14.9.06

Sowan dumatheng Mbah KH. Maimoen Zubair

Tamu Kita
KH. Maimoen Zubair

Sentuhan Dingin ‘Ulama Sarang’
Dalam acara bahsul masail antar pesantren, santri-santri dari Pesantren Al-Anwar, Sarang Rembang terkenal dengan penguasaan ilmu-ilmu fiqh. Itu semua berkah sentuhan tangan dingin sang pengasuh pesantren, yakni KH. Maimoen Zubair

Dalam berbagai ceramah yang disampaikan, Mbah Maimoen, demikian kalangan santri kerap memanggilnya, senantiasa memberikan keoptimisan pada umat Islam Indonesia di tengah berbagai bencana krisis dan hantaman musibah yang datang bertubi-tubi.“Syiar Islam yang makin berkembang di Indonesia akhir-akhir ini akan memberikan pengaruh besar bagi penyelesaian krisis multidimensi berkepanjangan.”
Dialah KH. Maimoen Zubair, sosok ‘ulama yang sangat disegani di kalangan Nahdlatul ‘Ulama (NU). Ia juga adalah pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar, Sarang berada di kawasan pantai utara Jawa Tengah. Tepatnya di Desa Karangmangu, Kecamatan Sarang dan masih masuk kabupaten Rembang. Lewat sentuhan tangan dingin sang Kiai sepuh ini, alumni pesantren Sarang banyak dikenal tangguh dalam masalah fiqh. Hal ini dapat dilihat dari uraian-uraian para santri saat acara bahsul masail atau forum sawir (seminar) yang membahas masalah fiqh kontemporer (aktual) antar pesantren di Jawa Tengah dan sekitarnya.
Sosok ulama ini, sekalipun usianya semakin sepuh terus giat berdakwah memberikan taushiah dan wejangan yang menyejukan. Hampir tiap hari, Kiai sepuh yang telah berusia 78 tahun ini sering diminta untuk taushiah dari satu pesantren ke pesantren yang lain. Jadwal untuk mengisi pengajian semakin padat, terutama pada bulan Rajab, Sya’ban, Ramadhan dan Syawal. Ia sering diminta mengisi taushiah haul, pengajian khataman santri. Ceramahnya penuh dengan tinjauan sejarah dan kaya nuansa fiqh, membuat betah para jama’ah untuk menyimaknya.
Sekalipun sering mengisi acara di luar pesantren, seperti untuk organisasi, partai politik atau acara pengajian umum, KH Maimoen Zubair tak melupakan kewajiban pokoknya untuk mengasuh santri-santri. Pulang dari berceramah dari berbagai daerah, begitu sampai ke kediamannya ia tetap mengajar kitab Ihya Ulumiddin dan kitab-kitab Tasawuf, terutama untuk santri senior setiap ba’da Subuh dan sehabis shalat Ashar.
Kiai Maimoen —panggilan akrabnya— sering menjadi rujukan dan tempat meminta pendapat dari berbagai kalangan. Baik dari kalangan bawah, pengurus NU, Partai Persatuan Pembangunan (PPP) maupun pejabat pemerintah. Hasyim Muzadi, Ketua Umum PBNU, pernah berkunjung ke Sarang. Dr. H. Hamzah Haz (mantan Wakil Presiden RI) yang juga adalah Ketua Pimpinan Harian Pusat Partai Persatuan Pembangunan (Ketua PHP PPP), Drs. H. Suryadharma Ali (Menteri Koperasi dan UKM), Drs. H. Bachtiar Chamsyah (Menteri Sosial), KH. Thoyfoer MC (Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hamidiyah, Lasem yang juga adalah anggota DPR RI periode 2004-2009) termasuk tokoh-tokoh yang rajin sowan ke Kiai Maimoen Zubair.
Banyak santri-santri dari Pondok Pesantren Al-Anwar yang dibimbing langsung Mbah Maimoen, saat ini mulai berkiprah di masyarakat. Sebut saja, KH. Habib Abdullah Zaki bin Syeikh Al-Kaff (Bandung), KH. Abdul Adzim (Sidogiri, Pasuruan), KH. Hafidz (Mojokerto), KH. Hamzah bin Muhammad, KH. Khayatul Makki (Mantrianom, Banjarnegara), KH. Dr. Zuhrul Anam (Leler, Banyumas) dan masih banyak ribuan ulama lainnya.
