26.2.06

Ustaz H.M. Jefri Al-Bukhari bin H Ismail Modal (Tamu Kita 2)

Ustadz H.M. Jefri Al-Bukhari bin H Ismail Modal

Di Puncak, Beroleh Hidayah

Sejak usia remaja, dunia hitam telah dirambahnya. Beruntung, Allah masih menyayanginya. Dari tempat gelap, ia diangkat dan ditempatkan dalam kemilau cahaya hidayah.
Puncak, Bogor, penghujung tahun 1999. Seorang pria muda tersentak bangun dari tidurnya dengan wajah pucat pasi. Napasnya tersengal dan keringat membanjiri sekujur tubuhnya. Terlintas jelas di benaknya kejadian mahadahsyat yang baru saja dilihatnya dalam mimpi. Air laut mendidih dan menggelegak menerjang daratan yang telah porak poranda dilanda gempa dan gunung meletus. Jutaan manusia berlarian kian kemari, kebingungan. Malam itu, untuk kesekian kalinya ia mengalami mimpi yang mencekam, kiamat.Mimpi kiamat itu melengkapi mimpi-mimpi buruk lain yang belakangan selalu membuatnya gelisah. Sebelumnya, pria tampan berusia 27 tahun itu telah sangat tersiksa dengan gambaran kematian, siksa kubur, dan kehampaan putih yang menghantui tidurnya. Dengan jelas ia melihat dirinya sendiri dimandikan, dibalut kain kafan, dan disalati. Ia juga melihat dirinya digotong tetangga dan sanak keluarganya menuju kuburan, ditimbuni tanah dan ditinggal sendirian. Meski dalam mimpi, badannya ikut merasakan pedih saat tanah di kiri-kanannya bergerak mengimpit. Dan, lagi-lagi, ia terbangun dan berteriak-teriak ketakutan.“Mungkin semua itu bagian dari azab Allah, atas semua dosa yang telah saya perbuat,” kenang pria yang kini kerap menghias layar kaca sebagai seorang pendakwah ini.Ketika siksaan psikis itu mencapai puncaknya, antara sadar dan tidak, pemuda itu mengambil kertas dan melukis dirinya sedang berceramah. “Di bagian belakang, tampak spanduk bertuliskan La ilaha ilallah,” kenangnya haru. Peristiwa itulah yang kemudian menjadi titik balik seorang Jefri Al-Bukhari, dari kehidupannya yang gelap-gulita berganti cahaya hidayah yang kilau kemilau.
Anak UstazTerlahir dari pasangan Mubalig Ustaz H. Ismail Modal dan Ustazah Dra. Hj. Tatu Mulyana, pada tanggal 12 April 1973, ia sebenarnya dibesarkan dengan disiplin keagamaan yang ketat. “Apih mendidik kami berlima dengan sangat keras,” tutur Jefri. “Kalau kami sampai lupa salat atau mengaji, wah, jangan ditanya hukuman yang akan diberikan Apih.” Apih adalah sapaan Jefri kepada ayahnya, pria tinggi besar asal Ambon; sedangkan kepada ibunya yang berasal dari Banten, ia dan saudara-saudaranya memanggil Umi. Di luar jam belajar di madrasah, kedua orangtua inilah yang memperkenalkan Jefri kepada agama.Tanda-tanda kenakalannya sendiri, Jefri mengaku, telah nampak sejak kecil. Ia sering mengganggu orang salat, kemudian bersembunyi di atap rumah, sambil memperhatikan orang yang diganggunya marah-marah. Namun saat itu, lingkungan keluarganya yang taat beragama masih bisa membuat Jefri menyukai pelajaran agama, terutama seni membaca Al-Quran. Saat kelas 5 SD, misalnya, Jefri pernah mengikuti kejuaraan MTQ sampai tingkat provinsi. “Kebiasaan kedua orangtua saya melantunkan Al-Quran membuat saya tertarik mendalami seni qiraah secara bersungguh-sungguh,” tuturnya.Selain agama, Jefri juga mempunyai bakat terpendam di bidang seni. “Entah mengapa, saya suka sekali tampil di depan orang banyak,” katanya