22.3.06

Haul Tiga Ulama Besar (Haul 5)

Habib Umar bin Abdurrahman Al-Attas, Habib Syekh bin Salim Al-Attas, dan K.H. Muhammad Masthuro adalah tiga ulama yang membaktikan diri berjuang mesyiarkan ajaran Islam. Haulnya bertujuan agar kita mengingat kebaikan-kebaikan mereka serta meneladaninya.

Tak seperti biasanya, pagi itu, 3 September 2005, Pondok Pesantren Al-Masthuriyah, yang terletak di Desa Tifar, Cisaat, Sukabumi, sudah ramai oleh puluhan ribu orang berpakaian serba putih. Mereka sengaja datang ke kompleks pesantren tersebut untuk mengikuti haul tiga ulama besar: Habib Umar bin Abdurrahman Al-Attas, pengarang Ratib Al-Attas, Habib Syekh bin Salim Al-Attas, dan K.H. Muhammad Masthuro, pendiri Pondok Pesantren Al-Masthuriyah.
Acara peringatan haul yang dimulai sekitar pukul 08.30 ini diawali dengan pembacaan tahlil, tasbih, tahmid, takbir, dan doa yang dipimpin oleh Habib Umar bin Abdullah Al-Attas, sesepuh Majelis Zikir dan Wirid Asmaul Husna, Bendungan Hilir, Jakarta. Setelah itu, dibacakan sekilas manakib Habib Umar bin Abdurrahman Al-Attas, disambung dengan Manakib K.H. Muhammad Masthuro.
Dalam uraian hikmah haul, Habib Hamid bin Hud Al-Attas mengatakan, ulama mempunyai peran besar dalam menuju terciptanya masyarakat aman, tenteram, dan penuh kedamaian. “Karena itu, diharapkan kita semua mencintai para ulama karena ilmunya, dan menjalankan apa yang disampaikan sebaik-baiknya. Karena apa yang diajarkan ulama adalah jalan menuju keridaan Allah dan Rasulullah.”
Dalam sebuah hadis, kata Habib Hamid, Rasulullah SAW menjelaskan, jika masyarakat sudah membenci para ulama, dan yang disenangi hanya kehidupan duniawi, Allah akan menghukum mereka dengan empat perkara. Yaitu, musim kemarau yang dahsyat, penguasa yang kejam terhadap rakyat, pengkhianatan dari penguasa, dan kebencian yang luar biasa dari musuh.
Namun begitu, Habib Hamid juga menekankan kepada para alim ulama agar menjadi pengayom masyarakat yang teguh berjalan di atas petunjuk Allah, tidak silau oleh harta dan jabatan. “Jika para ulama teguh berpegang pada risalah Rasulullah SAW, insya Allah masyarakat yang aman, tenteram, dan penuh kedamaian akan tercipta. Dalam sebuah hadis, Baginda Rasulullah mengatakan, bila dalam sebuah negara ada empat macam golongan manusia seperti berikut ini, penduduknya akan aman dari malapetaka. Yaitu, adanya pemimpin yang adil, orang alim yang berjalan atas petunjuk Allah, para guru yang beramar makruf nahi mungkar serta senantiasa mendorong masyarakat untuk menuntut ilmu, dan yang terakhir adalah kaum wanita yang menutup aurat.”
Sementara itu, Habib Syekh bin Ali Al-Jufry menyampaikan kepada jemaah pentingnya memperingati haul. “Dalam haul, kita akan menyebut kebaikan orang yang sudah meninggal, apalagi kalau mereka adalah guru-guru kita. Supaya kita dapat mengikuti keteladanan yang mereka ajarkan.”
Pemimpin Pondok Pesantren Al-Khairaat, Condet, Jakarta Timur, itu juga mengajak para jemaah meneladani perjuangan Rasulullah SAW dan para generasi penerus untuk menyebarkan ilmu. “Yang paling penting adalah meniru keteladanan Rasulullah yang senantiasa memohon ampun kepada Allah SWT. Walaupun maksum, terjaga dari maksiat, beliau bersumpah, ‘Demi Allah, sesungguhnnya aku setiap hari beristigfar dan bertobat kepada Allah seratus kali’.”