Siapa sesungguhnya Kiai Maimoen, kok banyak orang-orang di NU sangat menghormatinya? Publik selama ini tidak banyak tahu, padahal ia adalah putra KH. Zubair, seorang ulama tersohor di belahan pantai utara Jawa, Sarang, Rembang.
Ulama yang telah berumur 78 tahun ini dilahirkan di dusun Karangmangu, Sarang pada bulan Oktober 1928 dan merupakan putra pertama dari 14 bersaudara.Walau masih keturunan kiai, ia bukanlah termasuk golongan ningrat yang membangun menara gading dalam lingkungan santri yang begitu ketat. Justru melalui sentuhan kedua orangtuanya, ia mendidik dirinya untuk membaur hidup dengan kalangan masyarakat mana pun.
Praktis, sejak kecil Maimoen telah membaur dalam alam pendidikan masyarakat desa yang sarat religius itu. Sedari kecil, ia tak segan-segan bergabung dengan teman-teman sebayanya yang rata-rata juga menjadi santri di kampung. Sikap inilah yang kelak menempanya menjadi ulama yang berjiwa suka berkawan dengan siapa saja dan di mana pun, egaliter. ”Kehidupan santri itu begitu campur. Siapa yang mempunyai ilmu itu belum tentu ada kaitan dengan ras, suku, pangkat atau katakan anak Kiai. Itu sama rata. Siapa yang tekun, akan mendapat ilmu.’Man jada wa jada’ (siapa yang sungguh-sungguh akan mendapatkannya),” katanya.
Sebagai anak sulung, ia dari kecil telah ditempa secara intensif oleh ayahandanya, namun bukan berarti ia kehilangan masa kanak-kanak sebagaimana umumnya. Perjalanan waktu berjalan penuh arti dan kesan, baik untuk mengaji, belajar dan bermain. Setiap hari, hampir dipastikan lepas pulang dari madrasah ibtidaiyah yang terletak persis di komplek pesantren, Maimoen mengaji ilmu agama pada ayah tercinta di masjid. Didikan yang keras dari sang ayah tercinta, tak sia-sia. Pada usia yang relatif muda, ia telah banyak menyerap ilmu agama dari sang ayah, KH. Zubair yang dikenal banyak melahirkan ulama-ulama ternama, seperti KH. Sahal Mahfudz, KH. Hasyim Muzadi dan lain-lain.
Selain mendapat didikan agama, sang ayah, KH. Zubair juga membekali Maimoen dengan pendidikan umum seperti sosial, ekonomi, politik dan kemasyarakatan. Sejak usia tujuh tahun, sang ayah, memberikan buku bahasa Indonesia, tata bahasa jawa, ekonomi, majalah-majalah dan terutama buku-buku terbitan Budi Pustaka. Ia sedari kecil telah ditanamkan untuk mencintai ilmu pengetahuan, tanpa membedakan masalah ilmu agama dengan ilmu pengetahuan umum. Tak heran, Maimoen Zubair selain menguasai ilmu-ilmu agama dari madrasah, ia juga menguasai ilmu umum dengan pengetahuan plus.
Maimoen Zubair menamatkan pendidikan dasar di Madrasah di Pondok yang diasuh oleh sang ayah, yakni Pondok Pesantren Al-Anwar tahun 1943. Ketika umurnya menginjak usia 18 tahun, ia kemudian melanjutkan ke Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri dari 1944-1948. Selama menuntut ilmu di Lirboyo, ia sangat terkesan dengan metode mengajar dari salah satu gurunya, yakni KH. Abdul Karim. “Beliau dalam mengajar sangat tekun dan kitab yang diajarkan tidak memakai syah-syahan (makna). Sampai sekarang, metode mengajar beliau saya tiru dalam mengajar pada santri-santri,” kata Mbah Maimoen.
