10.6.06

Habib Ja’far bin Syaikhan Assegaf

Guru yang Ramah dan Santun, Penuh Karamah

Ia merupakan guru dari banyak ulama dan habaib di kawasan timur pulau Jawa. Banyak orang mengambil hidmah dari habib yang santun dan ramah dalam mengajar ini

Suatu ketika ada seorang penduduk yang tidak percaya akan kewalian dari Habib Ja’far bertamu kepadanya. Sesampainya di rumah Habib Ja’far, ia langsung minta agar disediakan buah korma. Habib Ja’far sudah tahu akan keinginan orang asing yang bertamu ke rumahnya.
Selepas mengucap salam, sang tamu kemudian menyatakan keinginannya yakni minta buah korma. Dengan santainya, Habib Ja’far kemudian membuka jendela rumahnya lalu ia menjulurkan tangannya lewat jendela dan kemudian dengan secepat kilat tangan kanannya itu telah meraih setandan buah korma yang masih segar. Orang asing itu kaget bukan kepalang, sebab di Pasuruan tanaman korma tidak ada. Maka secepat itu ia kemudian minta maaf kepada Habib Ja’far dan ia kemudian hari menjadi muridnya.
Karamah Habib Ja’far memang sangat terkenal di kalangan kaum muslimin di Jawa Timur. Ia adalah seorang wali besar yang menurunkan banyak ulama di Pasuruan dan sekitarnya. Nama lengkapnya adalah Habib Ja’far bin Syaikhan bin Ali bin Hasyim bin Syeikh bin Muhammad bin Hasyim Assegaf. Ia dilahirkan di kota Ghurfah, Hadramaut pada tahun 1298 H.
Sebagaimana kebanyakan para Salaf Bani Alawi, sejak kecil ia mendapat pendidikan langsung dari ayahnya, Habib Syaikhan bin Ali Assegaf. Selain ia menuntut ilmu kepada ayahnya, ia juga mengambil ilmu dari ulama-ulama besar di Hadramaut, diantaranya: Habib Idrus bin Umar Alhabsyi (pengarang kitab ‘Iqdul Yawaaqit), Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi, Habib Ahmad bin Hasan Alatas dan lain-lain.
Beberapa tahun kemudian, berangkatlah ia ke kota Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Semangatnya untuk menuntut ilmu seakan tak pernah pupus. Kesempatannya berada di kota Makkah tak ia sia-siakan. Kesempatan itu ia pergunakan untuk menuntut ilmu dari para ulama yang ada disana, diantaranya: Habib Husin bin Muhammad Alhabsyi, Habib Muhammad bin Salim As-Sirry.
Setelah dari kota Makkah Al-Mukarramah, kembalilah Ia ke kota kelahirannya, Ghurfah. Di sana ia kemudian diangkat menjadi imam masjid jami Ghurfah. Ia tinggal di kota tersebut selama 8 tahun. Setelah itu ia kemudian pindah ke kota Tarim. Disana ia dipercaya mengajar di Rubath Tarim, sebuah sekolah yang banyak sekali mencetak ulama-ulama besar. Di kota Tarim ia tinggal selama 2 tahun. Kemudian setelah itu, ia berhijrah ke Indonesia dan tinggal di kota Bondowoso.
Tak lama kemudian, ia lalu pindah ke kota Pasuruan dan menetap disana. Di kota Pasuruan, selain berdakwah mengibarkan bendera laa ilaaha illallah, Habib Ja’far juga membuka majlis taklim dan mengajak masyarakat kepada agama Allah. Pribadinya yang arif menyebabkannya menjadi tempat bermusyawarah, mencari perlindungan dan pengayom masyarakat. Ia selalu memberikan nasihat-nasihat agama dan petunjuk ke arah yang benar. Akhlak ia mencontoh para pendahulunya yang penuh dengan sifat tawadhu, sabar, dan ramah. Tidaklah itu semua kecuali mengambil daripada akhlak-akhlak Rasulullah SAW.
