26.2.06

Ustaz H.M. Jefri Al-Bukhari bin H Ismail Modal (Tamu Kita 2)

Ustadz H.M. Jefri Al-Bukhari bin H Ismail Modal

Di Puncak, Beroleh Hidayah

Sejak usia remaja, dunia hitam telah dirambahnya. Beruntung, Allah masih menyayanginya. Dari tempat gelap, ia diangkat dan ditempatkan dalam kemilau cahaya hidayah.
Puncak, Bogor, penghujung tahun 1999. Seorang pria muda tersentak bangun dari tidurnya dengan wajah pucat pasi. Napasnya tersengal dan keringat membanjiri sekujur tubuhnya. Terlintas jelas di benaknya kejadian mahadahsyat yang baru saja dilihatnya dalam mimpi. Air laut mendidih dan menggelegak menerjang daratan yang telah porak poranda dilanda gempa dan gunung meletus. Jutaan manusia berlarian kian kemari, kebingungan. Malam itu, untuk kesekian kalinya ia mengalami mimpi yang mencekam, kiamat.Mimpi kiamat itu melengkapi mimpi-mimpi buruk lain yang belakangan selalu membuatnya gelisah. Sebelumnya, pria tampan berusia 27 tahun itu telah sangat tersiksa dengan gambaran kematian, siksa kubur, dan kehampaan putih yang menghantui tidurnya. Dengan jelas ia melihat dirinya sendiri dimandikan, dibalut kain kafan, dan disalati. Ia juga melihat dirinya digotong tetangga dan sanak keluarganya menuju kuburan, ditimbuni tanah dan ditinggal sendirian. Meski dalam mimpi, badannya ikut merasakan pedih saat tanah di kiri-kanannya bergerak mengimpit. Dan, lagi-lagi, ia terbangun dan berteriak-teriak ketakutan.“Mungkin semua itu bagian dari azab Allah, atas semua dosa yang telah saya perbuat,” kenang pria yang kini kerap menghias layar kaca sebagai seorang pendakwah ini.Ketika siksaan psikis itu mencapai puncaknya, antara sadar dan tidak, pemuda itu mengambil kertas dan melukis dirinya sedang berceramah. “Di bagian belakang, tampak spanduk bertuliskan La ilaha ilallah,” kenangnya haru. Peristiwa itulah yang kemudian menjadi titik balik seorang Jefri Al-Bukhari, dari kehidupannya yang gelap-gulita berganti cahaya hidayah yang kilau kemilau.
Anak UstazTerlahir dari pasangan Mubalig Ustaz H. Ismail Modal dan Ustazah Dra. Hj. Tatu Mulyana, pada tanggal 12 April 1973, ia sebenarnya dibesarkan dengan disiplin keagamaan yang ketat. “Apih mendidik kami berlima dengan sangat keras,” tutur Jefri. “Kalau kami sampai lupa salat atau mengaji, wah, jangan ditanya hukuman yang akan diberikan Apih.” Apih adalah sapaan Jefri kepada ayahnya, pria tinggi besar asal Ambon; sedangkan kepada ibunya yang berasal dari Banten, ia dan saudara-saudaranya memanggil Umi. Di luar jam belajar di madrasah, kedua orangtua inilah yang memperkenalkan Jefri kepada agama.Tanda-tanda kenakalannya sendiri, Jefri mengaku, telah nampak sejak kecil. Ia sering mengganggu orang salat, kemudian bersembunyi di atap rumah, sambil memperhatikan orang yang diganggunya marah-marah. Namun saat itu, lingkungan keluarganya yang taat beragama masih bisa membuat Jefri menyukai pelajaran agama, terutama seni membaca Al-Quran. Saat kelas 5 SD, misalnya, Jefri pernah mengikuti kejuaraan MTQ sampai tingkat provinsi. “Kebiasaan kedua orangtua saya melantunkan Al-Quran membuat saya tertarik mendalami seni qiraah secara bersungguh-sungguh,” tuturnya.Selain agama, Jefri juga mempunyai bakat terpendam di bidang seni. “Entah mengapa, saya suka sekali tampil di depan orang banyak,” katanya suatu hari.Tapi masa kanak-kanak Jefri yang masih terbilang cukup agamais itu tidak berlangsung lama. Menjelang remaja, ia justru semakin nakal. Ia pernah dimarahi ibunya yang sedang mengajar karena merasa sangat terganggu dengan suara gitar dan nyanyiannya yang sangat keras. Saking marahnya, sang ibunda sampai membentaknya, “Hei, setan!” Kenakalannya pun semakin menjadi saat ia masuk pesantren. Bahkan akhirnya Jefry dikeluarkan dari pondok. “Waktu itu saya terlambat, guru saya tidak tahan lagi atas sikap saya tersebut. Begitu masuk, saya ditimpuk pakai penghapus. Kemudian, karena kesal, saya ‘mengembalikan’ penghapus itu dengan cara yang sama,” kenangnya sambil tersenyum simpul. Keluar dari pesantren, ia masuk Madrasah Aliyah, yang cuma bisa dijalaninya selama satu tahun. Ia dikeluarkan, karena berkelahi. Pendidikan yang carut marut dan pergaulan yang tidak terkontrol membawa Jefri masuk dunia yang liar. Saat usianya baru 16 tahun, ia sudah mulai mengenal dunia malam. Ia hanya masuk sekolah saat ujian. Setiap malam ia lebih sering berada di diskotek untuk menari. “Tiap ke diskotek, diam-diam saya mempelajari gerakan orang-orang yang nge-dance,” kenang Jefri. Karena bakat, ia pun kemudian menjadi penari yang bertualang dari satu diskotek ke diskotek lain. Bahkan beberapa kali ia berhasil memboyong piala ke rumah sebagai the best dancer. Belum puas, ia juga mencoba merambah dunia fotomodel dan ikut fashion show di beberapa diskotek. Akhirnya, meski dengan nilai pas-pasan Jefri berhasil lulus SMA pada tahun 1990.Usai SMA ia menjajal kemampuan aktingnya dengan menjadi pemeran pengganti dalam beberapa sinetron. Aktingnya mulai dilirik sutradara. Tahun itu juga ia mendapat peran di sinetron Pendekar Halilintar. “Waktu itu sinetron masih dipandang sebelah mata oleh masyarakat dan artis film,” kenang Jefri. Sementara itu hubungan Jefri dengan kedua orangtuanya semakin memburuk. Apihnya mati-matian menentang kegiatan Jefri. Haji Ismail Modal sangat mengenal kelamnya dunia yang tengah digeluti anaknya. Karena, di masa mudanya Ismail juga pernah berkecimpung di dunia film. “Apih pernah main di film action, antara lain Macan Terbang dan Pukulan Berantai.” Tapi, Jefri tetaplah Jefri. Ia bergeming. Terlebih setelah ia menyabet gelar Pemeran Pria Terbaik dalam Sepekan Sinetron Remaja, yang diadakan TVRI tahun 1991. “Waktu itu saya sangat bangga, karena merasa menang dari orangtua,” kenang Jefri. Kesombongannya makin menjadi. Ia merasa, jalan hidup yang dititinya adalah yang terbaik baginya. Setelah bergelimang uang, Jefri semakin tidak terkendali. Semua jenis kemaksiatan pernah dicobanya. Ia pun sempat bertahun-tahun menjadi pecandu berat narkoba. Bahkan malam pengantinnya dengan Pipik Dian Irawati, gadis Semarang yang dinikahinya 7 September 1999, dilewatinya dengan kondisi sakaw dan menikmati putaw semalaman.“Hati siapa yang nggak sedih, Mas?” kenang Pipik. “Tapi saat itu saya justru semakin tertantang untuk melepaskan Mas Jefri dari jeratan benda terkutuk itu.”Jefri memang beruntung. Istrinya tidak hanya cantik, tetapi juga tabah dan ulet. Dengan sabar Pipik menemani Jefri melewati hari-hari sakaw-nya. Juga pada malam-malam saat suaminya menderita paranoia, dikejar mimpi buruk dan ilusi menakutkan. Saat itu Jefri memang tengah dijauhi teman-temannya, yang kewalahan dengan kelakuan buruk yang semakin menjadi-jadi saat ketagihan. “Saya sempat mengalami masa-masa paranoid, sekitar setahun. Pada masa itulah saya menyadari, saya tidak memiliki siapa-siapa kecuali Allah SWT. Allah tidak pernah meninggalkan kita. Seburuk apa pun saya di mata Allah, Dia tidak pernah meninggalkan saya,” kenangnya haru.Perlahan Jefri mulai terkontrol. Terlebih ketika mendengar Pipik hamil, ia berusaha keras menghentikan kebiasaan buruknya. Selain mengikuti terapi dengan Prof. Dr. Dadang Hawari, Jefri juga mempunyai cara tersendiri melawan kecanduannya. Saat keinginan untuk mengonsumsi putaw datang dan tak tertahankan, ia menghukum dirinya dengan melukai tubuhnya sendiri. Cara ini, menurut Pipik, lumayan efektif meski awalnya sempat membuatnya ngeri.Kini, enam tahun setelah pernikahannya, ibu dua anak Jefri, Adiba Khanza Az-Zahra dan Muhammad Abi Dzar Al-Ghifari, ini bisa tersenyum lega. Suaminya bukan saja sembuh dari kecanduan narkoba, tetapi juga telah berhasil mengembalikan dirinya sendiri ke jalan Allah. Jefri, meneruskan jejak orangtuanya, kini dikenal sebagai seorang pendakwah yang sangat digemari.
Mubalig TampanSetelah masa perenungan, Jefri kembali memulai mengaji di berbagai majelis taklim di ibu kota. Ia juga berguru kepada beberapa ulama, salah satunya adalah K.H. Ali Saman. Terhadap gurunya yang satu ini Jefri sangat terkesan dengan pola hidupnya yang bersahaja. “Sampai sekarang, rumahnya sangat sederhana. Bahkan, sepeda saja tidak punya,” ungkapnya terharu. Setelah mengikuti berbagai taklim dan pengajian, ia mulai merasakan ketenangan dalam hidup. Tahun 2000 ia menjadi penyuluh gerakan anti narkoba. Ini pun awalnya tidak disengaja. Saat itu salah satu kakaknya, Ustaz Abdullah Riyadh (kini almarhum), yang seharusnya menjadi pembicara, berhalangan hadir, karena harus ke Singapura. “Saya dipaksa menggantikan ceramah-ceramah Ramadan di beberapa masjid dan kantor,” tuturnya.Masa lalunya yang kelam justru dijadikan salah satu modal berdakwah, terutama terhadap kaum muda. Berbagai pengalaman dan kiat menghindari dunia hitam memang lebih efektif bila disampaikan oleh orang yang pernah bergelimang di dalamnya. Gayanya yang khas dengan iringan pelantunan ayat-ayat Al-Quran dan celetukan-celetukan ala remaja yang membumbui ceramahnya sangat digandrungi kawula muda. Wajah tampannya juga memesona kaum ibu dan remaja putri.Sejak itu ia merambah jalan dakwah, dan mulai dikenal sebagai mubalig. Popularitasnya kian meroket ketika beberapa stasiun televisi swasta mengontraknya untuk memberi tausiah di sinetron religi. Berbagai acara, seperti Kuliah Pagi, Astagfirullah (SCTV), Di Ambang Fajar (RCTI), Kuasa Illahi dan Suratan Takdir (TPI), Musafir (ANTV), dan Sentuhan Qalbu (TransTV), pun dihiasi wajah dan nasihat-nasihatnya.Belakangan, Ustaz Jefri, yang kini sering dipanggil UJ oleh teman-temannya, dan dikenal memiliki bakat tarik suara, juga dilirik sebuah perusahaan rekaman. Awal Ramadan lalu, ia merilis album perdananya, Lahir Kembali, yang diproduksi Forte Record dan diedarkan oleh Nada Hijrah.Di tengah kesibukannya sebagai dai dan membintangi beberapa sinetron keagamaan, ia pun masih menyempatkan diri membuka pengajian di kediamannya. “Namanya Majelis Taklim I Like Monday,” kata Ustaz Jefri.Jadwal acara taklim yang diselenggarakan dua minggu sekali ini banyak diikuti para eksekutif, businessman, anak muda, artis, dan lain-lain. Ia sengaja memilih nama I Like Monday untuk majelis taklimnya sebagai penghormatan terhadap hari kelahiran, hijrah, dan wafatnya Rasulullah SAW.Konsep yang ditawarkan majelis taklim yang diadakan setiap Senin malam ini adalah pengkajian kasus-kasus yang sedang hangat di masyarakat dan dikupas dengan materi-materi yang sederhana. “Saya ingin memulai dari hal-hal yang sederhana. Saya ingin menghindari perasaan menjadi orang yang paling suci, sementara yang mendengarnya jelek semua,” tutur Ustaz Jefri merendah. Karena itu, dalam setiap pengajian yang diselenggarakannya, Ustaz Jefri sendiri jarang tampil sebagai pembicara utama. Ia justru lebih sering mengundang pembicara atau ustaz dari luar. Dengan begitu, menurutnya, ia bisa menyerap ilmu dari pembicara yang hadir di majelisnya.“Saat ini saya masih membutuhkan sumber ilmu,” katanya rendah hati. Sejak menempati rumah barunya di kawasan Pondok Indah, Ustaz Jefri menghiasi hari-harinya dengan berbagai kegiatan bermanfaat bagi umat. Ia juga berharap, di rumah barunya ini bisa lebih memperhatikan buah hatinya, Adiba dan Abizar. Rupanya sang ustaz, dengan pengalaman masa mudanya, sangat khawatir dengan pengaruh lingkungan yang bisa dengan mudah merusak seorang anak.“Kami menempati rumah baru agar lingkungan dan pendidikan anak-anak saya lebih baik dan terarah,” katanya penuh harap. Belakangan, kebahagiaan senantiasa menghiasi wajahnya, apalagi kini setelah dua anak mulai tumbuh besar. Tetapi, menurutnya, yang paling bahagia dengan keadaannya sekarang adalah sang ibunda. “Senyumnya lebih sering terlihat. Kalau dulu Umi selalu berlinang air mata sedih, sekarang air mata itu adalah air mata kebahagiaan,” papar Jefri. Ia juga merasa, semua yang diperolehnya saat ini tak lepas dari doa dan air mata ibundanya. “Umi tidak pernah jenuh mengangkat tangan memohon pertolongan Allah SWT,” tuturnya. Kini, ketika telah menjadi ustaz, masih sering terngiang di telinganya wejangan gurunya semasa di pesantren, almarhum K.H. Ahmad Rifai Arif, pengasuh Ponpes Darul Qolam, Gintung, Balaraja, Tangerang, yang mengingatkan pentingnya introspeksi diri. “Dari mana kita datang? Sekarang ada di mana? Dan akan ke mana? Kalian tidak harus menjadi ulama, karena yang terpenting adalah memiliki iman yang kuat.”Terlepas dari itu semua, Ustaz Jefri mengaku sangat bahagia. “Ini adalah kehidupan yang sebelumnya tidak pernah saya bayangkan akan saya alami.”AST/Ft. AO & Dok. AnekaYess!

Telah dimuat di Majalah alKisah No.24/III/2005

24.2.06

Biografi Penulis

Nama Pena : Aji Setiawan
Nama Lengkap : Aji Setiawan, ST
Lahir : 1 Oktober 1978
Alamat KTP : Desa Cipawon 6/1 Bukateja, Purbalingga, Jateng 53382

Alamat Tinggal : Jl Salemba Tengah I/C 199 RT 007/RW 04, Kelurahan Paseban, Jakarta Pusat

Alamat kantor : Jl Salemba Tengah no 58 Jakarta 10440, INDONESIA
Telp: (021) 2306188-39899033 Fax: (021) 3989030

Telp. Hp. 0813 271876 25
E-mail: aji_setiawan2000@yahoo.com

Pendidikan
-Universitas Islam Indonesia (UII), Jogjakarta lulus tahun 2002
-SMU Negeri 3 Purwokerto, Banyumas lulus tahun 1996
-SMP Negeri 1 Bukateja, Purbalingga lulus tahun 1994
-Madrasah Ibtidaiyah LPNU Ma’arif Cipawon II, Bukateja Purbalingga lulus tahun 1992
-Madrasah Diniyah Nahdlatul Ulama’ Pondok Pesantren Darul Mutaqien tahun 1986-1993

Pengalaman Organisasi
-Litbang Himpunan Mahasiswa Jurusan Teknik Manajemen Industri, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Islam Indonesia (UII), Jogjakarta 1997
-Lembaga Pers Mahasiswa ”Profesi”, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Islam Indonesia (UII), Jogjakarta 1998
-Staff Litbang Lembaga Pers Mahasiswa “Himmah” Universitas Islam Indonesia (UII), Jogjakarta 1999-2001
-Ketua Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, Rayon Fakultas Teknik Industri, Komisariat “KH Wahid Hasyim”, Universitas Islam Indonesia Jogjakarta tahun 2000-2002
-Ketua Persatuan Wartawan Indonesia Reformasi Korda Jogjakarta 1999-2003
-Ketua Laskar Ababil Kabupaten Purbalingga-Jawa Tengah 2003-sekarang
-Presiden Repoeblik Rakjat Biasa sedjak tahoen 1978-sekarang.....Merdeka!!!

Pengalaman Bekerja
-Reporter Jogja Pos (1999)
-Wakil pemimpin Redaksi Koran berkala “Media Ka’bah’ tahun 2003-sekarang
-Manager PT Ababil Jaya Purbalingga (2004-sekarang)
-Redaksi Majalah alKisah (2003-sekarang)

Emha Ainun Nadjib (Tamu Kita)

Emha Ainun Nadjib

Pengelana dari Menturo

Ia adalah sosok multikreatif. Kreativitasnya telah mengantarkan langkah kakinya ke berbagai dimensi kehidupan: santri, gelandangan, dan seniman sastra.

Tanggal 17 malam, di Dusun Tamantirto, Kasihan, Bantul, Yogyakarta.
Halaman pesantren yatim piatu itu sudah nyaris penuh oleh jemaah. Nuansa putih mewarnai ribuan orang yang duduk di atas puluhan tikar yang terhampar, sampai ke luar kompleks Pesantren Zaituna. Pukul sembilan tepat, acara pun dibuka dengan pembacaan surah Al-Fatihah oleh seorang pria gagah yang juga mengenakan baju dan kopiah putih.
Acara demi acara pun kemudian mengalir dengan lancar. Selawat pembuka, yang diambil dari beberapa syair Maulid Simthud Durar, mengawali prosesi spiritual malam itu. Lantunan syair selawat itu semakin indah saat diiringi irama rancak yang berasal dari perpaduan berbagai alat musik modern dan tradisional. Jemaah, yang sebagian besar pemuda dan mahasiswa, pun segera larut dalam kesyahduan.
Usai beberapa lagu pembuka, acara yang dinantikan jemaah pun tiba. Sang pemimpin kelompok musik asal Jawa Timur kembali tampil, meraih mikrofon dan menyapa hadirin. Dengan lugas ia lalu menyampaikan sebuah prolog diskusi yang cukup panjang. Dengan gaya bicaranya yang agak “nakal” dan penuh sentilan, tokoh yang belakangan tubuhnya “membesar” ini menyoroti berbagai permasalahan kemasyarakatan.
Forum malam itu semakin semarak setelah sang narasumber membuka kesempatan dialog. Bergantian, beberapa orang yang hadir menyampaikan unek-uneknya. Terkadang hadirin ger-geran ketika audiens berbicara dengan gaya yang lugu. Maklum, jemaah yang hadir di pengajian rutin bulanan itu memang berasal dari berbagai golongan dan strata sosial.
Sang narasumber, tokoh sentral kita kali ini, adalah sosok yang dikenal multikreatif. Ia melintasi berbagai dimensi kreativitas, diawalinya sejak usia muda, yang membuatnya bisa masuk ke hampir semua golongan. Dialah Muhammad Ainun Najib, yang lebih dikenal dengan Emha Ainun Najib atau Cak Nun.
Berbagai predikat, seperti budayawan, kolumnis, seniman, bahkan kiai, kini kerap dinisbatkan kepada pria yang mengaku mengawali segalanya dengan keterbatasan-keterbatasan yang melingkarinya. Sebuah proses panjang yang, menurutnya, berliku.
Dikenal memiliki stamina ketekunan dan keuletan yang menggebu-gebu dalam mengatur energi kebaikan, suami Novia Kolopaking ini mampu tetap eksis dalam berbagai geliat kehidupan. Ia bahkan mampu mewarnainya secara langsung dengan arif.

Santri Gelandangan
Lahir pada 27 Mei 1953 di Menturo, Jombang, Jawa Timur, Emha adalah anak keempat dari lima belas bersaudara. Ayahnya, Muhammad Abdul Lathif, seorang petani dan kiai surau, sering menjadi muara keluh kesah masyarakat di sekitarnya. Begitu pula dengan ibunya, Chalimah.
Emha menjalani hampir seluruh episode awal kehidupannya di dusun kecilnya, Menturo. Ia bersyukur menjadi anak desa, yang memberinya pengalaman dan pelajaran tentang kesederhanaan, kewajaran, dan kearifan hidup.
“Saya banyak belajar dari orang desa yang berhati petani. Mereka makan dari hasil yang ditanam. Semuanya berdasarkan kewajaran, kerja sebagai orientasi hidup, tak pernah mempunyai keinginan menguasai atau mengeksploitasi alam dan sesama manusia. Mereka tabah meskipun ditindih penderitaan,” kata Cak Nun.
Setamat SD, Emha melanjutkan ke Pondok Pesantren Gontor. Namun, di pesantren yang diasuh oleh K.H. Imam Zarkasyi itu ia hanya bertahan selama dua setengah tahun. Emha, yang sejak kecil dikenal kritis, melancarkan aksi protes terhadap ketidakadilan petugas keamanan pondok, sehingga “diusir” dari Pondok Pesantren Gontor.
Pengalaman dua setengah tahun di Gontor, tampaknya begitu berkesan bagi Emha, yang memang dibesarkan dengan kultur santri. Sekelumit pengalaman itu pula yang kelak kerap mewarnai berbagai karyanya yang sarat kritik sosial, lugas tapi sufistis.
Keluar dari Gontor, Emha lantas hijrah ke Yogyakarta, kota yang membuka peluang bagi pengembangan kreativitasnya. Usai menamatkan pendidikan menengah di SMA Muhammadiyah I pada 1969, ia juga sempat masuk ke Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada. Namun setelah kuliah empat bulan, pada hari kedua ujian semester I, ia keluar.
Gejolak jiwa seniman Emha, membawa langkah kakinya ke “Universitas” Malioboro. Sepanjang kurun 1970-1975, ia menggelandang hidup di komunitas Maliboro. Ia bergabung dengan kelompok penulis muda Persada Studi Klub, yang kala itu diasuh oleh “mahaguru” Umbu Landu Paranggi. Saat itulah pengembaraan sosial, intelektual, kultural, maupun spiritual Cak Nun memasuki babak baru, berkarya.
Nama Emha mulai dikenal orang, saat tulisan-tulisannya yang berupa esai, puisi, dan cerpen, bertebaran di berbagai media massa. Waktu yang hampir bersamaan ketika ia mulai rajin mementaskan pembacaan-pembacaan puisinya bersama Teater Dinasti pada tahun 1980-an.
Selepas bergulat panjang di “Universitas” Malioboro, dekade ’80-an, sering dianggap sebagai periode produktif Cak Nun. Dalam rentang waktu tersebut, ia melahirkan beberapa antologi puisi, di antaranya Sajak-sajak Sepanjang Jalan (1977), Cahaya Maha Cahaya (1988), Syair Lautan Jilbab (1989), dan Suluk Pesisiran (1990).
Kini, setelah 30 tahun berkarya, Emha Ainun Nadjib telah mela­hirkan lebih kurang 25 antologi puisi yang berisi sekitar 800 judul puisi. Ciri khas puisi karyanya adalah kandungan protes sosial, sosio-religius, dan mistik Islam. Di luar puisi, Cak Nun, bersama Halim H.D., “pengasuh” jaringan kesenian Sanggarbambu, aktif di Teater Dinasti dan mengasilkan beberapa repertoar serta pementasan drama.
Di antara karya fenomenalnya adalah drama kolosal Santri-santri Khidhir, yang dipentaskannya bersama Teater Salahudin di lapangan Gontor, dengan seluruh santri menjadi pemain, dan Lautan Jilbab, yang dipentaskan secara massal di Yogya, Surabaya, dan Makassar, tahun 1990.