Selain itu, lanjut Mbah Maimoen, KH. Abdul Karim sangat menekankan pentingnya penanaman budi pekerti bagi setiap santri.”Ilmu itu letaknya di hati, bukan yang tertulis (ditulis -red). Oleh karena itu untuk menjadi ulama, harus tahu rujukan (dhomir). Seperti kata pepatah, ’Adhomir fi dhomir’ (di mana santri harus tahu rujukan ‘dhomir’, tanpa yang ditulis). Dhomir itu ada di hati. Itu yang masih saya kagumi dari KH. Abdul Karim.”
Setelah mengenyam pendidikan di Pondok Pesantren Lirboyo (Kediri), ia kemudian kembali belajar di Pondok Pesantren Al-Anwar (Sarang, Rembang) dan mendapat didikan langsung dari sang ayah, KH. Zubair dari tahun 1948-1950.
Sebagaimana para Kiai tempo dulu, Kiai Maimoen Zubair saat menunaikan ibadah haji ke Mekkah pada tahun 1950, sekaligus menimba ilmu agama pada ulama-ulama yang ada di sana. Seperti Sayid Alwi Al-Maliki Al-Hasani, Syaikh Amin Kutbi, Sayid Hasan Masdah, Syaikh Yasin Al-Fadani dan lain-lain.
Sungguh keberuntungan besar saat bejar di Masjidil Haram, KH. Maimoen Zubair dapat berguru dengan Syaikh Yasin Fadani. Syaikh Yasin adalah seorang ulama yang telah mengarang kitab seperti Ad Darul Mahdud Syarah Sunan Abu dawud (20 jilid), Fathul Alam Syarah Bulughul Maram (4 jilid), Arbauna Haditsan min Arbaina Kitaban an Arbaina Syaikhon (Hadits), Bagyatul Musytaq Syarah Luma Abu Ishaq, Hasyiatun alal Asybah wan nadhair fil furu’ al Fiqhiyah, Tatmimuddukhul Ta’liqat ‘ala Wushul Ila Ilmil usul (Fiqh dan Qowaid) dan lain-lain.Tercatat karya Syaikh Yasin berjumlah 50 kitab lebih.
Tidak sedikit murid-murid dari Syaikh Yasin Fadani dari Indonesia di kemudian hari menjadi ulama-ulama ternama di tanah air. Diantara nama-nama kesohor murid Syaikh Yasin Fadani adalah KH. Sahal Mahfudz (Rois Am PBNU sekarang), KH. Abdullah Faqih salah satu kiai khos NU (Pengasuh Ponpes Langitan, Tuban), KH. Sukron Makmun (Pengasuh Ponpes Darul Rokhman, Jakarta), KH. Idham Chalid (Mantan Ketua PBNU), KH. Syafi’i Hadzami (Jakarta), KH. Mahrus Aly (Kediri), KH. Zainuddin Pancor (Lombok) dan lain sebagainya.
Setelah dirasa cukup menimba ilmu di Masjidil Haram, sekitar akhir tahun 1952, KH. Maimoen Zubair pulang ke Sarang (Rembang) dan mengasuh Pondok Al-Anwar hingga sekarang. Selain mengajar dan berdakwah, KH. Maimoen Zubair masih menyempatkan diri menulis kitab. Kitab-kitab yang ditulisnya dalam bentuk taqrirat dan syarah. Bentuk taqrirat antara lain kitab Jawarud Tauhid, Ba’dul ‘Amali, Alfiyah dan dalam bentuk syarah yakni Syarah Imriti (Nahwu). Kitab-kitab tersebut dicetak terbatas untuk kalangan sendiri, yakni santi-santri Pondok Pesantren Al-Anwar, Sarang.
Ia aktif dalam kegiatan kemasyarakatan yakni jamiyyah Nahdlatul ‘Ulama (NU). Sejak tahun 1950-an ia pernah menjadi Ketua Ranting Desa Karang Mangu, Sarang (Rembang) dan pada 1955 ia dipercaya menjadi Rois Syuriah Majelis Wakil Cabang (MWC) Kecamatan Sarang. Lepas itu ia mendapat kepercayaan menjadi anggota Syuriah Cabang Kabupaten Rembang dari tahun 1960-1970 dan menjadi anggota Syuriah Wilayah Jawa Tengah pada periode 1979-1984. Ia juga pernah menjadi anggota Syuriah PBNU pada periode 1984-1989, di bawah kepemimpinan Rois Am KH. Ahmad Siddiq (Jember).