suatu hari.Tapi masa kanak-kanak Jefri yang masih terbilang cukup agamais itu tidak berlangsung lama. Menjelang remaja, ia justru semakin nakal. Ia pernah dimarahi ibunya yang sedang mengajar karena merasa sangat terganggu dengan suara gitar dan nyanyiannya yang sangat keras. Saking marahnya, sang ibunda sampai membentaknya, “Hei, setan!” Kenakalannya pun semakin menjadi saat ia masuk pesantren. Bahkan akhirnya Jefry dikeluarkan dari pondok. “Waktu itu saya terlambat, guru saya tidak tahan lagi atas sikap saya tersebut. Begitu masuk, saya ditimpuk pakai penghapus. Kemudian, karena kesal, saya ‘mengembalikan’ penghapus itu dengan cara yang sama,” kenangnya sambil tersenyum simpul. Keluar dari pesantren, ia masuk Madrasah Aliyah, yang cuma bisa dijalaninya selama satu tahun. Ia dikeluarkan, karena berkelahi. Pendidikan yang carut marut dan pergaulan yang tidak terkontrol membawa Jefri masuk dunia yang liar. Saat usianya baru 16 tahun, ia sudah mulai mengenal dunia malam. Ia hanya masuk sekolah saat ujian. Setiap malam ia lebih sering berada di diskotek untuk menari. “Tiap ke diskotek, diam-diam saya mempelajari gerakan orang-orang yang nge-dance,” kenang Jefri. Karena bakat, ia pun kemudian menjadi penari yang bertualang dari satu diskotek ke diskotek lain. Bahkan beberapa kali ia berhasil memboyong piala ke rumah sebagai the best dancer. Belum puas, ia juga mencoba merambah dunia fotomodel dan ikut fashion show di beberapa diskotek. Akhirnya, meski dengan nilai pas-pasan Jefri berhasil lulus SMA pada tahun 1990.Usai SMA ia menjajal kemampuan aktingnya dengan menjadi pemeran pengganti dalam beberapa sinetron. Aktingnya mulai dilirik sutradara. Tahun itu juga ia mendapat peran di sinetron Pendekar Halilintar. “Waktu itu sinetron masih dipandang sebelah mata oleh masyarakat dan artis film,” kenang Jefri. Sementara itu hubungan Jefri dengan kedua orangtuanya semakin memburuk. Apihnya mati-matian menentang kegiatan Jefri. Haji Ismail Modal sangat mengenal kelamnya dunia yang tengah digeluti anaknya. Karena, di masa mudanya Ismail juga pernah berkecimpung di dunia film. “Apih pernah main di film action, antara lain Macan Terbang dan Pukulan Berantai.” Tapi, Jefri tetaplah Jefri. Ia bergeming. Terlebih setelah ia menyabet gelar Pemeran Pria Terbaik dalam Sepekan Sinetron Remaja, yang diadakan TVRI tahun 1991. “Waktu itu saya sangat bangga, karena merasa menang dari orangtua,” kenang Jefri. Kesombongannya makin menjadi. Ia merasa, jalan hidup yang dititinya adalah yang terbaik baginya. Setelah bergelimang uang, Jefri semakin tidak terkendali. Semua jenis kemaksiatan pernah dicobanya. Ia pun sempat bertahun-tahun menjadi pecandu berat narkoba. Bahkan malam pengantinnya dengan Pipik Dian Irawati, gadis Semarang yang dinikahinya 7 September 1999, dilewatinya dengan kondisi sakaw dan menikmati putaw semalaman.