Rumah Hantu
Hal unik lain dari tokoh satu ini adalah kenekatannya yang sering overdosis. Setelah sebelumnya pernah menggelandang di sepanjang emperan toko Malioboro, Yogyakarta, Cak Nun juga pernah menjadi gelandangan di Amsterdam, Belanda. Ketika itu, usai mengikuti salah satu event kepenyairan ia kehabisan bekal. Bahkan untuk membeli tiket pesawat pulang pun Cak Nun tidak mampu.
Beruntung, jiwanya adalah petualang. Ketidakberdayaan ini dimanfaatkannya untuk menimba pengalaman hidup. Bersama temannya, seorang penyair asal Amerika Serikat yang menjadi imigran gelap di Belanda, selama dua bulan Cak Nun, yang tak memegang uang sepeser pun, menempati satu petak flat yang tak berpenghuni.
Di Negeri Kincir Angin itu ada kebiasaan, jika ada sebuah rumah yang ditelantarkan atau ruang kosong yang tak ditempati lebih dari dua bulan, setiap orang berhak menempatinya. “Tapi jangan dianggap itu rejeki nomplok dulu,” kelakarnya. “Tinggal di rumah tanpa pemanas saat musim salju sama saja dengan kos di dalam kulkas.”
Beruntung tubuhnya telah terbiasa dengan kemelaratan. Meski melawan suhu di bawah nol derajat, Cak Nun tak pernah merasakan sakit. “Untuk mengisi kamar itu, kami menunggu setiap Senin malam orang-orang Belanda buang barang. Kasur, selimut, mesin ketik, teve hitam putih, kompor fungsi separo, meja, kursi, dan sebagainya kami angkut dari tempat pembuangan,” katanya lagi.
Untuk makan, keduanya mengais sisa-sisa restoran dan rumah tangga kaya yang membuang makanan agak kadaluwarsa.
“Rupanya, makin miskin dan menderita, perut kita makin tahan racun,” ujarnya terkekeh.
Di tempat itulah Cak Nun mengenal dan berinteraksi dengan para pengungsi, yang kebanyakan adalah pelarian politik dari berbagai negara Afrika.
“Tiap hari kami bercengekrama sambil mencari secuil roti di sekitar Centraal Station Amsterdam.”
Dari para “panduduk haram” ini pula ia mengaku mengetahui cara membongkar kotak telepon agar ratusan koinnya ambrol keluar. Atau teknik benang koin yang digunakan untuk untuk menipu telepon umum, sehingga satu koin bisa dipakai berulang kali, bahkan bisa dipakai menelepon ke luar negeri.
Belakangan, ketika punya sedikit uang, ia menyewa kamar yang tarifnya murah, karena dipercayai penduduk sekitar ada hantunya. Di Denhaag, pertengahan 1980-an, misalnya, Cak Nun pernah menyewa kamar yang konon juga ada setannya. Tarif sewanya kurang dari separuh harga normal, karena pernah ada penghuni kamar itu yang gantung diri. Setiap penghuni berikutnya selalu merasa terganggu.
“Saya ikhlas menyediakan diri diganggu dan berjanji tidak akan mengikutinya gantung diri, he he,” candanya.
Sepulang dari luar negeri, Cak Nun makin produktif berkarya dan bahkan mulai merambah ke dunia musik. Ia melahirkan genre baru, musikalisasi puisi. Meski demikian, dalam berbagai kesempatan ia menolak disebut artis musik atau “penyanyi”.
Bersama Kyai Kanjeng, grup musik yang didirikannya, ia menelurkan album kaset bertajuk Kado Muhammad (1996), Wirid Padhang Mbulan (1997), Menyorong Rembulan (1999), Jaman Wis Akhir (1999), Perahu Nuh (1999), Kepada-Mu Kekasih-Ku (2000), Kenduri Cinta dan Maiyah Tanah Air (2002), dan Ummi Khultsum (2005).

Penulis Muda
Emha sebenarnya lahir bukan dari kultur “penyanyi”, ia lebih tepat sebagai pemikir dan penulis serba bisa. Sejak muda ia gandrung menulis puisi, cerpen, naskah drama, makalah, dan esei (kolom). Tahun 1977-1978, tulisan-tulisannya sudah sering dimuat di harian Kompas. Juga di rubrik kolom di majalah Tempo pada tahun 1981. Bisa dibilang, waktu itu ia termasuk salah satu penulis termuda yang mampu menembus ketatnya seleksi dua media terbesar di tanah air tersebut.
Di antara sekian banyak tulisannya, jenis esei merupakan salah satu yang menonjol dan banyak dibukukan. Hingga tahun ini, tulisan-tulisannya yang terserak di berbagai media itu telah dikumpulkan menjadi lebih dari 30 buku.
Tulisan Cak Nun yang ekspresif memang mempunyai kekuatan untuk disukai. Ada banyak cara yang digunakan buat mengekspresikan “dirinya” ke dalam jagat kata, yang membuat pembacanya kerap ikut terbawa mangkel, geli, tertawa, berduka, marah, atau terbakar.
Dalam hal ini Emha pernah berpendapat, jika seseorang ingin menghadirkan suatu karya, ia harus meyakin­kan diri bahwa salah satu penikmatnya adalah dirinya sendiri. Dan jadilah orang banyak. Artinya, pada saat yang bersamaan, agar karya bisa dinikmati oleh orang banyak, ia juga harus rela untuk menjadi siapa saja.
Tentu saja ilustrasi tersebut tidak mengatakan bahwa Emha cukup sukses mengatasi persoalan tersebut. Tetapi paling tidak untuk perspektif linguistis, karyanya memang memiliki “kelebihan” tertentu; dengan bahasanya yang padat, lugas, rileks, nakal, imajinatif, dan cerdas.
Pada kurun waktu selepas Orde Baru jatuh, produktivitas Emha tampak mulai menurun. Keadaan itu berlangsung sekitar tiga tahun. Hal ini tentu saja menggelisahkan teman-temannya, jangan-jangan Emha akan mengalami masa aus. Seperti mesin, secanggih apa pun, lambat laun ia akan men­ghadapi suatu masa yang tak bisa dipakai lagi. Dengan tersenyum Emha mengatakan, “Manusia kan sama sekali bukan mesin.”
Kegelisahan atau mungkin juga asumsi di atas sering tidak sesuai kenyataan. Bukankah, dalam dunia pemikiran, makin matang usia, makin kreatif dan produktif pula seseorang?
Ia merasa, apa yang selama ini dapat dilakukannya tidak lepas dari kealamiahan yang Allah anugerahkan. Otak, yang dibantu akalnya, secara alamiah mengolah gagasan yang muncul dengan sendirinya, yang kemudian menghasilkan sebuah karya.

Keliling Dunia
Saat ini Emha lebih banyak menekuni aktivitas rutin bulanan dengan komunitas Masyarakat Padhang Mbulan di sejumlah kota. Hingga rata-rata 10-15 kali pertemuan digelarnya setiap bulan bersama musik Kyai Kanjeng. Sampai sekarang, Kyai Kanjeng telah menggelar pentas di lebih dari 8.500-an kota kecamatan se-Indonesia.
Sekali waktu, Kyai Kanjeng juga mengelana ke berbagai kota di luar negeri. Seperti, beberapa waktu lalu, Kyai Kanjeng mengadakan pentas muhibah ke Mesir, Hong Kong, Malaysia, Eropa dan Italia. Acara pentas tersebut, yang umumnya diselenggarakan di lapangan terbuka, diikuti berbagai golongan, aliran, dan agama. Ia dan kelompoknya menawarkan kegembiraan menikmati kebersamaan seraya menghargai nilai-nilai kemanusiaan.
Kyai Kanjeng juga merupakan satu-satunya grup musik muslim yang mengiringi prosesi pemakaman Paus Johannes Paulus II dengan iringin musik dan puisi-puisi khusus untuk suasana duka itu. Bahkan Comune di Roma, semacam wali kota, mengizinkan pentas Kyai Kanjeng di Teatro Dalmazia pada 5 April 2005 malam, yang membawakan lagu-lagu spiritual. Ini menunjukkan betapa Kyai Kanjeng diterima oleh semua kelompok dan kalangan masyarakat di mana pun.
Adapun jemaahnya di berbagai wilayah Nusantara yang rutin dikunjungi Kyai Kanjeng, antara lain, jemaah “Padang Bulan” tiap pertengahan bulan (15 malam 16, bulan Jawa) di Menturo, Jombang, Jawa Timur; jemaah “Mocopat Syafaat” tiap tanggal 17 malam di Ponpes Az-Zaituna, Tamantirto, Kasihan Bantul, Yogyakarta; jemaah Maiyah, tiap akhir pekan, sistem giliran (infak) di seluruh pelosok Yogyakarta; jemaah “Gambang Syafaat” di Semarang; “Pengajian Izroil” di Wonosobo, Jawa Tengah; “Papparandang Ate” di Sulawesi Selatan; “Haflah Shalawat” di Surabaya; “Tombo Ati” di Malang, Jawa Timur; jemaah “Kenduri Cinta”, tiap Jumat malam, minggu kedua, di halaman Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat, atau plaza Universitas Paramadina di Pancoran, Jakarta Selatan, tiap Sabtu malam, minggu kedua. Perubahan jadwal biasanya diinformasikan melalui milis kenduricinta atau website resminya,
www.padhangmbulan.com.

AST, dari berbagai sumber

http://padhangmbulan.com/modules.php?name=News&file=article&sid=176

Sudah dimuat di Majalah alKisah edisi No 25/III/2005

23.2.06

Menjaga Lisan (Mutiara Rasul 4)

Manusia tidak dilemparkan ke neraka karena lehernya, tapi karena lisannya

(Al-Hadis).

Ketika Mu’adz bin Jabal diangkat sebagai gubernur Yaman, sebelum berangkat ia menghadap Rasulullah SAW. Maka Rasulullah pun menyampaikan pesan kepadanya. ”Wahai Mua’adz, bertakwalah di mana saja kamu berada, dan hapuslah perbuatan jelek dengan kebaikan. Bergaullah dengan sebaik-baiknya pergaulan. Sungguh, aku sangat menyayangi kamu, maka jangan lupa kamu membaca doa berikut ini usai salat: Ya Allah, tolonglah aku agar selalu ingat dan bersyukur kepada-Mu, serta bisa memperbaiki ibadah kepada-Mu.” Rasulullah menambahkan, ”Wahai Mu’adz, tahukah kamu, apa hak Allah terhadap hamba-Nya?”

“Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui,” jawab Mu’adz.

“Hak Allah atas mereka ialah hendaknya mereka menyembah-Nya, dan jangan menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Tahukah kamu, apa hak hamba kepada Allah?” tanya Rasulullah SAW lagi.

“Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui,” jawab Mu’adz lagi.

“Hak mereka terhadap Allah ialah Allah tidak akan menyiksa mereka. Sebab, pangkal dari semua perkara ialah Islam. Tiangnya adalah salat, dan rangkaiannya adalah jihad di jalan Allah.”

“Wahai Mu’adz, maukah kamu aku beri tahu pintu-pintu kebaikan? Puasa adalah benteng, sedekah dapat menghilangkan kesalahan seperti air memadamkan api. Demikian pula bangunnya seseorang di waktu tengah malam (untuk beribadah),” sabda Rasulullah lagi.

Kemudian Rasulullah SAW membacakan Al-Quran surah As-Sajdah ayat 16-17, ”Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Tak seorang pun mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka, yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan bagi apa yang telah mereka kerjakan.”

Lalu Rasulullah SAW bersabda lagi, ”Wahai Mu’adz, maukah kamu aku beri tahu sesuatu yang harus kamu miliki lebih dari semua itu?”

“Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui,” jawab Mu’adz.

“Jagalah lisanmu,” jawab Rasulullah.

Sambil memegang lisannya, Mu’adz berkata, ”Wahai Rasulullah, aku sudah berhati-hati dalam bercakap dengan lisan.”

“Wahai Mu’adz, ibumu telah melatih dan mendidikmu. Manusia tidak dilemparkan ke neraka karena lehernya, tapi karena lisannya,” sabda Rasulullah SAW mengakhiri pesannya kepada Mu’adz.

Betapa pentingnya kita menjaga lisan (dari ucapan yang sia-sia atau omongan buruk). Perhatikanlah hadis riwayat Bukhari dan Muslim ini, “Orang yang percaya kepada Allah dan hari kiamat, hendaklah berkata baik, atau diam.”

AST

“Orang-orang yang suka melaknat tidak akan pernah menjadi syuhada, dan tidak dapat memberi syafaat kepada siapa pun pada hari kiamat kelak.” (Muhammad SAW)

Keutamaan Salat (Mutiara Rasul 3)

Selain sebagai penghapus dosa, salat juga mengandung rahmat, kelembutan, dan kemurahan Allah SWT.

Suatu hari, di musim dingin, Rasulullah SAW keluar dari rumah dan mengambil ranting sebatang pohon sehingga daun-daunnya berguguran. Rasul memanggil Abu Dzar, sahabat, yang menyertai beliau.
“Labbaik, ya Rasulullah,” jawab Abu Dzar.
“Sesungguhnya seorang muslim, jika menunaikan salat dengan ikhlas karena Allah, dosa-dosanya akan berguguran seperti gugurnya daun-daun ini dari pohonnya,” sabda Rasulullah SAW.
Dalam hadis yang lain, Abu Hurairah berkata, ”Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Bagaimana pendapat kalian jika di depan rumah kalian ada sebuah sungai yang mengalir dan kalian mandi di dalamnya lima kali sehari? Apakah akan tersisa kotoran di tubuh kalian?’ Mereka menjawab, ‘Tidak akan tersisa kotoran di tubuh kami sedikit pun.’ Lalu Rasulullah SAW bersabda, ‘Begitulah perumpamaan salat lima waktu. Allah akan menghapuskan dosa-dosa kita’.” (HR Bukhari, Muslim, Tirmidzi, dan Nasa’i).
Selain sebagai jalan penghapusan dosa, salat juga mengandung rahmat, kemurahan, dan kelembutan Allah SWT yang berlimpah. Hanya karena kebodohan kita sendirilah kita tidak memanfaatkan salah satu dari kemurahan Allah itu. Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda, ”Seseorang yang ketika hendak tidur berniat melaksanakan salat Tahajud tapi kemudian tertidur, dia mendapatkan pahala salat Tahajud.”
Karena kandungan rahmat Allah SWT yang begitu besar, jika mengalami kesulitan Rasulullah SAW segera melaksanakan salat (HR Ahmad dan Abu Dawud). Maka, jika seseorang bersegera mengerjakan salat ketika mengalami kesusahan, sesungguhnya dia sedang menuju rahmat Allah SWT. Jika rahmat Allah datang dan membantu, kesusahan apa lagi yang tersisa?
Kisah keutamaan salat juga terungkap dalam cerita Ummu Kultsum. Suatu hari Abdurahman, anaknya, menderita sakit parah, sehingga semua orang khawatir ia akan segera meninggal. Maka Ummu Kultsum pun melaksanakan salat. Segera setelah itu Abdurrahman sadar kembali, lalu bertanya kepada orang-orang di sekelilingnya.
“Apakah keadaan saya menunjukkan seolah-olah telah meninggal?”
“Ya!” jawab mereka.
Dalam hadis lain, Abdullah bin Salam berkata, apabila keluarga Rasulullah SAW sedang tertimpa kesusahan, beliau memerintahkan melaksanakan salat sambil membaca ayat 132 surah Thaha: Wamru ahlaka bishshalati wash thabir ‘alaiha, la nasaluka rizqan, nahnu narzuquka. Wal ‘aqibatu littaqwa (Perintahkanlah keluargamu melaksanakan salat dan bersabarlah. Kami tidak minta rezeki kepadamu, bahkan Kami-lah yang memberi rezeki. Dan akibat yang baik itu bagi orang-orang yang bertakwa).
Sementara, menurut Asma binti Abubakar, kakak Aisyah, istri Rasul, Rasulullah SAW bersabda, ”Pada hari kiamat seluruh manusia akan dikumpulkan di satu tempat, dan suara yang diumumkan oleh malaikat didengar oleh seluruh manusia. Ketika itu diumumkan, di manakah orang-orang yang selalu memuji Allah dalam setiap keadaan, baik ketika senang maupun susah?”
Mendengar seruan itu, sebuah rombongan manusia berdiri lalu masuk ke dalam surga tanpa hisab. Kemudian diumumkan lagi, “Di manakah orang-orang yang menghabiskan waktu malamnya dengan beribadah dan lambung mereka jauh dari tempat tidur?” Maka sebuah rombongan berdiri lalu masuk surga tanpa hisab. Lalu terdengar seruan berikutnya, ”Di manakah orang-orang yang dalam perniagaannya tidak melalaikan mengingat Allah?” Maka sebuah rombongan berdiri dan masuk surga tanpa hisab.
Tidakkah kita ingin menjadi anggota rombongan yang masuk surga tanpa hisab? Untuk bisa menjadi anggota rombongan yang bisa langsung masuk ke surga tanpa hisab, kita harus menyempurnakan salat. Bukan sekadar menunaikan salat sebagai kewajiban, tapi berusaha meraih puncak-puncak kenikmatan cinta dan rahmat Allah SWT, sehingga mendapat limpahan taufik dan karunia-Nya.
AST

Kata Mutiara
Dari Abu Tsurayyah Sabrah bin Ma’bad Al-Juhanniy RA, Rasulullah SAW bersabda, “Ajarilah anakmu mengerjakan salat apabila berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka karena meninggalkan salat apabila sudah berumur sepuluh tahun.” (HR Abu Dawud dan Tirmidzi)

Cinta Rasul Kepada Anak Yatim (Mutiara Rasul 2)

“Barang siapa mencintai dan menyantuni anak-anak yatim, kelak akan hidup berdampingan bersamaku di surga.” (Al-Hadis).

Usai menunaikan salat Id dan bersalaman dengan para jemaah, Rasulullah SAW segera pulang. Di jalan pulang, dilihatnya anak-anak sedang bermain di halaman rumah penduduk. Mereka tampak riang gembira menyambut hari kemenangan setelah sebulan berpuasa. Pakaian mereka pun baru. Rasulullah SAW mengucap salam kepada mereka, dan serentak mereka langsung mengerubuti Rasul untuk bersalaman.
Sementara itu, tak jauh dari sana, di pojok halaman yang tak terlampau luas, tampak seorang anak kecil duduk sendirian sambil menahan tangis. Matanya lebam oleh air mata, tangisnya sesenggukan. Ia mengenakan pakaian bekas yang sudah sangat kotor penuh tambalan di sana-sini. Compang-camping.
Melihat anak kecil yang tampak tak terurus itu, Rasulullah SAW segera bergegas menghampirinya. Dengan nada suara pelan penuh kebapakan, Rasulullah SAW bersabda, ”Hai anak kecil, mengapa engkau menangis, tidak bermain bersama teman-temanmu?” Rupanya anak itu belum tahu bahwa yang menyapanya adalah Rasulullah SAW.
Dengan ekspresi wajah tanpa dosa, ia menjawab sambil menangis, ”Wahai laki-laki, ayahku telah meninggal dunia di hadapan Rasulullah SAW dalam sebuah peperangan. Lalu ibuku menikah lagi dan merebut semua harta warisan. Ayah tiriku sangat kejam. Ia mengusirku dari rumah. Sekarang aku kelaparan, tidak punya makanan, minuman, pakaian, dan rumah. Dan hari ini aku melihat teman-teman berbahagia, karena semua mempunyai ayah. Aku teringat musibah yang menimpa Ayah. Oleh karena itu, aku menangis.”
Seketika Rasulullah SAW tak kuasa menahan haru mendengar cerita sedih itu. Bulir-bulir air matanya membasahi mukanya yang suci dan putih bersih penuh kelembutan itu. Maka Rasulullah SAW pun lalu memeluknya, tanpa memedulikan bau dan kotornya pakaian anak itu, sambil mengusap-usap dan menciumi ubun-ubun kepalanya.
Lalu sabda Rasul, ”Hai anak kecil, maukah engkau sebut aku sebagai ayah, dan Aisyah sebagai ibumu, Ali sebagai pamanmu, Hasan dan Husein sebagai saudara laki-lakimu, Fatimah sebagai saudara perempuanmu?” Seketika raut wajah anak itu berubah cerah. Meski agak kaget, ia tampak sangat bahagia. ”Mengapa aku tidak mau, ya Rasulullah?”