KH. Maimoen Zubair selain berkiprah di NU, ia juga dikenal sebagai tokoh politikus yang teguh pendirian. Di saat ulama-ulama NU berduyun-duyun “hijrah” dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) ke Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) sekitar tahun 1998, ia tetap istiqamah dan teguh berjuang memimpin Majelis Syari’ah PPP di Partai Persatuan Pembangunan (PPP) bersama ulama-ulama NU yang lain, seperti KH. Syafi’i Hadzami (Jakarta), KH. Alawy Muhammad At-Taroqy (Sampang, Madura), KH. Ismail Muzakki (Bangkalan, Madura), KH. Nasiruddin (Pasuruan), KH. Warits Ilyas (Surabaya), KH. Syaiful Islam (Probolinggo), KH. Munir Hasyim Latief (Surabaya), KH. Qawa’id As’ad Syamsul Arifin (Asembagus, Situbondo), KH. Thoyfoer MC (Rembang), KH. Dr. Zuhrul Anam (Banyumas), KH. Munzir Tamam (Jakarta) dan lain-lain.
Kiai sepuh ini menegaskan, bahwa silang pendapat dalam tubuh NU adalah satu hal yang biasa, kalau nggak dikatakan sudah menjadi ciri khas, yang terpenting adalah bagaimana kita menyikapinya secara arif, dan menyadari bahwa beda pendapat adalah sunatullah. “KH. Hasjim Asy’ari dan KH. Faqih Mas Kumambang ialah prototipe kiai yang bisa bersatu dalam perbedaan. KH. Hasjim Asy’ari menganjurkan membunyikan kentongan setiap datang waktu shalat, sementara KH. Faqih Mas Kumambang punya pendapat sebaliknya, namun perbedaan itu tidak membuat hubungan kedua kiai, yang pada saat itu, KH. Hasjim Asy’ari menjabat Rais Am PBNU, sedangkan KH. Faqih Mas Kumambang sebagai wakilnya, menjadi renggang,” katanya bertamsil.
Berbagai jabatan politik di Partai Persatuan Pembangunan (PPP) mulai dari tingkat Desa (Ranting) sampai Nasional (Pusat) di Partai berlambang Ka’bah itu pernah diembannya. Jabatan yang masih diembannya hingga sekarang adalah Ketua Majelis Pertimbangan Partai Persatuan Pembangunan (MPP PPP), yang bertugas memberikan fatwa pada Pengurus Harian Pusat PPP (PHP PPP) di bawah kepimpinanan Dr. H. Hamzah Haz. Tampilnya Hamzah Haz ke tampuk jabatan Wakil Presiden RI pada periode yang lalu, diyakini oleh sebagian kalangan partai berlambang Ka’bah sebagai syiasah tingkat tinggi dari ‘Ulama Sarang’ ini.
“Kekuasaan di Indonesia tidak bisa baik jika ulama tidak terlibat mewujudkan situasi kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat yang kondusif. Kekuasaan tidak bisa baik tanpa ikut sertanya ulama yang membantu pelaksanaan mewujudkan negara aman dan tenang. Demikian pula berlaku untuk sebaliknya,” kata KH. Maimoen Zubair.
Ia menyatakan yakin krisis multidimensi berkepanjangan di Indonesia selama ini akan bisa diakhiri jika suasana kehidupan beragama terus menerus dikembangkan oleh Pondok Pesantren. “Pondok Pesantren adalah kelompok pendidikan yang meluluskan para santrinya untuk hidup mandiri dan tidak menjadi beban penguasa. Para santri memiliki tanggungjawab melakukan pembinaan umat agar hidup takwa. Ketakwaan beragama menjadi jalan mengatasi berbagai kesulitan hidup,” lanjut bapak 15 anak (7 putra, 8 putri) ini.
Selain itu, menurutnya, adalah tantangan saat ini dalam berdakwah adalah mengembalikan umat kembali pada agama, tanpa membedakan golongan, partai. Dengan penuh kesejukan ia memberikan nasehat. “Mayoritas bangsa ini adalah beragama Islam. Tidak bisa umat ditekan dan digiring dalam satu partai. Partai harus berbeda-beda, tapi saling menghargai. Dari bermacam-macam aneka warna, partai dan golongan itu, mari bersama-sama dalam satu tujuan membangun bangsa. Dari rahiem keanekaragaman akan lahir kekuatan yang besar untuk mengatasi persoalan kebangsaan yang sekarang ini ada,” tambahnya penuh optimis.

