<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-22828176</id><updated>2012-01-24T08:27:13.644+07:00</updated><title type='text'>Aji Setiawan, ST</title><subtitle type='html'>"Afahasibtum annama khalaqnakum 'abatsan wa annakum ilaina la turja'un" (QS Al-Mukminun: 115)
Mobile: 081327187625 atau via email or ad fs ya: aji_setiawan2000@yahoo.com ; http://www.pengrajinkata.blogspot.com</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://ajisetiawan.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22828176/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajisetiawan.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22828176/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Aji Setiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14411902879772066714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://photos1.blogger.com/x/blogger/1979/2328/640/163197/Aji1.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>108</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22828176.post-117636290864093057</id><published>2007-04-12T14:26:00.000+07:00</published><updated>2007-04-12T14:28:29.033+07:00</updated><title type='text'>Sajak Pelipur Lara</title><content type='html'>&lt;A HREF='http://photos1.blogger.com/x/blogger/1979/2328/640/163197/Aji1.jpg'&gt;&lt;IMG SRC='http://photos1.blogger.com/x/blogger/1979/2328/320/203584/Aji1.jpg' border=0 alt='' style='display:block;margin 0px auto 10px; cursor:hand; text-align:center'&gt;&lt;/A&gt;&amp;nbsp;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika luka-luka akan kehidupan datang. Ketika samudra kehidupan mendatangkan badai, dan ketika engkau terluka. &lt;br /&gt;Hanya rasa sedih dan penuh derita menghantui dalam hidup. Alangkah menyesal bila situasi ini dilewatkan. Duhai peri kerinduan, demi waktu, akan datangnya inspirasi. Sejuta ide menggelegak tengah datang menghampiri mu.&lt;br /&gt;Cukuplah kala itu, untuk berdiam diri sejenak.Duduk termenung dalam gelap kamar. Tafakur lah sejenak merenungi berbagai kejadian masa silam. Tundukan kepalamu. Pejamkan mata. Biarkan alam pikiranmu mengelana. Berlarian. Menjurai “samudra” yang luas akan kehidupan. Jadikan kesedihanmu sebagai tempat-tempat kesempatan. Ladang-ladang bercocok tanam. Dan semailah “ide-ide” besar itu dalam lautan kesedihan. Berenanglah terus ke tengah lautan ide, jangan pernah menepi ke pantai.&lt;br /&gt;Jadikan “derita” sebagai “injeksi” lompatan besar dalam menuai masa depan. Jadikan kesedihan mu itu untuk sekali ini saja dalam hidup. Jangan engkau bersedih! La Tahzan! &lt;br /&gt;Kita telah penuh luka. Derita berpuluh-puluh tahun. Darah “-muncrat-muncrat”. Air mata darah dan tangis bergiliran sebagai anak bangsa. Tertindas tak berkesudahan. Kenapa kau masih diam saja! Menyesal dan terpuruk dalam linangan air mata derita tak ada gunanya. Berdoa tanpa berusaha, tak ada maknanya, dan hanya menyerap sedikit hikmah, tak merubah keadaan.&lt;br /&gt;Menulislah. Tulislah dengan kata-kata nurani. Bangkitlah dari tempat dudukmu, segeralah ambil pena dan kertas. Isilah pena-penamu dengan tinta. Tulislah, puisi, sajak, artikel, karangan khas atau apa saja yang sanggup kau toreh melalui kata-kata.&lt;br /&gt;Mulailah rangkai kata-kata yang indah, menarik dan memikat. Sastra dibentuk dan dipahat dengan halus. Jangan hiraukan suara di luar kamarmu. Engkau harus menulis dengan deras. Berpuluh-puluh kertas, harus engkau tulis. Biarkan jemarimu menari “salsa” mengikuti nurani. Itulah ide yang datang mengalir deras dari “cahaya” kebenaran yang sejati. &lt;br /&gt;Engkau kini telah mendapatkan sepercik inspirasi, di tengah lauatan lara dan badai duka cita. Selamat mencoba. Semoga sajak pelipur lara ini menjadi inspirasi dan dorongan bagimu untuk menulis dan menulis. Sebab dengan menulis engkau telah menjadi manusia yang berfikir, manusia yang tercerahkan. Yakni manusia-manusia yang dijanjikan Allah SWT diangkat derajatnya dan dimuliakan di muka bumi.&lt;br /&gt;Jadilah engkau bintang, lebih dari bintang-bintang yang terkenal. Kalau pun saat ini engkau tidak disebut di bumi, cukup engkau terkenal di jagad langit. Menjadi bintangnya langit, yang tidak perlu disebut-sebut media atau televisi. Engkau lebih berhak disebut di langit, ya di langit. Dengan damai dan keabadian. (***)&amp;nbsp;&lt;a href='http://picasa.google.com/blogger/' target='ext'&gt;&lt;img src='http://photos1.blogger.com/pbp.gif' alt='Posted by Picasa' style='border: 0px none ; padding: 0px; background: transparent none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: initial; -moz-background-origin: initial; -moz-background-inline-policy: initial;' align='middle' border='0' /&gt;&lt;/a&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22828176-117636290864093057?l=ajisetiawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajisetiawan.blogspot.com/feeds/117636290864093057/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22828176&amp;postID=117636290864093057' title='15 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22828176/posts/default/117636290864093057'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22828176/posts/default/117636290864093057'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajisetiawan.blogspot.com/2007/04/sajak-pelipur-lara.html' title='Sajak Pelipur Lara'/><author><name>Aji Setiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14411902879772066714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://photos1.blogger.com/x/blogger/1979/2328/640/163197/Aji1.jpg'/></author><thr:total>15</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22828176.post-117323799598381059</id><published>2007-03-07T10:17:00.000+07:00</published><updated>2007-03-07T10:26:36.256+07:00</updated><title type='text'>Penerjemah Handal dari Surakarta</title><content type='html'>&lt;A HREF='http://photos1.blogger.com/x/blogger/1979/2328/640/935096/Sholeh-Al-Jufri.jpg'&gt;&lt;IMG SRC='http://photos1.blogger.com/x/blogger/1979/2328/320/152444/Sholeh-Al-Jufri.jpg' border=0 alt='' style='display:block;margin 0px auto 10px; cursor:hand; text-align:center'&gt;&lt;/A&gt;&amp;nbsp;&lt;br /&gt;Habib Sholeh bin Muhammad Al-Jufri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Habib Sholeh Al-Jufri termasuk generasi pertama santri-santri dari Indonesia yang dididik oleh  Habib Umar Al-Hafidz di Darul Musthofa, Tarim, Hadramaut. Ia terkenal sebagai penerjemah yang handal dari Surakarta.          &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajah habib yang satu ini kerap muncul di acara maulid atau kegiataan perayaan hari besar Islam. Ia tampil setelah pembicara pertama yang memakai bahasa Arab sangat fasih. Tentu bagi para jemaah yang tidak mengetahui bahasa Arab, akan kesulitan menyimak isi taushiah pertama. Tapi dengan kehadiran Habib yang satu ini, taushiah dari pembicara pertama tadi dapat disimak dan dipetik hikmah mutiara kata-kata. Satu persatu isi taushiah, oleh habib yang berusia 37 tahun ini, diterjemahkan dengan lancar dan gamblang.&lt;br /&gt;Itulah Habib Sholeh bin Muhammad Al-Jufri, selama ini memang lebih banyak dikenal sebagai penerjemah handal, khususnya bagi tamu dari Timur Tengah. Habib Sholeh Al-Jufri, demikian kerap para muhibbin memanggil habib kelahiran Surakarta, 30 September 1970. Selain dikenal sebagai penerjemah, ia juga mengisi kegiatan sehari-hari sebagai Pengasuh Pondok Pesantren Darul Musthofa di Desa Salam RT 01/03, Kecamatan Karang Pandan, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.&lt;br /&gt;Masa kecil Habib Sholeh banyak dididik oleh kedua orang tuanya di Surakarta. Selain itu, sang ayah juga mengundang guru mengaji ke rumah. Sehingga pendidikan dari sejak masa kanak-kanak sampai usia remaja, telah nampak sosok pada Habib Sholeh menjadi seorang dai. Selain itu, ia juga mengikuti pengajian di zawiyah Habib Anis Al-Habsyi di Gurawan, Solo, mulai 1985. &lt;br /&gt;Saat menginjak kelas dua SMP, ia sudah bergabung dengan ahli-ahli dakwah keliling keluar kota seperti berdakwah ke daerah Tapanuli, Padang, Lampung, bahkan sampai ke luar negeri, seperti ke Singapura, Malaysia, Brunai dan lain-lain.  Saat itu, ia bergabung dengan para dai yang ada di kota Solo seperti Ustadz Abdulrahiem, H Ikhwan, H Dimyati, H Jamil, dan lain-lain. &lt;br /&gt;Pada tahun 1990, ia berkesempatan berkunjung ke India dan Pakistan untuk berziarah sekaligus bertemu dengan para alim ulama yang ada di dua negeri. Ketika di Pakistan itulah ia bertemu dengan salah seorang ustadz dari Yaman. Pada waktu itu Habib Sholeh belum lancar benar berbahasa Arab, dan akhirnya ia memakai pengantar bahasa Inggris dan bercakap-cakap dengan ustadz dari Yaman itu. Ternyata setelah berkenalan, ustadz dari Yaman itu mempunyai sebuah madrasah dan menawari Habib Sholeh untuk sekolah di di Yaman Utara.&lt;br /&gt;Akhirnya sepulang dari Pakistan, ia semakin bergiat dengan persiapan-persiapan untuk berangkat ke sana. Pada akhir 1993 ia baru mendapat ijin dari orang tua untuk berangkat seorang diri ke Yaman dengan berbekal sebuah alamat dari seorang ustadz yang dikenalinya di Pakistan. &lt;br /&gt;Sampai di Yaman ia langsung menuju alamat yang dipegang dan setelah mencari sebentar,  akhirnya ia menemukan alamat tersebut. Di tempat tersebut, Habib Sholeh belajar pada Habib Musa Kadhim Assegaff dan Habib Abdurahman bin Hafizh (keponakan Habib Umar).&lt;br /&gt; Melalui kedua gurunya itulah, Habib Sholeh mengetahui kalau Habib Musa Kadhim dan Habib Abdurrahman adalah murid dari Habib Umar Al-Hafizh, sehingga timbul dalam hatinya untuk belajar pada Habib Umar. Ia akhirnya mendapat ijin belajar pada Habib Umar di Hadramaut.  &lt;br /&gt; Ketika ia akan berangkat ke Hadramaut, tenyata di Yaman sedang terjadi perang saudara antara Yaman Utara dan Yaman Selatan. “Waktu itu, kita bisa melihat peluru dan bom yang berseliweran di atas kepala. Apalagi saat itu cuaca sedang cerah karena musim panas yang luar biasa. Akibatnya kita tidak bisa tidur di dalam kamar, karena estalase listrik juga mati (habis). Mau tidak mau, kita  tidur di atas bangunan (atap rumah). Alhamdulillah saya berada di tempat itu dan dalam keadaan aman. Baru ketika dipastikan keadaan Yaman sudah aman betul, saya baru bisa berangkat ke Hadramaut,” katanya.&lt;br /&gt;Ketika situasi perang sudah mulai reda, kontak senjata pun sudah jarang terjadi, ia lalu berangkat menuju Tarim. Kota yang pertama kali dituju adalah kota Syihr, tepatnya Rubath (pesantren) Musthofa. &lt;br /&gt;Selepas dari Rubath Musthofa dan singgah menetap selama kurang lebih 1 bulan, ia ke Tarim dengan maksud untuk bertemu dengan Habib Umar untuk meminta ijin mondok di Rubath Darul Musthofa, Tarim. &lt;br /&gt;Saat itu Habib Umar memang sedang berada di Syihr dan saat bertemu dengan Habib Sholeh, Habib Umar langsung tertarik untuk mengangkat Habib Sholeh sebagai muridnya. Waktu itu murid-murid dari Indonesia yang sudah datang kira-kira sudah tinggal selama dua bulan. Generasi awal ini seperti Habib Jindan bin Novel Salim Jindan, Habib Munzir Al-Musawa, Habib Shodiq Baharun, Habib Quraisy Baharun, dan lain-lain. ”Jadi, Untuk kedatangan ke Tarim mereka dua bulan lebih dulu. Tapi kalau kedatangan ke Yaman, saya lebih dahulu,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesan Tarim&lt;br /&gt;Hari-hari di Darul Musthofa, Tarim dilalui dengan indah oleh Habib Sholeh. Setiap hari, waktu dimanfaatkan benar untuk belajar dan mengkaji ilmu agama. Apalagi keinginanannya untuk menguasai bahasa arab secara mendalam, dapat diperoleh di Rubath, yang terkenal telah menghasilkan ratusan ulama dari berbagai belahan dunia itu. &lt;br /&gt;“Saya sangat terkesan sekali di Darul Musthofa.Walau dari kecil saya mengembara dakwah dengan para ustadz senior saya di Surakarta, dalam hati saya masih ada celah kekosongan. Itu semuanya saya peroleh di Darul Musthofa. Habib Umar duduk di situ, istilahnya bathin saya sangat terpenuhi dengan ilmu dan kerohanian dari Habib Umar,” katanya. &lt;br /&gt;Uniknya, selama belajar di Darul Musthofa, ia banyak sekali mendapatkan keajaiban-keajaiban yang ditemukan baik secara lahir maupun bathin. Setiap kali ia punya permasalahan-permasalahan dan pertanyaan-pertanyaan di hati, kalau tidak mendapat jawaban dari Habib Umar dengan lisan, akan terjawab lewat mimpi. “Sehingga sembuh kalau ada keraguan atau yang bingung terpenuhi di antaranya lewat mimpi. Ini sungguh luar biasa bagi saya. Seperti tanah yang kering kemarau sangat lama, kemudian terkena hujan,” kata Habib Sholeh.&lt;br /&gt;Selama di Darul Mustofa, ia pernah menjadi koordinator rekan-rekan senior, satu angkatan seperti Habib Munzir, Habib Hadi Alaydrus dan lain-lain dengan ijin Habib Umar ia bergabung dengan Jamaah Tabligh. Ia memprakasai kerjasama itu, di mana selama seminggu sekali santri-santri latihan untuk berdakwah. &lt;br /&gt;Setelah berjalan beberapa bulan, akhirnya Habib Umar Al-Hafidz memutuskan  gerakan dakwah para santri untuk berdikari atau berdiri sendiri. “Sampai sekarang, langkah dakwah para santri Darul Musthofa masih berjalan, mulai dari yang mingguan dan bulanan,” tuturnya.&lt;br /&gt;Di mana setiap hari Kamis siang, para santri Darul Musthofa diwajibkan untuk berangkat dakwah ke suatu daerah dan baru boleh pulang pada Jumat sore. Sistemnya adalah santri-santri membuat rombongan, kemudian iktikaf di masjid dan berdakwah, dengan mengisi khutbah Jumat atau ceramah setelah shalat Jum’at.&lt;br /&gt;Selama di Tarim, banyak sekali kenangan indah yang selalu menyertainya. Tarim menurut Habib Sholeh, memiliki adat yang luar biasa dan sudah terbentuk oleh salaf ratusan tahun yang lalu. “Saat Ramadhan dimaksimalkan untuk hari ibadah. Di mana di Tarim sudah menjadi tradisi untuk menghidupkan suasana malam yang luar biasa, jarang ditemui di negeri –negeri lain,” kenangnya.&lt;br /&gt;Keistimewaan Tarim lainnya, kata Habib Sholeh, kota para wali ini merupakan sebuah madrasah yang besar bagi siapa saja yang datang dan mengambil ilmu. ”Tarim adalah sebuah kota Kecamatan, tapi kecamatan itu menjadi sebuah Madrasah yang besar. Bukan madrasah yang kecil dengan yayasan tertentu. Kecamatan Tarim adalah sekolahan, di situ dibentuk tradisi yang sudah ratusan tahun,” terangnya.&lt;br /&gt;Di Tarim, ada majelis–majelis taklim dari pagi sampai malam. Seperti sehabis shalat Subuh di tempat Sayidina Alaydrus. Habis shalat Dhuha di tempat Mufti Bafadhal dan lain-lain. ”Uniknya, majelis taklim yang ada itu umurnya sudah ratusan dan tempat majelis taklimnya tidak berubah. Materi yang diajarkan selalu sama dan kitab-kitabnya selalu relevan untuk menjawab permasalahan-permasalahan jaman sekarang,” katanya.&lt;br /&gt;Orang–orang yang masuk atau ikut majelis bisa membayangkan, dahulu orang-orang besar (para waliyullah) pernah duduk di situ, lanjutnya. “Dari Sayidinia Abubakar Syakran, Faqih Muqaddam, dan lainnya, sehingga timbul suasana haru dan khusyuk bila hadir di majelis taklim. Demikian pula yang mengajar, karena yang mengajar harus muasis yang pertama (atau masih keturunan dari pengasuh majelis taklim),” ucapnya.&lt;br /&gt;Wajar ada sebuah pepatah orang Tarim yang berbunyi, “Tarim adalah guru bagi orang yang tidak punya guru.” Sehingga orang berjalan di mana-mana tidak akan kebingungan, karena akan bisa ditunjukan oleh posisi kota Tarim sendiri.&lt;br /&gt;Selama menimba ilmu di Darul Musthofa, selain belajar langsung dengan Habib Umar Al-Hafidz, ia dan 29 santri asal Indonesia juga belajar dengan para alim ulama dan keturunan orang-orang besar yang ada di sana. Waktu itu, memang sistem pelajaran Darul Musthofa, 50% pelajaran didapat di pondok, dan 50% lainnya belajar dengan di majelis-majelis taklim. Habib Hasan Syatiri, Habib Salim Syatri, Habib Abdullah bin Shahab, Habib Mashur Alaydrus, Syekh Fadl Bafadal, Habib Sa’ad Alaydrus dll.&lt;br /&gt;“Habib Umar hanya mendampingi, bahkan karena sayangnya Habib Umar kepada kita, beliau membawa mobil sendiri. Kadang kita jalan kaki sampai 5 kilo, dalam suasana panas, dan menembus gelap malam. Ini merupakan pendidikan mental lahir dan bathin,” kenangnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiprah di Solo&lt;br /&gt;Tahun 1998, ia bersama dengan angkatan pertama, pulang ke tanah air langsung diantar oleh Habib Umar. Setelah pulang, ia bergabung dengan majelis taklim Habib Anis bin Alwi bin Ali Al-Habsyi (alm). “Habib Anis ini sifatnya suka membantu pemuda yang berdakwah. Istilahnya mengorbitkan. Santri diminta mengisi ceramah di maulidnya Habib Anis, bergiliran dengan penceramah-penceramah yang lain. Kemudian juga kita diberi kesempatan dalam acara-acara yang ada di Zawiyah Riyadh, seperti acara Khataman Bukhari, Rauhah, Khutbah Jumat di masjid Assegaff dan mengisi pengajian di masyarakat setempat,” jelas bapak tujuh anak (4 laki-laki, 3 perempuan).   &lt;br /&gt;Baru pada tahun 1999, medio Juni, ia bekerja sama dengan teman-teman di Solo mendirikan sebuah pondok pesantren yang direstui oleh Habib Anis dan Darul Mustofa Tarim. ”Semula menyewa tempat (di kota Solo). Alhamdulillah pada tahun 1999 dibuka dan dihadiri oleh para tokoh-tokoh yang ada di Solo seperti Habib Anis Alhabsyi (alm) dan Ustadz Nadjib Asegaf,” katanya.&lt;br /&gt;Setelah dakwah berjalan, pada tahun 1999 ada donatur yang menawari untuk membeli tanah wakaf. Ia kemudian meminta saran pada Habib Anis. “Kira-kira, tanah wakaf yang bagus untuk pesantren di bawah Tawangmangu, tapi letaknya di atas Karanganyar,” kata Habib Sholeh menirukan Habib Anis.&lt;br /&gt;Akhirnya dipilihlah desa Salam, kecamatan Karangpandan, Kabupaten Karanganyar sebagai tempat pendirian pesantren. Rupanya, pilihan Habib Anis itu memang tepat dan punya maksud baik. Karena daerah Karangpandan itu berhawa sejuk, “Kalau daerah Tawangmangu terlalu dingin, di Karanganyar itu sudah panas. Jadi tidak perlu selimut kalau malam, dan AC kalau siang. Tempatnya bagus, udaranya sejuk dan nyaman untuk belajar, itu semua berkah dari Habib Anis,” terang Habib Sholeh.&lt;br /&gt;Tahun 1999 itu juga akhirnya bisa beli tanah dan pembangunan baru dimulai pada tahun 2000, yang meletakan batu pertama adalah Habib Anis Alhabsyi, Habib Muhammad bin Alwi Assegaf. Setahun berikutnya dibuka oleh Habib Anis dan Habib Umar bin Hafidz.&lt;br /&gt;Saat ini jumlah santri yang menetap di Darul Musthofa (Karangpandan), berjumlah 50 santri di dalam dan khoriji (di luar) ada sekitar 300 laki-laki dan  perempuan. Kurikulum,  pendidikan pesantren 95% mengambil kurikulum Darul Musthofa, Tarim. 5% adalah tambahan penyesuaian dengan keadaan di Indonesia.Walau Darul Musthofa Karangpandan itu terhitung masih baru, tapi kedatangannya mampu memberikan manfaat dan bisa diterima oleh masyarakat.&lt;br /&gt;Hal ini tak lepas dari cara pendekatan dakwah yang dibangun, yakni membangun pola kemitraan dengan masyarakat setempat. “Pesantren ikut serta dalam kegiatan-kegiatan sosial dan keagamaan yang ada di masyarakat, seperti kegiatan khitanan masal setiap tahun, santunan anak yatim, zakat fitrah, Idul Adha, dan kita menerjunkan murid-murid ke masyarakat. Sehingga masyarakat betul-betul merespon,” katanya.&lt;br /&gt;Selain itu, di Darul Musthofa Karangpandan, ia juga mengadakan pengajian rutin mingguan khusus ibu-ibu. Serta pembacaan Ratibul Haddad tiap selapan (tiap Minggu Pon) yang dihadiri oleh masyarakat setempat.    &lt;br /&gt;Menurut Habib Sholeh, tantangan dalam berdakwah di pesantren justru bukan dari luar, namun secara prinsip tantangan itu pada diri sendiri. “Asal kita punya niat bersungguh-sungguh dan semangat yang istiqamah serta ikhlas. Insyaallah tidak ada tantangan,” katanya.&lt;br /&gt; Dakwah, lanjutnya, haruslah dilandasi dengan prinsip kasih sayang. Bahkan terhadap orang-orang yang memusuhi kita pun, wajib kita sayangi karena orang-orang yang memusuhi dakwah itu karena belum paham. ”Terhadap orang yang memusuhi,  kita datangi dan kasih hadiah. Dengan adanya silaturahim akhirnya mereka dari memusuhi, paling tidak menjadi pasif. Sampai akhirnya bisa jadi simpatik,” katanya.    &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;AST&amp;nbsp;&lt;a href='http://picasa.google.com/blogger/' target='ext'&gt;&lt;img src='http://photos1.blogger.com/pbp.gif' alt='Posted by Picasa' style='border: 0px none ; padding: 0px; background: transparent none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: initial; -moz-background-origin: initial; -moz-background-inline-policy: initial;' align='middle' border='0' /&gt;&lt;/a&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22828176-117323799598381059?l=ajisetiawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajisetiawan.blogspot.com/feeds/117323799598381059/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22828176&amp;postID=117323799598381059' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22828176/posts/default/117323799598381059'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22828176/posts/default/117323799598381059'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajisetiawan.blogspot.com/2007/03/penerjemah-handal-dari-surakarta.html' title='Penerjemah Handal dari Surakarta'/><author><name>Aji Setiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14411902879772066714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://photos1.blogger.com/x/blogger/1979/2328/640/163197/Aji1.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22828176.post-117245701842420898</id><published>2007-02-26T09:28:00.000+07:00</published><updated>2007-02-26T09:30:18.483+07:00</updated><title type='text'>Habib Alwi bin Ali Al-Habsyi Solo</title><content type='html'>&lt;A HREF='http://photos1.blogger.com/x/blogger/1979/2328/640/748285/Alwi-bin-Ali-Al-Habsyi.jpg'&gt;&lt;IMG SRC='http://photos1.blogger.com/x/blogger/1979/2328/320/291753/Alwi-bin-Ali-Al-Habsyi.jpg' border=0 alt='' style='display:block;margin 0px auto 10px; cursor:hand; text-align:center'&gt;&lt;/A&gt;&amp;nbsp;&lt;br /&gt;Dai Yang Pandai Berkisah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dai alumni dari Darul Musthafa yang satu ini dalam berdakwah banyak menyanmpaikan kisah-kisah teladan dari kaum salafus shalih. Menurutnya metode ceramah demikian lebih banyak menyentuh dan berkesan pada jamaah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dai ini dalam berdakwah lebih banyak berkisah dan menitikberatkan penataan akhlaq dan contoh-contoh tauladan dari kaum salafus salihin. Tak heran dengan cara dakwah yang demikian banyak jemaah yang lebih cepat menyerap kalam dan nasehat yang disampaikannya.  &lt;br /&gt;Dai yang satu ini bernama lengkap Habib Alwi bin Ali bin Alwi bin Ali Al-Habsyi adalah putra tertua dari Habib Ali Al-Habsyi. Pria yang sedari kecil mengenyam pendiidkan dasar di Kota Surakarta ini dilahirkan pada 31 Maret 1970. &lt;br /&gt;Ketika masih sekolah dasar, teman-teman dan guru-gurunya sampai bingung menyebut nama Habib Alwi dan Ali karena kadang menyebutnya juga sampai terbalik-balik. Akhirnya salah seorang gurunya memanggilnya Habib “Alwi Kuadrat”. &lt;br /&gt;Ayah dari Habib Alwi, Habib Ali Al-Habsyi tentu punya alasan tersendiri untuk menamai sang putra sulungnya itu dengan harapan Habib Alwi paling tidak maqam dan kecakapan ilmu pengetahuannya mewarisi seperti kakek buyutnya yakni Habib Alwi bin Ali Al-Habsyi. Untuk mencapai makam dan kedukan mulia seperti datuk-datuknya itulah, Habib Alwi sejak usia kanak-kanak telah ditanamkan pendidikan agama secara intensif oleh kedua orang tuanya dan beberapa Habaib dan alim ulama yang ada di kota bengawan itu. &lt;br /&gt;Sejak usia muda ia telah belajar pada Habib Abubakar Assegaff yang tidak lain adalah putra tertua dari Habib Muhammad bin Abubakar Assegaf (Gresik). Kebetulan saat itu Habib Abubakar tinggal bersama sang ibundanya berdekatan dengan kediamannya yang terletak di Jl Kaliwidas. &lt;br /&gt;Kira-kira sampai umur remaja ia menyerap berbagai ilmu agama, terutama tentang Sirah (riwayat para  salafus shalihin). Selain itu ia berguru pada Habib Anis Al-Habsyi yang tidak lain adalah sang paman yang banyak berdakwah. Setelah sang gurunya wafat, ia juga masih berguru secara tabarrukan pada Habib Ahmad bin Ali Alattas (Pekalongan), Husein bin Abubakar Assegaf (Bangil), Habib Anis Al-Habsyi, Ustadz Abubakar Al-Habsyi (Solo), Habib Ali bin Idrus Al-Habsyi, Syeikh Ahmad Salmin Daoman, dan lain-lain.&lt;br /&gt;Selepas menempuh pendidikan sampai tingkat Aliyah di Madrasah Aliyah I Ronggowongso, Surakarta. Ia sebenarnya ingin melanjutkan ke Hadramaut, namun nasib belum mentaqdirkannya berangkat. Saat itu Habib Umar Al-Hafidz datang ke Surakarta pada 1993 menjemput para santri dari Indonesia untuk belajar di Darul Musthafa. Ketika pertama kali bertemu dengan Habib Umar Al-Hafidz, ada perasaan bahagia yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. “Kau harus jadi murid saya di Hadramaut,” kata Habib Umar Al-Hafidz kala itu.    &lt;br /&gt;“Saya belum ditakdirkan Allah SWT untuk berangkat ke sana. Padahal saya mendambakan betul. Namun ketidakberangkatan itu justeru membuat semangat berkobar-kobar saat itu untuk belajar lebih giat lagi,” kata Habib Alwi.&lt;br /&gt;Ia kemudian melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi di IAIN Sunan Kalijaga, Jogjakarta pada jurusan Sastra Arab, Fakultas Adab dan lulus 1997. Selama menempuh kuliah di IAIN, Habib Alwi bergabung dalam organisasi Al-Amin yang mayoritas diikuti oleh mahasiswa dari kalangan habaib yang menempuh pendidikan di kota pelajar, saat itu Jamaah Al-Amin diketuai Habib Syekh Bagir bin Smith.Setelah menggondol gelar sarjana 1997, ia masih sempat bertabarukan dengan beberapa habaib yang ada di Pulau Jawa. &lt;br /&gt;Semangatnya belajar ke Darul Musthafa itu ternyata masih berkobar, hingga suatu waktu ia bersama menunaikan umrah ke Mekkah dengan sang Ayah, Habib Ali bin Alwi Al-Habsyi dan dan misannya yakni Ali bin Idrus Al-Habsyi pada 1998. Mereka selepas umrah, menyempatkan berkunjung ke Pesantren yang terkenal menjadi benteng Ahlussunnah Waljamaah itu. Dan ketika singgah di Darul Musthafa, mengantarkannya diterima sebagai pelajar di Pondok Darul Musthafa, Tarim pimpinan Habib Umar bin Hafidz.  &lt;br /&gt;Ia beruntung saat di Hadramaut bisa bertemu sekaligus belajar dengan dengan para alim ulama yang ada di hadramaut, seperti Habib Mashur, Syekh Ali Al-Khatib, Syekh Muhammad Ba’audan, Syekh Abdurrahman Bafadal, Habib Hasan As-Syatiry, Habib Salim As-Syatiry dan lain-lain,”Saya bertemu dengan mereka, saya seakan-akan bukan di dunia. Namun di dalam surga Allah SWT. Kok tidak ada orang seperti mereka, yang begitu alim dan tawadhu,”kata Habib Alwi. &lt;br /&gt;Pendidikan pesantren Darul Musthafa ia tempuh dalam 2,5 tahun sebab sebagian kitab-kitab yang diajarkan di sana sudah ia pelajari di tanah air. Kebetulan kitab semacam Alfiah (nahwu) dan Minhaj (fikih) sudah ia pelajari di Indonesia. Kitab-kitab yang disenangi saat itu adalah Jurumiah, Mutmamimmah (nahwu) serta Risayatul Jami’ah, Zubat, Aliyah Kutu Nafis (fikih). Ia juga menggemari membaca kitab-kitab kalam dan nasehat dari salafus shalih serta tidak ketinggalan sirah Nabawiyah karangan Ibnu Hisyam. &lt;br /&gt;Sekalipun di Hadramaut dalam waktu yang relatif singkat, ia mengaku mepunyai pengalaman yang berkesan saat Habib Umar mengutusnya untuk berdakwah ke Dauan, sebuah kota yang letaknya dekat dengan kuburan Hadun, anak Nabi Hud AS November 1999. Selama 50 hari Habib Alwi hanya ditemani Abdullah Sathuf. Padahal medan dakwah yang mereka hadapi adalah daerah yang tidak mengenal agama sama sekali dan penduduknya berkomunikasi dengan bahasa yang ‘logat’ nya berbeda dengan bahasa arab pada umumya.&lt;br /&gt;Dan yang lebih memprihatinkan lagi adalah daerahnya sangat panas, keadaan kering dan tidak ada air. Sekalipun ada sumber air, mereka harus menempuh jarak sampai 5 kilometer jalan kaki. Namun,  ia menemukan tantangan dalam berdakwah, ketika itu ia mendekati anak-anak muda.Sampai akhirnya masa dakwahnya itu digantikan oleh Habib Husein bin Nadjib Al-Haddad (Surabaya).&lt;br /&gt;Dai yang lebih suka berkisah selama berdakwah ini ternyata mengagumi Habib Munzir Al-Musawa, pengasuh majelis Rasulullah SAW.“Beliau dalam menyampaikan sesuatu itu tidak bertele-tele namun menyentuh pada jamaah. Dari cara berpakaian dan bicara saja sudah mengundang orang untuk berbuat baik,” kata Habib Alwi.&lt;br /&gt;Selepas dari Hadramaut, ia kemudian membuka Majelis Taklim Al-Hidayah. Ada dua progam yang telah dibuka, yakni program mukim (menginap) dan khorijin (reguler). Ada pun  pelajaran kitab yang diajarkan Risatul Jami’ah, Dhahiratul Musyarofah, Syafinatul Najah, Mukhtasar Shahir. Setiap santri pemula diwajibkan menghafal kitab Jurmiyah (Nahwu) sementara untuk mematangkannya disarankan menghafal kitab Imriti dan Alfiyah.&lt;br /&gt;Ia juga masih mengelola sekitar 5 majelis taklim yang rutin di kota Solo. Seperti di Masjid Assegaf pada tiap hari Senin ba’da Maghrib dengan materi hadits dari kitab Nurul Imam karangan Habib Umar bin Hafidz, Majelis An-Nisa setiap hari Sabtu di Darud Da’wah yang berisi fikih wanita, Majelis Habib Syeikh bin Abdul Qadir Assegaf tiap Rabu malam ba’da Isya, Majelis Baitu Syakur tiap dua minggu sekalidengan mauidhah hasanah tentang tasawuf dan di Studio dengan materi kitab hadits Arbain Al-Nawawiyah.&lt;br /&gt;Selain berdakwah lewat berbagai taklim Habib Alwi ternyata pernah menulis Kitab Asyabilul Wadih Finugbathin Mina Tartib Al-Khutub Al-Fatih karangan Habib Syekh Abubakar bin Muhammad Assegaf dan sekarnag telah dicetak ulang. Yang kedua ia juga menulis kumpulan dzikir dan wirid-wirid ba’da shalat. Ada keinginan besarnya yang sampai saat ini belum dituntaskan yakni menulis kitab Ihya Ulimiddin dengan tangan nya sendiri dan saat ini baru  sampai pada jilid pertama.&lt;br /&gt;Untuk menempanya menjadi pendakwah yang mumpuni, ia banyak mendengarkan kaset-kaset dari ulama dan nasehat-nasehat Habib Abdul Qadir bin Abdullah Assegaf, Jeddah. Selain itu ia banyak membaca kitab fikih dan nahwu secara ototidak. Ia juga tak segan-segan bertanya pada orang-orang yang lebih alim. Sementara kitab lain yang sering dibacanya adalah kitab tasawuf seperti Ihya Ulimiddin, Bidayatul Hidayah dan kalamul Habaib.&lt;br /&gt;”Kalam (nasehat) habib Ali Al-Habsyi yang berjudul Ankunuzus Sa’adah al Abadiyah fi Anfasil Habsyiah. Biasanya saya baca saat menjelang tidur malam dan tujuannya lebih untuk menasehati diri pribadi, karena sifatnya duduk santai,” kata Habib Alwi.&lt;br /&gt;Nesehat yang paling berkesan dari Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi adalah tentang permasalahan qalbu(hati) dan khusnudhan(prasangka baik). “Ini juga mendidik pribadi karena banyak menitikberatkan pada i’tibba Nabi pada khususn, kedua tentang khusnudhan (prasangka baik) dan birrul walidain (berbakti pada orang tua).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AST/ft. AST&amp;nbsp;&lt;a href='http://picasa.google.com/blogger/' target='ext'&gt;&lt;img src='http://photos1.blogger.com/pbp.gif' alt='Posted by Picasa' style='border: 0px none ; padding: 0px; background: transparent none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: initial; -moz-background-origin: initial; -moz-background-inline-policy: initial;' align='middle' border='0' /&gt;&lt;/a&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22828176-117245701842420898?l=ajisetiawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajisetiawan.blogspot.com/feeds/117245701842420898/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22828176&amp;postID=117245701842420898' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22828176/posts/default/117245701842420898'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22828176/posts/default/117245701842420898'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajisetiawan.blogspot.com/2007/02/habib-alwi-bin-ali-al-habsyi-solo.html' title='Habib Alwi bin Ali Al-Habsyi Solo'/><author><name>Aji Setiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14411902879772066714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://photos1.blogger.com/x/blogger/1979/2328/640/163197/Aji1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22828176.post-117245554321306818</id><published>2007-02-26T09:04:00.000+07:00</published><updated>2007-02-26T09:05:43.436+07:00</updated><title type='text'>Habib Hasan bin Umar Baagil  Surabaya</title><content type='html'>&lt;A HREF='http://photos1.blogger.com/x/blogger/1979/2328/640/497009/ASYIK.jpg'&gt;&lt;IMG SRC='http://photos1.blogger.com/x/blogger/1979/2328/320/848791/ASYIK.jpg' border=0 alt='' style='display:block;margin 0px auto 10px; cursor:hand; text-align:center'&gt;&lt;/A&gt;&amp;nbsp;&lt;br /&gt;Pengasuh Darul Mustafa Jawa Timur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain sering mengisi taklim di berbagai daerah pinggiran di Jawa Timur, Habib Hasan juga dikenal sebagai pengasuh Pondok Pesantren Al-Huda, salah satu cabang Ponpes Darul Mustafa, Tarim, Hadramaut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usianya baru 30 tahun, tapi reputasinya sebagai ulama dan muballigh sudah diakui oleh kaum muslimin di Surabaya. Ilmu agamanya pun cukup mendalam. Wajar, karena ia adalah salah satu alumnus Ponpes Darul Mustafa, Tarim, Hadramaut. Wajah ulama muda yang shaleh ini, selain ganteng, juga bersih. Tutur katanya halus, dengan gaya yang enak didengar. Seperti kebanyakan habib, ia pun memelihara jenggot, yang dibiarkannya terjurai. Kalau sedang memakai iqamah, ulama muda ini mirip Habib Munzhir Al-Musawa, pengasuh Majelis Taklim Rasulullah di Jakarta. &lt;br /&gt;Dialah Habib Hasan bin Umar Baagil, putra Habib Umar Baagil, salah seorang ulama yang terkenal di Surabaya. Habib Hasan juga dikenal sebagai pengasuh Ponpes Al-Huda, di Jln. K.H. Mas Mansyur 220 Surabaya. Ponpes Al-Huda bisa dikatakan satu-satunya cabang Pondok Darul Mustafa di Jawa Timur.&lt;br /&gt;Lahir di Surabaya, pada 28 Desember 1976, sejak kecil ia selalu berada di lingkungan yang taat beragama. “Sejak kecil saya sering diajak ke berbagai majelis taklim di Surabaya. Dari situ saya mendapat banyak manfaat, antara lain berkah dari beberapa kiai dan habib yang termasyhur,” kenang Habib Hasan. &lt;br /&gt;Bisa dimaklumi, sebab ayahandanya memang dikenal sebagai muballigh yang termasyhur pula. Pengalaman masa kecil itu juga yang mendorongnya selalu memperdalam ilmu agama. “Ketika masih kecil, saya pernah dititipkan ke Ponpes Darut Tauhid di Malang untuk belajar agama. Di Malang, sehari-hari saya tekun belajar agama. Pengalaman yang sungguh mengesankan,” ujarnya dengan senyum khasnya.&lt;br /&gt;Di Ponpes Darut Tauhid ini ia menyelesaikan sekolah sampai tingkat SMA. Sepulangnya dari Malang, ia memperdalam agama pada Ustadz Ahmad Baraja Surabaya. Selama di majelis taklim Ustadz Ahmad Baraja, ia juga sempat belajar pada ayahanda, sang Ustadz Umar bin Ahmad Baraja. ”Beliau adalah salah seorang ulama di kota ini. Cara mengajarnya mengesankan.” &lt;br /&gt;Kemudian, pada 1995 ia berangkat ke Hadramaut dan belajar di Ribath Habib Umar bin Hafidz. Habib Umar bin Hasan sangat bersyukur bisa belajar di pesantren yang mencetak ribuan santri muda terkemuka di seluruh dunia ini serta menjadi benteng Madzhab Syafi’i di Yaman. Muridnya berdatangan dari mana-mana, termasuk Indonesia. “Alhamdulillah, selama di Hadramaut, kami dididik ilmu zhahir dan batin. Gemblengan ilmu agama, seperti fiqih dan tasawuf, sangat ditekankan,” tuturnya.&lt;br /&gt;Selama di Hadramaut, Habib Umar bin Hasan mendapat bimbingan dari Habib Umar bin Hafidz, Habib Abdullah As-Shahab, Habib Salim Asy-Syathiry, dan Habib Hasan Syathiry. Namun guru yang paling berkesan baginya selama di sana adalah Habib Umar bin Hafidz. Habib Umar, menurutnya, bukan  sekadar guru biasa, tapi juga sumber inspirasi. “Kalau beliau sedang memberikan wejangan, sangat menyentuh hati, terutama saat berbicara di majelis Maulid,” kata Habib Hasan.&lt;br /&gt;Dan yang paling mengesankan dari sang guru adalah semangatnya dalam berdakwah. “Hampir setiap Senin malam membuat pengajian terbuka yang dinamakan Jalsatul Isnain. Pengajian ini unik, sebab dilaksanakan di jalan raya, yang dihadiri masyarakat kota Tarim,” tambahnya.&lt;br /&gt;Santri-santri dari Indonesia yang ada di Ribath Tarim, di antaranya, Habib Jindan bin Novel bin Salim bin Jindan, Habib Munzhir Al-Musawa, Habib Ahmad bin Novel, Habib Soleh Al-Jufry (Surakarta).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiblat Pelajaran&lt;br /&gt;Selepas lulus dari Darul Mustafa tahun 2003, ia menetap di Surabaya. Ia langsung mengajar di Pesantren Al-Huda, yang saat itu masih diasuh oleh sang ayah. “Dan, karena Ponpes Al-Huda merupakan cabang Ponpes Darul Mustafa Tarim Hadramaut yang ada di Jawa Timur, arah dan kiblat pelajaran Al-Huda sama persis seperti Pondok Darul Mustafa Hadramaut,” ujar bapak satu putra ini.&lt;br /&gt;Untuk menjadi santri Al-Huda, ada beberapa syarat utama. Selain punya kemauan kuat untuk belajar menuntut ilmu bidang fiqih, nahwu, dan hadits, calon santri juga harus sudah bisa memahami berbicara dan menulis bahasa Arab dengan baik. “Syarat utama menjadi santri di Pondok Al-Huda ini adalah umur santri di atas empat belas tahun, laki-laki, bisa membaca Al-Quran, dan mendapat izin dari orangtua atau wali santri,” katanya.&lt;br /&gt;Di Pesantren Al-Huda, para santri mempelajari kitab secara berjenjang, dari yang yang mudah hingga yang paling puncak. Misalnya, dalam ilmu fiqih, para santri mempelajari kitab Risalatul Jami`ah, Safinatun Naja, Al-Muqaddimah Al-Hadramiyyah, Matan Abi Suja’, Az-Zubad, Yaqutun Nafis, `Umdatus Salik, hingga Minhajuth Thalibin, sering disebut salah satu puncak kitab ilmu fiqih Madzhab Syafi’i.&lt;br /&gt;Dalam program bahasa Arab, mereka mempelajari kitab Al-Ajurumiyyah,  Mutammimatul Ajurumiyyah, dan Alfiyyah Ibni Malik. Sementara untuk tauhid, para santri mengkaji kitab Aqidatul `Awam, Al-Aqidah, karya Imam Abdullah bin Alwi Al-Haddad. Dan, dalam bidang hadis, mereka membedah kitab Mukhtarul Ahadis, karya Habib Umar bin Hafidz, dan Arba`in An-Nawawiyyah (empat puluh hadits himpunan Imam Nawawi). Khusus untuk tasawuf, para santri menelaah kitab Risalatul Mu`awanah dan karya-karya lain Habib Abdullah Al-Haddad, serta Bidayatul Hidayah dan Ihya Ulumiddin, karya Imam Ghazali.&lt;br /&gt;Pada perkembangan terakhir, para santri juga mendapat pendidikan keterampilan menggunakan komputer dan latihan pidato. “Ini semua untuk meningkatkan keterampilan santri dalam mengembangkan dakwah,” tambah Habib Hasan. &lt;br /&gt;Selain disibukkan sebagai pengajar Pondok Al-Huda, Habib muda ini juga berdakwah ke masyarakat. Ia dikenal sebagai dai yang banyak disukai kalangan muda, karena materi dakwahnya sering menyentuh persoalan remaja, seperti narkoba, kenakalan remaja, dan lain-lain. Pada setiap hari Senin, Habib Hasan pagi membuka taklim di rumahnya yang diikuti  masyarakat sekitar kawasan Kapasan (Jln. K.H. Mas Mansyur), dan tentu saja para santri dari Ponpes Al-Huda.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;AST/Ft. AST&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Caption:&lt;br /&gt;1. Habib Hasan bin Umar Baagil&lt;br /&gt;2. Habib Hasan bersama santri-santrinya. Calon ulama masa depan &lt;br /&gt;3. Santri-santri Al-Huda belajar komputer. Membekali diri menjadi dai yang tangguh&lt;br /&gt;4. Pondok Pesantren Al-Huda. Cabang Darul Mustafa di Jawa Timur&amp;nbsp;&lt;a href='http://picasa.google.com/blogger/' target='ext'&gt;&lt;img src='http://photos1.blogger.com/pbp.gif' alt='Posted by Picasa' style='border: 0px none ; padding: 0px; background: transparent none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: initial; -moz-background-origin: initial; -moz-background-inline-policy: initial;' align='middle' border='0' /&gt;&lt;/a&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22828176-117245554321306818?l=ajisetiawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajisetiawan.blogspot.com/feeds/117245554321306818/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22828176&amp;postID=117245554321306818' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22828176/posts/default/117245554321306818'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22828176/posts/default/117245554321306818'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajisetiawan.blogspot.com/2007/02/habib-hasan-bin-umar-baagil-surabaya.html' title='Habib Hasan bin Umar Baagil  Surabaya'/><author><name>Aji Setiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14411902879772066714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://photos1.blogger.com/x/blogger/1979/2328/640/163197/Aji1.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22828176.post-117100181670828293</id><published>2007-02-09T13:15:00.000+07:00</published><updated>2007-02-09T13:16:56.956+07:00</updated><title type='text'>Wawancara dengan Habib Umar</title><content type='html'>&lt;A HREF='http://photos1.blogger.com/x/blogger/1979/2328/640/490910/Bersama-Habib-Umar-Al-Hafid%20Cilik.jpg'&gt;&lt;IMG SRC='http://photos1.blogger.com/x/blogger/1979/2328/320/94048/Bersama-Habib-Umar-Al-Hafid%20Cilik.jpg' border=0 alt='' style='display:block;margin 0px auto 10px; cursor:hand; text-align:center'&gt;&lt;/A&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;a href='http://picasa.google.com/blogger/' target='ext'&gt;&lt;img src='http://photos1.blogger.com/pbp.gif' alt='Posted by Picasa' style='border: 0px none ; padding: 0px; background: transparent none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: initial; -moz-background-origin: initial; -moz-background-inline-policy: initial;' align='middle' border='0' /&gt;&lt;/a&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22828176-117100181670828293?l=ajisetiawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajisetiawan.blogspot.com/feeds/117100181670828293/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22828176&amp;postID=117100181670828293' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22828176/posts/default/117100181670828293'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22828176/posts/default/117100181670828293'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajisetiawan.blogspot.com/2007/02/wawancara-dengan-habib-umar.html' title='Wawancara dengan Habib Umar'/><author><name>Aji Setiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14411902879772066714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://photos1.blogger.com/x/blogger/1979/2328/640/163197/Aji1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22828176.post-116970647467384732</id><published>2007-01-25T13:22:00.000+07:00</published><updated>2007-01-25T13:27:55.106+07:00</updated><title type='text'>Habib Syekh Al-Musawa Surabaya</title><content type='html'>&lt;A HREF='http://photos1.blogger.com/x/blogger/1979/2328/640/436374/Syekh%20Al%20Musawwa.jpg'&gt;&lt;IMG SRC='http://photos1.blogger.com/x/blogger/1979/2328/320/471117/Syekh%20Al%20Musawwa.jpg' border=0 alt='' style='display:block;margin 0px auto 10px; cursor:hand; text-align:center'&gt;&lt;/A&gt;&amp;nbsp;&lt;br /&gt;Guru para Kiai dan Habaib&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia dikenal sebagai guru para ulama dan habaib. Seperti ulama yang lain, masa mudanya dihabiskan untuk menuntut ilmu. Meski sudah berusia 85 tahun, ia masih membuka taklim di Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore itu langit cerah. Suasana di sekitar sebuah gedung di perkampungan Arab Jalan Kalimasudik II Surabaya tampak lengang. Melalui lorong gang sempit di kawasan yang tak jauh dari kompleks Ampel, alKisah sempat berziarah ke rumah Habib Syekh bin Ahmad Al-Musawa, seorang ulama yang kini sudah berusia 85 tahun. Dulu, ia dikenal sebagai muballigh di berbagai majelis taklim di Jakarta. Bisa dimaklumi jika cukup banyak santrinya yang kini menjadi ulama di Jakarta, seperti K.H. Abdurrahman Nawawi, K.H. Thoyib Izzi, K.H. Zain, dan lain-lain.&lt;br /&gt;       Lahir di Purwakarta, Jawa Barat, pada 1921, Habib Syekh Al-Musawa putra pasangan Habib Ahmad bin Muhammad Al-Musawa dan Sayidah Sa’diyah. Sejak kecil, putra kedua dari tiga bersaudara ini dididik langsung oleh ayahandanya, seorang ulama yang cukup terkenal di masanya. Pada 1930, menginjak usia sembilan tahun, ia belajar ke sebuah rubath (pesantren) di Tarim, Hadramaut. Di sana ia berguru kepada Habib Ahmad bin Umar Asy-Syathiry, pengarang kitab Al-Yaqut an-Nafis, dan Habib Abdullah bin Umar Asy-Syathiry, pengasuh Rubath Tarim. Ia belajar fiqih, tafsir, nahwu, sharaf, balaghah, dan tasawuf, selama 10 tahun. &lt;br /&gt;       Namun yang paling ia senangi ialah tasawuf. ”Pelajaran tasawuf sangat saya senangi, karena merupakan salah satu jalan manusia mendekatkan diri kepada Allah SWT. Tasawuf juga menganjurkan orang menjadi bijaksana dan lebih berakhlak,” kata Habib Syekh bin Ahmad Al-Musawa. Selain itu, menurut dia, tasawuf mudah dipelajari – baik dalam keadaan senang maupun susah. Maka ia pun dengan tekun mempelajari kitab tasawuf karya Imam Ghazali, seperti Ihya’ Ulumiddin, Bidayah al-Hidayah, dan lain-lain. &lt;br /&gt;       Semangat belajarnya yang tinggi membawanya belajar ke Makkah Al-Mukarramah. Meski waktu itu Timur Tengah tak lepas dari imbas suasana Perang Dunia I, tekadnya yang besar tak menyurutkan langkahnya menuju Makkah. Di tengah kecamuk perang itulah, dengan mengendarai unta ia berangkat dari Tarim ke Makkah. Di tengah perjalanan Habib Syekh Al-Musawa terpaksa singgah di beberapa desa, bahkan sempat pula mengajar di perkampungan Arab Badui. Bisa dimaklumi jika perjalanan itu makan waktu sekitar dua bulan.&lt;br /&gt;       Di Tanah Suci, ia langsung belajar kepada Sayid Alwy bin Muhammad Al-Maliky. Bermukim di Makkah sekitar lima tahun, Habib Syekh bin Ahmad Al-Musawa juga berguru kepada Habib Alwy Shahab, Habib Abdulbari bin Syekh Alaydrus, dan Sayid Amin Al-Kutbi. Di Makkah, ia sempat bertemu para santri asal Indonesia, seperti Habib Ali bin Zain Shahab (Pekalongan), Habib Abdullah Alkaf (Tegal), Habib Abdullah Syami Alatas (Jakarta), Habib Husein bin Abdullah Alatas (Bogor). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islamic Centre&lt;br /&gt;Pada 1947 Habib Syekh Al-Musawa pulang, lalu menikah dengan Sayidah Nur binti Zubaid di Surabaya. Tak lama kemudian ia mengajar di Madrasah Al-Khairiyah, sambil berguru kepada Habib Muhammad Assegaf di Kapasan, Surabaya. Setelah gurunya itu wafat, ia menggantikan mengajar di majelis taklim almarhum. Tiga tahun kemudian Habib Syekh bin Ahmad Al-Musawa pindah ke Jakarta, mengajar setiap Minggu pagi di majelis taklim Kwitang yang diasuh oleh Habib Muhammad Alhabsyi selama enam tahun. Ia membantu Habib Muhammad membangun Islamic Centre Indonesia (ICI), antara lain berangkat ke beberapa negara Islam di Timur Tengah pada 1967 untuk mencari dana pembangunan ICI.&lt;br /&gt;        Setelah pembangunan ICI selesai, Habib Syekh Al-Musawa mengajar majelis taklim asuhan K.H. Muhammad Zein di Kampung Makassar, Kramat Jati, selama setahun. Dan sejak 1971 ia mengajar di Madrasah Az-Ziyadah asuhan K.H. Zayadi Muhajir selama 30 tahun. Setelah Kiai Muhajir wafat, Habib Syekh bin Ahmad Al-Musawa menggantikan almarhum mengasuh taklim sampai 2003. Selain mengajar di Az-Ziyadah, ia juga mengajar di majelis taklim Habib Muhammad bin Aqil bin Yahya di Jalan Pedati, Jakarta Timur. Bukan hanya itu, ketika itu ia juga mengajar di 30 majelis taklim lain di berbagai tempat di Jakarta.&lt;br /&gt;        Pada 2003, Habib Syekh Al-Musawa kembali ke Surabaya, tinggal di rumahnya yang sekarang di Jalan Kalimasudik II. Bapak delapan anak ini (dua putra, enam putri) sekarang lebih banyak beristirahat di rumah. Meski begitu, banyak santri dari sekitar Surabaya yang datang mengaji kepadanya. Ia mengajar fiqih, nahwu, sharaf, balaghah, tafsir, dan tasawuf.&lt;br /&gt;  Saat ini fisiknya memang sudah berubah. Dulu gagah dan tampan, kini agak kurus, sementara wajahnya tampak agak cekung. Hanya dua-tiga patah kata yang ia bisa ucapkan, itu pun tentu saja tak lagi lantang seperti dulu ketika masih muda, saat ia masih bergiat sebagai muballigh. Jalannya pun tak lagi gesit.&lt;br /&gt; Meski begitu, semangatnya untuk membangkitkan dakwah masih bergelora. Ia, misalnya, tetap menyampaikan tausiah, meski hanya kepada para tamunya. &lt;br /&gt;        Sorot matanya pun masih jernih, pertanda jiwa dan kalbunya bersih pula. Dengan segala keterbatasannya, Habib Syekh bin Ahmad Al-Musawa menerima tamu dengan hangat. Meski sulit berbicara, ulama yang selalu mengenakan gamis dan serban putih ini justru lebih sering menanyakan kondisi kesehatan tamunya. &lt;br /&gt;        Selain mengajar privat para santri yang datang ke rumah, ia masih sempat mengajar tasawuf di Majelis Burdah asuhan Habib Syekh bin Muhammad Alaydrus di Jalan Ketapang Kecil setiap Kamis sore sampai menjelang maghrib. Salah satu buah karyanya yang mutakhir ialah kitab Muqtathafat fi al-Masail al-Khilafiyyah (Beberapa Petikan Masalah Khilafiah). Dan kini, meski sudah agak uzur, ia masih bersemangat menyelesaikan sebuah kitab tentang pernikahan dalam pandangan empat ulama madzhab. &lt;br /&gt;AST/Ft. AST&amp;nbsp;&lt;a href='http://picasa.google.com/blogger/' target='ext'&gt;&lt;img src='http://photos1.blogger.com/pbp.gif' alt='Posted by Picasa' style='border: 0px none ; padding: 0px; background: transparent none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: initial; -moz-background-origin: initial; -moz-background-inline-policy: initial;' align='middle' border='0' /&gt;&lt;/a&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22828176-116970647467384732?l=ajisetiawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajisetiawan.blogspot.com/feeds/116970647467384732/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22828176&amp;postID=116970647467384732' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22828176/posts/default/116970647467384732'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22828176/posts/default/116970647467384732'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajisetiawan.blogspot.com/2007/01/habib-syekh-al-musawa-surabaya.html' title='Habib Syekh Al-Musawa Surabaya'/><author><name>Aji Setiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14411902879772066714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://photos1.blogger.com/x/blogger/1979/2328/640/163197/Aji1.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22828176.post-116963411034483166</id><published>2007-01-24T17:20:00.000+07:00</published><updated>2007-01-24T17:21:50.413+07:00</updated><title type='text'>KH. Maimoen Zubair</title><content type='html'>&lt;A HREF='http://photos1.blogger.com/x/blogger/1979/2328/640/632766/Mbah%20Maimun.jpg'&gt;&lt;IMG SRC='http://photos1.blogger.com/x/blogger/1979/2328/320/742576/Mbah%20Maimun.jpg' border=0 alt='' style='display:block;margin 0px auto 10px; cursor:hand; text-align:center'&gt;&lt;/A&gt;&amp;nbsp;&lt;br /&gt;Ulama Sepuh, Politisi Ampuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ulama sepuh ini sangat teguh dalam berpendirian, tapi di sisi lain ia juga sangat menghargai perbedaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kalangan para ulama Nahdlatul Ulama, bahtsul masail diniyyah (pembahasan masalah-masalah keagamaan) merupakan forum untuk berdiskusi, bermusyawarah, dan memutuskan berbagai masalah keagamaan mutakhir dengan merujuk berbagai dalil yang tercantum dalam kitab-kitab klasik. &lt;br /&gt; Dalam forum seperti itu, Pondok Pesantren Al-Anwar (di Desa Karangmangu, Sarang, Rembang, Jawa Tengah) sangat disegani. Bukan saja karena ketangguhan para santrinya dalam penguasaan hukum Islam, tapi juga karena sosok kiai pengasuhnya yang termasyhur sebagai faqih jempolan. Kiai yang dimaksud adalah K.H. Maimoen Zoebair.&lt;br /&gt;Meski sudah sangat sepuh, 78 tahun, alumnus Ma’had Syaikh Yasin Al-Fadani di Makkah itu masih aktif menebar ilmu dan nasihat kepada umat. Di sela-sela kegiatan mengajarkan kitab Ihya Ulumiddin dan kitab-kitab tasawuf lainnya kepada pada santri senior setiap ba’da subuh dan ashar, Mbah Maimoen, demikian ia biasa dipanggil, masih menyempatkan diri menghadiri undangan ceramah dari kampung ke kampung, dari masjid ke masjid, dari pesantren ke pesantren. &lt;br /&gt;Dalam berbagai ceramahnya, kearifan Mbah Maimoen selalu tampak. Di sela-sela tausiyahnya tentang ibadah dan muamalah, ia tidak pernah lupa menyuntikkan optimisme kepada umat yang tengah dihantam musibah bertubi-tubi.&lt;br /&gt;Ia memang ulama yang sangat disegani di kalangan NU, kalangan pesantren, dan terutama sekali kalangan kaum muslimin di pesisir utara Jawa. Ceramahnya sarat dengan tinjauan sejarah, dan kaya dengan nuansa fiqih, sehingga membuat betah jamaah pengajian untuk berlama-lama menyimaknya.     &lt;br /&gt;Kiai sepuh beranak 15 (tujuh putra, delapan putri) ini memang unik. Tidak seperti kebanyakan kiai, ia juga sering diminta memberi ceramah dan fatwa untuk urusan nonpesantren. Rumahnya di tepi jalur Pantura tak pernah sepi dari tokoh-tokoh nasional, terutama dari kalangan NU dan PPP, yang sowan minta fatwa politik, nasihat, atau sekadar silaturahmi. Ia memang salah seorang sesepuh warga nahdliyin yang bernaung di bawah partai berlambang Ka’bah itu.&lt;br /&gt;Belum lagi ribuan mantan santrinya yang secara rutin sowan untuk berbagi cerita mengenai kiprah dakwah masing-masing di kampung halaman. Beberapa di antara mereka berhasil menjadi tokoh di daerah masing-masing, seperti K.H. Habib Abdullah Zaki bin Syaikh Al-Kaff (Bandung), K.H. Abdul Adzim (Sidogiri, Pasuruan), K.H. Hafidz (Mojokerto), K.H. Hamzah Ibrahim, K.H. Khayatul Makki (Mantrianom, Banjarnegara), K.H. Dr. Zuhrul Anam (Leler, Banyumas), dan masih banyak lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiai Gaul&lt;br /&gt;K.H. Maimoen adalah putra K.H. Zoebair, ulama besar di kawasan Pantura Jawa Tengah dan bagian barat Jawa Timur. Lahir di Dusun Karangmangu, Sarang, pada bulan Oktober 1928, ia anak pertama sulung dari 14 bersaudara. Meski keturunan ulama besar, Maimoen tidak dibesarkan di menara gading yang terpisah dari lingkungannya. Orangtuanya justru mendidiknya agar membaur ke dalam masyarakat. &lt;br /&gt;Dari pergaulan dengan teman-teman sepermainan yang rata-rata santri kampung itulah, ia belajar sebagai kiai yang bergaul luas dan demokratis. “Para santri kan sangat heterogen. Kelebihan seseorang diukur berdasarkan penguasaan ilmu yang pasti tidak berkaitan dengan ras, suku, pangkat, atau nasab. Semua sama. Siapa yang tekun, pasti akan mendapat ilmu. Man jadda wajada (siapa yang bersungguh-sungguh akan mendapatkan),” katanya.&lt;br /&gt;Sejak kecil, setiap hari, usai belajar di madrasah ibtidaiyah di kompleks pesantren, ia diwajibkan mengaji kepada ayahanda di masjid. Jangan heran jika, di usianya yang relatif masih muda, Maimoen telah mewarisi pengetahuan agama ayahandanya. Santri yang pernah belajar kepada ayahandanya dan kini menjadi tokoh nasional, antara lain, K.H. Sahal Mahfudz, K.H. Hasyim Muzadi. &lt;br /&gt;Selain mengajarkan ilmu agama, Kiai Zoebair juga membekali putranya itu dengan pengetahuan umum, seperti ilmu-ilmu sosial, politik, dan ekonomi – sesuatu yang tak lazim di kalangan pesantren yang saat itu tengah gencar-gencarnya melakukan gerakan non-kooperatif terhadap penjajah Belanda.&lt;br /&gt;Sejak berusia tujuh tahun, Maimoen sudah diperkenalkan dengan dunia buku oleh orangtuanya, terutama buku-buku terbitan Balai Pustaka, Jakarta. Sejak itulah ia mencintai dan menghargai ilmu pengetahuan, tanpa membedakan pengetahuan agama atau pengetahuan umum. &lt;br /&gt;Usai menamatkan madrasah (1943), ia melanjutkan pengajiannya ke Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri (1944-1948). Di sana ia sangat terkesan pada metode mengajar salah seorang gurunya, K.H. Abdul Karim. “Beliau sangat tekun dalam mengajar. Sampai sekarang metode mengajar beliau saya tiru dalam mengajarkan kitab kuning kepada para santri,” katanya. Selepas mengaji di Lirboyo, dua tahun berikutnya ia kembali mengaji di rumah.&lt;br /&gt;Pada 1950 ia menunaikan ibadah haji ke Makkah, sekaligus menimba ilmu agama kepada para Haramain, seperti Sayid Alwi Al-Maliki Al-Hasani, Syaikh Amin Kutbi, Sayid Hasan Masdah, dan Syaikh Yasin Al-Fadani. Pada akhir 1952 ia pulang ke kampung halamannya, lalu mengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar, Sarang, Rembang, Jawa Tengah, hingga kini.&lt;br /&gt;Selain mengajar dan berdakwah, ia masih sempat menulis kitab taqrirat (penetapan hukum suatu masalah) dan syarah (komentar atas kitab salaf). Kitab yang dibuatkan taqrirat olehnya, antara lain, Jawharut Tauhid, Ba’dul ‘Amali, Alfiyah. Sedangkan kitab yang dibuatkan syarah, Syarah ‘Imriti. Semuanya dicetak dalam jumlah terbatas untuk kalangan Pesantren Al-Anwar.&lt;br /&gt;Sebagaimana kebanyakan para kiai Jawa Timur, Mbah Maimoen juga aktif di Nahdlatul Ulama. Berbagai jabatan pernah diembannya, mulai dari ketua ranting NU Desa Karangmangu (1950), sampai anggota Syuriah PBNU pada periode kepemimpinan K.H. Ahmad Siddiq Jember (1984-1989).