Hidup Berdampingan
Rasulullah SAW pun lalu membawanya pulang. Disuruhnya anak itu mandi, lalu diberikannya pakaian yang bagus dengan minyak wangi harum. Setelah itu, Rasulullah mengajaknya makan bersama. Lambat laun, kesedihan anak itu berubah menjadi kebahagiaan. Dan tak lama kemudian ia keluar dari rumah Rasul sembari tertawa-tawa gembira. Dan ia pun bermain bersama teman-teman sebayanya.
”Sebelumnya kamu selalu menangis. Mengapa sekarang kamu sangat gembira?” tanya teman-temannya.
Dengan gembira anak itu menjawab, “Aku semula lapar, tapi sekarang sudah kenyang, dan sekarang berpakaian bagus. Sebelumnya aku yatim, sekarang Rasulullah adalah ayahku, Aisyah ibuku, Hasan dan Husein saudaraku, Ali pamanku, dan Fatimah saudara perempuanku. Nah, bagaimana aku tidak bergembira?”
”Seandainya ayah kami gugur di jalan Allah dalam peperangan itu, niscaya kami menjadi seperti dia,” kata beberapa kawannya.
Namun, kebahagiaan anak yatim itu tidak berlangsung lama. Tak lama berselang beberapa waktu setelah menunaikan haji wadak, Rasulullah SAW wafat.
“Sekarang aku menjadi anak yatim lagi,” katanya ambil keluar dari rumah Rasulullah dan menaburkan debu di kepalanya karena merasa sedih. Kata-kata anak itu kebetulan terdengar oleh Abubakar Ash-Shiddiq, yang berada tak jauh dari sana. Maka ia pun lalu ditampung di rumah Abubakar.
Demikian sekelumit kisah kecintaan Rasulullah SAW kepada anak yatim di hari raya. Betapa di hari yang penuh kemenangan itu, hari raya menjadi hari yang menyedihkan – sementara nasib mereka banyak yang luput dari perhatian. Anak-anak yatim adalah makhluk yang senantiasa berpuasa dalam hidupnya, baik dalam memenuhi kebutuhan jasmani maupun rohani. Jangankan mengenakan pakaian baru, untuk makan sehari-hari saja sulit.
Sungguh, memperlakukan dengan baik dan menyantuni anak yatim pada hari raya – dan tentu hari-hari biasa – merupakan langkah yang mulia dan terpuji. Dalam Islam, mereka yang menyantuni anak yatim niscaya mendapat penghargaan yang sangat tinggi. Sabda Rasul, ”Barang siapa menyantuni anak yatim, dia berada di surga bersamaku seperti ini (Rasulullah mempersandingkan jari telunjuk beliau dengan dan jari tengah).” Maksudnya, hidup berdampingan dengan Rasulullah SAW di surga...
AST
Dari Abu Syuraih Khuwalid bin ‘Amr Al-Khuza’iy RA, Rasulullah SAW bersabda, “Saya menganggap berdosa orang yang menyia-nyiakan hak dua orang lemah: anak yatim dan wanita.” (HR An-Nasa’i)

Ancaman Melalaikan Salat (Mutiara Rasul1)

Barang siapa melalaikan salat, Allah SWT akan menyiksanya dengan 15 siksaan. Enam siksaan di dunia, tiga siksaan ketika meninggal, tiga siksaan di alam kubur, tiga siksaan saat bertemu dengan Allah SWT.

Ketika Malaikat Jibril turun dan berjumpa dengan Rasulullah SAW, ia berkata, “Wahai Muhammad, Allah tidak akan menerima puasa, zakat, haji, sedekah, dan amal saleh seseorang yang meninggalkan salat. Ia dilaknat di dalam Taurat, Injil, Zabur, dan Al-Quran. Demi Allah, yang telah mengutusmu sebagai nabi pembawa kebenaran, sesungguhnya orang yang meninggalkan salat, setiap hari mendapat 1.000 laknat dan murka. Para malaikat melaknatnya dari langit pertama hingga ketujuh.
Orang yang meninggalkan salat tidak memperoleh minuman dari telaga surga, tidak mendapat syafaatmu, dan tidak termasuk dalam umatmu. Ia tidak berhak dijenguk ketika sakit, diantarkan jenazahnya, diberi salam, diajak makan dan minum. Ia juga tidak berhak memperoleh rahmat Allah. Tempatnya kelak di dasar neraka bersama orang-orang munafik, siksanya akan dilipatgandakan, dan di hari kiamat ketika dipanggil untuk diadili akan datang dengan tangan terikat di lehernya. Para malaikat memukulinya, pintu neraka jahanam akan dibukakan baginya, dan ia melesat bagai anak panah ke dalamnya, terjun dengan kepala terlebih dulu, menukik ke tempat Qorun dan Haman di dasar neraka.
Ketika ia menyuapkan makanan ke dalam mulutnya, makanan itu berkata, ‘Wahai musuh Allah, semoga Allah melaknatmu, kamu memakan rezeki Allah namun tidak menunaikan kewajiban-kewajiban dari-Nya.’ Ketahuilah, sesungguhnya bencana yang paling dahsyat, perbuatan yang paling buruk, dan aib yang paling nista adalah kurangnya perhatian terhadap salat lima waktu, salat Jumat, dan salat berjemaah. Padahal, semua itu ibadah-ibadah yang oleh Allah SWT ditinggikan derajatnya, dan dihapuskan dosa-dosa maksiat bagi siapa saja yang menjalankannya.
Orang yang meninggalkan salat karena urusan dunia akan celaka nasibnya, berat siksanya, merugi perdagangannya, besar musibahnya, dan panjang penyesalannya. Ia dibenci Allah, dan akan mati dalam keadaan tidak Islam, tinggal di neraka Jahim atau kembali ke neraka Hawiyah.”
Lalu Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa meninggalkan salat hingga terlewat waktunya, lalu mengadanya, ia akan disiksa di neraka selama satu huqub (80 tahun).... Sedangkan ukuran satu hari di akhirat adalah 1.000 tahun di dunia.” Demikian tertulis dalam kitab Majalisul Akbar.
Sementara dalam kitab Qurratul Uyun, Abu Laits Samarqandi menulis sebuah hadis, “Barang siapa meninggalkan salat fardu dengan sengaja walaupun satu salat, namanya akan tertulis di pintu neraka yang ia masuki.” Ibnu Abbas berkata, ”Suatu ketika Rasulullah SAW bersabda, ‘Katakanlah, ya Allah, janganlah salah seorang dari kami menjadi orang-orang yang sengsara.’ Kemudian Rasulullah SAW bertanya, ‘Tahukah kamu siapakah mereka itu?’ Para sahabat menjawab, ‘Mereka adalah orang yang meninggalkan salat. Dalam Islam mereka tidak akan mendapat bagian apa pun’.”

Shirathal Mustaqim
Disebutkan dalam hadis lain, barang siapa meninggalkan salat tanpa alasan yang dibenarkan syariat, pada hari kiamat Allah SWT tidak akan memedulikannya, bahkan Allah SWT akan menyiksanya dengan azab yang pedih. Diriwayatkan, pada suatu hari Rasulullah SAW berkata, ”Katakanlah, ya Allah, janganlah Engkau jadikan seorang pun di antara kami celaka dan diharamkan dari kebaikan.”
“Tahukah kalian siapakah orang yang celaka, dan diharamkan dari kebaikan?”
“Siapa, ya, Rasulullah?”
“Orang yang meninggalkan salat,” jawab Rasulullah.
Dalam hadis yang berhubungan dengan peristiwa Isra Mikraj, Rasulullah SAW mendapati suatu kaum yang membenturkan batu ke kepala mereka. Setiap kali kepala mereka pecah, Allah memulihkannya seperti sedia kala. Demikianlah mereka melakukannya berulang kali. Lalu, beliau bertanya kepada Jibril, “Wahai Jibril, siapakah mereka itu?”
“Mereka adalah orang-orang yang kepalanya merasa berat untuk mengerjakan salat,” jawab Jibril.
Diriwayatkan pula, di neraka Jahanam ada suatu lembah bernama Wail. Andaikan semua gunung di dunia dijatuhkan ke dalamnya akan meleleh karena panasnya yang dahsyat. Wail adalah tempat orang-orang yang meremehkan dan melalaikan salat, kecuali jika mereka bertobat.
Bagi mereka yang memelihara salat secara baik dan benar, Allah SWT akan memuliakannya dengan lima hal, dihindarkan dari kesempitan hidup, diselamatkan dari siksa kubur, dikaruniai kemampuan untuk menerima kitab catatan amal dengan tangan kanan, dapat melewati jembatan shirathal mustaqim secepat kilat, dan dimasukkan ke dalam surga tanpa hisab.
Dan barang siapa meremehkan atau melalaikan salat, Allah SWT akan menyiksanya dengan 15 siksaan. Enam siksaan di dunia, tiga siksaan ketika meninggal, tiga siksaan di alam kubur, dan tiga siksaan saat bertemu dengan Allah SAW.
Adapun enam siksaan yang ditimpakan di dunia adalah dicabut keberkahan umurnya, dihapus tanda kesalehan dari wajahnya (pancaran kasih sayang terhadap sesama), tidak diberi pahala oleh Allah semua amal yang dilakukannya, doanya tidak diangkat ke langit, tidak memperoleh bagian doa kaum salihin, dan tidak beriman ketika roh dicabut dari tubuhnya.
Adapun tiga siksaan yang ditimpakan saat meninggal dunia ialah mati secara hina, mati dalam keadaan lapar, dan mati dalam keadaan haus. Andai kata diberi minum sebanyak lautan, ia tidak akan merasa puas.
Sedangkan tiga siksaan yang didapat dalam kubur ialah, kubur mengimpitnya hingga tulang-belulangnya berantakan, kuburnya dibakar hingga sepanjang siang dan malam tubuhnya berkelojotan menahan panas, tubuhnya diserahkan kepada seekor ular bernama Asy-Syujaul Aqra. Kedua mata ular itu berupa api dan kukunya berupa besi, kukunya sepanjang satu hari perjalanan. ”Aku diperintahkan oleh Allah SWT untuk menyiksamu, karena engkau mengundurkan salat Subuh hingga terbit matahari, mengundurkan salat Zuhur hingga Asar, mengundurkan salat Asar hingga Magrib, mengundurkan salat Magrib hingga Isya, dan mengundurkan salat Isya hingga Subuh,” kata ular itu.
Setiap kali ular itu memukul, tubuh mayat tersebut melesak 70 hasta, sekitar 3.000 meter, ke dalam bumi. Ia disiksa dalam kubur hingga hari kiamat. Di hari kiamat, di wajahnya akan tertulis kalimat berikut: Wahai orang yang mengabaikan hak-hak Allah, wahai orang yang dikhususkan untuk menerima siksa Allah, di dunia kau telah mengabaikan hak-hak Allah, maka hari ini berputus asalah kamu dari rahmat-Nya.
Adapun tiga siksaan yang dilakukan ketika bertemu dengan Allah SWT adalah, pertama, ketika langit terbelah, malaikat menemuinya, membawa rantai sepanjang 70 hasta untuk mengikat lehernya. Kemudian memasukkan rantai itu ke dalam mulut dan mengeluarkannya dari duburnya. Kadang kala ia mengeluarkannya dari bagian depan atau belakang tubuhnya. Malaikat itu berkata, ”Inilah balasan bagi orang yang mengabaikan kewajiban-kewajiban yang telah ditetapkan Allah.” Ibnu Abas berkata, ”Andai kata satu mata rantai itu jatuh ke dunia, niscaya cukup untuk membakarnya.”
Kedua, Allah tidak memandangnya. Ketiga, Allah tidak menyucikannya, dan ia memperoleh siksa yang amat pedih.
Demikianlah ancaman bagi orang-orang yang sengaja melalaikan salat. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat-Nya kepada orang yang bersegera menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya. Amin.

AST

Rasulullah SAW bersabda, “Sembahlah Allah seakan engkau melihat-Nya. Apabila engkau tidak dapat melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR Bukhari dan Muslim)

Husain bin Ali bin Abi Thalib (Manakib 11)

Cucunda Tercinta, Syahid di Karbala

Sayidina Husain dan keluarganya syahid di Karbala pada 10 Muharram 61 Hijri. Tragedi ini selalu dikenang oleh kaum muslimin sebagai noda hitam dalam tarikh Islam.

Agaknya tak ada peristiwa kemanusiaan yang melebihi kedahsyatan Tragedi Karbala 14 abad silam. Ketika itulah cucu Rasulullah SAW, Imam Husain, dan segenap keluarganya, dibantai tanpa ampun. Imam Husain sendiri dipancung! Inilah noda hitam dalam tarikh Islam, yang hinga kini diratapi kaum muslimin di seluruh dunia. Tapi, tragedi ini juga merupakan ungkapan suatu pengorbanan luar biasa para syahid di jalan kebenaran dan keadilan Allah SWT.
Imam Husain dilahirkan di Madinah, Selasa 4 Sya’ban 4 H/584 M. Ibunya, Sayidah Fatimah, adalah putri kesayangan Rasulullah SAW, sedangkan ayahandanya, Ali bin bi Thalib, adalah salah seorang sahabat Nabi dan salah seorang tokoh terkemuka di awal dakwah Islam. Beliau dibesarkan oleh pasangan sejoli yang menerima asuhan langsung dari Rasulullah SAW. Nama Husain merupakan tasghir (“pengecilan”) dari nama abangnya, Hasan, yang dua-duanya berarti “bahagia”. Beliau adalah cucu tersayang Nabi.
Pernah, suatu hari, Rasulullah SAW menunaikan shalat dan sangat lama melakukan sujud. Bukan hanya karena ingin lebih sangat dekat dengan Allah SWT, melainkan juga karena menjaga agar Husain dan abangnya, Hasan, tidak terjatuh dari punggung beliau. Ketika itu kedua cucunda tengah bermain-main di punggung kakeknda yang mulia. Sungguh, kasih sayang yang luar biasa!
Nabi sangat mencintai kedua cucunda, sehingga kehidupan mereka bak kehidupan malaikat – berada dalam naungan Allah SWT. Di masa kanak-kanak, mereka mendapat ucapan-ucapan wahyu di lingkungan kenabian. Rasulullah SAW memberi mereka pelajaran dan cara hidup Islami. Sementara dari lingkungan kedua orangtua, mereka mengambil suri teladan yang mulia. Dalam lingkungan yang mulia seperti itulah Hasan dan Husain hidup berdampingan.
Abu Hurairah bercerita, “Rasulullah SAW datang kepada kami bersama kedua cucu beliau, Hasan dan Husain. Yang pertama di bahu beliau yang satu, yang kedua di bahu beliau yang lain. Sesekali Rasulullah SAW menciumi mereka, sampai berhenti di tempat kami berada. Kemudian beliau bersabda, ‘Barang siapa mencintai keduanya (Hasan dan Husain) berarti juga mencintai daku; barang siapa membenci keduanya berarti juga membenci daku.”
Pada hari ketujuh kelahiran Husain, Rasulullah SAW menyembelih dua ekor kambing kibas berwarna putih keabu-abuan sebagai aqiqah. Kemudian beliau memberikan dua paha kambing itu kepada hadirin, lalu mencukur rambut Husain serta menimbangnya dengan perak. Selanjutnya perak itu disedekahkan kepada fakir miskin. Lalu beliau mengurapi kepala cucunda dengan pacar, sebagaimana yang pernah beliau lakukan kepada Hasan.
Sejak kecil, Husain sudah menunjukkan bakat sebagai ilmuwan, prajurit, dan orang shaleh. Bersama abangnya, bakat sang adik kian berkembang, selama masa pemerintahan empat khalifah yang pertama. Sifat mereka yang luhur mendapat penghargaan dan perhatian besar dari para khalifah.

Justru Diracun
Kesulitan timbul justru di masa kekhalifahan sang ayah, Ali bin Abi Thalib. Terutama ketika Muawiyah memberontak. Akibat peristiwa ini, kekhalifahan Islam terbagi dua: satu dipimpin oleh Imam Ali, lainnya di bawah Muawiyah. Muawiyah adalah famili Khalifah Ustman bin Affan yang sebelumnya menjabat gubernur Damaskus. Ia, sebagaimana keluarga Ustman yang lain, mencurigai Ali terlibat dalam komplotan pembunuh Ustman.
Ketika Imam Ali syahid, terbukalah peluang bagi Muawiyah untuk menuju ke jenjang kekuasaan. Demi keutuhan umat Islam, Imam Hasan, yang menggantikan ayahandanya, berkompromi – atau lebih tepatnya mengalah – dengan menyerahkan kekuasaan kepada Muawiyah. Tapi, belakangan Imam Hasan justru diracun hingga wafat.
Pada tahun-tahun terakhir kekuasaannya sebagai khalifah, Muawiyah merobohkan sendi-sendi demokrasi. Mengikuti sarah Mughira, gubernur Basrah, ia mengangkat Yazid sebagai penggantinya. Dengan pengangkatan ini, demokrasi dalam Islam menjadi monarki, karena Yazid tiada lain adalah anak Muawiyah. Tindakan itu juga melanggar perjanjian yang telah disepakati dengan Imam Husain bahwa pengangkatan seorang khalifah harus melalui pemilihan yang demokratis.
”Dua orang telah menimbulkan kekacauan di kalangan kaum muslimin: Amr ibn Ash, yang menyarankan Muawiyah mengangkat Al-Quran di ujung lembing ketika hendak berunding dengan Imam Hasan; dan Mughira, yang menyarankan agar Muawiyah mengangkat Yazid sebagai khalifah. Jika tidak, tentulah akan terbentuk sebuah dewan pemilihan,” kata Imam Hasan dari Basrah.
Yazid naik takhta pada bulan April 683 M. Para sejarawan menilai, anak Yazid ini sama sekali tidak layak diangkat sebagai khalifah. Bukan hanya karena terlalu mementingkan kehidupan duniawi, tapi juga karena dia tidak terlalu dekat dengan kalangan ulama. Namun, dengan licik ia berusaha memperkuat kekuasaan dengan cara minta sumpah setia dari para ulama, termasuk dari Imam Husain. Akan tetapi, Husain, yang mewarisi keshalehan dan kesatriaan ayahandanya, Ali, tidak mudah dipaksa atau dibujuk dengan berbagai “hadiah.”
Melalui Walid ibn Utba, gubernur Madinah, Yazid berusaha membujuk Imam Husain untuk bersumpah setia kepadanya. Namun sebaliknya Imam Husain didesak oleh warga Kufah di Irak agar membebaskan mereka dari kekuasaan Yazid. Maka dia pun lalu mengutus kemenakannya, Muslim ibn Akil, ke Kufah, yang disambut ribuan pendukung Imam Husain. Tapi, Yazid tak tinggal diam. Ia menekan warga Kufah sehingga semuanya meninggalkan Husain. Dan Muslim, sang utusan, dipancung di jalan raya.
Rupanya represi itu belum terdengar oleh Imam Husain. Ia berangkat ke Kufah bersama serombongan besar pengikut dan keluarga, semuanya 72 orang. Ketika mendekati perbatasan Irak, ia kaget karena tak bertemu pasukan pendukungnya. Apalagi setelah mendengar Muslim dipancung. Ketika itulah ia diadang pasukan Yazid di bawah pimpinan Al-Hur. Atas perintah Gubernur Kufah Ubaidullah ibn Zayat, ia menggiring Imam Husain ke Karbala, sekitar 25 mil di timur laut Kufah.

Ali Al-Asghar
Ketika Imam Husain membangun kemah di tepi Sungai Euphrates, pasukan Yazid, yang berjumlah sekitar 4.000 serdadu di bawah komando Amr bin Sa’ad, mengepung perkemahan itu dengan pagar besi di sekelilingnya. Tak lama kemudian Ubaidillah membujuk Husain agar menyerah, sementara semua jalur jalan ke dan dari Sungai Euphrates ditutup untuk menyetop suplai air bagi rombongan Husain.
Selama empat hari (7-10 Muharram) rombongan Imam Husain kehausan. Itulah awal masa kesengsaran keturunan mulia Rasulullah SAW. Sampai-sampai hal itu membuat Al-Hur, salah seorang komandan pasukan Yazid, terharu. Pada 10 Muharram 61 H/641M ia menyaksikan Imam Husain, yang sangat sengsara, lunglai kehausan dan kelaparan. Melihat kenyataan itu, Al-Hur dan 30 prajuritnya membelot. Tapi, mereka bisa dilumpuhkan oleh pasukan Yazid di bawah pimpinan Amr bin Sa’ad.
Di lain pihak, pasukan Yazid tidak berani berhadapan langsung dengan rombongan Husain. Mereka hanya melepas anak panah dari kejauhan. Meski begitu, karena kekuatan sama sekali tak sebanding, satu demi satu – sahabat, saudara, sepupu, kemenakan Imam Husain – wafat sebagai syuhada dengan tubuh tertancap anak-anak panah. Tinggallah Imam Husain bersama bayinya, Ali Al-Asghar.
Suatu saat Asghar berteriak-teriak kehausan, minta minum. Sambil menggendong anaknya, Husain mendekati lawan lalu menyampaikan beberapa nasihat. Pasukan Yazid bukannya memberikan seteguk air, mereka justru memanah sang bayi yang tak berdosa itu, sehingga syahid seketika. Dengan perasaan campur aduk, sedih dan marah, Imam Husain menggendong Asghar yang berdarah-darah ke pangkuan ibunya, Syahr Banu. Ketika itulah ia tahu, ajalnya menjelang.
Meski begitu, ia masih sempat menunjukkan keluhuran akhlak dengan mendoakan para prajurit yang telah membunuh sahabat dan keluarganya. Setelah itu, ia segera keluar dari tenda, lalu menyerang dengan penuh semangat. Sebagian prajurit lawan sempat lari terbirit-birit. Tapi, Imam Husain hanya seorang diri, sudah terlalu lemah karena lapar dan haus, dengan puluhan tusukan pedang dan tancapan anak panah di sekujur tubuhnya.
Dengan lunglai, Imam Husain turun dari kudanya, lalu shalat dua rekaat. Ketika ia sedang bersujud, Saren ibn Uns – salah seorang prajurit Yazid yang keji dan pengecut – menyerang, menginjak-injak tubuhnya, lalu memancung kepala sang Imam. Sementara jenazah tubuhnya dimakamkan di Padang Karbala, kepalanya dibawa ke istana Yazid.
Enam dari tujuh anak-anak Imam Husain syahid di Padang Karbala. Juga, istri tercintanya, Syahr Banu, salah seorang putri Khosru Yasdajird II dari Dinasti Sasanid II, Persia (sekarang Iran). Empat putranya: Ali Al-Akbar, Ali Ausat, Ali Al-Asghar, Abdullah; sedangkan tiga putrinya: Zaenab, Sakinah, dan Fatimah. Seluruh anak Husain terbunuh, kecuali Ali Ausat, yang di belakang hari terkenal sebagai wali: Ali bin Husain Zaenal Abidin. Dialah satu-satunya keturunan Rasulullah SAW yang selamat dari pembantaian keji Padang Karbala.
Ketika pertempuran tak seimbang itu terjadi, Ali Zainal Abidin tengah tergolek sakit di tenda. Ia hanya ditunggui bibinya, Zainab binti Ali, yang dengan gigih melindunginya ketika beberapa orang anggota pasukan musuh menerobos masuk ke perkemahan yang hanya ditunggui kaum wanita dan anak-anak.
Zainab berteriak lantang, “Apakah kalian tidak menyisakan satu laki-laki pun dari keluarga kami?”
Tentara musuh itu tertegun sebentar, kemudian berbalik meninggalkan tenda tersebut tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Disarikan oleh AST dari Syarh Al-Ainiyyah, karya Al-Allamah Al-Habib Ahmad bin Zain Al-Habsyi Ba’alawy, dan Alawiyin, Asal Usul & Peranannya, karya Alwi Ibnu Ahmad Bilfaqih, Lentera Basritama, Jakarta, 1999

Ali Zainal Abidin (Manakib 10)

Waliyullah yang Senantiasa Bersujud

Ia adalah cicit Rasulullah SAW yang selamat dari pembantaian dalam Tragedi Karbala. Setelah dewasa menjadi wali yang setiap saat bersujud kepada Allah SWT.