AST/Ft AST
Caption:
1. Lead
2. Sedang memberi taushiah. Pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan umat
3. Sehabis berceramah. Menjadi magnet di kalangan jamaah
4. Memimpin doa bersama. Mengharap berkah doa Mbah Maimoen
5. Bersama salah satu jamaah. Menjadi tempat curahan dan pendapat

--------------------- ---------------------
Tamu Kita, alKisah No 21/IV/2006
-------------------------------------------
KH. Muhammad Subadar

Juru Bicara Kiai Khos
Banyak orang yang mengenalnya sebagai salah satu Kyai Khos Nahdhlatul Ulama. Di Forum Ulama yang disepuhkan di kalangan jamiyyah umat Islam terbesar di Indonesia ini, ia sering ditugaskan sebagai menjadi juru bicara

Di Forum Kiai Khos,-poros Kyai Nahdhlatul Ulama yang disepuhkan-, seperti KH. Muchith Muzadi (Jember), KH Kafabihi Mahrus, KH Idris Marzuki, KH Chamim Sujono dan KH Anwar Iskandar (Kediri), KH Noer Mohammad Iskandar SQ (Jakarta), KH Zainuddin Djazuli dan KH Nurul Huda Djazuli (Ploso, Kediri), KH M. Hasan Mutawakkil Alallah (Ponpes Genggong, Probolinggo), KH. Warson Munawwir (Krapyak, Yogyakarta) dan masih banyak ulama-ulama lainnya sering menunjuk KH. Muhammad Subadar, Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatul Ulum, Besuk, Pasuruan, Jawa Timur itu sebagai juru bicara forum kiai khos NU.
Sikapnya yang teguh dan senantiasa berpegang teguh pada koridor kajian fiqh klasik, itulah yang menyebabkan sosok Kiai yang telah berumur 65 tahun ini, tak aneh, sering dilibatkan dalam bahstul masa’il (pembahasan masalah) yang diselenggarakan oleh Nahdhlatul Ulama itu.
Selain itu, tutur katanya juga halus, argumentatif, dan mampu menyesuaikan diri dengan bahasa masyarakat yang dihadapi, ini membuat masyarakat di kawasan tapal kuda, Jawa Timur sering mendatangi pengajian yang diisinya. Mereka tertegun menyimak orasi Kiai Muhammad Subadar.
Muhammad, demikian nama yang diberikan oleh kedua orangtuanya, ia lahir pada 1942 di sebuah desa Besuk, Kejayan, Pasuruan dari pasangan KH. Subadar dan Hj. Maimunah. Pada usia 3 bulan (1942), ia telah yatim karena ditinggal wafat sang ayahanda, KH. Subadar. Sehingga ia banyak belajar mandiri dengan diasuh oleh ibundanya yakni Hj Maimunah.
Kecenderungan belajar mandiri pada generasi kelima dari KH Aly Murtadho, pendiri pondok pesantren yang kini diasuhnya, memang sudah nampak dari kecil. Lebih-lebih ketika Subadar mengeluti jenjang pendidikan formal, masuk SR langsung duduk di kelas tiga. Tapi kemudian tak pernah ia menamatkannya. ”Itu tak pantas ditiru. Saya orang yang pembosan,” katanya menerawang masa lalu.
