13.12.06

Liputan Khusus

 
Pengajian Keliling Majelis Dzikir Ratib Haddad Denpasar

Dalam rangka memperingati Haul Sahiburratib Haddad ke-295 Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad, Majelis Dzikir Ratib Haddad, Bali yang dibina oleh ustadz Nurkholis Basyaiban ini juga mengadakan pengajian keliling ke berbagai pelosok kampung di Bali. Berikut liputan khusus Aji Setiawan yang mengikuti rihlah (perjalanan) dakwah Majelis Dzikir Ratib Haddad selama lima hari langsung dari Denpasar, Bali

Sabtu
Hari pertama, Sabtu (2/12) ba’da shalat Ashar, bertempat di kediaman Ustadz Nurkholis Basyaiban diadakan acara rauhah (pembuka) dengan pembacaan Maulid Simthud Durar oleh kelompok Hadrah Al-Hikmah (Denpasar) pimpinan ustadz Puryanto. Dalam acara tersebut juga diadakan aqiqah putri keempat Bapak Misbah Haji, yakni Salsabila Nur Sabrina. Selepas diadakan pemotongan rambut oleh para Habaib dan jamaah, acara berlanjut dengan taushiah Habib Hadi bin Alwi Al-Kaff yang memberikan wawasan tentang pentingnya mendidik anak.
”Adalah tugas orang tua ketika anaknya lahir adalah mendidik mereka dengan memasukan ke madrasah-madrasah, pesantren atau lembaga pendidikan lainnya. Sehingga anak tersebut menjadi anak yang saleh dan salehah,” pesan Habib Hadi kepada sekitar 100 jama’ah yang memadati acara pengajian di Jl Gunung Slamet No 32, Perumnas Monang-maning, Denpasar. Acara ditutup dengan pembacaan doa secara bergantian oleh Habib Muhammad bin Idrus Al-Haddad, Habib Abdullah bin Muhammad Al-Haddad dan Habib Hasan Al-Jufri.
Malam harinya, selepas shalat Isya, para Habaib kembali diundang oleh Rukun Warga Muslim (RWM) Perumnas Monang-maning Blok IX, Denpasar, dengan mengambil tempat di Mushala Silaturahmi. Acara dibuka dengan pembacaan kalam ilahi oleh ustadz Fathuri dan sambutan ketua RWM yakni Drs Ramli Effendi. Taushiah pertama disampaikan oleh Habib Hadi bin Alwi Al-Kaff yang membahas tentang pentingnya birrul walidain (berbakti pada orang tua).”Kalau ingin selamat dunia akhirat, maka berbaktilah kepada kedua orang tua.”
Dalam kesempatan itu, Habib Hadi juga menjelaskan cara berbakti pada orang tua yang telah meninggal, yakni dengan mendoakan mereka, selalu memohon ampun dosa-dosa mereka, melaksanakan segala keinginan-keinginan (amanah) yang belum terlaksana, berusaha menjalin tali kekeluargaan dengan keluarga mereka dan memuliakan sahabat-sahabat dari kedua orang tua kita.
Habib Hadi juga mengingatkan pada jamaah tiga sebab amal seseorang tidak diterima oleh Allah SWT, yakni menyekutukan Allah (syirik), durhaka kepada kedua orang tua, dan ghirar (mendoakan kejelekan pada orang lain).
Acara pengajian yang dihadiri sekitar 200 jamaah ini kemudian ditutup dengan taushiah oleh Habib Muhammad bin Idrus Al-Haddad dan doa oleh Habib Abdullah bin Muhammad Al-Haddad.