Setelah dua cucu tersayang Rasulullah SAW, yaitu Hasan dan Husein, wafat, sementara sisa-sisa keturunan beliau yang lain terbunuh di Padang Karbala, yang masih hidup ialah Ali Zainal Abidin, satu-satunya putra Sayidina Husein bin Ali bin Abi Thalib. Cicit Rasulullah SAW ini lahir di Madinah pada 33 H/613 M, sementara riwayat lain mengungkapkan ia lahir pada 38 H/618 M. Ketika pecah Tragedi Karbala pada abad ke-6 H (abad ke-12 M), ia berusia 11 tahun.
Termasuk generasi tabi’in, Ali Zainal Abidin banyak meriwayatkan hadits dari ayahnya, Husein, dan pamannya, Hasan. Juga dari para sahabat, seperti Jabir, Ibnu Abbas, Al-Musawwir bin Makhramah, Abu Hurairah, Shafiyyah, Aisyah, Ummu Kultsum, dan para istri Rasulullah SAW yang lazim disebut ummahatul mukminin, ibunda kaum mukmin.
Ketika ayahandanya, Imam Husein, berjuang melawan prajurit Khalifah Yazid bin Muawiyah, ia tengah sakit dan berada di dalam kemah bersama kaum wanita. Ia menyaksikan dengan mata kepala sendiri betapa semua anggota keluarganya berguguran syahid, sehingga kenangan getir tak pernah lepas dari benaknya. Ia bahkan menyaksikan bagaimana ayahandanya dipancung....
Setelah perang usai, sisa anggota keluarga Imam Husein yang masih hidup ditawan di Kufah, Irak. Bahkan Ali Zainal Abidin, yang ketika itu baru berusia 11 tahun, hampir dibunuh. Tapi, nyawanya selamat berkat kegigihan Sayidah Zainab, bibinya, yang memeluknya dan mencegah para prajurit mendekat. Tak lama kemudian para tawanan dipindah ke Damaskus, Syria, dipertemukan dengan Khalifah Yazid bin Muawiyah. Tapi kemudian dibebaskan, bahkan diantar pulang ke Madinah.
Di Madinah, Ali Zainal Abidin tumbuh sebagai seorang yang sangat alim. Ia tekun beribadah, sementara ketinggian ilmu agamanya menjadikannya sebagai rujukan para ulama. Terutama dalam hal ilmu hadits. Lebih dari itu, ia sangat terkenal sebagai ahli ibadah yang luar biasa.
Muhammad Al-Baqir, anak lelakinya, bercerita, “Setiap kali mendapatkan nikmat Allah SWT, Imam Ali Zainal Abidin langsung bersujud. Setiap kali membaca ayat sajdah dalam Al-Quran, ia selalu bersujud. Setiap kali selesai salat fardhu, ia selalu bersujud. Dan setiap kali berhasil mendamaikan orang berselisih, ia selalu bersujud. Karena sering bersujud itulah tampak bekas sujud di keningnya, dan karena itu pula ia disebut As-Sajjad, orang yang suka bersujud.”
Ali Zainal Abidin benar-benar mewarisi sikap dan sifat ayahandanya dalam hal keilmuan dan kezuhudan. “Di antara Bani Hasyim, saya kira dialah yang paling mulia,” kata Yahya Al-Anshari, salah seorang ulama terkemuka di masanya. Kemuliaan itu, antara lain, karena ia selalu dalam keadaan suci, selalu berwudhu, dan tak pernah absen menunaikan qiyamul lail alias shalat Tahajjud, baik di rumah maupun dalam perjalanan.
Suatu hari, ketika keluar dari masjid, seorang lelaki mencaci maki Ali Zainal Abidin. Spontan orang-orang di sekitarnya berusaha memukul lelai-laki tersebut, tapi Ali Zainal Abidin mencegahnya. Lalu katanya, “Apa yang engkau belum ketahui tentang diriku? Apakah engkau membutuhkan sesuatu?”
Mendengar ucapan lemah lembut itu, laki-laki tersebut merasa malu. Lalu Ali Zainal Abidin memberinya uang 1.000 dirham. Maka kata laki-laki itu, “Saya bersaksi, engkau benar-benar cicit Rasulullah SAW.”

Maqam Mukasyafah
Hampir setiap malam Ali Zainal Abidin menggotong sekarung gandum dan membagikannya kepada fakir miskin di Madinah. “Sesungguhnya sedekah yang disampaikan secara sembunyi-sembunyi dapat memadamkan murka Allah,” katanya. Ketika itu, sebagian warga Madinah mendapat nafkah tanpa mengetahui dari mana asal nafkahnya. Dan ketika Ali Zainal Abidin wafat, ternyata mereka tak lagi mendapat pembagian gandum.
Setiap kali meminjamkan uang atau pakaian, Ali Zainal Abidin tak pernah memintanya kembali. Jika bernazar tidak makan dan minum, ia tetap berpuasa sampai dapat memenuhi nazarnya. Begitu dermawan dan penuh kasih sayang, bahkan kepada hewan yang dikendarainya pun ia tak pernah mencambuk.
Meskipun Tragedi Karbala sangat membekas dalam kalbunya, ia berusaha menyadarkan umat agar bersabar menghadapi kekuasaan yang represif. Dengan arif ia mendidik dan memperbaiki nasib umat. Salah satunya dengan menyusun rangkaian doa berjudul As-Sahifah As-Sajjadiyyah – yang ia maksudkan untuk mengobati penyakit rohani yang merajalela, sekaligus memanjatkan permohonan kepada Allah SWT agar terlepas dari situasi yang mengimpit.
Sebagai waliyullah, ia dinilai sudah mencapai maqam mukasyafah, peringkat tertinggi, yang mampu menyingkap tabir ketuhanan. Salah satu karamahnya ialah tentang surat rahasia dari Khalifah Abdul Malik bin Marwan kepada panglimanya, Hajjaj bin Yusuf As-Saqafi. Surat itu antara lain berbunyi, “Jauhkan aku dari lumuran darah Bani Abdul Muthalib, yang setelah bergelimang dalam dosa tidak lagi mampu bertahan kecuali dalam waktu yang tidak lama...”
Pada saat yang bersamaan, Ali Zainal Abidin juga menulis surat kepada Khalifah Malik bin Marwan, yang di antaranya berbunyi, “Anda telah menulis surat kepada Hajjaj mengenai keamanan kami. Semoga Allah SWT memberi balasan sebaik-baiknya kepada Anda.” Tentu saja Khalifah Abdul Malik bin Marwan tercengang membacanya. Sebab, tanggal surat itu persis sama dengan tanggal surat Khalifah kepada Hajjaj.
Dan ternyata saat keberangkatan utusan Ali Zainal Abidin dari Madinah juga sama dengan saat keberangkatan utusan Khalifah yang mengantarkan surat kepada Hajjaj. Karena itu Khalifah Malik pun menyadari, Allah SWT telah membuka mata batin Ali Zainal Abidin. Ia lalu menulis surat dan menyampaikan hadiah kepada Ali Zainal Abidin.
Cicit Rasulullah SAW ini juga dikenal sebagai pembela hak asasi manusia. Dalam risalahnya, Risalah Al-Huquq, antara lain ia menulis, manusia punya hak dan kewajiban kepada Allah SWT, kepada diri sendiri, kepada sesama manusia, dan kepada sesama makhluk Allah. Mengenai hak dan kewajiban kepada sesama manusia, ia memperinci hak dan kewajiban rakyat kepada penguasa dan sebaliknya. Risalah ini tentu sangat istimewa, karena ditulis pada abad ke-7 Masehi, sebelum lahirnya dokumen Magna Charta dalam sejarah Inggris, lima abad setelah itu, yang kemudian berkembang menjadi Deklarasi Umum Hak Asasi Manusia.
Di zamannya, pengaruh Imam Ali Zainal Abidin sangat kuat. Begitu besar karismanya, sehingga seorang khalifah pun mengkhawatirkan takhtanya. Ketika menggantikan ayahnya, Abdul Malik, sebagai khalifah, Walid sempat khawatir, jangan-jangan karisma Ali Zainal Abidin mampu menggoyang takhtanya.
Maka pada 95 H/675 M, Khalifah pun berusaha mendekati sang waliyullah melalui seseorang yang kemudian ternyata meracunnya hingga Ali Zainal Abidin wafat. Untuk kesekian kalinya anak-cucu Rasulullah SAW berduka cita. Imam Ali Zainal Abidin wafat di Madinah pada 18 Muharram 94 H/674 M, meninggalkan 11 orang putra dan empat orang putri. Jenazahnya disemayamkan di Makam Baqi’, dekat makam sang paman, Sayidina Hasan.

Disarikan oleh AST dari Syarh Al-Ainiyyah, karya Al-Allamah Al-Habib Ahmad bin Zain Al-Habsyi Ba’alawy, dan Alawiyin, Asal Usul & Peranannya, karya Alwi Ibnu Ahmad Bilfaqih, Lentera Basritama, Jakarta, 1999

Sayid Muhammad Al-Baqir (Manakib 9)

Rasulullah pun Menghormati Reputasinya

Ia dikenal sebagai ulama yang piawai dalam menguraikan beberapa cabang ilmu agama. Reputasinya sebagai ulama yang alim sudah diramalkan oleh Rasulullah SAW, sehingga beliau menyampaikan salam sebelum ia lahir.

Di Madinah, pada 57 Hijriah, lahirlah jabang bayi yang kemudian tumbuh menjadi seorang ulama besar, seorang waliyullah. Ia adalah Habib Muhammad bin Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali bin Abi Thalib, atau lebih dikenal dengan nama Sayid Muhammad Al-Baqir. Ia putra Sayid Ali Zainal Abidin, ulama besar, sufi dan waliyullah yang sangat terkenal, dan cucu Imam Ali bin Abi Thalib.
Tepatnya, ia lahir pada hari Jum’at, 12 Safar 57 H/657 M, sekitar tiga tahun sebelum Imam Husein, cucu Rasulullah SAW, gugur dalam tragedi perang saudara di Padang Karbala, Iraq. Ia mendapat gelar Al-Baqir, yang berarti “membelah bumi”, karena kapasitas keilmuannya yang luar biasa, sehingga diibaratkan dapat “membelah bumi”, mengeluarkan segala isinya yang berupa ilmu pengetahuan.
Ia juga dikenal sebagai ahli hadis, khususnya hadis-hadis yang diriwayatkan dari Imam Hasan, Husein, Aisyah, Ummu Salamah, Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Abu Sa’id, Jabir, Samura ibnu Jundub, Abdullah ibnu Ja’far, Sa’id ibnul Musayyab, dan para ulama terkemuka lainnya. Tradisi periwayatan hadis ini dilanjutkan oleh putranya, Ja’far Ash-Shadiq, juga saudara-saudaranya yang lain.
Nama Al-Baqir cukup mulia, karena Rasulullah SAW pernah berpesan kepada salah seorang sahabat, Jabir bin Abdullah Al-Anshari, “Sampaikan salamku kepadanya.” Ketika Jabir bertemu Al-Bagir, ia pun menyampaikan salam Rasulullah SAW. Kemudian Al-Baqir bertanya, “Bagaimana hal itu bisa terjadi?” Lalu Jabir menceritakan sabda Rasulullah SAW kepadanya, “Wahai Jabir, hampir tiba masa lahirnya putra cucu Husein. Namanya mirip namaku, ia gemar menuntut ilmu. Jika engkau melihatnya, sampaikan salamku kepadanya.”
Sangat dermawan, ramah, dan suka bersilaturahmi, ia sering berkata, ”Tiada kesenangan dunia, kecuali menyambung tali persaudaraan dan persahabatan.” Bukan hanya itu, ia juga gemar memberi hadiah berupa makanan dan pakaian yang sangat bagus kepada saudara-saudara dan kawan-kawannya, serta orang-orang yang kurang mampu. Hal itu ia lakukan sejak ia masih kecil.
Kepribadian dan reputasinya yang luar biasa dikenal secara luas. Suatu hari, Khalifah Hisyam ibn Abdul Malik masuk ke dalam Masjidil Haram. Lalu Salim, pengawalnya, menunjuk Al-Bagir sambil berkata kepada sang Khalifah, ”Wahai Amirul Mukminin, lelaki ini adalah Sayid Muhammad Al-Baqir. Banyak penduduk Iraq yang terpesona oleh kepribadiannya.” Maka, kata Amirul Mukminin, “Tanyakan kepadanya, apa yang dimakan dan diminum oleh manusia sampai setelah diputuskannya urusan mereka di Hari Kiamat?”

Ahlul Bait
Mendengar pertanyaan itu, Al-Baqir menjawab, “Kelak segenap manusia dihimpun di atas daratan yang bersih, dengan sungai-sungai yang mengalir. Mereka makan dan minum sampai selesainya proses perhitungan amal-amal mereka.” Khalifah Hisyam senang mendengar jawaban itu. Al-Baqir juga dikenal sangat mencintai Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq. ”Siapa yang tidak mengucapkan Ash-Shiddiq di belakang nama Abu Bakar, Allah SWT tidak akan membenarkan ucapannya,” katanya.
Selain itu ia juga sangat mengagumi Khalifah Umar bin Khattab. ”Sesungguhnya aku berlepas diri dari orang yang membenci Abu Bakar As-Shiddiq dan Umar bin Khattab. Seandainya berkuasa, aku akan mendekatkan diri kepada Allah dengan menumpahkan darah orang yang membenci mereka. Demi Allah, sesungguhnya aku mencintai mereka dan senantiasa memohonkan ampun mereka. Tidak seorang pun dari ahlul bait-ku kecuali ia mencintai mereka.”
Sebagai waliyullah, Al-Baqir banyak mewariskan ujaran-ujaran tasawuf. Beberapa di antaranya, misalnya, ”Tidaklah hati seseorang dimasuki unsur sifat sombong, kecuali akalnya akan berkurang sebanyak unsur kesombongan yang masuk atau bahkan lebih.” Kata-kata mutiara yang lain, ”Sesungguhnya petir dapat menyambar seorang mukmin atau bukan, tetapi tak akan menyambar orang yang berzikir.”
Ujaran hikmah yang terkenal, antara lain, “Tak ada ibadah yang lebih utama daripada menjaga perut dan kemaluan.” Atau ini, “Seburuk-buruknya seorang teman ialah yang hanya menemanimu ketika kamu kaya dan meninggalkanmu ketika kamu miskin.” Atau yang ini, “Kenalkanlah rasa kasih sayang dalam hati saudaramu dengan cara memperkenalkannya terlebih dahulu di dalam hatimu.”
Suatu hari ia berkata kepada salah seorang putranya, “Wahai putraku, hindarilah sifat malas dan bosan, karena keduanya kunci keburukan. Sesungguhnya jika engkau malas, tidak akan banyak melaksanakan kewajiban. Jika engkau bosan, tak akan tahan dalam menunaikan kewajiban.”
Salah satu kata-kata mutiaranya yang sangat terkenal ialah, “Jika engkau menginginkan suatu kenikmatan dapat terus engkau nikmati, perbanyaklah mensyukurinya. Jika engkau merasa rezeki lambat datang, perbanyaklah istighfar. Jika engkau ditimpa kesedihan, perbanyaklah membaca La haula wa la quwwata illa billah. Jika engkau takut, ucapkanlah Hasbunallah wa ni'mal wakil. Jika engkau kagum terhadap sesuatu, ucapkanlah Masya Allah, la quwwata illa billah. Jika engkau dikhianati, bacalah Wa ufawwidhu amri ilallah, innallaha bashirun bil ‘ibad. Jika engkau ditimpa kesumpekan, ucapkanlah La ilaha ilaa Anta, subhanaka inni kuntu minadz dzalimin.”
Selama hidupnya, sejak masa muda hingga wafat, Al-Baqir selalu istiqamah menunaikan shalat sunah sebanyak 150 rakaat. Sayid Muhammad Al-Baqir wafat di Madinah pada 117 H/697 M (dalam riwayat lain, 114 H/694 M atau 118 H/698 M) dan disemayamkan di makam Baqi’, tepatnya di kubah Al-Abbas di samping ayahandanya.

Disarikan oleh AST dari Syarh Al-Ainiyyah, Nadzm Sayyidina Al-Habib Al-Qutub Abdullah bin Alwi Alhaddad Ba’alawy karya Al-Allamah al-Habib Ahmad bin Zain Alhabsyi Ba’alawy

Al-Imam Alwi al-Ghuyur (Manakib 8)

Ulama Besar yang “Dicemburui”

Ia adalah ulama besar dan wali. Bukan hanya “melayani” Allah, dia juga melayani siapa saja yang membutuhkan pertolongan.

Tarim, Hadramaut, boleh dibilang merupakan “gudang ulama”. Salah seorang di antaranya ialah Al-Imam Alwi bin Al-Faqih al-Muqaddam, yang mendapat julukan Al-Ghuyur, yang berarti “dicemburui”. Julukan itu diberikan kepadanya karena, ketika itu, tidak seorang pun dari keluarga Bani Alawy di zamannya yang bernama Alwi. Sehingga ketika ia dinamai Alwi – dan itu merupakan suatu kehormatan – banyak orang cemburu kepadanya. Ketika itu, jika ada yang berniat memberi nama Alwi kepada seorang anak, dan biasanya urung, memilih nama lain. Barangkali juga lantaran ilmu agamanya yang sangat tinggi, sehingga banyak orang ”cemburu”, dalam arti positif, kepadanya.
Nama lengkapnya cukup panjang: Al-Imam Alwi bin Al-Faqih al-Muqaddam Muhammad bin Ali bin Muhammad Shahib Mirbath bin Ali Khali’ Qasam bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Al-Imam al-Muhajir Ahmad bin Isa. Ia lahir dan dibesarkan di Tarim, Hadramaut, pada abad keenam Hijri. Mendapat pendidikan langsung, mengenai berbagai pengetahuan agama, dari ayahandanya, sejak kecil ia sudah hafal Al-Quran. Bahkan sejak muda ia sudah mempelajari tarekat. Itulah sebabnya, dia juga ahli zuhud, wali yang mempunyai maqam tinggi dan karamah yang luar biasa.
Ia mempunyai banyak karamah. Salah satunya, jika ia berkata mengenai sesuatu, “Kun! (Jadilah!)”, maka jadilah sesuatu seperti yang dikehendakinya, dengan seizin Allah SWT. Wajar jika banyak ulama besar dan aulia di zamannya yang menukil ucapan-ucapannya. Ia juga mampu mengenali orang-orang yang celaka dan bahagia. Ia dapat mengetahui siapa yang bernasib baik, dan siapa yang bernasib buruk, sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Takutlah kalian kapada firasat seorang mukmin. Sesungguhnya seorang mukmin dapat melihat dengan cahaya Allah.”
Suatu hari, ayahandanya, Al-Faqih al-Muqadam, memuji dan memberikan isyarat bahwa pada suatu saat nanti anaknya akan menjadi seorang wali yang agung. Dan menurut para ulama, rahasia keilmuan ayahandanya pindah ke dalam pribadi anaknya. “Al-Imam Alwi al-Ghuyur adalah pengganti orang-orang terdahulu,” kata mereka. Maka, praktis, derajat kewalian terbesar yang dimiliki Alwi al-Ghuyur diperoleh dari orangtuanya, yang dikenal sebagai sesepuh para wali dan pemuka orang-orang bertakwa.
Ketika menunaikan ibadah haji, Alwi al-Ghuyur memperbanyak ibadah umrah, salat, dan bertawaf, baik siang maupun malam. Ia juga memperdalam ilmu agama kepada sejumlah ulama besar yang mengajar di Masjidilharam, Mekah. Setelah menunaikan ibadah haji dan umrah, ia berziarah ke makam Rasulullah SAW di Masjid Nabawi, Medinah.
Di makam datuknya itu ia bertanya, “Di manakah kedudukanku di sisimu, wahai Kakek?” Konon, Rasulullah SAW menjawab pertanyaan Alwi al-Ghuyur, “Di kedua belah mataku.”
Lalu Rasulullah SAW bertanya, “Dan di manakah kedudukanku di sisimu, wahai Syekh Alwi?” Maka Alwi al-Ghuyur pun menjawab, “Di atas kepalaku.”
Kemudian Abubakar, yang makamnya di samping Rasulullah, bertanya, “Bagaimana engkau menempatkan Rasulullah demikian? Dia menempatkanmu di kedua belah matanya, sedangkan engkau menempatkannya di atas kepalamu. Tidak ada sesuatu yang dapat menyamai kedua belah mata. Engkau harus mensyukurinya dengan bersedekah kepada fakir miskin sebanyak 100 dinar.”