KH. Muhammad Subadar sangat mengidolakan sosok Ibunda, baginya, Hj Maimunah adalah sosok panutan. Sebab melalui sentuhan lembut dan tangan dingin sang Ibunda, ia menjadi pribadi yang mandiri dan tegar dalam menatap tantangan jaman.“Ibu sangat perhatian dengan kondisi mengaji saya. Kalau saya minta apa-apa, ibu sering memberi motivasi semangat saya untuk bisa mengaji. Ini membuat semangat belajar saya lebih berkobar untuk menguasai pelajaran agama. Seperti ketika masih kecil ia minta dibelikan sepeda, namun syaratnya harus hafal sekian surat Al-Qur’an. Dan saya bisa, hingga akhirnya ia bisa dibelikan sepeda,” ujarnya sambil tersenyum.
Pendidikannya masa kecil itu smepat terputus, namun melalui motivasi dan bimbingan sang ibu, Hj Maimunah, itulah yang membuatnya merasa dekat dengan pelajaran agama. Secara kebetulan pula, ia banyak dididik oleh lingkungan keluarga yang sarat religius, termasuk ia belajar pada kakak-kakaknya seperti KH. Ali Murtadlo dan KH Ahmad di Pondok Pesantren Besuk, Pasuruan. Tamat dari Madrasah Ibtidaiyah, ia lalu melanjutkan ke Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri dari 1958-1961.
Di pondok Lirboyo, Kediri itu KH. Muhammad Subadar menemukan tempat belajar yang sesungguhnya. Hari-hari dipondok, dihabiskan untuk mengaji dan belajar ilmu agama, terutama mengenai ilmu bahasa, seperti nahwu, sharaf, balaghah dan lain-lain. Apalagi, di pondok yang terkenal dengan gaya belajar yang ketat namun berkualitas, ia menemukan dua guru yang sangat berkesan dalam hidupnya. “Dua guru saya itu hebat sekali, yakni KH. Makrus Ali dan KH. Idris Marzuki (Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo). Masjid, kitab, dan pesantren adalah seakan-akan menjadi jalan hidupnya dan seluruh waktunya sudah diberikan untuk orang lain,” katanya.
Selain itu, mengenai keduanya, Subadar banyak belajar cara-cara mengelola pondok pesantren. ”Keduanya itu adalah pasangan yang hebat dalam mengelola pesantren,” tambah KH. Muhammad Subadar.
Setelah dirasa cukup memperdalam ilmu agama dari beberapa ulama yang ada di sekitar Pasuruan, ia kemudian mulai memperdalam keilmuannya secara mandiri dengan menelaah kitab-kitab klasik (kuning). Dengan tekun, secara otodidak, sejak tahun 1961 ia menggali khasanah peninggalan ulama abad pertengahan hampir selama 6 tahun. Praktis, pada masa itu ia banyak mengurung diri dalam kamar, tidak ke mana-mana, seluruh waktunya dihabiskan mengkaji kitab-kitab klasik yang ada di perpustakaan Pondok Pesantren Roudhotul Ulum.
Lepas dari masa-masa “mengurung diri”, ia kemudian mulai berkiprah dalam organisasi NU pada tahun 1967. Mula-mula ia di IPNU, dua tahun kemudian namanya langsung mencuat sebagai ketua GP Anshor Pasuruan.
Aktivitasnya di organisasi sempat terhenti setelah menikahi Aisyah pada tahun 1969. Baru pada kisaran 1976 Subadar kembali terjun dalam kegiatan organisasi dan sekaligus mengemudikan kepemimpinan pesantren Raudhotul Ulum. Pada tahun 1980, ia terpilih sebagai Rois Syuri’ah NU Cabang Pasuruan dan sampai sekarang, ia masih menjabat sebagai Wakil Rois Syuri’ah NU Jawa Timur.