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rahim Keragaman &lt;br /&gt;Bukan hanya sebagai kiai, ia juga dikenal sebagai politisi yang teguh dengan pendiriannya. Ketika banyak ulama NU hijrah ke Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), ia tetap berjuang di Partai Persatuan Pembangunan (PPP) bersama beberapa ulama NU yang lain, seperti (alm.) K.H. Syafi’i Hadzami (Jakarta), K.H. Alawy Muhammad At-Taroqy (Sampang, Madura), K.H. Muhammad Hasan Syaiful Islam (Genggong, Probolinggo), K.H. Fawa’id As’ad Syamsul Arifin (Asembagus, Situbondo), dan K.H. Thoyfoer M.C. (Rembang). &lt;br /&gt;Menurut kiai sepuh ini, perbedaan pendapat dalam tubuh NU adalah hal yang biasa, bahkan sudah merupakan ciri khas. “Yang terpenting, bagaimana kita menyikapinya secara arif, dan menyadari bahwa beda pendapat adalah sunatullah. Dalam berpolitik, NU telah memilih Khittah 1926, tapi tidak bisa melarang warganya untuk berpolitik. NU tidak ke mana-mana, tapi ada di mana-mana,” katanya. &lt;br /&gt;Ia lalu memberi contoh: K.H. Hasyim Asy’ari dan K.H. Faqih Mas Kumambang adalah dua kiai yang bisa bersatu dalam perbedaan. Ketika Kiai Hasjim, yang saat itu menjabat rais am PBNU, menganjurkan memukul kentongan setiap kali datang waktu shalat, K.H. Faqih Mas Kumambang, yang saat itu wakil rais am PBNU, berpendapat sebaliknya. “Namun, perbedaan itu tidak membuat hubungan mereka menjadi renggang,” tambahnya.&lt;br /&gt;Di lingkungan PPP, Kiai Maimoen juga pernah mengemban berbagai jabatan, mulai dari tingkat ranting hingga tingkat pusat. Jabatan yang hingga kini masih diembannya ialah ketua Majelis Pertimbangan Partai PPP (MPP PPP), yang bertugas memberikan fatwa kepada Pengurus Harian Pusat PPP (PHP PPP), yang kini masih dipimpin oleh H. Hamzah Haz. Salah satu fatwa yang terkenal ialah agar Hamzah Haz tampil sebagai wakil presiden periode 2001-2004 lalu. &lt;br /&gt;“Kekuasaan tidak bisa baik jika ulama tidak terlibat dalam mewujudkan situasi kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat yang kondusif. Kekuasaan tidak bisa baik tanpa ikut sertanya ulama, yang membantu pelaksanaan terwujudnya negara aman dan tenang. Demikian pula sebaliknya,” kata Mbah Maimoen.&lt;br /&gt;Ia meyakini, krisis multidimensi yang kini berkepanjangan di Indonesia bisa diakhiri jika kehidupan beragama dikembangkan terus-menerus, terutama oleh kalangan pesantren. “Pondok pesantren adalah kelompok pendidikan yang meluluskan para santri untuk hidup mandiri, tidak menjadi beban penguasa. Mereka memiliki tanggung jawab untuk melakukan pembinaan umat agar hidup berlandaskan ketaqwaan. Ketaqwaan merupakan sarana untuk mengatasi berbagai kesulitan hidup,” tambahnya.&lt;br /&gt;Menurutnya, tantangan terbesar dalam berdakwah saat ini ialah mengembalikan umat kepada agama, tanpa membedakan-bedakan golongan atau partai. Dengan nada suara yang sejuk, ia menyampaikan nasihat, “Mayoritas bangsa kita beragama Islam, dan tidak bisa ditekan atau digiring dalam satu partai. Partai boleh berbeda, tapi harus saling menghargai. Dari rahim keragaman inilah akan lahir kekuatan besar untuk mengatasi persoalan bangsa sekarang ini.”  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;AST/Ft. AST&amp;nbsp;&lt;a href='http://picasa.google.com/blogger/' target='ext'&gt;&lt;img src='http://photos1.blogger.com/pbp.gif' alt='Posted by Picasa' style='border: 0px none ; padding: 0px; background: transparent none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: initial; -moz-background-origin: initial; -moz-background-inline-policy: initial;' align='middle' border='0' /&gt;&lt;/a&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22828176-116963411034483166?l=ajisetiawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajisetiawan.blogspot.com/feeds/116963411034483166/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22828176&amp;postID=116963411034483166' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22828176/posts/default/116963411034483166'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22828176/posts/default/116963411034483166'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajisetiawan.blogspot.com/2007/01/kh-maimoen-zubair.html' title='KH. Maimoen Zubair'/><author><name>Aji Setiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14411902879772066714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://photos1.blogger.com/x/blogger/1979/2328/640/163197/Aji1.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22828176.post-116963344219265036</id><published>2007-01-24T17:08:00.000+07:00</published><updated>2007-01-24T17:10:45.210+07:00</updated><title type='text'>Habib Soleh Alyadrus. Malang</title><content type='html'>&lt;A HREF='http://photos1.blogger.com/x/blogger/1979/2328/640/583964/Fscn1023.jpg'&gt;&lt;IMG SRC='http://photos1.blogger.com/x/blogger/1979/2328/320/77718/Fscn1023.jpg' border=0 alt='' style='display:block;margin 0px auto 10px; cursor:hand; text-align:center'&gt;&lt;/A&gt;&amp;nbsp;&lt;br /&gt;Pakar Hadits Kota Malang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Habib Soleh bin Ahmad bin Salim Alaydrus rajin menyampaikan tausiah di sejumlah masjelis taklim di Jawa Timur. Dia dikenal sebagai salah satu pengajar ilmu hadits yang mumpuni dari kota Malang.     &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Reputasinya sebagai ulama dan muballigh sudah diakui kaum muslimin di Jawa Timur. Ilmu agamanya pun cukup mendalam. Wajah ulama yang shaleh ini selalu tampak bersih, tutur katanya halus dan dengan gaya bertutur yang enak didengar. Dia dikenal sebagai pakar hadits yang mumpuni dari kota Malang. Selain rajin memberi ceramah di berbagai tempat, ia juga berstatus sebagai pengajar tetap Pondok Pesantren Darul Hadits Al-Faqihiyyah Malang, Jawa Timur.     &lt;br /&gt;Dialah Habib Soleh bin Ahmad bin Salim Alaydrus, yang lahir di Malang, 18 Juni 1957. Sejak kecil dia selalu berada di lingkungan yang taat beragama. Pendidikan dasar Habib Soleh terasah sejak ia masuk Madrasah Ibtidaiyah At-Taroqi, Malang, yang dikelola ayahnya, Habib Ahmad bin Salim Alaydrus. “Ayah adalah orang yang betul-betul mencintai pendidikan. Hampir 30 tahun hidupnya disumbangkan untuk Madrasah At-Taroqi,” kesan Habib Soleh. &lt;br /&gt;Selain cinta pendidikan, Habib Ahmad juga dalam kehidupan sehari-hari sangat sederhana. “Beliau adalah orang yang wara’, dan hanya mau makan dari hasil jerih payahnya sendiri. Ini yang sulit ditiru banyak orang pada zaman sekarang.”&lt;br /&gt;Selepas lulus dari madrasah, ia melanjutkan ke jenjang pendidikan Tsanawiyah di Ponpes Darul Hadits Al-Faqihiyyah Malang. Pada pondok pesantren ini ia mempelajari dasar-dasar ilmu hadits dari Habib Abdullah bin Abdul Qadir bin Bilfagih. Banyak kesan selama ia menimba ilmu di ponpes yang berdiri sejak 12 Rabiul Awal 1364 H/12 Februari 1945 ini.&lt;br /&gt;Habib Soleh sangat mengagumi sang guru, Habib Abdullah bin Abdul Qadir bin Ahmad Bilfagih, yang sekaligus mertuanya. Ia memang dikenal sebagai muballigh yang termasyhur. “Habib Abdullah, menurut saya, sangat kuat dalam menghafal hadits. Ia hafal jutaan hadits serta sanad-sanadnya dan nama-nama kitab sekaligus halamannya,” ujarnya.&lt;br /&gt;Selepas dari Pondok Pesantren Darul Hadist Al-Faqihiyyah, Habib Soleh kemudian belajar di Ribath Maliki, Makkah. Sejak 1997, dia belajar agama kepada Imam Assayid Muhammad Al-Maliki. Baginya, Sayid Muhanmmad Maliki tidak sekadar guru, tapi juga sumber inspirasi.&lt;br /&gt;Selama mengaji di Ribath Sayid Muhammad Alwi Al-Maliki, ia sangat menyenangi pelajaran hadits. Terutama kitab Shahih Bukhari. “Shahih Bukhari merupakan dasar hukum-hukum Islam yang ada, karena itu sangat saya gemari,” kata Habib Soleh. &lt;br /&gt;Di dalam tradisi Ribath Maliki, kitab Bukhari dan Muslim bila diajarkan selalu diulang, dan pengulangannya secara mendetail. Selain kedua kitab hadits utama itu, dia juga mempelajari kitab ummahatus sitt (induk kitab hadits yang enam), seperti kitab hadits dari Abu Dawud, Tirmidzi, Nasai, Ibnu Majah, Ad-Darimi. &lt;br /&gt;Belajar di Ribath Maliki sering dilakukan di Masjidil Haram. Semua murid Sayid Maliki ini duduk sekitar empat sampai lima jam. Padahal santri-santri banyak yang mengeluh sering beser (kencing). Hingga akhirnya beberapa santri memberanikan diri bertanya pada Sayid Muhammad, ”Bagaimana kami sering kencing (beser)?”&lt;br /&gt;Mendengar pertanyaan santri-santrinya, Sayid Muhammad menjawab, “Wahai anak-anakku, air zamzam itu diperuntukkan bagi apa saja. Sekarang doakan agar tidak kencing selama di Masjidil Haram.” &lt;br /&gt;Benarlah apa yang diucapkan oleh sang guru, semua santri kemudian minum air zamzam  sambil memohon untuk tidak kencing selama di Masjidil Haram. Padahal tiap 15 menit mereka minum air zamzam itu. Perkataan sang guru ini berdasarkan sabda Rasulullah SAW, “Air zamzam itu diperuntukkan bagi apa saja, pasti terkabul.” &lt;br /&gt;Selama di Makkah, ia bersama santri-santri Indonesia yang lain, seperti Habib Abdul Qadir bin Ahmad Al-Hadad (Al-Hawi), Habib Ahmad bin Husein Assegaf (Bangil), Muhammad bin Idrus Al-Hadad, dan Muhammad bin Husein Alatas (cucu Habib Ali Bungur), Habib Muhammad bin Ali Al-Habsyi (Probolinggo), dan lain-lain. Sedangkan dari kalangan ulama pesantren, di antaranya K.H. Thoefur Arafat (Purworejo), K.H. Jauhari (Magelang), K.H. Ali Karar (Madura), dan lain-lain.&lt;br /&gt;Banyak pengalaman yang menarik selama dia menimba ilmu di Ribath Maliki. Hampir setiap malam Sayid Muhammad Al-Maliki  mengajak santri-santrinya ke Masjidil Haram. “Kalau dia masuk ke masjid, banyak orang yang datang kepadanya. Sayid Maliki sudah menyiapkan sedikit bekal. Dan terkadang dalam tasnya ada uang untuk diberikan kepada mereka yang membutuhkan,” kenang Habib Soleh mengenai sosok gurunya itu.&lt;br /&gt;Tidak jarang, kata Habib Soleh, hampir semua santrinya diajak ke rumah orang-orang jompo untuk membagi-bagikan bantuan. Selepas itu mereka kembali ke Masjidil Haram untuk mengaji. ”Kami didoakan, insya Allah, menjadi ulama yang barakah dan bermanfaat ilmunya.” &lt;br /&gt;Setelah menempuh pendidikan di Ribath Maliki selama sepuluh tahun, Habib Soleh pulang ke Indonesia tahun 1988. Kemudian ia menikah dengan salah satu putri Habib Abdullah bin Abdul Qadir Bilfagih dan sekaligus mengajar di Ponpes Darul Hadits. Ia juga membuka majelis taklim di rumahnya, Jln. Bareng Raya Gg. 1 No. 2, yang bernama Majelis Taklim wa Dakwah lil Habib Soleh Alaydrus. Pengajian dilakukan setiap hari Jumat, Senin, dan malam Rabu. &lt;br /&gt;Sekarang aktivitasnya banyak dicurahkan untuk mengajar, di samping menjadi kepala sekolah Madrasah Tsanawiyah At-Taroqi. “Pada bulan-bulan tertentu, saya juga menyempatkan diri mengisi tausiah, seperti di Malaysia, Singapura, dan Brunai Darussalam,” kata bapak enam anak (empat putra dan dua putri) ini. &lt;br /&gt;Adapun materi yang disampaikan dalam tiap taklimnya, Habib Soleh merujuk kitab-kitab ulama salaf, seperti Minhajuth-Thalibin, karya Imam Nawawi,  Al Muhadzdzab, karya Imam Ishaqi As-Sirazi, untuk tasawuf; sedang kitab hadits rujukannya adalah Al Adzkar an-Nawawiyah. Minhajul Qawim, karya Syekh Bafadhal, Sabilul Iftikar, karya Habib Abdullah Al-Hadad, Jauharud Tauhid, karya Al-Jazairi, Ihya Ulumiddin, Bidayatul Hidayah, karya Imam Ghazali, Shahih Bukhari, karya Imam Bukhari, Jam’u jawawi, karya Imam Subkhi, An-Nasaih ad-Diniyah, karya Habib Abdullah Al-Hadad. &lt;br /&gt;Selain berdakwah lewat taklim, dia juga telah mengarang 11 kitab yang dijadikan acuan dalam mengajar di banyak pondok pesantren. Kitab-kitab itu, di antaranya, Asy-Syafiyah fi Istilahatil Fuqaha’ asy-Syafi’iyyah, Faidhul Allam fi Akhkamis Salam, Annasyrul Fa’ikh fi Tartibil Fawatih, Is’aful Muhtaj fi Syarhi al-Qilat al-Murajahah fil-Minhaj, Nailul Arab fi Muqaddimatil Khuthab, Lawami’un Nurissany fi Manaqibil Imam Muhammad Al-Maliki al-Hasany, Al-Injaz fi Matsali Ahlil Hijaz.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; AST/Ft. AST&amp;nbsp;&lt;a href='http://picasa.google.com/blogger/' target='ext'&gt;&lt;img src='http://photos1.blogger.com/pbp.gif' alt='Posted by Picasa' style='border: 0px none ; padding: 0px; background: transparent none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: initial; -moz-background-origin: initial; -moz-background-inline-policy: initial;' align='middle' border='0' /&gt;&lt;/a&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22828176-116963344219265036?l=ajisetiawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajisetiawan.blogspot.com/feeds/116963344219265036/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22828176&amp;postID=116963344219265036' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22828176/posts/default/116963344219265036'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22828176/posts/default/116963344219265036'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajisetiawan.blogspot.com/2007/01/habib-soleh-alyadrus-malang.html' title='Habib Soleh Alyadrus. Malang'/><author><name>Aji Setiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14411902879772066714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://photos1.blogger.com/x/blogger/1979/2328/640/163197/Aji1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22828176.post-116963213112236083</id><published>2007-01-24T16:44:00.000+07:00</published><updated>2007-01-24T16:48:51.513+07:00</updated><title type='text'>KH Muhammad Subadar</title><content type='html'>&lt;A HREF='http://photos1.blogger.com/x/blogger/1979/2328/640/615398/Kyai%20Besuk.jpg'&gt;&lt;IMG SRC='http://photos1.blogger.com/x/blogger/1979/2328/320/284051/Kyai%20Besuk.jpg' border=0 alt='' style='display:block;margin 0px auto 10px; cursor:hand; text-align:center'&gt;&lt;/A&gt;&amp;nbsp;&lt;br /&gt;Juru Bicara Kiai Khos&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang yang mengenalnya sebagai salah satu Kyai Khos Nahdhlatul Ulama. Di Forum Ulama yang disepuhkan di kalangan jamiyyah umat Islam terbesar di Indonesia ini, ia sering ditugaskan sebagai menjadi juru bicara &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Forum Kiai Khos,-poros Kyai Nahdhlatul Ulama yang disepuhkan-, seperti  KH. Muchith Muzadi (Jember), KH Kafabihi Mahrus, KH Idris Marzuki, KH Chamim Sujono dan KH Anwar Iskandar (Kediri), KH Noer Mohammad Iskandar SQ (Jakarta), KH Zainuddin Djazuli dan KH Nurul Huda Djazuli (Ploso, Kediri), KH M. Hasan Mutawakkil Alallah (Ponpes Genggong, Probolinggo), KH. Warson Munawwir (Krapyak, Yogyakarta)  dan masih banyak ulama-ulama lainnya sering menunjuk KH. Muhammad Subadar, Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatul Ulum, Besuk, Pasuruan, Jawa Timur itu sebagai juru bicara forum kiai khos NU. &lt;br /&gt;Sikapnya yang teguh dan senantiasa berpegang teguh pada koridor kajian fiqh klasik, itulah yang menyebabkan sosok Kiai yang telah berumur 65 tahun ini, tak aneh, sering dilibatkan dalam bahstul masa’il (pembahasan masalah) yang diselenggarakan oleh Nahdhlatul Ulama itu.&lt;br /&gt;Selain itu, tutur katanya juga halus, argumentatif, dan mampu menyesuaikan diri dengan bahasa masyarakat yang dihadapi, ini membuat masyarakat di kawasan tapal kuda, Jawa Timur sering mendatangi pengajian yang diisinya. Mereka tertegun menyimak orasi Kiai Muhammad Subadar. &lt;br /&gt;Muhammad, demikian nama yang diberikan oleh kedua orangtuanya, ia lahir pada 1942 di sebuah desa Besuk, Kejayan, Pasuruan dari pasangan KH. Subadar dan Hj. Maimunah. Pada usia 3 bulan (1942), ia  telah yatim karena ditinggal wafat sang ayahanda, KH. Subadar. Sehingga ia banyak belajar mandiri dengan diasuh oleh ibundanya yakni Hj Maimunah. &lt;br /&gt;Kecenderungan belajar mandiri pada generasi kelima dari KH Aly Murtadho, pendiri pondok pesantren yang kini diasuhnya, memang sudah nampak dari kecil. Lebih-lebih ketika Subadar mengeluti jenjang pendidikan formal, masuk SR langsung duduk di kelas tiga. Tapi kemudian tak pernah ia menamatkannya. ”Itu tak pantas ditiru. Saya orang yang pembosan,” katanya menerawang masa lalu.&lt;br /&gt;KH. Muhammad Subadar sangat mengidolakan sosok Ibunda, baginya, Hj Maimunah adalah sosok panutan. Sebab melalui sentuhan lembut dan  tangan dingin sang Ibunda, ia menjadi pribadi yang mandiri dan tegar dalam menatap tantangan jaman.“Ibu sangat perhatian dengan kondisi mengaji saya. Kalau saya minta apa-apa, ibu sering memberi motivasi semangat saya untuk bisa mengaji. Ini membuat semangat belajar saya lebih berkobar untuk menguasai pelajaran agama. Seperti ketika masih kecil ia minta dibelikan sepeda, namun syaratnya harus hafal sekian surat Al-Qur’an. Dan saya bisa, hingga akhirnya ia bisa dibelikan sepeda,” ujarnya sambil tersenyum.  &lt;br /&gt; Pendidikannya masa kecil itu smepat terputus, namun melalui motivasi dan bimbingan sang ibu, Hj Maimunah, itulah yang membuatnya merasa dekat dengan pelajaran agama. Secara kebetulan pula, ia banyak dididik oleh lingkungan keluarga yang sarat religius, termasuk ia belajar pada kakak-kakaknya seperti KH. Ali Murtadlo dan KH Ahmad di Pondok Pesantren Besuk, Pasuruan. Tamat dari Madrasah Ibtidaiyah, ia lalu melanjutkan ke Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri  dari 1958-1961. &lt;br /&gt;Di pondok Lirboyo, Kediri itu KH. Muhammad Subadar menemukan tempat belajar yang sesungguhnya. Hari-hari dipondok, dihabiskan untuk mengaji dan belajar ilmu agama, terutama mengenai ilmu bahasa, seperti nahwu, sharaf, balaghah dan lain-lain. Apalagi, di pondok yang terkenal dengan gaya belajar yang ketat namun berkualitas, ia menemukan dua guru yang sangat berkesan dalam hidupnya. “Dua guru saya itu hebat sekali, yakni KH. Makrus Ali dan KH. Idris Marzuki (Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo). Masjid, kitab, dan pesantren adalah seakan-akan menjadi jalan hidupnya dan seluruh waktunya sudah diberikan untuk orang lain,” katanya.&lt;br /&gt;Selain itu, mengenai keduanya, Subadar banyak belajar cara-cara mengelola pondok pesantren. ”Keduanya itu adalah pasangan yang hebat dalam mengelola pesantren,” tambah KH. Muhammad Subadar.&lt;br /&gt;Setelah dirasa cukup memperdalam ilmu agama dari beberapa ulama yang ada di sekitar Pasuruan, ia kemudian mulai memperdalam keilmuannya secara mandiri dengan menelaah kitab-kitab klasik (kuning). Dengan tekun, secara otodidak, sejak tahun 1961 ia menggali khasanah peninggalan ulama abad pertengahan hampir selama 6 tahun. Praktis, pada masa itu ia banyak mengurung diri dalam kamar, tidak ke mana-mana, seluruh waktunya dihabiskan mengkaji kitab-kitab klasik yang ada di perpustakaan Pondok Pesantren Roudhotul Ulum.&lt;br /&gt;Lepas dari masa-masa “mengurung diri”, ia kemudian mulai berkiprah dalam organisasi NU pada tahun 1967. Mula-mula ia di IPNU, dua tahun kemudian namanya langsung mencuat sebagai ketua GP Anshor Pasuruan. &lt;br /&gt;Aktivitasnya di organisasi sempat terhenti setelah menikahi Aisyah pada tahun 1969. Baru pada kisaran 1976 Subadar kembali terjun dalam kegiatan organisasi dan sekaligus mengemudikan kepemimpinan pesantren Raudhotul Ulum. Pada tahun 1980, ia terpilih sebagai Rois Syuri’ah NU Cabang Pasuruan dan sampai sekarang, ia masih menjabat sebagai Wakil Rois Syuri’ah NU Jawa Timur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bicara Dakwah&lt;br /&gt;Selain di tengah kesibukannya mengelola organisasi NU, ia pun tak melupakan tugas utamanya yakni mengajar santri. Pengasuh Pondok Pesantren Raudhotul Ulum ini, setiap pukul 06.00 sampai siang banyak mendampingi sekitar 2000-an santri putra dan putri, terutama mengajar kitab-kitab tasawuf seperti Ihya Ulumiddin, Bidayah An-Nihayah dan lain-lain. Sementara dari sore sampai malam hari, ia selalu memenuhi undangan pengajian. “Kalau pengajian malam hari bisa berpindah-pindah dari satu desa ke desa yang lainnya. Pukul rata sampai enam tempat sehari,” katanya.&lt;br /&gt;Sosok ulama yang gigih membentengi umat Islam, terutama di pedesaan ini mengaku sangat suka berada di tengah-tengah umat. Berbagai rintangan dalam berdakwah, tak dirasakannya, namun dinikmatinya sebagai suatu tantangan. &lt;br /&gt;”Pernah saya berdakwah ke daerah pegunungan di Pasuruan, medan jalanan yang buruk membuat kendaraan tak bisa meneruskan perjalanan. Namun masyarakat tetap memaksanya untuk mengisi pengajian, padahal saya sudah sangat capek. Akhirnya, masyarakat ramai-ramai membawa tandu dan membawa saya ke arena pengajian. Itu sangat berkesan bagi saya,” kata KH. Muhammad Subadar.    &lt;br /&gt;Ia disukai para peserta pengajiannya karena kehalusan dalam bertutur. Tak heran, ia harus mengisi banyak majelis taklim yang tersebar di Pasuruan dan daerah-daerah sekitarnya. Yang terjadwal, sekitar lima puluh tiga tempat taklim dalam sebulan harus disambanginya. &lt;br /&gt;Tantangan dakwah sekarang menurut KH Moh Suadar adalah ramainya maksiat yang sedang merajalela. Ancaman bencana moral itu harus disikapi oleh semua pihak. Ia juga menyayangkan di saat umat Islam sedang bahu membahu memperbaiki kondisi moral umat, masih ada segelintir orang yang menentang. “Di sini ada yang memperbaiki, di sana ada yang merusak,” katanya.&lt;br /&gt; Tantangan dakwah sekarang hanya maksiat, selain itu tidak ada. Jadi dalam ber-Amar Ma’ruf Nahi Munkar- ini namanya tantangan.”Yang mana yang cocok saya dukung, namun yang berlawanan dengan kaidah agama, akan lawan,” kata KH. Muhammad Subadar dengan tegas.  &lt;br /&gt;AST/Ft.AST&amp;nbsp;&lt;a href='http://picasa.google.com/blogger/' target='ext'&gt;&lt;img src='http://photos1.blogger.com/pbp.gif' alt='Posted by Picasa' style='border: 0px none ; padding: 0px; background: transparent none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: initial; -moz-background-origin: initial; -moz-background-inline-policy: initial;' align='middle' border='0' /&gt;&lt;/a&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22828176-116963213112236083?l=ajisetiawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajisetiawan.blogspot.com/feeds/116963213112236083/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22828176&amp;postID=116963213112236083' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22828176/posts/default/116963213112236083'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22828176/posts/default/116963213112236083'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajisetiawan.blogspot.com/2007/01/kh-muhammad-subadar.html' title='KH Muhammad Subadar'/><author><name>Aji Setiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14411902879772066714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://photos1.blogger.com/x/blogger/1979/2328/640/163197/Aji1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22828176.post-116962273639515439</id><published>2007-01-24T14:11:00.000+07:00</published><updated>2007-01-24T14:12:16.523+07:00</updated><title type='text'>KH Mutawakil Alallah</title><content type='html'>&lt;A HREF='http://photos1.blogger.com/x/blogger/1979/2328/640/16583/Mutawakil.jpg'&gt;&lt;IMG SRC='http://photos1.blogger.com/x/blogger/1979/2328/320/65009/Mutawakil.jpg' border=0 alt='' style='display:block;margin 0px auto 10px; cursor:hand; text-align:center'&gt;&lt;/A&gt;&amp;nbsp;&lt;br /&gt;Tidak Mengandalkan Rasio Semata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat-saat yang menggentingkan, ia selalu mendapat tugas penting untuk menyelesaikan masalah. KH Mutawakil demikian ulama ini tidak hanya mengandalkan rasio dalam berfikir namun juga barokah dari ulama sehingga bisa sukses menyelenggarakan berbagai event besar terutama permasalahan kebangsaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa pun akan terkesima saat memasuki gerbang kompleks Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong Probolinggo, Jawa Timur. Di situ berdiri kokoh (bangunan permanen) lambang Nahdlatul Ulama (NU) yang cukup besar berukuran sekitar 5 x 4 meter persegi. Di bawah lambang tersebut tertulis, “Selamat Datang di Kota Santri Pesantren Zainul Hasan Genggong.”&lt;br /&gt;Memasuki komplek pesantren ini sangat menyenangkan hati. Tiap pagi dan sore hari, muda-mudi berbusana rapi menyandang kitab suci, hilir mudik silih berganti pulang pergi mengaji. Gambaran penuh nuansa keagamaan yang kental. Pesantren ini sudah berusia 163 tahun, tepatnya didirikan tahun 1839 M/1250 H oleh almarhum KH. Zainul Abidin dari keturunan Maghribi (Maroko) di Desa Karang Bong Kecamatan Pajarakan Kabupaten Probolinggo Provinsi Jawa Timur.&lt;br /&gt;Pesantren Zainul Hasan yang kini memiliki sekitar 20.000 santri ini mengalami tiga kali pergantian nama yang bermotifkan kepada sejarah pertumbuhan pesantren dan adanya gagasan untuk menggabadikan para pendiri Pondok Pesantren Zainul Hasan sebelumnya. Perubahan nama ini terjadi pada periode kepemimpinan KH. Hasan Saifourridzal. Nama Pondok Genggong sendiri diabadikan sejak kepemimpinan KH Zainul Abidin sampai kepemimpinan KH. Moh Hasan tahun 1952. Nama pesantren kemudian berganti menjadi “Asrama Pelajar Islam Genggong” dan terakhir “Pesantren Zainul Hasan.”&lt;br /&gt;“Pada tanggal 19 Juli 1959, dalam pertemuan dewan pengurus almukarom KH. Hasan Saifourridzal menetapkan perubahan nama asrama pelajar Islam Genggong menjadi Pesantren Zainul Hasan. Ini hasil perpaduan nama dari tokoh sebelumnya di mana kata Zainul diambil dari nama almarhum KH. Zainul Abidin sebagai pembina pertama dan kata Hasan diambil dari nama almarhum KH. Moh Hasan sebagai pembinan kedua,” kata Pengasuh Pesantren Zainul Hasan, Genggong, KH. Mohammad Hasan Mutawakkil Alallah.&lt;br /&gt;Pesantren Zainul Hasan kini telah banyak menampakkan perannya sebagai pusat studi Islam di dalam pengembangan misi Islam pada masyarakat luas, sehingga dengan peran serta hanya mengajarkan ilmu agama umum saja. Tetapi dalam kehidupannya para santri banyak mendapatkan kesempatan untuk menghayati dalam kehidupannya sehari-hari, karena kebersatuan Pesantren Zainul Hasan dengan masyarakat itulah maka output pesantren tidak kebingungan meniti hidup dalam mengabdi kepada masyarakat.&lt;br /&gt;Pada periode ketiga mulai tercetus ide-ide dan konsep-konsep baru untuk perkembangan pesantren di segala bidang di dalam ikut serta mengisi kemerdekaan serta ikut menunjang semua program pemerintah dalam perkembangan mental spiritual, ketahanan nasional, persatuan dan kesatuan bangsa lewat media dakwah baik di dalam pesantren maupun di luar pesantren.&lt;br /&gt;Menyadari peranan yang sangat besar dalam menyukseskan pembangunan manusia seutuhnya di samping juga makin meningkatnya kebutuhan hidup seseorang akibat pengaruh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi modern, maka Pesantren Zainul Hasan telah melangkah untuk mengadakan pengembangan dan pembaruan dalam segala bidang meliputi perubahan sistem pendidikan, penambahan sarana proses belajar-mengajar, menyempurnakan dan menambah sarana fisik.&lt;br /&gt;Pesantren Zainul Hasan tidak ketinggalan mengikuti pembaruan pendidikan setelah banyak mengkaji dan berhubungan dengan dunia luar. Peranan pondok pesantren sangat besar dalam membangun masyarakat, sehingga para ahli tiada putus-putusnya membicarakan lembaga pendidikan pondok pesantren ini. Untuk mengatasi kekurangan dalam Pesantren Zainul Hasan tumbuh gagasan untuk kesempurnaan dalam pondok pesantren harus ada pendidikan formal, pendidikan keterampilan dan perbaikan struktur kepengurusan dan lain-lain.&lt;br /&gt;Bertitik tolak dari pemikiran tersebut, Pesantren Zainul Hasan berupaya sekuat tenaga terhadap penyempurnaan kebutuhan serta perlengkapan secukupnya, sehingga dapat tercipta adanya peningkatan dan pengembangan pendidikan yang sejajar dengan lembaga-lembaga di luar pokok pesantren melalui perubahan, yakni sistem dan metode yang dipergunakan dalam pendidikan; kurikulum pesantren, Depag dan Diknas dikembangkan 100 persen; administrasi; fasilitas yang cukup dan sarana pendidikan yang memadai.&lt;br /&gt;Menurut KH Mutawakil tipe pesantren di Indonesia ada tiga jenis. Pertama adalah pesantren salaf murni. Ciri-cirinya adalah tidak mau diintervensi oleh dunia luar dalam bentuk apa pun, termasuk kurikulum, intitusi lembaganya, mereka independen. Kedua, setengah-setengah, di satu sisi mencoba mempertahankan budaya dan segala sisi kehidupan salaf tapi di sisi lain juga membuka pintu bagi kebutuhan jaman. Yang ketiga adalah pesantren yang hilang identitasnya, karena ia terlalu membuka diri tanpa filterisasi sehingga kehilangan jati dirinya. Namun pesantren tipe ketiga ini tidak akan happy ending (berakhir baik) dan tidak akan ada kesakralannya.&lt;br /&gt;”Kalau ada  pesantren yang fasilitasnya lengkap tetapi tidak ada peminatnya, itu karena identitas dan manfaat ilmu dari pesantren tidak ada. Itu mirip asrama, namun bukan pesantren,” katanya.&lt;br /&gt;Model pesantren model ketiga ini, masih lanjut bapak enam puteri ini hanya akan menjadi lembaga pendidikan yang komersial bukan keikhlasan dari pengelolanya. “Mereka akan mengeluarkan anak-anak pintar, tapi belum tentu benar. Padahal kualitas alumni pesantren menurutnya adalah ahlaknya, hubungannya dengan Allah dalam proses taqarub, ahlaq terhadap guru dan orang tua dan ahlaq sesama dan lingkungan itu khas pesantren salaf,” jelas Kyai Mutawakil.&lt;br /&gt;Sementara di Ponpes Zainul Hasan ini, tujuan pendidikan dan pengajaran diarahkan kepada pembinaan manusia berkarakter Muslim, yaitu manusia Muslim yang berbudi luhur, berpengetahuan luas dan berjiwa ikhlas. Oleh karena itu para santri diharapkan dapat mengembangkan kebebasan berpikir dan ketulusan pengabdiannya, disamping memperoleh pengetahuan yang cukup dalam diri mereka. Out put pendidikan Pesantren Zainul Hasan dititikberatkan kepada pencetakan kader-kader Muslim ahlussunah waljamaah dan menjadi seorang mukmin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Profil Kyai&lt;br /&gt;Keberhasilan mengembangkan pondok pesantren yang terbilang modern ini tak lepas dari sentuhan profil pengasuh pesantren yakni KH Mohammad Hasan Mutawakil Alallah. Ia adalah seorang kyai yang terbilang dinamis dalam mengembangkan baik sarana fisik pesantren maupun dalam perannya yang dikenal cukup mewarnai dalam dinamika politik kebangsaan.&lt;br /&gt;KH Mutawakil dilahirkan di Genggong, 22 April 1959. Ia menyelesaikan pendidikan dasar di Genggong.  Kemudian sempat melanjutkan pesantren di Sarang, Rembang, Jawa Tengah. Namun di pesantren yang diasuh  KH Imam itu, tidak lama hanya sembilan bulan saja. Atas saran kedua orang tuanya itu, ia kemudian melanjutkan pendidikan menengah pada Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah di Pondok Pesantren Lirboyo dari tahun 1979-1981. Saat di Lirboyo, Kediri, ia sangat terkesan pada KH Marzuki, KH Mahrus Ali dalam prinsip-prinsip perjuangannya. Saat di Lirboyo, ia sudah menyenangi pelajaran Nahwu, Sharaf, Balaghah (ilmu alat), Ilmu Fiqh, Tafsir dan Hadits. &lt;br /&gt;Selepas itu, ia sempat menempuh pendidikan pada Fakultas Syari’ah di Universitas Tribakti, Kediri sampai tingkat III. Lulus dari tingkat III (sarjana muda), KH Mutawakil rupa-rupanya punya keinginan untuk mencari pengalaman, apalagi sejak kecil ia hanya menimba pendidikan pesantren. Sehingga ketika dewasa ia ingin menimba pendidikan kampus. Pilihannya pada waktu itu akhirnya jatuh pada Kota  Pelajar yakni Jogjakarta. &lt;br /&gt;Sesampai di Jogja, ia kemudian menempuh ujian masuk persamaan di Universitas Islam Indonesia (UII) di Yogyakarta dan diterima. Namun di UII ia tidak bertahan lama, di tengah kuliahnya ia mendapat tawaran beasiswa untuk melanjutkan pendidikan ke Universitas Al-Azhar di Kairo (Mesir). Setelah menempuh ujian beasiswa ternyata, ia lulus untuk dapat menempuh pendidikan di Universitas terpopuler di belahan negara Timur Tengah itu.&lt;br /&gt;Sebenarnya saat menempuh kuliah di Al Azhar Kairo, ia sudah mulai senang menggemari pelajaran studi. Menurutnya pelajaran yang di Kairo ada beberapa pengembangan aktualisasi,masalah dan pengembangan pandangan yang menurut berbagai persepektif. Selain itu ada kelebihan dari pengajarnya dan adanya praktek langsung di lapangan baik dengan berbahasa Arab maupun Inggris.&lt;br /&gt;Saat menempuh kuliah di Al Azhar, Mesir pada tahun 1983, ia berkesempatan untuk mencari pengalaman study tour ke luar negeri. Misal, ke Frankrut (Jerman), Polandia, Belgia dan Belanda. Saat itu, ia mengambil inisiatif untuk  study banding dengan biaya sendiri. Karena pada waktu itu, KH Mutawakil tidak mempunyai biaya yang cukup, ia kemudian mencari tambahan dana dengan bekerja apa saja, termasuk menjadi pelayan restoran di beberapa negara yang ia kunjungi. &lt;br /&gt;Namun dari studi banding itu, ia mendapat pengalaman berharga. ”Saya melihat hubungan antara hubungan kerja antara buruh dan majikan, ternyata ahlak Islam ternyata ada di Barat, bukan di Saudi. Jadi ahlaq yang ada di Saudi itu tidak sesuai dengan tuntunan Islam. Walau pun tidak semua, mereka pada kasar. Mereka tidak menghargai, egois dan tidak memberikan hak sepenuhnya pada pekerja. Itu kasusnya banyak, itu saya lihat,” katanya.&lt;br /&gt;Di tengah keasyikannya menuntut ilmu ternyata ia dijemput pulang oleh sang ayahanda, yakni KH. Saifourridzal pada tahun 1985. Setelah dijemput pulang, ia langsung mengajar di Pesantren Zainul Hasan. Tak berapa lama setelah ia pulang, ibunda dan ayandanya pulang ke haribaan Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salaman Genggong&lt;br /&gt;Namanya cukup dikenal dalam sejarah politik nasional bangsa Indonesia, saat ia ditunjuk oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) untuk menjembatani pertemuan antara penguasa Orde Baru yakni presiden Soeharto dan Gus Dur dalam waktu tiga bulan soal hasil Muktamar Cipasung. Saat itu hubungan antara tentara dan NU memang sedang gawat-gawatnya. Keberhasilannya menjembatani pertemuan pertemuan besar itu berkat hubungannya dengan keluarga Cendana soal bisnis. Sehingga saat itu terkenal peristiwa “Salaman Genggong”, antara Gus Dur dan Pak Harto pada tahun 1996.&lt;br /&gt;Keberhasilannya mempertemukan dua tokoh yang saling bersebrangan tentu di luar dugaan, karena setelah itu terjadi rekonsiliasi antara NU dengan pemerintah. Kemudian Gus Dur diterima pemerintah. Menurut Kyai yang telah dikaruniai 6 puteri ini, waktu mempertemukan Gus Dur dan Pak Harto banyak tantangannya. Selain harus menempuh prosedur birokrasi yang sangat tebal, ia juga menghadapi warning (peringatan) dari  tentara untuk keamanan.&lt;br /&gt;”Bahkan di belakang dan depan rumah saya ada tank. Ternyata setelah acara berlangsung, justeru pak Harto sendiri yang di luar protokoler. Misalnya saat ia transit ke Pondok Genggong menurut protokol tidak lama, ia malah jalan kaki serta berbincang-bincang lama,” katanya.&lt;br /&gt;Peristiwa “Salaman Genggong” menurut KH Mutawakil adalah pelajaran yang penting, sehingga sangat mengesankan dirinya saat ini. “Itu sebuah pelajaran pada saya bahwa kita tidak hanya mengandalkan rasio dan strategi (rasional) namun juga kita harus percaya barokah dari para ulama,” katanya mengenang.&lt;br /&gt;Tokoh yang pernah menjadi ketua RMI (Rabithah Ma’ahid Islamiyah) tahun 1999-2004 ini dikenal sangat tawadhu terhadap ulama-ulama. Sehingga tak heran, ia sering menjadi tuan rumah event-event besar dalam dinamika politik dan kebangsaan. Seperti  dipasrahi oleh PBNU untuk menyelenggarakan Munas I  Pagar Nusa. Selain itu ia juga pernah menghidupkan Jami’atul Qura oleh PBNU dengan menyelenggarakan Munas di Genggong. &lt;br /&gt;Dalam ranah politik, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) untuk wilayah Jawa Timur juga pernah dipasrahkan, sekaligus dideklarasikan di Ponpes Genggong.”Walau selanjutnya saya tidak ikut-ikut,” kata KH Mutawakil dengan senyum khasnya.&lt;br /&gt;Aktivitasnya yang lain adalah saat ini ia menjabat sebagai Wakil Ketua PWNU (Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama) Jawa Timur. Di PWNU ia membidangi lembaga hukum, perekonomian dan tenaga kerja. Selain itu  saat ini ia juga menjadi Ketua Pusat Koperasi Pondok Pesantren (Puskopontren) wilayah Jawa Timur. &lt;br /&gt;Khusus di Puskopontren, KH Mutawakil sebenarnya mempunyai keinginan untuk memajukan koperasi pesantren. Namun untuk memajukan kopontren itu tidak mudah, sebagab koperasi pesantren ini selama ini kekurangan SDM yang bisa mengelola ekonomi. “Sebenarnya dengan adanya kopontren yang ada di mana-mana itu sudah merupakan langkah maju untuk menjadikan pesantren sebagai sentral keagamaan, tetapi juga sebagai sentral ekonomi umat. Itu bisa terjadi, maka pesantren akan menjadi benteng paling kuat terhadap ketahanan agama. Memang selama ini Puskopontren ini mengalami stagnasi.  Ini karena yang namanya koperasi itu erat kaitannya dengan  birokrasi,” kata nya.&lt;br /&gt;        &lt;br /&gt;AST/Ft. AST&amp;nbsp;&lt;a href='http://picasa.google.com/blogger/' target='ext'&gt;&lt;img src='http://photos1.blogger.com/pbp.gif' alt='Posted by Picasa' style='border: 0px none ; padding: 0px; background: transparent none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: initial; -moz-background-origin: initial; -moz-background-inline-policy: initial;' align='middle' border='0' /&gt;&lt;/a&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22828176-116962273639515439?l=ajisetiawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajisetiawan.blogspot.com/feeds/116962273639515439/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22828176&amp;postID=116962273639515439' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22828176/posts/default/116962273639515439'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22828176/posts/default/116962273639515439'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajisetiawan.blogspot.com/2007/01/kh-mutawakil-alallah.html' title='KH Mutawakil Alallah'/><author><name>Aji Setiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14411902879772066714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://photos1.blogger.com/x/blogger/1979/2328/640/163197/Aji1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22828176.post-116962112990202684</id><published>2007-01-24T13:43:00.000+07:00</published><updated>2007-01-24T13:45:29.973+07:00</updated><title type='text'>K.H. Dr. Ahsin Muhammad</title><content type='html'>&lt;A HREF='http://photos1.blogger.com/x/blogger/1979/2328/640/264878/Ahsinjpg.jpg'&gt;&lt;IMG SRC='http://photos1.blogger.com/x/blogger/1979/2328/320/650084/Ahsinjpg.jpg' border=0 alt='' style='display:block;margin 0px auto 10px; cursor:hand; text-align:center'&gt;&lt;/A&gt;&amp;nbsp;&lt;br /&gt;Pakar Ilmu-ilmu Al-Quran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia pakar ilmu yang langka: ilmu-ilmu Al-Quran. Lulus sebagai doktor dari sebuah universitas di Madinah dengan cumlaude, ia mengasuh pesantren di Cirebon, untuk mencetak para penghafal Al-Quran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana perasaan Anda jika di malam hari yang gelap, dalam perjalanan melewati gurun yang tandus, sepi bahkan kosong, kendaraan Anda tiba-tiba mogok? Takut, tegang, cemas, tentu menyelimuti perasaan Anda. Bagaimana pula jika tak lama kemudian ada orang yang menolong, membawa Anda dan mobil Anda ke bengkel tanpa mengharapkan apa-apa? Tentu, tak terbayangkan perasaan Anda: lega dan gembira. &lt;br /&gt;Itu hanya salah satu dari sekian banyak kemudahan yang dialami oleh Dr. Ahsin Muhammad. Dari berbagai pengalaman hidupnya, ia semakin meyakini, pertolongan Allah akan hadir bagi mereka yang senantiasa menjaga hubungan dengan Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya. “Barang siapa yang selalu mengingat Allah dalam keadaan senang, Allah akan mengingatnya ketika ia dalam keadaan susah,” ujarnya mengutip sebuah hadits.              &lt;br /&gt;Tamu kita kali ini ialah pendiri dan pengasuh Ma`had Darul Qur’an di Arjawinangun, Cirebon, Jawa Barat. Setiap Ahad pagi ia menyelenggarakan pengajian qiraat warasy, yang diikuti para guru Al-Quran dari wilayah Cirebon dan sekitarnya, dan telah berlangsung sekitar tiga bulan. Sebelumnya, materi yang diberikan mencakup semua qiraat mutawatir yang dikenal sebagai qiraat sab`ah. Tetapi karena dipandang terlalu berat, dan menyulitkan mereka yang belum memiliki bekal yang memadai, pengajian ini lalu difokuskan pada salah satu qiraat saja. Dan itu adalah qiraat warasy. &lt;br /&gt;Di masa sekarang, model pengajian yang memberikan materi pendalaman berbagai macam qiraat seperti ini terbilang langka. Mereka yang berminat mempelajarinya pun tidak banyak. Padahal, materi ini sangat dibutuhkan dalam rangka menjaga cara membaca Al-Quran yang tepat. Karena itu, para peserta merasakan manfaatnya – yang kemudian mereka kembangkan di tempat masing-masing. &lt;br /&gt;Berkembangnya pengajian mengenai qiraat dan pendalaman ilmu-ilmu Al-Quran merupakan salah satu obsesinya yang terus diupayakan secara serius. Menurutnya, menjaga kemurnian Al-Quran merupakan tugas mulia. Segala sesuatu yang dapat merusak atau setidaknya mengganggu kemurnian Al-Quran harus dicegah. Karenanya, peredaran buku-buku Yasin Fadhilah yang cara penulisannya tidak membedakan mana bagian yang merupakan ayat Al-Quran dan mana yang bukan, dikecamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rektor IIQ&lt;br /&gt;”Mestinya Yasin Fadhilah seperti itu ditarik dari peredaran, kemudian direvisi. Penerbit selama ini sembrono mencampuradukkan dan menyamakan ayat Al-Quran dan doa. Seharusnya dibedakan penulisannya, agar jelas mana yang Al-Quran dan mana yang bukan,” katanya. &lt;br /&gt;Menyinggung metode pengajaran Al-Quran, menurutnya selama ini sudah berjalan baik. Selain itu, banyak pesantren yang membuka program menghafal Al-Quran. Kelemahannya, para santri berhenti hanya pada menghafal Al-Quran, tidak berusaha mengembangkan kemampuannya dengan mendalami ilmu Al-Quran, termasuk berbagai qiraatnya.  &lt;br /&gt;Dia memang pakar dalam bidang qiraat dan ilmu-ilmu Al-Quran. Itu sebabnya ia lalu diserahi berbagai tugas penting. Sejak 2 November 2005, ia menjabat rektor Institut Ilmu Al-Quran (IIQ), Jakarta, perguruan tinggi yang mencetak para ahli Al-Quran. Posisi ini sebelumnya diduduki tokoh-tokoh yang terkenal pakar di bidang ilmu-ilmu Al-Quran, seperti Prof. K.H. Ali Yafie (2001-2005), sementara rektor sejak IIQ berdiri adalah Prof. H. Ibrahim Hosen (1977-2001).&lt;br /&gt;Bukan itu saja tugas yang diemban pria yang tenang, santun, dan ramah ini. Kini ia juga dipercaya sebagai ketua Tim Revisi Terjemahan dan Tafsir Al-Quran Departemen Agama, yang beranggotakan beberapa pakar ilmu Al-Quran, seperti Prof. Dr. H. Huzaimah T. Yanggo, Prof. Dr. H. Hamdani Anwar, Prof. H. Ali Mustafa Ya’qub, Dr. Hj. Faizah Ali Syibromalisi, dan beberapa pakar lain. Tim ini telah bekerja sejak 2004 dan diperkirakan akan menuntaskan tugas mereka pada 2007. &lt;br /&gt;Keahliannya dalam ilmu Al-Quran membawa berkah tersendiri. Selama beberapa tahun belakangan, setiap Ramadhan ia diundang ke Inggris untuk menjadi imam shalat Tarawih di London dan kota-kota lainnya. Meski begitu ia tetap tinggal bersama keluarga di Cirebon. Setiap minggu ia bolak-balik Jakarta-Cirebon. Senin sampai Kamis ia di Jakarta, hari-hari lain ia habiskan di Cirebon untuk mengajar di pesantren.&lt;br /&gt;Putra pasangan K.H. Muhammad dan Nyi Umi Salamah ini dilahirkan di Arjawinangun, Cirebon, pada 21 Februari 1956. Sejak kecil ia telah menunjukkan bakatnya dalam ilmu-ilmu Al-Quran. Ketika masih duduk di kelas IV SD dan belum lagi dikhitan, ia telah hafal tiga juz Al-Quran, yakni juz 28, 29, dan 30. Karena itu kakeknya dari pihak ibu, K.H. Syathori, pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Darut Tauhid, Arjawinangun, sangat menyayanginya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lingkungan Religius&lt;br /&gt;”Ketika saya dikhitan, beliau yang mengurusi semuanya. Saya juga diberi pakaian yang berbeda dari yang lain. Beliau memang sangat berkeinginan, di antara anak-anak atau cucu-cucunya banyak yang hafal Al-Quran. Karena itu, bila ada cucu yang datang dan mencium tangannya, selalu ditepuk-tepuk dadanya sambil berucap, ‘Nanti, di sini ada Al-Quran, ada hadits, ada Alfiyah (salah satu kitab standar ilmu nahwu)’,” tuturnya mengenang sang kakek. &lt;br /&gt;Meskipun tak sempat mengalami masa dewasa sebagian besar cucu-cucunya, apa yang diidam-idamkan oleh sang kakek akhirnya menjadi kenyataan. Ahsin dan ketiga saudara perempuannya, semuanya hafal Al-Quran. Sedang empat saudara laki-lakinya hafal beberapa surah Al-Quran. Ketika kakeknya wafat, Ahsin masih duduk di bangku SMP.&lt;br /&gt;Saat sang kakek masih hidup, Ahsin sering menemaninya mengimami shalat berjamaah. Terkadang ia juga ikut mendengarkan apabila kakeknya membacakan kitab di pengajiannya. “Hanya nguping, seperti anak-anak yang lain,” ujarnya. Meski demikian, ia mendapat banyak hal penting dari kehidupan keseharian sang kakek, seorang ulama yang di masa hidupnya sangat disegani dan dihormati. Menurutnya, sang kakek berjasa menciptakan lingkungan yang religius, yang mencintai ilmu dan ulama. Kakeknya seorang penyabar, mempunyai perhatian pada para santri, dan hampir tidak pernah marah. &lt;br /&gt;Menurutnya resep menghafal Al-Quran ialah doa orangtua yang benar-benar sangat mengharapkan anaknya dapat menghafal Al-Quran. Orangtua yang demikian niscaya akan selalu bermohon kepada Allah dengan sungguh-sungguh. Tentu doa yang demikian kemungkinan diterimanya lebih besar. Karena itu langkah si anak selanjutnya untuk mewujudkan harapan orangtua akan lebih mudah. Selain itu harus ada usaha yang maksimal ketika membimbing anak untuk menghafalkannya.&lt;br /&gt;Ayah lima anak ini menyelesaikan pendidikan dasarnya di SD dan SMP Arjawinangun. Sedangkan dasar-dasar ilmu agama ia pelajari di pesantren milik keluarganya. Selama tiga tahun sejak 1970 ia melanjutkan pelajaran di Pesantren Lirboyo, Kediri, sambil belajar di SMU. Sejak lama, Pesantren Lirboyo memang didominasi oleh para santri asal Cirebon dan sekitarnya.    &lt;br /&gt;Di pesantren terkemuka itu ia belajar fiqh dan ilmu-ilmu alat, seperti nahwu, sharaf, dan sebagainya. Sementara di saat libur panjang ia menimba ilmu di pesantren lain. Antara lain, ia pernah mengaji tabarruk kepada K.H. Umar Abdul Manan (Solo) dengan menyetorkan hafalan-hafalan Al-Qurannya. Meski tidak lama belajar kepadanya, tidak sampai dua bulan, ia merasa sangat beruntung, karena bisa memperoleh syahadah sanad dari sang guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ponpes Krapyak&lt;br /&gt;“Tidak semua orang – termasuk para santri yang sudah lama belajar kepada beliau – yang bisa mendapatkannya,” ujarnya. Sertifikat sanad dari Kiai Umar memang sangat didambakan. Dengan sertifikat itu terjaminlah bacaan yang benar, bagus, dan fasih. Juga menunjukkan bobot intelektualitas dan tanggung jawab sebagai seorang hafizh Al-Quran.&lt;br /&gt;Keinginanannya yang kuat untuk mendalami Al-Quran membawanya meneruskan belajar di Pondok Pesantren Al-Munawwir, Krapyak, Yogyakarta (1973- 1976). Ia juga sempat belajar kepada K.H. Arwani (Kudus). Tetapi ketika baru berjalan sekitar dua bulan, ia diminta pulang ke Cirebon untuk menyiapkan keberangkatannya ke Makkah. “Meski demikian, bagi seorang santri, sesingkat apa pun masa belajarnya, ia harus bisa menyerap berbagai ilmu, termasuk akhlak dan keteladanan gurunya,” katanya.     &lt;br /&gt;Bulan Agustus 1976 menandai era baru dalam hidupnya. Ia berangkat ke Arab Saudi untuk mendalami ilmu-ilmu agama sebagaimana cita-cita orangtuanya. Mula-mula ia belajar di Makkah. Sekitar satu tahun, 1976-1977, ia mengaji Al-Quran di Masjidil Haram di bawah bimbingan Syekh Abdullah Al-`Arabi, seorang Mesir yang didatangkan oleh Jamaah Tahfizh Al-Quran. Di Masjidil Haram memang banyak kegiatan, salah satunya dikoordinasikan oleh lembaga tersebut.&lt;br /&gt;Ketika itu yang memimpin lembaga tersebut ialah Syekh Shalih Al-Qazzaz, mantan sekjen Rabithah `Alam Islami. Yang juga banyak berperan di lembaga ini ialah Syekh Ibrahim Sa`d, seorang Mesir yang mengatur metode menghafal Al-Quran. Masa itu merupakan kebangkitan Tahfizhul-Qur’an di Arab Saudi. Hal ini tidak terlepas dari partisipasi para masyaikh qurra’ (guru-guru para pembaca Al-Quran) yang berasal dari Mesir, baik di Makkah, Jeddah, Madinah, maupun yang lainnya.&lt;br /&gt;Pengajian di Masjidil Haram ia ikuti pagi hari, sedang sore harinya ia menuntut ilmu di Markaz  Ta`lim al-Lughah al-`Arabiyyah. Karena sudah hafal Al-Quran, ketika belajar ia hanya “menyetor” hafalan dan mendalami bacaannya. Di akhir tahun, ia mengikuti ujian dan lulus, mendapat syahadah yang menyatakan bahwa yang bersangkutan dapat membaca Al-Quran secara hafalan dari awal hingga akhir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menulis Tahqiq&lt;br /&gt;Pada 1977 ia berangkat ke Madinah al-Munawarah untuk mengikuti kuliah di Fakultas Kulliyatul-Qur’an wa Dirasah Islamiyyah dari Al-Jami`ah Al-Islamiyah. Di sini ia tak mengalami kesulitan berarti, semua berjalan lancar tanpa hambatan. Apalagi ia mendapat beasiswa 200 dolar atau 775 riyal per bulan. Pemberian beasiswa itu, selain sebagai penghargaan bagi mereka yang mempelajari dan menghafal Al-Quran, juga untuk memotivasi para mahasiswa yang kuliah di fakultas tersebut.&lt;br /&gt;Selepas menamatkan pendidikan kesarjanaan, ia melanjutkan ke program pascasarjana di universitas yang sama mengambil Jurusan Tafsir dan Ilmu Al-Quran, selesai pada 1987 dengan tesis Sejarah Perkembangan Ulumul Qur’an. Sedang untuk disertasi ia menulis tahqiq (menulis dan meneliti kembali) kitab At-Taqrib wal-Bayan fi Ma`rifati Syawadzil-Qur’an, karya Ash-Shafrawi, ulama asal Iskandariyah, Mesir, kelahiran 636 H/1216 M. &lt;br /&gt;Dan akhirnya ia meraih gelar doktor dengan yudisium Mumtaz Syaraful ‘Ula (cumlaude) pada 1989. Praktis selama 12 tahun, sejak 1977, ia menghabiskan masa mudanya di Jam’iyyah Al-Islamiyyah, Madinah. Di antara teman dari tanah air yang belajar di sana tapi beda angkatan adalah Hidayat Nur Wahid (ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat) dan Salim Seggaf Al-Jufri (dubes RI di Arab Saudi). Usai belajar di Madinah, ia kembali mengajar di Pondok Pesantren Darut Tauhid, Cirebon, yang diasuh oleh pamannya, K.H. Ibnu Ubaidillah.&lt;br /&gt;Penguasaannya yang mendalam tentang ilmu-ilmu Al-Quran menarik perhatian banyak kalangan. Maka pada 1992, ia diajak oleh K.H. Syukron Makmun, pengasuh Pondok Pesantren Darul Rahman, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, untuk ikut mendirikan Institut Islam Darul Rahman. Pada tahun itu juga ia mengajar di Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran (PTIQ) dan di Institut Agama Islam Negeri (kini Universitas Islam Negeri, UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta. Beberapa tahun kemudian ia diangkat sebagai pengajar tetap di IAIN hingga kini.    &lt;br /&gt;Di tengah kesibukannya mengajar, baik di Cirebon, Jakarta, maupun di luar negeri, ia masih berusaha untuk merampungkan buku tentang ilmu-ilmu Al-Quran, sebagai salah satu syarat untuk pengangkatannya sebagai guru besar. ”Sudah selesai saya tulis, tinggal dibukukan,” ujarnya. Kita tunggulah terbitnya buku penting karya pakar Al-Quran ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AY, AST/Ft. AY, AST&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Caption:&lt;br /&gt;1. Lead Foto&lt;br /&gt;2. Di ruang kerjanya. Mengembangkan khazanah ilmu Al-Quran&lt;br /&gt;3. Pondok Pesantren Darul Quran, Arjawinangun. Mencetak para penghafal Al-Quran&lt;br /&gt;4. Sedang santai menerima alKisah. Bolak-balik Cirebon-Jakarta  &lt;br /&gt;5. (Untuk insert di COVER)&amp;nbsp;&lt;a href='http://picasa.google.com/blogger/' target='ext'&gt;&lt;img src='http://photos1.blogger.com/pbp.gif' alt='Posted by Picasa' style='border: 0px none ; padding: 0px; background: transparent none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: initial; -moz-background-origin: initial; -moz-background-inline-policy: initial;' align='middle' border='0' /&gt;&lt;/a&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22828176-116962112990202684?l=ajisetiawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajisetiawan.blogspot.com/feeds/116962112990202684/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22828176&amp;postID=116962112990202684' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22828176/posts/default/116962112990202684'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22828176/posts/default/116962112990202684'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajisetiawan.blogspot.com/2007/01/kh-dr-ahsin-muhammad.html' title='K.H. Dr. Ahsin Muhammad'/><author><name>Aji Setiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14411902879772066714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://photos1.blogger.com/x/blogger/1979/2328/640/163197/Aji1.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22828176.post-116962017331850582</id><published>2007-01-24T13:27:00.000+07:00</published><updated>2007-01-24T13:29:33.590+07:00</updated><title type='text'>Habib Hadi bin Alwi Al-Kaff</title><content type='html'>&lt;A HREF='http://photos1.blogger.com/x/blogger/1979/2328/640/419370/HadiAlkaffpsd.jpg'&gt;&lt;IMG SRC='http://photos1.blogger.com/x/blogger/1979/2328/320/367080/HadiAlkaffpsd.jpg' border=0 alt='' style='display:block;margin 0px auto 10px; cursor:hand; text-align:center'&gt;&lt;/A&gt;&amp;nbsp;&lt;br /&gt;Bertakhaluq Dengan Syeikh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun seorang gurunya (syeikh) telah meninggal, tetapi sang murid tetap mempunyai hubungan bathin. Dengan bertakhaluq(berpegangan) kepada guru-gurunya, Habib Hadi senantiasa dibimbing untuk mensyiarkan dakwah &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap Ahad, ratusan kyai dan ustadz dari berbagai pelosok daerah Malang mengikuti pengajian rutin di majelis Ahlussunah Wal Jama’ah (Aswaja) di  Jl Kayu Tangan, dekat alun-alun Kota Malang yang diasuh oleh KH Abdullah Iskandar. Pengajian ini di belakang hari banyak dipimpin Habib Hadi bin Alwi Al-Kaff, karena KH Abdullah Iskandar sudah sepuh. &lt;br /&gt;Habib Hadi adalah guru dan ustadz tempat bertanya yang cukup terkenal sebagai mubalig pada berbagai pengajian di Malang dan sekitarnya.  Sosoknya hangat, dan enak diajak bicara tentang banyak hal. Bicaranya pelan, tapi teratur. &lt;br /&gt;Hari-hari Habib Hadi juga diisi dengan mengisi pengajian dari kampung ke kampung di berbagai pelosok Kota Malang dan sekitarnya. Metode pengajiannya bukan hanya ceramah, tapi juga dialog. Seperti halnya kebanyakan ulama dan mubalig, masa kecil Habib Hadi sangat ketat dalam pendidikan agama. “Saya tidak pernah mengaji di pesantren. Ilmu agama saya peroleh berkat bimbingan langsung dari ayah dan ibu saya,” katanya lagi. &lt;br /&gt;Dari dahulu sampai sekarang Habib Hadi dalam berdakwah juga tidak membeda-bedakan madzab dan medan dakwah. Ia berdakwah di berbagai kalangan. Bahkan di tempat Al-Irsyad di Bondowoso juga ia mengajar, karena merasa cocok dengan metode belajar yang disampaikan Habib Hadi. ”Saya mendapat dukungan oleh Ustadz Hasan Baharun (Bondowoso).”&lt;br /&gt;Lahir di Malang, pada 29 Juni 1947, ia putra Habib Alwi bin Hasan Al-Kaff ke-16 dari 31 bersaudara. Ibundanya, bernama Syarifah Futum, putri dari Habib Abdurahman bin Ali bin Syekh Abubakar bin Salim. Jadi Habib Hadi masih termasuk cucu dari Habib Abdurahman bin Syekh Abubakar, seorang ulama yang  terkenal sebagai ulama yang saleh dan perintis gerakan dakwah ke desa-desa sekitar Malang. Gerakan dakwah Habib Abdurahman ini dilanjutkan oleh menantu cucu beliau, Ustadz Habib Alwi bin Salim Alaydrus.&lt;br /&gt;Habib Hadi mengenyam pendidikan Madrasah di Pondok Pesantren Darul Hadits Malang yang diasuh oleh Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfagih dari tahun 1953 sampai tahun 1967. Habib Hadi sebenarnya punya kesempatan untuk belajar di Madinah (Saudi) namun, karena Pemerintah Republik Indonesia pada waktu itu melarang pelajar Indonesia untuk berangkat ke Saudi, kecuali yang mempergunakan beasiswa pemerintah. &lt;br /&gt;Akhirnya ia mengaji ilmu Nahwu (tata bahasa Arab) selama kurang lebih dua tahun (1967-1969) secara private kepada Habib Abdurahman bin Muhammad Mauladawilah di rumahnya, di samping masjid Al-Huda, Malang setiap usai shalat Subuh. Kitab yang diajarkan pada waktu itu adalah Jumriyah, Syarh Ibn Dahlan, Kafrowy dan Kawakib.&lt;br /&gt;Selain belajar pada Habib Abdurahman, pada tahun itu juga Habib Hadi belajar secara private kepada Habib Alwi bin Salim Alaydrus. Habib Hadi mengaku sangat terkesan dengan metode mengajar dari Habib Alwi, “Beliau adalah seorang guru yang alim, luas, tawadhu’ lagi bijaksana. Pernah beliau mendengar ada yang mengatakan bahwa, ’Hadi Al-Kaff tidak punya Syeikh (guru pembimbing)’. Beliau spontan marah seraya berkata,’Katakan pada mereka bahwa,’saya adalah Syeikh dari Habib Hadi’.&lt;br /&gt;Mendengar pengakuan dari Habib Alwi bin Salim Alaydrus, Habib Hadi bin Alwi Al-Kaff sangat gembira atas pernyataan tersebut. Ustadz Alwi juga berpesan kepada Habib Hadi untuk lebih memantapkan hatinya, ”Kalau kamu takhaluq (berpegangan dengan guru, biasanya seorang syekh) ini insya allah, kamu akan dibimbing. Meskipun seorang guru (syeikh) itu telah meninggal. Jadi seorang murid tetap punya hubungan bathin.”