian, yang kemudian dipersunting Opick pada 15 Juli 2002, setelah setahun pacaran.
Dan sejak ia menggeluti lagu-lagu nasyid, kariernya mulai merangkak. Suatu ketika itu ia sempat diminta menyusun lagu-lagu religius untuk dimuat dalam album Nasyid, Tausiah dan Dzikir, yang dilengkapi dengan tausiah K.H. Arifin Ilham. Kemudian, pada 2004, ia berkolaborasi dengan penyannyi cilik Amanda dalam lagu Alhamdulillah. Lagu ini semakin ngetop setelah menjadi tema lagu sinetron Anakku bukan Anakku. Setahun kemudian, 2005, Opick menelurkan album Istighfar, yang kontan melejitkan namanya. Dalam salah satu lagu yang termuat dalam album itu, Ya Rabbana, Opick berkolaborasi dengan Ustaz Jefry Al-Bukhori.
“Ketika Opick mengejar dunia, yang dikejar malah menjauh. Tapi, ketika ia mengejar akhirat dengan menelurkan album religius, dunia malah menghampirinya,” komentar Agus, mantan personel grup Snada.
Kini, Opick termasuk artis yang sukses, rezekinya pun melimpah. Melengkapi rasa syukurnya kepada Allah SWT, 21 Desember lalu ia menunaikan ibadah haji. Ketika masih tinggal di rumah mertuanya, Opick mendapat honorarium album Tombo Ati yang menurut rencana untuk membeli rumah. Tapi, karena jumlahnya tidak cukup, ia memutuskan menggunakannya untuk biaya naik haji. “Alhamdulillah, setelah memutuskan beribadah haji, dalam waktu tiga bulan rezeki justru berdatangan, sehingga saya bisa membeli rumah, mobil, dan segalanya. Memang, ketika rezeki digunakan untuk berhaji, semua jadi berkah,” tuturnya.
Ibadah haji itu rupanya juga ia maksudkan sebagai upaya untuk bertobat. Dulu, ia mengaku, pernah hidup dalam dunia yang serba hitam. “Hidup saya memang pernah berantakan. Tapi sekarang, alhamdulillah, Allah SWT telah memberi hidayah. Dalam hadis qudsi disebutkan, jika orang punya dosa sepenuh langit dan bumi kemudian datang kepada Allah SWT untuk bertobat, ia akan diampuni,” katanya terharu. “Sebagai muslim yang kurang ilmu dan amal, hanya satu keinginan saya, ‘Ya Allah, mohon kiranya ampunilah saya, dan semoga haji saya diterima oleh Allah SWT sebagai haji mabrur.” Amin.

AST/Ft. AST

Gunawan Sudrajat (Sosok Artis 1)

Gunawan Sudrajat

Mensyukuri Hidup dengan Salat

Artis ganteng ini tak pernah melupakan salat lima waktu, meski memiliki jadwal kegiatan yang cukup padat.