Minggu
Minggu (3/12), sekitar seribu jemaah dari berbagai pelosok Bali mendatangi Masjid Al-Muhajirin (IKMS) yang terletak di Jl Gunung Sari, Perumnas Monang-Maning, Denpasar untuk menghadiri acara peringatan Haul ke-295 Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad. Peringatan haul Sahiburratib Haddad ini telah sepuluh kali digelar oleh Majlis Dzikir Ratib Haddad, Bali yang dibina oleh ustadz Nurkholis Basyaiban.
Tepat pukul 08.00 WITA, acara dibuka dengan pembacaan Maulid Habsyi dan diselingi lantunan kasidah dari kelompok hadrah Al-Hikmah (Perumnas Monang-maning, Denpasar) yang dipimpin Ustadz Puryanto. Peringatan haul ini juga dihadiri habaib dan ulama diantaranya Habib Muhammad bin Idrus Al-Haddad, Habib Abdullah bin Muhammad Al-Haddad, Habib Habib Hasan Al-Jufri, Habib Hadi bin Alwi Al-Kaff (Malang), Habib Umar bin Zein Al-Haddad (Jember), KH Hasan Abdillah (Glenmoore, Banyuwangi), KH. Suyuti Toha (Delimo, Banyuwangi), KH Hasan Toha (Srono, Banyuwangi), KH Halimi (Besuki, Banyuwangi), habaib serta para ulama Bali dan sekitarnya.
Setelah pembacaan Surah Yasin oleh KH.Hasan Abdillah (Glenmoore, Banyuwangi) dan pembacan Ratib Haddad oleh Habib Abdullah bin Muhammad bin Ali Al-Haddad (Malang). Lepas pembacaan Al-Qur’an dan sambutan panitia, dilanjutkan dengan acara taushiah tiga Habaib dari kota Malang, Jawa Timur yakni Habib Hasan Al-Jufri, Habib Hadi bin Alwi Al-Kaff dan Habib Muhammad bin Idrus Al-Haddad. Selepas pembicara terakhir, Habib Muhammad bin Idrus Al-Haddad menceritakan sekelumit manakib dan nasehat-nasehat Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad, acara kemudian ditutup dengan doa oleh KH Hasan Abdillah. (Baca: Haul Pengibar Bendera Alawiyin, alKisah No.26/IV/2006).
Ba’da ashar, pengajian diadakan di dealer Motor An-Nur, kediaman Hj.Insiyah Yusuf, Jl Pulau Buru, Denpasar. Acara dibuka dengan tahlil dan Yasin oleh KH Suyuti Toha (Delimo, Banyuwangi) dan berlanjut dengan taushiah oleh Habib Hadi bin Alwi Al-Kaff (Malang) yang menyampaikan tentang pentingnya berdzikir kepada Allah SWT dan bakti kepada orang tua.
Dalam kesempatan itu, Habib Hadi juga menjelaskan tentang keutamaan membaca Al-Qur’an. “Pembacaan Al-Qur’an itu pahala sangat besar sekali. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, ’Surah Fatihah dibaca dengan tujuan apa pun, insyaallah akan dikabulkan Allah SWT’. Begitu pula dengan Yasin, bahkan secara keseluruhan dari ayat apa pun yang kita baca, dengan tujuan apa pun, itu diterima oleh Allah SWT.”
Habib Hadi dalam pengajian itu juga menjelaskan tentang keutamaan menghadiri majelis-majelis dzikir dan ilmu.“Di dalam majelis-majelis dzikir pasti akan diberi empat hal; turun kepadanya ketentraman jiwa (sakinah), menebarkan kasih sayang (rahmah), didoakan oleh para malaikat, akan dibanggakan oleh Allah SWT di hadapan para malaikat,” kata Habib Hadi.
Acara pengajian ini juga sekaligus pelepasan Hj. Insiyah Yusuf (sahibul bait, tuan rumah) yang berangkat haji pada tahun ini, lantas ditutup dengan doa oleh KH. Aslam Raharjo (Parangharjo, Banyuwangi) dan KH. Hasan Toha (Srono, Banyuwangi).
Malam hari selepas shalat Isya, kembali para habaib mengisi pengajian di Masjid Al-Ikhlas, kampung Monang-maning, Denpasar. Acara yang digelar oleh Ikatan Remaja Masjid Al-Ikhlas (IRMA) dibuka dengan pembacaan kalam ilahi oleh ustadz Abdullah dan sambutan ketua Yayasan Al-Muhtadin, H. Nur Zainuddin.
Habib Hadi bin Alwi Al-Kaff dalam taushiahnya menyampaikan tentang taubat, ”Sesungguhnya Allah SWT tidak akan mengampuni dosa syirik, tetapi selain syirik Allah akan mengampuni. Jadi, dosa apa pun yang kita lakukan, insyaallah akan diampuni bila meminta ampun kepada-Nya (taubat), rasa menyesal atas dosa-dosanya dan berjanji untuk tidak mengulanginya.” Selepas diberikan taushiah oleh Habib Muhammad bin Idrus Al-Haddad acara ditutup dengan dengan doa oleh Habib Abdullah bin Muhammad Al-Haddad.