Anak Saleh
Alwi al-Ghuyur tak menjawab pertanyaan Abubakar. Namun, setelah beberapa waktu bermukim di Medinah, ia pulang ke Tarim dan membagikan sedekah 100 dinar kepada sejumlah fakir miskin sebagai tanda syukur. Sejak itu banyak orang bertamu, dan dengan senang hati Alwi al-Ghuyur mendidik dan menuntun mereka ke jalan Allah. Pada saat-saat seperti itulah ia sengaja memperlambat untuk menikah, hingga suatu saat calon keturunannya berkata dari arah punggungnya, “Kami telah berada di punggungmu, cepatlah menikah. Kalau tidak, kami akan keluar dari punggungmu!”
Mendapat teguran semacam itu, ia segera menikah dengan Hababah Fatimah binti Ahmad bin Alwi bin Muhammad Shahib Mirbath. Ketika istrinya hamil, berkatalah si jabang bayi dari rahim istrinya, “Aku anak saleh. Aku hamba yang saleh.” Ia dikaruniai oleh Allah SWT dua putra, Sayid Ali dan Abdullah Ba’alwi – yang belakangan juga menjadi muridnya.
Muridnya yang di belakang hari menjadi ulama, antara lain, Sayid Abdullah Ba’alwi, Sayid Ali, Ahmad, Syekh Ali ibnu Salim, Syekh Ahmad Muhammad Bamukhtar, dan sejumlah ulama kenamaan yang lain.
Alwi al-Ghuyur juga dikenal sebagai orang yang suka bersyukur, pandai menghargai kebaikan orang, suka menyantuni orang lain, dan suka mengabulkan permohonan orang lemah. Siapa saja yang datang kepadanya dan membutuhkan pertolongan, pasti cepat mendapat pertolongan.
Dalam kitab Al-Qurar, Sayid Al-Allamah al-Imam Muhammad bin Alwi al-Khirid Ba’alawy menulis, Syekh Abdurrahman bin Ali mengabarkan kepadaku bahwa para ulama besar berkata, “Ada tiga orang keluarga Bani Alawy yang semangatnya senantiasa terpelihara. Mereka cepat memberikan pertolongan kepada orang-orang yang membutuhkan. Mereka adalah Alwi al-Ghuyur, dan anaknya, yaitu Ali, serta Syekh Umar al-Muhdhar.”
Suatu hari Alwi al-Ghuyur dicaci maki oleh seorang lelaki di depan khalayak ramai, hanya gara-gara dia tidak berkunjung ke rumah lelaki itu. Lelaki tersebut mempunyai khadam, pembantu dari kalangan jin, yang setiap saat mendemonstrasikan kebolehannya. Jika ada orang yang menolak menyaksikan kebolehan jin tersebut, dia dizalimi dengan menggunakan tangan orang lain. Ketika lelaki itu sedang mencaci maki Alwi al-Ghuyur, tiba-tiba Isa ibnu Amru, seorang lelaki dari Bani Haram, menempeleng wajahnya. “Kalau kamu mencaci maki Sayid Alwi, apakah kami harus diam?”
Setelah ditempeleng, lelaki pemelihara jin itu mengucapkan kata-kata ancaman kepada Isa ibnu Amru.
Khawatir akan ancaman lelaki tersebut, Isa ibnu Amru kemudian menemui Sayid Alwi al-Ghuyur. ”Kamu jangan takut,” kata Alwi al-Ghuyur. Tapi, Isa ibnu Amru tetap takut dan tak berani beranjak dari sisi Sayid Alwi al-Ghuyur.
Akhirnya Sayid Alwi al-Ghuyur pergi ke masjid dan menggerak-gerakkan sebuah pintunya hingga terdengar suara berderit-derit. Kemudian ia pergi ke pintu lainnya dan menggerak-gerakkanya seperti terhadap pintu pertama. ”Ini suara lelaki itu dan suara jin yang selalu ia gunakan untuk mengganggu orang. Kini jin itu telah terbunuh, dan lelaki itu sudah melarikan diri dari Tarim,” kata Syekh Alwi al-Ghuyur.
Al-Imam Alwi al-Ghuyur wafat pada hari Jumat, 12 Zulkaidah 669 Hijri. Jasadnya disemayamkan di makam Zanbal, Tarim, di sebelah timur makam ayahandanya.

Disarikan dari Syarh Al-Ainiyyah, Nadzm Sayyidina Al-Habib Al-Qutub Abdullah bin Alwi Alhaddad Ba’alawy, karya Al-Allamah Al-Habib Ahmad bin Zain Alhabsyi Ba’alawy. AST

Imam Ali Khali’ Qasam (Manakib 7)

Wali yang Dermawan

Dia adalah sesepuh para aulia di Hadramaut. Konon, ia sering bersalam dengan Rasulullah SAW. Dialah pula yang pertama kali dimakamkan di pemakaman Zanbal, Tarim, yang terkenal itu.

Kota Tarim, di Hardamaut, Yaman, dikenal sebagai kota kelahiran para ulama besar yang kemudian menjadi waliullah. Salah seorang di antaranya, Sayid Al-Imam Ali ibnu Alwi, yang juga mendapat gelar Imam Ali Khali’ Qasam. Boleh dibilang, dia adalah sesepuh para ulama besar Hadramaut. Nama lengkapnya Habib Ali bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad A-Muhajir bin Isa bin Muhammad bin Ali Al-‘Uraidhi bin Ja’far Ash-Shadiq.

Sejak kecil ia rajin beribadah dan dikenal cerdas serta berakhlak mulia. Ketika menginjak dewasa, ia sudah menjadi guru besar karena keluasan ilmu agamanya. Ia lahir dan dibesarkan di Baitu Jubair, Hadramaut, suatu daerah yang penuh berkah dan kebaikan. Di sana pula ia mengaji kepada ayahandanya, terutama Al-Quran dan hadis. Bahkan kemudian sudah mampu pula menghafal Al-Quran. Selain itu, ia juga belajar dari para ulama besar yang lain di berbagai pelosok Tarim. Akhirnya, pada 521 H/1101 M ia memutuskan bermukim di kota tersebut.

Dia terkenal dengan julukan Khali’ Qasam, setelah membeli sebidang tanah seharga 20.000 dinar. Di tanah yang kemudian ia namakan Qasam itu – sesuai nama tanah keluarganya di Bashrah – ia bertanam kurma. Setelah membangun sebuah rumah di sana, belakangan beberapa orang mengikuti jejaknya, sehingga kawasan itu menjadi sebuah permukiman kecil. Lama-kelamaan kawasan itu tumbuh menjadi sebuah kota kecil bernama Qasam, yang tersohor.

Ia juga dikenal sebagai orang pertama dari keluarga Ba’alwi yang tinggal di Tarim. Setelah ia menetap di sana, banyak orang berdatangan dan kemudian bermukim pula di sana. Di Tarim itu juga ia menyemarakkan berbagai majelis pengajian untuk dakwah, dan di sana pula ia mengajar hadis. Sejak itu ia termasyhur sebagai ulama yang sangat alim dengan berbagai karamah. Ketika itu, sangat jarang ada ulama yang mempunyai maqam setinggi itu. Ketinggian maqamnya, antara lain, ditulis oleh Al-Imam al-Habib Abdullah bin Alwi Alhaddad dalam syairnya:

Rasulullah membalas salamnya,

“(Salam bagimu) ya Syekh.”

Sebagai jawaban atas salamnya (kepada Rasulullah),

kagumlah orang-orang mulia.

Syair itu menggambarkan karamahnya yang tinggi.

Konon, salah satu karamahnya yang luar biasa ialah, ia selalu berdialog dengan Rasulullah dalam salat. Setiap kali ia menunaikan salat dan sampai pada tahiat, ia selalu membaca salam kepada Rasulullah berkali-kali, “As-salamu ‘alaika ayyuhan Nabiyyu wa rahmatullahi wa barakatuh,” sampai ia mendengar jawaban Rasulullah SAW, “As-salamu ‘alaika ya Syekh (salam sejahtera bagimu, wahai Syekh).” Konon pula, ia juga sering “berhadapan” dengan Rasulullah SAW, lalu bertanya mengenai segala macam kesulitan, sehingga Rasul menjelaskannya.

Menangislah Kalian!

Karamah-karamah itu juga ditulis oleh para ulama seperti Al-Jundi, Asy-Syaraji, Ibnu Hisan, dan lain-lain. Al-Allamah asy-Syekh al-Khatib juga menuliskannya dalam kitab Al-Jauhar asy-Syafa’at. Menurut Syekh Abdul Wahab asy-Sya’rawi, “Tidak akan sampai seseorang kepada maqam yang mampu berinteraksi langsung dengan Rasulullah SAW dan mendengar jawaban salamnya, kecuali ia telah melampaui 247.999 maqam para aulia.” Dan Imam Ali Khali’ Qasam dianggap telah melampauinya.

Suatu hari, Syekh Abu Al-Abbas al-Mursi bertanya kepada para sahabatnya, “Adakah di antara kalian yang, ketika menyampaikan salam kepada Rasulullah SAW dalam salat, langsung mendengar jawaban salam dari Rasul?” Jawab para sahabatnya, “Tidak ada.” Lalu kata Syekh Abu Al-Abbas, “Menangislah kalian, karena kalbu kalian tertutup.” Syekh rupanya bermaksud menegaskan karamah Imam Ali Khali’ Qasam – yang tidak hanya mendapat jawaban salam dari Rasul SAW dalam salatnya, tapi juga dalam semua kesempatan ketika ia menyampaikan salam kepada Rasul SAW.

Meski maqamnya cukup tinggi, ia tetap tawaduk, rendah hati, dengan perilaku yang halus dan pakaian yang sangat sederhana. Ia tidak pernah terlihat lebih menonjol dari orang lain. Jika duduk bersama orang-orang saleh maupun orang awam, ia tidak pernah memperlihatkan diri sebagai ulama terkemuka, kecuali ketika sedang mengajar atau berdakwah. Ia juga sangat dermawan, banyak memberi santunan, khususnya bagi mereka yang datang dari jauh.

Dialah yang membangun Masjid Bani Ahmad di Tarim, yang kemudian diberi nama Masjid Ba’alwi, sejak 900 tahun silam. Pembangunan masjid itu dilanjutkan oleh putranya, Imam Muhammad Shahib Mirbath (wafat 556 H/1136 M).

Imam Ali Khali’ Qasam, ulama besar dan sesepuh para aulia Hadramaut, wafat berkisar antara 523 hingga 529 H/1103 sampai 1109 M. Akan tetapi, dalam kitab Nafa’is al-‘Uqud fi Syajarah ‘alal Ba’abud, Habib Muhammad bin Husin Ba’abud menulis, Imam Ali Khali’ Qasam meninggal pada tahun 527 H/1107 M. Sedangkan menurut Al-Ustaz Alwi bin Muhammad Bilfagih dalam kitab Syajarah as-Sa’adah ‘alal Bani Alawy, Imam Ali Khali’ Qasam wafat pada 529 H/1109 M. Sementara dalam riwayat lain disebutkan, ia wafat pada 529 H/1109 M. Jasadnya disemayamkan di makam Zanbal, Tarim, sebagai ulama pertama keluarga Ba’alwi dan cucu Imam Ahmad Al-Muhajir, yang dimakamkan di pemakaman Zanbal yang terkenal itu.


Disarikan oleh AST dari Syarh al-Ainiyyah, Nadzm Sayyidina al-Habib al-Qutub Abdullah bin Alwi Alhaddad Ba'alawy, karya Al-Allamah al-Habib Ahmad bin Zain Alhabsyi Ba’alawy

Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfagih Al-Alawy (Manakib 7)

Hafal Ribuan Hadits

Di Kota Bunga, Malang, Jawa Timur, ada seorang auliya’ yang terkenal karena ketinggian ilmunya. Ia juga hafal ribuan hadits bersama dengan sanad-sanadnya.

Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih Al-Alawy dilahirkan di kota Tarim, Hadramaut, pada hari Selasa 15 Safar tahun 1316 H/1896 M. Saat bersamaan menjelang kelahirannya, salah seorang ulama besar, Habib Syaikhan bin Hasyim Assegaf, bermimpi bertemu Sulthanul Auliya’ Syekh Abdul Qadir Jailani. Dalam mimpi itu Syekh Abdul Qadir Jailani menitipkan kitab suci Al-Quranul Karim kepada Habib Syaikhan bin Hasyim Assegaf agar diberikan kepada Habib Ahmad bin Muhammad Bilfagih.
Pagi harinya Habib Syaikhan menceritakan mimpinya kepada Habib Ahmad. Habib Ahmad mendengarkan cerita dari Habib Syaikhan, kemudian berkata, ”Alhamdulillah, tadi malam aku dianugerahi Allah SWT seorang putra. Dan itulah isyarat takwil mimpimu bertemu Syekh Abdul Qadir Jailani yang menitipkan Al-Quranul Karim agar disampaikan kepadaku. Oleh karena itu, putraku ini kuberi nama Abdul Qadir, dengan harapan, Allah SWT memberikan nama maqam dan kewalian-Nya sebagaimana Syekh Abdul Qadir Jailani.”
Demikianlah, kemudian Habib Ahmad memberi nama Abdul Qadir karena mengharap berkah (tafa’ul) agar ilmu dan maqam Abdul Qadir seperti Syekh Abdul Qadir Jaelani.
Sejak kecil, ia sangat rajin dan tekun dalam mencari ilmu. Sebagai murid, ia dikenal sangat cerdas dan tangkas dalam menerima pelajaran. Pada masa mudanya, ia dikenal sebagai orang yang mempunyai perhatian besar terhadap ilmu dan menaruh penghormatan yang tinggi kepada guru-gurunya. Tidaklah dinamakan mengagungkan ilmu bila tidak memuliakan ahli ilmu, demikian filosofi yang terpatri dalam kalbu Habib Abdul Qadir.
Pernah suatu ketika di saat menuntut ilmu pada seorang mahaguru, ia ditegur dan diperingatkan, padahal Habib Abdul Qadir waktu itu pada pihak yang benar. Setelah memahami dan mengerti bahwa sang murid berada di pihak yang benar, sang guru minta maaf. Namun, Habib Abdul Qadir berkata, ”Meskipun saya benar, andaikan Paduka memukul muka hamba dengan tangan Paduka, tak ada rasa tidak menerima sedikit pun dalam diri hamba ini.” Itulah salah satu contoh keteladanan yang tinggi bagaimana seorang murid harus bersopan-santun pada gurunya.
Guru-guru Habib Abdul Qadir, antara lain, Habib Abdullah bin Umar Asy-Syatiry, Habib Alwy bin Abdurrahman Al-Masyhur, Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf, Habib Muhammad bin Ahmad Al-Muhdor, Syekh Segaf bin Hasan Alaydrus, Syekh Imam Muhammad bin Abdul Qadir Al-Kattany, Syekh Umar bin Harridan Al-Magroby, Habib Ali bin Zain Al-Hadi, Habib Ahmad bin Hasan Alatas, Habib Ali bin Muhammad Al-Habsy, Syekh Abubakar bin Ahmad Al-Khatib, Syekh Abdurrahman Bahurmuz.
Dalam usia yang masih anak-anak, ia telah hafal Al-Quran. Tahun 1331 H/1912 M, ia telah mendapat ijazah dan berhak memberikan fatwa agama, antara lain di bidang hukum, dakwah, pendidikan, dan sosial. Ini merupakan anugerah Allah SWT yang telah diberikan kepada hamba pilihan-Nya.
Maka tidak berlebihan bila salah seorang gurunya, Habib Alwi bin Abdullah bin Syihab, menyatakan, ”Ilmu fiqih Marga Bilfagih setara dengan ilmu fiqih Imam Adzro’iy, sedangkan dalam bidang tasawuf serta kesusastraan bagai lautan tak bertepi.”
Sebelum meninggalkan kota Tarim untuk berdakwah, di tanah kelahirannya ia sempat mendirikan organisasi pendidikan sosial Jami’yyatul Ukhuwwah wal Mu’awanah dan Jami’yyah An-Nasr Wal Fudho’il tahun 1919 M.
Sebelum berhijrah ke Indonesia, Habib Abdul Qadir menyempatkan diri beribadah haji dan berziarah ke makam Nabi Muhammad SAW. Setelah itu, ia melanjutkan perjalanan dan singgah di beberapa kota dan negara, seperti Aden, Pakistan, India, Malaysia, dan Singapura. Di setiap kota yang disinggahi, ia selalu membina umat, baik secara umum maupun khusus, dalam lembaga pendidikan dan majelis taklim.
Tiba di Indonesia tepatnya di kota Surabaya tahun 1919 M/1338 H dan langsung diangkat sebagai direktur Madrasah Al-Khairiyah. Selanjutnya, ia mendirikan Lembaga Pendidikan Madrasah Ar-Rabithah di kota Solo tahun 1351 H/1931 M.
Selepas bermukim dan menunaikan ibadah haji di Makkah, sekembalinya ke Indonesia tanggal 12 Februari 1945 ia mendirikan Pondok Pesantren Darul Hadits Al-Faqihiyyah dan Perguruan Islam Tinggi di kota Malang. Ia pernah diangkat sebagai dosen mata kuliah tafsir pada IAIN Malang pada 1330 H/1960 M.
Keistimewaan Habib Abdul Qadir adalah, ia ahli ilmu alat, nahwu, sharaf, manthiq, ilmu kalam, serta ma’any, bayan, dan badi (tiga yang terakhir merupakan bagian ilmu sastra). Dalam bidang hadits, penguasaannya adalah bidang riwayat maupun dirayah, dan hafal ribuan hadits. Di samping itu, ia banyak mendapat hadits Al-Musalsal, yakni riwayat hadits yang tersambung langsung kepada Rasulullah SAW. Ini diperolehnya melalui saling tukar isnad (saling menukar periwayatan hadits) dengan Sayid Alwy bin Abas Al-Maliky saat berkunjung ke Makkah.
Sebagai seorang ulama yang menaruh perhatian besar dalam dunia pendidikan, ia juga giat mendirikan taklim di beberapa daerah, seperti Lembaga Pendidikan Guru Agama di Sawangan, Bogor, dan Madrasah Darussalam Tegal, Jawa Tengah.
Banyak santrinya yang di kemudian hari juga meneruskan jejaknya sebagai muballigh dan ulama, seperti Habib Ahmad Al-Habsy (Ponpes Ar-Riyadh Palembang), Habib Muhammad Ba’abud (Ponpes Darul Nasyi’in Malang), Habib Syekh bin Ali Al Jufri (Ponpes Al-Khairat Jakarta Timur), K.H. Alawy Muhammad (Ponpes At-Taroqy Sampang, Madura). Perlu disebutkan, Prof. Dr. Quraisy Shihab dan Prof. Dr. Alwi Shihab pun alumnus pesantren ini.
Habib Abdul Qadir wafat pada 21 Jumadil Akhir 1382 H/19 November 1962 dalam usia 62 tahun. Kala saat-saat terakhirnya, ia berkata kepada putra tunggalnya, Habib Abdullah, ”... Lihatlah, wahai anakku. Ini kakekmu, Muhammad SAW, datang. Dan ini ibumu, Sayyidatunal Fatimah, datang....” Ribuan umat berdatangan untuk meyampaikan penghormatan terakhir kepada sang permata ilmu yang mumpuni itu. Setelah disemayamkan di Masjid Jami’ Malang, ia dimakamkan di kompleks makam Kasin, Malang, Jawa Timur.

AST, diringkas dari manakib tulisan Habib Soleh bin Ahmad Alaydrus, pengajar Ponpes Darul Hadits Malang, Jawa Timur

Habib Abdurrahman bin Muhammad Aljufri (Manakib 6)

Singa yang Doanya Mustajab

Dengan menjaga perintah Allah SWT dan menjalankan sunah Rasulullah SAW, doa-doanya selalu mustajab.

Tarim, Hadramaut, Yaman, terkenal sebagai “gudang” para ulama besar dan waliullah. Salah seorang di antaranya ialah Habib Abdurrahman bin Muhammad Aljufri, waliullah yang termasyhur memiliki beberapa karamah luar biasa. Suatu hari ia berkunjung ke sebuah lembah yang dihuni penduduk yang kekurangan air. Penduduk minta ia berdoa agar sumur-sumur mereka terisi air. Maka Habib Abdurrahman pun berdoa dengan khusyuk. Dan seketika itu juga keluarlah air dari semua sumur. Tak lama kemudian kawasan tersebut menjadi subur.
Ulama ini lebih dikenal dengan nama Habib Abdurrahman Maulana Arsyeh. Sejak kecil ia belajar langsung dari ayahandanya, dan sejak remaja telah menghafal Al-Quran. Seperti para ulama yang lain, ia juga banyak menimba ilmu dari para ulama besar di Hadramaut, kemudian melanjutkan pengembaraan ke beberapa kota, sampai akhirnya mengaji di Mekah dan Medinah.
Ketika berada di Inat, Hadramaut, ia menjadi murid kesayangan seorang ulama besar, Habib Abubakar bin Salim. Bahkan dalam sebuah kesempatan Habib Abubakar menyatakan, ”Abdurrahman adalah anakku. Aku telah memperhatikannya sejak ia masih dalam kandungan ibunya. Kelak, bila ia telah lahir, aku akan berikan setengah dari maqam-ku, sementara ucapannya adalah rohku, roh Abdurrahman Aljufri.”
Keluarga Syekh Abu Bakar bin Salim juga menghormati dan menyayanginya. Mereka bahkan mengibaratkan Habib Abdurrahman sebagai “singa yang gagah, giginya kuat, doanya mustajab dan karamahnya banyak”. Salah satu karamah Habib Abdurahman ialah cintanya yang begitu besar kepada para gurunya. Ibaratnya, ia akan merasa sakit apabila gurunya sakit.
Ketika sedang terbaring sakit, Syekh Abu Bakar bin Salim bertanya kepada beberapa muridnya yang duduk di sekitar pembaringan, “Di mana Habib Abdurahman berada?” Saat itu, Habib Abdurahman masuk ke dalam kamarnya, dan Habib Abu Bakar bin Salim meneteskan air mata. Ia lalu menyerahkan sebuah mushaf Al-Quran, baju gamis, dan tongkat kesayangannya, sambil mengusap-usap kepala dan dada Habib Abdurrahman.