Pagi itu, ia sedang bersiap-siap berangkat ke TransTv. Sudah dua tahun ini ia harus berangkat pagi-pagi sekali untuk membawakan acara Sentuhan Qalbu, program bernuansa Islam yang ditayangkan setiap jam enam pagi. Dialah Gunawan Sudrajat, yang wajahnya sudah tak asing lagi di layar kaca.
Ia salah seorang idola para remaja saat ini. Maklum, wajahnya ganteng, tubuhnya atletis, murah senyum lagi. Pria kelahiran Jakarta, 12 Januari 1973, ini ayah Aghma Khayru Akheyla, 1,5 tahun, buah pernikahannya dengan Sybilla.
Gunawan sudah lama menempuh karier dalam industri hiburan. “Sejak 1993 saya bekerja di sebuah butik untuk membiayai kuliah. Namun, nasib membawa saya ke jurusan lain. Saya ketemu seseorang yang membantu terjun ke dunia model. Dan, alhamdulillah, dari dunia model saya banyak menerima tawaran iklan,” tuturnya.
Meski sudah mulai sibuk, Gunawan tidak melupakan kuliahnya. Ia membiayai kuliah dengan uang yang diperoleh sebagai model iklan. Ketika itu ia kuliah di Fakultas Ekonomi Jurusan Perbankan, Universitas Dharma Persada, dan lulus pada 1999.
Empat tahun sebelumnya, 1995, merupakan tahun bersejarah baginya. Ketika itulah untuk pertama kalinya ia direkrut buat bermain sinetron berjudul Pramugari (ditayangkan di TPI), kemudian berperan dalam film Lupus sebagai figuran. “Alhamdulillah, lewat peran-peran itu saya bisa diterima publik,” ujarnya.
Kini kariernya semakin menanjak. Tawaran bermain sinetron dan bintang iklan berbagai produk pun berdatangan. Itulah sebabnya ia selalu bersyukur. “Hidup ini bisa tenang bila kita selalu bersyukur kepada-Nya,” katanya. Termasuk menunaikan salat. Ia punya moto, ”Berdoa, berikhtiar, dan bersyukur.” Namanya mulai mencuat ketika ia bermain dalam sinetron Hikmah, yang ditayangkan di layar RCTI pada bulan Ramadan lalu.
”Salat itu merupakan ungkapan rasa syukur kita kepada Allah. Paling cuma lima menit, masa nggak bisa, sih?” katanya lagi.
Salat yang paling khusyuk yang pernah ia rasakan ialah sewaktu masih duduk di kelas lima sekolah dasar. “Ketika itu tiba-tiba saya melihat ada cahaya bertuliskan Allah lewat di depan wajah saya. Apakah itu hidayah? Saya tidak tahu. Tapi intinya, saya diingatkan agar selalu bertakwa, dan bagaimana membuat salat menjadi keharusan,” tuturnya.
Pada tahun 2000, ketika menunaikan ibadah umrah, ia mengalami banyak hal yang menakjubkan. “Ketika itu bulan Ramadan. Saya melakukan tawaf untuk Ibu pada putaraan kedua; putaran pertama untuk diri saya sendiri. Pada putaran kedua, tiba-tiba seorang nenek berkerudung hitam memberi jalan di tengah jemaah umrah yang berdesakan sehingga saya bisa berjalan lancar,” tuturnya.
Kemudahan itu membuat dia menangis. Ibadah umrah untuk sang ibu, dan diberi jalan oleh seorang ibu pula. Tawaf dibantu oleh nenek berkerudung itu berlangsung cukup lama, bahkan ia pun sempat dijaga oleh asykar, tentara Arab Saudi yang menjaga keamanan di Masjidilharam. “Itulah salah satu pengalaman saya yang sangat berharga,” kenangnya.
Dengan mudah ia juga berhasil mencium Hajar Aswad. “Ketika itu perasaan saya sangat bahagia. Tidak mungkin saya bisa mencapai Hajar Aswad tanpa kemudahan itu. Lama juga menciumnya, dan saya berdoa untuk Ibu,” tambahnya.
Ibu Gunawan, Cucu Rodiyah, memang sudah almarhumah, sementara ayahnya, Ajad Sudrajat, masih segar bugar. Gunawan adalah anak ke-13 dari 16 bersaudara.

AST/Ft. AST

Tanda-tanda Kiamat Kecil (Mutiara Rasul 5)

Tanda-tanda Kiamat Kecil

Apakah tanda-tanda kiamat kecil? Tanda-tanda itu pernah diungkapkan Rasulullah SAW dalam sebuah dialog yang menarik dengan Salman Al-Faisy.