Senin
Senin pagi (4/12) lepas shalat subuh berjama’ah di Masjid Baiturahman, Jl Mawar, Kampung Jawa, Denpasar kembali Habib Hadi Al-Kaff mengisi taushiah tentang pentingnya tholibil ‘ilm (mencari ilmu) sebagaimana perintah Allah SWT dalam QS Al-Mujadillah :11, ”Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” Habib Hadi juga mengingatkan jamaah tentang perintah menuntut ilmu dari hadits Rasulullah SAW yang berbunyi, “Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim laki-laki dan perempuan.”
Selain Allah mengangkat derajat orang-orang mukmin karena ilmunya, lanjut Habib Hadi, Allah SWT juga menjadikan mereka dalam kebaikan sebagai pemimpin dan pemberi petunjuk yang diikuti, petunjuk yang dalam kebaikan. “Jejak para ahli ilmu akan diikuti dan perbuatan-perbuatannya pun diamalkan,”katanya.
Selepas acara, rombongan kemudian bersilaturahmi dengan tokoh Islam Kampung Jawa yakni H. Kholid yang terletak persis di samping masjid Baiturrahman.
Lepas shalat dhuhur, rombongan kemudian berziarah ke makam salah satu dari Wali Pitu di Bali, yakni makam Habib Idrus Al-Hamid yang terletak di komplek makam Karangasem, Kabupaten Klungkung. Jama’ah membaca Yasin dan Tahlil dipimpin oleh Habib Abdullah bin Muhammad Al-Haddad. Acara kemudian berlanjut dengan berkunjung ke komplek Pondok Pesantren Nurul Musthofa, yang diasuh oleh Habib Thalib Assegaff dan ustadz Khoeron. Pondok pesantren ini terletak kampung Gelgel dan dalam pembinaan langsung dari Habib Taufik bin Abdulkadir bin Husein Assegaff (Pasuruan). Saat di halaman pondok, Habib Abdullah Al-Haddad kembali didaulat untuk memimpin doa di halaman pondok, semoga semakin makmur dan berkembang.
Malam lepas shalat Isya diadakan pengajian di kediaman H. Mansyuri yang terletak di Jl Imam Bonjol No 28, Perumahan Mutiara, Denpasar. Selepas pembacaan Yasin dan Tahlil yang dipimpin oleh Habib Hadi Al-Kaff, acara berlanjut dengan taushiah dari Habib Hasan Al-Jufri yang menyampaikan tentang pentingnya mengingat Allah SWT. Materi ceramah dikemas dengan selingan humor-humor segar, logat bahasa Madura, membuat jemaah betah di tempatnya sampai acara berakhir.
Habib Hasan Al-Jufri mengisahkan sahabat Tsalabah yang tidak punya harta kemudian menjadi kaya raya berkat doa Rasulullah SAW. Namun setelah kaya raya, Tsalabah menjadi jauh beribadah kepada Allah SWT, akhirnya Rasulullah kembali berdoa dan Tsalabah jatuh miskin. “Dari kisah Tsalabah kita harus belajar, harta itu merupakan cobaan. Ketika Tsalabah diperintahkan shalat, tidak mau, Rasulullah SAW cinta Tsalabah agar ia kembali beribadah kepada Allah SWT.”
Pengajian yang banyak diikuti oleh masyarakat Madura ini kemudian ditutup dengan doa oleh Habib Abdullah bin Muhammad Al-Haddad dan acara berlanjut dengan santap makan malam bersama.