Sangat Prihatin
Kemudian ia berdoa supaya Habib Abdurrahman mendapat berkah dari Allah SWT, “Semoga Allah SWT mengakhirimu dan keturunanmu dengan sa’adah, kebahagiaan. Wahai Abdurrahman, aku tidak akan melupakanmu, dan telah membagikan kepadamu rahasia ilmu; juga kepada keturunanmu, dengan sepenuh barakah kepada keluarga dan keturunanmu.” Demikian terungkap dalam kitab Masyarur Rawi fi Manakib Al-Ba’alawi.
Habib Abdurrahman juga dikenal sebagai mubalig yang berani. Selain itu, dia juga gemar beramal saleh kepada semua golongan. Para tamu yang datang ke rumanya, siapa pun dia, selalu dijamu dengan hidangan yang enak. Barangkali itu sebabnya banyak tamu yang datang dari berbagai penjuru. Terutama karena, ketika mereka minta didoakan, doanya selalu makbul.
Salah satu peninggalannya yang sampai sekarang selalu diziarahi ialah sebuah masjid yang terletak di samping kubah makamnya di Tarim. Suasana masjid itu sangat memesona dan berwibawa, mampu menggetarkan hati para jemaah yang salat di dalamnya. Di masjid yang kini mulai dibangun kembali itu, banyak ulama biasa beriktikaf.
Usai menunaikan ibadah haji, ia lalu mengaji di Medinah selama tujuh tahun bersama Habib Ahmad bin Muhammad Alhabsyi. Ketika belajar, mereka hidup sangat prihatin. Setiap hari mereka mengumpulkan kayu bakar dan menjualnya. Atas ketekunan dan ketabahan mereka, konon Nabi Khidlir datang menemui mereka. Dalam penampakan itu, Nabi Khidlir berkata, “Kalian jangan tinggal lagi di Medinah, karena sudah tampak pada kalian cahaya pemimpin Mekah. Ia mempunyai anak perempuan yang tidak bisa berdiri atau berjalan, kecuali duduk di tempat tidurnya. Mereka akan berobat kepada kalian.”
Setelah Nabi Khidlir berlalu, datanglah seorang pemimpin Mekah bersama anak perempuannya kepada Habib Abdurrahman, yang kemudian memberinya pakaian sambil berkata, ”Pakailah pakaian ini, mudah-mudahan Allah SWT memberi kesembuhan kepada anak perempuanmu.” Setelah memakai baju tersebut, tak lama kemudian anak perempuan itu sembuh dan dapat berdiri, dapat berjalan seperti layaknya orang sehat.
Mengenai karamah-karamahnya, ia menyatakan, karamah yang paling besar ialah istikamah dalam beribadah kepada Allah SWT. “Jangan heran pada orang yang bisa berjalan sangat cepat di bumi, atau bisa terbang di udara, atau berjalan di atas air. Karena, sesungguhnya setan juga bisa melakukannya,” katanya.
Setiap kali Habib Abdurrahman mendoakan seorang pasien, atas izin Allah SWT sang pasien segera tidak merasakan sakit. Bahkan gurunya, Syekh Abu Bakar bin Salim, memerlukan datang kepadanya untuk berobat.
Karamah yang luar biasa itu juga tampak dari ketekunan Habib Abdurrahman ketika mempelajari tiga buah kitab karangan gurunya, Syekh Abu Bakar bin Salim. Suatu malam, datanglah beberapa ekor tikus menggondol kitab-kitab tersebut. Ia langsung berdoa, dan seketika itu juga berjatuhanlah tikus-tikus itu, mati. Setelah itu tidak ada lagi seekor tikus pun di rumahnya.
Demikian juga ketika muncul wabah belalang yang menyerang tanaman di sebuah desa. Untuk membantu para petani, ia berdoa mengusir belalang tersebut. Dan sejak itu tak ada lagi belalang yang mengganggu para petani.

AST, dari berbagai sumber

Habib Muhammad bin Ali Mirbath (Manakib5)

Imam Mursyid Tarekat Alawiyah

Dialah yang mula-mula dijuluki Al-Faqih Al-Muqadam, fakih yang diunggulkan.

Selain dikenal sebagai ulama yang ketinggian ilmunya diakui oleh para ulama Hadramaut, ia juga terkenal sebagai dermawan yang suka memperhatikan nasib rakyat miskin. Setiap hari di bulan Ramadan, rumahnya selalu ramai oleh antrean fakir miskin yang menanti pembagian sedekah kurma.
Di rumahnya memang selalu tersedia gudang khusus untuk menyimpan 360 guci penuh kurma, setiap hari dibagikan kurma satu guci, sehingga dalam setahun habis 360 guci. Kurma itu adalah hasil kebun yang memang khusus untuk fakir miskin.
Tak mengherankan jika namanya cukup harum di kalangan masyarakat Tarim, ibu kota Hadramaut kala itu. Apalagi ia juga dikenal sebagai al-‘arif billah, ulama besar, pemuka para imam dan guru, suri teladan bagi al-‘arifin, penunjuk jalan bagi as-salikin, imam bagi tarekat Alawiyah, yang mendapatkan kewalian dan karamah luar biasa, yang mempunyai jiwa bersih.
Dialah Habib Muhammad bin Ali bin Muhammad Shahib Mirbath, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Al-Faqih Al-Muqadam, ahli fikih yang unggul. Ia adalah sosok ulama yang mendapat keistimewaan dari Allah SWT sehingga mampu menyingkap rahasia ayat-ayat-Nya. Allah juga memberinya kemampuan untuk menguasai berbagai macam ilmu, baik lahir maupun batin.
Ia lahir pada 574 H/1154 M. Di masa remaja ia menuntut ilmu kepada para ulama besar, antara lain Al-Allamah Al-Faqih Abul Hasan Ali bin Ahmad bin Salim Marwan Al-Hadhrami, seorang guru yang agung, pemuka para ulama besar di Tarim; Al-Faqih Asy-Syeikh Salim bin Fadhl; dan Imam Al-Faqih Abdullah bin Abdurrahman bin Abu Ubaid, pengarang kitab Al-Ikmal ‘alat Tanbih.
Kecerdasannya sudah tampak sejak masa kanak-kanak, sehingga ia sering mendapat perhatian lebih dari guru-gurunya. Salah seorang gurunya, Al-Imam Abdullah bin Abdurrahman, hanya akan memulai pelajaran jika muridnya yang istimewa itu sudah hadir.
Selain itu, ia juga belajar kepada beberapa ulama besar yang lain, seperti Al-Qadhi Al-Faqih Ahmad bin Muhammad Ba’isa, Al-Imam Muhammad bin Ahmad bin Abul Hubbi, Asy-Syeikh Sufyan Al-Yamani, As-Sayid Al-Imam Al-Hafidz Ali bin Muhammad bin Jadid, As-Sayid Al-Imam Salim bin Bashri, Asy-Syeikh Muhammad bin Ali Al-Khatib, dan pamannya sendiri, Asy-Syeikh As-Sayid Alwi bin Muhammad Shahib Mirbath.
Dalam mengambil sanad keilmuan dan tarekat, ia mengambil dari dua jalur. Jalur pertama dari orangtua dan pamannya, sementara orangtua dan pamannya mengambil dari kakeknya, dan terus sambung-menyambung, akhirnya sampai kepada Rasulullah SAW.
Jalur kedua dari seorang ulama besar pemuka sufi, Syekh Abu Madyan Syu’aib, melalui dua muridnya, yaitu Abdurrahman Al-Maq'ad Al-Maghrabi dan Abdullah Ash-Shaleh Al-Maghrabi. Syekh Abu Madyan mengambil dari gurunya, gurunya mengambil dari guru sebelumnya, dan terus sambung-menyambung, akhirnya sampai kepada Rasulullah SAW.

Ikhtiar Keras
Masa mudanya ia jalani dengan penuh kesungguhan untuk mencari segala hal yang dapat mendekatkan diri kepada Allah. Ia berpegang teguh pada Al-Quran dan sunah Rasulullah SAW, serta mengikuti jejak para sahabat Nabi dan para salafus shalihin, ulama klasik yang saleh.
Dengan mujahadah, ikhtiar, yang cukup keras, ia berhasil memperoleh akhlak mulia dan menghiasinya dengan adab-adab yang sesuai dengan syariat. Sebagian besar waktunya ia habiskan untuk menuntut ilmu, sehingga dalam waktu relatif singkat ia sudah mengungguli beberapa ulama yang juga mengakuinya. Mereka juga mengakui kemampuannya untuk menjadi imam.
Dengan usaha yang keras, dalam usia yang relatif muda, kemampuan tarekatnya sudah mencapai peringkat al’arif billah. Hanya karena kuasa Allah SWT yang berkenan mengaruniai kekuatan dan keyakinanlah, ia dapat memperoleh kekhususan yang tidak didapatkan para wali qutub, tokoh wali, yang lainnya.
Boleh dikata, sedetik pun hatinya tidak pernah kosong dalam berhubungan dengan Allah. Sosoknya penuh dengan sikap tawaduk, dan menyukai ketertutupan, tidak pernah pamer. Suatu ketika ia berkirim surat kepada seorang pemuka sufi bernama Syekh Sa’ad bin Ali Adz-Dzafari. Setelah membacanya, Syekh Sa’ad terkagum-kagum karena merasakan asrar, rahasia kewalian, dan anwar, cahaya kewalian, di dalamnya.
Dalam jawabannya, Syekh Sa’ad antara lain menulis, “Wahai Faqih, orang yang diberikan karunia oleh Allah yang tidak dipunyai oleh siapa pun, engkau adalah orang yang paling mengerti syariat dan hakikat, baik yang lahir maupun yang batin.”
Tentang ketokohan dan kepribadiannya, Imam Syekh Abdurrahman As-Saggaf berkata, “Aku tidak pernah melihat atau mendengar suatu kalam yang lebih kuat daripada kalam Al-Faqih Muhammad bin Ali, kecuali kalam para nabi. Dan aku tidak dapat mengunggulkan seorang wali pun kecuali para sahabat nabi, atau orang yang mendapat kelebihan melalui hadis seperti Uwais Al-Qarni, atau Al-Faqih Muqaddam.”
Sepanjang hidupnya ia banyak mengalami pengalamaan spritual, antara lain bertemu Nabi Hud dan Nabi Khidlir. Suatu hari ketika berziarah ke makam Nabi Hud, ia tertinggal. “Ketika itu aku duduk di suatu tempat yang beratap tinggi. Tiba-tiba datanglah Nabi Hud ke tempatku sambil membungkukkan badan agar kepalanya tidak terkena atap. Lalu katanya, ‘Wahai Syekh, jika engkau tidak berziarah kepadaku, aku akan berziarah kepadamu’.”
Konon, ketika sedang duduk-duduk bersama para sahabatnya, datanglah Nabi Khidlir dengan menyaru sebagai seorang Badui, sementara di kepalanya terdapat kotoran. Al-Faqih lalu bangun mengambil kotoran itu, kemudian memakannya. Hal itu membuat para sahabatnya terheran-heran. Mereka lalu bertanya, “Siapakah orang itu?“ Jawab Al-Faqih, “Dia adalah Nabi Khidlir AS.”
Di zamannya, ia banyak menghasilkan ulama besar. Dan yang paling utama ialah Syekh Abdullah bin Muhammad 'Ibad dan Syekh Sa’id bin Umar Balhaf. Para ulama yang lain: Syekh Al-Kabir Abdullah Baqushair; Syekh Abdurrahman bin Muhammad ‘Ibad; Syekh Ali bin Muhammad Al-Khatib dan saudaranya, Syekh Ahmad; Syekh Sa'ad bin Abdullah Akdar dan saudara-saudara sepupunya; dan masih banyak lagi.
Ia wafat pada akhir bulan Zulhijah 653 H/1233 M, dan dimakamkan di Zanbal, Tarim, Hadramaut, meninggalkan lima anak: Alwi, Abdullah, Abdurrahman, Ahmad, dan Ali.

Disarikan oleh AST dari kitab Manaqib Al-Faqih Al-Muqaddam Muhammad Bin Ali Ba'Alawi dan Wafayat A'yanil Yaman, oleh Abdul Rahman bin Ali Hassan

Imam Ahmad Al-Muhajir (Manakib4)

Sesepuh Ahli Ibadah dan Mujahid

Demi pengembangan syiar Islam, ia rela berhijrah dari Basrah, Medinah, Mekah, dan akhirnya ke Hadramaut.

Hadramaut, di Yaman, khususnya kota Tarim, terkenal sebagai “gudang” para ulama besar, aulia, sufi. Mereka semuanya bermuara pada seorang tokoh bernama Imam Ahmad bin Isa Almuhajir. Ia dilahirkan sekitar 273 H/853 M dan besar di Irak. Tak ayal, ia adalah sesepuh para ahli ibadah dan mujahid, pemegang akidah yang lurus, dengan akhlak terpuji, memesona setiap kali menyampaikan tausiah.
Pesona itu terpancar, misalnya, ketika ia menasihati saudaranya, Imam Muhammad bin Isa, yang berkedudukan tinggi dan kaya raya, agar mengalihkan perhatian pada urusan-urusan akhirat, dan diterima dengan baik. Imam Ahmad Almuhajir sendiri juga berkedudukan tinggi dan kaya, namun hal itu tidak memalingkan hatinya dari ibadah. Justru sebaliknya, ia semakin kuat beribadah, dan rajin menyampaikan tausiah kepada orang-orang yang sesat.
Sejak kecil, wajahnya sudah mengguratkan kepiawaian, kedamaian, dan kebahagiaan. Ia juga berkemauan keras, terutama dalam beramal kebajikan. Jauh sebelum terjadi kekacauan politik maupun perbedaan paham di bidang agama yang terjadi di Irak, Allah SWT telah memberitahukannya agar memalingkan diri dari urusan dunia, dan lebih memperhatikan urusan akhirat.
Kala itu, 255 H/869 M, di masa pemerintahan Khalifah Al-Muhtadi dari Dinasti Abbasiyah, berkobarlah pemberontakan kaum Zanji di Basrah, Irak, yang sempat menyengsarakan penduduk. Sekitar 300 ribu penduduk terbunuh. Maka, pada 317 H/897 M, Imam Ahmad Almuhajir pun memutuskan berhijrah dari Basrah ke Medinah bersama sekitar 70 orang keluarga dan para pengikutnya. Beberapa anggota keluarga yang ditinggalkan diminta menjaga keluarga, termasuk putranya, Muhammad, Hasan, dan Ali, berikut keluarga mereka.
Dengan iringan ratap tangis penduduk Basrah, khafilah besar itu menuju Hijaz, nama kawasan Mekah, Medinah, dan sekitarnya kala itu. Sampai di Medinah, mereka bermukim selama setahun. Ketika itu, Zulhijah 317 H/897 M, di Mekah tengah terjadi kerusuhan yang dilakukan oleh kaum Qaramithah pimpinan Abu Thahir ibnu Abi Sa’id. Mereka berhasil menjebol Hajar Aswad dari tempatnya di salah satu pojok Ka’bah. Tapi, 23 tahun kemudian, mereka mengembalikan Hajar Aswad tersebut.

Kaum Ibadiah
Dalam kerusuhan itu, kaum Qaramithah tidak segan-segan merampok, merampas harta benda, dan membunuh penduduk Mekah. Setahun kemudian, setelah keadaan tenang, Imam Ahmad Almuhajir dan pengikutnya berangkat menunaikan ibadah haji ke Mekah, melakukan ibadah haji. Dan belakangan memutuskan untuk hijrah ke Hadramaut, Yaman.
Mengapa ia memilih Hadramaut, yang panas, tandus, dan kala itu terputus hubungan dari dunia luar? Pemilihan kawasan tersebut didorong oleh hasratnya untuk hidup tenang dan tenteram bersama keluarga dan pengikutnya. Tapi, juga untuk membentuk komunitas masyarakat baru di suatu kawasan baru yang sesuai dengan ajaran Islam. Namun kehadirannya di Hadramaut bukan berarti berakhirnya tantangan berdakwah.
Pada tahun-tahun pertama di Hadramaut, ia menghadapi ancaman para pengikut Mazhab Ibadiah. Karena tidak berhasil mencapai kesepahaman dan perdamaian, ia pun terpaksa mengangkat senjata melawan mereka. Meskipun jumlah pengikutnya tidak terlalu besar, semangat perjuangan mereka cukup tinggi. Apalagi penduduk Jubail dan Wadi Dau’an juga mendukungnya, sehingga kaum Ibadiah tersingkir.
Dakwah Imam Almuhajir, yaitu hidup sesuai dengan ajaran A1-Quran dan sunah, lambat laun diamalkan penduduk. Bahkan sejumlah tokoh terkemuka kaum Ba’alawi menjalani hidup sebagaimana dicontohkan oleh para sahabat di zaman Rasulullah SAW. Ini berpengaruh positif kepada masyarakat Hadramaut di kemudian hari. Mereka inilah yang di belakang hari dikenal sebagai ulama salaf, yakni para ulama terdahulu yang saleh.
Ketika itu peran keluarga Ba’alawi dalam berdakwah dan memberi contoh hidup sesuai dengan syariat merupakan modal besar dalam syiar Islam. Sampai-sampai ulama besar Al-Imam Fadhl bin Abdullah bin Fado berkata, “Keluar dari mulutku ungkapan segala puji kepada Allah. Barang siapa yang tidak menaruh rasa husnudzan (baik sangka) kepada keluarga Ba’alawi, tidak ada kebaikan padanya.”
Sedemikian tinggi penghargaan masyarakat kepada keluarga Ba’alawi, sampai-sampai Sulthanah binti Ali Az-Zabidy, penguasa Hadramaut, konon bermimpi melihat Rasulullah SAW masuk ke dalam rumah salah seorang keluarga Ba’alawi sambil berkata, “Ini rumah orang-orang tercinta. Ini rumah orang-orang tercinta.” Dan itu semua berkat kerja keras penuh kesabaran Imam Ahmad bin Isa Almuhajir Ilallah dalam mengembangkan dakwah Islam di Hadramaut. Ia wafat pada 345 H/956 M, dan dimakamkan di Husaiseh, Hadramaut.

AST, disarikan dari Syarh Al-Ainiyyah, karya Al-Allamah Al-Habib Ahmad bin Zain Al-Habsyi Ba’alawy, dan Alawiyin, Asal Usul & Peranannya, karya Alwi Ibnu Ahmad Bilfaqih, Lentera Basritama, Jakarta, 1999

Habib Muhammad Shahib Mirbath (Manakib3)

Manakib Salaf

Cikal Bakal Keluarga Ba’alawi

Ia adalah ulama zuhud dan tawaduk, penuh keteladanan dan akhlak mulia, suka menolong serta dermawan. Sebagian jalur habaib, terutama Ba'alawi, adalah keturunannya.

Di Mirbath, Oman Selatan, ada seorang ulama besar yang terkenal dermawan, suka menyantuni fakir miskin, dan rumahnya terbuka bagi siapa saja. Nama lengkapnya Habib Muhammad bin Ali bin Alwi bin Muhammad bin Alwi al-Alawiyin bin Ubaydillah bin Ahmad al-Muhajir. Ia menghabiskan sebagian besar umurnya di Mirbath, di kawasan Dhofar, Kesultanan Oman Selatan (yang kini bernama Salalah), setelah hijrah dari kota kelahirannya, Tarim, Hadramaut. Setelah menetap di Mirbath, pengaruh ulama ini cukup besar, sehingga mendapat gelar Shahib Mirbath.
Sejak kecil, ia dididik oleh ayahandanya, Ali Khali’ Qasam, dengan pendidikan agama, termasuk memperdalam dan menghafal Al-Quran. Menjelang dewasa ia merantau ke berbagai tempat untuk menimba ilmu dan mencari pengalaman. Setelah merasa cukup, belakangan ia mengabdikan ilmunya – seperti syariat, tasawuf, dan bahasa Arab – di Hadramaut, sebelum tiba saatnya hijrah ke Mirbath. Di Hadramaut maupun Oman, namanya termasyhur, bahkan dikenal sebagai wali, terutama lantaran akhlaknya yang mulia, perilakunya yang istikamah, lapang dada, dengan wawasan keagamaan yang luas.
Selain sebagai mubalig, ia juga dikenal dermawan, suka membantu orang yang membutuhkan, dan berkorban harta bagi kepentingan umum. Rumahnya di Mirbath senantiasa terbuka bagi para tamu dari segala lapisan, mulai dari ulama, politikus, sampai orang biasa, dari perbagai penjuru. Ia memang sangat dekat dengan masyarakat.
Bukan hanya itu, ia juga suka menyantuni keluarga yang tidak mampu. Tak kurang dari 120 kepala keluarga menerima santunannya setiap bulan secara rutin. Ia juga suka membantu orang-orang yang membutuhkan pertolongannya. Setiap tamu yang datang ke rumahnya selalu ia jamu dengan penuh penghormatan.
Ia juga seorang pengusaha besar. Bisnisnya meliputi bidang pertanian, peternakan ayam, dan berbagai usaha yang berhubungan dengan hajat orang banyak. Tanahnya di Bait Jubair cukup luas dan subur. Hasil ladang pertaniannya luar biasa banyak. Salah satu ladangnya di Bait Jubair dalam satu musim pernah menghasilkan sekitar 40 kuintal gandum.
Salah satu keistimewaannya ialah suka bepergian ke berbagai tempat. Hampir semua tempat telah ia kunjungi. Setiap kali ia berkunjung ke sebuah desa selalu disambut beramai-ramai oleh penduduk setempat. Ia memang sangat terkenal dan berpengaruh di kalangan rakyat kecil.
Pada awal abad kelima Hijriah ia pindah dari Tarim ke Mirbath, dan selanjutnya bermukim di sana sampai akhir hayatnya. Sejak ia tinggal di Mirbath, banyak orang yang mengunjunginya. Bukan sekadar bersilaturahmi, tapi juga menimba ilmu agama. Maka dengan senang hati ia berdakwah dan mengajar.

Empat Anak
Kesibukannya menerima tamu dan mengajar tak mengurangi aktivitasnya beriktikaf, yang sering ia lakukan di berbagai masjid, terutama di Masjid Jami’ Mirbath. Masjid ini memang sengaja ia bangun khusus untuk masyarakat sekitar Mirbath. Di sana pula, ia mengajar dan berdakwah, selain beriktikaf.
Penduduk Mirbath sangat menghormatinya, terutama karena pribadinya yang penuh dengan keteladanan dan berwibawa. Tutur katanya lembut dan menarik, akhlaknya mulia dan sangat memesona. Selain bertakwa, hidupnya juga warak dan zuhud. Sebagaimana ditulis oleh Sayid Muhammad dalam kitab Al-Masyrau’r Rawy, tingkat keulamaan Shahib Mirbath telah mencapai Syaikhul Masyayikhil Islam (guru besar luar biasa dalam bidang ilmu agama Islam) dan ‘Ilmul-ulama al-A’lam (sumber ilmu para ulama). Dapat disimpulkan, kehadiran Shahib Mirbath di Mirbath banyak memberi manfaat bagi penduduk sekitarnya.
Shahib Mirbath dikaruniai empat orang anak lelaki: Abdullah, Ahmad, Alwi, dan Ali. Dari merekalah di kemudian hari berkembang cikal bakal keluarga besar Ba’alawi.
Putra pertama, Abdullah, menurut sumber-sumber sejarah, antara lain dalam kitab Al-Madkhal karya Sayid Alwi ibnu Thahir Alhadad, mempunyai keturunan yang kemudian menjadi pelopor dakwah di Asia Tenggara.
Putra kedua, Ahmad, mempunyai seorang putri bernama Zainab, yang dijuluki Ummul Fuqara’, istri Al-Faqih Al-Muqaddam Muhammad ibnu Shahib Mirbath.
Putra ketiga, Alwi Ammul Faqih, adalah sumber pertalian darah beberapa habib, seperti Alhadad, Aidid, ibn Smith.
Putra keempat, Ali, ia adalah ayah Al-Faqih Al-Muqaddam.
Dari merekalah kemudian keturunan Bani Alawiyin berkembang menjadi lebih kurang 75 leluhur, di samping leluhur Alawiyin lainnya dari keturunan Al-Imam Alwi Ammil Faqih Al-Muqaddam bin Muhammad Shahib Mirbath, yang akhirnya beranak-pinak menjadi lebih kurang 16 leluhur.
Adapun Ba’alawi adalah gelar kehormatan yang diberikan kepada keturunan Alawi bin Ubaidullah bin Ahmad bin Isa Al-Muhajir. Cucu Ahmad bin Isa Al-Muhajir yang bernama Alawi adalah orang pertama yang dilahirkan di Hadramaut. Oleh karena itu anak-cucu Alawi mendapat gelar Ba’alawi, yang bermakna “Keturunan Alawi”. Panggilan Ba’alawi juga bertujuan memisahkan kelompok keluarga ini dari cabang-cabang keluarga lain yang berketurunan dari Rasulullah SAW. Ba‘alawi juga dikenal dengan panggilan Sayid.
Shahib Mirbath telah berhasil mendidik kader-kader ulama sehingga menjadi ulama-ulama besar. Selain keempat putranya sendiri, ada beberapa ulama lain hasil didikannya, seperti Syekh Muhammad bin Ali (yang dimakamkan di kota Sihr), Syekh Al-Imam Ali bin Abdullah Adh-Dhafariyin, Syekh Salim bin Fadhl, Syekh Ali bin Ahmad Bamarwan, Al-Qadhi Ahmad bin Muhammad Ba'isa, Syekh Ali bin Muhammad Al-Khatib.
Dari sinilah di kemudian hari muncul beberapa generasi yang melancarkan dakwah ke seantero negeri. Dalam salah satu bait dari sebuah syairnya yang indah, Habib Abdullah bin Alwi Alhadad melukiskannya, “Penghuni Mirbath (adalah) seorang imam, pusat bermuaranya keturunannya, (yang kemudian menjadi) para ahli dakwah.” Shahib Marbath wafat pada 556 H/1136 M, dan dimakamkan di desa yang dicintainya, Mirbath.