Salah satu akhlak Habib Ja’far adalah sikapnya ramah dan lemah lembut pada tamu-tamu yang datang ke rumahnya. Pernah suatu ketika ia berhutang pada salah seorang pedagang. Sang pedagang saat itu sudah tak sabar untuk menagih hutang padanya. Dengan sangat kasar sang pedagang itu mengetok pintu rumahnya dan saat itu Habib Ja’far habis shalat Dhuha. Setelah dipersilahkan masuk, kemudian sang pedagang itu berkata,”Bib, saya datang kemari untuk menagih hutang sekarang!”
“Wah kalau menagihnya mendadak seperti ini, saya sedang tidak punya uang. Bukankah saya telah berjanji akan melunasinya minggu depan?” kata Habib Ja’far dengan santun.
“Saya butuhnya sekarang, masa tidak punya?” kata sang pedagang itu dengan tidak percaya.
“Betul, saya sedang tidak punya uang. Masa anda tidak percaya? Berilah saya waktu, jangan sekarang,” kata Habib Ja’far masih di atas sajadahnya.
“Pokoknya saya butuh sekarang juga!” kata pedagang itu dengan suara keras dan makin memaksa.
“Baiklah kalau engkau memaksanya, lihatlah!” kata Habib Ja’far dengan sambil membuka sajadahnya dan terlihatlah uang yang sedemikian banyak di balik sajadah yang dipakainya untuk shalat dhuha tadi.
Tentu saja melihat keajaiban yang baru saja terjadi membuat sang pedagang itu kaget dan ia langsung minta maaf pada Habib Ja’far atas kelancangan sikapnya.
Dengan amat santun, Habib Ja’far kemudian menasehati bahwa janganlah menjadi manusia yang suka memaksakan kehendak dan menghina pada orang lain. Belum tentu orang yang dihina itu lebih baik dari yang menghina.
Habib Ja’far sangat menghormati tamu-tamu yang datang ke rumahnya. Jika ia menerima tamunya, ia sendirilah yang menuangkan minuman buat si tamu dan ia menolak jika ada orang lain yang hendak menggantikannya. Melihat kedalaman ilmunya terutama dalam ilmu tafsir dan disertai dengan keagungan akhlaknya.
Habib Ja’far juga dikenal sebagai penghafal Qur’an yang sangat mumpuni. Setiap hari ia menghatamkan Qur’an. Dimana setiap hari pula, saat ia mulai berangkat kerja memulai dengan membaca Qur’an dan sampai sore hari ketika pulang ke rumah, ia sudah khatam satu Qur’an.
Dengan menghatamkan Qur’an dalam setiap hari di tengah aktivitasnya itulah, maka sangat pantaslah bila Habib Muhammad bin Ahmad Almuhdhor sampai pernah mengatakan bahwa Habib Ja’far adalah Al-Qur'an yang berjalan. Begitulah keadaannya yang menjadi figur bagi keluarga dan masyarakatnya.
Kehidupan berputar terus dan Ia selalu mengisinya dengan kebaikan. Sampai pada suatu saat dimana Allah hendak memanggilnya. Berpulanglah ia menuju mardhotillah pada hari Senin, tanggal 14 Jumadil Akhir 1374 H. Jasadnya lalu disemayamkan di sebelah barat masjid jami Pasuruan.
Begitulah kehidupan Habib Ja’far sebagai profil manusia yang penuh dengan kebaikan dan kemuliaan. Meskipun ia telah berpulang, ruh kehidupannya senantiasa menghidupkan kalbu-kalbu para pengenangnya dan mengisi sisi-sisi kehidupan para pecintanya.
AST/Ft. AST

1 Comments:

At 9:36 PM, Blogger ahmad nashir said...

masya alloh allohummaj'alna hakadza

 

Post a Comment

<< Home