Nabi SAW sendiri, yang tidak punya dosa, beristigfar seratus kali sehari. Tetapi kita, yang tidak maksum, belum tentu sempat beristigfar setiap hari. “Makanya di antara umat Islam banyak yang tertimpa bencana, karena cara hidupnya tidak benar.”
Habib Syekh Ali Al-Jufry kemudian menceritakan ketawadukan Habib Umar bin Abdurrahman Al-Attas, yang patut ditiru umat. “Suatu hari Habib Umar bin Abdurrahman Al-Attas pergi dari Huraidhah, Hadramaut. Saat hendak pergi, ia bertemu Habib Abdullah Al-Hadad, pengarang Ratib Al-Haddad, yang memita ijazahnya. Habib Umar berkata, ‘Saya akan memberi ijazah, tetapi ada syaratnya. Yakni, Anda mengijazahkan saya juga’,” kata Habib Umar.
Ketika itu, usia Habib Umar jauh lebih tua dari Habib Abdullah Al-Hadad. Ia sudah dikenal sebagai wali qutub, tingkatan wali tertinggi, yang mempunyai karamah luar biasa. Namun, ia tetap menghargai yang muda.
“Ini adalah pelajaran untuk kita semua. Singkirkan kecintaan kita kepada kedudukan. Buang jauh-jauh! Para ulama itu mengajar kita semua dengan lillahi ta’ala (tanpa pamrih),” kata Habib Syekh Ali Al-Jufry.
Cerita lain yang dituturkan oleh Habib Syekh Ali Al-Jufry adalah kebaikan Habib Syekh bin Salim Al-Attas, cucu kesepuluh Habib Umar bin Abdurrahman Al-Attas. “Ulama lain kalau mengajar dapat uang, tapi Habib Syekh kalau mengajar justru keluar uang. Ajengan-ajengan dari mana-mana yang datang mengaji, pulangnya diberi ongkos oleh Habib Syekh.”
Kisah terakhir yang disampaikan kepada jemaah adalah kisah K.H. Muhammad Masthuro. Kisah sang pendiri Pondok Pesantren Al-Masthuriyah yang juga murid Habib Syekh bin Salim Al-Attas tersebut diceritakan oleh putranya, K.H. E. Fakhrudin Masthuro.
K.H. Muhammad Masthuro lahir di Kampung Tifar pada 1901. Ia adalah putra dari K.H. Ansol. Sebenarnya, nama ayahnya itu adalah Asror. Karena menjadi buronan kompeni Belanda, ia mengganti nama menjadi Ansol, untuk menghilangkan jejak. Nenek moyang K.H. Masthuro adalah pejuang yang gigih dalam menentang penjajah, bahkan kalau dilacak lebih jauh ia masih keturunan Maulana Syarif Hidayatullah atau lebih terkenal dengan julukan Sunan Gunungjati, salah seorang Walisanga yang makamnya di Cirebon.
Masthuro kecil belajar mengaji pada sang bapak. Setelah tiga belas tahun belajar di rumah, ia meninggalkan kampung halamannya untuk mendalami ilmu agama kepada K.H. Qurtubi, K.H. Ghozali, K.H. Asy’ari, dan sekolah di Ahmadiyah, yang didirikan oleh H. Ahmad di Sukabumi.
Setelah menyantri 13 tahun di berbagai pesantren di Jawa Barat, ia mendirikan pesantren pada tanggal 9 Rabiulakhir 1338 H/1 Januari 1920 M, dengan nama Masthuriyah, yang oleh masyarakat setempat lebih dikenal Pesantren Tipar. Setelah 48 tahun mengabdi kepada masyarakat dengan membina para santri, K.H. Masthuro wafat pada 1968.
Saat jarum jam menunjuk angka 12, acara haul tiga orang ulama besar itu ditutup dengan doa oleh Habib Abdul Rahman bin Alwi Al-Habsyi dari Kwitang, Jakarta. Jemaah pun dijamu dengan hidangan nasi kebuli, kemudian salat Zuhur berjemaah di Masjid Jami’ Al-Masthuriyah.

AST/Ft. AO

Kepsyen Foto:

1. Habib Syekh Ali Al-Jufry. Mengajak jemaah meneladani para alim ulama
2. Habib Hamid bin Hud Al-Attas. Ulama berperan menciptakan masyarakat yang aman dan tenteram
3. Habib Umar bin Abdullah Al-Attas memimpin doa tahlil. Khidmat mengikuti haul
4. K.H. E. Fakhruddin Masthuro. Mengikuti jejak sang ayah
5. Dihadiri puluhan ribu jemaah. Mencintai ulama karena ilmunya