&lt;br /&gt;Setelah gagal berangkat ke Saudi, Habib Hadi kemudian menyibukan diri bekerja membantu ayandanya ke Lombok (Nusa Tenggara Barat) sampai tahun 1974. Baru pada tahun 1975 ia berangkat ke Saudi dengan diantar langsung oleh Habib Muhammad bin Ahmad Alaydrus di Madinah. Sayang, saat itu tahun ajaran baru sudah dimulai. Ia akhirnya disuruh menunggu beberapa bulan sampai menunggu tahun ajaran baru. Habib Hadi akhirnya belajar bahasa Inggris di American School. Karena kesibukan kerja antara 1976-1979, akhirnya Habib Hadi tidak sampai berfikir lagi untuk menuntut ilmu di Madinah.&lt;br /&gt;Pada tahun 1979 ia pindah ke Khobar, di kota yang terletak belahan utara Mekkah itu ia mengumpulkan jama’ah dari pekerja-pekerja yang dari Indonesia untuk belajar agama dan sesekali rutin membaca maulid. “Alhamdulilah, sembari bekerja juga bisa belajar sendiri dan juga mendatangi pengajian,”&lt;br /&gt;Selama di Saudi, ia belajar sendiri dengan bertakhaluq kepada Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfagih, Habib Alwi bin Salim Alaydrus dan Habib Abdurrahman bin Muhammad Mauladawilah. Sekalipun belajar sendiri, Habib Hadi juga terkadang menghadiri acara-acara keagamaan yang digelar di Saudi, seperti peringatan maulid, Khataman Bukhari, silaturahmi halal bi halal dan lain-lain.        &lt;br /&gt;Pada tahun 1992, ia mau pulang ke Indonesia. Saat itu tanggal 27 Ramadhan ada khatam Bukhari di Masjid Nabawiy, datang para Habaib dari sekitar Saudi. Selepas shalat Ashar ada pengajian Habib Soleh Al-Muhdor. Acara ini tergolong acara yang beasr karena banyak dihadiri ulama-ulama besar seperti Syekh Abdul Qadir bin Ahmad, Sayid Maliki, Habib Zein bin Smith  dan dari luar Saudi pun banyak yang hadir. &lt;br /&gt;Kebetulan saat itu Habib Hadi datang bersama salah satu teman akrabnya yakni Habib Hasan bin Abdullah Som Assegaff. Habib Hasan sudah lama tinggal Saudi, sehingga ia banyak mengenalkan Habib Hadi dengan para Habaib yang hadir selepas shalat Magrib. Salah satu diantaranya adalah berkenalan dengan Habib Alwi Bilfagih (pengarang kitab-kitab sejarah dan nasab). &lt;br /&gt;Saat itu Habib Alwi saat itu juga sedang mengajar kepada murid-muridnya dan juga ada seorang tua yang sedang menulis. Habib Hasan Som kemudian mengenalkannya kepada Habib Alwi Bilfagih, ”Ini Hadi Al-Kaff dari Malang.”&lt;br /&gt;Kemudian Habib Alwi menyalami Habib Hadi. “Kenal Habib Abdullah bin Abdul Qadir Bilfagih dari Malang?” tanya Habib Alwi kepada Habib Hadi.&lt;br /&gt;“Itu adalah  guru saya,” kata Habib Hadi.&lt;br /&gt;“Syeikhi? (gurumu)?” tanyanya dengan penuh keterkejutan. &lt;br /&gt; “Saya adalah murid dari Syeikh Abdul Qadir bin Ahmad Bilfagih,” kata Habib Hadi kepada Habib Alwi.&lt;br /&gt;“Tunggu dulu,” kata Habib Alwi terburu-buru kepada Habib Hadi dan Habib Hasan untuk jangan beranjak dari majelis, karena ia akan menyelesaikan urusan dengan orang tua yang duduk tidak jauh dari mereka bertiga.&lt;br /&gt;Tidak berapa lama kemudian, Habib Alwi kembali lagi dan kemudian berkata kalau Habib Abdul Qadir adalah saudara dekatnya. “Itu adalah saudara ayah saya, tapi saya belum jumpa,” katanya.&lt;br /&gt;Kemudian Habib Alwi memaksa tangan Habib Hadi, ”Mana tanganmu?”&lt;br /&gt;Lalu Habib Hadi karena dipaksa kemudian memberikan tangannya untuk dicium oleh Habib Alwi. Artinya, Habib Alwi sangat menghormati Habib Abdul Qadir sampai sedemikian rupa, sampai-sampai salah satu muridnya yang pernah pernah belajar kepada Habib Abdul Qadir pun diciumnya.&lt;br /&gt;Sampai di hotel, Habib Hadi bertanya pada Habib Hasan Som,”Tadi, orang tua yang bertubuh kurus dan duduk di majelis Habib Alwi itu siapa?”&lt;br /&gt;“Itu adalah Habib Zein bin Smith (Medinah),” kata Habib Hasan Som.&lt;br /&gt;Habib Hadi tentu terkejut, karena Habib Zein bin Smith ternyata sedang belajar kepada Habib Alwi Al-Kaff yang baru ditemuinya.   &lt;br /&gt;Setelah hari kedua lebaran, para habaib mengadakan silaturahim di hotel Haramain. Setelah acara, Habib Hasan Som mengenalkan lagi Habib Hadi pada yang hadir, termasuk kepada Habib Zein bin Smith. “Ini Habib Hadi Al-Kaff, tholib ilm’,” kata Habib Hasan.&lt;br /&gt;“Di mana kamu belajar?” tanya Habib Zein bin Smith kepada Habi Hadi Al-Kaff.&lt;br /&gt;“Saya tidak belajar. Saya bekerja di Khobar,” jawab Habib Hadi.&lt;br /&gt;Habib Hasan Som berkata lagi, ”Dia belajar sendiri di rumahnya.”&lt;br /&gt;“Tidak boleh. Kalau belajar agama tidak bisa belajar sendiri kecuali dengan belajar kepada syeikh (untuk membimbing). Kalau kamu belajar ilmu umum, seperti bumi, sejarah, kamu bisa belajar sendiri,” kata Habib  Zein.&lt;br /&gt;Habib Hadi terdiam, tapi Habib Hasan Som berkata lagi kepada Habib Zein,”Ya Habib, ia dulu pernah belajar pada Habib Abdul Qadir Bilfagih.”&lt;br /&gt;“Benar?” tanya Habib Zein.&lt;br /&gt;“Ya Habib,” jawab Habib Hadi.&lt;br /&gt;Habib Zein kemudian tertunduk sebentar, tidak langsung jawab. Kemudian ia berkata, ”Karena kamu sudah pernah belajar pada Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfagih. Kamu boleh belajar sendiri,” kata Habib Zein kepada Habib Hadi.&lt;br /&gt;Setelah mendapat bisayarah (isyarat kabar gembira) dari seorang alim. Habib Hadi  semakin yakin, kalau selama ini dengan belajar sendiri mempelajari kitab-kitab salaf yang ada di sana masih dalam koridor bimbingan dari guru-gurunya, walaupun guru-gurunya itu telah lama wafat. &lt;br /&gt;Setelah menetap lama di negeri Saudi, pada tahun 1992 ia pulang ke Indonesia. Saat itu ia tinggal di Jl Lontar Atas, Jakarta, sambil berdagang Habib Hadi juga berdakwah dari masjid ke masjid dan taklim di sekitar rumahnya selama kurang lebih lima tahun. &lt;br /&gt;Pada tahun 1997, ia kemudian dipanggil sang mertua, Habib Ali bin Umar Baharun di Bondowoso untuk mengelola majelis taklim. Ia kemudian mengajar sekitar 4 tahun, beliau meninggal. Pada tahun 2002, ia berfikir untuk kembali ke Jakarta. Tapi saat singgah di Malang, Habib Hadi bertemu dengan Habib Muhammad bin Agil Ba’Agil pemimpin majelis taklim Al-Hidayah (Malang). &lt;br /&gt;“Kebetulan kamu datang, sekarang saya serahkan majelis taklim ini kepada kamu,” kata Habib Muhammad.&lt;br /&gt;“Ya, Habib. Sekarang saya di Bondowoso,” kata Habib Hadi.&lt;br /&gt;“Kamu pindah ke Malang,” perintah Habib Muhammad.&lt;br /&gt;Karena teman akrab, satu kelas di Darul Hadits akhirnya Habib Hadi mulai tahun 2002 mulai tinggal di Malang pengasuh Majelis Taklim Al-Hidayah. Majelis Taklim Al-Hidayah sendiri diketuai oleh Habib Agil bin Agil Ba’agil, Habib Ali Haidar Al-Hamid. &lt;br /&gt;Habib Hadi di Kota Apel itu juga mengasuh Majelis Taklim Al-Mukhlisin tiap malam minggu ba’da Magrib (ibu-ibu) dan selepas Isya (untuk bapak-bapak). Acara berlanjut selepas Subuh. Ia juga masih mengajar tafsir Jalalain dan An-Nashoih Diniyah di Madrasah yang didirikan oleh Ustadz Alwi bin Salim Alaydrus di Bumiayu (Malang) seminggu tiga kali; Sabtu, Senin dan minggu. Selain itu ia mengajar di masjid-masjid di sekitar Malang. &lt;br /&gt;Ia sebenarnya sering diminta mengajar di Pesantren Darul Lughah Wa’Da’wah (Bangil, Pasuruan) dan Darut Tauhid, tapi selama ini masih  sangat berat. “Soalnya, waktunya pagi. Itu berat sekali, karena kalau malam sudah habis untuk berdakwah sehingga jarang tidur,” kata Habib Hadi.&lt;br /&gt;Ia juga sering diminta oleh teman-temannya untuk menterjemahkan Shahih Sifatu Sholatul Rasulullah SAW Mina Takbir Wa Taslim Ka’anaka Tanduru ilaya (sifat shalat Rasulullah SAW sejak takbir hingga salam seolah-olah kamu menyaksikan sendiri) karangan Habib Hasan bin Ali Assegaff (Yordania). Sudah banyak orang meminta untuk menterjemahkan kitab yang sering dibawakannya. ”Insya Allah, kalau ada waktu tepat akan segera diterbitkan,” katanya.&lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;AST/Ft. AST&lt;br /&gt;Caption:&lt;br /&gt;1. Lead&lt;br /&gt;2. Habib Hadi sedang berceramah. Bertakhaluq dengan syeikh&lt;br /&gt;3. Dalam perjalanan berdakwah. Tak kenal cuaca dan medan dakwah&lt;br /&gt;4. Berfoto bersama dengan jama’ah. Sosoknya hangat dan ramah&lt;br /&gt;5. Sedang memimpin doa. Tak membeda-bedakan madzab&amp;nbsp;&lt;a href='http://picasa.google.com/blogger/' target='ext'&gt;&lt;img src='http://photos1.blogger.com/pbp.gif' alt='Posted by Picasa' style='border: 0px none ; padding: 0px; background: transparent none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: initial; -moz-background-origin: initial; -moz-background-inline-policy: initial;' align='middle' border='0' /&gt;&lt;/a&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22828176-116962017331850582?l=ajisetiawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajisetiawan.blogspot.com/feeds/116962017331850582/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22828176&amp;postID=116962017331850582' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22828176/posts/default/116962017331850582'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22828176/posts/default/116962017331850582'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajisetiawan.blogspot.com/2007/01/habib-hadi-bin-alwi-al-kaff.html' title='Habib Hadi bin Alwi Al-Kaff'/><author><name>Aji Setiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14411902879772066714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://photos1.blogger.com/x/blogger/1979/2328/640/163197/Aji1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22828176.post-116961938776898053</id><published>2007-01-24T13:14:00.000+07:00</published><updated>2007-01-24T13:16:28.060+07:00</updated><title type='text'>Habib Taufiq Assegaf</title><content type='html'>&lt;A HREF='http://photos1.blogger.com/x/blogger/1979/2328/640/855757/Taufiq.jpg'&gt;&lt;IMG SRC='http://photos1.blogger.com/x/blogger/1979/2328/320/444283/Taufiq.jpg' border=0 alt='' style='display:block;margin 0px auto 10px; cursor:hand; text-align:center'&gt;&lt;/A&gt;&amp;nbsp;&lt;br /&gt;‘Cahaya Nabawiy’ Pasuruan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasuruan sebagai kota Santri terkenal dengan gudang ulama habaib. Salah satu tokoh dakwah dari kota ini adalah Habib Taufiq bin Abdul Kadir bin Husein Assegaf&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bermentalkan semangat baja ia memberanikan diri menerbitkan Majalah Cahaya Nabawiy. Sebuah terobosan dalam berdakwah yang kretaif dan efektif pada umat di berbagai penjuru wilayah tanah air. Majalah ini bentuknya mungil sebagaimana majalah Islam yang ada di tanah air. Namun di balik kemungilan majalah ini, terkandung isi yang  menarik dan sarat dengan ajaran agama. Sehingga amat wajar bila majalah ini mempunyai pangsa pasar yang tersebar di tanah air. &lt;br /&gt;Di balik kebesaran nama majalah Cahaya Nabawiy, sosok pengelola majalah ini yang tak bisa dilepaskan dari sentuhan tangan dinginnya. Ia adalah seorang dai yang sangat disegani di Pasuruan dan sekitarnya. Sosok habib ini berwajah tampan dan kalau berceramah ia penuh semangat dan berapi-api. Dialah Habib Taufiq bin Abdul Kadir Assegaf, pria kelahiran Pasuruan 1969. Ia tidak pernah menempuh pendidikan formal, namun dari pendidikan taklim ke taklim. Sekali pun demikian, ia adalah sosok seorang dai yang kreatif dalam berdakwah dan dikenal berwawasan luas.&lt;br /&gt;Semasa kecil, Habib Taufiq diasuh oleh sang ayahandanya yakni Habib Abdul Kadir bin Husein Assegaf. Dirasa cukup dengan bimbingan sang orang tua, ia kemudian melanjutkan taklim pada ulama dan para habaib yang ada di Pasuruan, salah satunya Habib Ahmad bin Hadi Al-Hamid. &lt;br /&gt;Selain itu ia juga belajar pada banyak habaib dan ulama yang ada di kota Pasuruan. Satu per satu rumah para habaib dan ulama yang ternama ia datangi, untuk mengajarkan ilmu kepadanya. “Karena itu minimlah ilmu kita. Karena saya tidak belajar taklim, belajar seadanya, tidak seperti lulusan pesantren luar negeri,” kata Habib Taufiq dengan rendah hati. &lt;br /&gt;Menurutnya semua guru yang pernah mengajar taklim kepadanya sangat berkesan. “Semua guru-guru saya adalah orang-orang yang baik dan memberikan contoh dan semangat untuk berkiprah pada masyarakat, berkhidmat pada agama dan Rasulullah SAW,” demikian pandangan Habib Taufiq terhadap guru-gurunya di Pasuruan. &lt;br /&gt;Setelah banyak belajar dari ulama dan habaib yang ada di kota Pasuruan, ia kemudian melanjutkan belajar pada seorang Habib ternama kota Surabaya yakni Habib Umar bin Hasyim Ba’agil. Selama menempuh taklim di Surabaya, selama seminggu di Surabaya dan seminggu kemudian ke Pasuruan. Aktivitas itu ia jalani sampai Habib Umar bin Hasyim Ba’agil wafat.&lt;br /&gt;Menurutnya Habib Umar adalah seorang guru yang sangat mendalam ilmunya. Dalam sisi yang lain, lanjutnya, Habib Umar adalah seorang guru yang sangat bersemangat dalam mengajar ilmu. “Sekalipun dalam keadaan sakit, Habib Umar masih menyempatkan untuk mengajar. Bahkan kalau pun dia tertidur saat mengajar, minta dibangunkan,” kata Habib Taufiq.&lt;br /&gt;Setelah menggali ilmu ke berbagai tempat dan habaib serta ulama. Mulailah ia merintis berdakwah. Pada awalnya ia hanya membuka madrasah di Jl. KH Wahid Hasyim (barat Masjid kota) Pasuruan. Ia kemudian melanjutkan pengelolaan madrasah yang pernah diasuh oleh Habib Ja’far bin Syaikhon Assegaf (kakeknya) dan Habib Abdul Kadir bin Husein Assegaf (ayahnya). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cahaya Nabawiy&lt;br /&gt;Aktivitasnya dalam berdakwah tidak hanya membuka taklim di rumahnya. Ia kemudian mulai merintis membuat majalah Islam yang bernama Cahaya Nabawiy bersama kawan-kawannya yang ada di kota Pasuruan. Ternyata sambutan dari rekan-rekan yang di kota itu bersambut dengan baik. “Kita memulai sesuatu dengan serba keterbatasan. Modal kita hanya keberanian saja,” kata Habib Taufiq.&lt;br /&gt;Awalnya mereka hanya menerbitkan sekitar 300 ekslempar, namun melihat perkembangan dan permintaan pembaca yang kian meningkat, lambat laun jumlah ekslempar terus ditingkatkan. Jumlah majalah Cahaya Nabawiy sekarang telah di cetak mencapai 7000 ekslemplar setiap bulan. Walau hanya diterbitkan dari kota Pasuruan, majalah ini telah merambah ke berbagai wilayah tanah air. Bahkan pada perkembangan terakhir, pihaknya sampai kewalahan melayani permintaan dari luar Jawa.&lt;br /&gt;“Alhamdulillah semua berjalan baik, walau tidak berjalan sekuat yang ada pada majalah Islam pada umumnya. Yang jelas tujuannya untuk dakwah untuk Ilallah,” jelas Habib Taufiq.&lt;br /&gt;Selain membagi waktu untuk mengelola majalah, ia juga rajin memberikan taushiah. Di tengah kesibukannya mengelola taklim, majalah, radio dan berceramah di sekitar Pasuruan, ia juga berdakwah ke berbagai wilayah di perbagai penjuru tanah air. Bahkan jangkauan dakwah Habib Taufiq merambah pada wilayah-wilayah yang terpencil. &lt;br /&gt;Sampai sekarang ia secara rutin membina umat di daerah-daerah yang minoritas muslim, seperti daerah Tengger, Sampit, Bali, dan lain lain. Habib Taufiq tak segan-segan mengirim santri-santrinya dan  mendampingi masyarakat yang awam pengetahuan agama.&lt;br /&gt;Untuk mematangkan konsep dan langkah berdakwah, sejak tahun 2003 yang lalu, ia mendirikan Pondok Pesantren di Jl Sidogiri, Pasuruan. Sistem pesantren ini menggunakan halaqah yang menggunakan kitab-kitab salaf.  “Sebenarnya saya membuat pesantren tidak direncanakan, karena saya hanya ingin membuat madrasah saja. Cuma takdirnya Allah, akhirnya menjadi pesantren,” kata Habib Taufiq menceritakan awal berdirinya pesantren yang ia pimpin sekarang.&lt;br /&gt;Pesantrennya ini mengalami perkembangan yang sangat pesat. Walau baru berumur tiga tahun, sekarang sudah berdiri sekitar 30 cabang madrasah dan 13 pondok pesantren yang tersebar di Jawa, Bali, Kalimantan. Memang letak pesantren yang berdiri di bawah naungan Pondok Pesantren As-Sunny As-Salafiyah tidak ada satu tempat, namun beberapa cabang. Sehingga setelah lulus dari cabang-cabang pendidikan yang ia kelola, baru masuk ke pesantren yang ada di Jl Sidogiri. &lt;br /&gt;Setiap alumni pesantren As-Sunny As-Salafiyah, kemudian ia dorong untuk berdakwah. “Setiap alumni, kita tempatkan di daerah-daerah yang minoritas untuk berdakwah seperti di Tengger. Bahkan untuk daerah pegunungan Tengger, sekarang telah didirikan 14 Madrasah dan beberapa madrasah di daerah-daerah minoritas muslim”.&lt;br /&gt;Pondok As-Sunny As-Salafiyah menggunakan sistem pendidikan pesantren model  halaqah dengan menggunakan kitab-kitab salaf. “Insya Allah akan kita kembangkan dengan ilmu-ilmu yang banyak di butuhkan masyakarat seperti ilmu komputer dan bahasa inggris, sekarang masih dalam tahap perencanaan.”&lt;br /&gt;Di Pondok ini ada tiga penjurusan yakni pertama, Tahasus Al- Qur’an, dengan program hafal qur’an dan tafsirnya. Kedua, Tahasus Syari’ah, dimana setiap santri ditekankan  untuk menghadalkan Zubath. Setiap santri wajib mempelajari kitab Minhaj, Ushul Fiqh, Qawaidh Fiqhiyah. Ketiga, Bismul Lughah, tentang masalah bahasa yakni penekanan pelajaran yang berkaitan dengan ilmu-ilmu bahasa, seperti nahwu, sharaf, balaghah. &lt;br /&gt;Jumlah santri yang ia kelola di Jl Sidogiri saat ini ada sekitar 300-350 santri. Sedangkan jumlah total dari seluruh santri ada sekitar lebih dari 2000 santri. Mengenai kriteria alumni pesantren yang dia pimpin, ia mengharapkan setiap ilmu selain berhasil juga menghasilkan. ”Bukan berarti murid selama di pesantren saja berhasil menunut ilmu. Namun sampai pulang ke rumah pun, ia berhasil memanfaatkan ilmunya dengan berdakwah ke masyarakat,” jelas Habib Taufiq.&lt;br /&gt;Di tengah kesibukan nya berdakwah langsung ke masyarakat, ia juga juga mempunyai jadwal tetap yakni mengajar taklim di rumahnya di Jl KH Wahid Hasyim atau tepatnya di barat Masjid Kota Pasuruan tiap hari jam enam pagi dan teruskan dengan pembacaan kalam salaf. Majelis Taklim yang sudah berlangsung turun-temurun dari sang kakek, Habib Ja’far bin Syaikhon Assegaf dan sang ayahanda, Habib Abdul Kadir bin Husein Assegaf yakni membacakan Kitab Ihya Ulumiddin karya Hujjatul Islam,  Imam Ghazali yang diikuti oleh masyarakat Pasuruan dan sekitarnya.&lt;br /&gt;Uniknya dari setiap acara pengajian baik di rumahnya maupun di pesantren Sunny As Salafiyah dipancarkan langsung melalui Radio Suara Nabawiy baik melalui frekuensi 107 FM dan 747 AM. Dakwah melalui stasiun radio Suara Nabawiy ini dimaksudkan untuk memperluas jangkauan dakwah. Sebab pancaran radio ini ternyata juga sampai ke seluruh pelosok sekitar Pasuruan bahkan sampai ke wilayah Jawa Tengah bagian timur.&lt;br /&gt;Dengan berbagai ragam aktivitas dakwah yang ia emban, Habib Taufiq mengaku bukannya tidak ada hambatan namun penuh tantangan. ”Tantangannya, memang adalah modal kita yang terbatas tidak hanya sumber daya manusia (SDM) dan modal (finansial). Dan Kita harus bagi dengan dakwah yang lainnya seperti untuk madrasah, anak yatim. Saya bukan orang yang banyak uang. Alhamdulillah, kita sudah buktikan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan seluruh potensi dakwah,” katanya.&lt;br /&gt;AST/Ft. AST&lt;br /&gt;Caption:&lt;br /&gt;1. Lead&lt;br /&gt;2. Sedang memberikan taushiah. Penuh semangat dan berapi-api&lt;br /&gt;3. Di tengah santri-santri. Memulai dengan serba keterbatasan&lt;br /&gt;4. Siaran di Radio Suara Nabawiy. Memperluas jangkauan dakwah &lt;br /&gt;5. Habib Taufiq. Merambah daerah terpencil&lt;br /&gt;6. Sedang memberikan taklim. Sudah berjalan rutin&amp;nbsp;&lt;a href='http://picasa.google.com/blogger/' target='ext'&gt;&lt;img src='http://photos1.blogger.com/pbp.gif' alt='Posted by Picasa' style='border: 0px none ; padding: 0px; background: transparent none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: initial; -moz-background-origin: initial; -moz-background-inline-policy: initial;' align='middle' border='0' /&gt;&lt;/a&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22828176-116961938776898053?l=ajisetiawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajisetiawan.blogspot.com/feeds/116961938776898053/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22828176&amp;postID=116961938776898053' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22828176/posts/default/116961938776898053'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22828176/posts/default/116961938776898053'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajisetiawan.blogspot.com/2007/01/habib-taufiq-assegaf.html' title='Habib Taufiq Assegaf'/><author><name>Aji Setiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14411902879772066714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://photos1.blogger.com/x/blogger/1979/2328/640/163197/Aji1.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22828176.post-116954057738471275</id><published>2007-01-23T15:21:00.000+07:00</published><updated>2007-01-23T15:22:57.653+07:00</updated><title type='text'>KH Achmad Djazuli</title><content type='html'>&lt;A HREF='http://photos1.blogger.com/x/blogger/1979/2328/640/502945/Jazuli.jpg'&gt;&lt;IMG SRC='http://photos1.blogger.com/x/blogger/1979/2328/320/352801/Jazuli.jpg' border=0 alt='' style='display:block;margin 0px auto 10px; cursor:hand; text-align:center'&gt;&lt;/A&gt;&amp;nbsp;&lt;br /&gt;Sang Blawong Pewaris Keluhuran &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dialah Mas’ud, yang mendapat julukan Blawong dari KH. Zainuddin. Kelak dikemudian hari ia lebih dikenal dengan nama KH. Achmad Djazuli Utsman, pendiri dan pengasuh I Pondok Pesantren Al-Falah, Ploso, Kediri.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diam-diam KH. Zainuddin memperhatikan gerak-gerik santri baru yang berasal dari Ploso itu. Dalam satu kesempatan, sang pengasuh pesantren bertemu Mas’ud memerintahkan untuk tinggal di dalam pondok.&lt;br /&gt;“Co, endang ning pondok!”&lt;br /&gt;“Kulo mboten gadah sangu, Pak Kyai.”&lt;br /&gt;“Ayo, Co...mbesok kowe arep dadi Blawong, Co!”&lt;br /&gt;Mas’ud yang tidak mengerti apa artinya Blawong, hanya diam saja. Setelah tiga kali meminta, barulah Mas’ud menurut perintah Kyai Zainuddin untuk tinggal di dalam bilik pondok. Sejak itulah, Mas’ud kerap mendapat julukan Blawong.&lt;br /&gt;Ternyata Blawong adalah burung perkutut mahal yang bunyinya sangat indah dan merdu. Si Blawong itu dipelihara dengan mulia di istana Kerajaan Bawijaya. Alunan suaranya mengagumkan, tidak ada seorang pun yang berkata-kata tatkala Blawong sedang berkicau, semua menyimak suaranya. Seolah burung itu punya karisma yang luar biasa. &lt;br /&gt;Ia lahir di awal abad XIX, tepatnya tanggal 16 Mei 1900 M. Ia adalah anak Raden Mas M. Utsman seorang Onder Distrik (penghulu kecamatan). Sebagai anak bangsawan, Mas’ud beruntung, karena ia bisa mengenyam pendidikan sekolah formal seperti SR, MULO, HIS bahkan sampai dapat duduk di tingkat perguruan tinggi STOVIA (Fakultas Kedokteran UI sekarang) di Batavia.&lt;br /&gt;Belum lama Mas’ud menempuh pendidikan di STOVIA, tak lama berselang Pak Naib, demikian panggilan akrab RM Utsman kedatangan tamu, KH. Ma’ruf (Kedunglo) yang dikenal sebagai murid Kyai Kholil, Bangkalan (Madura). &lt;br /&gt;“Pundi Mas’ud?” tanya Kyai Ma’ruf.&lt;br /&gt;“Ke Batavia. Dia sekolah di jurusan kedokteran,” jawab Ayah Mas’ud.&lt;br /&gt;“Saene Mas’ud dipun aturi wangsul. Larene niku ingkang paroyogi dipun lebetaken pondok (Sebaiknya ia dipanggil pulang. Anak itu cocoknya dimasukan ke pondok pesantren),” kata Kyai Ma’ruf. &lt;br /&gt;Mendapat perintah dari seorang ulama yang sangat dihormatinya itu, Pak Naib kemudian mengirim surat ke Batavia meminta Mas’ud untuk pulang ke Ploso, Kediri. Sebagai anak yang berbakti ia pun kemudian pulang ke Kediri dan mulai belajar dari pesantren ke pesantren yang lainnya yang ada di sekitar karsidenan Kediri. &lt;br /&gt;Mas’ud mengawali masuk pesantren Gondanglegi di Nganjuk yang diasuh oleh KH. Ahmad Sholeh. Di pesantren ini ia mendalami ilmu-ilmu yang berkaitan dengan Al-Qur’an, khususnya tajwid dan kitab Jurumiyah yang berisi tata bahasa Arab dasar (Nahwu) selama 6 bulan.&lt;br /&gt;Setelah menguasai ilmu Nahwu, Mas’ud yang dikenal sejak usia muda itu gemar menuntut ilmu kemudian memperdalam pelajaran tashrifan (ilmu Shorof) selama setahun di Pondok Sono (Sidoarjo). Ia juga sempat mondok di Sekarputih, Nganjuk yang diasuh KH. Abdul Rohman. Hingga akhirnya ia nyantri ke pondok yang didirikan oleh KH. Ali Imron di Mojosari, Nganjuk dan pada waktu itu diasuh oleh KH. Zainuddin. &lt;br /&gt;KH. Zainuddin dikenal banyak melahirkan ulama besar, semacam KH. Wahhab Hasbullah (Pendiri NU dan Rais Am setelah KH. Hasjim Asy’ari), Mas’ud yang waktu itu telah kehabisan bekal untuk tinggal di dalam pondok kemudian mukim di langgar pucung (musala yang terletak tidak jauh pondok).&lt;br /&gt;Selama di Pondok Mojosari, Mas’ud hidup sangat sederhana. Bekal lima rupiah sebulan, dirasa sangat jauh dari standar kehidupan santri yang pada waktu rata-rata Rp 10,-. Setiap hari, ia hanya makan satu lepek (piring kecil) dengan lauk pauk sayur ontong (jantung) pisang atau daun luntas yang dioleskan pada sambal kluwak. Sungguh jauh dikatakan nikmat apalagi lezat.&lt;br /&gt;Di tengah kehidupan yang makin sulit itu, Pak Naib Utsman, ayah tercinta meninggal. Untuk menompang biaya hidup di pondok, Mas’ud membeli kitab-kitab kuning masih kosong lalu ia memberi makna yang sangat jelas dan mudah dibaca. Satu kitab kecil semacam Fathul Qorib, ia jual Rp 2,5,-(seringgit), hasil yang lumayan untuk membiayai hidup selama 15 hari di pondok itu.         &lt;br /&gt;Setelah empat mondok di Mojosari, Mas’ud kemudian dijodohkan dengan Ning Badriyah putri Kyai Khozin, Widang, Tuban (ipar Kyai Zainuddin). Namun rupa-rupanya antara Kyai Khozin dan Kyai Zainuddin saling berebut pengaruh agar Mas’ud mengajar di pondoknya. Di tengah kebingungan itulah, Mas’ud berangkat haji sekaligus menuntut ilmu langsung di Mekkah. &lt;br /&gt;H. Djazuli, demikian nama panggilan namanya setelah sempurna menunaikan ibadah haji. Selama di tanah suci, ia berguru pada Syeikh Al-‘Alamah Al-Alaydrus di Jabal Hindi. Namun, ia di sana tidak begitu lama, hanya sekitar dua tahun saja, karena ada kudeta yang dilancarkan oleh kelompok Wahabi pada tahun 1922 yang diprakasai Pangeran Abdul Aziz As-Su’ud.&lt;br /&gt;Di tengah berkecamuknya perang saudara itu, H. Djazuli bersama 5 teman lainnya berziarah ke makam Rasulullah SAW di Madinah. Sampai akhirnya H. Djazuli dan kawan-kawannya itu ditangkap oleh pihak keamanan Madinah dan dipaksa pulang lewat pengurusan konsulat Belanda.&lt;br /&gt;Sepulang dari tanah suci, Mas’ud kemudian pulang ke tanah kelahirannya, Ploso dan hanya membawa sebuah kitab yakni Dalailul Khairat. Selang satu tahun kemudian, 1923 ia meneruskan nyantri ke Tebuireng Jombang untuk memperdalam ilmu hadits di bawah bimbingan langsung Hadirotusy Syekh KH. Hasjim Asya’ri. &lt;br /&gt;Tatkala H. Djazuli sampai di Tebuireng dan sowan ke KH. Hasjim Asya’ri untuk belajar, Al-Hadirotusy Syekh sudah tahu siapa Djazuli yang sebenarnya, ”Kamu tidak usah mengaji, mengajar saja di sini.” H. Djazuli kemudian mengajar Jalalain, bahkan ia kerap mewakili Tebuireng dalam bahtsul masa’il (seminar) yang diselenggarakan di Kenes, Semarang, Surabaya dan sebagainya.  &lt;br /&gt;Setelah dirasa cukup, ia kemudian melanjutkan ke Pesantren Tremas yang diasuh KH. Ahmad Dimyathi (adik kandung Syeikh Mahfudz Attarmasiy). Tak berapa lama kemudian ia pulang ke kampung halaman, Ploso. Sekian lama Djazuli menghimpun “air keilmuan dan keagamaan”. Ibarat telaga, telah penuh. Saatnya mengalirkan air ilmu pegetahuan ke masyakrat. &lt;br /&gt;Dengan modak tekad yang kuat untuk menanggulangi kebodohan dan kedzoliman, ia mengembangkan ilmu yang dimilikinya dengan jalan mengadakan pengajian-pengajian kepada masyarakat Ploso dan sekitarnya. Hari demi hari ia lalui dengan semangat istiqamah menyiarkan agama Islam.&lt;br /&gt;Hal ini menarik simpati masyakarat untuk berguru kepadanya. Sampai akhirnya ia mulai merintis sarana tempat belajar untuk menampung murid-murid yang saling berdatangan. Pada awalnya hanya dua orang, lama kelamaan berkembang menjadi 12 orang. Hingga pada akhir tahun 1940-an, jumlah santri telah berkembang menjadi sekitar 200 santri dari berbagai pelosok Indonesia.&lt;br /&gt;Pada jaman Jepang, ia pernah menjabat sebagai wakil Sacok (Camat). Di mana pada  siang hari ia mengenakan celana Goni untuk mengadakan grebegan dan rampasan padi dan hasil bumi ke desa-desa. Kalau malam, ia gelisah bagaimana melepaskan diri dari paksaan Jepang yang kejam dan biadab itu.&lt;br /&gt;Kekejaman dan kebiadaban Jepang mencapai puncaknya sehingga para santri selalu diawasi gerak-geriknya, bahkan mereka mendapat giliran tugas demi kepentingan Jepang. Kalau datang waktu siang, para santri aktif latihan tasio (baris berbaris) bahkan pernah menjadi Juara se-Kecamatan Mojo. Tapi kalau malam  mereka menyusun siasat untuk melawan Jepang. Demikian pula setelah Jepang takluk, para santri kemudian menghimpun diri dalam barisan tentara Hisbullah untuk berjuang.&lt;br /&gt;Selepas perang kemerdekaan, pesantren Al-Falah baru bisa berbenah. Pada tahun 1950 jumlah santri yang datang telah mencapai 400 santri. Perluasan dan pengembangan pondok pesantren, persis meniru kepada Sistem Tebuireng pada tahun 1923. Suatu sistem yang dikagumi dan ditimba Kyai Djazuli selama mondok di sana.&lt;br /&gt;Sampai di akhir hayat, KH. Ahmad Djazuli Utsman dikenal istiqomah dalam mengajar kepada santri-santrinya. Saat memasuki usia senja, Kyai Djazuli mengajar kitab Al-Hikam (tasawuf) secara periodik setiap malam Jum’at bersama KH. Abdul Madjid dan KH. Mundzir. Bahkan sekalipun dalam keadaan sakit, beliau tetap mendampingi santri-santri yang belajar kepadanya. Riyadloh yang ia amalkan memang sangat sederhana namun mempunyai makna yang dalam. Beliau memang tidak mengamalkan wiridan-wiridan tertentu. Thoriqoh Kyai Djazuli hanyalah belajar dan mengajar “Ana thoriqoh ta’lim wa ta’allum,”katanya berulangkali kepada para santri.&lt;br /&gt;Hingga akhirnya Allah SWT berkehendak memanggil sang Blawong kehadapan-Nya, hari Sabtu Wage 10 Januari 1976 (10 Muharam 1396 H). Beliau meninggalkan 5 orang putra dan 1 putri dari buah perkawinannya dengan Nyai Rodliyah, yakni KH. Achmad Zainuddin, KH. Nurul Huda, KH. Chamim (Gus Miek), KH. Fuad Mun’im, KH. Munif dan Ibu Nyai Hj. Lailatus Badriyah. Ribuan umat mengiringi prosesi pemakaman sosok pemimpin dan ulama itu di sebelah masjid kenaiban, Ploso, Kediri.&lt;br /&gt;Konon, sebagian anak-anak kecil di Ploso, saat jelang kematian KH. Djazuli, melihat langit bertabur kembang. Langit pun seolah berduka dengan kepergian ‘Sang Blawong’ yang mengajarkan banyak keluhuran dan budi pekerti kepada santri-santrinya itu.      &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;AST/ft.AST&amp;nbsp;&lt;a href='http://picasa.google.com/blogger/' target='ext'&gt;&lt;img src='http://photos1.blogger.com/pbp.gif' alt='Posted by Picasa' style='border: 0px none ; padding: 0px; background: transparent none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: initial; -moz-background-origin: initial; -moz-background-inline-policy: initial;' align='middle' border='0' /&gt;&lt;/a&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22828176-116954057738471275?l=ajisetiawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajisetiawan.blogspot.com/feeds/116954057738471275/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22828176&amp;postID=116954057738471275' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22828176/posts/default/116954057738471275'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22828176/posts/default/116954057738471275'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajisetiawan.blogspot.com/2007/01/kh-achmad-djazuli.html' title='KH Achmad Djazuli'/><author><name>Aji Setiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14411902879772066714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://photos1.blogger.com/x/blogger/1979/2328/640/163197/Aji1.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22828176.post-116953620275747957</id><published>2007-01-23T14:08:00.000+07:00</published><updated>2007-01-23T14:10:03.006+07:00</updated><title type='text'>KH. Mukhtar Syafaat</title><content type='html'>&lt;A HREF='http://photos1.blogger.com/x/blogger/1979/2328/640/9645/KH%20Mukhtar%20Syafaat.jpg'&gt;&lt;IMG SRC='http://photos1.blogger.com/x/blogger/1979/2328/320/516956/KH%20Mukhtar%20Syafaat.jpg' border=0 alt='' style='display:block;margin 0px auto 10px; cursor:hand; text-align:center'&gt;&lt;/A&gt;&amp;nbsp;&lt;br /&gt;Ulama Panutan Umat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu ulama terkemuka di Banyuwangi ini terkenal dengan sikap dan perilaku yang menjadi panutan umat. Dialah KH Mukhtar Syafaat, pendiri sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Darussalam, BlokAgung, Jajag, Banyuwangi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Suatu waktu, Kyai Dimyati (putra KH Ibrahim) mengalami jadzab (“nyleneh”). Ia mengusir Syafa’at dan kedua sahabatnya yang bernama Mawardi dan Keling. Ketiganya adalah santri yang dibencinya. Saat Kyai Syafa’at sedang mengajar, Kyai Dimyati (Syarif) melemparinya dengan maksud agar Syafa’at meninggalkan pondok. Akhirnya Syafa’at meningalkan Pondok Pesantren Jalen Genteng yang diikuti oleh salah satu santri yang bernama Muhyidin, santri asal Pacitan ke kediaman kakak perempuannya Uminatun yang terletak di Blokagung. &lt;br /&gt; Selama di Blokagung ini, ia mulai mengajar di Musala milik kakak perempuanya itu. Mula-mula ia Al-Qur’an dan beberapa kitab dasar kepada para pemuda masyarakat sekitar dan akhirnya para santri yang dahulu menetap di Pondok Pesantren Jalen Genteng turut belajar di Musala kecil itu. Beberapa bulan kemudian, musala itu sudah tidak dapat menampung lagi para santri yang ingin belajar kepadanya. Akhirnya, tempat belajar pindah ke masjid milik Kyai Hamid yang berada tidak jauh dari musala.&lt;br /&gt;Itulah sekilas latar belakang KH Muktar Syafaat Abdul Ghafur seorang ulama dan guru panutan umat. Ia lahir di dusun Sumontoro, Desa Ploso Lor, Kec Ploso Wetan, Kediri, 6 Maret 1919. Ia adalah putra keempat dari pasangan suami-isteri KH Abdul Ghafur dan Nyai Sangkep. Kalau dilihat dari silsilah keturunan, KH Mukhtar Syafa’at merupakan salah seorang keturunan pejuang dan ulama, dari silsilah ayahnya, yakni KH Mukhtar Syafa’at putra dari Syafa’at bin Kyai Sobar Iman bin  Sultan Diponegoro III (keturunan prajurit Pangeran Diponegoro) dan garis ibu, yaitu Nyai Sangkep binti Kyai Abdurrohman bin Kyai Abdullah (keturunan prajurit Untung Suropati).&lt;br /&gt; Sejak usia kanak-kanak (4 tahun), Syafa’at telah menunjukkan sikap dan perilaku cinta terhadap ilmu pengetahuan dan berkemauan keras mendalami agama Islam. Setiap sore hari, ia tekun mengaji ke mushola terdekat yang saat itu diasuh oleh Ustadz H. Ghofur. Dari sinilah ia mulai belajar membaca Al-Qur’an, tajwid dan Sulam Safinah. Pada tahun 1925 (usia 6 tahun), Syafa’at kemudian mengaji ke Kyai Hasan Abdi selama 3 tahun di desa Blokagung, Tegalsari, Banyuwangi.&lt;br /&gt; Selepas dikhitan pada tahun 1928, ia kemudian melanjutkan ke Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang yang saat itu diasuh oleh KH. Hasjim Asy’ari. Di pesantren ini, ia seperti umumnya santri-santri lain mendalami ilmu-ilmu agama Islam seperti Ilmu Nahwu, Shorof, Fiqih, Tafsir Al-Qur’an dan Akhlaq Tasawuf. Setelah 6 tahun menimba ilmu di Pondok Tebuireng, pada tahun 1936 ia diminta pulang oleh ayahnya agar saudaranya yang lain secara bergantian dapat mengenyam pendidikan pesantren. &lt;br /&gt;Permintaan tersebut ditampiknya secara halus, karena ia ingin mendalami dan menguasai ilmu-ilmu pesantren. Atas saran salah satu kakaknya, yakni Uminatun (Hj. Fatimah) pada tahun 1937 ia akhirnya meneruskan studi ke Pondok Pesantren Minhajut Thulab, Sumber Beras, Muncar, Banyuwangi yang diasuh KH. Abdul Manan. &lt;br /&gt; Selama menjadi santri di ponpes Minhajut Thulab, Syafa’at sering jatuh sakit. Setelah satu tahun, ia akhirnya pindah lagi ke Ponpes Tasmirit Tholabah yang diasuh oleh KH Ibrahim. Di pondok ini selain belajar, ia juga dipercaya oleh KH Ibrahim untuk mengajar ke santri lain. Di Pondok ini juga, Syafa’at mulai mengkaji ilmu-ilmu tasawuf, seperti belajar kitab Ihya Ulumiddin karya Syekh Imam Al-Ghozali. &lt;br /&gt;Pemahaman ini tidak sebatas pelajaran teori saja, namun juga ia praktekan secara langsung seperti saat mandi, shalat fardhu, dan berhubungan dengan lain jenis. Saat mandi, ia tidak pernah menanggalkan seluruh pakaiannya, dan tidak pernah melihat auratnya. Selain itu, selama di Ponpes Tasmirit Tholabah ia senantiasa shalat berjamaah di masjid. Padahal, ia termasuk kriteria “santri kasab”, yaitu santri yang mondok sambil bekerja kepada masyarakat sekitar.&lt;br /&gt; Selama masih menuntut ilmu dan merasa belum waktunya menikah, Mukhtar Syafa’at senantiasa memelihara diri dan menjaga jarak dengan hubungan lain jenis. Suatu hari, ia oleh teman-teman santri dijodoh-jodohkan dengan seorang gadis masyarakat sekitar Pondok Tasmirit Tholabah. Apa reaksinya? Ia justru bersikap dan berperilaku layaknya orang gila dengan cara memakai pakaian yang tidak wajar. Dengan demikian, gadis yang dijodoh-jodohkan tersebut beranggapan bahwa Syafa’at adalah benar-benar gila, dan praktis keberatan bila dijodohkan.&lt;br /&gt; Pengembaraan kyai Syafaat dalam menuntut ilmu adalah perjalanan panjang yang menuntut perjuangan, ketabahan hati dan pengorbanan. Ia seringkali dalam situasi dan kondisi yang memprihatinkan. Salah seorang sahabatnya ketika belajar di Ponpes Tasmirit Tholabah, KH Mu’allim Syarkowi menuturkan keadaannya,”KH Syafa’at(Alm) ketika belajar di Pondok Tasmirit Tholabah, Jalan Genteng Banyuwangi, sangatlah menderita. Ia sering jatuh sakit, terutama penyakit kudis (gudik). Disamping itu, ia tidak mendapat kiriman dari orang tuanya sehingga harus belajar sambil bekerja. Apabila musim tanam dan musim panen tiba, kami harus mendatangi petani untuk bekerja. Pagi-pagi benar kami harus sudah berangkat dan menjelang Dzuhur kami baru pulang. Sedangkan malam hari kami gunakan untuk belajar mengaji.”&lt;br /&gt; Walaupun dalam kondisi yang memprihatinkan, Kyai Syafa’at tetap bersikeras untuk mendalami ilmu-ilmu agama Islam. Semasa masa pendudukan Jepang antara tahun 1942-1945, ia juga turut berperan aktif dalam bela negara dan merebut kemerdekaan RI.Oleh teman-teman seperjuangan, ia diangkat sebagai juru fatwa dan sumber ide dalam penyerangan. Setiap akan melangkah, mereka meminta pertimbangan dahulu kepada Syafa’at. &lt;br /&gt; Pada jaman pendudukan Jepang, Syafa’at tidak luput dari gerakan Dai Nippon Jepang yang bernama Hako Kotai, yaitu gerakan  pemerasan terhadap harta, jiwa dan harta bangsa Indonesia demi kemenangan Perang Asia Timur Raya. dalam gerakan ini, Syafa’at diwajibkan mengikuti kerja paksa selama 7 hari di Tumpang Pitu (pesisir laut pantai selatan teluk Grajagan dan Lampon). Ia dipekerjakan sebagai penggali parit perlindungan tentara Jepang.&lt;br /&gt; Saat Belanda mendarat di pelabuhan Meneng, Sukowati, Banyuwangi Syafa’at tidak tinggal diam. Ia bergabung dalam Barisan Keamanan Rakyat yang dipimpin Kapten Sudarmin. Syafa’at juga turut aktif melakukan penyerbuan ke kamp-kamp tentara Belanda saat perang gerilya dengan bergabung dalam Font Kayangan Alas Purwo dan Sukamande kecamatan Pesangaran yang dipimpin Kyai Muhammad dan Kyai Musaddad. &lt;br /&gt;Lepas dari alam penjajahan Jepang dan Belanda, tepatnya pada tahun 1949 ia mulai merintis berdirinya Pesantren Darussalam. Setelah melalui perjuangan yang berat, pesantren Darussalam akhirnya berkembang dari waktu ke waktu dan jumlah santrinya pun semakin bertambah banyak.  Ini tak lepas dari sosok pendiri dan pengasuh pesantren KH Syafa’at yang menjadi sosok teladan sekaligus panutan umat. &lt;br /&gt; Ia juga kerap dimintai pertolongan untuk melakukan pengobatan masyarakat. Dengan cara menulis lafadz Ya’lamuuna, selepas itu pada huruf ‘Ain ditancapkan paku sambil dipukul palu. Sesekali KH Syafa’at menanyai pasien, apakah masih sakit atau tidak. Kalau masih sakit, dipukul lagi dan jika makin parah maka pada huruf Mim juga akan ditancapkan paku dan dipukul lagi sebagaimana huruf ‘Ain. Konon, pengobatan tradisional ini banyak melegakan pasien. Selain itu, ia juga sering dimintai untuk mengobati dan menangkal gangguan santet dan sejenisnya. Sehingga rumahnya kerap dikunjungi para tamu dari berbagai daerah. “Kalau kalian mengetahui ada tamu, maka beri tahu saya. Kalau saya tidak ada atau bepergian, silahkan tamu tersebut singgah ke rumah barang sejenak dan hormatilah mereka dengan baik. Kemudian, pintu rumah jangan ditutup sebelum jam 22.00,” demikian pesan KH. Syafa’at kepada keluarga dan para santri.&lt;br /&gt; KH Syafaat juga dikenal sebagai pribadi yang penuh kesedehanaan, qanaah, teguh menjaga muru’ah (harga diri) dan luhur budinya. Ia tidak pernah merasa rendah di hadapan orang-orang yang kaya, apalagi sampai merendahkan diri pada mereka dan ia tidak malas beribadah karena kefakirannya. Bahkan jika disedekahi harta, ia tidak mau menerima. Sekalipun diterima itu pun hanya sebatas yang diperlukan saja, tidak tamak untuk mengumpulkannya. &lt;br /&gt;Bahkan Kyai Sya’aat dikenal punya semangat memberi dan memuaskan setiap orang yang datang kepadanya. Pernah suatu saat Kyai Syafa’at akan berangkat Haji, terlebih dahulu ia berziarah ke makam Sunan Ampel di Surabaya. Lepas dari komplek makam, ia bertemu dengan ratusan pengemis dan ia memberikan shodaqah kepada para pengemis di sekitar makam sampai uangnya habis. Bahkan karena sebagian pengemis itu tidak kebagian, ia kemudian menyuruh salah satu santrinya untuk mencarikan hutangan sejumlah empat juta rupiah kepada Masyhuri di Surabaya untuk disedekahkan kepada para pengemis yang tidak kebagian.&lt;br /&gt; Tidak hanya itu, sering uang bisyaroh selepas mengisi pengajian di banyak tempat di berikan langsung kepada orang-orang yang tidak dikenalnya, tanpa menghitung jumlah uang yang diterimanya. Selain dermawan akan harta dan ilmu, KH Syafa’at dikenal seorang ulama yang wira’i ( menjaga kehormatan). &lt;br /&gt;Suatu ketika Kyai bepergian dengan ditemani oleh salah satu sopir, H Mudhofar, sampai di Karangdoro mobilnya rusak (mogok). Akhirnya mobil dibenahi dan oleh H. Mudhofar diambilkan batu bata untuk mengganjal mobil, di salah satu perumahan penduduk. Setelah selesai, mobil berjalan dan KH Syafa’at bertanya,”Batu bata itu milik siapa? Kalau punya orang, kembalikan!” Akhirnya mobil berhenti dan batu bata tersebut oleh H. Mudhofar dikembalikan ke tempatnya semula.&lt;br /&gt; Selain aktif dalam kegiatan kemasyarakatan, KH. Syafa’at juga aktif dalam Jami’ah Keagamaan Nahdlatul Ulama. Tercatat, ia pernah menjadi pengurus dari tingkat ranting sampai cabang. Jabatan terakhirnya adalah sebagai salah satu Mustasyar wilayah Banyuwangi, Jawa Timur.&lt;br /&gt; KH Syafaat pada hari Jumat malam, 1 Februari 1991 (17 Rajab 1411 H) dengan meninggalkan 14 anak  (10 putra, 4 putri) dari perkawinannya dengan Nyai Siti Maryam dan 7 anak (4 putra, 3 putri) dari perkawinannya dengan Nyai Hj Musyarofah. Jenazah setelah disemayamkan di rumah duka dan dishalati oleh mu’aziyin sampai 17 kali kemudian dimakamkan komplek makam keluarga, sekitar 100 meter arah utara dari Pesantren Darussalam, Blokagung, Banyuwangi.&lt;br /&gt;AST/Ft AST&amp;nbsp;&lt;a href='http://picasa.google.com/blogger/' target='ext'&gt;&lt;img src='http://photos1.blogger.com/pbp.gif' alt='Posted by Picasa' style='border: 0px none ; padding: 0px; background: transparent none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: initial; -moz-background-origin: initial; -moz-background-inline-policy: initial;' align='middle' border='0' /&gt;&lt;/a&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22828176-116953620275747957?l=ajisetiawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajisetiawan.blogspot.com/feeds/116953620275747957/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22828176&amp;postID=116953620275747957' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22828176/posts/default/116953620275747957'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22828176/posts/default/116953620275747957'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajisetiawan.blogspot.com/2007/01/kh-mukhtar-syafaat.html' title='KH. Mukhtar Syafaat'/><author><name>Aji Setiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14411902879772066714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://photos1.blogger.com/x/blogger/1979/2328/640/163197/Aji1.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22828176.post-116945599104197400</id><published>2007-01-22T15:51:00.000+07:00</published><updated>2007-01-22T15:53:11.160+07:00</updated><title type='text'>Ziarah</title><content type='html'>&lt;A HREF='http://photos1.blogger.com/x/blogger/1979/2328/640/621756/Makam.jpg'&gt;&lt;IMG SRC='http://photos1.blogger.com/x/blogger/1979/2328/320/228812/Makam.jpg' border=0 alt='' style='display:block;margin 0px auto 10px; cursor:hand; text-align:center'&gt;&lt;/A&gt;&amp;nbsp;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syekh Jambukarang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembuka Dakwah Islam di Purbalingga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berziarah ke makam Syekh Jambukarang sambil menikmati panorama puncak perbukitan Cahya di belahan utara Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matahari baru saja menyeruak di ufuk timur, ketika sinar kemerah-merahan memancar ke seluruh penjuru. Penduduk desa melangkah beriringan menuju ladang, menelusuri jalan setapak berbatu dan berundak yang di kanan-kirinya curam.&lt;br /&gt;Embun pagi, udara dingin, dan sepoi angin khas perbukitan mewarnai perjalanan ke Makam Syekh Jambukarang. Ia adalah ulama penyebar Islam di Purbalingga dan sekitarnya pada abad ke-12. Makam yang dikeramatkan oleh penduduk itu terletak di Desa Panusupan, Kecamatan Rembang, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, sekitar 20 kilometer sebelah utara Purbalingga.&lt;br /&gt;Untuk berziarah ke sana dibutuhkan waktu sekitar 30 menit dengan mikrobus jurusan Bobotsari-Rembang ke arah Monumen Jenderal Sudirman. Sampai di Desa Rajawana, perjalanan dilanjutkan dengan pick up bak terbuka jurusan Rajawana-Panusupan sekitar empat kilometer. &lt;br /&gt;Dari Desa Panusupan, peziarah masih harus melanjutkan perjalanan lagi. Kali ini dengan berjalan kaki sejauh satu kilometer, melalui jalan setapak berlapis semen yang membelah desa sampai ke gerbang makam. Di sini, setiap peziarah harus membayar retribusi (untuk pembangunan desa) sebesar Rp 3.000, lalu mengisi buku tamu.&lt;br /&gt;Dari situ kita menelusuri jalan selebar satu meter, naik-turun di lembah perbukitan hijau di belahan timur kaki Gunung Slamet. Sejauh mata memandang yang tampak hanya rerimbunan ilalang dan perbukitan yang menghijau.&lt;br /&gt;Sepanjang perjalanan, sepoi angin pegunungan dan kicau burung hutan menemani para peziarah. Sesekali berpapasan dengan serombongan kecil peziarah yang pulang dari makam. Untuk menempuh jarak sepanjang empat kilometer itu dibutuhkan waktu sekitar dua jam, lantaran kondisi jalan yang naik-turun.&lt;br /&gt;Sebagian peziarah mengeramatkan makam Syekh Jambukarang sehingga mereka menjadikannya sebagai sarana untuk bertawasul, menyampaikan doa kepada Allah SWT dengan perantara para wali. “Saya datang ke sini agar dagangan saya semakin laris,” kata Mbok Sutini asal Cirebon yang datang beserta tiga anggota keluarganya. &lt;br /&gt;Pada umumnya, peziarah bertandang ke makam pada malam Minggu Pon atau Rabu Pon. Namun, jumlah peziarah membeludak pada pergantian tahun. Banyak anak muda menghabiskan malam panjang di sana. Umumnya mereka membaca ayat Kursi, sebab diyakini ayat Kursi mengandung bermacam-macam fadilah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga Cahaya&lt;br /&gt;Siapa sebenarnya Syekh Jambukarang? Ia adalah putra Prabu Brawijaya Mahesa Tandreman, raja pertama Kerajaan Pajajaran. Ketika masih muda ia bernama Raden Mundingwangi, bergelar Adipati Mendang. Sejak muda ia senang menggeluti ilmu kanuragan. Meski berhak menjadi raja, ia lebih tertarik menjadi pendeta. Takhta kerajaan ia serahkan kepada adiknya, Raden Mundingsari, yang dinobatkan pada 1190.&lt;br /&gt;Ia pun lalu bertapa di Gunung Jambudipa atau Gunungkarang di Banten. Selama bertapa itulah ia menyaksikan tiga cahaya di sebelah timur, menjulang tinggi ke angkasa. Ia lalu mencari asal cahaya tersebut bersama 160 pengikutnya, menyusuri hutan, pegunungan, dan sungai. &lt;br /&gt;Setelah melewati Krawang, Sungai Comal, Gunung Cupu, Gunung Kraton, sampailah mereka di Desa Rajawana. Setelah mendaki Bukit Ardi Lawet, mereka tiba di Bukit Panungkulan yang juga disebut Bukit Cahya, masyarakat sekitar menyebutnya Gunung Cahya, di Desa Grantung, Kecamatan Karangmoncol, Purbalingga. Di puncak bukit inilah mereka mendirikan pertapaan.&lt;br /&gt;Pada waktu yang bersamaan, tiga cahaya tersebut juga disaksikan oleh seorang mubalig dari Timur Tengah, yang namanya kemudian dikenal sebagai Syekh Atas Angin, dan konon masih keturunan Rasulullah SAW. Maka bersama 200 pengiring, ia pun segera mencari sumber cahaya tersebut. Mula-mula mereka berlabuh di Gresik, Jawa Timur, lalu meneruskan perjalanan ke Pemalang, Jawa Tengah. Dari sana mereka lalu menuju ke Bukit Cahya. Di sinilah ia bertemu dengan Raden Mundingwangi, yang sedang bertapa.&lt;br /&gt;Ketika Syekh Atas Angin menyapanya dengan salam, Raden Mundingwangi diam saja. Sebab, ketika itu ia belum memeluk Islam. Maka mereka pun kemudian terlibat dalam adu kesaktian. Karena kalah, dan mengakui keunggulan Syekh Atas Angin, Raden Mundingwangi pun bersedia masuk Islam. Sejak itu oleh Syekh Atas Angin ia diberi ilmu kewalian dan gelar Pangeran Wali Syekh Jambukarang. &lt;br /&gt;Untuk menyempurnakan keislamannya, Pangeran Jambukarang menunaikan ibadah haji ke Mekah, dan pulang dari Tanah Suci ia dikenal sebagai Haji Purba. Konon, ia memiliki beberapa kekeramatan, antara lain kupluk atau pecinya dapat terbang, mampu menumpuk telur di udara, menggandeng bejana tempat air di angkasa.&lt;br /&gt;Tak lama kemudian, Syekh Atas Angin diambil menantu oleh Pangeran Jambukarang, dinikahkan dengan salah seorang putrinya, Nyai Rubiahbekti. Dari pernikahan ini lahirlah tiga putra dan dua putri: Pangeran Syekh Mahdum Husen, Pengeran Mahdum Medem, Pangeran Mahdum Umar, Nyai Rubiahraja, dan Nyai Rubiyahsekar. Belakangan, Pangeran Jambukarang membuka sebuah pesantren di Purbalingga. Setelah wafat, ia dimakamkan di puncak Gunung Cahya. &lt;br /&gt;Ada beberapa keturunan Syekh Jambukarang yang mengabdi di Kasultanan Demak. Sementara Pangeran Mahdum Husen, salah seorang putranya, punya peran dalam mengusir pasukan Kerajaan Pajajaran yang menyerang daerahnya. Sedangkan cucu Mahdum Husen, Syekh Mahdum Wali Prakosa, meneruskan pengabdian keluarganya di Kesultanan Demak.&lt;br /&gt;Dialah yang membuat soko guru Masjid Demak bersama Sunan Kalijaga, yang salah satunya kemudian terkenal dengan nama soko tatal, karena terbuat dari sisa-sisa kayu. Dialah pula yang meluruskan arah kiblat Masjid Demak, sehingga Sultan Demak memberi piagam penghargaan kepadanya.&lt;br /&gt;AST/Ft: AST&amp;nbsp;&lt;a href='http://picasa.google.com/blogger/' target='ext'&gt;&lt;img src='http://photos1.blogger.com/pbp.gif' alt='Posted by Picasa' style='border: 0px none ; padding: 0px; background: transparent none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: initial; -moz-background-origin: initial; -moz-background-inline-policy: initial;' align='middle' border='0' /&gt;&lt;/a&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22828176-116945599104197400?l=ajisetiawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajisetiawan.blogspot.com/feeds/116945599104197400/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22828176&amp;postID=116945599104197400' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22828176/posts/default/116945599104197400'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22828176/posts/default/116945599104197400'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajisetiawan.blogspot.com/2007/01/ziarah.html' title='Ziarah'/><author><name>Aji Setiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14411902879772066714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://photos1.blogger.com/x/blogger/1979/2328/640/163197/Aji1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22828176.post-116945176025934094</id><published>2007-01-22T14:41:00.000+07:00</published><updated>2007-01-22T14:42:40.360+07:00</updated><title type='text'>Manakib</title><content type='html'>&lt;A HREF='http://photos1.blogger.com/x/blogger/1979/2328/640/788643/Dscn5119.jpg'&gt;&lt;IMG SRC='http://photos1.blogger.com/x/blogger/1979/2328/320/404781/Dscn5119.jpg' border=0 alt='' style='display:block;margin 0px auto 10px; cursor:hand; text-align:center'&gt;&lt;/A&gt;&amp;nbsp;&lt;br /&gt;Habib Hadi bin Abdullah Al-Hadar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabupaten Banyuwangim, sebuah kabupaten yang terletak paling ujung timur dari propinsi Jawa Timur selain terkenal sebagai kota santri juga di kabupaten ini terdapat seorang auliya’ yang setiap tahun haulnya diperingati dengan besar-besaran setiap hari ahad pagi minggu pertama bulan Muharam. Waliyullah itu adalah Habib Hadi bin Abdullah bin Umar bin Abdullah bin Soleh Al-Hadar. Ia Lahir pada tahun 1908 M (1325H) di Banyuwangi. Habib Hadi dari kecil telah menunjukan akhak yang terpuji. Dari kanak-kanak ia telah menunjukan sikap-sikap yang baik. Dengan teman sepermainan tidak pernah mau mengganggu dan kalau pun diganggu, ia tidak pernah melawan. &lt;br /&gt;Pada umur sembilan tahun, ibunya yang bernama Syarifah Syifa binti Mustafa Assegaff meninggal. Ia kemudian oleh ayahnya Habib Abdullah bin Umar Al-Haddar dibawa ke Gathan, Hadramaut. Selama di negeri para auliya itu, Habib Hadi belajar dengan ulama-ulama setempat. Hari- hari diisinya dengan taklim dan mengaji. &lt;br /&gt;Saat bulan Ramadhan tiba, masyarakat muslim Hadramaut menyelenggarakan shalat tarawih berjamaah dengan waktu yang berbeda-beda, mulai dari lepas shalat isya sampai jelang waktu sahur. Habib Hadi tak ketinggalan ikut shalat tarawih berjamaah dari masjid yang satu ke masjid yang lainnya dari mulai lepas Isya sampai waktu jelang sahur. Kebiasaan ini membuat ayahanda Habib Hadi, Habib Abdullah bin Umar marah kepadanya.”Kamu ke sini bukan untuk beribadah. Kamu datang ke sini untuk menuntut ilmu. Jangan satu malam kamu habiskan untuk shalat tarawih.” &lt;br /&gt;Padahal usianya pada waktu itu, baru 11 tahun, ayahnya meninggal. Habib Hadi kemudian tinggal bersama seorang adiknya, yakni Habib Muhammad. Saat itulah ia hidup sangat sederhana di Hadramaut, namun di tengah kesederhanaan itu, ia selalu mendahulukan adiknya. Kalau ia mendapatkan dua keping roti dan secangkir kopi tiap sehabis shalat berjamaah,  dua keping roti dan secangkir kopi itu diberikan untuk adiknya dan ia lebih berpuasa. Demikian kecintaan yang luarbiasa untuk sang adik.&lt;br /&gt;Habib Hadi dari kecil telah menjaga makanan yang dimakan dari sesuatu yang haram, bahkan yang diragukan (subhat). Pernah suatu ketika sang adik membawa buah-buahan, ia kemudian bertanya, ”Dari mana kamu dapat buah-buahan ini?”&lt;br /&gt;Sang adik menjawab,”Saya memungut dari kebun sebelah.”&lt;br /&gt;Mendengar jawaban dari sang adik, Habib Hadi marah kemudian ia memegang buah yang dibawa sang adik dan berkata, ”Kembalikan ke tempat yang kamu yang dapat.”&lt;br /&gt;Sang adik pun akhirnya menuruti perintah sang kakak mengembalikan buah yang jatuh kepada sang pemilik kebun.&lt;br /&gt;Demikianlah sedari kecil, Habib Hadi sangat menjaga makanan yang masuk ke perutnya. Sehingga ibadah sesuatu &lt;br /&gt;Setelah ayahnya meninggal, Habib Hadi belajar dengan Habib Muhammad bin Hadi Assegaff di Seiwun. Habib Muhammad bin Hadi Seiwun ini adalah murid dari Habib Ali bin Muhammad bin Husein Al-Habsyi, sahibul maulid Simthud Durar. Selama di majelis Habib Muhammad ini, teman Habib Hadi selama belajar di sana adalah Habib Abdulkadir bin Husein Assegaff (ayahanda Habib taufik, Pasuruan).  &lt;br /&gt;Kalau malam, Habib Hadi bermunajat, berdzikir dan amalan-amalan yang mendekatkan diri kepada Allah SWT (qiyamul lail), sedangkan kalau siang hari ia berpuasa. Wajarlah melihat aktivitas ibadah dari Habib hadi telah terlihat sejak kecil, membuat sang guru, Habib Muhammad memberikan kedudukan yang istimewa di tengah murid-muridnya. &lt;br /&gt;Dalam mengajar, Habib Muhammad selalu menyediakan tempat duduk di sampingnya dalam keadaan kosong, dan tidak pernah ada seorang pun dari murid-muridnya yang berani menempati tempat duduk yang kosong itu. Tempat duduk yang kosong itu adalah tempat duduk Habib Hadi bin Abdullah Al-Hadar.    &lt;br /&gt;Pada umur 20 tahun, Habib Hadi pulang ke Indonesia melalui pelabuhan Surabaya. Saat itu ia disambut oleh saudara-saudaranya yang saat itu sudah sukses di Surabaya, seperti Habib Ahmad (pemborong jalanan), Habib Muhamad (pedagang beras), Habib Mustafa (saudagar kopra). Tapi, Habib Hadi menolak semua sambutan yang meriah, ia menolak pakaian yang sudah dipersiapkan oleh saudara-saudaranya.&lt;br /&gt;Melihat saudaranya yang sudah maju, Habib Hadi tidak terpikat untuk bergabung dengan saudara-saudaranya. Ia justru mampir ke tempat kenalannya yakni H. Abdul Aziz, seorang pedagang kain. Habib Hadi tiap hari berjualan sarung, kain batik di pasar. Melihat Habib Hadi jualan di pasar, saudara-saudaranya marah. Habib Hadi kemudian ditarik kerja di pelabuhan bagian menimbang kopra.