(Disarikan oleh AST dari Syarh Al-Ainiyyah, Nadzm Sayyidina Al-Habib Al-Qutub Abdullah bin Alwi Alhaddad Ba’alawy, karya Al-Allamah Al-Habib Ahmad bin Zain Alhabsyi Ba’alawy)

Habib Hasan bin Saleh Al-Bahr Al-Jufri (Manakib2)

Kisah Wali

Cobaan Kekasih Tidak Menyakitkan

Ia dikenal sebagai pribadi yang mempunyai keluhuran budi dan kasih sayang terhadap sesama makhluk Allah.

Suatu malam sekelompok orang berkerumun di depan pintu sebuah rumah. “Siapa yang berkerumun di depan pintu itu?” tanya tuan rumah.
“Mereka adalah fakir miskin yang menantikan sisa-sisa makan malam,” jawab salah seorang pembantunya.
Maka tuan rumah itu pun segera memerintahkan pembantunya untuk mengundang dan menjamu mereka.
Tuan rumah tersebut memang dikenal dermawan, ramah, dan lemah lembut. Dialah Habib Hasan bin Saleh Al-Bahr Al-Jufri, seorang ulama besar dan wali yang termasyhur di Hadramaut.
Ia lahir di Khali Rasyid, Hadramaut, pada 1191 H/1771 M. Sejak berusia dua tahun ia telah yatim, ditinggal ayahandanya, Saleh bin Bahr Al-Jufri. Ia kemudian diasuh oleh ibu dan kakeknya, Sayid Idrus bin Abubakar Al-Jufri di Dzi Ishbah.
Sejak kecil, ia tinggal di lingkungan yang mencintai ilmu pengetahuan agama dengan semangat beribadah yang kuat. Mula-mula belajar membaca Al-Quran kepada Syekh Abdurrahman Ba Suud, kemudian belajar menghafal kitab suci itu di bawah bimbingan Syekh Abdullah bin Saad.
Setelah itu ia berguru ke sejumlah ulama, seperti Habib Umar bin Zein bin Smith, Habib Umar bin Ahmad bin Hasan Al-Hadad, Habib Alwi bin Saggaf bin Muhammad bin Umar Assegaf. Belakangan, ia juga belajar kepada Habib Umar bin Saggaf bin Muhammad bin Umar Assegaf di Seiwun. Di sana pula akhirnya ia mendapatkan jodoh.
Ketika dewasa ia sering berdakwah melalui beberapa majelis taklim keliling di Syibam, kemudian berdakwah di kota-kota lain. Tapi itu tidak berlangsung lama, karena penduduk Syibam saat itu tengah mengalami kemunduran dan kelalaian. Karena itu ia pun terpaksa hijrah dari Syibam menuju Dzi Ishbah.
Di belakang hari ia dijuluki Al-Bahr (yang artinya “laut”, maksudnya “lautan ilmu”) berkat kedalaman dan keluasan ilmu agamanya. Ketika mengkaji kitab Mukhtashar at-Tuhfah langsung dari pengarangnya, Syekh Ali bin Umar bin Qadhi Bakhsir, ia banyak mengoreksi beberapa hal, padahal umurnya baru 20 tahun.
Kedalaman ilmu itu juga tampak ketika Sayid Abdurrahman bin Sulaiman Al-Ahdal, seorang mufti dari Zabid, memintanya menulis risalah yang menjelaskan sifat salat kaum mukarabin, orang yang selalu berusaha mendekatkan diri kepada Allah dengan sebisa mungkin melaksanakana segala ibadah sunah. Permintaan itu ia penuhi dalam risalah Shalatul Muqarrabin, yang membuat kagum para ulama dan sufi, terutama di Hijaz – nama Arab Saudi kala itu.
Sebagai ulama yang berpegang teguh pada sunah Nabi, ia selalu berusaha meniti jejak para ulama salaf. Misalnya dengan selalu menunaikan salat berjemaah di masjid meskipun letaknya jauh dari rumah di pinggiran kota Dzi Ishbah. Atas permintaan penduduk, juga untuk menghemat waktu dan mengurangi kesulitan perjalanan, ia kemudian pindah ke dalam kota.
Semangatnya untuk mengamalkan salat sunah Rawatib, salat sunah yang dikerjakan secara tetap sebelum dan sesudah salat fardu, dan salat sunah yang lain, memang sangat tinggi. Antara lain, dari salat Khusuf (Gerhana Bulan), salat Kusuf (Gerhana Matahari), sunah setelah wudu, salat Duha delapan rakaat, hingga salat Witir 11 rakaat di akhir malam – semuanya ia kerjakan dengan tekun.
Tentu saja salat wajib lima waktu selalu ia kerjakan secara berjemaah pula. Ia juga lazim membaca setengah dari jumlah surah Al-Quran dalam salat Tahajud. Kadang kala malah khatam dalam satu rakaat. Ulama yang sangat mengutamakan salat ini juga sering melakukan puasa Nabi Dawud (sehari puasa sehari tidak), baik sedang di rumah maupun bepergian, sehat ataupun sakit.

Ahli Ibadah
Ia juga sering membaca surah Yasin 40 kali dalam satu majelis dan dalam satu atau dua rakaat salat. Di antara wirid yang digemarinya ialah membaca surah Al-Ikhlash sebanyak 90.000 kali dalam satu rakaat salat.
Ia telah menunaikan ibadah haji lebih dari tujuh kali dan sering melakukan tawaf malam hari sambil membaca Al-Quran sampai fajar – kadang malah sampai mengkhatamkannya. Sebagaimana dituturkan Sayid Ahmad bin Ali Al-Junaid dalam perjalanan dari Mekah ke Medinah pada 1233 H/1813 M, pada saat puasa Habib Hasan setiap malam hanya sahur dengan beberapa teguk air, lalu menunaikan salat Tahajud.
Menurut salah seorang anaknya, Abdullah bin Hasan, walaupun sang ayah sedang sakit parah dan hanya bisa terbaring di tempat tidur, ketika waktu salat sunah yang biasa dilakukannya telah tiba, Habib Hasan bangun kemudian memukul kedua pahanya sambil berkata, ”Bangunlah wahai jiwa yang buruk! Jangan kau halangi aku untuk menunaikan wiridku!” Ia lalu mengambil air wudu untuk salat sunah sambil memegang Al-Quran. Usai salat, ia terjatuh dan tubuhnya kembali panas.
Meskipun dikenal sebagai ahli ibadah, dengan rendah hati ia berkata, “Kekerasan hati dan kelalaian telah mengalahkanku, sehingga tidak tersisa lagi padaku selain tawakal kepada Allah, serta prasangka baik kepada-Nya, dan pada sifat-sifat-Nya yang Pengasih dan Penyayang. Adapun amalan-amalanku buruk. Jika ada amalku yang baik, itu berkat kemurahan, rahmat, dan karunia Allah SWT belaka.”
Selain dikenal sebagai ahli ibadah, orang mengenalnya pula sebagai pribadi berbudi luhur dan penuh kasih sayang terhadap sesama makhluk. Seperti diceritakan oleh Habib Ahmad bin Ali Al-Junaid, yang menemaninya dalam perjalanan ke Mekah lalu berziarah ke makam Rasulullah SAW di Medinah. Dalam perjalanannya ke Medinah, mereka dirampok. Tapi Habib Hasan tidak mencegahnya.
“Mengapa Sayid tidak mencegahnya?” tanya Habib Ahmad.
Maka jawab Habib Hasan, “Cobaan ini tidak terlalu berat bagiku, kecuali mereka mengambil Al-Quran yang kubawa. Ini memang cobaan Allah. Dan cobaan Kekasih tidak menyakitkan.”
Ketika saudara kandung Habib Ahmad Al-Junaid, yaitu Habib Umar Al-Junaid, yang kaya, meninggal dunia, ia berwasiat kepada Habib Ahmad agar memberi uang senilai 500 riyal kepada Habib Hasan. Tapi, ketika uang tersebut diserahkan, Habib Hasan justru berkata, ”Ini adalah dosa yang siksanya akan disegerakan.” Lalu ia langsung membagi-bagikan uang tersebut kepada orang-orang yang dapat memanfaatkannya demi ketaatan mereka kepada Allah SWT.

Anjing Liar
Kasih sayangnya tidak hanya terhadap orang-orang di sekitarnya, tapi juga kepada seekor anjing liar yang banyak mengganggu penduduk karena sering melahap hewan piaraan. Mendengar pengaduan penduduk, ia berkata, ”Anjing itu bertingkah demikian karena kalian menelantarkannya dan tidak memberi makan. Bawa kemari anjing itu, lalu berilah makan dia hingga kenyang.”
Habib Hasan sangat menaruh perhatian pada anjing tersebut, dengan menempatkannya dalam sebuah kandang yang bersih dan memberinya makanan. Setiap hari ia selalu bertanya kepada pembantunya bagaimana keadaan anjing yang dipeliharanya itu.
Usai menunaikan salat Jumat di sebuah masjid di Syibam, Habib Hasan melihat seekor burung kecil jatuh dari sarangnya di atas masjid ke lantai. Melihat anaknya jatuh, induknya menjerit-jerit. Habib Hasan rupanya terharu, ia pun tak kuasa lagi menahan air matanya. Maka ia pun lalu minta para jemaah keluar sebentar, agar si induk burung dapat mengambil anaknya dengan leluasa kembali ke sarangnya.
Ia juga sangat peduli pada fakir miskin. Ketika menikahkan salah seorang putrinya, Habib Hasan melihat kerumunan orang di bawah jendela lonteng.
“Siapa yang berkerumun di sana itu?” tanyanya.
“Mereka fakir miskin yang menantikan sisa-sisa makan malam,” jawab pembantunya. Maka ia pun segera memerintahkan menjamu mereka, padahal hanya tersedia makanan yang dipersiapkan untuk para tamu pernikahan.
”Tidak apa-apa, hidangkan saja makanan itu,” ujarnya.
Habib Hasan mendapat gelar Aljufri, sebagaimana para pendahulunya. Tokoh yang pertama mendapat gelar Aljufri ialah Habib Abubakar bin Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Ustadzil A’dzam Al-Faqih Al-Muqaddam. Julukan itu ada riwayatnya. Ketika masih kecil, ia disapa oleh sang kakek, Al-Imam Abdurrahman Assegaf bin Muhammad Mawla Dawilah, “Ahlan bil Jufrah!” (Selamat datang, anak kambing kecilku).
Sang kakek memanggil cucunya dengan panggilan “anak kambing” karena tubuh cucunya yang gendut dan lucu seperti anak kambing yang sehat. Menurut seorang ahli bahasa, jufri berarti anak kambing usia empat bulan. Ada pula yang mengatakan, sebutan jufri itu digunakan karena dahulu kakek mereka menulis buku tentang jufr dan sering mengulang-ulang kata jufri.
Habib Hasan bin Saleh Al-Bahr Al-Jufri, yang berbudi luhur dan penuh kasih sayang, wafat pada waktu Duha, hari Rabu, 23 Zulkaidah 1273 H/1853 M, di Dzi Ishbah. Jenazahnya dimakamkan dekat makam ibundanya di tengah musala di samping rumahnya.

Disarikan oleh AST dari buku Shalat para Wali, karya Habib Hasan, terjemahan Ustaz Novel Muhammad Alaydrus, diterbitkan oleh Putera Riyadi, Solo

Habib Umar bin Abdurrahman Al-Atthas (Manakib1)

Sang Penyusun Ratib Al-Atthas

Karamahnya sudah tampak sejak dalam kandungan ibundanya. Meski kehilangan penglihatan sejak kecil, ia giat menuntut ilmu. Dialah salah seorang ulama besar Hadramaut.
Di Hadramaut ada seorang ulama besar, seorang wali, yang sangat termasyhur karena karamah-karamahnya. Dialah Habib Umar bin Abdurrahman Al-Atthas, lahir pada 992 H/1572 M di Desa Lisk, dekat kota Inat, Hadramaut. Dialah pula yang mula-mula mendapat gelar Al-Atthas, “orang yang bersin”. Disebut demikian karena, konon, ketika masih berada dalam kandungan ibundanya, Syarifah Muznah binti Muhammad Al-Jufri, ia sering bersin. Janin yang masih dalam kandungan, dan bisa bersin, tentulah luar biasa. Dan itulah karamah pertama Habib Umar.
Meski sejak kecil ia sudah kehilangan penglihatan, Allah SWT menerangi kalbunya sehingga ia mampu menyerap dengan baik segala pengetahuan tentang agama yang diajarkan oleh ayahandanya, Al-Imam Abdurrahman bin Aqil. Semangat belajarnya memang sangat besar. Tak jemu-jemunya ia menuntut ilmu kepada beberapa ulama besar, seperti Syekh Abu Bakar bin Salim, Muhammad bin Abdurrahman Al-Hadi, Syekh Umar bin Isa As-Samarqandi. Sementara guru utama yang paling ia hormati ialah Habib Husein bin Syekh Abubakar bin Salim.
Ia banyak belajar tasawuf, terutama dari Syekh Umar bin Isa Barakwah As-Samarqandi. Setelah merasa cukup menuntut ilmu, ia membuka taklim dengan mengajarkan ilmu agama. Dakwahnya pun menyebar ke segenap penjuru Hadramaut.
Belakangan ia dikenal sebagai seorang sufi yang banyak menguasai ilmu lahir dan batin, pengayom anak yatim piatu, janda, dan fakir miskin. Siang mengajar, malamnya ia gunakan untuk melakukan riyadhah, beribadah, bermunajat kepada Allah SWT, dan sangat jarang tidur.
Sebagai ulama besar dan sufi, Habib Umar dikenal dengan beberapa karamahnya. Ia sangat termasyhur, bahkan sampai ke negari Cina. Suatu hari, salah seorang anak Habib Abdurrahman melawat ke Cina. Di sana ia bertemu seorang sufi yang memberi salam dan hormat, padahal ia tidak mengenalnya.
”Bagaimana engkau mengenalku, padahal kita belum pernah berjumpa?” tanyanya.
”Bagaimana aku tidak mengenal engkau? Ayahmu, Habib Umar bin Abdurrahman Al-Atthas, adalah guru kami, dan kami sangat menghormatinya. Habib Umar sering datang ke negeri kami dan ia sangat terkenal di negeri ini,” jawab sufi tersebut. Padahal jarak antara Hadramaut dan Cina sangat jauh, namun Habib Umar telah berdakwah sampai ke sana.
Syekh Muhammad Baqais, salah seorang muridnya, bercerita, ”Satu kali Habib Umar mendamaikan beberapa suku yang berperang sampai berkali-kali. Tapi, tetap saja ia tidak mendapatkan tanggapan baik. Karena itu beliau pun melemparkan biji tasbihnya kepada mereka. Dengan izin Allah biji tasbih itu menjadi ular. Barulah mereka sadar dan mohon maaf.”
Nama Habib Umar tak bisa dipisahkan dari karya agung yang diberinya judul ‘Azizul Manal wa Fathu Babil Wishal, alias “Anugerah nan Agung dan Pembuka Pintu Tujuan” – yang di belakang hari sangat terkenal sebagai Ratib Al-Atthas. Habib Umar sendiri berwasiat, “Rahasia dan hikmah telah kutitipkan di dalam ratib itu.”

Melindungi Kota
Menurut Habib Abdurrahman Al-Habsyi (Kwitang, Jakarta Pusat), Ratib Al-Aththas lebih tua dibanding Ratib Al-Haddad. Ratib Al-Haddad disusun pada 1071 H/1651 M oleh Habib Abdullah Al-Haddad, atau sekitar 350 tahun lalu, sedang Ratib Al-Atthas disusun jauh sebelumnya. Ada beberapa wirid atau doa yang tidak ada dalam Ratib Al-Atthas tapi terdapat dalam Ratib Al-Haddad, demikian pula sebaliknya. Namun, seperti ratib-ratib yang lain, keduanya tetap mengacu pada doa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.
Ratib Al-Atthas biasa dibaca usai salat Magrib, tapi boleh juga dibaca setiap pagi, siang, atau tengah malam. Bisa dibaca sendiri atau secara berjemaah. Manfaat ratib ini sangat besar. Bahkan ada sebagian ulama yang mengatakan, dengan membaca Ratib Al-Atthas atau Ratib Al-Haddad setiap malam, Allah SWT akan menjaga dan memelihara seluruh penghuni kota tempat tinggal kita, menganugerahkan kesehatan, dan mengucurkan rezeki-Nya kepada segenap penduduk.
Dalam keadaan sangat khusus dan mendesak, ratib tersebut bisa dibaca tujuh hingga 41 kali berturut-turut. Pendapat ini mengacu pada beberapa hadis Rasulullah SAW tentang manfaat istigfar dan doa-doa lainnya. Sebab, dalam ratib-ratib tersebut antara lain terdapat selawat, tahlil, tasbih, tahmid, dan istigfar.
Begitu hebat fadilah atau keutamaan ratib-ratib itu, hingga Habib Husein bin Abdullah bin Muhammad bin Muhsin bin Husein Al-Atthas menyatakan bahwa mereka yang mengamalkan ratib tersebut tidak akan terluka jika pada suatu hari terpatuk ular. “Orang yang biasa mengamalkan ratib-ratib itu tidak akan merasa takut, ia akan selamat dari segala yang ditakuti,” katanya.
Betapa hormat para ulama kepada Habib Umar bin Abdurrahman Al-Atthas. Tergambar ketika suatu hari seorang ulama, Syekh Salim bin Ali, mengunjungi Imam Masjidilharam, Habib Muhammad bin Alwi Assegaf, dan menyampaikan salam dari Habib Umar. Seketika itu juga Habib Muhammad pun menundukan kepala sejenak, lalu katanya, ”Layaklah setiap orang menundukkan kepala kepada Habib Umar. Demi Allah, saya mendengar suara gemuruh di langit untuk menghormati beliau. Sementara di bawah langit ini tidak ada orang lebih utama daripada beliau.”
Habib Umar bin Abdurrahman Al-Atthas wafat pada 23 Rabiulakhir 1072 H/1652 M, dan jenazahnya dimakamkan di Hadramaut. Sampai sekarang, makamnya selalu dikunjungi banyak peziarah dari berbagai belahan dunia.
AST, dari berbagai sumber

Syekh Jambukarang,Pembuka Dakwah Islam di Purbalingga.

Syekh Jambukarang,Pembuka Dakwah Islam di Purbalingga.