“Hati siapa yang nggak sedih, Mas?” kenang Pipik. “Tapi saat itu saya justru semakin tertantang untuk melepaskan Mas Jefri dari jeratan benda terkutuk itu.”Jefri memang beruntung. Istrinya tidak hanya cantik, tetapi juga tabah dan ulet. Dengan sabar Pipik menemani Jefri melewati hari-hari sakaw-nya. Juga pada malam-malam saat suaminya menderita paranoia, dikejar mimpi buruk dan ilusi menakutkan. Saat itu Jefri memang tengah dijauhi teman-temannya, yang kewalahan dengan kelakuan buruk yang semakin menjadi-jadi saat ketagihan. “Saya sempat mengalami masa-masa paranoid, sekitar setahun. Pada masa itulah saya menyadari, saya tidak memiliki siapa-siapa kecuali Allah SWT. Allah tidak pernah meninggalkan kita. Seburuk apa pun saya di mata Allah, Dia tidak pernah meninggalkan saya,” kenangnya haru.Perlahan Jefri mulai terkontrol. Terlebih ketika mendengar Pipik hamil, ia berusaha keras menghentikan kebiasaan buruknya. Selain mengikuti terapi dengan Prof. Dr. Dadang Hawari, Jefri juga mempunyai cara tersendiri melawan kecanduannya. Saat keinginan untuk mengonsumsi putaw datang dan tak tertahankan, ia menghukum dirinya dengan melukai tubuhnya sendiri. Cara ini, menurut Pipik, lumayan efektif meski awalnya sempat membuatnya ngeri.Kini, enam tahun setelah pernikahannya, ibu dua anak Jefri, Adiba Khanza Az-Zahra dan Muhammad Abi Dzar Al-Ghifari, ini bisa tersenyum lega. Suaminya bukan saja sembuh dari kecanduan narkoba, tetapi juga telah berhasil mengembalikan dirinya sendiri ke jalan Allah. Jefri, meneruskan jejak orangtuanya, kini dikenal sebagai seorang pendakwah yang sangat digemari.
Mubalig TampanSetelah masa perenungan, Jefri kembali memulai mengaji di berbagai majelis taklim di ibu kota. Ia juga berguru kepada beberapa ulama, salah satunya adalah K.H. Ali Saman. Terhadap gurunya yang satu ini Jefri sangat terkesan dengan pola hidupnya yang bersahaja. “Sampai sekarang, rumahnya sangat sederhana. Bahkan, sepeda saja tidak punya,” ungkapnya terharu. Setelah mengikuti berbagai taklim dan pengajian, ia mulai merasakan ketenangan dalam hidup. Tahun 2000 ia menjadi penyuluh gerakan anti narkoba. Ini pun awalnya tidak disengaja. Saat itu salah satu kakaknya, Ustaz Abdullah Riyadh (kini almarhum), yang seharusnya menjadi pembicara, berhalangan hadir, karena harus ke Singapura. “Saya dipaksa menggantikan ceramah-ceramah Ramadan di beberapa masjid dan kantor,” tuturnya.Masa lalunya yang kelam justru dijadikan salah satu modal berdakwah, terutama terhadap kaum muda. Berbagai pengalaman dan kiat menghindari dunia hitam memang lebih efektif bila disampaikan oleh orang yang pernah bergelimang di dalamnya. Gayanya yang khas dengan iringan pelantunan ayat-ayat Al-Quran dan celetukan-celetukan ala remaja yang membumbui ceramahnya sangat digandrungi kawula muda. Wajah tampannya juga memesona kaum ibu dan remaja putri.Sejak itu ia merambah jalan dakwah, dan mulai dikenal sebagai mubalig. Popularitasnya kian meroket ketika beberapa stasiun televisi swasta mengontraknya untuk memberi tausiah di sinetron religi. Berbagai acara, seperti Kuliah Pagi, Astagfirullah (SCTV), Di Ambang Fajar (RCTI), Kuasa Illahi dan Suratan Takdir (TPI), Musafir (ANTV), dan Sentuhan Qalbu (TransTV), pun dihiasi wajah dan nasihat-nasihatnya.Belakangan, Ustaz Jefri, yang kini sering dipanggil UJ oleh teman-temannya, dan dikenal memiliki bakat tarik suara, juga dilirik sebuah perusahaan rekaman. Awal Ramadan lalu, ia merilis album perdananya, Lahir Kembali, yang diproduksi Forte Record dan diedarkan oleh Nada Hijrah.Di tengah kesibukannya sebagai dai dan membintangi beberapa sinetron keagamaan, ia pun masih menyempatkan diri membuka pengajian di kediamannya. “Namanya Majelis