&lt;br /&gt;Akhirnya Habib Hadi, menurut perintah saudara-saudaranya kerja di pelabuhan. Namun, sebelum kerja di pelabuhan, ia sempat mampir ke pasar untuk membeli paesan (nisan untuk orang mati) dan selalu dibawa ke tempat kerja. Nisan yang terbuat dari kayu itu ditaruhnya di bawah timbangan dan selalu ditaburi bunga yang masih segar. “Saya kalau menimbang kopra selalu ingat nisan yang ada di bawah timbangan. Dengan mengingat nisan ini, saya selalu ingat akan mati, maka timbangannya harus pas. Karena yang saya timbang ini akan dipertanggungjawabkan, kelak di hari kiamat,” kata Habib Hadi mengomentari tingkahnya yang selalu membawa nisan saat bekerja.&lt;br /&gt;Pernah ia dipindah ke bagian keuangan (kasir), suatu saat ia mengumpulkan uang yang rusak, palsu dan dikumpulkan semua. Dan akhirnya semua uang yang rusak itu dibuang ke laut. Melihat perilaku Habib Hadi, saudara-saudaranya sudah habis rasa kesalnya. Mereka marah dengan perilaku Habib Hadi.&lt;br /&gt;Melihat ketidakcocokan dalam bekerja dengan saudara-saudaranya, Habib Hadi kemudian berhenti bekerja dan lebih banyak beribadah serta hadir di acara-acara haul para ulama dan habib yang tersebar di Pulau Jawa, mulai Habib Ali bin Abdurahman Al-Habsyi. Habib Hadi kembali berdagang kain untuk menghidupi keluarga. Uniknya dalam berdagang, ia selalu jujur mengatakan harga yang sebenarnya dari barang yang dijualnya kepada pembelinya.”Boleh kamu kasih ongkosnya, atau lebihkan sedikit dari barang ini,” kata Habib Hadi kepada para pembelinya.&lt;br /&gt;KH Chasan Abdillah salah seorang ulama ternama di Glenmoore, Banyuwangi pernah berkata kepada Habib Hadi, ”Habib, anda tidak ditipu sama orang dengan berjualan seperti itu?”&lt;br /&gt;“Biar orang-orang menipu saya. Yang penting, saya tidak menipu sama orang lain,” kata Habib Hadi kepada KH Chasan Abdillah.&lt;br /&gt; Habib Hadi saat Banyuwangi dikenal sangat dekat dengan Habib Ja’far bin Syaikhon Assegaff (Pasuruan). Saat itu Habib Ja’far mempunyai tasbih kesayangan yang diperoleh dari Habib Husein bin Muhammad Al-Haddad. Tasbih itu ternyata adalah milik Habib Ali bin Muhammad bin Husein Al-Habsyi.     “Siapa yang memegang tasbih ini akan membuat kenyang akan dzikrullah,” kata Habib Ja’far kepada orang-orang yang ada di majelis. Orang-orang berebut ingin mendapatkannya. Tapi Habib Ja’far bin Syaikhon mencegahnya.”Sebentar lagi orangnya akan datang.” Tak berapa lama kemudian Habib Hadi hadir di majelis, Habib Ja’far langsung bangkit dan mengalungkan tasbih kesayangannya ke leher Habib Hadi. &lt;br /&gt; Saking dekatnya antara Habib Ja’far, kalau Habib Hadi datang, selalu diajaknya ke kamar dan dikunci. Sekalipun Habib Ja’far sedang ada pengajian atau tamu, Habib Hadi selalu diajaknya ke kamar khusus. Apa yang mereka perbincangkan, tidak ada yang tahu.&lt;br /&gt;Habib Hadi wafat pada usia 65 tahun dengan meninggalkan 8 orang anak (1 putra, 7 perempuan), pada Kamis, 4 Muharam 1393 H (8 Februari 1973). Jenazahnya kemudian dishalati dengan imam Habib Abdulkadir bin Husein Assegaff (Pasuruan) dan dimakamkan di komplek makam Blambangan, Lateng, Banyuwangi. &lt;br /&gt; AST, dari berbagai sumber&amp;nbsp;&lt;a href='http://picasa.google.com/blogger/' target='ext'&gt;&lt;img src='http://photos1.blogger.com/pbp.gif' alt='Posted by Picasa' style='border: 0px none ; padding: 0px; background: transparent none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: initial; -moz-background-origin: initial; -moz-background-inline-policy: initial;' align='middle' border='0' /&gt;&lt;/a&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22828176-116945176025934094?l=ajisetiawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajisetiawan.blogspot.com/feeds/116945176025934094/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22828176&amp;postID=116945176025934094' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22828176/posts/default/116945176025934094'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22828176/posts/default/116945176025934094'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajisetiawan.blogspot.com/2007/01/manakib.html' title='Manakib'/><author><name>Aji Setiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14411902879772066714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://photos1.blogger.com/x/blogger/1979/2328/640/163197/Aji1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22828176.post-116945077398255088</id><published>2007-01-22T14:24:00.000+07:00</published><updated>2007-01-22T14:26:14.406+07:00</updated><title type='text'>Manakib Habib Husein bin Hadi Al-Hamid</title><content type='html'>&lt;A HREF='http://photos1.blogger.com/x/blogger/1979/2328/640/963621/Dscn5107.jpg'&gt;&lt;IMG SRC='http://photos1.blogger.com/x/blogger/1979/2328/320/419223/Dscn5107.jpg' border=0 alt='' style='display:block;margin 0px auto 10px; cursor:hand; text-align:center'&gt;&lt;/A&gt;&amp;nbsp;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waliyullah Yang Berumur Panjang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Habib Husein termasuk seorang Waliyullah yang berumur panjang dan jauh dari penyakit-penyakit. Selian itu, ia sampai akhir hayatnya tidak pernah absen shalat Subuh berjamaah  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Desa Brani Kulon, Kraksan, Probolinggo (Jawa Timur), ada seorang Habib yang berumur panjang, ia wafat dalam usia 124 tahun. Ketika ditanya, kenapa ia tidak punya penyakit? &lt;br /&gt;”Di hati saya, tidak mempunyai sedikit pun rasa iri dan dengki terhadap pemberian orang lain,” demikian kata Habib Husein bin Hadi bin Salim Al-Hamid.&lt;br /&gt;Selain itu, kunci dari Habib Husein berumur panjang adalah tidak lain karena ia secara istiqamah shalat Subuh berjemaah di Masjid dan gemar melakukan jalan kaki sekitar satu jam. Habib Husein berjalan kaki tiap sambil berdakwah, setiap tempat yang beliau lalui selalu ia mendatangkan rahmah. Ia berjalan kaki dari rumahnya yang ada di Brani keliling kampung atau ke pasar. Dengan berjalan kaki tiap pagi, seluruh peredaran darah dalam tubuh jadi lancar. Udara segar yang dihirup membuat kesegaran tubuh tetap prima, itulah salah satu keistimewaan waktu dari shalat Subuh.&lt;br /&gt;Habib Husein sendiri lahir di Hadramaut, Yaman Selatan pada tahun 1862 M dari pasangan Habib Hadi bin Salim Al-Hamid dan Ummu Hani. Dari kecil, Habib Husein dididik langsung oleh kedua orang tuanya itu. Patut diketahui, Habib Hadi bin Salim Al-Hamid, ayahanda Habib Husein, dikenal sebagai salah seorang wali yang kesohor di Hadramaut. Habib Husein dibesarkan sampai umur 86 tahun di Hadramaut. &lt;br /&gt;Bagi orang sekarang, usia 86 tahun itu sudah memasuki usia senja, kakek-kakek di mana orang sudah mulai kehilangan kekuatan dan gairahnya. Namun bagi Habib Husein, usia seperti itu tergolong muda. Kekuatannya tak jauh berbeda dengan usia pemuda saat ini. Itulah salah satu kekuatan Habib Husein.  &lt;br /&gt; Di usia 86 tahun atau tepatnya 1929 M, ia masih senang mengembara ke berbagai negeri. Termasuk ke Hujarat dengan menggunakan kapal laut bersama saudagar-saudagar Arab yang berdagang melanglang buana ke berbagai negeri. Sejak itu ia Habib Husein meninggalkan Yaman dan tidak pernah kembali lagi ke sana.&lt;br /&gt; Sekitar 2 tahun, Habib Husein tinggal di Gujarat. Selama di Gujarat, ia berguru pada ulama setempat dan berdagang. Setelah itu, ia kembali mengembara ke Indonesia dengan menggunakan kapal saudagar yang menuju Batavia. Tak berapa lama kemudian, ia mengembara lagi ke berbagai daerah dan akhirnya ia sampai ke kota Pekalongan. Di kota ini, Habib Husein kemudian berguru pada seorang wali besar, yakni Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib Alattas hingga beberapa tahun lamanya.&lt;br /&gt; Kepada auliya’ yang sangat terkenal di Kota Pekalongan itu, Habib Husein selain berguru ilmu lahir, ia juga mendalami ilmu batin. Sebagai tanda bahwa Habib Husein telah mencapai maqam kewalian yang mumpuni, ia kemudian dihadiahi sebuah sorban (kain putih) dan kopiah putih dari Habib Ahmad bin Abdullah bin Tholib Alattas.&lt;br /&gt; Atas pesan Habib Ahmad bin Abdullah bin Tholib Alattas (Pekalongan), Habib Husein kemudian mengasah ilmu kepada Habib Muhammad bin Muhammad Al- Muhdhor, yang tidak lain adalah guru dari Habib Ahmad bin Abdullah bin Tholib Alatas. Selama menjadi murid Habib Muhammad, Habib Husein senantiasa menadapat perintah untuk berdakwah ke berbagai daerah. &lt;br /&gt;Salah satu tugasnya yang terakhir dari gurunya itu, Habib Husein diperintahkan untuk menyebarkan dakwah ke Brani Kulon, Kecamatan Maron, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Ia masuk ke desa yang terpencil itu sekitar tahun 1939. Saat itu kondisi desa Brani masih berupa hutan belantara dan sarang penyamun. Tampaknya, Habib Husein memang sengaja ditugasi untuk membrantas para penyamun untuk kembali ke jalan Allah SWT.&lt;br /&gt;  Setelah Habib Husein tinggal di Brani Kulon, ia langsung membuka dakwah dan dakwahnya itu diterima secara luas ke seluruh pelosok Kab Probolinggo. Tak mudah seperti dibayangkan, Habib Husein tidak langsung menempati rumah mewah di Brani. Ia harus membabat alas terlebih dahulu, bahkan ia hidup menumpang pada salah satu penduduk setempat.&lt;br /&gt;Kendati hanya hidup menumpang, ia tetap gigih berdakwah dalam rangka menyebarkan ajaran Islam. Kendati tempat tinggalnya menumpang, tetapi penyebaran Islam tak pernah berhenti hingga kemudian ia berhasil mendirikan pesantren kecil. Di desa itu pula ia mengakhiri masa lajangnya.&lt;br /&gt;Dalam sebuah perjalanan bersama para habaib dari berziarah ke Makam Habib Husein bin Abdullah Alaydrus (Kramat Luar Batang, Penjaringan, Jakarta Utara). Habib Husein di dalam kereta api pernah dipaksa untuk menyediakan tempat duduknya oleh seorang pemuda kumal dan hanya memakai kaos oblong. Melihat seorang pemuda yang berdiri di depannya, Habib Husein kemudian berdiri sembari menyerahkan tempat duduknya kepada pemuda asing itu. Setelah berdialog beberapa saat dan Habib Husein memberi bekal uang yang tersisa pada pemuda tersebut. Tak berapa lama,  tiba-tiba pemuda asing itu menghilang begitu saja. Ketika teman-teman Habib Husein mendapatinya sendirian, dan menanyakan tentang keberadaan pemuda asing tadi, Habib Husein berkata,”Dia itu sebenarnya  adalah Nabiyallah Khiddir Alaihi Salam.”&lt;br /&gt;Amaliah Habib Husein tidak saja menyeimbangkan ibadah dengan Allah SWT (hablumminnallah), ia juga menjalin hubungan yang erat dengan Umat (hablumminannas). Sering Habib Husein berjalan-jalan ke pasar dan melihat pedagang yang barang dagangannya tidak habis terjual atau malah tidak terjual sama sekali. Habib Husein tak segan-segan memborong barang dagangan dari pedagang yang ada di pasar agar si pedagang itu tidak menderita kerugian, atau minimal sang pedagang mendapat keuntungan.  Tak pelak dengan keseimbangan amaliah itu, dakwahnya diterima dengan baik oleh masyarakat luas. &lt;br /&gt;Tak hanya itu, dalam soal keilmuan, para santri PP Aswaja Brani Kulon sangat mempercayai kalau Habib Husein itu adalah titisan dari Syeikh Abdul Qadir Jaelani. Ikhwalnya ia mendapat julukan Titisan Syeikh Abdul Qadir Jaelani, adalah ketika Habib Ahmad, salah seorang sahabatnya pernah bermunajat kepada Allah agar bertemu dengan Syeikh Abdul Qadir Jaelani. Dalam mimpinya, ia dipertemukan dengan Syeikh Abdul Qadir Jaelani yang bersorban putih, dan ketika didekati ternyata wajah itu adalah wajah Habib Husein bin Hadi Al-Hamid.&lt;br /&gt; Sebagaimana banyak diketahui, Habib Husein kerap dikunjungi oleh para Habaib pada jamannya seperti salah seorang habib yang dikenal sebagai salah satu pejuang RI yakni Habib Soleh Tanggul (Jember). Habib Husein juga mempunyai kedekatan khusus dengan Habib Abdullah bin Abdul Qadir Bilfaqih (Darul Hadits, Malang) dan lain-lain. Bahkan anak cucu keturunan dari Habib Husein banyak yang masuk pesantren Darul Hadits, seperti Habib Muhammad Shodiq (anak), Habib Abdul Qadir (cucu), Habib Salim (cucu). Sekarang pesantren peninggalan Habib Husein di asuh oleh Abdul Qadir bin Muh Shadiq bin Husein Al-Hamid.  &lt;br /&gt;Habib Husein wafat hari Jum’at Legi, 11 Safar 1406 H/25 Januari 1986. Jenazahnya kemudian di makamkan di sebelah utara Masjid Al Mubarok, komplek Pondok Pesantren Ahlus Sunnah Wal Jamaah, Desa Brani Kulon, Kecamatan Maron, Probolinggo, Jawa Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AST/ft AST, disarikan dari Manakib Habib Husein yang disusun oleh Habib Abdul Qadir bin Muhammad Shodiq bin Husein bin Al-Hamid. &lt;br /&gt;1. Lead&lt;br /&gt;2. Bersama Habib Sholeh Tanggul (Jember). Berkawan dengan seorang pejuang RI    &lt;br /&gt;3. Dikunjungi Habib Abdullah bin Abdul Qadir Bilfagih (Malang). Banyak anak cucunya di kemudian hari belajar ke Darul Hadits &lt;br /&gt;4. Suasana Peringatan Haul Habib Husein. Selalu dihadiri puluhan ribu jama’ah&lt;br /&gt;5. Makam Habib Husein di Brani Kulon. Wali yang berumur panjang&amp;nbsp;&lt;a href='http://picasa.google.com/blogger/' target='ext'&gt;&lt;img src='http://photos1.blogger.com/pbp.gif' alt='Posted by Picasa' style='border: 0px none ; padding: 0px; background: transparent none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: initial; -moz-background-origin: initial; -moz-background-inline-policy: initial;' align='middle' border='0' /&gt;&lt;/a&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22828176-116945077398255088?l=ajisetiawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajisetiawan.blogspot.com/feeds/116945077398255088/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22828176&amp;postID=116945077398255088' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22828176/posts/default/116945077398255088'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22828176/posts/default/116945077398255088'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajisetiawan.blogspot.com/2007/01/manakib-habib-husein-bin-hadi-al-hamid.html' title='Manakib Habib Husein bin Hadi Al-Hamid'/><author><name>Aji Setiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14411902879772066714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://photos1.blogger.com/x/blogger/1979/2328/640/163197/Aji1.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22828176.post-116943492741458778</id><published>2007-01-22T10:00:00.000+07:00</published><updated>2007-01-22T10:02:07.626+07:00</updated><title type='text'>Babak Demi Babak Kelahiran NU</title><content type='html'>&lt;A HREF='http://photos1.blogger.com/x/blogger/1979/2328/640/261449/NU.jpg'&gt;&lt;IMG SRC='http://photos1.blogger.com/x/blogger/1979/2328/320/577517/NU.jpg' border=0 alt='' style='display:block;margin 0px auto 10px; cursor:hand; text-align:center'&gt;&lt;/A&gt;&amp;nbsp;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lapsus:&lt;br /&gt;Babak Demi Babak Kelahiran NU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nahdlatul Ulama yang lahir 31 Januari 1926 (16 Rajab 1344 H) menyimpan sejarah kelahiran yang berliku-liku. Selain menghadang arus modernisasi pemikiran yang bertentangan dengan kaum tradisionalis, juga menjadi wadah para ulama dalam memimpin umat menuju terciptanya izzul Islam wal muslimin (kejayaan Islam dan kaum muslimin)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kongres Al-Islam keempat di Yogyakarta (21-27 Agustus 1925) dan kongres Al-Islam kelima di Bandung (5 Februari 1926), kedua rapat akbar umat Islam Indonesia ini untuk memilih utusan untuk menghadiri Kongres Islam se-Dunia di Mekah. Kongres Al-Isalam di Yogyakarta  dan Bandung sangat didominasi oleh kalangan Islam modernis. Bahkan sebelum kongres di Bandung itu kalangan modernis sudah mengadakan pertemuan terlebih dahulu (8-10 Januari 1926) yang salah satu keputusannya menetapkan H.O.S. Tjokroaminoto dari Sarekat Islam dan KH Mas Mansur dari Muhammadiyah sebagai utusan untuk menghadiri kongres di Mekah.&lt;br /&gt;KH A Wahab Chasbullah dari kalangan tradisionalis yang “disingkirkan” dalam perhelatan itu, mencoba mengajukan usul-usul atas aspirasi Islam tradisonalis agar Raja Ibnu Saud menghormati tradisi keagamaan seperti membangun kuburan, membaca doa seperti Dalailul Khayrat, ajaran madzhab, termasuk tradisi yang menggurat di Mekah dan Madinah. Tetapi usul-usul tersebut nampaknya dikesampingkan oleh kalangan modernis. (lihat alKisah, No 4/IV/2006, rubrik Sejarah; Harlah NU: Menghadang Langkah Wahabi, hal 68-72). &lt;br /&gt;Akhirnya Kiai Wahab beserta tiga orang pengikutnya meninggalkan kongres dan mengambil inisiatif tersendiri dengan mengadakan rapat-rapat di kalangan ulama senior. Musyawarah-musyawarah kecil itu awalnya hanya melibatkan beberapa tokoh yang datang dari sekitar daerah Ampel, Kawatan, Bubutan, Sawahan dan daerah sekitarnya, semuanya kebanyakan dari Surabaya. Uniknya, rapat semacam itu dilakukan di sebuah mushala yang didirikan oleh H. Musa. Mushala itu terletak Jalan Ampel Masjid (sekarang menjadi Jl Kalimas Udik).  &lt;br /&gt;Baru setahun kemudian, tepatnya pada 31 Januari 1926 (16 Rajab 1344 H), dalam sebuah pertemuan di rumah Kiai Wahab di kampung Kawatan, Surabaya, yang dihadiri sejumlah ulama dari beberapa pesantren besar di Jawa Tengah dan Jawa Timur, para kiai sepuh sepakat mendirikan Komite Hijaz untuk mengantisipasi gerakan Wahabi, yang didukung secara politik oleh Raja Ibnu Saud. &lt;br /&gt;Pertemuan bersejarah itu memang dihadiri oleh beberapa ulama senior yang berpengaruh, seperti KH Hasjim Asj’ari dan KH Bisri Syansuri (Jombang), KH R. Asnawi (Kudus), KH Ma'sum (Lasem, Rembang) KH Nawawi (Pasuruan), KH Nahrowi, KH. Alwi Abdul Aziz (Malang), KH Ridlwan Abdullah, KH Abdullah Ubaid (Surabaya), KH Abdul Halim (Cirebon), KH Muntaha (Madura), KH Dahlan Abdul Qohar (Kertosono), KH Abdullah Faqih (Gresik) dan lain-lain. (sumber: Pengurus Wilayah NU Jawa Timur, Khitthah Nahdhlatul Ulama, Surabaya, Lajnah Ta’lif Wan Nasr, t.t hal 10-11). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua HBNO &lt;br /&gt;Pertemuan para ulama di kediaman Kiai Wahab itu juga menyepakati pembentukan sebuah jam’iyah sebagai wadah para ulama dalam memimpin umat menuju terciptanya izzul Islam wal muslimin (kejayaan Islam dan kaum muslimin). Jam’iyah itu diberi nama Nahdlatoel Oelama (kebangkitan kaum ulama), yang antara lain bertujuan membina masyarakat Islam berdasarkan paham Ahlusunnah wal Jama’ah seperti tertuang dalam Pasal 3 ayat a &amp; b, (Statuten Perkoempulan Nadlatoel Oelama 1926, HBNO, Soerabaia, 1344 H), yakni: ”Mengadakan perhoebungan di antara oelama-oelama jang bermadzhab” dan “memeriksa kitab-kitab sebeloemnya dipakai oentoek mengadjar, soepaja diketahoei apakah itoe dari pada kitab-kitab Ahli Soennah wal Djama’ah atau kitab Ahli Bid’ah.”   &lt;br /&gt;Dalam forum ulama yang cukup sederhana itu, Haji Hasan Gipo (1869-1934) ditunjuk oleh KH Wahab Chasbullah menjadi ketua Tanfidziyah HBNO (Hoofd Bestuur Nahdlatoel Oelama) dengan diampingi KH Rois Said (Paneleh, Surabaya) sebagai Rois Syuriah. Pertemuan tersebut juga memutuskan, mengirim delegasi (Komite Hijaz) antara lain: KH Wahab Hasbullah (Jombang), KH Khalil Masyhudi (Lasem) dan Syekh Ahmad Ghunaim Al-Mishri untuk menghadiri Kongres Islam se-Dunia di Makkah sekaligus menemui Raja Ibnu Saud. Mereka membawa pesan para ulama agar Ibnu Saud menghormati ajaran madzhab empat dan memberikan kebebasan dalam menunaikan ibadah. Dalam jawaban tertulisnya, Ibnu Saud hanya menyatakan akan menjamin dan menghormati ajaran empat madzhab dan paham Ahlusunnah wal Jama’ah.&lt;br /&gt;Sampai sekarang, riwayat ketua Tanfidziyah HBNO pertama, yakni Haji Hasan Gipo, sangat sulit dilacak. Hanya saja sejarah mencatat, kepengurusan duet H. Hasan Gipo dan KH. Rois Said berlangsung selama 3 tahun. Menurut buku Karisma Ulama: Kehidupan Ringkas 26 Tokoh NU, Yayasan Saifuddin Zuhri dan penerbit Mizan, 1998 hal 49-54 menyebutkan, Hasan Gipo lahir di daerah Kampung Sawahan (sekarang Jl. Kalimas Udik). Ia masih keturunan keluarga besar dari “marga” Gipo sehingga nama Gipo diletakan di belakang nama Hasan. Nama Gipo sebenarnya merupakan singkatan Sagipoddin dari bahasa Arab Saqifuddin, saqaf (pelindung) dan al-dien (agama). Jika dirunut silsilahnya, Hasan Gipo masih punya hubungan keluarga dengan KH. Mas Mansyur, salah seorang pendiri Muhammadiyah, yang juga adalah keturunan Abdul Latief Gipo.&lt;br /&gt;Gipo yang berdarah Arab, merupakan saudagar kaya di daerah komplek Ampel, Surabaya. Hingga kampung tempat Gipo kemudian dikenal dengan Gang Gipo dan keluarga ini mempunyai makam kelaurga yang dinamai makam keluarga, makam Gipo di kompleks Masjid Ampel. Gang Gipo sendiri kini berubah menjadi Jalan Kalimas Udik.&lt;br /&gt;Sebagai orang yang punya keturunan Arab, Hasan Gipo digambarkan bertubuh sedikit besar, berbadan gemuk dan berkumis. Ia dikaruniai tiga putra dan wafat pada tahun 1934. Sebagian keturunan Hasan Gipo kini tinggal di daerah Wonokromo, Surabaya dan Gresik. &lt;br /&gt;Baru sesudah Muktamar IV di Semarang (1348 H/1929 M), H. Hasan Gipo digantikan oleh KH Noor (Sawah Pulo, Surabaya) yang didampingi KH Hasyim Asya’ri sebagai Rois Akbar HBNO dengan KH Wahab Chasbullah sebagai Katib ‘Am. (Sumber: surat permintaan pengakuan pengajuan pendirian NO pada 5 September 1929 M oleh kuasa Nahdlatoel Oelama yakni KH Said bin Saleh). Pemerintah Hindia Belanda baru merespon permintaan tersebut pada tanggal 6 Februari 1930 dan masuk dalam besluit (Surat Keputusan) Goebernoer-Djendral (GD) Nomor I x.23.1930. Dalam Statuten itu juga berisi Anggaran Dasar NO yang terdiri 12 pasal yang ditulis dengan  dwi bahasa; Belanda dan Indonesia. Yang mengesahkan Badan Hukum NO atas nama GD Hindia-Nederland adalah GR. ERDBINK. Sayang, dokumen penting ini kini berada di Universitas Leiden, Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kantor HBNO&lt;br /&gt;Presiden HBNO pertama, H. Hasan Gipo, menempati sebuah rumah yang sederhana sebagai sekretariat di Jl. Sasak no 32, Surabaya sampai tahun 1945. Selain HBNO, badan otonom NO yakni barisan pemuda Anshor berkantor di Jl Bubutan 6/2, Surabaya. Ketika Surabaya direbut Belanda dan menyusul meletusnya perlawanan rakyat melawan penjajah pada 10 November 1945. KH Muhammad Dahlan, Konsul NO Jawa Timur memindahkan ke Jl. Pengadangan 3, Kabupaten Pasuruan. Ketika terjadi Agresi Militer Belanda I (1947) dan Pasuruan jatuh ke tangan Belanda, KH Mohammad Dahlan kembali memindahkan kantor HBNO ke Jl. Dr. Soetomo No 9, Madiun. Setahun kemudian, September 1948 meletus pemberontakan PKI Madiun dan disusul dengan Angresi Militer Belanda II. Akhirnya kantor PBNU kembali dipindahkan ke Surabaya.&lt;br /&gt;Sejak ibukota Republik Indonesia kembali ke Jakarta, 1950, PBNO juga ikut pindah ke Jakarta. Ruangan kantor PBNO terletak di Jl Menteng Raya 24, kira-kira 300 meter sebelah timur stasiun Gambir. Ruangan tersebut adalah bagian dari Kantor Dagang ‘Waras’, sebuah perusahaan dagang milik orang-orang NO yakni Wahid Hasyim, Zainul Arifin dan Achsien.&lt;br /&gt;Sekalipun berpindah-pindah kantor, NO telah menjelma menjadi ‘bayi raksasa’ seperti yang  telah diramalkan KH Cholil, Bangkalan. Pengurus Cabang dan Wilayah secara cepat telah tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia dan menadapat dukungan yang luas dari para Kiai serta santri pesantren salaf. Tak mengherankan jika pada Pemilu 1955, dalam tempo kurang dari tiga tahun persiapan, NO mampu menduduki tiga dari the big four (empat besar) pemenang pemilu dengan jumlah pemilih 6.955.141 suara; setelah PNI dan Masyumi, posisi keempat ditempati PKI.&lt;br /&gt;Tentu, untuk ukuran sebuah organisasi sosial kemasyarakatan dan partai politik Islam terbesar di Indonesia, kantor NO di Menteng Raya sudah sangat tidak layak. Pada 1956, KH Saifuddin Zuhri sewaktu menjabat Sekjen PBNO meminta KH Mohammad Dahlan untuk mencari tempat yang lebih layak. Dua minggu kemudian, Dahlan melapor kepada KH Saifuddin Zuhri bahwa calon gedung PBNO terletak di Jl. Kramat Raya No 164. &lt;br /&gt;Ketika melihat bangunan fisiknya, Saifuddin merasa kurang cocok dengan gedung itu. Baginya, gedung tersebut hanya layak sebagai toko. Dahlan terus meyakinkan Saifuddin bahwa letak yang strategis dan harganya juga murah, cuma Rp 1.250.000,- dan dapat diangsur dua kali. Menurut KH Mohammad Dahlan, sulit mencari gedung yang baik dan harga terjangkau PBNO karena kondisi keuangan PBNO waktu itu kurang menggembirakan. (sumber: Buku Berangkat Dari Pesantren, KH Saifuddin Zuhri, PT Gunung Agung, 1987).&lt;br /&gt;Selain itu ada cerita menarik lainnya, dahulu KH Mohamad Dahlan dan KH Saifuddin Zuhri mempunyai kesukaan yang sama yakni makan sup, gulai dan sate kambing di Jl. Raden Saleh yang terkenal sangat nikmat. Mengapa Dahlan ngotot memilih gedung di Jl Kramat 164 sebagai kantor PBNU, menurut Subhan ZE kepada KH Saifuddin Zuhri.”Letaknya kan hanya 300-400 meter dari warung makan (RM di Jl. Raden Saleh) langganan kita,” kata Dahlan kepada Subchan ZE dengan tertawa terkekeh-kekeh.&lt;br /&gt;Tanpa disadari sebelumnya, kantor PBNU itu ternyata berhadapan dengan CC-PKI. Seperti diketahui Jalan Kramat Raya itu memanjang dari ujung paling utara di Senen Raya dan ujung paling selatan di Salemba Raya. Di jalan strategis dan sibuk itu 4 partai politik menempatkan kantor mereka. Pada satu deretan berjarak antara 200-300 meter berdiri kantor DPP Masyumi, CC PKI persis di muka PBNU, mendekati Salemba Raya berdiri kantor DPP-PNI.       &lt;br /&gt;Hingga kini, setelah 60 tahun lebih berselang, gedung di Jl Kramat Raya 164   tetap dimanfaatkan sebagai kantor PBNU. 1999 sewaktu KH. Abdurrahman Wahid menjabat sebagai Presiden RI, gedung PBNU direnovasi menjadi gedung megah berlantai delapan.          &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AST, dari berbagai sumber&lt;br /&gt;Caption: &lt;br /&gt;1. Lead &lt;br /&gt;2. Sudut Kawasan Ampel, Surabaya. Saksi sejarah kelahiran NO&lt;br /&gt;3. Gedung PBNU pertama.Penuh dengan masa perjuangan&lt;br /&gt;4. Acara Istighotsah NU. Menjadi bayi raksasa dengan jutaan umat   &lt;br /&gt;5. Gedung PBNU Sekarang. Lebih megah dan semarak kegiatan organisasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Box-1&lt;br /&gt;Proses Penciptaan Lambang NO&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lambang NO yang terdiri dari bola dunia dilingkari tali jagad dan bintang sembilan ternyata diciptakan oleh KH. Ridlwan Abdullah atas perintah KH Wahab Chasbullah. Kisah pembuatan lambang NO oleh Kiai Ridlan  melalui shalat istiharah dan isyarat mimpi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surabaya, 1927. tepatnya hari Ahad, 9 Oktober 1927 M (12 Rabiu’Al-Tasani 1346 H), Muktamar ke-2 digelar. Sebagai organisasi yang berumur dua tahun, NO perlu show of force. Setidaknya agar kehadiran organisasi yang didirikan para ulama ini dapat dikenal oleh kalangan masyarakat luas. Acara muktamar sengaja dibikin sedemikian semarak. Hotel Paneleh, tempat acara ditata apik. Umbul-umbul dengan beraneka warna menghiasi dan memenuhi halaman hotel yang luas.&lt;br /&gt;Yang tak kalah menarik, sebuah vandel berukuran besar bergambar lambang NO terpasang tepat di pintu gerbang Hotel Paneleh. Lambang itu terlihat oleh siapa saja yang melewati Hotel Paleneh. Lambang itu masih asing karena pertama kali ditampilkan. Pejabat yang mewakili pemerintah Hindia Belanda pun dibuat penasaran, lantas ia bertanya kepada Bupati Surabaya, apa arti lambang itu. Karena tidak bisa menjawab, Bupati lantas bertanya kepada Ketua HBNO (Hoofd Bestuur Nahdlatoel Oelama), H. Hasan Gipo, sayang, dia pun tak bisa memberikan keterangan. H Gipo hanya menyampaikan bahwa lambang itu diciptakan oleh Kiai Ridwan.&lt;br /&gt;Untuk menjawab teka-teki makna lambang NU tersebut, dalam Muktamar ke-2 tersebut dibentuk majelis khusus guna menjelaskan dan membahas arti lambang. Majelis tersebut diikuti oleh beberapa wakil dari pemerintah dan para kiai. Tak ketinggalan, KH Hasjim Asj’ari juga secara aktif mengikuti rapat dalam majelis itu dan KH R. Mohammad Adnan (Solo) sebagai notulen rapat.&lt;br /&gt;Sang pencipta lambang NO, KH Ridlwan Abdullah, diminta memberikan presentasi untuk yang pertama kalinya. Kiai yang biasanya banyak diam di forum-forum pertemuan kiai ini ternyata dengan lancar dapat menjelaskan dan menguaraikan secara terperinci arti lambang yang telah digambarnya. Padahal saat itu, Kiai Ridlwan tidak mempersiapkan presentasi, karena diminta secara spontan. Walau serba mendadak, presentasi berjalan lancar.             &lt;br /&gt;Dalam penjelasannya, Kiai Ridlwan menguraikan bahwa, gambar tampar (tali) melambangkan agama sesuai dengan firman Allah: “Berpegang teguhlah pada tali Allah, dan jangan bercerai-berai.”(QS Ali Imran:103). &lt;br /&gt;“Posisi tali yang melingkari bumi melambangkan ukhuwwah (persatuan) kaum Muslim seluruh dunia. Untaian tampar berjumlah 99 buah melambangkan Asmaul Husna. Sedangkan bintang sembilan melambangkan Wali Songo, di mana posisi bintang paling besar dan posisinya di tengah bagian atas melambangkan Nabi Muhammad SAW. Sedangkan empat bintang kecil di samping kiri dan kanan melambangkan Khulafaur Rasyidin; dan empat bintang kecil di bagian bawah melambangkan madzahibul arba’ah (Madzab Empat, yakni Maliki, Hanafi, Hambali, Syafi’i).” &lt;br /&gt;Belum selesai Kiai Ridwan melanjutkan presentasinya, tiba-tiba KH R Mohammad Adnan telah memotong pembicara utama. “Sudah! Cukup, Kiai Ridlwan!” sela Kiai R. Adnan yang menganggap keterangan Kiai Ridlwan sudah cukup memuaskan. Kiai utusan dari Solo ini dengan tekun mencatat secara lengkap semua ucapan dan uraian Kiai Ridlwan tersebut. Walhasil, seluruh peserta majelis khusus bersepakat menerima lambang itu dan membuat rekomendasi agar Muktamar ke-2 memutuskan lambang yang diciptakan oleh Kiai Ridlwan tersebut secara resmi menjadi lambang NU. &lt;br /&gt;Pada acara penutupan muktamar, Kiai Raden Adnan tampil ke muka. Ia mencoba merumuskan yang telah diuraikan Kiai Ridlwan. Gambar bola dunia atau bumi yang mengingatkan bahwa manusia itu berasal dari tanah dan kembali ke tanah; akhirnya dikeluarkan lagi dari tanah pada yaumil ba’ats (hari kiamat) [QS. At- Taubah:5] Dilingkari tali tersimpul yang melambangkan ukhuwwah atau persatuan kaum Muslim seluruh dunia, diikat oleh agama Allah. [Q.S. Ali Imran: 103] dan ikatannya melambangkan hablun minallah wa hablum minan nas [Q.S. Ali Imran: 112].&lt;br /&gt;Dikelilingi sembilan bintang, lima bintang terletak di atas garis khatulistiwa yang terbesar terletak di tengan atas, sedangkan empat bintang terletal melingkar di bawah garis khatulistiwa. Bintang besar melambangkan Nabi Muhammad, empat bintang di atas melambangkan empat sahabat dan empat bintang di bawah melambangkan empat mazhab. Di samping itu juga melambangkan Walisongo. Jadi Nabi, sahabat, imam mazhab, serta para Walisongo yang akan memberikan sinar dan petunjuk ke jalan yang benar.&lt;br /&gt;Tulisan Nahdlatul Ulama dalam huruf Arab yang melintang dari sebelah kanan bola dunia atau sebelah kiri. Semua jenis lambang tersebut dilatarbelakangi warna putih di atas warna hijau. Warna putih melambangkan kesucian sementara warna hijau melambangkan kesuburan.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Usai penutupan Muktamar, sekitar jam tiga dini hari, Hadhratusysyaikh KH Hasjim Asj’ari memanggil Kiai Ridlwan. Tampaknya Rois Akbar HBNO ini perlu menanyakan secara khusus asal dan proses pembuatan lambang NO yang telah diciptakan dan dipasang arena Muktamar NO.&lt;br /&gt;Kiai Ridlwan pun langsung berkisah. Dua bulan menjelang Muktamar NO ke-2 dilangsungkan, ketua panitia Muktamar, KH Wahab Chasbullah menjumpai dirinya di kediaman, Jl Kawatan, Surabaya. Pembicaraan awalnya dimulai dari soal konsumsi Muktamar. Namun, akhirnya sampai ke tentang lambang NO, sebab dari NO dilahirkan tahun 1926 belum punya lambang. Karena Kiai Ridwan ketika itu sudah dikenal sebagai ulama yang punya keahlian melukis, maka Kiai Wahab menyerahkan sepenuhnya tugas membuat lambang kepadanya.&lt;br /&gt;“Pokoknya lambang tersebut harus sudah bisa kita tampilkan di medan muktamar,” tegas KH Wahab.&lt;br /&gt;Untuk menunaikan tugas dari Kiai Wahab itu, KH Ridlwan merasa kesulitan dalam mencari inspirasi (ilham). Berulang-ulang dibuat coretan-coretan sketsa, tetapi tidak ada yang mengena di hati. Ia membuat gambar dasar sampai beberapa kali. Konon, untuk membuat gambar dasa itu sampai memakan satu setengah bulan. Padahal waktu pelaksanaan Muktamar NO ke-2 sudah diambang pintu.&lt;br /&gt;Dalam keadaan gelisah, tiba-tiba Kiai Wahab datang menagih pesanannya. Dengan terus terang Kiai Ridlwan menjawab bahwa sudah beberapa sketsa lambang NO dibuat, tapi masih belum ada yang mengena (belum cocok) untuk sebuah lambang NO.&lt;br /&gt;“Seminggu sebelum Muktamar, lambang dan gambar itu sudah jadi lho,” desak Kiai Wahab yang tidak sabar lagi. Kiai Ridlwan denga npenuh  kesabaran menjawab, ”insyaallah.”&lt;br /&gt;Waktu untuk mendesain gambar baru sudah sedemikian sempit dan mendesak. Maka, untuk menemukan inspirasi itu, Kiai Ridlwan melaksanakan shalat istikharah, meminta petunjuk kepada Allah SWT. Selepas shalat istikharah, Kiai Ridlwan tidur nyenyak. Dalam tidurnya itulah, ia bermimpi melihat sebuah gambar di langit yang biru dan jernih. Bentuknya mirip dengan gambar dan lambang NU seperti sekarang.&lt;br /&gt;Waktu itu jam di dinding menunjukkan angka 02.00 dini hari. Setelah terbangun dari tidur, Kiai Ridlwan spontan meraih kertas dan pena. Ia langsung membuat coretan sketsa, sambil mencoba mengingat-ingat gambar yang dilihat dalam mimpinya.&lt;br /&gt;Akhirnya sketsa gambar pun jadi. Hasilnya mirip betul dengan gambar yang tampak dalam mimpinya. Pada pagi harinya, sketsa yang masih kasar itu lantas disempurnakan dan diberi tulisan NO dari huruf Arab dan Latin. Dalam sehari penuh gambar tersebut dapat dirampungkan dengan sempurna. Maklumlah, Kiai Ridlwan memang dikenal sebagai pelukis yang berbakat.&lt;br /&gt;Kesulitannya, adalah bagaimana dan di mana bisa mendapatkan kain untuk lambang tersebut sebagai dekorasi di medan muktamar. Beberapa toko kain di Surabaya sudah disambanginya, namun warna yang dimaksud dalam mimpinya itu tidak ada yang cock. Akhirnya, Kiai Ridlwan mencoba mencari kain berwarna hijau ke Malang. Di kota itu, ia menemukan, sayang jumlahnya sangat sedikit, hanya tinggal berukuran 4-6 meter.&lt;br /&gt;“Tak apalah,” kata Kiai Ridlwan. Kain hijau itu pun dibeli dan dibawa ke Surabaya. Ukuran lambang Nahdlatul Ulama dibuat memanjang ke bawah; lebar 4 meter dan panjang 6 meter, sesuai dengan bentuk asli lambang sekarang.&lt;br /&gt;KH Hasjim Asj’ari tampaknya puas dengan penjelasan Kiai Ridlwan, yang menguraikan secara kronologis pembuatan gambar itu. Beliau lantas mengangkat kedua tangannya secara membaca doa cukup panjang. Akhirnya, Hadhratusysyaikh Hasjim Asj’ari berkata,”Muadah-mudahan Allah SWT mengabulkan harapan yang dimaksud dalam simbol Nahdlatul Ulama.”&lt;br /&gt;Sayang, vandel “pusaka” berukuran besar berlambang NO itu kini tak ketahuan rimbanya. “Waktu PBNU boyongan dari Surabaya ke Jakarta (1956), vandel itu masih ada. Di sini (kantor Surabaya-red) terawat baik, di simpan dalam sebuah lemari, tak tahulah nasibnya sekarang,” kata Abdullah Ridlwan, salah seorang putra Kiai Ridlwan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AST, dari berbagai sumber                       &lt;br /&gt;Caption:&lt;br /&gt;1. Lead &lt;br /&gt;2. KH Ridlwan Abdullah. Pencipta Lambang NU&lt;br /&gt;3. Kediaman KH. Ridwan Abdullah. Pernah menjadi pusat gerakan dakwah &lt;br /&gt;4. Muktamar NU pada tahun 1945.  Lambang NU selalu dipakai  &lt;br /&gt;5. Relawan NU di daerah gempa bumi. Mengabdi pada umat dan kemanusiaan&amp;nbsp;&lt;a href='http://picasa.google.com/blogger/' target='ext'&gt;&lt;img src='http://photos1.blogger.com/pbp.gif' alt='Posted by Picasa' style='border: 0px none ; padding: 0px; background: transparent none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: initial; -moz-background-origin: initial; -moz-background-inline-policy: initial;' align='middle' border='0' /&gt;&lt;/a&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22828176-116943492741458778?l=ajisetiawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajisetiawan.blogspot.com/feeds/116943492741458778/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22828176&amp;postID=116943492741458778' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22828176/posts/default/116943492741458778'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22828176/posts/default/116943492741458778'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajisetiawan.blogspot.com/2007/01/babak-demi-babak-kelahiran-nu.html' title='Babak Demi Babak Kelahiran NU'/><author><name>Aji Setiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14411902879772066714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://photos1.blogger.com/x/blogger/1979/2328/640/163197/Aji1.jpg'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22828176.post-116920159960196492</id><published>2007-01-19T17:09:00.000+07:00</published><updated>2007-01-22T08:51:12.870+07:00</updated><title type='text'>Manakib Ustadz Hadi Jawas</title><content type='html'>&lt;A HREF='http://photos1.blogger.com/x/blogger/1979/2328/640/734047/Hadi%20Jawas%20copy.jpg'&gt;&lt;IMG SRC='http://photos1.blogger.com/x/blogger/1979/2328/320/210864/Hadi%20Jawas%20copy.jpg' border=0 alt='' style='display:block;margin 0px auto 10px; cursor:hand; text-align:center'&gt;&lt;/A&gt;&amp;nbsp;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ustadz Hadi Jawas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah dan Guru Para Murid Jamiat Kheir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu pengajar Madrasah Jamiat Kheir yang begitu dekat dengan para muridnya adalah Ustadz Hadi Jawas. Kedekatan sang guru dengan murid bak kedekatan ayah dengan anaknya.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Ustadz Hadi Jawas mengajar ilmu fiqih dan hadits di Jamiat Kheir Jakarta. Sekalipun ia hanya mengajar ilmu fiqih, karena mata pelajaran ini disesuaikan dengan zaman, banyak murid yang menyukai pelajarannya. Dalam mendidik, dia penuh kasih sayang, seperti ayah pada anak-anaknya. Kedekatan emosional sang guru ini membuat para murid tak segan-segan untuk bertanya kepadanya. &lt;br /&gt;Siapa sesungguhnya ulama dan guru yang kerap dianggap sebagai ayah di Jamiat Kheir ini? &lt;br /&gt;Ustadz Hadi Jawas lahir tahun 1896 M (1356 H) di Hadramaut, Yaman. Tidak banyak data sejarah yang bisa melacak asal-usul dan data secara terperinci tentang bapak tiga anak ini. Menurut para murid Ustadz Hadi, ia dikenal sebagai orang yang gemar menuntut ilmu agama. Sejak kecil telah belajar kepada ulama-ulama setempat di Hadramaut. Ia bahkan sempat belajar kepada ulama yang sangat alim, Habib Salim bin Hafidz, kakek Habib Umar bin Hafidz, pemimpin Darul Musthafa, Tarim. Bahkan ia menjadi murid kesayangan Habib Salim bin Hafidz.&lt;br /&gt;Selain berguru kepada Habib Salim, sewaktu di Hadramaut ia juga pernah belajar kepada Habib Ahmad bin Abdullah bin Muhsin Assegaff (pengarang Fatat Garut), Habib Alwi bin Thohir Al-Haddad (mufti Johor, Malaysia), dan lain-lain. &lt;br /&gt;Awal abad ke-19, Indonesia tengah memasuki zaman pergerakan nasional. Itu ditandai dengan berdirinya berbagai organisasi sosial dan pergerakan nasional, termasuk Jamiat Kheir, yang berdiri tahun 1901 M. Jamiat Kheir awalnya berdiri sebagai wadah pendidikan Islam yang bukan saja mengajarkan agama, tapi juga pendidikan umum. &lt;br /&gt;Pada saat pertama kali berdiri, perguruan ini membuka sekolah di kawasan Pekojan yang saat itu penghuninya banyak keturunan Arab. Seiring perkembangan zaman, perguruan Jamiat Kheir tidak hanya diikuti keturunan Alawiyin (Arab), tapi juga keturunan Betawi dan umum. Apalagi, saat itu pendidikan agama atau sekolah masih jarang, jadi madrasah Jamiat Kheir menjadi rujukan sekolah yang utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membina Tokoh-tokoh Islam &lt;br /&gt;Perkumpulan Jamiat Kheir diakui oleh pemerintah RI dan ahli sejarah Islam sekarang ini sebagai organisasi Islam yang banyak membina tokoh-tokoh Islam, seperti K.H. Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah), H.O.S. Tjokroaminoto (pendiri Syarikat Islam), H. Samanhudi (tokoh Budi Utomo), H. Agus Salim (tokoh KMB), dan tokoh-tokoh perintis kemerdekaan lainnya yang merupakan anggota atau setidaknya mempunyai hubungan dekat dengan Jami’at Kheir.&lt;br /&gt;Pada tahun 1940, madrasah ini mengundang banyak guru dari luar negeri untuk mendidik murid-murid, baik dari keturunan habaib maupun ulama. Salah satu yang diundang untuk mengajar di madrasah ini adalah Ustadz Hadi Jawas. Sebelumnya, Jamiat Kheir pada zaman Habib Alwi bin Thohir Al-Haddad mengundang guru-guru dari luar negeri, seperti Ustadz Hasyimi (Tunisia), Syaikh Ahmad bin Muhammad As-Surkati (Sudan, mengajar di Madrasah Jamiat Kheir tahun 1911-1914), Syaikh Muhammad Thayyib Al-Maghribi (Maroko), dan Syaikh Muhammad Abdul Hamid (Makkah). &lt;br /&gt;Menurut salah seorang murid Jamiat Kheir, Habib Ali bin Ahmad Assegaff, Ustadz Hadi Jawas diundang ke Jamiat Kheir atas permintaan gurunya, Habib Ahmad bin Abdullah bin Muhsin Assegaff. Tentu, permintaan mengajar dari Madrasah Jamiat Kheir bagi Ustadz Hadi dan sekaligus permintaan langsung dari gurunya itu tak bisa ditampik. Bahkan merupakan sebuah kehormatan yang besar untuk mengabdikan ilmu-ilmu agama yang diperolehnya kepada masyarakat luas. &lt;br /&gt;Setelah menunaikan ibadah haji ke Makkah, dengan bekal keyakinan dan semangat untuk berdakwah, Ustadz Hadi datang ke Indonesia pada tahun 1940-an, langsung mengajar di Madrasah Jamiat Kheir. Selain dikenal sebagai pengajar mata kuliah Fiqih dan Hadits, Ustadz Hadi juga dikenal sebagai pengajar tentang ilmu waris yang mumpuni. Ia menjadikan kitab Zubdah fi Fiqh Almawarits (Kumpulan Hukum Waris) karya Habib Salim bin Hafidz (kakek Habib Umar bin Hafidz, Rubath Darul Musthafa, Tarim) sebagai pegangan utama dalam mengajar. Ini termasuk kitab yang langka dan jarang dimiliki para ulama di Indonesia, dan amat wajar bila Ustadz Hadi Jawas menjadikan kitab tersebut sebagai pegangan dalam pengajian-pengajiannya.&lt;br /&gt;Muridnya yang di kemudian hari dikenal sebagai dai dan muballigh, antara lain, Habib Syaikhan Al-Gadri, Habib Ali bin Sahil (Slipi), Habib Zain Alaydrus (Kebon Jeruk), Habib Hud Muhammad Albagir Alattas (Kebon Nanas), Habib Husin Mulachela (Majelis Khair, Ragunan). Demikian keterangan Habib Husein Al-Haddad (kepala sekolah di MTS Yayasan Jamiat Kheir), yang juga salah seorang murid Ustadz Hadi Jawas. &lt;br /&gt;Murid-muridnya yang lain, di antaranya, Habib Muhsin Alattas (Petamburan), K.H. Sabilar Rosyad (Kuningan), K.H. Syukur Ya’kub, K.H. Aminullah (Palmerah), K.H. Abdul Manaf (pendiri PP Darunnajah, Cipulir, Jakarta Selatan), K.H. Ma’mun (Rawa Belong).&lt;br /&gt;“Ustadz Hadi Jawas, walaupun datang dari Hadramaut, sistem belajarnya bisa diterima murid-muridnya,” kata Habib Ali bin Ahmad Assegaff, salah seorang alumni dan pengajar Madrasah Jamiat Kheir.&lt;br /&gt;Ustadz Hadi mengajar di Jamiat Kheir bersama Ustadz Muhammad Dhiya’ Shahab (kepala sekolah), Ustadz Abdullah Arfan Baraja, Habib Hadi Al-Kaff, Habib Abdurrahman Assegaff (Bukitduri), dan lain-lain. Pesan yang senantiasa disampaikan oleh Ustadz Hadi Jawas kepada para murid-muridnya, ”Jangan menyia-nyiakan waktumu, dan ingat ayah-bundamu. Dan ingat selalu dua muasasah (yayasan) ini, yakni Darul Aitam dan Jamiat Kheir.”&lt;br /&gt;Ia berhenti mengajar di Madrasah Jamiat Kheir tahun 1965. Setelah itu ia banyak menghabiskan waktunya dengan mengajar, ta’lim, di rumahnya.&lt;br /&gt;Rumahnya di Kebon Kacang, yang berada di belakang Madrasah Jamiat Kheir, senantiasa terbuka bagi para tamu yang datang untuk bertanya atau sekadar silaturahmi. Banyak tokoh dari berbagai daerah yang berdatangan ke rumahnya, di antaranya Habib Muhammad Mulachela, Habib Hadi bin Ahmad Assegaff, Habib Abdullah bin Umar Al-Habsyi, Habib Ahmad Mashur, Habib Idrus bin Husin Al-Hamid, Habib Ali bin Alwi Assegaff, dan lain-lain. &lt;br /&gt;Ta’lim ini juga dihadiri beberapa guru sesuai dengan bidang masing-masing, dari kalangan dai, pengajar pesantren, sampai pemimpin masyarakat. Pengajian itu diadakan dua hari sekali. Bahkan di saat bulan Ramadhan tiba, Ustadz Hadi membuka ta’lim setiap hari.&lt;br /&gt;Sebelum datang ke Indonesia, ia telah menikah dengan keluarga Bahfen dan mempunyai anak bernama Ahmad. Tahun 1964, Ustadz Hadi pergi haji dan sempat mengunjungi anak dan cucunya di Hadramaut. Di Indonesia, almarhum menikah dengan Sehun Bakran Jawas dan mempunyai tiga putra: Said, Salmah, dan Muhammad Rasyid.   &lt;br /&gt;Sang pendidik yang banyak melahirkan ulama dan dai ini wafat tahun 1993, tepatnya di bulan Ramadhan 1414 H, dimakamkan di Taman Makam Karet, Jakarta Pusat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AST, dari berbagai sumber&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Caption:&lt;br /&gt;1. Lead Foto&lt;br /&gt;2. Gedung Jamiat Kheir di Tanah Abang. Melahirkan banyak ulama dan tokoh masyarakat&lt;br /&gt;3. Ustadz Hadi Jawas (bersorban). Menjadi tempat bertanya banyak ulama &lt;br /&gt;4. Ustadz Hadi bersama para ulama dan habib. Guru dan ayah bagi murid-muridnya&amp;nbsp;&lt;a href='http://picasa.google.com/blogger/' target='ext'&gt;&lt;img src='http://photos1.blogger.com/pbp.gif' alt='Posted by Picasa' style='border: 0px none ; padding: 0px; background: transparent none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: initial; -moz-background-origin: initial; -moz-background-inline-policy: initial;' align='middle' border='0' /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22828176-116920159960196492?l=ajisetiawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajisetiawan.blogspot.com/feeds/116920159960196492/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22828176&amp;postID=116920159960196492' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22828176/posts/default/116920159960196492'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22828176/posts/default/116920159960196492'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajisetiawan.blogspot.com/2007/01/manakib-ustadz-hadi-jawas.html' title='Manakib Ustadz Hadi Jawas'/><author><name>Aji Setiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14411902879772066714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://photos1.blogger.com/x/blogger/1979/2328/640/163197/Aji1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22828176.post-116599632533113255</id><published>2006-12-13T14:49:00.000+07:00</published><updated>2006-12-13T14:52:05.530+07:00</updated><title type='text'>Ak02.MutiaraRasul.AST</title><content type='html'>&lt;A HREF='http://photos1.blogger.com/x/blogger/1979/2328/640/178077/Sahabt.jpg'&gt;&lt;IMG SRC='http://photos1.blogger.com/x/blogger/1979/2328/320/556739/Sahabt.jpg' border=0 alt='' style='display:block;margin 0px auto 10px; cursor:hand; text-align:center'&gt;&lt;/A&gt;&amp;nbsp;&lt;br /&gt;Saling Membantu Terhadap Sesama &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah SAW suatu waktu mendapati seorang tawanan wanita yang tidak punya pelindung. Akhirnya oleh beliau, wanita tersebut mendapat bekal dan makanan. Berkat dakwah yang baik dan sikap saling membantu, anaknya pun akhirnya memeluk Islam      &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika datang sekelompok pasukan yang dikirim Rasulullah SAW untuk mengambil beberapa orang dari bani Ady bin Hatim. Sementara itu Ady bin Hatim sedang berada di luar kota, tepatnya di Aqrib. Akhirnya pasukan Rasulullah SAW itu membawa beberapa orang bani Ady bin Hatim ke hadapan Rasulullah. Melihat banyaknya orang yang dibawa, Rasulullah SAW kemudian menyuruh salah seorang pasukannya untuk memimpin para tawanan itu berbaris. ”Suruhlah mereka berbaris,” perintah beliau.&lt;br /&gt;“Siap baginda,” jawab salah seorang prajuritnya.&lt;br /&gt;Rasulullah SAW kemudian berjalan mengitari barisan tawanan itu dengan langkah yang berwibawa. Badannya yang tegap dan ditopang wajah yang putih bersih, tampak wajah keteduhan bagi siapa saja yang memandangnya. Tibalah beliau di hadapan seorang wanita tua, ibu dari Ady bin Hatim. Wanita itu langsung menyapa pada beliau.&lt;br /&gt;“Wahai Rasulullah, penolongku entah kemana dan anakku pun tidak ada. Sementara aku, seorang wanita lanjut usia, dan tidak seorang pun yang mengurusi aku. Maka bermurah hatilah kepadaku sebagaimana Allah telah bermurah hati kepadamu.”&lt;br /&gt;“Siapa penolongmu?” Tanya beliau dengan tutur kata beliau santun dan penuh kelembutan.&lt;br /&gt;“Ady bin Hatim,” jawab wanita itu.&lt;br /&gt;“Orang yang lari dari Allah dan Rasul-Nya,” sabda beliau kepada ibu Ady bin Hatim. Tampak wajah beliau berubah memerah, tanda beliau mulai bersikap tegas terhadap siapa pun.&lt;br /&gt;“Bermurah hatilah kepadaku,” rengek wanita itu sambil memegang jubah beliau. Tak lama kemudian wanita melepaskan pegangan pada jubah beliau, sebab beliau kembali berjalan mengelilingi barisan tawanan itu.&lt;br /&gt;Setelah berkeliling, sekarang beliau beserta Ali bin Abi Thalib mendatangi wanita itu. Lantas beliau bersabda,”MIntalah bekal pada sahabatku ini.”&lt;br /&gt;Maka ibu dari Ady bin Hatim kemudian meminta bekal pada Ali bin Abi Thalib. Setelah mendapat bekal berupa uang dan makanan, ibu Ady bin Hatim kemudian diantar pulang ke rumahnya.&lt;br /&gt;Sampai di rumah, tampak anaknya Ady bin Hatim telah berada di dalam rumah. Ibu Ady Hatim kemudian berkata,”Aku telah mengerjakan sesuatu yang tidak pernah dikerjakan ayahmu. Temuilah beliau, baik dalam keadaan suka maupun terpaksa, karena Fulan bin Fulan pernah menemui beliau dan dia mendapatkan keuntungan dari beliau, begitu pula yang dilakukan orang lain, termasuk aku.”&lt;br /&gt;“Baiklah, kalau itu maumu,” kata Ady bin Hatim pada ibundanya.&lt;br /&gt;Lantas, Ady bin Hatim sebagaimana perintah ibundanya, ia menemui baginda Rasulullah SAW. Saat itu beliau sedang duduk bersama seorang wanita dan beberapa anaknya yang masih kecil. Demikianlah gambaran kehidupan Rasulullah SAW yang begitu merakyat, sekalipun telah menjadi pemimpin umat, beliau bergaul dengan rakyat biasa bahkan dengan anak-anak. Kedekatan antara pemimpin dan rakyat itulah yang membedakan kedudukan beliau tidak sama sebagaimana kedudukan para raja pada jamannya.&lt;br /&gt;Rasulullah SAW melihat kehadiran Ady bin Hatim kemudian bertanya,”Wahai Ady bi Hatim, apakah yang membuat engkau lari jika dikatakan la ilaha illallah. Padahal, memang tidak ada illah (tuhan) selain dari Allah SWT? Apakah yang membuatmu lari, jika dikatakan Allahu Akbar (Allah Maha Besar) ? Adakah sesuatu yang lebih besar dari Allah”&lt;br /&gt;Mendapat pertanyaan yang lumayan berat membuat kerongkongannya kelu, pikirannya buntu dan berat untuk menjawab. Ady bin Hatim diam seribu bahasa. Ia kemudian berkata,”Ya Muhammad, memang benar apa yang engkau katakana. Maka mulai detik ini juga, aku masuk Islam.”&lt;br /&gt;Saat itu juga, wajah beliau berubah berseri-seri. Beliau kemudian bersabda, ”Sesungguhnya orang-orang yang dimurkai adalah orang-orang Yahudi, dan orang-orang yang sesat ialah orang-orang Nasrani.”&lt;br /&gt;Beliau kemudian menyampaikan pujian pada Allah dan melanjutkan sabdanya ,”Amma ba’d. Kalian wahai orang-orang muslim. Hendaklah memberikan bekal pada orang-orang ini.”&lt;br /&gt;Begitulah perintah beliau kepada kaum muslimin dianjurkan untuk membantu terhadap sesamanya, apalagi terhadap mualaf, orang yang baru masuk Islam. Maka kaum muslimin sesuai perintahnya, kemudian memberi bekal pada Ady bin Hatim. Ada yang memberi satu sha’ ada yang satu genggam makanan. Beliau kemudian bersabda, ”Sesungguhnya seseorang diantara kalian akan bertemu dengan Allah SWT, lalu ada penyeru, ’Yang dapat Kukatakan, bukankah Aku telah menjadikanmu mendengar dan melihat? Bukankah Aku sudah menjadikan bagimu harta dan anak? Lalu apa yang kamu bawa? Dia melihat ke depan dan ke belakang, ke kiri dan ke kanan, dan dia tidak mendapatkan sesuatu apa pun.’ Tidak ada yang selamat dari api neraka kecuali wajahnya. Maka takutlah kalian terhadap api neraka meski hanya dengan separoh korma. Jika kalian tidak mendapatkannya, maka dengan kata-kata yang lembut. Sesungguhnya aku tidak takut kemiskinan yang menimpa kalian. Sesungguhnya Allah benar-benar akan menolong kalian, akan memberikan dan akan menaklukan berbagai negeri kepada kalian, hingga ada sekedup wanita yang mengadakan perjalanan Hairah dan Yatsrib atau lebih jauh lagi, tanpa merasa takut terhadap tindak pencurian terhadap dirinya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AST, riwayat Ahmad dan Ath-Thabrany, Majma’ Az-Zawa’id            &lt;br /&gt;--------------------------&lt;br /&gt;Kata Mutiara:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa yang meminta perlindungan atas nama Allah, maka berilah perlindungan. Siapa yang meminta atas nama Allah, maka berilah, siapa yang meminta pertolongan atas nama Allah, maka berilah pertologan, siapa yang memberikan hal yang ma’ruf kepada kalian, maka balaslah. Jika kalian tidak mendapatkannya, maka berdoalah baginya, hingga kalian tahu bahwa kalian telah memberikan balasan kepadanya.” (HR Abu Daud dan An-Nasa’i).&amp;nbsp;&lt;a href='http://picasa.google.com/blogger/' target='ext'&gt;&lt;img src='http://photos1.blogger.com/pbp.gif' alt='Posted by Picasa' style='border: 0px none ; padding: 0px; background: transparent none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: initial; -moz-background-origin: initial; -moz-background-inline-policy: initial;' align='middle' border='0' /&gt;&lt;/a&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22828176-116599632533113255?l=ajisetiawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajisetiawan.blogspot.com/feeds/116599632533113255/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22828176&amp;postID=116599632533113255' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22828176/posts/default/116599632533113255'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22828176/posts/default/116599632533113255'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajisetiawan.blogspot.com/2006/12/ak02mutiararasulast.html' title='Ak02.MutiaraRasul.AST'/><author><name>Aji Setiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14411902879772066714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://photos1.blogger.com/x/blogger/1979/2328/640/163197/Aji1.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22828176.post-116599521444594269</id><published>2006-12-13T14:32:00.000+07:00</published><updated>2006-12-13T14:33:34.863+07:00</updated><title type='text'>Manakib</title><content type='html'>&lt;A HREF='http://photos1.blogger.com/x/blogger/1979/2328/640/343280/Leadabubakarshahab.jpg'&gt;&lt;IMG SRC='http://photos1.blogger.com/x/blogger/1979/2328/320/226472/Leadabubakarshahab.jpg' border=0 alt='' style='display:block;margin 0px auto 10px; cursor:hand; text-align:center'&gt;&lt;/A&gt;&amp;nbsp;&lt;br /&gt;Habib Abubakar bin Ali Shahab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah Satu Pendiri Jamiat Kheir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia merupakan salah satu pendiri Jamiat Kheir. Kegiatan organisasi ini menaruh perhatian dalam bidang pendidikan dan sosial&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1900 merupakan awal abad 20 yang sering dikatakan awal abad keemasan. Batavia, sebutan kota Jakarta saat itu, sedang memasuki periode kota kolonial modern. Berkat revolusi industri berbagai teknologi dperkenalkan. Sistem transportasi dan komunikasi mulai berkembang. Angkutan kereta api Jakarta-Bogor mulai diperkenalkan, sedangkan pelabuhan Tanjung Priok semakin ramai oleh pendatang dari Belanda dan Eropa setelah dibukanya terusan Suez di Mesir. &lt;br /&gt;Tapi sayangnya, yang menikmati kemajuan itu hanyalah kelompok minoritas Belanda dan orang-orang Eropa. Tidak demikain halnya dengan orang-orang pribumi, termasuk orang-orang keturunan arab. Khusus terhadap orang-orang keturunan arab, Belanda menganggap keberadaan mereka di Indonesia sangat membahayakan politik kolonialnya yang anti Islam. Apalagi semangat Pan-Islamisme yang dikobarkan di Turki dan pejuang Islam kaliber internasional dari Ahul-Bayt, Sayyid Jamaluddin Al-Afghani bergaung di Indonesia. Prof. Snouck Hurgronye terang-terangan menuduh kaum Alawiyyin yang menyebarkan paham Pan-Islamisme di Indonesia.&lt;br /&gt;Begitu bencinya Belanda terhadap Islam dan orang-orang keturunan Arab, sehingga di bidang pendidikan, melalui sekolah-sekolah waktu itu, citra buruk Arab digambarkan secara kasar melalui buku-buku pelajaran sejarah. Hingga tidak heran, menurut Mr. Hamid Algadri dalam bukunya Islam dan Keturunan Arab dalam Pemberontakan Melawan Belanda mengakibatkan mereka tidak mau menyekolahkan anak-anaknya di sekolah-sekolah Belanda. Bukan hanya orang-orang keturunan Arab, tapi juga kelompok ulama dan santri menganggap sekolah Belanda sebagai sekolah kafir.