Selasa
Selasa, tepat jam 10.00 pagi, kembali rombongan Majelis Dzikir Ratib Haddad menyambangi kediaman H. Idris bin H Weru yang terletak di Jl Tangkuban Perahu, Kuta, Badung. Acara dibuka dengan pembacaan Yasin dan Tahlil dipimpin oleh Habib Hadi bin Alwi Al-Kaff. Jamaah kemudian dihibur dengan lantunan kasidah yang dinyanyikan oleh Habib Muhammad bin Idrus Al-Haddad.
Acara berlanjut dengan pembacaan Syarah Ratib Haddad karya Habib Alwi bin Ahmad bin Hasan bin Abdullah Al-Haddad (cicit Sahiburratib Haddad), yang bacakan oleh Habib Muhammad bin Idrus Al-Haddad dan diterjemahkan langsung oleh Habib Hadi bin Alwi Al-Kaff.
Habib Hasan Al-Jufri dalam pengajian itu menyampaikan taushiah tentang keutamaan dan adab berdoa.“Yang paling utama bacaan wirid atau doa adalah; berdoa setelah shalat, membaca al-Qur’an, shalawat atau dzikir, diusahakan menghadap kiblat dan tidak pernah putus (istiqomah).” Setelah ditutup dengan do’a oleh Habib Abdullah bin Muhammad Al-Haddad dan berlanjut dengan acara makan bersama dan shalat dzuhur berjamaah.
Lepas shalat Ashar, rombongan Habaib dan Majelis Dzikir Ratib Haddad menggelar pengajian di kediaman Muhammad Ba Humaid (Umbu), Perumahan Padang Graha Indah, Grobokan, Badung. Acara dibuka dengan pembacaan Yasin dan Tahlil oleh Habib Hadi bin Alwi Al-Kaff dan berlanjut dengan pembacaan Maulid Adzabi. Selepas itu acara berlanjut dengan shalat maghrib berjama’ah dan pembacaan Syarah Ratib Haddad karya Habib Alwi bin Ahmad bin Hasan bin Abdullah Al-Haddad (cicit Sahiburratib Haddad), yang bacakan oleh Habib Muhammad bin Idrus Al-Haddad dan diterjemahkan langsung oleh Habib Hadi bin Alwi Al-Kaff.
Ba’da Isya, rombongan menutup acara pengajian di Masjid Nurul Islam yang terletak di Kampung Islam Pekalongan, Kampung Kepaon, Pemogan, Denpasar Selatan. Habib Hadi bin Alwi Al-Kaff memberikan taushiah tentang niat.”Amal-amal yang didapat dari niat adalah sesuai dengan yang diniatkan. Jadi perbaikilah niat, karena niat merupakan bagian yang penting dari amal-amal ibadah yang kita lakukan.”
Acara berlanjut dengan tanya jawab antara pembicara dengan jamaah,masih berkaitan seputar niat. Selepas acara, jamaah Masjid Nurul Islam, Kampung Islam Pekalongan masih sempat minta berfoto bersama sebagai kenang-kenangan.

AST/Ft. AST

Caption:
1. Lead
2. Pengajian di kediaman ustadz Nurkholis Basyaiban. Pentingnya mendidik anak
3. Pengajian di Masjid Silaturahmi, Monang-maning. Cara berbakti pada orang tua
4. Suasana haul sahiburratib Haddad. Meneladani orang-orang shalih
5. Pengajian di dealer motor An-Nur. Keutamaan membaca Al-Qur’an
6. Taklim di Masjid Al-Ikhlas. Meminta ampun kepada Allah SWT
7. Subuh berjamaah di kampung Jawa. Keutamaan menuntut ilmu
8. Ziarah ke Klungkung. Salah satu Wali Pitu di Pulau Dewata
9. Pengajian di tempat H Mansyuri. Belajar dari kisah Tsalabah
10. Suasana taklim di rumah H Idris. Keutamaan dan adab berdoa
11. Jama’ah pengajian di tempat Muhammad Ba Chumaid. Khusyuk mendengarkan taushiah dari para habib
12. Foto bersama di Masjid Pekalongan. Sebagai kenang-kenangan terakhir Posted by Picasa

2 Comments:

At 1:38 PM, Blogger Dhany Family said...

assalamualaikum ustadz..

 
At 1:27 AM, Blogger Aminatuz Zuhriyah said...

Datany banyak y kang...sy ini jg lagi penelitian tntg alawiyyin, bisa copas y. Atau ad nmr yg bs dhubungi? Salam knl (fikri)

 

Post a Comment

<< Home