Suatu saat, ketika menunaikan haji wada’, sambil memegangi kiswah Ka’bah, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya di antara tanda-tanda kiamat ialah tidak dilaksanakannya salat, diikutinya syahwat, berkhianatnya para pemimpin, dan fasiknya para menteri.” Sahabat Salman Al-Farisy langsung menyeruak ke arah beliau. ”Demi ayah dan ibuku sebagai tebusan, wahai Rasulullah, apakah hal itu benar-benar akan terjadi?” tanyanya.
”Benar, Salman. Saat itu kemungkaran menjadi kemakrufan dan kemakrufan menjadi kemungkaran,” jawab Rasul.
“Apakah hal itu akan benar-benar terjadi?” tanya Salman lagi. “Benar. Saat itu hati orang mukmin larut dalam badannya, seperti garam larut dalam air, karena apa yang dilihatnya ia tidak mampu mengubahnya,” jawab Rasul.
Salman bertanya lagi, “Apakah hal itu akan benar-benar terjadi?” Rasul menjawab lagi, ”Benar. Saat itu pengkhianat dipercaya, orang yang dapat dipercaya dianggap berkhianat; para pendusta dianggap jujur, dan orang jujur dianggap dusta.”
Salman bertanya lagi, “Apakah hal itu itu akan terjadi?”
Tanpa jemu, Rasul menjawab, “Benar. Sesungguhnya orang yang paling utama ialah orang mukmin yang berjalan di tengah segolongan orang yang dalam ketakutan. Jika dia berbicara, mereka akan memakannya, dan mati karena kemarahan dalam dirinya. Wahai Salman, suatu kaum tidak akan disucikan jika yang kuat memakan yang lemah.”
Salman masih bertanya lagi, “Apakah yang demikian itu akan terjadi?”
“Benar. Saat itu orang kaya disanjung-sanjung, agama dijual dengan dunia, dunia dicari dengan amal akhirat. Laki-laki berhubungan dengan laki-laki, perempuan dengan perempuan. Mereka adalah bagian dari umatku yang dilaknat Allah SWT. Saat itu, umatku disusul dengan umat yang lain, badan mereka badan manusia namun hatinya hati setan. Jika umatku bicara, mereka dibunuh. Jika diam, darah mereka dihalalkan. Mereka tidak menyayangi anak kecil dan tidak menghormati orang dewasa. Alangkah buruknya perilaku mereka. Para muhrim digagahi, hukum dapat dibicarakan, wanita dijadikan pemimpin, para budak dimintai pendapat, anak kecil dipuja, tentara di mana-mana, orang laki-laki mengenakan perhiasan emas dan berzina, para penyanyi wanita bermunculan, Al-Quran dilagukan, orang hina lebih banyak angkat bicara.”
Salman bertanya, ”Apa makna orang hina lebih banyak angkat bicara?” Rasul menjawab, ”Dia membicarakan masalah secara umum, padahal sebelumnya tidak pernah bicara.”
Tanya Salman lagi, “Apakah hal itu akan terjadi?” Jawab Rasul, ”Benar. Saat itu masjid-masjid dihiasi aneka perhiasan seperti gereja dan biara. Mushaf Al-Quran dihiasi emas, mimbar dibuat lebar, banyak saf tapi hati manusia saling berjauhan, dan perkataan mereka beraneka macam. Siapa yang diberi, bersyukur; siapa yang tidak diberi, kufur.”
“Apakah yang demikian itu akan terjadi?” lagi-lagi Salman bertanya. Rasul menjawab, “Benar. Saat itu datang para tawanan dari timur dan barat dari umatku. Kecelakaan bagi orang-orang lemah di antara mereka, dan kecelakaan dari Allah. Jika bicara, mereka dibunuh; jika diam, juga dibunuh. Mati dalam taat kepada Allah lebih baik daripada hidup dalam kedurhakaan.”
“Apakah yang demikian itu akan terjadi?” tanya Salman. ”Benar. Saat itu istri bersekutu dengan suami dalam urusan suami, seseorang durhaka kepada bapaknya, dan justru berbuat baik kepada temannya. Mereka mengenakan kulit domba di atas hati serigala, ulama mereka lebih buruk daripada bangkai.”
“Apakah yang demikian itu akan terjadi?” tanya Salman lagi, tak sabar. “Benar. Saat itu ibadah mereka hanya membaca lafaz ibadah tanpa kandungannya, mereka disebut orang-orang najis dan kotor di kerajaan langit dan bumi.”
Salman masih bertanya lagi, “Apakah yang demikian itu akan terjadi?” “Benar. Saat itu kitab suci dijadikan nyanyian, dilemparkan ke belakang punggung. Mereka tidak menegakkan hukum yang sudah ditetapkan Allah, mereka mematikan sunahku. Mereka menghidupkan bidah, tidak melakukan amar makruf dan nahi mungkar. Saat itu anak kecil dicemburui sebagaimana budak, anak kecil melamar sebagaimana melamar, wanita dan pasar-pasar saling berdekatan.”
Salman masih penasaran, lalu katanya, ”Demi ayah dan ibuku sebagai tebusan, wahai Rasulullah, apa makna pasar saling berdekatan?”
Rasul menjawab, ”Jika setiap orang berkata, ’Aku tidak menjual dan aku tidak membeli’ - padahal tidak ada yang memberi rezeki selain Allah - saat itu yang berkuasa adalah orang-orang jahat yang tidak memberikan hak kepada manusia dan mengisi hati mereka dengan ketakutan. Engkau tidak melihat kecuali orang yang ketakutan. Saat itu haji dielu-elukan, orang-orang terkenal menunaikan haji demi hawa nafsu, kelas menengah berhaji untuk berniaga, dan orang miskin berhaji untuk ria dan mencari nama.”
“Apakah yang demikian itu akan terjadi?” tanya Salman. “Benar, wahai Salman,” jawab Rasulullah SAW dengan mantap.

Disarikan oleh AST dan Ainul Yaqin dari kitab Muhadharat al-Abrar karya Muhyidin Al-Araby yang dinukil oleh Ibnu Marduwaih, halaman 298

“Hai anak Adam, ingat dan waspadalah bila Tuhan terus-menerus melimpahkan nikmat, sementara engkau terus-menerus mengerjakan maksiat terhadap-Nya.” (Ali bin Abi Thalib)