&lt;br /&gt;Dalam situasi dan tekanan kolonial yang keras itulah, Habib Abubakar bin Ali bin Abubakar bin Umar Shahab tampil untuk mendirikan sebuah perguruan Islam, yang bukan hanya mengajarkan agama, tapi juga pendidikan umum. Pada tahun 1901, berbarengan dengan maraknya kebangkitan Islam di tanah air, berdirilah perguruan organisasi yang bergerak di bidang sosial dan pendidikan Jamiat Kheir. Pada saat pertama kali berdiri, perguruan ini membuka sekolah di kawasan Pekojan yang saat itu penghuninya banyak keturunan arab.&lt;br /&gt;Selain Abubakar bin Ali shahab, turut serta mendirikan perguruan ini sejumlah pemuda Alawiyyin yangn mempunyai kesamaan pendapat dan tekad untuk memajukan Islam di Indonesia dan sekaligus melawan propaganda-propaganda jahat Belanda yang anti Islam. Mereka antara lain adalah Muhammad bin Abdurrahman Shahab, Idrus bin Ahmad Shahab, Ali bin Ahmad Shahab, Syechan bin Ahmad Shahab, Abubakar bin Abdullah Alatas dan Abubakar bin Muhammad Alhabsyi.&lt;br /&gt;Begitu suksesnya Jamiat Kheir hingga diakui oleh pemerintah RI dan ahli sejarah Islam sekarang ini sebagai organisasi Islam yang banyak melahirkan tokoh-tokoh Islam, seperti KH. Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah), HOS. Tjokroaminoto (pendiri Syarikat Islam), H. Samanhudi (tokoh Budi Utomo), H. Agus Salim (tokoh KMB), dan tokoh-tokoh perintis kemerdekaan lainnya yang merupakan anggota atau setidak-tidaknya mempunyai hubungan dekat dengan Jamiat Kheir.&lt;br /&gt;Habib Abubakar bin Ali Shahab, sebagai ketua Jamiat Kheir, juga ikut mendorong organisasi ini ketika pindah dari Pekojan ke Jalan Karet (kini jalan KHM. Mansyur, Tanah Abang). Kegiatan organisasi ini kemudian meluas dengan mendirikaan Panti Asuhan Piatu Daarul Aitam. Di Tanah Abang, bersama-sama sejumlah Alawiyyin, Habib Abubakar juga mendirikan sekolah untuk putra (aulad) di jalan Karet dan putri (banat) di Jalan Kebon Melati (kini Jl. Kebon Kacang Raya), serta cabang Jamiat Kheir di Tanah Tinggi, Senen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aktif Sejak Muda &lt;br /&gt;Habib Abubakar dilahirkan di Jakarta pada tanggal 28 Rajab 1287 H/ 24 Oktober 1870 M, dari seorang ayah bernama Ali bin Abubakar bin Umar Shahabuddin al-Alawy, kelahiran Damun, Tarim, Hadramaut. Ibunya bernama Muznah binti Syech Said Naum. Said Naum adalah salah seorang keturunan Arab yang mewakafkan tanahnya yang luas di kawasan Kebon Kacang, Tanah Abang, untuk pemakaman. &lt;br /&gt;Di zaman Gubernur Ali Sadikim di tahun 70-an pemakaman ini dipindahkan ke Jeruk Purut dan Karet, dan lahannya dipergunakan untuk membangun rumah susun pertama di Indonesia, berikut sebuah masjid lengkap dengan madrasahnya yang memakai nama Said Naum untuk mengabadikan wakafnya. Masjid ini pernah mendapat anugerah Agha Khan karena arsitekturnya yang orisinil dan menawan selaras dengan lingkungannya.&lt;br /&gt;Dalam usia 10 tahun, pada tahun 1297 H, Habib Abubakar bersama ayahnya serta saudaranya Muhammad dan Sidah, berangkat ke Hadramaut. di Hadramaut, Abubakar muda menghabiskan waktunya untuk menuntut ilmu dari berbagai guru terkenal di sana, baik di Damun, Tarim, maupun Seywun. Tidak puas dengan hanya dengan berguru, beliau selalu mendatangi tempat-tempat pengajian dan pertemuan-pertemuan dengan sejumlah ulama terkemuka.&lt;br /&gt;Abubakar kembali ke Indonesia melalui Syihir, Aden, Singapura, dan tiba di Jakarta pada tanggal 3 Rajab 1321 H. Mendapat gemblengan selama tiga belas tahun di Hadramaut, ia yang masih muda itu mendirikan Jamiat Kheir bersama pemuda-pemuda sebayanya.&lt;br /&gt;Setelah Jamiat Kheir berkembang dan semakin banyak muridnya, dalam usia 50 tahun atau pada tanggal 1 Mei 1926 beliau kembali berangkat ke Hadramaut untuk kedua kalinya. Kali ini disertai dua orang putranya, Hamid dan Idrus. Mereka singgah di Singapura, Malaysia, Mesir dan Mukalla sebelum akhirnya tiba di Damun, Hadramaut, pada tanggal 20 Zulqaidah 1344 H.&lt;br /&gt;Di tempat-tempat yang dikunjunginya, beliau bersama dengan dua putranya yang masih berusia 20-an tahun selalu membahas upaya untuk meningkatkan syiar dan pendidikan Islam sesuai dengan hadits Nabi Muhammad SAW, “Belajarlah kamu dari sejak buaian sampai ke liang lahat”. Habib Abubakar di tempat-tempat yang disinggahi selalu belajar dengan para guru dan sejumlah habib. Di Hadramaut ini, beliau memperbaiki sejumlah masjid, antara lain masjid Al-Mas. Bahkan beliau membangun masjid Sakran yang sampai sekarang masih berdiri dengan megahnya.&lt;br /&gt;Almarhum tidak pernah jemu dan lelah berjuang untuk kejayaan Islam dan Alawiyyin, bahkan juga tidak segan-segan untuk mencari dan mengumpulkan biaya selama di Jawa, Palembang dan Singapura untuk membangun madarasah di Damun, Hadramaut. Sampai sekarang madrasah ini masih berdiri dengan baik. Beliau juga mendirikan yayasan Iqbal di Damun.&lt;br /&gt;Pada 27 Syawwal 1354 H beliau sampai di Jeddah untuk menunaikan ibadah haji. Kedatangannya di tanah suci berbarengan dengan kedatangan Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi dari Kwitang, seorang ulama besar di Jakarta yang menjadi shahabat karibnya. Mereka bersama-sama menziarahi tempat-tempat mulia dan para tokoh ulama.&lt;br /&gt;Pada awal Muharram 1355 H beliau kembali ke Damun, Tarim. Pada 11 Safar 1356 H bertepatan dengan 23 April 1937 M beliau berangkat pulang ke Jakarta. Setibanya di Jakarta, beliau disambut oleh shahabat karibnya, Habib Ali Kwitang di sekolah Unwanul Fallah yang dibangun Habib Ali. Keesokan harinya beliau disambut di sekolah Jamiat Kheir, sekolah yang didirikannya. Baik di Kwitang maupun di Tanah Abang, sejumlah tokoh habaib yang ada memberikan kata-kata sambutan dan pujian kepadanya. Ketika diterima di Jamiat Kheir, sekolah ini dipimpin oleh Muhammad bin Ahmad bin Sumaith.&lt;br /&gt;Berbagai kegiatan di bidang sosial dan pendidikan tidak pernah henti-hentinya dilakukannya selama berada di Indonesia, karena bidang ini tidak lepas dari perhatiannya. Bahkan pada 14 November 1940 beliau menghadiri pembukaan madrasah/ma’had di Pekalongan. Madrasah ini dibangun oleh sepupunya, Habib Husein bin Ahmad bin Abubakar Shahab. Pembukaan sekolah di Pekalongan ketika itu mendapat sambutan meriah bukan saja dari warga setempat, tapi juga dari tokoh masyarakat Jakarta, Cirebon, Solo, Gresik, Surabaya dan masih banyak lagi.&lt;br /&gt;Berjuang untuk Islam dan masyarakat, Habib Abubakar tidak pernah berhenti. Bukan hanya mengorbankan tenaga, tetapi juga tidak segan-segan untuk mendermakan harta bendanya. Demikianlah, beliau sebagai wakil dari Al-Rabithah Al-Alawiyyah telah beberapa kali ditugaskan mencari dana bukan hanya untuk kepentingan kelompok Alawiyyin, tapi juga masyarakat luas.&lt;br /&gt;Pada tanggal 18 Maret 1944 M, saat pendudukan Jepang, tokoh yang juga ikut dalam mendirikan Malja Al Shahab di tahun 1913 bersama sejumlah pemuda. Al Shahab ini, menghadap hadirat Allah SWT pada hari Sabtu 18 Maret 1944 M yang bertepatan dengan 23 Rabiul Awwal 1363 H. Beliau wafat di Jakarta dan dimakamkan di pekuburan wakaf Tanah Abang, tanah wakaf kakeknya. Yang memandikan dan mengkafani almarhum adalah Habib Ali bin Husein bin Muhammad Al-Aththas dan Syeikh Ahmad bin Umar Al-Azab.&lt;br /&gt;Ketika pemakaman dipindahkan ke Jeruk Purut, tidak ada yang mengetahui dimana jasad beliau dipindahkan. Beliau meninggalkan tujuh orang putra-putri. Putra tertua Abdurrahman, disusul Abdullah, Hamid, Idrus, Zahrah, Muznah dan Ali. Putra terkecilnya, Ir. Ali A. Shahab, pernah menjabat Kepala Divisi Komunikasi dan Elektronika Direktorat PKK Pertamina. Seperti juga almarhum ayahnya, Ali Abubakar Shahab kini aktif di bidang sosial. Patah tumbuh hilang berganti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AST, disarikan dari Rihlatul Asfar: sebuah otobiografi Sayyid Abubakar bin Ali bin Abubakar Shahabuddin, yang diterjemahkan oleh Drs Ali Yahya, Spsi, tahun 2000 &lt;br /&gt;Caption:&lt;br /&gt;1. Lead&lt;br /&gt;2. Madrasah Jami’at Kheir, Tanah Abang. Pernah menjadi pusat pergerakan&lt;br /&gt;3. Suasana kongres I Rabithah Alawiyah. Ditugaskan mencari dana untuk kepentingan masyarakat &lt;br /&gt;4. Gedung Darul Aitam, Tanah Abang.Mendirikan yayasan untuk anak yatim piatu&amp;nbsp;&lt;a href='http://picasa.google.com/blogger/' target='ext'&gt;&lt;img src='http://photos1.blogger.com/pbp.gif' alt='Posted by Picasa' style='border: 0px none ; padding: 0px; background: transparent none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: initial; -moz-background-origin: initial; -moz-background-inline-policy: initial;' align='middle' border='0' /&gt;&lt;/a&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22828176-116599521444594269?l=ajisetiawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajisetiawan.blogspot.com/feeds/116599521444594269/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22828176&amp;postID=116599521444594269' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22828176/posts/default/116599521444594269'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22828176/posts/default/116599521444594269'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajisetiawan.blogspot.com/2006/12/manakib_12.html' title='Manakib'/><author><name>Aji Setiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14411902879772066714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://photos1.blogger.com/x/blogger/1979/2328/640/163197/Aji1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22828176.post-116599135105412691</id><published>2006-12-13T13:27:00.000+07:00</published><updated>2006-12-13T13:29:11.933+07:00</updated><title type='text'>Ak26.Mutiara Rasul.AST</title><content type='html'>&lt;A HREF='http://photos1.blogger.com/x/blogger/1979/2328/640/943180/Unta.jpg'&gt;&lt;IMG SRC='http://photos1.blogger.com/x/blogger/1979/2328/320/383071/Unta.jpg' border=0 alt='' style='display:block;margin 0px auto 10px; cursor:hand; text-align:center'&gt;&lt;/A&gt;&amp;nbsp;&lt;br /&gt;Kesaksian Seekor Unta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah raja Jahiliyah Habib bin Malik melihat mukjizat yang dimiliki Rasululah SAW, ia kemudian memeluk Islam. Sebagai rasa syukur kepada Allah SWT dan tanda terimakasihnya kepada Rasulullah SAW, Raja Habib mengirim hadiah melalui beberapa utusan, berupa emas, perak, unta dan lain sebagainya kepada beliau.&lt;br /&gt;Mengetahui akan datangnya rombongan membawa hadiah untuk Rasulullah SAW, Abu Jahal segera menghadang perjalanan utusan-utusan yang membawa hadiah itu di luar perbatasan kota Mekkah. &lt;br /&gt;Ketika rombongan utusan Raja Habib bin Malik muncul, Abu Jahal dan komplotannya pun langsung melancarkan aksi. Mereka berpura-pura tidak tahu siapa dan maksud kedatangan rombongan tersebut. “Siapakah kalian ini?”&lt;br /&gt;“Kami adalah utusan Raja Habib bin Malik untuk menyampaikan hadiah ini kepada Rasulullah SAW,” jawab para utusan dengan polos.&lt;br /&gt;Abu Jahal kemudian memperkenalkan dirinya dan mengatakan kalau hadiah-hadiah yang dibawa itu adalah dirinya bukan untuk Muhammad. Mendengar pengakuan dari Abu Jahal, para utusan itu bersikeras bahwa mereka diutus untuk menyampaikan kepada Nabi Muhammad SAW. Para utusan Raja Habib bin Malik itu kemudian pamit dan memacu kendaraannya ke arah kota Mekkah.   &lt;br /&gt;Ketika rombongan itu akan berlalu dari hadapan Abu Jahal. Tanpa membuang banyak waktu lagi, komplotan Abu Jahal pun mendekati para utusan Raja Habib bin Malik dan hendak merampas barang bawaan yang mereka bawa. &lt;br /&gt;Tentu saja, aksi itu mendapat perlawanan keras dari para pengawal utusan Raja Habib bin Malik, hingga terjadilah pertempuran anatar kubu utusan Raja Habib dan kawanan Abu Jahal.&lt;br /&gt;Pedang-pedang terhunus, saling beradu menimbulkan denting suara yang memekakkan telinga, diselingi teriakan dan umpatan dari kedua belah pihak. Suara kegaduhan dari adu kekuatan antara kedua kelompok itu sampai terdengar di pinggiran pemukiman kota Mekkah. Maka, mereka pun kemudian ramai-ramai mendatangi ajang pertemuran dan  bermaksud melerai pertikaian itu. Pertempuran itu kemudian terhenti sejenak karena ditonton oleh banyak penduduk Mekkah.&lt;br /&gt;Salah seorang pemuka Quraisy maju ke depan dan menanyakan kepada salah satu utusan Raja Habib bin Malik,”Apa maksud kedatangan kalian ke kota Mekkah?”&lt;br /&gt;“Kami datang ke kemari untuk menyampaikan hadiah ini kepada Rasulullah sedang Abu Jahal mengatakan bahwa hadiah-hadiah ini untuknya,” kata salah satu utusan Raja Habib bin Malik.&lt;br /&gt;Rasulullah SAW yang turut hadir di antara mereka kemudian bersabda,”Wahai masyarakat Mekkah, apakah kalian rela dan mau mendengarkan apa yang hendak kukatakan ini?”&lt;br /&gt;“Baiklah, ya Muhammad, kami akan mendengar perkataanmu,” jawab sebagian yang hadir.&lt;br /&gt;Kemudian Rasul SAW meneruskan ucapannya,”Aku ingin bertanya kepada unta yang membawa hadiah ini.”&lt;br /&gt;Alangkah terkejutnya Abu Jahal mendengar perkataan Rasulullah. Tentu saja Rasulullah SAW akan bisa berbuat apa saja, pikirnya. Oleh sebab itu, Abu Jahal meminta kepada yang hadir untuk menunda beberapa hari apa yang akan dilakukan oleh Muhammad, yakni menanyai unta pembawa hadiah. Karena ia juga merasa yakin dapat menanyai unta pembawa hadiah itu, setelah meminta tolong pada patung sesembahannya. Dan usul dari Abu Jahal pun kemudian disepakati oleh semua yang hadir.&lt;br /&gt;Selama tiga hari berturut-turut, Abu Jahal tidak pernah keluar dari ruang sesembahan berhala. Siang dan malam, ia tak lepas dari bersujud dari berhala, demi kemenangan menandingi Muhammad. Menginjak hari ketiga, Abu Jahal melangkahkan kakinya keluar rumah dan mendatangi orang-orang Mekkah dengan satu keyakinan bisa menandingi Muhammad. &lt;br /&gt;Sampai di tempat yang telah ditentukan, Abu Jahal pun langsung berhadapan dengan Rasulullah SAW. Di hadapan beliau, ia langsung mengatakan kalau hadiah dari Raja Habib bin Malik itu dihadiahkan kepadanya. Namun Rasulullah SAW tak mau kalah, beliau menentang alasan Abu Jahal, dengan mengatakan bahwa hadiah tersebut diperuntukan baginya dan itulah yang sebenarnya terjadi.&lt;br /&gt;Perdebatan Rasulullah SAW dan Abu Jahal berlangsung cukup lama, sampai kemudian Rasulullah mengingatkan akan perjanjian yang telah mereka buat beberapa hari yang lalu untuk bertanya pada unta pembawa hadiah. Beliau kemudian mempersilahkan Abu Jahal untuk memulai terlebih dahulu kepada unta pembawa hadiah itu.&lt;br /&gt;Setelah mempersilahkan Abu Jahal untuk maju ke muka, maka Abu Jahal secara perlahan mendekati unta itu. Dengan suara serak dan parau, ia berteriak, ”Wahai unta! Demi Latta dan Uzza; katakanlah!”&lt;br /&gt;Kata-kata seperti itu berulangkali keluar dari mulut Abu Jahal, sampai matahari tenggelam ke peraduannya. Namun, nasib malang bagi Abu Jahal karena unta tersebut tidak mau menjawab sepatah kata pun. Unta itu tetap diam seribu bahasa, sampai-sampai masyarakat Mekkah yang menyaksikan merasa bosan dengan ocehan-ocehan Abu Jahal. &lt;br /&gt;“Wahai Abu Jahal! Hentikan saja ocehan kosongmu itu. Engkau tidak akan mampu mengajaknya berbicara. Mundurlah, beri kesempatan pada Muhammad untuk memulainya, guna mengetahui, siapakah yang sebenarnya yang berhak menerima hadiah itu,” kata sebagian mereka.&lt;br /&gt;Maka sadarlah Abu Jahal, bahwa dirinya tidak mungkin dapat mengajak unta itu berkomunikasi. Buktinya dari siang sampai sore hari, unta itu belum menjawab pertanyaannya juga, padahal dirinya telah lelah untuk berkata-kata. Kini, giliran Rasulullah SAW yang maju untuk bertanya kepada unta itu. Maka mulailah beliau mengajukan pertanyaan,”Wahai unta, wahai mahluk yang diciptakan Allah. Katakan yang sebenarnya di hadapan masyarakat Mekkah itu, tentang status dirimu.”&lt;br /&gt;Keajaiban pun terjadi. Tiba-tiba unta yang tadinya mendekam, kini mendadak bangun setelah mendengar pertanyaan Rasulullah SAW. Masyarakat bertambah tercengang manakala telinga mereka mendengar suara yang amat jelas keluar dari mulut unta yang berada di hadapan mereka,”Wahai masyarakat Mekkah! Kami ini adalah hadiah dari Raja Habib bin Malik yang akan dipersembahkan kepada Nabi Muhammad SAW.”&lt;br /&gt;Setelah masyarakat mengetahui untuk siapakah hadiah tersebut, mereka pun mengutuk Abu Jahal yang mengaku-aku hadiah tersebut. Akhirnya, Rasulullah mengambil semua hadiah tadi dan membawanya ke arah gunung Abi Qubaisy. Sedangkan Abu Jahal segera pergi dari tempat tersebut dengan hati yang diliputi rasa malu yang tiada terhingga. Namun begitu, ia bukannya bertambah jera, melainkan semakin bertambah dendam kepada Muhammad. Abu Jahal tetap menganggap Muhammad sebagai musuh besrnya dengan perasaan iri, dengki bercampur hasud dan semuanya bercampur menjadi satu dalam hatinya yang hitam, jauh dari kebenaran dan cahaya Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AST&amp;nbsp;&lt;a href='http://picasa.google.com/blogger/' target='ext'&gt;&lt;img src='http://photos1.blogger.com/pbp.gif' alt='Posted by Picasa' style='border: 0px none ; padding: 0px; background: transparent none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: initial; -moz-background-origin: initial; -moz-background-inline-policy: initial;' align='middle' border='0' /&gt;&lt;/a&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22828176-116599135105412691?l=ajisetiawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajisetiawan.blogspot.com/feeds/116599135105412691/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22828176&amp;postID=116599135105412691' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22828176/posts/default/116599135105412691'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22828176/posts/default/116599135105412691'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajisetiawan.blogspot.com/2006/12/ak26mutiara-rasulast.html' title='Ak26.Mutiara Rasul.AST'/><author><name>Aji Setiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14411902879772066714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://photos1.blogger.com/x/blogger/1979/2328/640/163197/Aji1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22828176.post-116597776589715224</id><published>2006-12-13T09:41:00.000+07:00</published><updated>2006-12-13T09:42:46.430+07:00</updated><title type='text'>Liputan Khusus</title><content type='html'>&lt;A HREF='http://photos1.blogger.com/x/blogger/1979/2328/640/110864/Ditengah%20Jamaah.jpg'&gt;&lt;IMG SRC='http://photos1.blogger.com/x/blogger/1979/2328/320/813939/Ditengah%20Jamaah.jpg' border=0 alt='' style='display:block;margin 0px auto 10px; cursor:hand; text-align:center'&gt;&lt;/A&gt;&amp;nbsp;&lt;br /&gt;Pengajian Keliling Majelis Dzikir Ratib Haddad Denpasar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam rangka memperingati Haul Sahiburratib Haddad ke-295 Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad, Majelis Dzikir Ratib Haddad, Bali yang dibina oleh ustadz Nurkholis Basyaiban ini juga mengadakan pengajian keliling ke berbagai pelosok kampung di Bali. Berikut liputan khusus Aji Setiawan yang mengikuti rihlah (perjalanan) dakwah Majelis Dzikir Ratib Haddad selama lima hari langsung dari Denpasar, Bali     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabtu&lt;br /&gt;Hari pertama, Sabtu (2/12) ba’da shalat Ashar, bertempat di kediaman Ustadz Nurkholis Basyaiban diadakan acara rauhah (pembuka) dengan pembacaan Maulid Simthud Durar oleh kelompok Hadrah Al-Hikmah (Denpasar) pimpinan ustadz Puryanto. Dalam acara tersebut juga diadakan aqiqah putri keempat Bapak Misbah Haji, yakni Salsabila Nur Sabrina. Selepas diadakan pemotongan rambut oleh para Habaib dan jamaah, acara berlanjut dengan taushiah Habib Hadi bin Alwi Al-Kaff yang memberikan wawasan tentang pentingnya mendidik anak.&lt;br /&gt;”Adalah tugas orang tua ketika anaknya lahir adalah mendidik mereka dengan memasukan ke madrasah-madrasah, pesantren atau lembaga pendidikan lainnya. Sehingga anak tersebut menjadi anak yang saleh dan salehah,” pesan Habib Hadi kepada sekitar 100 jama’ah yang memadati acara pengajian di Jl Gunung Slamet No 32, Perumnas Monang-maning, Denpasar. Acara ditutup dengan pembacaan doa secara bergantian oleh Habib Muhammad bin Idrus Al-Haddad, Habib Abdullah bin Muhammad Al-Haddad dan Habib Hasan Al-Jufri. &lt;br /&gt;Malam harinya, selepas shalat Isya, para Habaib kembali diundang oleh Rukun Warga Muslim (RWM) Perumnas Monang-maning Blok IX, Denpasar, dengan mengambil tempat di Mushala Silaturahmi. Acara dibuka dengan pembacaan kalam ilahi oleh ustadz Fathuri dan sambutan ketua RWM yakni Drs Ramli Effendi. Taushiah pertama disampaikan oleh Habib Hadi bin Alwi Al-Kaff yang membahas tentang pentingnya birrul walidain (berbakti pada orang tua).”Kalau ingin selamat dunia akhirat, maka berbaktilah kepada kedua orang tua.”&lt;br /&gt;Dalam kesempatan itu, Habib Hadi juga menjelaskan cara berbakti pada orang tua yang telah meninggal, yakni dengan mendoakan mereka, selalu memohon ampun dosa-dosa mereka, melaksanakan segala keinginan-keinginan (amanah) yang belum terlaksana, berusaha menjalin tali kekeluargaan dengan keluarga mereka dan memuliakan sahabat-sahabat dari kedua orang tua kita. &lt;br /&gt;Habib Hadi juga mengingatkan pada jamaah tiga sebab amal seseorang tidak diterima oleh Allah SWT, yakni menyekutukan Allah (syirik), durhaka kepada kedua orang tua, dan ghirar (mendoakan kejelekan pada orang lain). &lt;br /&gt;Acara pengajian yang dihadiri sekitar 200 jamaah ini kemudian ditutup dengan taushiah oleh Habib Muhammad bin Idrus Al-Haddad dan doa oleh Habib Abdullah bin Muhammad Al-Haddad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu&lt;br /&gt;Minggu (3/12), sekitar seribu jemaah dari berbagai pelosok Bali mendatangi Masjid Al-Muhajirin (IKMS) yang terletak di Jl Gunung Sari, Perumnas Monang-Maning, Denpasar untuk menghadiri acara peringatan Haul ke-295 Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad. Peringatan haul Sahiburratib Haddad ini telah sepuluh kali digelar oleh Majlis Dzikir Ratib Haddad, Bali yang dibina oleh ustadz Nurkholis Basyaiban.&lt;br /&gt;Tepat pukul 08.00 WITA, acara dibuka dengan pembacaan Maulid Habsyi dan diselingi lantunan kasidah dari kelompok hadrah Al-Hikmah (Perumnas Monang-maning, Denpasar) yang dipimpin Ustadz Puryanto. Peringatan haul ini juga dihadiri habaib dan ulama diantaranya Habib Muhammad bin Idrus Al-Haddad, Habib Abdullah bin Muhammad Al-Haddad, Habib Habib Hasan Al-Jufri, Habib Hadi bin Alwi Al-Kaff (Malang), Habib Umar bin Zein Al-Haddad (Jember), KH Hasan Abdillah (Glenmoore, Banyuwangi), KH. Suyuti Toha (Delimo, Banyuwangi), KH Hasan Toha (Srono, Banyuwangi), KH Halimi (Besuki, Banyuwangi), habaib serta para ulama Bali dan sekitarnya.     &lt;br /&gt;Setelah pembacaan Surah Yasin oleh KH.Hasan Abdillah (Glenmoore, Banyuwangi) dan pembacan Ratib Haddad oleh Habib Abdullah bin Muhammad bin Ali Al-Haddad (Malang). Lepas pembacaan Al-Qur’an dan sambutan panitia, dilanjutkan dengan acara taushiah tiga Habaib dari kota Malang, Jawa Timur yakni Habib Hasan Al-Jufri, Habib Hadi bin Alwi Al-Kaff dan Habib Muhammad bin Idrus Al-Haddad. Selepas pembicara terakhir, Habib Muhammad bin Idrus Al-Haddad menceritakan sekelumit manakib dan nasehat-nasehat Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad, acara kemudian ditutup dengan doa oleh KH Hasan Abdillah. (Baca: Haul Pengibar Bendera Alawiyin, alKisah No.26/IV/2006).  &lt;br /&gt;Ba’da ashar, pengajian diadakan di dealer Motor An-Nur, kediaman Hj.Insiyah Yusuf, Jl Pulau Buru, Denpasar. Acara dibuka dengan tahlil dan Yasin oleh KH Suyuti Toha (Delimo, Banyuwangi) dan berlanjut dengan taushiah oleh Habib Hadi bin Alwi Al-Kaff (Malang) yang menyampaikan tentang pentingnya berdzikir kepada Allah SWT dan bakti kepada orang tua. &lt;br /&gt;Dalam kesempatan itu, Habib Hadi juga menjelaskan tentang keutamaan membaca Al-Qur’an. “Pembacaan Al-Qur’an itu pahala sangat besar sekali. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, ’Surah Fatihah dibaca dengan tujuan apa pun, insyaallah akan dikabulkan Allah SWT’. Begitu pula dengan Yasin, bahkan secara keseluruhan dari ayat apa pun yang kita baca, dengan tujuan apa pun, itu diterima oleh Allah SWT.” &lt;br /&gt;Habib Hadi dalam pengajian itu juga menjelaskan tentang keutamaan menghadiri majelis-majelis dzikir dan ilmu.“Di dalam majelis-majelis dzikir pasti akan diberi empat hal; turun kepadanya ketentraman jiwa (sakinah), menebarkan kasih sayang (rahmah), didoakan oleh para malaikat, akan dibanggakan oleh Allah SWT di hadapan para malaikat,” kata Habib Hadi. &lt;br /&gt;Acara pengajian ini juga sekaligus pelepasan Hj. Insiyah Yusuf (sahibul bait, tuan rumah) yang berangkat haji pada tahun ini, lantas ditutup dengan doa oleh KH. Aslam Raharjo (Parangharjo, Banyuwangi) dan KH. Hasan Toha (Srono, Banyuwangi). &lt;br /&gt;Malam hari selepas shalat Isya, kembali para habaib mengisi pengajian di Masjid Al-Ikhlas, kampung Monang-maning, Denpasar. Acara yang digelar oleh Ikatan Remaja Masjid Al-Ikhlas (IRMA) dibuka dengan pembacaan kalam ilahi oleh ustadz Abdullah dan sambutan ketua Yayasan Al-Muhtadin, H. Nur Zainuddin.&lt;br /&gt;Habib Hadi bin Alwi Al-Kaff dalam taushiahnya menyampaikan tentang taubat, ”Sesungguhnya Allah SWT tidak akan mengampuni dosa syirik, tetapi selain syirik Allah akan mengampuni. Jadi, dosa apa pun yang kita lakukan, insyaallah akan diampuni bila meminta ampun kepada-Nya (taubat), rasa menyesal atas dosa-dosanya dan berjanji untuk tidak mengulanginya.” Selepas diberikan taushiah oleh Habib Muhammad bin Idrus Al-Haddad acara ditutup dengan dengan doa oleh Habib Abdullah bin Muhammad Al-Haddad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senin&lt;br /&gt;Senin pagi (4/12) lepas shalat subuh berjama’ah di Masjid Baiturahman, Jl Mawar, Kampung Jawa, Denpasar kembali Habib Hadi Al-Kaff mengisi taushiah tentang pentingnya tholibil ‘ilm (mencari ilmu) sebagaimana perintah Allah SWT dalam QS Al-Mujadillah :11, ”Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” Habib Hadi juga mengingatkan jamaah tentang perintah menuntut ilmu dari hadits Rasulullah SAW yang berbunyi, “Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim laki-laki dan perempuan.” &lt;br /&gt;Selain Allah mengangkat derajat orang-orang mukmin karena ilmunya, lanjut Habib Hadi, Allah SWT juga menjadikan mereka dalam kebaikan sebagai pemimpin dan pemberi petunjuk yang diikuti, petunjuk yang dalam kebaikan. “Jejak para ahli ilmu akan diikuti dan perbuatan-perbuatannya pun diamalkan,”katanya.  &lt;br /&gt;Selepas acara, rombongan kemudian bersilaturahmi dengan tokoh Islam Kampung Jawa yakni H. Kholid yang terletak persis di samping masjid Baiturrahman.   &lt;br /&gt;Lepas shalat dhuhur, rombongan kemudian berziarah ke makam salah satu dari Wali Pitu di Bali, yakni makam Habib Idrus Al-Hamid yang terletak di komplek makam Karangasem, Kabupaten Klungkung. Jama’ah membaca Yasin dan Tahlil dipimpin oleh Habib Abdullah bin Muhammad Al-Haddad. Acara kemudian berlanjut dengan berkunjung ke komplek Pondok Pesantren Nurul Musthofa, yang diasuh oleh Habib Thalib Assegaff dan ustadz Khoeron. Pondok pesantren ini terletak kampung Gelgel dan dalam pembinaan langsung dari Habib Taufik bin Abdulkadir bin Husein Assegaff (Pasuruan). Saat di halaman pondok, Habib Abdullah Al-Haddad kembali didaulat untuk memimpin doa di halaman pondok, semoga semakin makmur dan berkembang. &lt;br /&gt;Malam lepas shalat Isya diadakan pengajian di kediaman H. Mansyuri yang terletak di Jl Imam Bonjol No 28, Perumahan Mutiara, Denpasar. Selepas pembacaan Yasin dan Tahlil yang dipimpin oleh Habib Hadi Al-Kaff, acara berlanjut dengan taushiah dari Habib Hasan Al-Jufri yang menyampaikan tentang pentingnya mengingat Allah SWT. Materi ceramah dikemas dengan selingan humor-humor segar, logat bahasa Madura, membuat jemaah betah di tempatnya sampai acara berakhir. &lt;br /&gt;Habib Hasan Al-Jufri mengisahkan sahabat Tsalabah yang tidak punya harta kemudian menjadi kaya raya berkat doa Rasulullah SAW. Namun setelah kaya raya, Tsalabah menjadi jauh beribadah kepada Allah SWT, akhirnya Rasulullah kembali berdoa dan Tsalabah jatuh miskin. “Dari kisah Tsalabah kita harus belajar, harta itu merupakan cobaan. Ketika Tsalabah diperintahkan shalat, tidak mau, Rasulullah SAW cinta Tsalabah agar ia kembali beribadah kepada Allah SWT.” &lt;br /&gt;Pengajian yang banyak diikuti oleh masyarakat Madura ini kemudian ditutup dengan doa oleh Habib Abdullah bin Muhammad Al-Haddad dan acara berlanjut dengan santap makan malam bersama.   &lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;Selasa&lt;br /&gt;Selasa, tepat jam 10.00 pagi, kembali rombongan Majelis Dzikir Ratib Haddad menyambangi kediaman H. Idris bin H Weru yang terletak di Jl Tangkuban Perahu, Kuta, Badung. Acara dibuka dengan pembacaan Yasin dan Tahlil dipimpin oleh Habib Hadi bin Alwi Al-Kaff. Jamaah kemudian dihibur dengan lantunan kasidah yang dinyanyikan oleh Habib Muhammad bin Idrus Al-Haddad. &lt;br /&gt;Acara berlanjut dengan pembacaan Syarah Ratib Haddad karya Habib Alwi bin Ahmad bin Hasan bin Abdullah Al-Haddad (cicit Sahiburratib Haddad), yang bacakan oleh Habib Muhammad bin Idrus Al-Haddad dan diterjemahkan langsung oleh Habib Hadi bin Alwi Al-Kaff. &lt;br /&gt;Habib Hasan Al-Jufri dalam pengajian itu menyampaikan taushiah tentang keutamaan dan adab berdoa.“Yang paling utama bacaan wirid atau doa adalah; berdoa setelah shalat, membaca al-Qur’an, shalawat atau dzikir, diusahakan menghadap kiblat dan tidak pernah putus (istiqomah).”  Setelah ditutup dengan do’a oleh Habib Abdullah bin Muhammad Al-Haddad dan berlanjut dengan acara makan bersama dan shalat dzuhur berjamaah.&lt;br /&gt;Lepas shalat Ashar, rombongan Habaib dan Majelis Dzikir Ratib Haddad menggelar pengajian di kediaman Muhammad Ba Humaid (Umbu), Perumahan Padang Graha Indah, Grobokan, Badung. Acara dibuka dengan pembacaan Yasin dan Tahlil oleh Habib Hadi bin Alwi Al-Kaff dan berlanjut dengan pembacaan Maulid Adzabi. Selepas itu acara berlanjut dengan shalat maghrib berjama’ah dan pembacaan Syarah Ratib Haddad karya Habib Alwi bin Ahmad bin Hasan bin Abdullah Al-Haddad (cicit Sahiburratib Haddad), yang bacakan oleh Habib Muhammad bin Idrus Al-Haddad dan diterjemahkan langsung oleh Habib Hadi bin Alwi Al-Kaff.&lt;br /&gt;Ba’da Isya, rombongan menutup acara pengajian di Masjid Nurul Islam yang terletak di Kampung Islam Pekalongan, Kampung Kepaon, Pemogan, Denpasar Selatan. Habib Hadi bin Alwi Al-Kaff memberikan taushiah tentang niat.”Amal-amal yang didapat dari niat adalah sesuai dengan yang diniatkan. Jadi perbaikilah niat, karena niat merupakan bagian yang penting dari amal-amal ibadah yang kita lakukan.”  &lt;br /&gt;Acara berlanjut dengan tanya jawab antara pembicara dengan jamaah,masih berkaitan seputar niat. Selepas acara, jamaah Masjid Nurul Islam, Kampung Islam Pekalongan masih sempat minta berfoto bersama sebagai kenang-kenangan.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AST/Ft. AST&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Caption:&lt;br /&gt;1. Lead&lt;br /&gt;2. Pengajian di kediaman ustadz Nurkholis Basyaiban. Pentingnya mendidik anak&lt;br /&gt;3. Pengajian di Masjid Silaturahmi, Monang-maning. Cara berbakti pada orang tua&lt;br /&gt;4. Suasana haul sahiburratib Haddad. Meneladani orang-orang shalih&lt;br /&gt;5. Pengajian di dealer motor An-Nur. Keutamaan membaca Al-Qur’an&lt;br /&gt;6. Taklim di Masjid Al-Ikhlas. Meminta ampun  kepada Allah SWT &lt;br /&gt;7. Subuh berjamaah di kampung Jawa. Keutamaan menuntut ilmu&lt;br /&gt;8. Ziarah ke Klungkung. Salah satu Wali Pitu di Pulau Dewata&lt;br /&gt;9. Pengajian di tempat H Mansyuri. Belajar dari kisah Tsalabah &lt;br /&gt;10. Suasana taklim di rumah H Idris. Keutamaan dan adab berdoa&lt;br /&gt;11. Jama’ah pengajian di tempat Muhammad Ba Chumaid. Khusyuk mendengarkan taushiah dari para habib &lt;br /&gt;12. Foto bersama di Masjid Pekalongan. Sebagai kenang-kenangan terakhir&amp;nbsp;&lt;a href='http://picasa.google.com/blogger/' target='ext'&gt;&lt;img src='http://photos1.blogger.com/pbp.gif' alt='Posted by Picasa' style='border: 0px none ; padding: 0px; background: transparent none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: initial; -moz-background-origin: initial; -moz-background-inline-policy: initial;' align='middle' border='0' /&gt;&lt;/a&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22828176-116597776589715224?l=ajisetiawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajisetiawan.blogspot.com/feeds/116597776589715224/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22828176&amp;postID=116597776589715224' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22828176/posts/default/116597776589715224'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22828176/posts/default/116597776589715224'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajisetiawan.blogspot.com/2006/12/liputan-khusus.html' title='Liputan Khusus'/><author><name>Aji Setiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14411902879772066714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://photos1.blogger.com/x/blogger/1979/2328/640/163197/Aji1.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22828176.post-116590493469557999</id><published>2006-12-12T13:28:00.000+07:00</published><updated>2006-12-12T13:28:55.056+07:00</updated><title type='text'>Manakib</title><content type='html'>&lt;A HREF='http://photos1.blogger.com/x/blogger/1979/2328/640/430435/Ahmad.pg.jpg'&gt;&lt;IMG SRC='http://photos1.blogger.com/x/blogger/1979/2328/320/804518/Ahmad.pg.jpg' border=0 alt='' style='display:block;margin 0px auto 10px; cursor:hand; text-align:center'&gt;&lt;/A&gt;&amp;nbsp;&lt;br /&gt;Habib Ahmad bin Abdullah bin Muhsin Assegaff&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis Sejarah dan Sastrawan Hebat&lt;br /&gt;Salah satu pakar nasab di Indonesia yang meletakkan dasar-dasar ilmu nasab adalah Habib Ahmad bin Abdullah bin  Muhsin Assegaff. Selain dikenal sebagai pakar ilmu nasab yang jempolan, ia juga dikenal wartawan, sastrawan dan guru bagi banyak orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Habib Ahmad dikenal sebagai wartawan, sejarawan, dan sastrawan keturunan Arab yang terkenal pada masa kemerdekaaan RI. Sayid Ahmad bin Abdullah Assagaf, banyak menyerang pemerintah kolonial Belanda lewat tulisan-tulisannya. Untuk melengkapi data tulisannya itu, dia mendatangi berbagai tempat di Indonesia untuk bertemu dengan tokoh masyarakat, ulama, dan sejarawan.&lt;br /&gt;Ia juga adalah salah satu pendiri pergerakan Arrabithah Al-Alawiyyah dan sekaligus menerbitkan majalah Arrabithah Al-Alawiyyah, majalah yang mengupas bidang keagamaan dan politik. Majalah Arrabithah Al-Alawiyyah dalam waktu yang tidak lama menjadi wadah bagi para penulis muda untuk menyampaikan pendapat mengenai keislaman dan politik, berperan sebagai sarana untuk menampik pengaruh orientalis barat di Indonesia.&lt;br /&gt;Habib Ahmad bin Abdullah bin Muhsin Assegaff sendiri lahir pada tahun 1299 H (1879 M) di kota Syihr, Hadramaut. Ketika umurnya menginjak usia 4 tahun, ia dibawa oleh kedua orang tuanya ke kota Seiwun, saat itu terkenal sebagai kota ilmu yang menghasilkan banyak ulama besar dan shalihin. Di kota itu, ia mempelajari ilmu ushuludin, fiqh, tata bahasa, sastra dan tasawuf.&lt;br /&gt;Tak puas menyerap ilmu di Seiwun, lantas ia pergi ke Tarim yang saat itu juga dikenal sebagai pusat para ulama besar. Hampair setiap hari, ia mendatangi majlis-majlis ilmu dan mengadakan hubungan yang akrab dengan guru-guru yang shalih, seperti Sayid Abdurahman bin Muhammad al-Masyhur, Syaikh Saleh, Syaikh Salim Bawazier, Syaikh Said bin Saad bin Nabhan, Sayyid Ubaidillah bin Muhsin Assegaff, Habib Ahmad bin Hasan Alattas, Habib Muhammad bin Salim As-Siri dan lain-lain.&lt;br /&gt;Ustadz Ahmad  Assegaff dikenal sangat gemar mengadakan perjalanan ke berbagai negeri tetangga untuk menemui ulama-ulama dan mengadakan dialog dengan para cendekiawan, sehingga ia sangat dikagumi oleh pusat-pusat ilmiah pada masa itu.&lt;br /&gt;Tahun 1333 H (1913 M), ia berlayar ke Singapura dan ke Indonesia untuk mengunjungi saudaranya yang tertua, Sayid Muhammad bin Abdullah bin Muhsin Assegaff di Pulau Bali. Ia tinggal di Pulau Dewata itu beberapa lama, sambil berguru sekaligus berdakwah di sana.&lt;br /&gt;Ia kemudian melanjutkan perjalanannya ke Surabaya, berjumpa dengan beberapa perintis pergerakan Islam serta para cendekiawan. Mereka sering terlibat diskusi membahas kebangkitan pergerakan keturunan Arab dan kaum muslimin di masa mendatang. &lt;br /&gt;Habib Ahmad saat itu terpilih menjadi direktur yang pertama dari Madrasah Al-Khairiyah di Surabaya. Ia memimpin sekolah yang kebanyakan diikuti oleh warga keturunan arab itu dengan sangat bijaksana dan mulai saat itu namanya dikenal sebagai orang yang ahli dalam bidang pendidikan. Di kota Surabaya, ia menikah dan mempunyai beberapa orang putra.&lt;br /&gt;Kemudian, ia pindah ke Solo dan tetap bersemangat mencari ilmu pengetahuan. Di kota batik inilah ia mempelajari ilmu psikologi dan manajemen sekolah, kebetulan ia juga menjadi salah pengurus sekolah swasta. Selain mengajar, ia juga berdagang sehingga ia sering pergi ke Jakarta untuk mengurus perniagaannya. Usaha dagang semakin maju. Itu membuat Habib Ahmad pindah ke Jakarta dan menjadi pimpinan sekolah Jami’at Kheir.&lt;br /&gt;Berbagai perubahan demi kemajuan dalam pendidikan mulai ia rintis, di antaranya dengan membuka kelas-kelas baru bagi para pelajar, menyusun tata tertib bagi pelajar, mengarang buku-buku sekolah serta lagu-lagu untuk sekolah.&lt;br /&gt;Buku-buku pelajaran yang ia susun diantaranya terdiri dari buku-buku agama, sastra dan akhlaq. Keberhasilannya dalam memimpin sekolah dan menciptakan sistem pendidikan, mengundang perhatian yang luas dari pemerhati masalah pendidikan baik dalam maupun luar negeri, seperti dari Malaysia dan Kesultanan Gaiti di Mukalla. Intinya, mereka meminta Habib Ahmad untuk memimpin pengajaran sekolah di negeri mereka. Namun, permintaan tersebut ditolak dengan halus, karena ia tengah merintis pembentukan Yayasan Arrabithah Al-Alawiyyah.&lt;br /&gt;Melalui pergerakan Arrabithah Al-Alawiyyah pula, ia mempunyai pengaruh yang sangat kuat di dalam memberikan petunjuk dan pentingnya persatuan di kalangan umat Islam dalam menghadapi penjajahan. Semua itu dapat dilihat dalam qasidah, syair serta nyanyian yang ia karang.&lt;br /&gt;Salah satu kitab yang dikarang oleh Habib Ahmad adalah Kitab Khidmatul Asyirah. Kitab itu dibuat sebagai ringkasan dari kitab Syams Azh-Zhahirah. Dalam kitab ini Habib Ahmad menguraikan secara sistematis mengenai nasab dan pentingnya setiap orang memelihara kesucian nasabnya dengan ahlak yang mulia. Karena tidaklah mudah untuk menjaga nasab, sebagai ikatan penyambung keturunan serta asal-usul kembalinya keturunan seseorang kepada leluhurnya. &lt;br /&gt;Dalam kitab ini, riwayat seseorang ia diteliti dengan seksama supaya terjaga kesucian nasabnya, dengan susunan yang tertib dari awal sampai akhir. Habib Ahmad bekerja keras untuk menyempurnakan isi buku ini walaupun ia mempunyai kesibukan yang luar biasa baik Rabithah Alawiyah maupun sebagai pengajar di Jami’at Kheir. Segala rintangan dihadapinya dengan penuh ketegaran dan semangat pantang mundur dengan satu tekad menyusun sejarah nasab Alawiyin merupakan pekerjaan yang sangat mulia. &lt;br /&gt;Habib Ahmad, dalam kitab Khidmatul Asyirah menambahkan catatan beberapa orang yang terkemuka serta para ulama yang hidup sekitar tahun 1307-1365 H, saat menulis kitab ini sekitar tahun 1363 Habib  Ahmad menghitung terdapat lebih dari 300 qabilah dan kitab ini pertama kali diterbitkan di Solo pada Rabiul Awal 1365 H.&lt;br /&gt;Dari sekitar 20 buah bukunya, Ahmad bin Abdullah Assagaf sempat menulis sejarah Banten berjudul Al-Islam fi Banten (Islam di Banten). Karangannya yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia adalah Fatat Garut (Gadis Garut) berupa roman kehidupan multietnik Indonesia di awal abad ke-20 oleh penerbit Lentera pada tahun 1997 dan diterjemahkan oleh Drs. Ali bin Yahya. Karya sastra ini sangat indah dan patut untuk dibaca karena banyak mengandung budaya bangsa dan syair-syair.&lt;br /&gt;Karya-karyanya yang lain banyak disebarluaskan di madrasah-madrasah sebagai buku wajib pelajaran sekolah baik dalam mau pun di luar negeri. Diantaranya adalah cerita-cerita yang berisi masalah pendidikan seperti Dhahaya at-Tasahul, dan Ash-Shabr  wa ats-Tsabat (berisi tentang cara hidup yang baik di dalam masyarakat untuk mencapai kemulian dunia dan akhirat), buku-buku pendidikan dan ilmu jiwa, Sejarah masuknya Islam di Indonesia dan lain-lain.&lt;br /&gt;Keahlian Habib Ahmad didalam syair mendapat pengakuan dari banyak ahli syair di negara Arab. Selain itu Habib Ahmad juga punya keahlian di bidang kerajinan tangan dan elektronika dan pernah membuat sebuah alat musik yang dinamakan Alarangan.&lt;br /&gt;Saat tentara Jepang datang ke Indonesia pada tahun 1942 dan menyerbu Hindia Belanda serta menyebabkan pertempuran yang sengit di Batavia menyebabkan Habib Ahmad pindah ke Solo. Setelah pertempuran mereda, Habib Ahmad kembali ke Jakarta dan mengajar di Kalibata.&lt;br /&gt;Setelah 40 tahun menetap di Indonesia, pada 1950 ia berniat meninggalkan Indonesia menuju ke Hadramaut. Tepat pada hari Jumat,  22 Jumadil Awwal 1369 H ia berangkat dari Jakarta, dengan mempergunakan kapal laut dari pelabuhan Batavia. Namun Allah SWT telah menentukan umurnya, tepatnya Selasa 26 Jumadil Awal 1369 H ia berpulang ke haribaan-Nya. &lt;br /&gt;Setelah diadakan upacara keagamaan seperlunya di atas kapal, pada hari Kamis, 28 Jumadil Awal 1369 H, jenazahnya kemudian dimakamkan di laut lepas, sebelum memasuki pelabuhan Medan. Yang sangat disayangkan, banyak karya Habib Ahmad yang belum sempat dibukukan juga ikut hilang dalam perjalanan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AST&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Caption:&lt;br /&gt;1. Lead&lt;br /&gt;2. Novel Fatat Garut. Roman kehidupan multietnik Indonesia&lt;br /&gt;3. Habib Ahmad bin Abdullah Muhasin Assegaff. Penulis sejarah dan sastrawan hebat&lt;br /&gt;4. Kitab Khidmatul Asyirah. Ahli di bidang ilmu nasab&amp;nbsp;&lt;a href='http://picasa.google.com/blogger/' target='ext'&gt;&lt;img src='http://photos1.blogger.com/pbp.gif' alt='Posted by Picasa' style='border: 0px none ; padding: 0px; background: transparent none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: initial; -moz-background-origin: initial; -moz-background-inline-policy: initial;' align='middle' border='0' /&gt;&lt;/a&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22828176-116590493469557999?l=ajisetiawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajisetiawan.blogspot.com/feeds/116590493469557999/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22828176&amp;postID=116590493469557999' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22828176/posts/default/116590493469557999'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22828176/posts/default/116590493469557999'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajisetiawan.blogspot.com/2006/12/manakib.html' title='Manakib'/><author><name>Aji Setiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14411902879772066714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://photos1.blogger.com/x/blogger/1979/2328/640/163197/Aji1.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22828176.post-116582518497827827</id><published>2006-12-11T15:17:00.000+07:00</published><updated>2006-12-11T15:19:52.616+07:00</updated><title type='text'>Ak26.Haul ke-295 Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad.AST</title><content type='html'>&lt;A HREF='http://photos1.blogger.com/x/blogger/1979/2328/640/53214/BaliLayau.jpg'&gt;&lt;IMG SRC='http://photos1.blogger.com/x/blogger/1979/2328/320/134416/BaliLayau.jpg' border=0 alt='' style='display:block;margin 0px auto 10px; cursor:hand; text-align:center'&gt;&lt;/A&gt;&amp;nbsp;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haul Sahiburratib Haddad di Bali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad adalah seorang pengarang Ratib Haddad. Peringatan haul di Pulau Dewata yang digelar oleh Majelis Dzikir Ratib Haddad ini berlangsung semarak dan penuh mengharap berkah haul     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu pagi yang cerah, 3 Desember 2006, sekitar seribu jemaah dari berbagai pelosok Bali mendatangi Masjid Al-Muhajirin (IKMS) yang terletak di Jl Gunung Sari, Perumnas Monang-Maning, Denpasar untuk menghadiri acara peringatan Haul ke-295 Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad. Peringatan haul Sahiburratib Haddad ini telah sepuluh kali digelar oleh Majlis Dzikir Ratib Haddad, Bali yang dibina oleh ustadz Nurkholis Basyaiban.&lt;br /&gt;Habib Abdullah Alwi Al-Haddad adalah seorang wali besar, Syaikhul Islam (Rujukan Utama Keislaman), Fardul A’lam (Orang Teralim), Al-Quthbul Ghauts (Wali Tertinggi yang Bisa Menjadi Wasilah Pertolongan), Al-Quthbud Da’wah wal-Irsyad (Wali Tertinggi yang Memimpin Dakwah), dan semacamnya. Ia lahir pada Rabu malam, 5 Safar 1044 H/1624 M, di pinggiran kota Tarim, Hadramaut, Yaman. Di kota yang masyhur sebagai gudang ulama itu, ia dibesarkan di tengah keluarga dan lingkungan yang mencintai ilmu agama.&lt;br /&gt;Sejak kanak-kanak, sudah tampak kelebihan-kelebihannya. Ia mampu menghafalkan Al-Quran ketika usianya belum lagi menginjak dewasa. Meskipun Allah SWT kemudian menakdirkannya buta karena penyakit cacar, semangat belajarnya justru semakin tinggi. Ia juga giat menuntut ilmu kepada sejumlah ulama. &lt;br /&gt;“Janganlah mengira semua ini aku dapatkan dengan mudah tanpa kerja keras. Tahukah kalian, dulu aku berkeliling ke sejumlah shalihin di seluruh Hadramaut untuk menuntut ilmu, sekaligus melakukan tabarrukan, mengambil berkah mereka?” kata Hbaib Abdullah bin Alwi Al-Haddad.&lt;br /&gt;Di antara sejumlah gurunya, yang paling istimewa di hatinya ialah Habib Umar Alatas. Selain sama-sama tunanetra, mereka juga banyak mengembara untuk menuntut ilmu, beribadah, dan berdakwah.&lt;br /&gt;Setiap tengah malam, ia berkeliling kota Tarim, berkunjung dari masjid satu ke masjid lain untuk menunaikan salat Tahajud. Lumrah jika kelak Habib Abdullah Al-Haddad menjadi magnet bagi kota Tarim. Suatu hari ia berkata, “Dahulu aku menuntut ilmu kepada banyak orang. Kini, banyak orang menuntut ilmu kemari.” Ia memang muncul sebagai salah seorang ulama besar di abad ke-11 sampai 14 H, atau abad ke-17 hingga 20 M. Bahkan Ibnu Ziyad, ulama dan mufti besar yang disejajarkan dengan ulama fikih seperti Ibnu Hajar dan Imam Ramli, berkeyakinan, dia adalah tokoh mujaddid (pembaharu) abad ke-11 H.&lt;br /&gt;Belakangan ia dikenal sebagai pengibar bendera Tarekat Alawiyin, amaliah yang diperoleh turun-temurun dari para pendahulunya, para alawiyin, alias keturunan Rasulullah SAW. Dan kelak, ia menjadi ulama besar yang sangat produktif. Selain menulis ratib, ia juga menulis kumpulan wirid, Al-Wirdul Lathif, yang seakan menjadi pasangan bagi Ratib Hadad. Para ulama mengajarkan dan mengamalkan Ratib Hadad menjelang atau selepas salat Magrib, dan mengamalkan Al-Wirdul Lathif  usai subuh.&lt;br /&gt;Namanya maupun karyanya telah melegenda. Ada keyakinan di kalangan sebagian kaum muslimin, membaca karya Habib Abdullah bisa mendapatkan manfaat besar, yaitu keselamatan, bukan hanya bagi pembacanya, melainkan juga masyarakat sekitarnya. Tertib pembacaannya, ia jelaskan pula dalam An-Nashaihud Diniyah. Menurutnya, wirid dan zikir itu bukanlah susunan dia sendiri, melainkan semata-mata mengacu pada doa yang diajarkan Rasulullah SAW. Menurutnya, semua zikir, doa, dan wirid, memiliki manfaat besar dan fadilah yang banyak, sementara tujuannya satu: kemantapan hati akan kebesaran Allah SWT, dekat dengan-Nya, sehingga selamat dari segala godaan.&lt;br /&gt;“Rasulullah SAW telah menyusunnya dengan tertib, agar kita mengamalkannya, demi mendapatkan kebaikan dan keselamatan dari marabahaya. Maka, barang siapa mengamalkannya secara rutin akan selamat. Sebaliknya, barang siapa meremehkan atau melalaikannya, akan menyesal,” tulisnya.&lt;br /&gt;Hari Selasa, 7 Zulkaidah 1132 H/1712 M, awan hitam bergelayut, seakan hendak menutup kota Tarim. Sebelum matahari terbenam, Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad telah berpulang ke rahmatullah. Inna lillahi wainna ilaihi raji’un. Tidak hanya warga Tarim yang kehilangan, kaum muslimin di seluruh dunia pun berkabung. Meski secara fisik telah tiada, secara batin Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad tetap hadir di tengah-tengah kita – setiap kali nama dan karya-karyanya kita baca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana Haul&lt;br /&gt;Tepat pukul 08.00 WITA, acara dibuka dengan pembacaan Maulid Habsyi, atau lebih populer disebut Maulid Simthud Durar dan diselingi lantunan kasidah dari kelompok hadrah Al-Hikmah (Perumnas Monang-maning, Denpasar) yang dipimpin Ustadz Puryanto. Peringatan haul ini juga dihadiri habaib dan ulama diantaranya Habib Muhammad bin Idrus Al-Haddad, Habib Abdullah bin Muhammad Al-Haddad, Habib Habib Hasan Al-Jufri, Habib Hadi bin Alwi Al-Kaff (Malang), Habib Umar bin Zein Al-Haddad (Jember), KH Hasan Abdillah (Glenmoore, Banyuwangi), KH. Suyuti Toha (Delimo, Banyuwangi), KH Hasan Toha (Srono, Banyuwangi), KH Halimi (Besuki, Banyuwangi), habaib serta para ulama Bali dan sekitarnya.     &lt;br /&gt;Acara berlanjut dengan pembacaan Surah Yasin oleh KH. Hasan Abdillah (Glenmoore, Banyuwangi) dan pembacan Ratib Haddad oleh Habib Abdullah bin Muhammad bin Ali Al-Haddad (Malang). Lepas pembacaan Al-Qur’an dan sambutan panitia, dilanjutkan dengan acara taushiah tiga Habaib dari kota Malang, Jawa Timur yakni Habib Hasan Al-Jufri, Habib Hadi bin Alwi Al-Kaff dan Habib Muhammad bin Idrus Al-Haddad.&lt;br /&gt;Tepat pukul sepuluh, Habib Hasan Al-Jufri memberikan taushiah pertama dengan tentang kecintaan Rasulullah SAW kepada umatnya. “Diantara sekian banyak Nabi dan Rasul, yang paling banyak mendoakan umatnya sampai akhir hayat. Beliau tidak pernah mendoakan umatnya yang bukan-bukan, itulah akhlak Nabi Besar Muhammad SAW.”&lt;br /&gt;Dalam taushiahnya selain mengisahkan tentang kecintaan sahabat-sahabat pada Rasulullah, Habib Hasan juga menceritakan saat-saat terakhir dari Rasulullah SAW, malaikat Izrail menyamar dalam rupa rupa lelaki Arab tengah mencabut nyawa beliau.“Di saat-saat akhir, mulut Nabi bergerak, menyebut satu kata yang diulang-ulang. ‘Umati, umati, umati, umatku, umatku, umatku....’,” kata Habib Hasan.&lt;br /&gt;“Dalam peringatan haul ini, Abdullah bin Alwi Al-Haddad adalah penerus dari kakeknya, Rasulullah SAW. Allah SWT cinta pada Rasulullah SAW dan Habib Abdullah Al-Haddad. Tapi, Habib Abdullah Al-Haddad begitu luarbiasa cintanya pada Allah SWT dan Rasulullah SAW. Kalau kita cinta kepada Habib Abdullah bin Alwi Haddad, insyaallah kita akan dipertemukan pada hari kiamat nanti dengan mereka,” tutup Habib Hasan Al-Jufri.&lt;br /&gt;Pembicara kedua, Habib Hadi bin Alwi Al-Kaff menguraikan tentang keutamaan mencintai salafus salahin (orang-orang yang shalih) yakni sahabat, ulama, dzuriyaturrasul (keturunannya). “Imam Syafi’i yang ilmunya sedemikian tinggi, ia sendiri mengaku mencintai orang-orang shalih dengan tujuan bisa mendapatkan syafa’at mereka. Tentu bagi kita, yang sudah bergelimang dosa, sudah selayaknya kita mencintai para shalafus shalihin agar mendapatkan syafa’at mereka,” katanya.&lt;br /&gt;Selepas pembicara terakhir, Habib Muhammad bin Idrus Al-Haddad menceritakan sekelumit manakib dan nasehat-nasehat Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad, acara kemudian ditutup dengan doa oleh KH Hasan Abdillah. &lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;AST/ Ft. AST&lt;br /&gt;Caption:&lt;br /&gt;1. Lead&lt;br /&gt;2. KH Hasan Abdillah memimpin pembacaan Yasin. Mengharap berkah haul&lt;br /&gt;3. Maulid Simthud Durar iringan rebana Al-Hikmah. Menghormati kehadiran Rasulullah SAW&lt;br /&gt;4. Taushiah Habib Hasan Al-Jufri. Kecintaan Rasul pada umatnya&lt;br /&gt;5. Tashiah Habib Hadi bin Alwi Al-Jufri. Cintailah orang-orang shalih&lt;br /&gt;6. Jamaah Majelis Dikir Ratib Haddad, Bali. Menyimak taushiah dari para habaib&amp;nbsp;&lt;a href='http://picasa.google.com/blogger/' target='ext'&gt;&lt;img src='http://photos1.blogger.com/pbp.gif' alt='Posted by Picasa' style='border: 0px none ; padding: 0px; background: transparent none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: initial; -moz-background-origin: initial; -moz-background-inline-policy: initial;' align='middle' border='0' /&gt;&lt;/a&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22828176-116582518497827827?l=ajisetiawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajisetiawan.blogspot.com/feeds/116582518497827827/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22828176&amp;postID=116582518497827827' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22828176/posts/default/116582518497827827'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22828176/posts/default/116582518497827827'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajisetiawan.blogspot.com/2006/12/ak26haul-ke-295-habib-abdullah-bin.html' title='Ak26.Haul ke-295 Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad.AST'/><author><name>Aji Setiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14411902879772066714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://photos1.blogger.com/x/blogger/1979/2328/640/163197/Aji1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22828176.post-116416177334706138</id><published>2006-11-22T09:15:00.000+07:00</published><updated>2006-11-22T09:16:13.673+07:00</updated><title type='text'>KH Hasyim Asy'ari</title><content type='html'>&lt;A HREF='http://photos1.blogger.com/blogger/1979/2328/640/Mbah%20Hasyim%20NU.jpg'&gt;&lt;IMG SRC='http://photos1.blogger.com/blogger/1979/2328/320/Mbah%20Hasyim%20NU.jpg' border=0 alt='' style='display:block;margin 0px auto 10px; cursor:hand; text-align:center'&gt;&lt;/A&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;a href='http://picasa.google.com/blogger/' target='ext'&gt;&lt;img src='http://photos1.blogger.com/pbp.gif' alt='Posted by Picasa' style='border: 0px none ; padding: 0px; background: transparent none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: initial; -moz-background-origin: initial; -moz-background-inline-policy: initial;' align='middle' border='0' /&gt;&lt;/a&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22828176-116416177334706138?l=ajisetiawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajisetiawan.blogspot.com/feeds/116416177334706138/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22828176&amp;postID=116416177334706138' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22828176/posts/default/116416177334706138'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22828176/posts/default/116416177334706138'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajisetiawan.blogspot.com/2006/11/kh-hasyim-asyari.html' title='KH Hasyim Asy&apos;ari'/><author><name>Aji Setiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14411902879772066714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://photos1.blogger.com/x/blogger/1979/2328/640/163197/Aji1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22828176.post-116323083330778896</id><published>2006-11-11T14:31:00.000+07:00</published><updated>2006-11-11T14:40:33.896+07:00</updated><title type='text'>Puncak Mutiara Rasulullah SAW</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/1979/2328/1600/Puncak.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/1979/2328/320/Puncak.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;AK25.MutiaraRasul.AST&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dusta Yang Diperbolehkan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Kedustaan ditetapkan sebagai dosa anak Adam kecuali tiga perkara: Seorang lelaki berdusta terhadap istrinya untuk memuaskan hatinya, seseorang yang yang berdusta karena siasat untuk perang, dan seseorang yang berdusta di antara dua orang Muslim untuk mendamaikan keduanya.” (HR. Ath-Thabrany dan Ahmad)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Suatu waktu, beberapa pemuda muslim diutus oleh Rasulullah SAW ke wilayah Mudhar. Di tengah perjalanan mereka kehausan, kelaparan dan kepanasan. Akhirnya, mereka melewati sebuah tanah lapang yang ditumbuhi rerumputan dan sebuah pohon rindang di sisi luarnya. Ternyata tak jauh dari tempat mereka, tampak sebuah kemah kecil yang di depannya ada sekumpulan kambing. Tanpa berpikir panjang lagi, para utusan Rasulullah SAW itu lalu menemui pemiliknya, orang Badui sambil berkata,”Berilah kami satu ekor kambing untuk dimakan.