Bicara Dakwah
Selain di tengah kesibukannya mengelola organisasi NU, ia pun tak melupakan tugas utamanya yakni mengajar santri. Pengasuh Pondok Pesantren Raudhotul Ulum ini, setiap pukul 06.00 sampai siang banyak mendampingi sekitar 2000-an santri putra dan putri, terutama mengajar kitab-kitab tasawuf seperti Ihya Ulumiddin, Bidayah An-Nihayah dan lain-lain. Sementara dari sore sampai malam hari, ia selalu memenuhi undangan pengajian. “Kalau pengajian malam hari bisa berpindah-pindah dari satu desa ke desa yang lainnya. Pukul rata sampai enam tempat sehari,” katanya.
Sosok ulama yang gigih membentengi umat Islam, terutama di pedesaan ini mengaku sangat suka berada di tengah-tengah umat. Berbagai rintangan dalam berdakwah, tak dirasakannya, namun dinikmatinya sebagai suatu tantangan.
”Pernah saya berdakwah ke daerah pegunungan di Pasuruan, medan jalanan yang buruk membuat kendaraan tak bisa meneruskan perjalanan. Namun masyarakat tetap memaksanya untuk mengisi pengajian, padahal saya sudah sangat capek. Akhirnya, masyarakat ramai-ramai membawa tandu dan membawa saya ke arena pengajian. Itu sangat berkesan bagi saya,” kata KH. Muhammad Subadar.
Ia disukai para peserta pengajiannya karena kehalusan dalam bertutur. Tak heran, ia harus mengisi banyak majelis taklim yang tersebar di Pasuruan dan daerah-daerah sekitarnya. Yang terjadwal, sekitar lima puluh tiga tempat taklim dalam sebulan harus disambanginya.
Tantangan dakwah sekarang menurut KH Moh Suadar adalah ramainya maksiat yang sedang merajalela. Ancaman bencana moral itu harus disikapi oleh semua pihak. Ia juga menyayangkan di saat umat Islam sedang bahu membahu memperbaiki kondisi moral umat, masih ada segelintir orang yang menentang. “Di sini ada yang memperbaiki, di sana ada yang merusak,” katanya.
Tantangan dakwah sekarang hanya maksiat, selain itu tidak ada. Jadi dalam ber-Amar Ma’ruf Nahi Munkar- ini namanya tantangan.”Yang mana yang cocok saya dukung, namun yang berlawanan dengan kaidah agama, akan lawan,” kata KH. Muhammad Subadar dengan tegas.
AST/Ft.AST
Caption:
1. Lead
2. Duduk bersama cucu-cucu. Dididik oleh lingkungan keluarga yang religius
3. Sedang memberikan taushiah. Mampu menyesuaikan diri dengan bahasa masyarakat

2 Comments:

At 11:25 AM, Blogger aniq said...

Salam Kenal, Suwun yo kang, wis nanggapi artikelku di JIL, sengaja komentar sampean ane masukin di blogku supaya, diskusinya lebih hidup. btw, oye juga fotonya ama simbah..

 
At 11:27 AM, Blogger aniq said...

Salam Kenal, Suwun yo kang, wis nanggapi artikelku di JIL, sengaja komentar sampean ane masukin di blogku supaya, diskusinya lebih hidup. btw, oye juga fotonya ama simbah..

 

Post a Comment

<< Home