Taklim I Like Monday,” kata Ustaz Jefri.Jadwal acara taklim yang diselenggarakan dua minggu sekali ini banyak diikuti para eksekutif, businessman, anak muda, artis, dan lain-lain. Ia sengaja memilih nama I Like Monday untuk majelis taklimnya sebagai penghormatan terhadap hari kelahiran, hijrah, dan wafatnya Rasulullah SAW.Konsep yang ditawarkan majelis taklim yang diadakan setiap Senin malam ini adalah pengkajian kasus-kasus yang sedang hangat di masyarakat dan dikupas dengan materi-materi yang sederhana. “Saya ingin memulai dari hal-hal yang sederhana. Saya ingin menghindari perasaan menjadi orang yang paling suci, sementara yang mendengarnya jelek semua,” tutur Ustaz Jefri merendah. Karena itu, dalam setiap pengajian yang diselenggarakannya, Ustaz Jefri sendiri jarang tampil sebagai pembicara utama. Ia justru lebih sering mengundang pembicara atau ustaz dari luar. Dengan begitu, menurutnya, ia bisa menyerap ilmu dari pembicara yang hadir di majelisnya.“Saat ini saya masih membutuhkan sumber ilmu,” katanya rendah hati. Sejak menempati rumah barunya di kawasan Pondok Indah, Ustaz Jefri menghiasi hari-harinya dengan berbagai kegiatan bermanfaat bagi umat. Ia juga berharap, di rumah barunya ini bisa lebih memperhatikan buah hatinya, Adiba dan Abizar. Rupanya sang ustaz, dengan pengalaman masa mudanya, sangat khawatir dengan pengaruh lingkungan yang bisa dengan mudah merusak seorang anak.“Kami menempati rumah baru agar lingkungan dan pendidikan anak-anak saya lebih baik dan terarah,” katanya penuh harap. Belakangan, kebahagiaan senantiasa menghiasi wajahnya, apalagi kini setelah dua anak mulai tumbuh besar. Tetapi, menurutnya, yang paling bahagia dengan keadaannya sekarang adalah sang ibunda. “Senyumnya lebih sering terlihat. Kalau dulu Umi selalu berlinang air mata sedih, sekarang air mata itu adalah air mata kebahagiaan,” papar Jefri. Ia juga merasa, semua yang diperolehnya saat ini tak lepas dari doa dan air mata ibundanya. “Umi tidak pernah jenuh mengangkat tangan memohon pertolongan Allah SWT,” tuturnya. Kini, ketika telah menjadi ustaz, masih sering terngiang di telinganya wejangan gurunya semasa di pesantren, almarhum K.H. Ahmad Rifai Arif, pengasuh Ponpes Darul Qolam, Gintung, Balaraja, Tangerang, yang mengingatkan pentingnya introspeksi diri. “Dari mana kita datang? Sekarang ada di mana? Dan akan ke mana? Kalian tidak harus menjadi ulama, karena yang terpenting adalah memiliki iman yang kuat.”Terlepas dari itu semua, Ustaz Jefri mengaku sangat bahagia. “Ini adalah kehidupan yang sebelumnya tidak pernah saya bayangkan akan saya alami.”AST/Ft. AO & Dok. AnekaYess!

Telah dimuat di Majalah alKisah No.24/III/2005

3 Comments:

At 2:46 PM, Blogger yanti said...

bagus

 
At 2:51 PM, Blogger yanti said...

assalamualaikum uj,saya senang membaca tentang biografi uj,mau dong dijasih gambaran tentang cerita orang orang mualaf

 
At 2:24 PM, Blogger hardi said...

assalamualaikum.. UJ saya tersentuh membaca biografi UJ... dan saya juga termasuk orang yang jauh dari agama.. oleh karena itu saya sekarang mencoba mendekatkan diri pada sang pencipta... cuma saya bingung.. apakah saya sholat di terima sang pencipta atau tidak..??? karena mungkin dosa saya tak bisa di ampuni lagi.. wassalam.

 

Post a Comment

<< Home