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Mengetahui yang meminta adalah para utusan Rasulullah SAW yang tengah kelaparan, orang Badui itu kemudian mengambil satu ekor kambing jantan yang gemuk&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan dengan sigap ia segera menyerahkannya pada mereka. Para utusan Rasul itu tentu saja gembira mendapat pemberian kambing gemuk. Mereka lalu menyembelih dan memotong daging kambing. Semua dagingnya kemudian dimasak. Setelah matang, mereka makan masakan daging kambing itu dengan lahapnya sampai habis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Melihat daging yang dimakan para utusan Rasul telah habis, orang Badui itu kemudian memberi mereka satu ekor lagi kambing gemuk. Mereka kembali menyembelih dan memasaknya. Orang badui itu berkata,”Tidak ada yang tersisa dari kambing-kambingku yang dapat disembelih kecuali yang hamil atau seekor pejanntan.” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Utusan-utusan kembali mengambil seekor lagi. Setelah siang hari dan panas menyengat, apalagi saat itu merupakan musim kemarau. Mereka pun tidak mempunyai tempat berlindung. Orang Badui itu menggiring kambing-kambingnya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ke bawah perlindungan sebuah pohon rindang di tengah gurun. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Utusan Rasulullah SAW kemudian mendekati orang Badui itu, lalu berkata, ”Kami lebih berhak berlindung di bawah pohon, dari pada kambing-kambing kamu.” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Mereka semakin mendekat dengan orang Badui itu sambil memerintahkan untuk menggiring kambing-kambing yang sedang berteduh, ”Keluarkanlah kambing-kambingmu, agar kami dapat berlindung di tempat ini!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Orang badui itu berkata, ”Jika kalian mengeluarkan kambing-kambing itu, maka kambing-kambingku yang sedang hamil tidak akan kuat terkena terik panas matahari. Aku takut, anak dalam kandungannya akan keguguran. Sementara aku sudah berima kepada Allah dan Rasul-Nya, mendirikan shalat dan juga mengeluarkan zakat.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Namun jawaban dari orang Badui itu tidak digubris oleh para utusan Rasulullah SAW.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Mereka dengan kasar lalu menggiring semua kambing-kambing yang tengah berlindung di bawah pohon rindang itu. Tak berapa lama kemudian, kambing-kambing itu pun langsung meregang kepanasan oleh terik matahari yang tengah panas-panasnya, berada tepat di atas ubun-ubun kepala. Seperti dugaan orang Badui itu, kambing-kambing yang tengah hamil tak lama berselang mengalami keguguran.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Orang Badui itu dengan muka masam, kemudian berlalu pulang dari para utusan Rasul. Ia dengan langkah tergopoh-gopoh kemudian menemui Rasulullah SAW dan menceritakan semua kejadian yang menimpa kambing-kambingnya. Beliau sangat marah mendengar cerita orang Badui itu, kemudian bersabda,”Tunggulah di sini hingga mereka tiba.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Setelah para utusan beliau kembali semua, mereka semua dikumpulkan dan dipertemukan dengan orang Badui itu. Satu per satu mereka dipanggil oleh Rasulullah SAW, untuk menceritakan kejadian yang sebenarnya di padang sahara. Namun para utusan itu semuanya berkata dusta, dan semua yang dikatakan para utusan itu hanya ingin menggembirakan Rasulullah SAW. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Orang Badui yang mendengar dan melihat langsung kesaksian dari para utusan itu langsung berkata sambil menahan isak tangis karena sedih melihat perilaku sahabat Nabi yang berbohong di hadapan beliau, ”Demi Allah, sesungguhnya Allah &lt;i&gt;Jala Jalalluhu wa Rahmatuhu&lt;/i&gt; benar-benar tahu bahwa aku berkata jujur dan merekalah yang berkata dusta. Semoga Allah memberitahukan kepada engkau tentang hal ini wahai Nabi Allah! wahai Rasulullah SAW!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Rasulullah SAW pun terharu&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mendengar kata-kata dari orang Badui. Beliau melihat dengan mata batinnya yang tajam, kalau orang Badui itu kata-katanya begitu polos dan penuh kejujuran. Hingga, membuat bulir-bulir air mata menetes dari sorot mata beliau yang mulia itu. Beliau baru menyadari, kalau perkataan dari orang Badui itulah yang benar, dan perkataan penuh kedustaan dari para utusannya yang penuh tipu muslihat. Tentu saja, beliau marah besar. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Wajah beliau yang biasa teduh, kini langsung berubah dengan sorot mata yang tajam. Maka, segeralah beliau kembali memanggil satu per satu para utusan untuk menghadap dan bersumpah. Suara baginda Rasulullah SAW yang tegas dan berwibawa, membuat siapa saja yang mendengarnya menjadi gentar dan tergetar hatinya.Ternyata, para utusan itu tak satu pun yang berani mengucap sumpah di hadapan baginda Rasulullah SAW. Akhirnya, para utusan beliau membenarkan semua perkataan orang Badui itu dan mengakui kalau mereka telah berkata dusta. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sekalipun beliau dari tadi mendengarkan saja kata para utusan dengan seksama dan penuh kearifan, namun Rasulullah SAW tetap tidak bisa menerima serta membenarkan setiap kedustaan. Beliau kemudian berdiri dan bersabda, ”Apa yang mendorong kalian akur dalam kedustaan sebagaimana kasur yang hangus berturut-turut dalam api? Kedustaan ditetapkan sebagai dosa anak Adam kecuali tiga perkara; Seorang lelaki berdusta terhadap istrinya untuk memuaskan hatinya, seseorang yang yang berdusta karena siasat untuk perang, dan seseorang yang berdusta di antara dua orang Muslim untuk mendamaikan keduanya.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;AST&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="IN"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;AK24.MutiaraRasul.AST&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ridha Allah, Ridha Ibu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="color: black;" lang="IN"&gt;”Hai sahabat Muhajir dan Anshar! Siapa yang mengutamakan isterinya daripada ibunya, maka ia akan terkena kutukan (laknat) Allah dan tidak diterima daripadanya ibadat fardhu dan sunnatnya,” sabda Rasululah SAW&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Di jaman Rasulullah SAW pernah hidup seorang pemuda yang rajin beribadah dan banyak sedekah. Namun, tiba-tiba ia menderita penyakit yang sangat berat. Sang isteri dari pemuda tersebut telah menyuruh orang memanggil Rasulullah SAW dan mengabarkan bahwa suaminya sudah mendekati&lt;i&gt; sakaratul maut&lt;/i&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Mendengar permintaan itu, Rasulullah SAW langsung mengutus Bilal, Ali, Salman dan Ammar pergi ke rumah seorang pemuda yang sakit itu dan memperhatikan bagaimana keadaannya. Sampai di rumah pemuda yang bernama Alqomah itu, mereka langsung menemuinya serta menuntunnya supaya membaca,”&lt;i&gt;Laa ilaha illallah&lt;/i&gt;.” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Tetapi, walau sudah dituntun berulangkali, lidah Alqomah tetap terkunci tidak bisa mengucapkan hal itu. Para sahabat ketika itu merasa bahwa Alqomah pasti akan mati. Mereka lalu menyuruh Bilal supaya memberitahukan hal itu kepada Rasulullah SAW.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Beliau bertanya pada sahabat Bilal,”Apakah ia masih mempunyai ayah dan ibu?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Ayahnya telah meninggal, sedang ibunya masih hidup tetapi terlampau tua,” jawab Bilal.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Ya Bilal, pergilah kepada ibu Alqomah dan sampaikan salamku kepadanya dan katakan, ’Jika kamu dapat berjalan pergi kepada Rasulullah SAW dan jika tidak dapat, maka Rasulullah akan datang ke tempat mu’.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Bilal pun kemudian&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;menyampaikan pesan dari Rasulullah SAW pada ibu Alqomah. Apa jawab ibu Alqomah?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Sayalah yang lebih layak pergi kepada Nabi SAW,” jawab ibu Alqomah. Lalu ia mengambil tongkat dan berjalan kaki dengan diikuti sahabat Bilal hingga masuk ke rumah Nabi SAW. Sesudah memberi salam ia langsung duduk di depan Rasulullah SAW.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Katakanlah yang benar kepadaku, jika engkau dusta kepadaku niscaya akan turun wahyu memberitahu kepadaku; Bagaimanakah keadaan Alqomah?” tanya beliau.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Alqomah adalah anak yang rajin ibadah sembahyang, puasa dan bersedekah sebanyak-banyaknya sehingga tidak diketahui berapa banyaknya,” jawab ibu Alqamah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Lalu bagaimana hubunganmu dengan dia?” Tanya Rasulullah SAW.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Saya murka kepadanya,” kata Ibu Alqomah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Mengapa?” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Karena ia lebih mengutamakan isterinya lebih dari padaku dan lebih menurut kepada sang isteri serta berani menentangku,” jawab sang ibu, dengan raut muka masam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sejenak semuanya terdiam, wajah Rasulullah SAW tertunduk sebentar dan menarik nafas dalam-dalam, tanda beliau telah mengetahui duduk persoalan yang menimpa Alqomah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Beliau kemudian bersabda, “Murka ibunya, itulah yang mengunci (menutup) lidahnya untuk mengucap; &lt;i&gt;La ilaha illallah&lt;/i&gt;.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kemudian Nabi SAW menyuruh Bilal supaya mengumpulkan kayu bakar sebanyak-banyaknya untuk membakar Alqomah dengan api.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ibu Alqomah tentu heran dengan perintah Rasulullah SAW. Ia lalu bertanya, ”Ya Rasulullah, putraku, buah hatiku akan kau bakar dengan api di depanku? Bagaimana aku dapat menerima buah hatiku, engkau perlakukan begitu?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Rasulullah SAW bersabda, ”Hai ibu Alqomah! Siksa Allah lebih berat dan lebih kekal. Karena itu, jika kau ingin Allah mengampunkan dosa anakmu maka relakanlah ia (kau harus ridha kepadanya). Demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya. Tidak akan berguna sembahyang, sedekahnya selama engkau masih murka kepadanya.” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Lalu ibu Alqomah mengangkat kedua tangannya dan berkata,”Ya Rasulullah! Saya menyaksikan kepada Allah di langit dan kepada mu. Ya Rasulullah, serta kepada siapa saja yang hadir di tempat ini, bahwa saya telah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ridha Alqomah.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Mendengar ucapan itu, gembiralah hati Rasulullah SAW. Beliau langsung menyuruh Bilal untuk pergi melihat Alqomah apakah ia sudah mengucap &lt;i&gt;Laa ilaha illallah&lt;/i&gt; atau tidak,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;khawatir kalau-kalau ibu Alqomah mengucapkan hal itu hanya karena malu pada Rasulullah SAW dan bukan dari lubuk hatinya yang terdalam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ketika Bilal sampai di depan pintu kamar Alqomah, terdengar suara Alqomah mengucapkan,&lt;i&gt; ‘Laa ilaha illallah’,&lt;/i&gt; lalu Bilal masuk dan berkata,”Hai orang-orang, sesungguhnya murka ibu Alqomah itu menutup lidah untuk mengucapkan syahadat, dan karena ridha ibunya, kini telah melepas lidahnya untuk mengucap “&lt;i&gt;Laa ilaha illallah”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kematian Alqomah pada hari itu langsung tersiar sampai ke kediaman Rasulullah SAW. Beliau bersama para sahabat bertakziyah ke rumah Alqomah. Begitu sampai, beliau langsung menyuruh yang hadir supaya jasad Alqomah segera dimandikan dan dikafankan, serta disembahyangkan oleh Rasulullah SAW. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sesudah dikubur, Nabi SAW berdiri di atas tepi kubur sambil bersabda,”Hai sahabat Muhajir dan Anshar! Siapa yang mengutamakan isterinya daripada ibunya, maka ia akan terkena kutukan (laknat) Allah dan tidak diterima daripadanya ibadat fardhu dan sunnatnya.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;AST&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;AK23.Mutiara Rasul.AST&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Takluknya Raja Habib bin Malik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sekalipun Rasulullah SAW&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;telah membelah bulan menjadi dua bagian, dan masing-masing bagian dimasukan ke lengan bajunya, Raja Habib bin Malik belum mengakui kerasulan beliau. Bagaimana kisahnya sehingga&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ia bisa takluk?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Pada jaman jahiliyah hiduplah seorang raja bernama Habib bin Malik yang berkuasa di negeri Syam. Namanya sangat terkenal hingga ke kota Mekkah dan orang-orang kafir sangat menghormatinya. Mereka mengaguminya karena Raja Habib bin Malik itu termasuk penyembah berhala yang sangat fanatik sehingga ia sangat menentang dan membenci setiap agama-agama baru yang didakwahkan ke muka bumi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kesempatan ini dipergunakan oleh Abu Jahal untuk mengadu domba Raja Habib bin Malik dengan Rasulullah SAW. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Suatu ketika Abu Jahal mengirim surat kepada Raja Habib bin Malik yang isinya menceritakan tentang Rasulullah dan agama baru yang dibawanya. Isinya tentu saja dibuat sedemikian rupa oleh Abu Jahal sehingga membuat Raja Habib bin Malik penasaran dan ingin bertemu langsung dengan Rasulullah SAW.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ternyata dugaan Abu Jahal tidak meleset, karena begitu Habib bin Malik mendapat suratnya, ia segera mengirim surat balasan melalui seorang utusan bahwa dalam waktu dekat akan berkunjung ke Mekkah untuk bertemu langsung dengan Muhammad SAW dan mengujinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Pada hari yang ditentukan, berangkatlah Habib bin Malik menuju kota Mekkah dengan iring-iringan sepuluh ribu pengawal. Ketika rombongan Raja Habib sampai di daerah yang bernama Abthah, ia mengirim seorang utusan untuk memberitahukan kepada Abu Jahal bahwa dirinya telah sampai perbatasan kita Mekkah. Maka Abu Jahal mendengar berita tersebut, bersama pemuka-pemuka kafir Quraisy lainnya menyambut&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dengan ramainya dan memberi beraneka macam hadiah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Pada pertemuan sambutan tersebut, Habib bin Malik bertanya,”Seperti apa kepribadian Muhammad?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Sebaiknya itu tuan tanyakan saja kepada keluarga dari Bani Hasyim,” jawab Abu Jahal. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kemudian Habib bin Malik bertanya kepada kaum kerabat Muhammad dari Bani Hasyim. Apa jawabannya?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Kami mengetahui masa kecil Muhammad. Ia adalah seorang anak yang bisa dipercaya, jujur serta baik budi pekertinya. Tetapi, sejak usianya menginjak 40 tahun, ia mulai menyiarkan agama baru, dengan menghina dan menyepelekan tuhan-tuhan yang kami sembah. Ia menyiarkan agama selain dari agama warisan nenek moyang kami,” kata salah seorang keluarga bani Hasyim.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Setelah mendengar penjelasan dari Bani Hasyim, Habib bin Malik lalu menyuruh utusan untuk memanggil Muhammad.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Bila ia tidak mau dipanggil dengan cara yang sopan, maka paksalah ia supaya datang kemari!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Rasulullah SAW yang mendapat panggilan tersebut, langsung menuju ke tempat Raja Habib bin Malik berada dengan ditemani sahabat Abu Bakar dan Khadijah, isteri beliau. Sepanjang perjalanan, Khadijah tidak henti-hentinya meneteskan air mata karena khawatir atas keselamatan suaminya di hadapan raja zalim itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Perasaan yang serupa juga tampak dari raut muka sahabat Abu Bakar yang penuh kecemasan, hanya ia diam saja mendampingi langkah-langkah Rasulullah SAW yang berjalan cepat di depannya. Khadijah yang semakin cemas itu, dari belakang kemudian berkata,”Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami sangat mengkhawatirkan keadaan dan keselamatanmu dari murka orang-orang kafir.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Kalian jangan takut, kita serahkan saja semuanya kepada Allah SWT,” kata Rasulullah SAW yang saat itu memakai jubah warna merah dan sorban hitam pemberian Abu Bakar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sampai di tempat Raja Habib bin Malik, Rasulullah disambut dengan cukup ramah dan dipersilahkan duduk di kursi emas yang telah dipersiapkan sebelumnya. Khadijah yang hatinya masih diliputi kekhawatiran, berdoa kepada Allah,”Ya Allah. Tolonglah Muhammad dan kuatkan hatinya.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ketika Rasulullah telah duduk di kursi yang disediakan Habib bin Malik, terpancarlah sinar kemilau dari wajahnya yang penuh kewibawaan sehingga membuat yang melihatnya tertegun keheranan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kemudian, Habib bin Malik mengawali pembicaraannya dengan bertanya,”Wahai Muhammad, tentu engkau telah mengetahui bahwa setiap nabi pasti memiliki mukjizat. Bila engkau mengaku sebagai nabi, mukjizat apakah yang telah engkau miliki?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Mendapat pertanyaan seperti itu beliau tidak langsung menjawabnya, tetapi beliau balik bertanya kepada Habib bin Malik,”Mukjizat apakah yang tuan kehendaki?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Aku menginginkan matahari yang sedang bersinar itu engkau tenggelamkan, kemudian munculkanlah bulan. Setelah bulan muncul, lalu turunkanlah dengan tanganmu sendiri. Setelah bulan berada di tanganmu, lalu belahkan bulan itu menjadi dua bagian, dan masukkanlah masing-masing ke lengan baju mu sebelah kiri dan kanan. Kemudian keluarkan lagi bulan itu dari kedua lengan bajumu, lalu satukanlah lagi. Dan suruhlah bulan itu mengakui bahwa kamu adalah seorang rasul. Setelah itu, kembalikanlah bulan itu ke tempatnya semula. Jika kamu dapat melakukan semua itu, aku akan beriman kepadamu dan mengakui kenabianmu,” kata Raja Habib bin Malik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Permintaan Habib bin Malik tersebut aneh sekali kedengarannya dan terlalu mengada-ada. Mendengar permintaan itu, Abu Jahal sangat gembira sebab ia sudah yakin Muhammad pasti tidak dapat melakukannya. Akan tetapi, ia menjadi waswas ketika dengan tegas dan penuh keyakinan, beliau menjawab tantangan itu dengan berkata,”Aku penuhi permintaan tuan.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Bagi Rasulullah, tidak ada sesuatu yang mustahil, selama beliau meminta pertolongan Allah SWT, pasti akan dikabulkan. Kemudian, beliau berjalan ke arah Gunung Abi Qubaisy dan melakukan shalat dua rakaat. Selesai shalat, beliau menengadahkan tangannya tinggi-tinggi berdoa memohon kepada Allah agar apa yang menjadi permintaan Habib bin Malik dapat dipenuhi dengan baik dan sempurna.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kemudian, datanglah pasukan malaikat yang berjumlah 12.000 dan tidak seorang pun yang mengetahui kedatangan malaikat-malaikat tersebut kecuali Rasulullah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah telah menyampaikan salam kepadamu. Allah berfirman,’Wahai kekasihku, janganlah engkau takut dan ragu. Sesungguhnya Aku senantiasa bersamamu di mana pun kamu berada. Aku telah menetapkan keputusan-Ku sejak jaman azali, tentang apa yang menjadi permintaan Habib bin Malik pada hari ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sekarang pergilah engkau ke hadapan mereka untuk menunjukan hujjah tentang kerasulanmu. Ketahuilah, sesungguhnya Allah yang memperjalankan matahari dan bulan serta yang mengganti siang dengan malam. Selain itu, Habib bin Malik mempunyai seorang putri yang cacat, tidak mempunyai kaki dan tangan serta buta. Allah telah menyembuhkan anak perempuan Habib bin Malik menjadi seorang yang sempurna bentuknya, bisa berjalan, meraba dan melihat,’” kata malaikat itu menyampaikan firman Allah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Maka bergegaslah Rasulullah turun dari Gunung Abi Qubaisy dan menjumpai orang-orang kafir yang sedang menantinya. Bias cahaya yang memantul dari wajah Rasulullah semakin bersinar. Sedangkan di atasnya para malaikat pimpinan Jibril berbaris mengikuti langkah-langkah Rasulullah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Waktu itu hari telah beranjak senja, matahari hampir saja tenggelam ke peraduannya sehingga suasana menjadi remang-remang. Kemudian, beliau berdoa agar bulan segera keluar maka keluarlah bulan dengan sinarnya yang benderang. Dengan kedua jarinya, Rasulullah mengisyaratkan agar bulan segera turun kepadanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Tiba-tiba suasana menjadi amat menegangkan karena suara gemuruh yang sangat menyeramkan. Awan berjalan mengiringi turunnya bulan ke tangan Rasulullah SAW, kemudian setelah bulan berada dalam tangan beliau, dibelahnya bulan itu menjadi dua bagian, yang masing-masing bagian dimasukan ke lengan bajunya. Satu di sebelah kanan dan satunya lagi di sebelah kiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Tidak lama kemudian, beliau mengeluarkan bulan tersebut dan menyatukannya kembali maka jadilah terlihat oleh semua orang bahwa Rasulullah tengah menggenggam bulan yang sedang bersinar cemerlang. Hal tersebut membuat orang-orang yang menyaksikan semakin takjub dan terbengong-bengong.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Lebih terkejut lagi karena kemudian mereka mendengar suara yang sangat keras bergema, ”Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba-hamba-Nya dan utusan-Nya.” Itulah suara bulan yang bersaksi akan kerasulan beliau, seperti permintaan Raja Habib bin Malik. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kejadian tersebut telah menggoncangkan perasaan yang hadir di tempat tersebut. Kalau itu dibilang mimpi, tetapi ini adalah kenyataan. Mukjizat yang demikian luar biasa hebatnya disaksikan sendiri oleh Raja Habib bin Malik. Ia menyadari bahwa kejadian aneh ini tidak mungkin terjadi pada manusia biasa, walaupun ia mempunyai sihir yang sangat hebat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Akan tetapi hatinya belum terbuka juga untuk menerima kebenaran Islam. Ia masih hendak mencoba kembali Rasulullah dengan suatu cobaan yang sebenarnya telah terjawab melalui pemberitahuan Jibril.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Aku masih mempunyai syarat lagi untuk mengujimu.” Belum lagi Habib bin Malik melanjutkan ucapannya, Rasulullah telah terlebih dahulu memotong pembicaraan,”Engkau mempunyai seorang putri yang cacat bukan? Sekarang, Allah telah menyembuhkannya dan menjadikannya menjadi seorang putrid yang sempurna bentuknya.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Mendengar ucapan Rasulullah, sangatlah girang hati Habib bin Malik. Seketika itu juga ia berdiri dan berseru di hadapan orang-orang kafir Quraisy yang belum habis keheranan mereka. Habib berseru,”Hai penduduk Mekkah, kalian yang telah beriman. Janganlah kembali kafir, karena tidak ada lagi yang perlu diragukan dengan peristiwa ini. Ketahuilah bahwa sesungguhnya aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah Yang Maha Tunggal, tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa sesungguhnya Muhammad adalah utusan-Nya dan hamba-Nya!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Peristiwa itu diakhiri dengan masuk Islamnya Habib bin Malik serta seluruh bala tentaranya. Tiada orang yang paling jengkel dan marah melihat peristiwa selain Abu Jahal. Ia terperangkap oleh permainan yang ia buat sendiri. Dengan emosi, ia langsung mendekati Habib bin Malik dan berkata,”Wahai junjungan orang Quraisy, apakah engkau beriman kepada tukang sihir ini, hanya melihat kehebatan sihirnya?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Raja Habib bin Malik tidak menghiraukan ejekan Abu Jahal. Ia segera berkemas untuk pulang ke negeri asalnya karena tidak sabar lagi ingin segera melihat keadaan puterinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Setiba di istana, baginda raja disambut dengan sangat meriah oleh rakyatnya. Di depan pintu gerbang ia disambut oleh puterinya yang kini mempunyai anggota tubuh yang lengkap dan berucap,”Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Alangkah terkejutnya Habib mendengar kata-kata putrinya tadi. Kemudian ia bertanya,”Wahai putriku, darimana kamu mengetahui ucapan seperti ini? Siapa yang mengajarimu?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Aku bermimpi. Dalam tidurku aku didatangi oleh seorang laki-laki rupawan. Ia berkata bahwa ayahanda telah masuk Islam. Jika aku mau menjadi muslimah, anggota tubuhku akan menjadi lengkap. Tentu saja aku mau dan kemudian aku mengucapkan dua kalimah syahadat, seperti yang barusan ayahanda dengar.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Seketika itu Habib bin Malik bersujud ke hadirat Allah SWT dikarenakan rasa syukurnya yang tiada terhingga. Sebagai tanda syukurnya kepada Allah SWT, Habib bin Malik mengirimkan berbagai hadiah kepada Rasulullah sebagai tanda terima kasih, atas pertolongan yang telah diberikan kepadanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;AST&lt;span style=""&gt;                         &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ak22.MutiaraRasul.AST&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kapak untuk Sang Pengemis&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Seorang pengemis yang mendatangi Rasulullah SAW, tidak berapa lama kemudian berhenti mengemis. Dengan bermodalkan sebuah kapak, nasibnya berubah menjadi pencari kayu bakar di gurun&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Suatu hari ada seorang laki-laki dari kaum Anshar mendatangi kediaman baginda Rasulullah SAW.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ia datang dengan pakaian compang-camping dan wajah yang pucat, langsung menghadap di depan Rasulullah SAW untuk mengemis. Seusai mengucap salam, pengemis itu meminta sesuatu pada baginda Rasulullah SAW. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Ya. Ada sehelai kain. Kami pakai sebagiannya dan kami bentangkan sebagiannya untuk duduk dan lain sebagainya. Saya juga punya satu bejana untuk minum air,” Jawab Rasulullah SAW.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Beliau kemudian menyuruh para sahabat yang hadir saat itu untuk membawakan kain dan bejana kepunyaan beliau.”Bawalah keduanya kepadaku!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Dengan bergegas, salah satu sahabat yang ada di majelis beranjak dari tempat duduknya dan segera mengambil barang-barang yang dimaksud. Lalu sahabat itu membawanya ke hadapan beliau. Rasulullah SAW lalu mengambil keduanya dengan kedua tangannya dan memperlihatkannnya di hadapan para sahabat, beliau kemudian bercerita,”Aku beli kain dan bejana ini satu dirham.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Rasulullah SAW menawarkan barang-barang kepunyaan beliau kepada para sahabat, ”Aku akan menjualnya. Adakah saudara-saudara akan membelinya? Adakah yang sanggup menambah satu dirham?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Beliau berulang-ulang menawarkan kepada para sahabat. Akhirnya salah seorang sahabat mengambilnya. “Aku ambil dengan dua dirham, seperti tawaran mu, Ya Rasulullah,” jawab salah seorang sahabat yang hadir. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Rasulullah SAW kemudian memberikan kedua barang itu kepada salah seorang sahabat yang telah sepakat membeli kedua barang itu tadi sembari menerima uang dua dirham. Beliau kemudian mendekati sang pengemis dari kaum Anshar itu dan langsung beliau serahkan uang dua dirham itu seraya memberikan nasehat untuk sang pengemis,”Belilah dengan satu dirham makanan dan serahkan kepada keluargamu. Dan belilah dengan satu dirham lagi sebuah kapak di pasar terdekat dan kemudian bawalah kapak yang kamu beli itu kepadaku!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Setelah menerima uang dua dirham, sang pengemis itu kemudian pamit pulang. Ia kemudian mampir ke pasar untuk melaksanakan apa yang sudah diperintahkan oleh Rasulullah SAW yakni membeli makanan dan sebuah kapak besi. Selepas mengantar makanan untuk keluarganya di rumah yang tengah kelaparan, ia kemudian membungkus kapak itu dengan sebuah kantong kulit dan ia langsung kembali menuju ke kediaman Rasulullah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Saat itu Rasulullah SAW masih dalam satu majelis dengan dikelilingi oleh para sahabat yang menyimak penjelasan tentang masalah agama. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Hai fulan, sudahkah engkau laksakan perintahku?” tanya Rasulullah SAW pada sang pengemis yang tampak malu-malu berdiri di depan pintu rumah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Sudah, tuan,”jawab sang pengemis itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Kemarilah! Bawa kemari kapak yang telah engkau beli itu!” perintah beliau.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Lalu sang pengemis itu dengan berjalan perlahan mendekati baginda Rasulullah SAW dan duduk di depan beliau. Pengemis itu kemudian mengeluarkan kapak itu dari kantong kulit dan diserahkan pada Rasululah SAW.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Rasulullah SAW hari itu tampak bergembira melihat perangai dari sang pengemis yang telah taat menerima perintah beliau. Baginda Rasulullah SAW lalu mengambil kapak besi dan ia beranjak ke pojok ruangan. Beliau kemudian berjongkok dan mengambil sepotong kayu yang tergeletak di pojok majelis itu. Tangan beliau yang terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah tangga sehari-hari, dengan sangat cekatan segera memasang tangkai kayu pada lobang kapak besi. Tak berapa lama kemudian kapak besi itu telah siap untuk digunakan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Selesai memasang tangkai kapak besi itu, Rasulullah SAW kemudian kembali ke tempat semula, di majelis yang sedari tadi para sahabat biasa menyimak penjelasan dan mengambil hikmah ilmu dari beliau. “Pergilah ke gurun dan tebanglah kayu! Kemudian jual kayu bakar yang kau peroleh ke pasar dan kemarilah lima belas hari lagi!” sabda Rasulullah SAW kepada pengemis dari kaum Anshar itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Sang pengemis itu lalu pamit pada Rasulullah SAW. Ia kemudian pulang ke rumah dan mengambil perbekalan makanan dan minuman secukupnya untuk dibawa ke gurun. Dengan penuh semangat, sang pengemis itu lalu berangkat ke gurun yang tak jauh dari tempat tinggalnya. Satu per satu ranting pohon yang telah kering dipotong dengan kapak. Setelah terkumpul banyak kayu bakar, ia kemudian membawanya pulang ke rumah. Selama lima belas hari sang pengemis itu melakukan pekerjaan mencari kayu bakar dan seluruh kayu bakar yang dikumpulkan dijual ke pasar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Genap pada hari kelima belas, pengemis itu menghadap ke Rasulullah SAW dengan membawa sepuluh dirham dari hasil penjualan kayu bakar. Beliau kemudian memberikan nasihat kepadanya. “Belilah sebahagian dengan uangmu itu makanan dan sebahagian lagi pakaian. Ini adalah lebih baik bagi kamu daripada meminta-minta. Sebab, mengemis itu merupakan satu tanda di muka mu di hari Kiamat nanti. Sesungguhnya mengemis itu tidaklah layak melainkan bagi orang yang sangat miskin/papa dina atau orang yang berhutang berat atau harus membayar &lt;i&gt;diyat &lt;/i&gt;(denda karena membunuh orang).”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;AST, &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;hadits &lt;b&gt;Ibnu Majah&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;----------------------------------------------&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kata Mutiara:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Rasulullah SAW bersabda, ”Sesungguhnya Allah SWT cinta kepada hamba yang mempunyai kerja. Dan barang siapa bersusah payah untuk mencari rezeki untuk mereka yang menjadi tanggung jawabnya adalah ia itu umpama seorang mujahid ke jalan Allah Yang Maha Mulia.” (HR Ahmad)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;AK17.MutiaraRasul.MalamIsraMi’raj.AST &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kabar Gembira dari Langit&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Di saat menghadapi ujian dan tingkat perjuangan yang maha berat, Nabi Muhammad SAW diperintahkan menjalani Mi’raj.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sebuah kabar gembira dari langit untuk menghibur beliau yang tengah berduka cita&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Setelah wafatnya paman Nabi, Abu Thalib dan tidak berapa lama kemudian disusul oleh isteri tercinta, Siti Khadijah. Baik Abu Thalib maupun Siti Khadijah adalah dua orang sosok yang telah banyak memberikan bantuan kepada Nabi, moril dan materiil. Kedua musibah itu terjadi pada tahun 10 dari masa kenabian. Pada tahun itu dalam sejarah disebut,&lt;i&gt;”Aamul Huzni”&lt;/i&gt;(tahun kesedihan). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Pada saat yang bersamaan, beliau juga menghadapi ujian yang maha berat dan tingkat perjuangan yang sudah mencapai puncaknya. Gangguan dan hinaan, aniaya serta siksaan yang dialami beliau dengan pengikut-pengikutnya juga semakin hebat. Maka Nabi diperintahkan oleh Allah SWT menjalani Isra’ dan Mi’raj. Hari itu adalah 27 Rajab pada tahun 621 M.&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Pada tengah malam yang sunyi dan hening, burung-burung malam diam membisu, binatang-binatang buas berdiam diri, gemericik air dan siulan angin sudah tidak terdengar lagi. Ketika itu Rasulullah SAW tengah berbaring di samping Ka’bah. Tiba-tiba ia didatangi Malaikat Jibril dan Mikail. Keduanya lalu membawanya ke ke serambi Masjidil Haram.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Jibril lalu berkata pada Mikail,”Bawakan aku semangkuk air zamzam untuk mencuci hatinya dan melapangkan dadanya serta mengangkat namanya.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Mikail kemudian membawakan mangkuk emas yang penuh dengan permata-permata dari cahaya, dan Jibril langsung menuangkan semua isi mangkuk tersebut ke dada Nabi serta memenuhinya dengan kebijaksanan, ilmu, keyakinan, dan iman kepada Allah SWT.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Setelah selesai, Jibril langsung menutup dada beliau dengan &lt;i&gt;khotamunnubuwah&lt;/i&gt; (stempel kenabian) persis di antara dua pundaknya. Kemudian Jibril membawa &lt;i&gt;Buraq&lt;/i&gt;. Ia adalah seekor binatang berwarna putih, sedikit lebih tinggi daripada seekor keledai tetapi lebih kecil daripada seekor unta.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Disamping &lt;i&gt;buraq&lt;/i&gt;, Malaikat Jibril berdiri dengan wajah yang putih bersih berseri dan berkilauan seperti salju. Ia mengenakan pakaian yang berumbaikan mutiara dan emas, lalu Jibril melepas ikat rambut, terurailah rambutnya yang panjang itu. Dari sekelilingnya sayap-sayap berkilauan yang beraneka warna. Tangannya memegang &lt;i&gt;buraq&lt;/i&gt;, yang bersayap seperti garuda. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Hewan itu membungkuk dihadapan Raulullah SAW. Ketika akan dinaiki oleh beliau agak kesulitan, maka Jibril pun menaruh tangannya di atas punggung Buraq yang bersinarkan cahaya. Lalu Jibril berkata,”Tidakkah engkau malu wahai &lt;i&gt;Buraq&lt;/i&gt;? Tidak ada mahluq yang pernah menaiki mu lebih mulia di sisi Allah dari orang ini.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Buraq pun malu sehingga bercucuran keringat. Setelah tenang, Rasulullah SAW pun naik di atasnya bersama Jibril, sambil berucap,&lt;i&gt;”Bismillah wala haula quwata illa bilah.”&lt;/i&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sekali melangkah, meluncurlah &lt;i&gt;buraq&lt;/i&gt; itu bagaikan anak panah membumbung di atas pegunungan Mekah, di atas pasir-pasir sahara menuju arah utara. Mereka berdua lalu tiba di sebuah daerah yang memiliki banyak kebun korma. Jibril lalu berkata,”Turunlah wahai Muhammad!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Nabi pun turun dan langsung menunaikan shalat dua rakaat atas perintah Jibril. Selanjutnya mereka meneruskan perjalanan dan Jibril bertanya kepada Nabi,”Tahukah engkau di mana barusan perjalanan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan Jibril bertanya kepada Nabi,”Tahukah engkau di mana barusan engkau shalat?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Tidak,” jawab Nabi SAW.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Wahai orang yang bagus peranginya, engkau tadi shalat di tanah Thoiybah (sekarang Madinah), di sanalah tempat hijrah nantinya,” kata Jibril. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Setelah terbang sebentar, lalu Jibril memerintahkan Buraq,”Turunlah di sini!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Rasulullah SAW kemudian shalat dua rakaat dan mereka kembali melanjutkan perjalanan kembali.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Seperti biasa Jibril bertanya,”Wahai yang diutus rahmat, tahukah engkau di mana tadi engkau shalat?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Tidak,”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Engkau tadi shalat di Madyan, di bawah pohon Nabi Musa, Kalimullah,”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Lalu berhenti di gunung Thursina di tempat Tempat Tuhan berbicara dengan Musa. Kemudian berhenti lagi di Bethlehem tempat Isa dilahirkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sesudah itu kemudian melanjutkan perjalanan dan mereka menjumpai sekelompok manusia yang menanam dan memanen dalam sehari saja. Setiap kali mereka memanen tanaman itu akan tumbuh seperti semula. Nabi SAW kaget dan bertanya,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;”Siapakah mereka wahai Jibril?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Mereka adalah orang-orang yang berjihad di jalan Allah, pahala mereka dilipatgandakan sampai 700 kali lipat dan siapakah yang tepat janjinya dari Allah.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kembali mereka bertemu kelompok manusia yang aneh, kepala mereka dihantam batu besar sampai pecah dan setiap kali pecah kepalanya kembali utuh seperti semula.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Nabi SAW bertanya,”Siapakah mereka gerangan?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Mereka adalah orang yang kepalanya terasa berat jika diajak melaksanakan shalat.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Setelah itu mereka bertemu sekelompok manusia yang di bagian depan dan belakangnya ada tambalan. Mereka digembalakan seperti onta, memakan tanaman kering dan tanaman berduri. Nabi SAW bertanya,”Siapakah mereka wahai Jibril?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Mereka adalah orang-orang yang tidak mau membayar zakat harta mereka, padahal Allah tidak pernah mendzalimi mereka.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Pemandangan aneh lain juga nampak, sekelompok orang di hadapan mereka ada daging matang yang lezat tersedia dalam panci-panci. Di situ juga ada daging mentah busuk yang mengeluarkan bau tak sedap, ternyata mereka makan daging mentah dan busuk serta meninggalkan daging matang dan lezat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Apa maksudnya ini wahai Jibril?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Ini adalah laki-laki dari umatmu yang memiliki wanita halal, tetapi malah mendatangi perempuan lacur dan tidur dengannya sampai pagi. Demikian juga dengan perempuan yang memiliki suami halal, tetapi tidur bersama laki-laki keji dan menginap bersamanya dalam maksiat.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dalam perjalanan berikutnya mereka melihat sebongkah kayu tergeletak di tengah jalan, tidak seorang pun yang lewat kecuali kayu tersebut dapat mengoyak baju serta menghalangi pejalan kaki yang melewatinya. Melihat hal aneh tersebut, Nabi SAW bertanya,”Apa maksudnya ini, Jibril?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Ini adalah perumpamaan sekelompok kaum dari umatmu yang duduk-duduk di jalanan untuk menggosip, mengadu domba dan mengganggu,” jawab Jibril menjelaskan seraya membaca sebuah ayat dalam Al-Qur’an.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dalam perjalanan itu Nabi juga melihat seorang laki-laki berenang di sebuah sungai darah dan menelan bebatuan terbuat dari api.”Apa ini wahai Jibril?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Ini adalah pemakan riba yang telah diharamkan oleh Allah SWT,”jawab Jibril.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Selanjutnya ada seorang laki-laki yang mengumpulkan beberapa ikat kayu bakar tetapi tidak mampu membawanya,”Apa maksud kejadian ini wahai Jibril?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Ini adalah laki-laki dari umatmu yang membebani dirinya dengan amanat-amanat manusia. Padahal sebenarnya dia tidak mampu untuk melaksanakannya, tetapi dia memaksakan diri untuk menambah amanat-amanat lainnya,” terang Jibril.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kemudian Nabi SAW bertemu sekelompok orang yang lidah dan bibir mereka digunting dengan gunting besi. Setiap kali digunting langsung kembali seperti semula. Nabi SAW bertanya,”Siapakah mereka wahai Jibril?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Mereka adalah para penceramah dari umatmu yang berkata sesuatu yang tidak mereka kerjakan tanpa perhatian dan cegahan,” kata Jibril.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Nabi SAW juga melewati sekelompok kaum dari umatmu yang memiliki kuku dari timah, dengan kuku tersebut mereka mencabik-cabik muka dan dadanya sendiri, mereka benar-benar tersiksa dengan hal itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Siapakah mereka?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Mereka adalah orang-orang yang memakan daging-daging manusia dan mengganggu kehormatan mereka.” kata Jibril.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Nabi SAW juga melihat seekor kerbau besar keluar dari lubang kecil dan ingin kembali masuk ke lubang tersebut tapi sama sekali tidak bisa. Beliau lalu bertanya,”Apa maksudnya ini wahai Jibril?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Ini adalah seorang lelaki dari umatmu yang mengeluarkan kata-kata jelek kemudian menyesal atas ucapannya tetapi tidak mampu menarik omongannya yang sudah terlanjur keluar.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Tak berselang berapa lama kemudian ada seseorang yang memanggil-manggil beliau dari arah kanan,”Wahai Muhammad, tataplah aku!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Tetapi Nabi SAW tidak menghiraukannya karena hikmah dan tuntunan dari Allah SWT.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Beliau bertanya,”Apakah itu wahai Jibril?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Itu adalah panggilan Yahudi, andaikata engkau tadi menjawabnya, maka seluruh umatmu akan menjadi Yahudi,”jawab Jibril.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Setelah itu muncul lagi panggilan dari sebelah kiri,”Wahai Muhammad tataplah aku.” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sebagaimana yang panggilan yang pertama, Nabi SAW tidak menghiraukannya sama sekali. Kemudian beliau bertanya,”Apakah itu wahai Jibril?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Itu adalah panggilan Nasrani. Seandainya engkau penuhi panggilan tersebut, maka umatmu akan menjadi Nasrani.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Beliaupun meneruskan perjalanan dan tiba-tiba ada seorang perempuan yang menyingsingkan kedua lengan bajunya memanggil, ”Wahai Muhammad tataplah aku.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Nabi SAW tidak menghiraukannya karena dia itu adalah dunia, Jibril berkata, ”Kalau seandainya engkau menjawab panggilan itu maka seluruh umatmu akan lebih memilih dunia dari pada akhirat.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Beliau juga dipanggil oleh seorang tua yang berada di pinggir jalan,”Muhammad kemarilah.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Namun Jibril langsung bekata,“Teruslah berjalan wahai Muhammad!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Siapakah dia itu?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Dia itu Iblis,” jawab Jibril sambil melanjutkan,“Ia ingin kamu melenceng dan mengikuti dakwahnya karena dia adalah musuh Allah.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Nabi SAW masih meneruskan, tiba-tiba ada seorang wanita tua yang sudah sakit-sakitan berada di samping jalan memanggil beliau,”Muhammad, pandanglah aku.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Nabi SAW kemudian bertanya,”Siapakah dia, Jibril?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Sungguh tidaklah tersisa dari umur dunia kecuali seperti yang tersisa dari umur perempuan tua yang sudah rapuh dimakan usia ini.“&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Lalu mereka meluncur lagi ke udara bersama Buraq hingga tiba di Baitul Maqdis. Setelah itu beliau pun mengikat &lt;i&gt;Buraq&lt;/i&gt; pada sebuah cincin yang biasa dikenakan oleh para nabi. Kemudian beliau masuk ke dalam Masjid lewat pintu Yamaniyah. Bersama Jibril, beliau mengerjakan shalat tahiyatul masjid. Tak lama berselang, seorang muadzin mengumandangkan adzan. Jibril lalu menuntun Nabi SAW untuk menjadi imam shalat dua rakaat di dalamnya bersama Ibrahim, Musa dan Isa. Seusai shalat para Nabi memuji Allah SWT.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Nabi SAW lalu bersabda, ”Masing-masing dari kalian memuji Tuhan-Nya dan aku pun memuji Tuhanku, Allah SWT.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Nabi melanjutkan kembali khutbahnya, ”Segala puji&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bagi Allah yang telah mengutusku sebagai rahmat bagi seluruh manusia, sebagai pemberi kabar gembira dan peringatan. Allah telah turunkan ayat-ayat Qur’an kepadaku. Dan umatku dijadikan umat yang tengah-tengah, merekalah yang pertama dan terakhir. Allah telah melapangkan dadaku, meninggikan sebutanku, menjadikanku pembuka dan penutup para nabi-nabi-Nya.”&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Selesai berkhutbah, Nabi SAW keluar dari masjid, lalu Jibril membawakan secangkir susu dan khamer, Nabi Muhammad SAW memilih secangkir susu. Lalu Jibril berkata: “Engkau telah memilih &lt;i&gt;fitrah&lt;/i&gt;. Yakni watak yang selamat. Andaikata engkau memilih khamer, tentulah umatmu akan sesat, ” kata Jibril.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Menuju langit ketujuh&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;KEMUDIAN setelah itu, dibawakannya sebuah tangga yang dipancangkan di atas batu Ya’qub. Dengan tangga itu Muhammad cepat-cepat naik ke langit. Kemudian Jibril naik ke atas bersama Nabi Muhammad SAW menuju langit pertama. Jibril memerintahkan langit pertama terbuka dan terdengar suara,”Siapakah gerangan?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Jibril,” jawab Malikat Jibril.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Terdengar suara lagi,”Siapakah gerangan bersamamu?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Jibril menjawab:”Muhammad.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Terdengar lagi suara,”Adakah ia seorang Rasul?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Jibril menjawab, ”Ya Muhammad Rasulullah, lalu pintu terbuka bagi kami. Saya bertemu Adam yang menyambutku dan mengucapkan salam kepadaku. Kemudian kami ke langit kedua, dan Jibril memerintahkan agar langit kedua terbuka. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Terdengarlah suara:”Siapakah gerangan?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Jibril menjawab:”Muhammad”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Terdengar langi suara:”Adakah ia seorang Rasul?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Lalu Jibril menjawab lagi:”Ya Muhammad Rasulullah.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kemudian pintu pun terbuka bagi Muhammad dan Jibril. Mereka disambut Isa putra Maryam dan Yahya Ibn Zakaria. Setelah mengucap salam, Muhammad dan Jibril naik ke langit ketiga dan terjadi seperti sebelumnya. Pintu terbuka dan bertemu dengan Nabi Yusuf. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Selepas mengucap salam, &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;mereka naik ke langit keempat dan bertemu dengan Nabi Idris. Pada langit kelima mereka bertemu dengan Harun As. Lalu dilanjutkan ke langit keenam dan mereka berjumpa dengan Nabi Musa As. Selanjutnya naik lagi ke langit ketujuh dan mereka berjumpa dengan Ibrahim As.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Nabi Muhammad dan Jibril bertemu dengan Ibrahim yang tampak kurus sedang menjaga &lt;i&gt;Baitul Ma’mur &lt;/i&gt;(rumah yang banyak dikunjungi). Setiap hari 70.000 malaikat berkunjung kepadanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kemudian Jibril mengantarkan Muhammad lagi ke sebuah pohon di &lt;i&gt;Sidratul Muntaha,&lt;/i&gt; daunnya mirip telinga gajah dan buahnya mirip bejana yang terbuat dari tembikar. Ketika itu perintah Allah menyelimutinya, maka tidak satupun dari mahluknya yang mampu menggambarkan keindahannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kemudian Allah mewahyukan apa yang telah Dia wahyukan. Allah SWT menetapkan kewajiban atas Nabi Muhammad SAW 50 salat dalam sehari semalam. Nabi Muhammad SAW kemudian turun dan bertemu dengan Musa dan dia bertanya,”Apa yang telah ditetapkan Allah sebagai kewajiban terhadap umatmu?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Rasulullah SAW menjawab,”50 salat,”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan! Umatmu tidak akan mampu melakukannya. Saya telah mencobakan hal itu kepada Bani Israil dan aku memberikan saran kepadamu berdasarkan pengalamanku,” kata Musa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Rasulullah kemudian kembali menjumpai Allah dan berkata,”Ya Tuhanku, kurangilah kewajiban tersebut demi umatku.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Lalu Allah mengurangi lima salat. Dan Nabi Muhammad SAW dan bertemu Nabi Musa kembali sambil menceritakan bahwa Allah SWT telah mengurangi lima salat. Musa menjawab,”Umatmu tidak akan sanggup melakukannya, jadi kembalilah kepada Tuhanmu mintalah keringan.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Nabi Muhammad SAW berkali-kali naik turun menemui Musa hingga akhirnya Allah berfirman: “Muhammad, sekarang tinggallah lima salat untuk dikerjakan dalam sehari dan semalam. Masing-masing salat setara sepuluh salat, sehingga lima salat tersebut sepadan dengan 50 salat. Siapapun yang berniat melakukan kebajikan, kemudian ia tidak mengerjakannya, ditulis baginya satu kejahatan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ketika Nabi Muhammad SAW turun ke langit keenam di mana tempat Musa berada.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;”Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah pengurangan!” perintah Musa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Saya telah berulang kali menghadap Tuhan dan memohon pengurangan sampai-sampai saya malu di hadapan-Nya,” jawab Nabi Muhammad SAW.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Nabi Muhammad SAW yang telah menerima perintah salat lima waktu itu pun kemudian bergegas dengan Jibril meninggalkan Musa dan mengunjungi Surga. Jibril pun menerangkan tentang keberadaan surga yang disediakan bagi manusia-manusia beriman sesudah mereka dibangkitkan. Kemudian Nabi kembali menuju tangga yang membawanya kembali ke bumi. &lt;i&gt;Buraq&lt;/i&gt; pun dilepaskan, maka ia pun kembali dari Baitul Maqdis menuju Mekah. &lt;b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;AST, &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Al-Bisyr Wa Al-Ibtihaj fi Qissah Al-Isra’ wa Al-Mi’raj &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ak13.MutiaraRAsul.KeberkahanHidanganJabir.RA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Keberkahan Hidangan Jabir&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Semula Jabir Radiallahu ‘Anhu merasa khawatir dengan hidangan yang ia persembahkan pada Rasulullah dan para sahabat. Namun berkah cipratan ludah dan berkah sentuhan tangan beliau yang agung makanan yang ia masak cukup untuk mereka semua&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ketika perang Khandaq berkecamuk, banyak sahabat yang kelaparan. Sebab, mereka tidak dapat keluar kota untuk mencari bahan makanan dan tidak ada pula yang masuk ke dalam kota Madinah. Bersama para sahabat, Rasulullah SAW bertahan di dalam kota, sedangkan di sekeliling kota Madinah penuh dengan musuh yang siap menyerbu. Pedang kaum kafir senantiasa terhunus, berkilauan ditimpa cahaya matahari dan panah berserta anak panah siap lepas dari busurnya mengincar setiap gerak kaum msulimin.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kedua kekuatan ini saling bertahan, umat Islam bertahan di dalam, sedangkan kaum kafir menunggu di luar.Perang ini dinamakan perang Khandaq atau parit karena umat Islam menggali parit yang mengelilingi kota Madinah untuk berlindung dari serangan musuh dari kota. Setiap kaum kafir mendesak sedikit demi sedikit ke dalam kota, pasukan kaum muslimin segera membuat halangan dengan membuat parit-parit yang dalam. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Alkisah, siang itu di tengah panas mentari yang membakar, pasukan kaum muslimin terus menggali parit-parit yang dalam. Rasulullah SAW tidak tinggal diam, bersama para pengikutnya, beliau tak kenal lelah turun ke dalam lubang yang telah diberi garis memanjang dan mulai menggali parit dengan tangannya yang suci. Sudah tiga hari terakhir ini beliau turun langsung membuat parit-parit yang dalam dan memanjang mengitari kota Madinah. Bahkan beliau sudah tidak makan dalam beberapa hari. Untuk mengatasi rasa lapar, perut beliau diganjal dengan batu dan sabuk. Tangan beliau yang agung terus mengerus butiran-butiran pasir dari dalam parit yang digalinya. Satu per satu batu-batu sebesar kepala orang dewasa beliau angkat sendiri. Badan beliau yang kekar telah bersimbah keringat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Jabir bin Abdullah yang melihat tanda-tanda kelelahan di wajah Rasul karena beberapa hari tidak makan dan hanya mengganjal perut beliau dengan batu. Wajah beliau yang biasanya cerah bercahaya, terlihat pucat dan bulir-bulir keringat menetes satu persatu, Jabir khawatir akan kesehatan Rasulullah SAW bisa terganggu. Maka ia segera pulang ke rumah menemui isterinya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sampai di rumahnya ia berkata pada isterinya,”Makanan apa yang kau miliki? Aku melihat Rasulullah SAW sudah sangat lapar?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Kita hanya ada gandum yang sekitar 2 mud (2,5 kg),” jawab sang isteri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Keluarkan semua dan masak semua. Hari ini kita mengundang Rasulullah untuk bersantap di rumah kita!” perintah Jabir.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sang isteri kemudian dengan bergegas mengeluarkan buliran-buliran gandum kering itu dari kantongnya dan menumbuknya hingga halus. Setelah itu ia memasukan tepung gandum itu ke dalam bejana. Sementara itu Jabir menuju ke belakang rumahnya dan menuju kandang anak domba. Saat itu Jabir hanya memiliki seekor anak domba.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dengan sigap, tangannya yang kekar itu mengeluarkan seekor anak dan domba dan menyembelihnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Jabir lalu dengan sangat cekatan memotong-motong daging anak domba itu dan merebusnya dengan bejana yang penuh air. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Saat akan keluar rumah, isteri Jabir berpesan agar ia mengundang Rasul dengan berbisik jangan sampai terdengar oleh para sahabat yang lainnya. Sebab, hidangan yang ia sediakan hanya cukup untuk beberapa orang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;”Jangan permalukan aku di hadapan Rasulullah SAW dan para sahabatnya,” pesan sang isteri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Jabir segera berangkat menemui Rasulullah SAW. Ia pun kemudian berbisik mengundang Rasul untuk bersantap makan di rumahnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Duhai Rasul, aku menyembelih anak domba dan menanak sedikit gandum.Ajaklah beberapa orang untuk makan di rumahku,”kata jabir.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Tetapi yang terjadi di luar dugaan Jabir. Rasulullah SAW mengundang seluruh sahabat yang ada di sana untuk ikut menikmati jamuan yang dipersiapkan Jabir. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Rasulullah SAW berseru,”Wahai para sahabatku yang ikut menggali parit, Jabir membuat makanan lezat hari ini. Mari kita ke sana memenuhi undangannya!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Setelah melihat Jabir, Rasulullah SAW lalu memerintahkan Jabir untuk jangan menurunkan periuknya,”Jangan turunkan periukmu dari tungku sebelum aku tiba di rumahmu!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Jabir segera pulang dan menyampaikan peristiwa ini kepada isterinya. Sang isteri semula terkejut, tetapi ketika diberitahu bahwa Rasulullah SAW yang mengundang sahabat, ia menjadi tenang. Tak lama kemudian Rasulullah SAW datang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Seperti yang telah diperintahkan oleh Rasulullah SAW, maka isteri Jabir lalu mengeluarkan adonan roti dari bejana. Kemudian Rasul mendekati adonan roti itu dan meludahinya sedikit dan berdoa memohon keberkahan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Tak hanya itu, Rasul kemudian berjalan menghampiri periuk yang berisi daging anak domba itu meludahinya seperti pada adonan roti dan memberkatinya. Setelah itu beliau berkata,”Panggil tukang roti untuk membuat roti bersama ku. Ambillah makanan dai periuk itu dan biarkan dia di atas tungku!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Para sahabat kemudian secara bergantian mengambil kuah dari periuk dan roti dari wadahnya. Mereka semua makan sampai kenyang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Jabir lalu berkata,”Demi Allah, jumlah mereka yang ikut makan adalah seribu orang. Setelah mereka pulang, ternyata isi periuk itu tetap seperti sedia kala, begitu pula adonan rotinya. Subhanallah!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;AST&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;AK12.MutiaraRasul.KasihSayangRasulullah.AST&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Usapan Yang Penuh Berkah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Suatu waktu, Rasulullah SAW hendak memberikan tugas pada Ali bin Thalib, namun saat itu ia sedang sakit mata. Berkat sentuhan tangan beliau yang mulia, seketika itu sakit matanya langsung sembuh dan pandangan matanya bertambah tajam&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Setelah Islam menguasai kota Madinah, kota tersebut tidak hanya dihuni oleh kaum muslimin saja, melainkan kaumYahudi dan Nasrani serta kaum keturunan Bani Israil juga masih banyak yang berdiam di dalam kota. Kehadiran kaum muslimin di Madinah sedikit banyak menentramkan hati mereka dari bahaya serangan bangsa lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Tingkah laku yang baik dari kaum muslimin di Madinah menjadi contoh teladan suku lain yang sama-sama mendiami kota itu. Sehingga tidak mengherankan bila mereka senang bertetangga dengan kaum muslimin yang ramah-tamah dan berbudi luhur. Tatanan masyarakat seperti inilah yang kemudian disebut masyarakat Madaniyah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kedamaian yang diciptakan oleh kaum muslimin lama-lama memudar karena ulah bangsa-bangsa yang tidak suka melihat kejayaan Islam di Madinah. Kasak-kusuk kaum munafiq untuk memecah belah persatuan turut andil bagian dalam rangka menghancurkan kaum muslimin dari dalam. Begitu juga dengan kaum Yahudi dari Bani Quraizhah. Mereka bersekutu dengan orang-orang munafik untuk memecah kaum muslimin.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Tindakan kaum Yahudi dan Bani Quraizhah telah melanggar perjanjian yang telah disepakati dengan kaum muslimin. Bahkan kaum Yahudi yang bertempat tinggal di Khaibar berusaha menyebar fitnah pada penduduk Ghathfan supaya mereka bangkit menyerang kaum muslimin. Rasulullah SAW yang telah mencium gelagat itu, lalu menyusun formasi pasukan untuk dikerahkan menuju Gathfan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Penduduk Gathfan ternyata panik juga ketika mendengar pasukan kaum muslimin sedang berjalan menuju posisi mereka. Buru-buru mereka mengumpulkan penduduknya di suatu tempat untuk mengadakan perjanjian damai dengan kaum muslimin. Setelah penduduk Ghathfan mengadakan perjanjian dengan penduduk Islam, barulah kaum muslimin mengetahui kalau kaum Yahudi Khaibar tidak bergabung dengan penduduk Ghathfan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Oleh karena itu, kaum muslimin segera mengerahkan pasukannya ke posisi kaum Yahudi Khaibar dan penduduk Ghathfan pun pulang ke rumah masing-masing dengan perasaan lega. Setelah itu Rasulullah SAW membentuk pasukan perang untuk memerangi Yahudi Khaibar yang telah berkhianat. Penduduk Ghathfan juga tidak membantu kaum Yahudi Khaibar karena merasa telah dikhianati oleh mereka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Di Khaibar, kaum muslimin membuat semacam pagar betis untuk membentengi mereka dari serangan kaum Yahudi Khaibar yang terkenal ahli dalam strategi perang. Untuk merebut benteng-benteng perang kaumYahudi yang tangguh. Kaum muslimin memakai taktik pengepungan sehingga peperangan ini terkesan lama dan lamban, walau akhirnya satu persatu&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;benteng Yahudi dapat di rebut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Benteng-benteng kaum Yahudi yang banyak membuat mereka bisa berpindah dari benteng yang satu ke benteng yang lain. Hal ini berlangsung terus menerus sehingga mengacaukan serangan kaum&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;muslimin. Melihat permainan Yahudi Khaibar ini akhirnya semangat kaum muslimin semakin tergugah untuk terus berjihad di jalan Allah. Mereka dengan sekuat tenaga dan semangat yang membara berusaha meluluh lantakan benteng-benteng musuh yang tersisa. Dalam situasi demikian, Rasulullah SAW bersabda,”Besok pagi, bendera ini akan aku berikan kepada seseorang yang cinta Allah dan Rasul-Nya, di mana Allah dan Rasul-Nya juga mencintainya!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Para sahabat yang mendengar perkataan Rasulullah SAW, dalam hatinya saling mengharapkan dirinya untuk ditunjuk menjadi pembawa bendera kebesaran. Pemberian bendera tersebut merupakan satu penghormatan yang tak bernilai harganya bagi para sahabat, sampai-sampai Umar ibn Khaththab berkata,”Aku sangat mengharapkan bendera yang dijanjikan Rasulullah tersebut!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Keesokan harinya, ketika mereka usai melaksanakan shalat subuh berjamaah, banyak sahabat yang sengaja menampakan diri di hadapan Rasulullah dengan maksud agar mereka ditunjuk oleh beliau sebagai pemimpin pasukan. Namun, nasib mujur yang mereka harapkan tak kunjung tiba karena rupa-ruapanyanya beliau masih menunggu orang yanfg beliau kehendaki. Beliau menoleh ke sana kemari seolah-olah sedang dinantikannya itu tidak muncul juga. Beliau sampai bertanya,”Di manakah Ali bin Abi Thalib sekarang?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Salah seorang sahabat ada yang menjawab,”Dia sedang sakit mata, ya Rasulullah!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Panggilah ia kemari,”peintah beliau.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ali memang sedang menderita sakit mata. Itu terlihat jelas oleh Rasulullah SAW ketika Ali telah sampai di hadapannya, tampak matanya merah dan bengkak. Maka, tanpa berkata apa-apa Rasulullah SAW langsung mengusap mata Ali dengan telapak tangannya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ajaib sekali karena seketika itu juga mata Ali yang membengkak langsung sembuh seketika, tiada bekas-bekas bahwa Ali baru saja menderita sakit mata.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Hal ini tentu menggembirakan hati Ali karena di samping matanya sembuh, ia juga merasakan bahwa matanya lebih tajam dan terang penglihatannya dari pada sebelumnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Saat itu Ali mendapat kemujuran yang tak pernah diperoleh orang lain. Pertama matanya sembuh, dan menurut salah satu sumber riwayat, setelah mendapat usapan dari tangan Rasulullah sampai akhir hayatnya Ali tidak pernah menderita sakit mata lagi. Di samping itu, penglihatan kedua matanya lebih tajam dari pada sebelumnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kedua, ia mendapat kepercayaan dariu Rasulullah untuk membawa panji Islam dalam pertempuran nanti. Kemujuran yang sehari sebelumnya telah diharapkan oleh para sahabat, kini jatuh ke tangan Ali, seorang yang sangat dicintai Allah dan Rasul-Nya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sahabat yang menyaksikan kejadian ini tercengang. Rasulullah yang diketahui oleh mereka bukan tabib atau dokter namun dapat menyembuhkan mata Ali hanya dengan sekali usapan tangan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Mereka kagum menyaksikan mukjizat yang diturunkan Allah kepada nabi mereka. Yang lebih mencengangkan lagi, sorotan mata Ali bertambah tajam sejak saat itu. Hal ini tidak mungkin dapat dilakukan oleh orang biasa kecuali oleh orang-orang yang menjadi kekasih Allah dan diberi-Nya mukjizat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;AST&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;                      &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;AK11.Mutiara Rasul.AST&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dajal, Isa Ya’juj dan Ma’juj&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Tanda-tanda dari hari kiamat adalah munculnya Dajal, Isa Ya’juj dan Ma’juj. Demikian sabda Rasulullah SAW kepada para sahabat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Pada suatu pagi Rasulullah SAW bercerita tentang Dajal, maka suaranya turun naik, sehingga para sahabat menduga berada di tengah-tengah pepohonan korma. Selepas Rasulullah SAW selesai bersabda, para sahabat kemudian pamit undur diri. Namun pada petang harinya, para sahabat kembali bertandang ke kediaman Rasulullah SAW. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Hari itu beliau sedang berduka, raut kesedihan tampak di mukanya yang bersih bercahaya. Kedua kelompak mata beliau sedikit sembab, tanda sehabis menangis. Seusai mengucap salam, beliau langsung menyapa para sahabat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Bagaimana keadaan kalian?” Tanya beliau.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Wahai Rasulullah, tadi pagi engkau membicarakan Dajal. Sesekali engkau merendahkan suara dan sesekali engkau meninggikannya, sehingga kami seakan-akan berada di tengah kerumunan lebah,” jawab salah seorang sahabat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Beliau terdiam sejenak, wajah beliau selalu indah ditatap, namun para sahabat tapi berani menatap wajah baginda yang agung itu. Dengan nada suara yang berwibawa dan ketegasan beliau bersabda,“Bukan Dajal yang aku khawatirkan terhadap kalian. Jika dia muncul dan aku berada di tengah kalian, tentu aku akan membela kalian dengan hujjah-hujjahku. Tapi jika dia muncul, sementara aku tidak berada di tengah kalian, maka setiap orang akan membela dirinya dengan hujjahnya sendiri, sedang Allah merupakan penggantiku untuk membalas setiap orang muslim. Dajal adalah dalam rupa seorang pemuda yang rambutnya keriting dan matanya buta. Sepertinya aku bisa menyerupakannya dengan Abdul Uzza bin Qathan. Siapa pun yang bertemu dengannya, hendaklah dia membaca permulaan surat Al-Kahfi. Dia akan muncul di tempat yang sepi antara Syam dan Irak. Lalu dia membuat kerusakan di sebelah kiri dan kanan. Wahai hamba-hamba Allah, teguhkanlah hati kalian!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Para sahabat sejenak tak ada satu pun yang berani menatap wajah beliau. Keheningan terpecahkan ketika salah seorang sahabat bertanya,”Wahai Rasulullah, berapa lama ia tinggal di bumi?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Empat puluh hari. Satu hari seperti satu tahun, satu hari seperti satu bulan, satu hari seperti sepekan. Dan seluruh harinya seperti hari-hari kalian,” jawab beliau.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Wahai Rasulullah, satu hari seperti satu tahun, apakah cukup bagi kami mendirikan shalat seperti shalat kami dalam satu hari?” tanya para sahabat serempak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Tidak, tapi hitunglah sebagaimana mestinya menurut hitungan saat itu,” jawab Rasulullah dengan penuh kesabaran.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Berapa kecepatan Dajal dalam berjalan di bumi?” Tanya salah seorang sahabat dengan penuh penasaran.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sambil menatap salah seorang sahabat, beliau menjawab,“Kecepatan Dajal seperti hujan yang ditiup angin kencang. Ia mendatangi suatu kaum dan menyeru mereka, hingga mereka pun beriman kepadanya dan memenuhi seruannya. Ia lalu menyuruh langit untuk menurunkan hujan, maka turunlah hujan. Ia menyuruh bumi untuk menumbuhkan tanaman, maka tumbuhlah tanaman itu. Binatang ternak mereka pulang pada petang hari, lebih panjang dan lebih gemuk dari keadaan sebelumnya serta lebih besar kantung susunya. Kemudian ia mendatangi suatu kaum dan menyerunya. Namun mereka mengingkari perkataannya. Ia lalu meninggalkan mereka dan pada keesokan harinya mereka kekeringan dan semua harta yang mereka miliki lenyap entah kemana.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Rasulullah SAW lalu melanjutkan penjelasan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dajal yang melewati suatu tempat yang telah luluh lantak. Dajal lalu berkata,’Keluarkan harta simpananmu!” Maka kekayaan tempat itu mengikuti Dajal seperti kumpulan lebah yang mengikuti pemimpinnya. Kemudian Dajal memanggil seorang pemuda, membabatnya dengan pedang hingga terbelah menjadi dua bagian, yang keduanya terpisah sejauh lemparan anak panah ke sasarannya. Dajal memanggil tubuh yang sudah terbelah itu, dan anehnya tubuh pemuda itu kembali menjadi seperti semula dengan wajah yang berseri menyunggingkan senyuman.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dalam keadaan seperti itu, lanjut Rasulullah SAW, Allah SWT lalu mengutus Al Masih Isa putra Maryam, turun di dekat menara berwarna putih di sebelah timur Damaskus, sambil mengenakan dua pakaian yang warnanya seperti celupan kunyit. Ia meletakan telapak tangannya di atas sayap dua malaikat. Jika dia menundukan kepala, maka air hujan turun, dan jika dia mengangkat kepalanya, maka berjatuhan butiran-butiran air seperti mutiara. Orang kafir tidak diperbolehkan mencium bau, melainkan dia langsung mati ketika sekelebatan pandangan mereka tertuju pada Isa. Kemudian Isa mencarinya hingga menemukannya di dekat Pintu Lud dan membunuhnya. Kemudian ia menemui suatu kaum&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang telah dijaga Allah dari Dajal itu. Isa bin Maryam lalu mengusap muka mereka dan memberitahukan derajat mereka di surga. Selagi keadaan seperti itu, Allah memberikan wahyu kepada Isa AS,”Sesungguhnya Aku sudah mengeluarkan hamba-hamba-Ku yang tidak dapat ditundukan oleh siapa pun yang memerangi mereka. Karena itu selamatkanlah hamba-hamba-Ku dengan cara menaiki bukit.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kemudian Allah mengutus Ya’juj dan Ma’juj beserta pasukannya yang datang dari tempat-tempat yang tinggi. Bagian depan pasukan berada di Telaga Thibriyah lalu meminum seluruh airnya. Ketika bagian akhir pasukan lewat di tempat ini, mereka berkata,’Sebelumnya di tenpat ini ada airnya.’ Nabi Isa Alaihis Salam beserta rekan-rekannya terkepung, hingga kepala salah seorang di antara kalian pada hari ini. Nabi Isa dan rekan-rekannya lalu berdoa kepada Allah, sehingga Allah mengirim cacing yang biasa menjangkiti hidung binatang ke tengkuk mereka, sehingga secara serentak mereka mati seperti matinya satu jiwa. Kemudian Nabi Isa dan rekannya turun ke bumi. Mereka tidak mendapatkan tempat sejengkal pun di bumi melainkan ada bangkai yang busuk. Isa dan rekan-rekannya lalu berdoa kepada Allah, lalu Allah mengirim burung-burung sebesar punuk unta lalu membawa bangkai-bangkai itu dan membawanya ke tempat mana pun yang dikehendaki Allah SWT.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Kemudian Allah mengirim hujan, sehingga tidak ada satu rumah pun melainkan tersiram air hujan itu, dan bumi dibersihkan hingga seperti cermin. Kemudian dikatakan pada bumi,’Tumbuhkanlah tanaman-tanamanmu dan kembalikan barakahmu!’ Maka pada hari itu sekelompok orang memakan buah delima dan bersama mereka bernaung di bawah kulitnya. Air susunya diberkahi sehingga seekor unta cukup bagi segolongan besar orang, seekor lembu cukup bagi penduduk satu kabilah, seekor kambing cukup bagi sekumpulan orang. Dalam keadaan seperti itu, Allah lalu mengirim angin yang baik lalu mengambil mereka di bawah hembusannya dan mencabut ruh setiap orang mukmin dan muslim. Sedangkan orang-orang kafir melakukan hubungan seksual seperti layaknya keledai. Maka kepada mereka inilah Kiamat ditimpakan,” sabda Rasulullah SAW kepada sahabat petang itu. (HR Muslim syarah Nawawi, Sunan Abu Dawud, At-Tirmidzy, Ibnu Majah, Musnad Ahmad dan Mustadrak Hakim).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;AST&lt;span style=""&gt;              &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;AK10.Mutiara Rasul.AST&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Lelaki Terakhir Masuk Sorga&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Suatu hari orang-orang telah berkumpul di kediaman Rasulullah SAW untuk memperbincangkan syafa’at Rasulullah. Setelah mengucap salam, kemudian berkata,”Wahai Rasulullah, apakah kami melihat Tuhan kami pada hari kiamat?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Mendengar pertanyaan para sahabatnya itu, Rasulullah tersenyum dan lalu menjawab, ”Apakah kamu saling memadharatkan dalam melihat bulan pada malam purnama?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Para sahabat terdiam sejenak, mereka saling pandang tanda tidak tahu. Sejurus kemudian mereka menjawab serempak,”Tidak, wahai Rasulullah.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Rasulullah kemudian bersabda,”Apakah kamu saling memadharatkan matahari yang tidak berawan?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Tidak, Wahai Rasulullah,” jawab para sahabat dengan kompaknya, tanda mereka benar-benar tidak mengetahuinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Maka sesungguhnya kamu akan melihat seperti itu. Allah yang akan mengumpulkan manusia pada hari kiamat,” demikian sabda Rasul sambil menyitir firman Allah (hadits qudsi),”Barang siapa yang menyembah sesuatu, maka hendaklah ia mengikutinya. Orang yang menyembah matahari, mengikuti matahari. Orang yang menyembah bulan, ia mengikuti bulan. Orang yang menyembah berhala, ia akan mengikuti berhala. Dan yang masih adalah umat ini yang di dalamnya ada orang yang dapat memberikan pertolongan atau orang-orang munafik,”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Rasulullah kemudian menceritakan tentang kedatangan Tuhan dalam rupa yang indah dan menemui seluruh umat manusia di hari kiamat nanti.“Allah datang kepada mereka dan berfirman,’Aku lah Tuhan mu’. Lalu mereka berkata,’Inilah tempatku sehingga Tuhan kami dating, kami mengenalnya.’&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Lalu Tuhan mereka, sabda Rasulullah selanjutnya, dalam bentuknya yang mereka kenal, dan berfirman,’Aku lah Tuhanmu,’ lalu mereka mengikuti-Nya, dan dipasanglah jembatan di antara dua tebing jahanam, lalu aku (Muhammad) dan umatku adalah orang yang pertama melewatinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Rasulullah SAW lalu mengisahkan tentang betapa sunyinya hari kiamat. Pada hari itu tidak ada orang yang bercakap-cakap kecuali para Rasul. Pada hari itu para Rasul berdoa,”Wahai Allah, selamatkanlah, selamatkanlah”. Di Jahanam ada penyambar seperti duri sa’dan, hanya saja tidak tahu ukuran besarnya kecuali Allah, mereka menyambar manusia karena perbuatan mereka. Di antara mereka ada yang dihancurkan karena perbuatannya, atau dicincang atau diampuni dan sebagainya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kemudian, jelaslah sehingga apabila Allah telah selesai memutusi diantara hamba-hamba Nya dan mengeluarkan mereka dari neraka.Bila Allah selesai memutus perkara segenap manusia, Dia berkenan mengeluarkan dari neraka orang-orang yang dikehendaki dengan rahmat-Nya. Dia memerintahkan para malaikat untuk mengeluarkan mereka dari neraka, yaitu orang-orang yang tidak mensekutukan Tuhan, untuk diberi rahmat-Nya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Rahmat-Nya dari orang-orang yang menyaksikan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Para malaikat mengetahui mereka di neraka dengan bekas-bekas sujud. Kemudian mereka keluar dari neraka dengan telah terbakar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Lalu air hidup ditumpahkan kepada mereka, mereka tumbuh di bawahnya, sebagaimana tumbuhnya biji-bijian di tanah yang terbawa banjir. Kemudian Allah menyelesaikan untuk memberikan keputusan di antara hamba-hamba. Dan yang masih ada dari mereka adalah seorang lelaki yang menghadapkan wajahnya ke neraka, dialah penghuni neraka yang terakhir masuk sorga,”sabda Rasulullah sambil mata Rasulullah berkaca-kaca.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Beliau kemudian melanjutkan ceritanya,”Lelaki itu kemudian berkata pada Tuhan,’Wahai Tuhan, palingkanlah wajahku dari neraka. Sesungguhnya baunya telah menghancurkan aku. Nyala apinya telah membakar aku’. Maka ia berdoa kepada Allah dengan sesuatu yang ia kehendaki untuk berdoa kepada Nya. Kemudian Allah berfirman,’Jika hal itu aku berikan kepadamu, apakah barangkali kamu minta lagi kepadaku selainnya?’&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Lelaki itu lalu menjawab,’Tidak, demi kemuliaan Mu. Saya tidak minta lagi selamanya.’ Sang lelaki itu kemudian memberikan janji-janji kepada Tuhannya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dengan sesuatu yang dikehendakinya. Kemudian Allah memalingkannya dari neraka. Ketika ia melihat sorga dan melihatnya, ia diam sesuai dengan apa yang dikehendaki Allah untuk diam, lalu dia berkata,’Wahai Tuhan, ajukanlah saya ke pintu sorga,’ &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Maka Allah berfirman kepada lelaki itu,”Bukankah kamu telah memberikan janji-janji untuk selama-lamanya selain apa yang telah diberikan kepadamu? Celaka lah wahai anak Adam, alangkah hianatmu!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Lelaki itu kemudian berkata,”Wahai Tuhan,” dan dia berdoa kepada Allah sehingga Ia berfirman,”Jika kamu telah diberi hal itu, apakah barangkali kamu minta selainnya?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Tidak. Demi kemuliaan Mu, saya tidak minta selainnya,” jawab lelaki itu. Dan ia lalu memberikan janji-janji sesuai dengan apa yang dikehendaki Nya, maka Tuhan mengajukannya ke pintu sorga. Ketika ia telah berdiri di pintu sorga, tampaklah sorga itu baginya. Maka ia melihat kesenangan di dalamnya, maka ia diam sesuai dengan apa yang dikehendaki Allah untuk diam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kemudian ia berkata,”Wahai Allah, masukanlah aku ke sorga.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Maka Allah berfirman,”Bukankah kamu telah memberikan janji-janji untuk tidak minta selain apa yang telah Aku berikan kepadamu. Celakalah kamu wahai anak Adam!Alangkah hianatnya kamu!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Wahai Tuhan, janganlah aku menjadi hamba-Mu yang paling celaka,” rengek lelaki malang itu dengan penuh ketakutan seraya terus berdoa pada Tuhan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Melihat hambanya yang satu ini, Tuhan tertawa, Dia lalu berfirman,”Masuklah kamu ke sorga!”. Ketika ia memasukinya, Allah melanjutkan firmannya,”Bercita-citalah!”. Maka ia kembali memohon kepada Tuhan dan cita-citanya, sehingga Allah menyebutkannya dan berfirman kepadanya,”Bercita-citalah demikian dan demikian, sehingga habis cita-citanya.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Allah kemudian melanjutkan firman-Nya,”Itulah untukmu dan bersamamu itu mendapat lagi yang sama.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Setelah mengisahkan seluruh kejadian yang menimpa sang lelaki malang itu. Lalu&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Rasulullah SAW bersabda,”Itulah seorang lelaki penghuni sorga yang paling akhir masuk sorga.” (HR Bukhari)&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;AST &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;                            &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;AK08.MutiaraRasul.Safa’atRasulullahSAW.AST&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Syafa’at Rasulullah SAW&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Allah SWT berfirman:”Hai Muhammad, angkatlah kepalamu! Mintalah, engkau pasti kuberi. Berikanlah syafa’at! Syafa’atmu pasti diterima!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Pada suatu hari, Rasulullah SAW dibawakan sebuah daging bakar berupa paha kesukaannya. Beliau menggigitnya sekali, lalu bersabda: “Aku adalah pemimpin manusia pada hari kiamat. Tahukah kalian apa sebab demikian?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Pertanyaan Rasulullah SAW menyentak para sahabatnya tertegun diam seribu bahasa. Kemudian ia melanjutkan perkataannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Pada hari kiamat, Allah SWT mengumpulkan semua manusia, baik orang-orang yang terdahulu maupun yang datang kemudian, pada suatu tempat. Ada penyeru yang memperdengarkan pada mereka dan penglihatan yang mengawasi mereka. Matahari begitu dekat, sehingga sampalah manusia pada puncak kesusahan dan kepayahan yang tidak kuasa mereka tanggungkan serta mereka pikul. Sebagian manusia akan berkata kepada sebagian yang lain:’Tidakkah kalian tahu apa yang sedang kalian alami?Tidakkah kalian tahu kepayahan yang telah menimpa kalian? Tidakkah kalian mempunyai pandangan siapa yang dapat memintakan syafaat kepada Tuhan kalian?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Orang-orang berkata satu sama lain:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Datanglah kepada Adam”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Mereka pun datang kepada Adam dan berkata: “Hai Adam! Engkau adalah Bapak manusia. Allah telah menciptakanmu dengan tangan-Nya dan meniupkan roh-Nya ke dalam dirimu. Dia juga memerintahkan para malaikat untuk bersujud kepadamu. Mintakanlah syafaat untuk kami kepada Tuhanmu. Tidakkah engkau melihat apa yang kami alami? Tidakkah engkau melihat kepayahan yang menimpa kami?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Adam berkata: ‘Sungguh, pada hari ini Tuhan sedang marah, dengan kemarahan yang belum pernah terjadi mendekati sebatang pohon, tetapi aku mendurhakai-Nya. Diriku, diriku! Pergilah kepada selainku! Pergilah kepada Nuh!’&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Mereka mendatangi nabi Nuh Alaihis Salam, dan mereka bertanya kepadanya:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;”Wahai Nuh! Engkau adalah rasul pertama di atas bumi dan Allah menyebutmu hamba yang banyak bersyukur. Mintakanlah kami syafa’at kepada Tuhanmu. Tidakkah engkau melihat apa yang akan kami alami? Tidakkah engkau melihat kepayahan yang menimpa kami?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Nuh kemudian menjawab:“Pada hari ini, Tuhanmu marah besar, kemarahan yang belum pernah terjadi sebelumnya dan tidak akan terjadi sesudahnya. Dulu, aku berdoa dengan doa yang mencelakakan kaumku. Diriku, diriku! Pergilah kalian pada Ibrahim Alaihis Salam!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Mereka pun lalu mendatangi Ibrahim Alaihis Salam dan berkata:”Engkau adalah Nabi dan kekasih Allah di antara penduduk bumi. Mintakanlah kami syafa’at kepada Tuhanmu. Tidakkah engkau melihat apa yang akan kami alami? Tidakkah engkau melihat kepayahan yang menimpa kami?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ibrahim Alaihis Salam yang menyaksikan orang sebanyak itu, kemudian menjawab:“Sungguh, pada hari ini Tuhan marah besar, kemarahan yang belum pernah terjadi sebelumnya dan tidak akan terjadi sesudahnya.—dan Ibrahim menyebutkan kebohongan-kebohongan yang telah dilakukannya dalam hidup(diulangnya sampai tiga kali)--. Diriku, diriku! Pergilah kalian kepada selain diriku! Pergilah kepada Musa!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Mereka pun lantas mendatangi Musa Alaihis Salam dan berkata:”Hai Musa! Engkau adalah utusan Allah. Allah telah mengutamakanmu dengan risalah-Nya dan kalam-Nya, melebihi manusia lain. Mintakanlah kami syafa’at kepada Tuhanmu! Tidakkah engkau melihat apa yang sedang kami alami? Tidakkah engkau melihat apa yang telah kami derita?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Nabi Musa yang mendapat pertanyaan semacam itu, kemudian menjawabnya:&lt;br /&gt;”Sungguh, pada hari ini Tuhan marah besar, kemarahan yang belum pernah terjadi dan tidak akan terjadi sesudahnya. Dulu, aku membunuh orang, padahal aku tidak diperintahkan membunuhnya. Diriku, diriku! Pergilah kalian kepada Isa Alahis Salam!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Mereka pun mendatangi Isa Alahis Salam berharap mendapat pertolongan, seraya berkata:“Hai Isa! Engkau adalah utusan Allah. Engkau telah berbicara kepada manusia selagi engkau masih berada dalam buaian. Engkau adalah Kalimah-Nya yang Dia sampaikan kepada Maryam, dan roh dari-Nya. Karena itu, mintakanlah kami syafa’at kepada Tuhanmu. Tidakkah engkau melihat apa yang telah kami derita?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Isa Alaihis Salam yang mendapat giliran pertanyaan dari umat manusia yang sedikian banyaknya kemudian menjawab:“Sungguh, pada hari ini Tuhan marah besar. Kemarahan yang tidak pernah terjadi sebelumnya dan tidak akan terjadi sesudahnya—tetapi ia tidak menyebutkan dosanya, seperti Ibrahim, Nuh dan Musa --. Diriku, diriku! Pergilah kepada orang lain! Pergilah kepada Muhammad SAW!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Mereka mendatangiku dan berkata:”Hai Muhammad! Engkau adalah utusan Allah dan penutup para nabi. Allah telah mengampunimu, dosa yang dahulu dan kemudian. Syafa’atilah kami di hadapan Tuhanmu. Tidakkah engkau melihat apa yang sedang kami alami? Tidakkah engkau melihat apa yang telah kami derita?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Aku pun kemudian berangkat kepada Allah SWT. Sesampai di bawah Arsy aku bersujud kepada Tuhanku. Kemudian Allah membukakan kepadaku dan memberiku ilham, berupa puji-pujian bagi-Nya dan sanjungan kepada-Nya. Sesuatu yang tidak pernah dibukakan kepada seorangpun sebelumku. Aku menjatuhkan diri bersujud kepada-Nya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kemudian Allah SWT berfirman:”Hai Muhammad, angkatlah kepalamu! Mintalah, engkau pasti kuberi. Berikanlah syafa’at! Syafa’atmu pasti diterima!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Aku berkata:”Wahai Tuhanku! Ummatku, ummatku!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Difirmankan kepadaku:”Berangkatlah! Barangsiapa di dalam hatinya terdapat iman, meski hanya seberat biji sawi, engkau boleh mengeluarkannya dari neraka.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Aku pun berangkat dan melaksanakan perintah Allah SWT. Sesudah itu aku kembali kepada-Nya, memuji-Nya dengan puji-pujian yang tadi, lalu menjatuhkan diri bersujud kepada-Nya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Diceritakan, Muhammad sampai empat kali mengambil umat manusia yang beriman, walau imannya sebesar biji sawi(dzarah) dari neraka. Setelah itu Muhammad kembali menjatuhkan diri bersujud kepada-Nya. Lalu di firmankan kepada Ku:&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kemudian Allah SWT berfirman:”Hai Muhammad, angkatlah kepalamu! Mintalah, engkau pasti kuberi. Berikanlah syafa’at! Syafa’atmu pasti diterima!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Aku kemudian berkata:”Wahai Tuhanku, berilah aku izin memberi syafa’at kepada orang yang hanya mengucap LAA ILAAHA ILLALLAAH.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Allah kemudian berfirman: ”Itu bukan bagianmu! Tetapi, demi kemuliaan-Ku, demi kebesaran-Ku, demi keagungan-Ku dan demi kekuasaan-Ku; Aku pasti mengeluarkan orang yang mengucap LAA ILAAHA ILLALLAAH.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dalam sumber hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah, diceritakan bahwa Allah SWT kemudian menjawab puji-pujian Muhammad SAW itu dengan firman-Nya:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;”Hai Muhammad! Masuklah ke sorga dari ummatmu, orang-orang yang tidak harus dihisab melalui pintu kanan di antara pintu-pintu sorga. Mereka juga bisa masuk bersama orang-orang lain(Ahli sorga yang bukan termasuk golongan di atas) dari pintu-pintu lain.Demi Dzat yang menguasai jiwa Muhammad! Sesungguhnya jarak antara dua sisi pintu sorga itu sama dengan jarak antara Mekkah dan Hajar(kota di Bahrain), atau sama dengan jarak kota Mekkah dan Bushra (dekat Damaskus).” (HR Bukhari)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;AST&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;-----&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kata Mutiara:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dari Anas r.a, Rasulullah bersabda,”Tidak (sempurna) iman seseorang kamu, sebelum ia lebih mencintai aku dari pada mencintai ibu-bapaknya, anaknya dan manusia umumnya.” (HR Bukhari).&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;!--[if !supportLineBreakNewLine]--&gt;&lt;br /&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h3&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-weight: normal;" lang="IN"&gt;Ak07.Mutiara Rasul.AST&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;  &lt;h1 style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Pelajaran Hakikat Rasulullah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Rasulullah SAW terlambat hadir di masjid untuk mengimami shalat Subuh, karena bermimpi mendapat pelajaran hakikat dari Alah SWT.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sejak adzan Subuh berkumandang sampai menjelang fajar, Rasulullah SAW belum muncul di masjid. Para sahabat sudah gelisah. Beberapa sahabat diutus menemui Rasulullah SAW di rumahnya. Namun yang lain mencegah, sebab mereka yakin Rasulullah SAW akan hadir. Maka mereka pun menunggu Rasulullah SAW sembari membaca Al-Quran.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Tak lama kemudian, Rasulullah SAW masuk ke masjid dan memerintahkan salah seorang sahabat membaca iqamat. Kemudian beliau menjadi imam dan mempercepat shalatnya. Seusai salam, beliau membaca doa dengan suara keras. Suaranya yang jernih penuh wibawa menggetarkan para jemaah. Lalu beliau bersabda, ”Tetaplah kalian berada di shaf masing-masing.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Rasulullah SAW lalu menghadap ke arah jamaah dengan pandangan yang sejuk. Wajahnya yang putih bersinar menandakan suasana hati yang sedang gembira. Matanya yang indah dan tajam menatap jamaah satu per satu. Para jamaah tertunduk, tak berani menatap wajah Rasulullah SAW yang agung.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sejurus kemudian beliau bersabda, ”Aku akan memberi tahu kalian apa yang membuatku terlambat datang. Semalam aku bangun mengambil air wudhu, lalu mendirikan shalat. Dalam shalatku aku tertidur karena kantuk yang amat berat. Ternyata aku bermimpi bersama Allah SWT dalam rupa yang sangat gemilang.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Setelah diam sejurus, beliau meneruskan sabdanya, “Dia berfirman, ‘Wahai Muhammad!’ Aku menjawab, ‘&lt;i&gt;Labbaika ya Rabbi’.”&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;”Mengapa para malaikat berselisih?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Hamba tidak tahu.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Lalu Rasululah SAW melanjutkan ceritanya, “Allah SWT bertanya sampai tiga kali. Kulihat Dia meletakkan telapak-Nya di atas bahuku, hingga dapat kurasakan dingin jari-jari-Nya di dadaku. Segala sesuatu tampak jelas di depanku, dan aku mengetahuinya. Lalu Dia berfirman lagi, ‘Wahai Muhammad...’.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;”Labbaika ya Rabbi.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Tentang apa para malaikat berselisih?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;”Tentang penebus-penebus dosa.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;”Apa penebus dosa-dosa itu?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;”Langkah menuju kebaikan, duduk di masjid setelah shalat, mengguyurkan air wudhu pada saat-saat tidak disukai.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;”Tentang apa mereka berselisih?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;”Tentang memberi makan, ucapan yang lemah lembut, shalat malam ketika manusia tidur nyenyak.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;”Mintalah!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;”Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu taufik untuk mengerjakan hal-hal yang baik, meninggalkan yang munkar, mencintai orang-orang miskin, dan agar Engkau mengampuniku dan merahmatiku jika Engkau hendak menimpakan cobaan.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Setelah itu Rasulullah SAW membaca sebuah doa pendek yang semalam dipanjatkan kepada Allah SWT, &lt;i&gt;”Allahuma inni as-aluka khubaka wa hubba man yukhibbuka wa kulla ‘amalin yuqarribuni illa khubbika.” &lt;/i&gt;(Ya Allah, aku mohon kepada-Mu kecintaan-Mu dan kecintaan orang yang mencintai-Mu, serta kecintaan kepada amal yang mendekatkan kepada kecintaan kepada-Mu).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kemudian, dengan suara sangat pelan – sementara matanya yang mulia berkaca-kaca – Rasulullah SAW mengakhiri sabdanya, ”Ini adalah pelajaran hakikat. Maka pelajarilah!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h2&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="IN"&gt;AST&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-weight: normal;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ketika ditanya tentang iman, Rasulullah SAW bersabda, “Iman adalah kesabaran dan suka memaafkan.” (HR Ahmad, Thabrani, dan Ibnu Hiban)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ak-06 MutiaraRasul.AST&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Amal yang diterima Allah SWT&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Setiap amal seseorang akan melewati tujuh langit sebelum diterima oleh Allah SWT.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Pada setiap langit, malaikat penjaga pintu langit akan memeriksa setiap amal hamba-Nya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Muadz bin Jabbal suatu ketika bertemu dengan Rasulullah SAW. Kemudian Rasulullah bersabda, “Wahai Muadz! Sekarang aku akan mengisahkan kepadamu, bila engkau menghafal dan menjaganya akan sangat berguna bagimu. Tapi jika engkau menganggap remeh, maka kelak di hadapan Allah SWT, engkau tidak mempunyai &lt;i&gt;hujjah&lt;/i&gt; (alasan) apa pun juga.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Muadz bin Jabbal mendengarkan dengan cermat setiap perkataan Nabi Muhammad SAW. Kemudian Nabi Muhammad SAW melanjutkan sabdanya, ”Wahai Muadz! Sebelum Allah SWT menciptakan langit dan bumi, Allah SWT telah menciptakan tujuh malaikat yang bertugas sebagai penjaga pintu langit. Setiap langit mempunyai seorang malaikat penjaga. Allah memerintahkan malaikat-Nya untuk mencatat amalan hamba-Nya dan kemudian sang malaikat penjaga membawa catatan amalan tersebut ke langit.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Rasulullah menceritakan tentang sampainya amal seorang hamba ke langit pertama. Sesampainya di langit pertama, malaikat &lt;span style="color: black;"&gt;Hafazhah&lt;/span&gt; memuji amalan hamba. Akan tetapi malaikat penjaga pintu berkata pada malaikat &lt;span style="color: black;"&gt;Hafazhah&lt;/span&gt;, ‘Tamparkan amalan ini ke muka pemiliknya! Aku adalah malaikat penjaga orang-orang yang suka mengumpat atau riba. Aku diperintahkan Allah agar menolak amalan orang yang suka mengumpat atau riba untuk melewati pintu berikutnya.’&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Di pintu kedua, terdapat malaikat khusus yang memeriksa, apakah amalan si hamba untuk mengharapkan dunia, dan bila amalan tersebut untuk kepentingan dunia, maka akan ditolak untuk dilaporkan ke atas. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Di pintu ketiga, malaikat memeriksa amal apa pun yang dilakukan oleh manusia. Bila orang yang beramal memiliki sifat sombong, maka malaikat penjaga akan berkata, ‘Berhenti! Dan lemparkan amalan itu ke wajah pemiliknya! Aku malaikat penjaga &lt;i&gt;kibr&lt;/i&gt; (sombong), Allah SWT memerintahkanku agar amalan semacam ini tidak melewati pintuku dan tidak disampaikan kepada langit berikutnya. Itu karena salahnya sendiri. Ia sombong di dalam majelis.’&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Di hari yang lain, malaikat Hafazhah membawa amalan seorang hamba yang sangat banyak, tapi semuanya tertolak karena amalan tersebut dibarengi sifat ujub atau kesombongan pelakunya. Di hari yang lain lagi, saat amalan seorang hamba naik ke langit. Malaikat penjaga langit kelima akan menolaknya dengan berkata, ’Aku malaikat penjaga sifat &lt;i&gt;hasad &lt;/i&gt;(iri). Meskipun amalannya bagus, tetapi ia suka iri pada orang lain yang mendapatkan kenikmatan Allah. Berarti ia membenci yang meridhainya, yaitu Allah SWT. Aku diperintahkan agar amalan semacam itu tidak melewati pintuku.’&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Pada kesempatan yang lain, malaikat Hafadzah naik ke langit membawa amalan hamba. Setelah lolos dari langit pertama hingga langit kelima. Tetapi sesampainya di langit keenam malaikat penjaga pintu berkata, ‘Aku malaikat penjaga Rahmat. Amalan yang kelihatan bagus itu tamparkan ke mukanya. Selama hidup ia tidak pernah mengasihani orang lain. Bahkan apabila ada orang yang terkena musibah, ia merasa senang. Aku diperintahkan Allah agar amalan ini tidak melewati pintuku untuk diteruskan ke langit berikutnya.’&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Hari yang lain malaikat Hafazhah naik ke langit dengan membawa amalan seorang hamba. Akan tetapi sesampainya di langit ketujuh, malaikat penjaga pintu langit berkata, ‘Aku malaikat penjaga &lt;i&gt;sum’ah &lt;/i&gt;(ingin dikenal). Sesungguhnya pemilik amal ini menginginkan ketenaran di dalam setiap perkumpulan. Menginginkan derajat yang tinggi di kala berkumpul dengan kawan. Ingin mendapat pengaruh dari para pemimpin. Aku diperintahkan Allah agar amalan tersebut tidak melewati pintu ini.’&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Di kemudian hari, malaikat Hafazhah naik ke langit membawa berbagai amalan hamba dari langit pertama hingga langit ketujuh. Amalan tersebut telah lolos dari para malaikat penjaga. Amalan yang terdiri dari shalat, puasa, zakat, tilawatil Quran, haji, shadaqah dll, tampak berkilau bagai cahaya yang terang. Malaikat Hafazhah selanjutnya menembus hijab hingga sampai di hadapan Allah SWT. Seluruh malaikat menyaksikan amalan itu. Amalan ibadah itu soleh dan diikhlaskan karena Allah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Lalu Allah berfirman, ‘Wahai Hafadzah! Malaikat penjaga amal hamba-Ku! Aku lah Allah yang mengetahui isi hatinya. Ia beramal bukan untuk-Ku. Tetapi ia beramal untuk selain-Ku. Bukan diniatkan untuk-Ku.’&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dan selanjutnya, Allah SWT melanjutkan firman-Nya, ‘Mereka telah menipu orang lain dan juga kalian. Aku tidak tertipu. Aku mengetahui yang ghaib. Aku melaknatnya!’&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Tujuh malaikat di antara tiga ribu malaikat yang hadir kemudian berkata, ‘Ya Allah, dengan demikian tetaplah laknat-Mu dan laknat kami atas mereka.’&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kemudian semua yang ada di langit mengucapkan, ‘Tetaplah laknat Allah kepadanya dan laknatnya orang-orang yang melaknat!’&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Mendengar semua kisah yang diceritakan oleh Rasulullah SAW itu, dengan sambil menangis Muadz bertanya, ”Ya Rasulullah! Bagaimana aku bisa selamat dari semua yang engkau ceritakan?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Rasulullah SAW menjawab, ”Wahai Muadz! Ikutilah nabimu dalam hal keyakinan.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Muadz bertanya lagi, ”Engkau adalah Rasulullah SAW dan aku adalah Muadz bin Jabbal. Bagaimana aku bisa selamat dan terlepas dari bahaya tersebut?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Rasulullah SAW menerangkan, ”Memang begitulah bila ada kekurangan dalam amal ibadahmu, maka jagalah lisanmu jangan sampai menjelekkan orang lain, terutama para auliya mu. Ingatlah diri sendiri tatkala hendak menjelekkan orang lain, sehingga sadar bahwa dirimu penuh dengan aib. Jangan menutupi kekurangan dan kesalahanmu dengan menjelekkan orang lain. Jangan menonjolkan diri dengan menekan dan menjatuhkan orang lain. Jangan ria dalam beramal. Jangan mementingkan dunia dengan mengabaikan akhirat. Jangan bersikap kasar di dalam majelis agar orang takut dengan keburukan akhlakmu. Jangan suka mengungkit-ungkit kebaikan dan jangan menghancurkan pribadi orang lain. Kelak engkau akan dirobek-robek dalam jahanam!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Beliau kemudian membaca firman Allah, ”Demi malaikat-malaikat yang mencabut nyawa dengan keras. Kalian mau tahu seperti apa orang yang dicabut nyawanya, bagaikan orang yang menarik daging dari tulang.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Mendengar semua keterangan ini, Muadz masih bertanya, ”Ya Rasulullah! Siapa yang kuat menanggung penderitaan semacam itu?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Rasulullah menjawab, ”Muadz, yang aku ceritakan tadi akan mudah bagi mereka yang dimudahkan Allah. Engkau harus mencintai orang lain sebagaimana engkau mencintai dirimu sendiri dan bencilah terhadap yang engkau benci. Dengan demikian engkau akan selamat.”&lt;span style=""&gt;                                &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;               &lt;/span&gt;&lt;b&gt;AST,&lt;/b&gt; dari &lt;i&gt;Ihya’ Ulumuddin, Babul Amal&lt;/i&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh Umar bin Khaththab RA, Rasulullah bersabda, “Setiap amal seseorang tergantung niatnya.” (HR Bukhari dan Muslim)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;AK5.Mutiara Rasul.AST&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Jaminan Rasulullah SAW&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Setelah mendapat jaminan Rasulullah SAW, Ikrimah akhirnya memeluk Islam. Ia menjadi seorang muslim yang patuh pada Rasulullah dan syahid dalam perang Yarmuk&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Abu Isha As-Ayabi’i meriwayatkan bahwa setelah Rasulullah SAW berhasil menaklukkan kota Makkah, Ikrimah berkata,”Aku tidak akan tinggal di tempat ini!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dia lalu pergi berlayar dan memerintahkan supaya isterinya membantu mengemasi barang-barang yang akan dibawa serta. Melihat gelagat suaminya itu hendak pergi, lalu sang isteri berkata,”Hendak kemana kamu wahai pemimpin pemuda Quraisy? Apakah kamu akan pergi kesuatu tempat yang tidak kamu ketahui?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ikrimah kemudian melangkahkan kakinya tanpa sedikitpun memperhatikan perkataan isterinya. Maka isteri Ikrimah bergegas menemui Rasulullah SAW.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ketika Rasulullah SAW bersama para sahabat lainnya telah berhasil menaklukkan kota Makkah. Ia kemudian berkata,”Ya Rasulullah, sesungguhnya Ikrimah telah melarikan diri ke negeri Yaman karena ia takut kalau-kalau baginda akan membunuhnya. Justeru itu aku memohon kepadamu supaya engkau berkenan menjamin keselamatannya.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Dia akan berada dalam keadaan aman,” jawab Rasulullah SAW.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Mendengar jaminan Rasulullah SAW itu, lalu isteri Ikrimah memohon diri dan pergi untuk mencari suaminya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sementara itu Ikrimah telah sampai ke pelabuhan dan siap menaiki kapal. Melihat salah satu penumpangnya berwajah muram, pengemudi kapal itu berkata pada Ikrimah,”Wahai Ikrimah, ikhlaskanlah saja!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Apakah yang harus aku ikhlaskan?” Ikrimah balik bertanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Ikhlaskanlah bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah dan akuilah bahwa Muhammad SAW adalah utusan Allah!” kata pengemudi kapal itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Tidak, justeru aku melarikan diri karena ucapan itu,” jawab Ikrimah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Selepas itu datanglah isterinya dan berkata,”Wahai Ikrimah putera bapa saudaraku! Aku datang menemuimu membawa pesan dari orang yang paling utama. Dari manusia yang paling mulia dan manusia yang paling baik. Aku memohon supaya engkau jangan menghancurkan dirimu sendiri. Aku telah memohonkan jaminan keselamatan untukmu kepada Rasulullah SAW.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Benarkah apa yang telah engkau lakukan itu?” tanya Ikrimah memastikan jaminan Rasul SAW itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Benar, aku telah berbicara dengan baginda dan baginda pun akan memberikan jaminan keselamatan atas dirimu,”jawab istrinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Mendengar berita gembira dari isterinya itu pada malam harinya Ikrimah bermaksud untuk melakukan persetubuhan dengan isterinya. Akan tetapi isterinya menolaknya sambil berkata,”Engkau orang kafir, sedangkan aku orang Muslim.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Penolakan kamu itu adalah satu masalah besar bagiku,” kata Ikrimah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Malam itu Ikrimah tidak jadi berhubungan suami isteri. Beberapa hari kemudian mereka pulang kembali ke Mekkah. Begitu mendengar berita Ikrimah dan isteri kembali ke Mekkah, Rasulullah SAW segera menemuinya. Karena rasa kegembiraan yang tidak terkira itu membuat Rasulullah SAW sampai lupa memakai serbannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Setelah bertemu dengan Ikrimah, beliau pun duduk. Ketika itu Ikrimah berserta dengan isterinya berada di hadapan Rasulullah SAW. Ikrimah langsung membuka perbincangan,”Sesungguhnya aku bersaksi bahawa tidak ada Tuhan melainkan Allah dan aku bersaksi bahawa Muhammad adalah utusan Allah.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Mendengar ucapan Ikrimah itu, Rasulullah SAW sangat gembira, wajahnya bertambah cerah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;”Wahai Rasulullah, ajarkanlah sesuatu yang baik yang harus aku ucapkan,” kata Ikrimah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;”Ucapkanlah bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan melainkan Allah dan Muhammad adalah hamba-Nya dan Rasul-Nya,”jawab Rasulullah SAW.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Selepas itu apa lagi?” tanya Ikrimah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Ucapkanlah sekali lagi, aku bersaksi bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan melainkan Allah dan aku bersaksi bahawa sesungguhnya Muhammad adalah hamba-Nya dan Rasul-Nya,”jawab Rasulullah SAW.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ikrimah pun kemudian mengucapkan apa yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW. Selepas itu beliau bersabda,”Jika sekiranya pada hari ini kamu meminta kepadaku sesuatu sebagaimana yang telah aku berikan kepada orang lain, niscaya aku akan mengabulkannya.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Aku memohon kepadamu ya Rasulullah. Supaya engkau berkenan memohonkan ampunan untukku kepada Allah SWT, atas setiap permusuhan yang pernah aku lakukan terhadap dirimu. Setiap perjalanan yang aku lalui untuk menyerangmu, setiap yang aku gunakan untuk melawanmu dan setiap perkataan kotor yang aku katakan di hadapan atau di belakangmu,” pinta Ikrimah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Mendengar permintaan Ikrimah, Rasulullah SAW lalu berdoa,”Ya Allah, ampunilah dosanya atas setiap permusuhan yang pernah dilakukannya untuk bermusuhan denganku. Setiap langkah perjalanan yang dilaluinya untuk menyerangku yang tujuannya untuk memadamkan cahaya-Mu dan ampunilah dosanya atas segala sesuatu yang pernah dilakukannya baik secara langsung denganku mau pun tidak.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Mendengar doa yang dipanjatkan Rasulullah SAW itu, hati Ikrimah menjadi gembira. Seketika itu juga ia berkata,”Ya Rasulullah! Aku bersumpah demi Allah, aku tidak akan membiarkan satu dinar pun biaya yang pernah aku gunakan untuk melawan agama Allah, melainkan akan aku ganti berlipat ganda demi membela agama-Nya. Begitu juga setiap perjuangan yang dahulu aku lakukan untuk melawan agama Allah, akan aku ganti dengan perjuangan yang berlipat ganda demi membela agama-Nya. Aku akan ikut berperang dan berjuang sampai ke titisan darah yang terakhir.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Janji Ikrimah kemudian dibuktikan ketika terjadi Perang Yarmuk. Ia ikut serta berperang sebagai pasukan perang yang berjalan kaki. Pada waktu itu Khalid bin Walid memperingatkan,”Jangan kamu lakukan hal itu, karena bahaya yang akan menimpamu adalah lebih besar!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Wahai Khalid! Kamu dahulu pernah ikut berperang bersama Rasalullah SAW. Maka biarkan aku lakukan!” jawab Ikrimah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ikrimah tetap meneruskan niatnya itu, hingga akhirnya ia gugur di medan perang. Waktu Ikrimah gugur, ternyata di tubuhnya terdapat lebih kurang tujuh puluh luka bekas tikaman pedang, tombak dan anak panah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Abdullah bin Mas’ud pula berkata,“Di antara orang-orang yang termasuk dalam barisan Perang Yarmuk adalah Haris bin Hisyam, Ikrimah bin Abu Jahal dan Suhail bin Amar. Di saat-saat kematian mereka, ada seorang sahabat yang memberinya air minum, akan tetapi mereka menolaknya. Setiap kali air itu akan diberikan kepada salah seorang dari mereka yang bertiga orang itu, maka masing-masing mereka berkata, ‘Berikan saja air itu kepada sahabat di sebelahku.’ Demikianlah keadaan mereka seterusnya, sehingga akhirnya mereka bertiga menghembuskan nafas yang terakhir dalam keadaan belum sempat meminum air itu.” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;AST&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;AK5.Mutiara Rasul.AST&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Rasulullah SAW Dibantu Jin Muslim&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Rasulullah SAW dituduh sebagai pembohong oleh setan yang merasuk ke dalam berhala. Gantian jin muslim merasuk ke dalam berhala, menyatakan kebenaran Rasulullah SAW.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Suatu hari, Rasulullah SAW menerima wahyu Allah SWT berupa ayat 1-10 surah Al-Mudattsir, yang memerintahkan agar berdakwah secara terang-terangan. Maka beliau pun segera mengumpulkan kaum Quraisy Makkah di Bukit Abu Qubays. ”Wahai kaum Quraisy, katakanlah bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Mendengar dakwah itu, serta merta mereka berlalu sambil bersungut-sungut, bahkan sebagian di antaranya marah. Mereka lalu berkumpul di Dar Al-Nadwah membicarakan dakwah Rasul yang menurut mereka aneh. ”Muhammad telah mencerca tuhan kita. Ia mengajak kita menyembah Tuhannya. Kita harus cari akal untuk memperdayainya,” kata salah seorang di antaranya. Di antara mereka tampak beberapa gembong kafir Quraisy seperti Al-Walid bin Harits, Shafwan bin Umayah, Kaab bin Asyraf, dan Abu Jahal.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Satu per satu mereka yang hadir ditanya, apa yang telah dikatakan oleh Muhammad. Mereka rata-rata menjawab, Muhammad adalah penyihir, gila, dan mengambil kesempatan untuk mencari kedudukan. Pada umumnya mereka sangat marah mendengar dakwah Rasulullah SAW. Mereka mencaci dan memperolok-olok beliau.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ketika tiba giliran Al-Walid bin Harist, ia menjawab, ”Aku tidak punya pendapat apa-apa.” Tapi, jawaban itu dianggap membela Muhammad. Karena itu mereka memperolok, mengejek, dan mencaci maki Al-Walid. Maka Al-Walid pun dengan lantang berkata,”Tangguhkanlah penghinaan kalian selama tiga hari!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Al-Walid adalah salah seorang pedagang Makkah yang kaya raya. Seperti halnya warga kafir Makkah yang lain, ia juga punya berhala sesembahan. Ia punya dua buah berhala yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bentuknya lebih bagus ketimbang berhala yang lain, karena terbuat dari emas dan perak, bertatahkan intan permata. Kedua berhala itu ditaruh di sebuah rumah khusus.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Selama tiga hari berturut-turut, tanpa makan-minum, ia menyembah berhala emasnya dengan harapan sang berhala dapat memberi jalan keluar mengenai dakwah Muhammad. Ia berkata kepada kedua berhala itu, ”Aku telah menyembahmu selama tiga hari. Aku sangat berharap agar engkau memberitahuku perihal dakwah Muhammad!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kesempatan itu dipergunakan oleh setan dengan merasuk ke dalam patung dan menggerakkan mulutnya. ”Sesungguhnya Muhammad bukanlah nabi. Kamu jangan membenarkan apa yang ia katakan!” kata berhala itu. Al-Walid menyangka berhala itu benar-benar berbicara. Betapa gembiranya dia. Maka ia pun buru-buru memberi tahu kaum kafir Quraisy bahwa ia sudah menemukan kebohongan Muhammad lewat mulut berhalanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Betapa sedih Rasulullah SAW mendengar ejekan kaumnya. Maka turunlah Malaikat Jibril. ”Wahai Muhammad, ejekan itu berasal dari Al-Walid bin Harits,” kata Jibril. Ketika mendatangi Al-Walid dan kawan-kawannya, Rasulullah SAW ditertawakan sejadi-jadinya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;”Kami tidak akan menghiraukan kamu, pembohong!” kata mereka serempak. Bersamaan dengan itu, mereka mengumpulkan beberapa berhala dan menghiasinya, lalu menyembahnya dengan bersujud.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Rasulullah SAW, yang saat itu bersama Abdullah bin Mas’ud, duduk-duduk saja dekat orang-orang kafir yang sedang menyembah berhala tersebut. Ketika itu setan datang lagi dan mengulangi kata-kata sebagaimana pernah diucapkan lewat berhala Al-Walid. Semua yang hadir, termasuk Rasulullah SAW dan Abdullah bin Mas’ud, mendengarnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Abdullah yang ketakutan berkata, ”Wahai Rasulullah, apa yang baru saja dikatakan oleh berhala itu?” Dengan tenang Rasulullah SAW menjawab, “Janganlah engkau takut, karena yang berkata itu adalah setan.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Jin Muslim&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Beberapa hari kemudian, Rasulullah SAW kembali menemui orang-orang kafir itu. Di tengah jalan, beliau bertemu seseorang –&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mengendarai kuda serta mengenakan jubah hijau dan – yang menyalaminya. ”Wahai penunggang kuda, siapakah kamu sebenarnya? Aku heran mendengar salammu kepadaku,” kata Rasulullah SAW.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Aku Muhair bin Habbar, keturunan jin, tinggal di Bukit Thursina, dan telah lama megembara. Aku sudah memeluk Islam (syariat dari Allah yang diturunkan kepada para nabi dan rasul sebelum Nabi Muhammad, yang pada hakikatnya sama dengan syariat yang diturunkan kepada beliau) sejak zaman Nabi Nuh. Ketika pulang, kudapati istriku menangis. Katanya, setan Musfir telah berdusta, sehingga Muhammad SAW diejek dan diperolok-olok oleh para penyembah berhala. Aku lalu mencari Musfir, dan menemukannya di antara Bukit Shafa dan Marwah. Kami berkelahi dan aku berhasil membunuh setan yang menyerupai anjing itu,” kata jin itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Mendengar penuturan tersebut, Rasulullah SAW mendoakannya dengan doa kebaikan. Lalu jin muslim itu menawarkan diri kepada Rasulullah SAW untuk merasuk ke dalam tubuh patung milik Al-Walid untuk mempermainkan orang kafir. “Baiklah, kalau memang itu cara terbaik untuk menyadarkan mereka,” jawab Rasulullah SAW.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Tak lama kemudian, seperti hari-hari biasanya, orang-orang kafir Makkah berkumpul dan menghiasi serta menyembah berhala-berhala mereka. Tak lupa mereka minta agar berhala-berhala itu membuktikan bahwa Muhammad adalah pembohong. Tiba-tiba patung yang paling besar dan indah berbicara, ”Wahai warga Makkah, ketahuilah, sesungguhnya Muhammad itu benar, dan mengajak kepada kebenaran, sedangkan kalian dan berhala-berhala ini semua adalah batil. Jika tidak beriman kepada Muhammad, kalian akan masuk neraka jahanam!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Mendengar patung itu bisa bicara, terkejutlah kaum kafir Quraisy Makkah. Apalagi kata-kata yang diucapkannya tidak sebagaimana yang mereka harapkan. Tak ayal, mereka pun bimbang. Bahkan beberapa di antara mereka, diam-diam, mulai mempercayai kenabian Muhammad SAW.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Abu Jahal, tokoh kafir Qurasy, murka. Ia segera mengangkat dan membanting berhala yang bisa bicara itu hingga hancur. Kepingan-kepingan itu diinjak-injaknya, bahkan kemudian sempat ia kumpulkan sisa-sisanya untuk dibakar. Melihat kejadian itu, Rasulullah SAW pun pulang dengan perasaan lega; sementara jin muslim Muhair bin Habbar, yang diganti namanya oleh Rasulullah dengan Abdullah bin Abhar, segera berlalu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;AST&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dari Abu Muhammad Al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib RA, Rasulullah SAW bersabda, “Jujur itu menimbulkan ketenangan, sedangkan dusta mengakibatkan kebimbangan.” (HR Tirmidzi)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;AK3.Mutiara Rasul.AST &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Terjebak ke Lubang Jebakan Sendiri&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Berkali-kali Abu Jahal gagal membunuh Rasulullah SAW. Ia lalu merencanakan membunuh beliau dengan menjebaknya ke dalam sebuah lubang yang dalam, tapi ia sendiri terperosok ke dalamnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Semalaman Abu Jahal menggali lubang di depan pintu masuk rumahnya. Begitu selesai, ia&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;menutupinya dengan ranting-ranting pohon kurma, dan menaburinya dengan rumput. Lalu, di atasnya lagi ia taburkan tanah tipis, sehingga tak seorang pun menyangka lubang itu merupakan jebakan. Jika ada orang menginjaknya, biarpun seorang anak kecil, pasti ia terjerembab ke dalamnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Setelah semua persiapan selesai, Abu Jahal menyuruh salah seorang pembantunya menemui Rasulullah SAW, mengabarkan bahwa ia sedang sakit. Ia lalu berbaring di tempat tidur, pura-pura sakit keras. Rasulullah SAW, yang mendengar Abu Jahal sakit keras, segera menjenguknya. Walaupun Abu Jahal selalu mengejek, mencaci maki, dan pernah berusaha membunuhnya, beliau tetap bersikap baik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dengan tenang dan berwibawa, Rasulullah SAW tanpa curiga sedikit pun melangkah. Ketika langkah beliau kira-kira tinggal sejengkal lagi dari jebakan itu, Rasulullah SAW dibisiki oleh Malaikat Jibril bahwa Abu Jahal telah mempersiapkan lubang jebakan yang hampir saja diinjaknya. Jibril juga menyarankan agar beliau pulang saja, mengurungkan niatnya menjenguk Abu Jahal, karena ia sebenarnya tidak sakit.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Mendengar saran Jibril itu, beliau pulang. Mengetahui Rasulullah SAW tidak jadi masuk ke rumahnya, tanpa pikir panjang ia segera melompat dari tempat tidur, bergegas mengejar Rasulullah SAW. “Hai, Muhammad! Kemarilah, kemari!” teriaknya berkali-kali. Dengan tergopoh-gopoh ia membuka pintu. Ia sama sekali lupa bahwa ia telah membuat jebatan di depan pintu rumahnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ketika kakinya menginjak jebakan yang dibuatnya sendiri itu, terdengarlah bunyi ranting-ranting kering yang terinjak, ”Kraaak...! Bum...!” Abu Jahal terperosok ke dalam lubang jebakan yang digalinya sendiri. Di dalamnya yang ada hanyalah suasana yang gelap dan pengap, sementara rasa sakit dan dongkol menjalar dari kakinya yang kekar ke sekujur tubuh. Tangannya mencoba menggapai bibir lubang, namun seluruh daya upayanya nihil. ”Tolong-tolong!” teriaknya berkali-kali. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Semakin Terperosok&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Mendengar teriakan minta tolong itu, beberapa pembantunya berdatangan mendekat ke arah lubang di depan pintu. Mereka melihat majikannya terpuruk ke dalam lubang yang gelap dan pengap itu. Maka beramai-ramailah mereka menolongnya. Tapi, usaha mereka sia-sia. Berbagai cara mereka tempuh, dengan tangga dan tali panjang, namun tetap tak tergapai oleh tangan Abu Jahal. Ia semakin dalam terperosok ke dalam lubang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Akhirnya Abu Jahal menyadari, keselamatan jiwanya terancam. Maka segeralah ia berteriak sekuat tenaga, “Pergilah kepada Muhammad! Mintalah ia menolongku! Sebab, tidak ada orang yang bisa menolongku kecuali dia.” Maka dengan langkah tergopoh-gopoh, salah seorang pembantunya menghadap Rasulullah SAW menyampaikan keadaan dan pesan majikannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dengan bijaksana, Rasulullah SAW memaklumi apa yang sedang terjadi. Bahkan beliau pun segara memaafkan, dan bersedia menolong Abu Jahal, yang berkali-kali telah berusaha mencelakakannya. Maka beliau pun bergegas ke rumah Abu Jahal. Ketika Rasulullah SAW tiba, Abu Jahal merengek, “Wahai Muhammad, jika engkau berhasil mengeluarkan aku, aku akan beriman kepada Allah dan Rasul-Nya!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Baiklah,” jawab Rasulullah SAW dengan nada suara yang halus dan berwibawa. Beliau lalu mengulurkan tangan kanannya ke dalam lubang yang sangat dalam itu. Dan Abu Jahal pun bisa keluar dari lubang jebakan yang dibuatnya sendiri, selamat tak kurang suatu apa. Berkat mukjizat dari Allah SWT, Rasulullah SAW mampu mengeluarkan Abu Jahal hanya dengan sekali angkat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Tapi, dasar gembong kafir. Rupanya hati Abu Jahal memang sudah tertutup dari hidayah. Begitu selamat, ia malah mengejek Rasulullah SAW, “Wah, hebat benar sihirmu, ya Muhammad!” Lalu, ia berlalu dari hadapan Rasulullah SAW. Beliau tetap bersabar. Tak lama kemudian Rasulullah SAW pun pulang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sampai di rumah, beliau menceritakan terperosoknya Abu Jahal ke dalam lubang jebakan buatannya sendiri kepada para sahabat, yang sejak tadi sudah berkumpul hendak mendengarkan tausiah Rasulullah SAW. Maka beliau pun bersabda, ”Barang siapa menggali lubang untuk mencelakakan saudaranya yang muslim, niscaya ia sendiri yang akan terperosok ke dalamnya.” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;AST &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dari Ibnu Umar RA, Rasulullah SAW bersabda, “Sesama muslim itu bersaudara. Barang siapa memperhatikan kepentingan saudaranya, Allah akan memperhatikan kepentingannya.” (HR Bukhari dan Muslim)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;AK1.Mutiara Rasul.AST&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Tanda-tanda Kiamat Kecil&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Apakah tanda-tanda kiamat kecil? Tanda-tanda itu pernah diungkapkan Rasulullah SAW dalam sebuah dialog yang menarik dengan Salman Al-Faisy.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Suatu saat, ketika menunaikan haji &lt;i&gt;wada’&lt;/i&gt;, sambil memegangi kiswah Ka’bah, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya di antara tanda-tanda kiamat ialah tidak dilaksanakannya salat, diikutinya syahwat, berkhianatnya para pemimpin, dan fasiknya para menteri.” Sahabat Salman Al-Farisy langsung menyeruak ke arah beliau. ”Demi ayah dan ibuku sebagai tebusan, wahai Rasulullah, apakah hal itu benar-benar akan terjadi?” tanyanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;”Benar, Salman. Saat itu kemungkaran menjadi kemakrufan dan kemakrufan menjadi kemungkaran,” jawab Rasul. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Apakah hal itu akan benar-benar terjadi?” tanya Salman lagi. “Benar. Saat itu hati orang mukmin larut dalam badannya, seperti garam larut dalam air, karena apa yang dilihatnya ia tidak mampu mengubahnya,” jawab Rasul.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Salman bertanya lagi, “Apakah hal itu akan benar-benar terjadi?” Rasul menjawab lagi, ”Benar. Saat itu pengkhianat dipercaya, orang yang dapat dipercaya dianggap berkhianat; para pendusta dianggap jujur, dan orang jujur dianggap dusta.” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Salman bertanya lagi, “Apakah hal itu itu akan terjadi?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Tanpa jemu, Rasul menjawab, “Benar. Sesungguhnya orang yang paling utama ialah orang mukmin yang berjalan di tengah segolongan orang yang dalam ketakutan. Jika dia berbicara, mereka akan memakannya, dan mati karena kemarahan dalam dirinya. Wahai Salman, suatu kaum tidak akan disucikan jika yang kuat memakan yang lemah.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Salman masih bertanya lagi, “Apakah yang demikian itu akan terjadi?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Benar. Saat itu orang kaya disanjung-sanjung, agama dijual dengan dunia, dunia dicari dengan amal akhirat. Laki-laki berhubungan dengan laki-laki, perempuan dengan perempuan. Mereka adalah bagian dari umatku yang dilaknat Allah SWT. Saat itu, umatku disusul dengan umat yang lain, badan mereka badan manusia namun hatinya hati setan. Jika umatku bicara, mereka dibunuh. Jika diam, darah mereka dihalalkan. Mereka tidak menyayangi anak kecil dan tidak menghormati orang dewasa. Alangkah buruknya perilaku mereka. Para muhrim digagahi, hukum dapat dibicarakan, wanita dijadikan pemimpin, para budak dimintai pendapat, anak kecil dipuja, tentara di mana-mana, orang laki-laki mengenakan perhiasan emas dan berzina, para penyanyi wanita bermunculan, Al-Quran dilagukan, orang hina lebih banyak angkat bicara.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Salman bertanya, ”Apa makna orang hina lebih banyak angkat bicara?” Rasul menjawab, ”Dia membicarakan masalah secara umum, padahal sebelumnya tidak pernah bicara.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Tanya Salman lagi, “Apakah hal itu akan terjadi?” Jawab Rasul, ”Benar. Saat itu masjid-masjid dihiasi aneka perhiasan seperti gereja dan biara. Mushaf Al-Quran dihiasi emas, mimbar dibuat lebar, banyak saf&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;tapi hati manusia saling berjauhan, dan perkataan mereka beraneka macam. Siapa yang diberi, bersyukur; siapa yang tidak diberi, kufur.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Apakah yang demikian itu akan terjadi?” lagi-lagi Salman bertanya. Rasul menjawab, “Benar. Saat itu datang para tawanan dari timur dan barat dari umatku. Kecelakaan bagi orang-orang lemah di antara mereka, dan kecelakaan dari Allah. Jika bicara, mereka dibunuh; jika diam, juga dibunuh. Mati dalam taat kepada Allah lebih baik daripada hidup dalam kedurhakaan.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Apakah yang demikian itu akan terjadi?” tanya Salman. ”Benar. Saat itu istri bersekutu dengan suami dalam urusan suami, seseorang durhaka kepada bapaknya, dan justru berbuat baik kepada temannya. Mereka mengenakan kulit domba di atas hati serigala, ulama mereka lebih buruk daripada bangkai.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Apakah yang demikian itu akan terjadi?” tanya Salman lagi, tak sabar. “Benar. Saat itu ibadah mereka hanya membaca lafaz ibadah tanpa kandungannya, mereka disebut orang-orang najis dan kotor di kerajaan langit dan bumi.” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Salman masih bertanya lagi, “Apakah yang demikian itu akan terjadi?” “Benar. Saat itu kitab suci dijadikan nyanyian, dilemparkan ke belakang punggung. Mereka tidak menegakkan hukum yang sudah ditetapkan Allah, mereka mematikan sunahku. Mereka menghidupkan bidah, tidak melakukan amar makruf dan nahi mungkar. Saat itu anak kecil dicemburui sebagaimana budak, anak kecil melamar sebagaimana melamar, wanita dan pasar-pasar saling berdekatan.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Salman masih penasaran, lalu katanya, ”Demi ayah dan ibuku sebagai tebusan, wahai Rasulullah, apa makna pasar saling berdekatan?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Rasul menjawab, ”Jika setiap orang berkata, ’Aku tidak menjual dan aku tidak membeli’ – padahal tidak ada yang memberi rezeki selain Allah – saat itu yang berkuasa adalah orang-orang jahat yang tidak memberikan hak kepada manusia dan mengisi hati mereka dengan ketakutan. Engkau tidak melihat kecuali orang yang ketakutan. Saat itu haji dielu-elukan, orang-orang terkenal menunaikan haji demi hawa nafsu, kelas menengah berhaji untuk berniaga, dan orang miskin berhaji untuk ria dan mencari nama.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Apakah yang demikian itu akan terjadi?” tanya Salman. “Benar, wahai Salman,” jawab Rasulullah SAW dengan mantap.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Disarikan oleh &lt;b&gt;AST &lt;/b&gt;dan &lt;b&gt;Ainul Yaqin &lt;/b&gt;dari kitab &lt;i&gt;Muhadharat al-Abrar&lt;/i&gt; karya Muhyidin Al-Araby yang dinukil oleh Ibnu Marduwaih, halaman 298 &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Hai anak Adam, ingat dan waspadalah bila Tuhan terus-menerus melimpahkan nikmat, sementara engkau terus-menerus mengerjakan maksiat terhadap-Nya.” (Ali bin Abi Thalib)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;AK23.Mutiara Rasul.AST&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Cinta Rasul pada Anak Yatim&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Barang siapa mencintai dan menyantuni anak-anak yatim, kelak akan hidup berdampingan bersamaku di surga.” (Al-Hadis).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Usai menunaikan salat Id dan bersalaman dengan para jemaah, Rasulullah SAW segera pulang. Di jalan pulang, dilihatnya anak-anak sedang bermain di halaman rumah penduduk. Mereka tampak riang gembira menyambut hari kemenangan setelah sebulan berpuasa. Pakaian mereka pun baru. Rasulullah SAW mengucap salam kepada mereka, dan serentak mereka langsung mengerubuti Rasul untuk bersalaman.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sementara itu, tak jauh dari sana, di pojok halaman yang tak terlampau luas, tampak seorang anak kecil duduk sendirian sambil menahan tangis. Matanya lebam oleh air mata, tangisnya sesenggukan. Ia mengenakan pakaian bekas yang sudah sangat kotor penuh tambalan di sana-sini. Compang-camping.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Melihat anak kecil yang tampak tak terurus itu, Rasulullah SAW segera bergegas menghampirinya. Dengan nada suara pelan penuh kebapakan, Rasulullah SAW bersabda,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;”Hai anak kecil, mengapa engkau menangis, tidak bermain bersama teman-temanmu?” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Rupanya anak itu belum tahu bahwa yang menyapanya adalah Rasulullah SAW.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dengan ekspresi wajah tanpa dosa, ia menjawab sambil menangis, ”Wahai laki-laki, ayahku telah meninggal dunia di hadapan Rasulullah SAW dalam sebuah peperangan. Lalu ibuku menikah lagi dan merebut semua harta warisan. Ayah tiriku sangat kejam. Ia mengusirku dari rumah. Sekarang aku kelaparan, tidak punya makanan, minuman, pakaian, dan rumah. Dan hari ini aku melihat teman-teman berbahagia, karena semua mempunyai ayah. Aku teringat musibah yang menimpa Ayah. Oleh karena itu, aku menangis.” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Seketika Rasulullah SAW tak kuasa menahan haru mendengar cerita sedih itu. Bulir-bulir air matanya membasahi mukanya yang suci dan putih bersih penuh kelembutan itu. Maka Rasulullah SAW pun lalu memeluknya, tanpa memedulikan bau dan kotornya pakaian anak itu, sambil mengusap-usap dan menciumi ubun-ubun kepalanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Lalu sabda Rasul, ”Hai anak kecil, maukah engkau sebut aku sebagai ayah, dan Aisyah sebagai ibumu, Ali sebagai pamanmu, Hasan dan Husein sebagai saudara laki-lakimu, Fatimah sebagai saudara perempuanmu?” Seketika raut wajah anak itu berubah cerah. Meski agak kaget, ia tampak sangat bahagia. ”Mengapa aku tidak mau, ya Rasulullah?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Hidup Berdampingan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Rasulullah SAW pun lalu membawanya pulang. Disuruhnya anak itu mandi, lalu diberikannya pakaian yang bagus dengan minyak wangi harum. Setelah itu, Rasulullah mengajaknya makan bersama. Lambat laun, kesedihan anak itu berubah menjadi kebahagiaan. Dan tak lama kemudian ia keluar dari rumah Rasul sembari tertawa-tawa gembira. Dan ia pun bermain bersama teman-teman sebayanya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;”Sebelumnya kamu selalu menangis. Mengapa sekarang kamu sangat gembira?” tanya teman-temannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dengan gembira anak itu menjawab, “Aku semula lapar, tapi sekarang sudah kenyang, dan sekarang berpakaian bagus. Sebelumnya aku yatim, sekarang Rasulullah adalah ayahku, Aisyah ibuku, Hasan dan Husein saudaraku, Ali pamanku, dan Fatimah saudara perempuanku. Nah, bagaimana aku tidak bergembira?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;”Seandainya ayah kami gugur di jalan Allah dalam peperangan itu, niscaya kami menjadi seperti dia,” kata beberapa kawannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Namun, kebahagiaan anak yatim itu tidak berlangsung lama. Tak lama berselang beberapa waktu setelah menunaikan haji wadak, Rasulullah SAW wafat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Sekarang aku menjadi anak yatim lagi,” katanya ambil keluar dari rumah Rasulullah dan menaburkan debu di kepalanya karena merasa sedih. Kata-kata anak itu kebetulan terdengar oleh Abubakar Ash-Shiddiq, yang berada tak jauh dari sana. Maka ia pun lalu ditampung di rumah Abubakar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Demikian sekelumit kisah kecintaan Rasulullah SAW kepada anak yatim di hari raya. Betapa di hari yang penuh kemenangan itu, hari raya menjadi hari yang menyedihkan – sementara nasib mereka banyak yang luput dari perhatian. Anak-anak yatim adalah makhluk yang senantiasa berpuasa dalam hidupnya, baik dalam memenuhi kebutuhan jasmani maupun rohani. Jangankan mengenakan pakaian baru, untuk makan sehari-hari saja sulit.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sungguh, memperlakukan dengan baik dan menyantuni anak yatim pada hari raya – dan tentu hari-hari biasa – merupakan langkah yang mulia dan terpuji. Dalam Islam, mereka yang menyantuni anak yatim niscaya mendapat penghargaan yang sangat tinggi. Sabda Rasul, ”Barang siapa menyantuni anak yatim, dia berada di surga bersamaku seperti ini (Rasulullah mempersandingkan jari telunjuk beliau dengan dan jari tengah).” Maksudnya, hidup berdampingan dengan Rasulullah SAW di surga...&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;&lt;b&gt;AST&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dari Abu Syuraih Khuwalid bin ‘Amr Al-Khuza’iy RA, Rasulullah SAW bersabda, “Saya menganggap berdosa orang yang menyia-nyiakan hak dua orang lemah: anak yatim dan wanita.” (HR An-Nasa’i)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;AK22.Mutiara Rasul.AST&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Menjaga Lisan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Manusia tidak dilemparkan ke neraka karena lehernya, tapi karena lisannya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;(Al-Hadis).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ketika Mu’adz bin Jabal diangkat sebagai gubernur Yaman, sebelum berangkat ia menghadap Rasulullah SAW. Maka Rasulullah pun menyampaikan pesan kepadanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;”Wahai Mua’adz, bertakwalah di mana saja kamu berada, dan hapuslah perbuatan jelek dengan kebaikan. Bergaullah dengan sebaik-baiknya pergaulan. Sungguh, aku sangat menyayangi kamu, maka jangan lupa kamu membaca doa berikut ini usai salat: Ya Allah, tolonglah aku agar selalu ingat dan bersyukur kepada-Mu, serta bisa memperbaiki ibadah kepada-Mu.” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Rasulullah menambahkan, ”Wahai Mu’adz, tahukah kamu, apa hak Allah terhadap hamba-Nya?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui,” jawab Mu’adz.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Hak Allah atas mereka ialah hendaknya mereka menyembah-Nya, dan jangan menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Tahukah kamu, apa hak hamba kepada Allah?” tanya Rasulullah SAW lagi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui,” jawab Mu’adz lagi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Hak mereka terhadap Allah ialah Allah tidak akan menyiksa mereka. Sebab, pangkal dari semua perkara ialah Islam. Tiangnya adalah salat, dan rangkaiannya adalah jihad di jalan Allah.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Wahai Mu’adz, maukah kamu aku beri tahu pintu-pintu kebaikan? Puasa adalah benteng, sedekah dapat menghilangkan kesalahan seperti air memadamkan api. Demikian pula bangunnya seseorang di waktu tengah malam (untuk beribadah),” sabda Rasulullah lagi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kemudian Rasulullah SAW membacakan Al-Quran surah As-Sajdah ayat 16-17, ”Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Tak seorang pun mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka, yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan bagi apa yang telah mereka kerjakan.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Lalu Rasulullah SAW bersabda lagi, ”Wahai Mu’adz, maukah kamu aku beri tahu sesuatu yang harus kamu miliki lebih dari semua itu?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui,” jawab Mu’adz.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Jagalah lisanmu,” jawab Rasulullah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sambil memegang lisannya, Mu’adz berkata, ”Wahai Rasulullah, aku sudah berhati-hati dalam bercakap dengan lisan.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Wahai Mu’adz, ibumu telah melatih dan mendidikmu. Manusia tidak dilemparkan ke neraka karena lehernya, tapi karena lisannya,” sabda Rasulullah SAW mengakhiri pesannya kepada Mu’adz.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Betapa pentingnya kita menjaga lisan (dari ucapan yang sia-sia atau omongan buruk). Perhatikanlah hadis riwayat Bukhari dan Muslim ini, “Orang yang percaya kepada Allah dan hari kiamat, hendaklah berkata baik, atau diam.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;AST&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Orang-orang yang suka melaknat tidak akan pernah menjadi syuhada, dan tidak dapat memberi syafaat kepada siapa pun pada hari kiamat kelak.” (Muhammad SAW)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;AK21.Mutiara Rasul.AST&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ajaran Rasul tentang Zakat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Rasulullah SAW dengan sabar mengajar para sahabat. Antara lain tentang kewajiban berzakat bagi pemilik hewan ternak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Suatu hari Rasulullah SAW mengajarkan kewajiban berzakat kepada para sahabat. ”Seseorang yang mempunyai emas dan perak, namun tidak mengeluarkan zakat, di hari kiamat emas dan perak itu akan dibentuk menjadi lempengan-lempengan dan dibakar di neraka jahanam lantas disetrikakan pada pinggang, dahi, dan punggung pemiliknya.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Rasulullah SAW melanjutkan, ”Siksaan itu diulang kembali dalam sehari semalam, yang setara dengan 50.000 tahun, sehingga putusan semua orang selesai. Setelah itu ia baru tahu ke mana ia akan dimasukkan, ke surga atau ke neraka.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;”Wahai Rasulullah, bagaimana kalau memiliki unta?” tanya seorang sahabat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Begitu juga orang yang mempunyai unta tetapi tidak mengeluarkan zakat. Di antara zakat unta ialah memerah susunya untuk diberikan kepada orang-orang yang lewat. Pada hari kiamat nanti, ia akan diinjak-injak dan digigit secara bergantian oleh sekelompok besar unta di sebidang lapangan selama satu hari yang lamanya 50.000, hingga selesai putusan semua orang. Kemudian ia baru tahu ke mana akan dimasukkan, ke surga atau neraka,” jawab Rasulullah SAW.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;”Wahai Rasulullah, bagaimana kalau memiliki lembu dan kambing?” tanya sahabat yang lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;”Begitu juga orang yang memiliki lembu dan kambing yang tidak membayar zakat. Pada hari kiamat nanti ia akan diinjak-injak dan diseruduk secara bergantian oleh segerombolan besar kambing dan lembu di sebidang tanah lapang dalam masa satu hari yang lamanya 50.000 tahun hingga selesai putusan semua orang. Kemudian ia baru tahu ke mana akan dimasukkan, ke surga atau neraka.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;”Wahai Rasulullah, bagaimana kalau memiliki kuda?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dengan sabar Rasulullah SAW melayani pertanyaan para sahabatnya, ”Kuda punya tiga fungsi: yang dapat mendatangkan dosa, dapat menutupi hajat, dan dapat mendatangkan pahala bagi pemiliknya. Kuda yang mendatangkan dosa ialah yang dipelihara sebagai sarana bersombong, bangga, dan memusuhi Islam. Kuda yang dapat menutupi hajat ialah yang digunakan untuk kepentingan yang diridai Allah, dan tidak melupakan hak dan kewajiban pemeliharaannya.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Rasulullah SAW melanjutkan, “Adapun kuda yang mendatangkan pahala ialah yang digunakan untuk berjuang di jalan Allah dan untuk kepentingan Islam. Kuda seperti itu, jika dilepas di tanah lapang atau kebun kemudian makan sesuatu, dicatat sebagai kebaikan bagi pemiliknya. Bahkan kotoran dan air kencingnya dicatat sebagai kebaikan.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Rasulullah SAW melanjutkan lagi, “Jika kuda itu terlepas dari tali kekangnya, kemudian lari atau meloncat-loncat, bilangan langkahnya dicatat Allah SWT sebagai kebaikan bagi pemiliknya. Jika dibawa oleh pemiliknya melewati sungai lantas minum air sungai itu, padahal pemiliknya tidak bermaksud memberinya minum, Allah SWT mencatat air yang diminum sebagai kebaikan bagi pemiliknya.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;”Wahai Rasulullah, bagaimana kalau memiliki keledai?” tanya sahabat yang lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dengan sangat sabar Rasulullah SAW menjawab, ”Tentang keledai, tidak diturunkan kepadaku ayat yang menjelaskannya, kecuali yang bersifat umum, yaitu: &lt;i&gt;Faman ya’mal mitsqala dzarratin khairan yarah, waman ya’mal mitsqala dzarratin syarran yarah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat atom, ia akan melihat balasannya; dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat atom, ia akan melihat balasannya pula.” (Riwayat Bukhari).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Beberapa waktu kemudian, seorang Badui datang kepada Rasulullah SAW dan berkata, ”Wahai Rasulullah, tunjukkan kepadaku amal perbuatan yang bila saya kerjakan masuk surga.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dengan sabar pula beliau menjawab, ”Hendaklah kamu menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, mendirikan salat, menunaikan zakat, dan berpuasa di bulan Ramadan.” Orang Badui itu lalu berkata, ”Demi Zat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, sungguh aku tidak akan menambah-nambahi ketentuan ini.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ketika orang Badui itu pergi, Rasulullah SAW bersabda, ”Barang siapa ingin melihat ahli surga, lihatlah orang Badui itu!”&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;AST&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, “Sedekah tidak akan mengurangi harta.” (HR Muslim)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ak20.Mutiara Rasul.AST&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Keutamaan Bulan Ramadan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Bagi mereka yang berpuasa di bulan Ramadan, pintu surga dibuka dan pintu neraka ditutup.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Suatu hari Rasulullah SAW ditanya tentang keutamaan bulan Ramadan. Dengan senang hati beliau menerangkan kepada para sahabat yang berkumpul di rumahnya. Inilah cerita Rasulullah SAW, “Sesungguhnya surga itu wangi, dan selalu dihiasi dari tahun ke tahun. Bila malam pertama bulan Ramadan datang, bertiuplah angin Al-Muthsirah dari surga Arsy. Embusan angin itu membuat daun-daun di pepohonan surga saling bergesekan dan menimbulkan dengungan sangat indah yang belum pernah didengar manusia. Kemudian muncul para bidadari di halaman surga dan memanggil-manggil: Adakah orang yang memohon kepada Allah, agar dia menikahkan daku dengannya?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Lalu para bidadari itu bertanya kepada Malaikat Ridwan penjaga surga, “Malam apakah ini?” Jawab Malaikat Ridwan, “Ini adalah malam pertama bulan Ramadan.” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Setelah itu pintu-pintu surga dibuka untuk umat Muhammad yang berpuasa. Allah SWT lalu memerintahkan Malaikat Ridwan membuka pintu surga dan Malaikat Malik menutup pintu neraka. Sedang Malaikat Jibril diperintahkan turun ke bumi, “Rantailah setan-setan, belenggulah mereka. Lemparkan mereka ke lautan agar tidak mengganggu puasa umat Muhammad, kekasihku.” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Rasulullah SAW lalu mengingatkan kepada para sahabat bahwa, pada setiap malam Ramadan, Allah SWT selalu mengerahkan malaikat untuk mencatat amalan manusia yang berpuasa, sebagaimana firman-Nya dalam sebuah hadis qudsi, “Aku akan penuhi permohonan mereka yang memohon; Aku akan terima tobat mereka yang bertobat; Aku akan mengampuni mereka yang mohon ampun. Dan siapa yang memberi pinjaman kepada Zat Yang Mahakaya, ia tidak akan kekurangan, karena Zat yang memenuhi janji tanpa menganiaya.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Para sahabat tertegun mendengar pernyataan Rasulullah SAW itu. Lalu beliau melanjutkan, ”Ketika berbuka puasa, Allah SWT membebaskan sejuta roh, dan hal itu berlangsung hingga akhir Ramadan.” Dan bila tiba malam Lailatulkadar, Allah SWT memerintahkan Malaikat Jibril turun ke bumi bersama serombongan malaikat. Mereka membawa bendera hijau dan menancapkannya di puncak Ka’bah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Malaikat Jibril memiliki 100 sayap, dua sayap di antaranya tak pernah dibentangkan kecuali hanya pada malam Lailatulkadar. Jika kedua sayapnya dibentangkan, luasnya meliputi Timur dan Barat. Kemudian ia menyerukan kepada para malaikat agar memberi salam kepada orang-orang yang beribadah dan berzikir. Para melaikat menjabat tangan dan mengamini doa mereka sampai terbit fajar. Ketika fajar terbit, Jibril menyeru para malaikat, “Wahai para malaikat, berpencarlah!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Para malaikat bertanya,”Wahai Jibril, apa yang yang akan Allah perbuat? Apakah sehubungan dengan hajat orang-orang mukmin dari umat Muhammad SAW?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Jibril menjawab, ”Allah memandang mereka pada malam itu, dan memaafkan mereka, kecuali empat golongan.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Penerimaan Hadiah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Siapakah mereka itu, ya Rasulullah?” tanya para sahabat. Beliau menjawab, ”Mereka adalah orang yang meminum arak, yang durhaka kepada orangtua, yang memutus tali silaturahmi, dan yang memusuhi sesama manusia.” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Tapi para sahabat belum puas, kemudian kembali bertanya, ”Ya Rasulullah, siapakah yang memusuhi sesama manusia?” Jawab Rasul, “Mereka adalah orang yang membenci dan memutuskan silaturahmi.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Setelah itu beliau menggambarkan kondisi malam Hari Raya Idulfitri. “Malam itu disebut malam &lt;i&gt;Jai’zah &lt;/i&gt;(malam penerimaan hadiah). Ketika tiba hari raya esok harinya, Allah mengutus para malaikat ke setiap negeri di bumi. Mereka memenuhi jalan-jalan dan menyeru dengan suara yang terdengar oleh semua makhluk, kecuali jin dan manusia.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Para malaikat berseru, ”Wahai umat Muhammad! Keluarlah menuju Allah, Yang Mahamulia, yang akan mengaruniakan hadiah dan menghapuskan dosa-dosa besar.” Dan apabila mereka datang ke musala, Allah SWT berfirman kepada para malaikat, ”Apakah balasan bagi seorang pekerja apabila ia telah menyelesaikan pekerjaannya?” Jawab para malaikat, ”Wahai Rabb kami, balasan mereka adalah upah mereka sepenuhnya.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Menurut Rasulullah SAW, gambaran tentang semua itu sesuai dengan firman Allah (dalam hadis qudsi), ”Sesunguhnya Aku menjadikan kalian saksi, wahai para malaikat-Ku, bahwa sesungguhnya Aku telah memberikan rida dan ampunan-Ku sebagai balasan karena puasa dan Tarawih mereka di bulan Ramadan.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Allah SWT berseru, ”Wahai hamba-hamba-Ku, mohonlah kepada-Ku. Maka demi kemuliaan-Ku dan kebesaran-Ku, tidaklah kamu meminta sesuatu kepada-Ku di pertemuan ini untuk akhiratmu kecuali Aku akan memberimu. Tidak juga untuk keperluan duniamu, kecuali Aku akan memandang kemaslahatanmu. Maka demi kemuliaan-Ku, sungguh Aku akan tutupi kesalahan-kesalahanmu selama kalian takut kepada-Ku. Demi kemuliaan-Ku dan keagungan-Ku, Aku tidak akan menghinakan kalian dan tidak akan Aku perlihatkan aib-aibmu di depan orang-orang yang melanggar batas. Bertebaranlah kalian dengan membawa ampunan. Sungguh, kalian telah rida kepada-Ku dan Aku pun telah rida kepada kalian.” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Mendengar jawaban Allah SWT (dalam hadis qudsi tersebut), para malaikat pun bersuka cita. Lalu Rasulullah SAW melanjutkan, ”Ini menandakan bahwa Allah SWT telah memberi karunia kepada umat Muhammad SAW saat mereka sedang merayakan Idulfitri. Itu sebabnya, para malaikat bersuka cita karena ingin seperti mereka. Wajarlah para malaikat senantiasa bermohon kepada Allah SWT agar bisa dijadikan seperti umat Muhammad SAW. Ini tercermin dalam munajat para malaikat, ”Ya Allah, jadikanlah kami seperti umat Muhammad SAW.” (HR Ibnu Hibban). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Luar biasa! Para malaikat ingin seperti manusia yang mendapat prioritas utama untuk bisa meraih keutamaan bulan Ramadan. Maka selayaknyalah jika kita, manusia, bersungguh-sunguh beribadah di bulan Ramadan. Mari kita sambut bulan Ramadan dengan memperbanyak ibadah dan meraih keutamaan-keutamaannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;AST &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dari Abu Hurairah RA, Nabi Muhammad SAW bersabda, “Barang siapa yang berpuasa pada bulan Ramadan dengan penuh keimanan dan hanya mengharapkan rida Allah SWT, diampunilah dia atas dosanya yang lalu.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;AK19.Mutiara Rasul.AST&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ancaman Melalaikan Salat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Barang siapa melalaikan salat, Allah SWT akan menyiksanya dengan 15 siksaan. Enam siksaan di dunia, tiga siksaan ketika meninggal, tiga siksaan di alam kubur, tiga siksaan saat bertemu dengan Allah SWT.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ketika Malaikat Jibril turun dan berjumpa dengan Rasulullah SAW, ia berkata, “Wahai Muhammad, Allah tidak akan menerima puasa, zakat, haji, sedekah, dan amal saleh seseorang yang meninggalkan salat. Ia dilaknat di dalam Taurat, Injil, Zabur, dan Al-Quran. Demi Allah, yang telah mengutusmu sebagai nabi pembawa kebenaran, sesungguhnya orang yang meninggalkan salat, setiap hari mendapat 1.000 laknat dan murka. Para malaikat melaknatnya dari langit pertama hingga ketujuh.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Orang yang meninggalkan salat tidak memperoleh minuman dari telaga surga, tidak mendapat syafaatmu, dan tidak termasuk dalam umatmu. Ia tidak berhak dijenguk ketika sakit, diantarkan jenazahnya, diberi salam, diajak makan dan minum. Ia juga tidak berhak memperoleh rahmat Allah. Tempatnya kelak di dasar neraka bersama orang-orang munafik, siksanya akan dilipatgandakan, dan di hari kiamat ketika dipanggil untuk diadili akan datang dengan tangan terikat di lehernya. Para malaikat memukulinya, pintu neraka jahanam akan dibukakan baginya, dan ia melesat bagai anak panah ke dalamnya, terjun dengan kepala terlebih dulu, menukik ke tempat Qorun dan Haman di dasar neraka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ketika ia menyuapkan makanan ke dalam mulutnya, makanan itu berkata, ‘Wahai musuh Allah, semoga Allah melaknatmu, kamu memakan rezeki Allah namun tidak menunaikan kewajiban-kewajiban dari-Nya.’ Ketahuilah, sesungguhnya bencana yang paling dahsyat, perbuatan yang paling buruk, dan aib yang paling nista adalah kurangnya perhatian terhadap salat lima waktu, salat Jumat, dan salat berjemaah. Padahal, semua itu ibadah-ibadah yang oleh Allah SWT ditinggikan derajatnya, dan dihapuskan dosa-dosa maksiat bagi siapa saja yang menjalankannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Orang yang meninggalkan salat karena urusan dunia akan celaka nasibnya, berat siksanya, merugi perdagangannya, besar musibahnya, dan panjang penyesalannya. Ia dibenci Allah, dan akan mati dalam keadaan tidak Islam, tinggal di neraka Jahim atau kembali ke neraka Hawiyah.” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Lalu Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa meninggalkan salat hingga terlewat waktunya, lalu mengadanya, ia akan disiksa di neraka selama satu &lt;i&gt;huqub&lt;/i&gt; (80 tahun). Sedangkan ukuran satu hari di akhirat adalah 1.000 tahun di dunia.” Demikian tertulis dalam kitab &lt;i&gt;Majalisul Akbar&lt;/i&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;Sementara dalam kitab &lt;i&gt;Qurratul Uyun,&lt;/i&gt; Abu Laits Samarqandi menulis sebuah hadis, “Barang siapa meninggalkan salat fardu dengan sengaja walaupun satu salat, namanya akan tertulis di pintu neraka yang ia masuki.” Ibnu Abbas berkata, ”Suatu ketika Rasulullah SAW bersabda, ‘Katakanlah, ya Allah, janganlah salah seorang dari kami menjadi orang-orang yang sengsara.’ Kemudian Rasulullah SAW bertanya, ‘Tahukah kamu siapakah mereka itu?’ Para sahabat menjawab, ‘Mereka adalah orang yang meninggalkan salat. Dalam Islam mereka tidak akan mendapat bagian apa pun’.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Shirathal Mustaqim&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Disebutkan dalam hadis lain, barang siapa meninggalkan salat tanpa alasan yang dibenarkan syariat, pada hari kiamat Allah SWT tidak akan memedulikannya, bahkan Allah SWT akan menyiksanya dengan azab yang pedih. Diriwayatkan, pada suatu hari Rasulullah SAW berkata, ”Katakanlah, ya Allah, janganlah Engkau jadikan seorang pun di antara kami celaka dan diharamkan dari kebaikan.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Tahukah kalian siapakah orang yang celaka, dan diharamkan dari kebaikan?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Siapa, ya, Rasulullah?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Orang yang meninggalkan salat,” jawab Rasulullah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dalam hadis yang berhubungan dengan peristiwa Isra Mikraj, Rasulullah SAW mendapati suatu kaum yang membenturkan batu ke kepala mereka. Setiap kali kepala mereka pecah, Allah memulihkannya seperti sedia kala. Demikianlah mereka melakukannya berulang kali. Lalu, beliau bertanya kepada Jibril, “Wahai Jibril, siapakah mereka itu?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Mereka adalah orang-orang yang kepalanya merasa berat untuk mengerjakan salat,” jawab Jibril.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Diriwayatkan pula, di neraka Jahanam ada suatu lembah bernama Wail. Andaikan semua gunung di dunia dijatuhkan ke dalamnya akan meleleh karena panasnya yang dahsyat. Wail adalah tempat orang-orang yang meremehkan dan melalaikan salat, kecuali jika mereka bertobat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Bagi mereka yang memelihara salat secara baik dan benar, Allah SWT akan memuliakannya dengan lima hal, dihindarkan dari kesempitan hidup, diselamatkan dari siksa kubur, dikaruniai kemampuan untuk menerima kitab catatan amal dengan tangan kanan, dapat melewati jembatan &lt;i&gt;shirathal mustaqim&lt;/i&gt; secepat kilat, dan dimasukkan ke dalam surga tanpa hisab.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dan barang siapa meremehkan atau melalaikan salat, Allah SWT akan menyiksanya dengan 15 siksaan. Enam siksaan di dunia, tiga siksaan ketika meninggal, tiga siksaan di alam kubur, dan tiga siksaan saat bertemu dengan Allah SAW.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Adapun enam siksaan yang ditimpakan di dunia adalah dicabut keberkahan umurnya, dihapus tanda kesalehan dari wajahnya (pancaran kasih sayang terhadap sesama), tidak diberi pahala oleh Allah semua amal yang dilakukannya, doanya tidak diangkat ke langit, tidak memperoleh bagian doa kaum salihin, dan tidak beriman ketika roh dicabut dari tubuhnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Adapun tiga siksaan yang ditimpakan saat meninggal dunia ialah mati secara hina, mati dalam keadaan lapar, dan mati dalam keadaan haus. Andai kata diberi minum sebanyak lautan, ia tidak akan merasa puas. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sedangkan tiga siksaan yang didapat dalam kubur ialah, kubur mengimpitnya hingga tulang-belulangnya berantakan, kuburnya dibakar hingga sepanjang siang dan malam tubuhnya berkelojotan menahan panas, tubuhnya diserahkan kepada seekor ular bernama&lt;i&gt; &lt;/i&gt;Asy&lt;i&gt;-&lt;/i&gt;Syujaul&lt;i&gt; &lt;/i&gt;Aqra.&lt;i&gt; &lt;/i&gt;Kedua mata ular itu berupa api dan kukunya berupa besi, kukunya sepanjang satu hari perjalanan. ”Aku diperintahkan oleh Allah SWT untuk menyiksamu, karena engkau mengundurkan salat Subuh hingga terbit matahari, mengundurkan salat Zuhur hingga Asar, mengundurkan salat Asar hingga Magrib, mengundurkan salat Magrib hingga Isya, dan mengundurkan salat Isya hingga Subuh,” kata ular itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Setiap kali ular itu memukul, tubuh mayat tersebut melesak 70 hasta, sekitar 3.000 meter, ke dalam bumi. Ia disiksa dalam kubur hingga hari kiamat. Di hari kiamat, di wajahnya akan tertulis&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kalimat berikut: &lt;i&gt;Wahai orang yang mengabaikan hak-hak Allah, wahai orang yang dikhususkan untuk menerima siksa Allah, di dunia kau telah mengabaikan hak-hak Allah, maka hari ini berputus asalah kamu dari rahmat-Nya.&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Adapun tiga siksaan yang dilakukan ketika bertemu dengan Allah SWT adalah, pertama, ketika langit terbelah, malaikat menemuinya, membawa rantai sepanjang 70 hasta untuk mengikat lehernya. Kemudian memasukkan rantai itu ke dalam mulut dan mengeluarkannya dari duburnya. Kadang kala ia mengeluarkannya dari bagian depan atau belakang tubuhnya. Malaikat itu berkata, ”Inilah balasan bagi orang yang mengabaikan kewajiban-kewajiban yang telah ditetapkan Allah.” Ibnu Abas berkata, ”Andai kata satu mata rantai itu jatuh ke dunia, niscaya cukup untuk membakarnya.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kedua, Allah tidak memandangnya. Ketiga&lt;i&gt;, &lt;/i&gt;Allah tidak menyucikannya, dan ia memperoleh siksa yang amat pedih.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Demikianlah ancaman bagi orang-orang yang sengaja melalaikan salat. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat-Nya kepada orang yang bersegera menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya. Amin.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;AST &lt;i&gt;&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Rasulullah SAW bersabda, “Sembahlah Allah seakan engkau melihat-Nya. Apabila engkau tidak dapat melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR Bukhari dan Muslim)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;AK17.Mutiara Rasul.AST&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Keutamaan Salat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Selain sebagai penghapus dosa, salat juga mengandung rahmat, kelembutan, dan kemurahan Allah SWT.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Suatu hari, di musim dingin, Rasulullah SAW keluar dari rumah dan mengambil ranting sebatang pohon sehingga daun-daunnya berguguran. Rasul memanggil Abu Dzar, sahabat, yang menyertai beliau.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“&lt;i&gt;Labbaik,&lt;/i&gt; &lt;i&gt;ya&lt;/i&gt; &lt;i&gt;Rasulullah&lt;/i&gt;,” jawab Abu Dzar. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Sesungguhnya seorang muslim, jika menunaikan salat dengan ikhlas karena Allah, dosa-dosanya akan berguguran seperti gugurnya daun-daun ini dari pohonnya,” sabda Rasulullah SAW.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Dalam hadis yang lain, Abu Hurairah berkata, ”Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Bagaimana pendapat kalian jika di depan rumah kalian ada sebuah sungai yang mengalir dan kalian mandi di dalamnya lima kali sehari? Apakah akan tersisa kotoran di tubuh kalian?’ Mereka menjawab, ‘Tidak akan tersisa kotoran di tubuh kami sedikit pun.’ Lalu Rasulullah SAW bersabda, ‘Begitulah perumpamaan salat lima waktu. Allah akan menghapuskan dosa-dosa kita’.” (HR Bukhari, Muslim, Tirmidzi, dan Nasa’i).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Selain sebagai jalan penghapusan dosa, salat juga mengandung rahmat, kemurahan, dan kelembutan Allah SWT yang berlimpah. Hanya karena kebodohan kita sendirilah kita tidak memanfaatkan salah satu dari kemurahan Allah itu. Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda, ”Seseorang yang ketika hendak tidur berniat melaksanakan salat Tahajud tapi kemudian tertidur, dia mendapatkan pahala salat Tahajud.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Karena kandungan rahmat Allah SWT yang begitu besar, jika mengalami kesulitan Rasulullah SAW segera melaksanakan salat (HR Ahmad dan Abu Dawud). Maka, jika seseorang bersegera mengerjakan salat ketika mengalami kesusahan, sesungguhnya dia sedang menuju rahmat Allah SWT. Jika rahmat Allah datang dan membantu, kesusahan apa lagi yang tersisa?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Kisah keutamaan salat juga terungkap dalam cerita Ummu Kultsum. Suatu hari Abdurahman, anaknya, menderita sakit parah, sehingga semua orang khawatir ia akan segera meninggal. Maka Ummu Kultsum pun melaksanakan salat. Segera setelah itu Abdurrahman sadar kembali, lalu bertanya kepada orang-orang di sekelilingnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Apakah keadaan saya menunjukkan seolah-olah telah meninggal?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Ya!” jawab mereka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Dalam hadis lain, Abdullah bin Salam berkata, apabila keluarga Rasulullah SAW sedang tertimpa kesusahan, beliau memerintahkan melaksanakan salat sambil membaca ayat 132 surah Thaha: &lt;i&gt;Wamru ahlaka bishshalati wash thabir ‘alaiha, la nasaluka rizqan, nahnu narzuquka. Wal ‘aqibatu littaqwa &lt;/i&gt;(Perintahkanlah keluargamu melaksanakan salat dan bersabarlah. Kami tidak minta rezeki kepadamu, bahkan Kami-lah yang memberi rezeki. Dan akibat yang baik itu bagi orang-orang yang bertakwa).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Sementara, menurut Asma binti Abubakar, kakak Aisyah, istri Rasul, Rasulullah SAW bersabda, ”Pada hari kiamat seluruh manusia akan dikumpulkan di satu tempat, dan suara yang diumumkan oleh malaikat didengar oleh seluruh manusia. Ketika itu diumumkan, di manakah orang-orang yang selalu memuji Allah dalam setiap keadaan, baik ketika senang maupun susah?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Mendengar seruan itu, sebuah rombongan manusia berdiri lalu masuk ke dalam surga tanpa hisab. Kemudian diumumkan lagi, “Di manakah orang-orang yang menghabiskan waktu malamnya dengan beribadah dan lambung mereka jauh dari tempat tidur?” Maka sebuah rombongan berdiri lalu masuk surga tanpa hisab. Lalu terdengar seruan berikutnya, ”Di manakah orang-orang yang dalam perniagaannya tidak melalaikan mengingat Allah?” Maka sebuah rombongan berdiri dan masuk surga tanpa hisab.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Tidakkah kita ingin menjadi anggota rombongan yang masuk surga tanpa hisab? Untuk bisa menjadi anggota rombongan yang bisa langsung masuk ke surga tanpa hisab, kita harus menyempurnakan salat. Bukan sekadar menunaikan salat sebagai kewajiban, tapi berusaha meraih puncak-puncak kenikmatan cinta dan rahmat Allah SWT, sehingga mendapat limpahan taufik dan karunia-Nya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;AST&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kata Mutiara&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dari Abu Tsurayyah Sabrah bin Ma’bad Al-Juhanniy RA, Rasulullah SAW bersabda, “Ajarilah anakmu mengerjakan salat apabila berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka karena meninggalkan salat apabila sudah berumur sepuluh tahun.” (HR Abu Dawud dan Tirmidzi)&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;AK16.Mutiara Rasul.AST&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Salat Malam Sepanjang Malam&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Jelaskan kepadaku sesuatu yang luar biasa mengenai salat Rasulullah,” tanya seseorang kepada Aisyah. ”Tidak ada sesuatu yang biasa mengenai beliau. Segala sesuatu yang dilakukannya luar biasa,” jawabnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Pada suatu malam Rasulullah SAW berbaring-baring bersama istrinya, Aisyah. Beberapa saat kemudian beliau berkata, ”Biarkanlah aku beribadah kepada Allah.” Kemudian beliau bangun, mengambil air wudu, lalu mendirikan salat. Sejak berdiri salat, beliau menangis terus hingga air matanya membasahi seluruh dadanya. Dalam rukuk, beliau pun menangis, demikian pula ketika sujud, dan setelah bangun dari sujud. Demikian seterusnya hingga Bilal mengumandangkan azan Subuh.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Aisyah kemudian memberanikan diri bertanya kepada Rasulullah, ”Ya Rasulullah, mengapa engkau menangis, padahal Allah SWT telah menghapuskan semua dosamu yang terdahulu dan yang kemudian, dan menjanjikan ampunan untukmu?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;”Apakah tidak sepantasnya aku menjadi hamba Allah yang bersyukur?” jawab Rasulullah SAW, sembari mengutip ayat Al-Quran, “Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang, terdapat tanda-tanda bagi mereka yang berakal, yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, dan berbaring; dan mereka memikirkan kejadian langit dan bumi lalu berkata, ‘Wahai Tuhan kami, tidaklah Engkau menjadikan ini dengan sia-sia, maka lindungilah kami dari siksa api neraka’.” (QS Ali Imran:190-191).&lt;i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Mughirah Ibnu Syu’bah, diceritakan, Nabi Muhammad SAW mendirikan salat malam sepanjang malam. Demikian lama beliau berdiri dalam salat, sehingga kaki beliau bengkak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sebagian sahabat bertanya, ”Wahai Rasulullah, mengapa engkau begitu bersusah payah mendirikan salat, padahal Allah SWT telah mengampunimu atas segala dosamu?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Rasulullah menjawab, ”Tidakkah sepatutnya aku menjadi hamba yang bersyukur?” (HR Bukhari dan Abu Salamah).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Rasulullah SAW lama berdiri dalam salat, karena beliau membaca paling tidak empat surah Al-Quran. Ini diceritakan oleh Awf ibn Malik, ”Suatu hari aku berdua bersama Nabi. Setelah bersiwak dan wudu, beliau berdiri mengerjakan salat, dan aku pun salat bersama beliau. Pada rakaat pertama beliau membaca surah Al-Baqarah. Apabila membaca ayat-ayat mengenai nikmat dan karunia Allah, beliau memohon rahmat kepada Allah SWT. Dan bila membaca ayat tentang azab Allah, beliau memohon ampunan serta perlindungan. Rukuk dan sujud beliau sama lamanya dengan berdirinya. Dalam rukuk, beliau membaca &lt;i&gt;Subhaana dzil jabaruuti wal malakuuti wal ’azhamah&lt;/i&gt; (Mahasuci Allah, yang memiliki keperkasaan, kebesaran, dan kemuliaan). Setelah itu, beliau berdiri untuk rakaat kedua, lalu membaca surah Ali Imran.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Demikian seterusnya, beliau membaca satu surah pada setiap rakaat. Jadi, dalam empat rakaat, beliau membaca empat surah yang berarti sama dengan seperlima Al-Quran.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;