Berziarah ke makam Syekh Jambukarang sambil menikmatipanorama puncak perbukitan Cahya di belahan utaraKabupaten Purbalingga, Jawa Tengah.Matahari baru saja menyeruak di ufuk timur ketikasinar kemerah-merahan memancar ke seluruh penjuru.Langkah kaki penduduk desa tampak berjalan beriringanmenuju ladang, menelusuri jalan batu setapak berundakyang di kanan kirinya curam. Embun pagi, udara dingin,dan sepoi angin khas pegunungan, mewarnai perjalananke Makam Syekh Jambukarang, seorang tokoh dakwahIslam untuk kawasan Purbalingga dan sekitarnya.Makamnya terletak di desa Panusupan, KecamatanRembang, Kabupaten Purbalingga. Kawasan makam itu terletak sekitar 20 kilometer arahutara kota Purbalingga. Dibutuhkan waktu sekitar 30menit dengan menggunakan mikro bus jurusanBobotsari-Rembang (arah monumen Jenderal Sudirman).Sesampai di desa Rajawana, perjalanan dilanjutkandengan mobil pick up, bak terbuka jurusanRajawana-Panusupan sekitar empat kilometer. Dari desa Panusupan, perjalanan dilanjutkan denganberjalan kaki sejauh satu kilometer. Jalan setapakyang dilapis semen membelah desa itu mengantar kitamencapai gerbang makam. Di sini, setiap pengunjungdikenai biaya restribusi dan mengisi buku tamu.“Masih jauh, Pak?” tanyaku sambil membayar retribusisebesar 3000 rupiah kepada salah seorang juru kunci.“Sekitar empat kilo lagi, Mas,” jawabnya.Kemudian kita diajak menelusuri jalan selebar satumeter yang kondisinya naik turun di lembah perbukitanhijau pada belahan timur kaki gunung Slamet. Sejauhmata memandang, yang tampak hanya rerimbunan ilalangdan hijaunya perbukitan. Sepanjang perjalanan, sepoiangin pegunungan menghadirkan kicau burung hutanmenemani tiap langkah pendakian. Sesekali berpapasandengan satu rombongan kecil peziarah yang pulang darimakam.Kondisi jalan yang terjal dan licin itu mengharuskankita meluangkan waktu sekitar dua jam meski jaraknyahanya empat kilo. Karenanya perlu stamina dan bekalyang cukup. Sebagian peziarah percaya bahwa makam SyekhJambukarang keramat sehingga menjadi rujukan khusustempat bertawasul, menyampaikan doa dengan perantarawali. “Saya datang ke sini agar dagangan saya makin laris,”tutur Ny. Sutini yang datang dari Kab. Cirebon. Iadatang beserta tiga anggota keluarganya. Umumnya, peziarah datang pada malam Minggu Pon danRabu Pon. Namun, paling ramai ketika pergantian tahun.Banyak anak muda menghabiskan malam panjang di sinisambil menyelami wisata spiritual, meraihberkah-berkah di dalamnya. Peziarah disarankanmengamalkan bacaan ayat Kursi, sebab dalam ayat Kursiterdapat bermacam-macam fadillah.Tiga cahaya.Syeh Jambukarang ketika muda bergelar Adipati Mendang(R. Mundingwangi). Ia putra Prabu Brawijaya MahesaTandreman, Raja Pajajaran I. Sejak muda ia senang dengan ilmu kanuragan. Walauberhak menjadi raja Pajajaran, tetapi ia lebihtertarik menjadi pendeta. Tahta kerajaan diserahkanpada adiknya, R Mundingsari yang dinobatkan pada tahun1190.Ia kemudian bertapa di gunung Jambu Dipa, atau GunugKarang, di Karesidenan Banten, Jawa Barat. Sewaktubertapa terlihat olehnya tiga cahaya di belahan timuryang menjulang tinggi ke angkasa. Maka bersama 160pengikutnya, dicarilah letak cahaya itu. Sungai danpekatnya hutan pegunungan disusuri. Setelah melewati daerah Kerawang, Sungai Comal, GunungCupu, Gunung Kraton sampailah mereka ke Desa Rajawana.Setelah mendaki perbukitan Ardi Lawet, mereka tiba diGunung Panungkulan (gunung Cahya), desa Grantung,kecamatan Karangmoncol, Purbalingga. Di puncak bukititu mereka mendirikan pertapaan.Dalam saat yang bersamaan, di negara Arab ada seorangmubaligh bernama Syekh Atas Angin. Ia keturunanRasulullah SAW dari Sayyidina Ali. Sesudah salatsubuh, ia mendapat ilham bahwa di sebelah timurterdapat tiga cahaya putih yang menjulang tinggi keangkasa. Maka beserta 200 pengiring, ia menempuhperjalanan mencari sumber cahaya itu. Mula-mularombongan ini singgah di Gresik kemudian merapat diPemalang, menuju Gunung Cahya. Di tempat sumber cahayaini, Syekh Atas Angin melihat R Mundingwangi sedangbertapa. “Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakutuh,” sapaSyekh Atas Angin.Yang diberi salam diam saja, sebab Mundingwangi belummemeluk Islam. Keduanya kemudian terlibat dalam adukesaktian. Ternyata Mundingwangi kalah dan bersediamasuk Islam. Selanjutnya Mundingwangi diberi Ilmu Kewalian digunung Kraton yang terletak di sebelah utarapegunungan Cahya dan diberi gelar Pangeran Wali SyekhJambukarang. Konon, pada saat berlangsungnya penurunanIlmu kewalian, semua pegunungan di sekitar bukitKraton puncaknya tunduk mengarah ke gunung Kraton.Tapi ada sebuah gunung yang tidak tunduk puncaknya,maka gunung tersebut diberi nama gunung Bengkeng(membandel). Untuk menyempurnakan keislamannya, PangeranJambukarang menunaikan ibadah haji ke Mekah.Sekembalinya dari Tanah Suci ia dikenal sebagaiMubalig Agung dan diberi gelar Haji Purba. Konon, iajuga memiliki beberapa kekeramatan, pecinya dapatterbang ke angkasa, menumpuk telur di udara satupersatu tidak jatuh, menggandeng tempat-tempat air diangkasa, dan lain-lain.Sebagai rasa terima kasih, Wali Syekh Atas Angindikawinkan dengan salah seorang putrinya, NyaiRubiahbekti. Perkawinan ini melahirkan tiga putra dandua putri, Wali Mahdum Husen, Mahdum Medem, MahdumUmar, Nyai Rubiahraja, dan Nyai Rubiyahsekar. Setelah menamatkan ilmu kewalian pada Syekh AtasAngin, ia kemudian mendirikan padepokan danmenyebarkan dakwah Islam di wilayah Purbalinggadibantu Santri Agung, salah seorang santrinya.Keduanya dikuburkan berdampingan di puncak gunungCahya. Kelak, keturunan Syekh Jambukarang banyak mengabdikepada Kasultanan Demak. Pangeran Wali Makhdum Husein,salah seorang putranya, gigih mengusir tentaraPajajaran yang menyerang daerah Cahyana karenaperbedaan pandangan agama. Salah seorang cicitnya yang sangat berperan dalammenyambung silaturahmi dengan Demak adalah SyekhMahdum Wali Prakosa (Wali yang kuat sekali), yangtidak lain cucu Wali Mahdum Husein. Ia adalah pembuatsoko guru, tiang masjid Demak bersama Sunan Kalijaga.Salah satu tiang tersebut kemudian terkenal dengannama soko tatal. Ia meluruskan arah masjid Demak kekiblat dengan menggunakan palu besar. Sultan Demakmemberikan piagam penghargaan khusus kepada Syeh WaliPrakosa di Cahyana atas pengabdiannya yang besar dalammelakukan dakwah di tanah Jawa. AST/Ft AST

Ideologi, bukan Sekedar Sesuap Nasi

Ideologi, bukan Sekedar Sesuap Nasi
Oleh Budiman S. Hartoyo*)

KEBEBASAN pers yang kita nikmati saat ini niscayamerupakan buah yang paling signifikan dari gerakanreformasi di Indonesia. Karena itu sudah selayaknyajika pers berterimakasih kepada kaum muda, mahasiswadan rakyat, yang berjuang meruntuhkan kekuasaan rezimOrde Baru yang otoriter dan represif. Dengan pers yangbebas, diharapkan proses demokratisasi dapatberkembang secara sehat. Dewasa ini, secaraberangsur-angsur, publik mulai menyadari hak-hak sipilmereka, antara lain hak untuk mendapatkan aksesinformasi, hak untuk mengemukakan pikiran,berekspresi, berkumpul secara bebas. Berbagai kritikpun, terutama yang ditujukan ke alamat kekuasaan,dengan mudah dapat disampaikan tanpa hambatan. Aksesterhadap informasi pun mudah didapat, hampir tak adalagi fakta yang ditutup-tutupi seperti di masa OrdeBaru.Sepanjang sejarah republik, inilah kebebasan pers yangsebenar-benarnya. Kini, setiap warganegara dapatmenerbitkan media tanpa terlebih dahulu harusmendapatkan izin dari pemerintah. Maka semarakkebebasan pers pun diwarnai dengan terbitnya berbagaimacam media. Mutu penampilan, penyajian berita danpolitik redaksionalnya pun sangat beragam. Bahkan adadi antaranya, meski tak banyak, yang merasa “bebas”pula dalam mengelola media, sehingga pers bukan lagisebagai penyalur aspirasi dan kepentingan umum.Anehnya, selama ini tak jelas apa yang dimaksud dengan“pers yang kebablasan”. Apa kriteria atauparameternya? Jika yang dimaksud ialah “kebablasan”dalam mengritik kekuasaan, tentulah tudingan itu salahalamat. Namun, jika yang dimaksud ialah “pers kuning”yang beritanya insinuatif dan bombastis, sesungguhnyadi mana pun dan kapan pun gaya pers semacam itu selaluada. Tapi yellow paper tentu tidak dapat dijadikantolok ukur dalam menilai perkembangan pers. Apalagijika tudingan itu tidak berdasarkan data yang akurat. Meskipun tanpa data, kalaupun ada persyang dianggap “kebablasan” – apapun parameter ataukriterianya – pasti jumlahnya tidaklah banyak. Memangada satu dua media seperti itu yang terbit di Jakarta,juga beberapa penerbitan terutama tabloid yang terbitdi sementara daerah, tapi tiras mereka tidak banyak.Bahkan secara umum bisa dikatakan, kecenderungan“kebablasan” sebagaimana sering dituduhkan itu,bukanlah kecenderunmgan mainstream.Apakah koran-koran seperti Kompas, Suara Pembaruan,Sinar Harapan, Jawa Pos, Republika, Media Indonesia,Koran TEMPO, Serambi Indonesia, Waspada, Analisa,Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, Pikiran Rakyat,Surabaya Pos, Pedoman Rakyat, Fajar, ataumajalah-majalah seperti Forum, TEMPO, Gatra, Gamma,bisa dinilai sebagai “pers yang kebablasan”? Samasekali tidak.BERKAT dibukanya kran kebebasan pers, dewasa inijumlah penerbitan pers berlipat-lipat dibanding tirasdi masa lalu. Apakah motivasi yang mendorong orangmenerbitkan media? Inilah sebenarnya yang pertama-tamaharus dipertanyakan. Apakah para penerbit sudahbenar-benar memahami mission pers? Agaknya sebagianbesar penerbit memang memahaminya, meskipun adabeberapa di antaranya yang semata-mata terdorong oleheuphoria kebebasan pers. Bahkan ada pula yangsemata-mata menginginkan keuntungan komersial.Memang, posisi dan peran media sedikit banyakditentukan oleh pemilik, bersama pemimpin redaksi.Namun, dalam masyarakat sipil yang demokratis – dandewasa ini kita tengah menuju ke sana – posisi persditentukan oleh kepercayaan publik. Media pers yangtak lagi dipercaya oleh publik dengan sendirinya akanditinggalkan pembacanya. Sebab, publik yang cerdasmenghendaki media pers mengutamakan kepentingan umum,bukan kepentingan politik pemilik modal atau pribadipemimpin redaksi. Dengan demikian, pers harusindependen dari berbagai kepentingan politik, apalagiyang saling bertentangan.Agar supaya media pers mampu bersikap independen,dengan sendirinya harus mandiri secara ekonomi danmanajemen. Namun, di atas segala-galanya adalahintegritas. Hanya media pers – dan dengan demikianjuga kewartawanan – yang berpegang teguh padaintegritas moral yang tinggilah, yang mampuindependen. Di lain pihak, jika pers dikelola secara profesional,suatu saat akan tumbuh sebagai industri penerbitanyang kuat secara ekonomi. Bahkan bukan tak mungkinkemudian tampil menjadi semacam konglomerasi yangsangat berkuasa dalam mempengaruhi opini. Namun,tidaklah seharusnya “kekuasaan pers” semacam itumenjadi kekuasaan otokratis, melainkan kekuasaan yangmenyadari tanggungjawabnya untuk mendidik danmencerahkan publik. Seorang pemimpin redaksi bukanlahpula “diktatur intelektual”, melainkan seorang editoryang dengan editorialnya berpihak kepada kebenaran,keadilan, akal sehat (common sense), dan rakyat kecilyang tertindas.Jika semua itu dikaitkan dengan kebebasan pers, adasatu hal yang selama ini dilupakan. Bahkan juga olehkalangan pers sendiri. Yaitu, bahwa kebebasan perssesungguhnya bukanlah semata-mata kepentingan industripers, pemilik modal, pemimpin redaksi, wartawan.Bukan! Kebebasan pers adalah hak publik, sebagaipengejawantahan dari hak asasi, sebagai konsekuensilogis dari hak yang bebas untuk mendapatkan aksesinformasi, sebagai salah satu akar tunjang demokrasi.Dengan demikian maka media pers – dan dengan demikianjuga para pemilik modal, pemimpin redaksi, wartawan –hanyalah sekedar sebagai pembawa amanat dari hak sipilpublik tersebut. Agar supaya amanat tersebut dapatdiemban sebaik-baiknya, maka syarat utamanya ialah:pekerja pers harus bersikap sebagai intelektual yangkomit dengan profesi kewartawanan, dengan independensiyang teruji, dilandai integritas moral yang tinggi. Hanya dengan sikap seperti itulah, pekerjapers mampu membantu proses pertumbuhan masyarakatsipil yang cerdas, yang mampu menilai dengan akalsehat, yang demokratis dan dinamis. Itulah yangdisebut pekerja pers yang memiliki integritas moralyang tinggi. Justru karena memiliki integritas itupulalah, pers mendapat semacam “hak istimewa” yangsecara konstitusional diakui oleh UU Nomor 40/1999tentang Pers yang menjamin kebebasan pers. Suatu hakyang tak diberikan kepada jenis industri yang lain.MENURUT The New American Webster Handy CollegeDictionary, makna integritas, integrity, ialahfidelity to moral principles, honesty (kesetiaan,ketaatan, kejujuran terhadap prinsip-prinsip moral).Moral dalam arti kata yang luas, nilai-nilai kebajikanyang diakui oleh dan berlaku di masyarakat beradab.Oleh karena ujung tombak media pers adalah wartawan,mereka harus memiliki integritas moral yang tinggi,yang antara lain dipandu dengan kode etik, dalam halini Kode Etik Wartawan Indonesia, yang disusunberdasarkan amanat UU Nomor 40/1999 tentang Pers, danberlaku untuk seluruh wartawan Indonesia.Integritas, sesungguhnya adalah “ideologi” bagi parapekerja pers, sebagai pegangan atau pedoman yang harusditaati dalam menjalankan tugas profesi. Seorangwartawan, selain harus profesional ia juga harusindependen. Profesional dan independen saja tak cukup,ia harus pula komit dengan integritas moral yangteruji. Profesional, mampu bekerja dan menghasilkankarya sesuai ukuran-ukuran kelayakan jurnalisme;independen, tak bergeming di tengah benturan berbagaikepentingan yang saling berbenturan.Pers yang bebas dan berperan sebagai social control,tidaklah dengan sendirinya bebas dari kontrol publik.Publik bebas menentukan dan menjatuhkanpilihan-pilihan terhadap berita dan analisis yangdisiarkan oleh media pers. Tapi itu tak berartipilihan-pilihan tersebut selalu berjalan dalam prosesyang demokratis. Justru sebagai konsekwensi darimasyarakat yang terbuka, tentu ada kelompok-kelompokkepentingan yang bebas pula mempengaruhi pers. Disinilah terjadi benturan-benturan kepentingan yangberebut membangun opini.Dan seringkali kepentingan-kepentingan tersebutbertentangan dengan kepentingan publik: kepentingankekuasaan, kelompok, pemodal besar. Berbagai upayaditempuh, mulai dari sekedar “amplop” sampai denganiming-iming atau bahkan pemberian jabatan ataukedudukan di perusahaan, partai atau lembaga politik.Itu semua merupakan upaya mempengaruhi pekerja persuntuk menulis atau tidak menulis tentang suatu kasus,sesuai kepentingan perorangan atau kelompok. Disinilah integritas dan independensi pekerja pers diujiketanguhannya. Wartawan yang komit dengan profesi jurnalismenya, yangmemiliki integritas, yang independen, selayaknyamenghindari berbagai godaan itu. Semiskin atau sekecilapapun gaji seorang wartawan, ia tak harus melacurkanintegritasnya. Sungguh, ini sikap yang ideal, yangmudah diucapkan atau ditulis, namun sulitdilaksanakan! Tapi, inilah tantangan seorang wartawan,yang mampu melahirkan karya besar, yang akan dikenangsebagai pengabdi kepentingan publik dan rakyat kecilyang tertindas, sebagai sang pengukir sejarah. Bukanwartawan kelas teri yang sekedar memburu sesuapnasi!***

*) Mantan Ketua Umum Kornas PWI-Reformasi, Redaktur Eksekutif Majalah AlKisah

22.2.06

Aku dan PPP (1)

Laskar Ababil PPP Gabung Tim Kampanye SBY-MJK
Purbalingga, CyberNews.. Laskar Ababil Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Kab Purbalingga secara resmi bergabung dalam Tim Kampanye H. Susilo Bambang Yudhoyono dan H. Jusuf Kalla (SBY-JK) dalam Pilpres 20 September 2004.
Dukungan ini, sebagaimana dituturkan Humas Ababil PPP Purbalingga Warsono, telah secara resmi disampaikan dalam kunjungan kelembagaan pengurus Laskar Ababil PPP Kab Purbalingga ke Sekretariat Tim SBY-MJK Kab Purbalingga di Jl Wiroguna No 1 Purbalingga, hari Rabu(1/9).

Dalam kunjungan kelembagaan tersebut, Laskar Ababil dipimpin ketuanya Aji Setiawan, ST didampingi sekretaris M. Warsono dan Mohammad Syarifudien, Ketua Divisi Agitasi Propaganda. Kunjungan resmi diterima langsung Sekretaris Tim SBY-MJK Kab Purbalingga, Mahendra Yudhi Krisnha dan beberapa pengurus Tim Kampanye.

"Kami sangat berbahagia bisa bertemu langsung dengan Tim Kampanye SBY-MJK di Sekretariat, sehingga kami bisa menyampaikan dukungan resmi. Telah kami sampaikan berkali-kali dalam berbagai forum PPP bahwa Laskar Ababil Partai Persatuan Pembangunan Kab Purbalingga secara resmi mendukung pasangan H. Susilo Bambang Yudhoyono dan H. Jusuf Kalla (SBY-MJK) dalam Pilpres putaran II 20 September nanti," ujar Panglima Laskar Ababil PPP Kab. Purbalingga, Aji Setiawan, ST.

Sikap tersebut, tambah Aji Setiawan ST yang juga Sekretaris Tim Kampanye Hamzah-Agum Kab Purbalingga, tidak akan berubah."Kami konsisten untuk senantiasa menjaga sikap resmi Laskar Ababil PPP Kab Purbalingga. Karena kami sadar, aspirasi rakyat baik di pedesaan maupun perkotaan sangat kuat untuk mendukung SBY-MJK. Kami tidak ingin melawan arus grass root (rakyat bawah-red),"tegasnya.

"Kami memilih SBY-MJK karena pertama, ini adalah keputusan rapat pleno Laskar Ababil pada 25 Agustus di Cipawon yang menetapkan sikap resmi untuk mendukung dan mensukseskan pasangan SBY-MJK dalam pilpres II.

Kedua, kami melihat ada alasan perlunya dinamika perubahan dalam kepemimpinan nasional. Dan sikap tersebut kami temukan dalam sosok kepemimpinan dan komitmen Susilo Bambang Yudhoyono dalam membrantas Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) selama kepemimpinannya," papar Aji.

Pada kesempatan tersebut, Sekretaris Tim SBY-MJK Kab Purbalingga, Mahendra Yudhi Krisnha menyampaikan ucapan terima kasih atas dukungan Laskar Ababil PPP Kab Purbalingga."Bagaimana pun, kawan-kawan telah bersedia bergabung dengan kami. Semoga kunjungan dari Laskar Ababil PPP dapat membawa kebersamaan antar sesama kita sehingga dapat membawa perubahan bagi bangsa ini ke depan,"papar Sekretaris Tim SBY-MJK Kab Purbalingga, Mahendra Yudhi Krisnha.( agung setia bakti/CN07 )

sumber berita :http://www.suaramerdeka.com/cybernews/harian/0409/01/dar11.htm

Aku dan PPP (2)

Rabu, 22 Februari 2006 23:52:02 WIB

Makin Gencar, Desakan Untuk Muktamar Luar Biasa PPP30 Januari 2005
"Hampir seluruh wilayah dari 10 provinsi setuju."
Sepakat MLB PPPLaskar Ababil Partai Persatuan Pembangunan Kab Purbalingga menyetujui diadakannya Silaturahmi Nasional Partai Persatuan Pembangunan yang dilangsungkan di Jakarta, 25 sampai 27 Februari.“Ada hal mendasar yang perlu diperbuat oleh PPP kedepan agar tidak mandek dalam menjalankan roda organisasi. Dan acara Silaturahmi Nasional PPP adalah salah satu upaya untuk mempertemukan berbagai tokoh PPP yang pro perubahan,” kata Aji Setiawan, ST Panglima Laskar Ababil PPP Kab Purbalingga seusai memberikan paparan singkat hasil pertemuan Laskar PPP se-Jateng dan DIY dalam Rapat Internal Laskar Ababil PPP di Bukateja, Sabtu(5/2).Dikatakan, bahwa kalangan muda PPP di berbagai daerah sudah jemu melihat perilaku elit politik PPP yang selalu berlindung di balik baju birokrasi dan aturan organisasi. Salah satu indikasi kemerosotan PPP adalah dalam Pemilu 2004 dan Pemilihan Presiden yang secara langsung itu, PPP banyak mengalami kekalahan."Dengan kemerosotan perolehan suara ini, kami dari Laskar Ababil PPP Purbalingga telah menyalurkan aspirasi kepada Dewan Pimpinan Cabang dan Wilayah baik dalam rapat maupun musyawarah resmi untuk segera melakukan evaluasi yang mana hasil evaluasi internal Partai Persatuan Pembangunan untuk segera dilaksanakan Muktamar Luar Biasa,"jelas Aji Setiawan ST yang juga adalah sekretaris Tim Kampanye Hamzah-Agum Purbalingga.Menurutnya, sosok Hamzah Haz dalam memimpin PPP sudah tidak bisa menjadi wakil bagi perubahan besar. Perolehan suara merosot tajam itu, diakibatkan oleh miskinnnya kader-kader dalam tubuh PPP."Ini yang mesti diakui dengan jujur oleh kalangan PPP di manapun berada. Kita butuh perubahan mendasar, kader-kader muda dan program yang jelas agar PPP ke depan bisa tampil lebih elegan,"tambahnya.Wacana Muktamar Luar Biasa PPP yang diusung beberapa DPC PPP dan DPW PPP di berbagai wilayah dan cabang Se-Indonesia mesti direalisasikan melalui Musyawarah Kerja Wilayah dan Nasional."DPW PPP Jawa Tengah, mestinya segera menggelar Musyawarah Kerja Wilayah dalam waktu singkat ini untuk merekomendasikan Mukatamar Luar Biasa. Sebab, sesuai AD ART PPP hasil Muktamar V Pasal 47 ayat 3 disebutkan, Mukatamar Luar Biasa bisa dilaksanakan bila diusulkan secara tertulis oleh separuh lebih DPW atau DPC PPP,"tambahnya.Karenanya, menurutnya kalau ingin segera ada perubahan besar dalam tubuh PPP saat ini, jajaran PPP baik Cabang maupun Wilayah di mana pun berada harus segera mengusulkan rekomendasi Muswawarah Kerja Cabang dan Wilayah PPP untuk diagendakan dalam Musyawarah Kerja Nasional PPP."Hanya dengan jalan tersebut MLB bisa dilaksanakan," tambahnya.“Jangan sampai terulang kejadian pecahnya tubuh PPP dengan mendirikan partai baru akibat kekecewaan terhadap kinerja PPP. Kalau PPP ingin tetap kompak, sebaiknya DPP PPP juga mau mendengar desakan dan aspirasi dari kader-kader muda PPP. Kalau tidak, dikhawatirkan, banyak kader potensial PPP akan “hijrah” ke partai lain,” kata Aji mengakhiri perbincangan(*)

Purbalingga, 5 Februari 2005.

Adzan

Assalamu'alaikum Wr.WbAllahumma inna nas-aluka ziyadatan fid dini wabarakatan fil ‘umri wa shihhatan fil jasadi wa sa’atanfir rizqi wa tawbatan qablal mauti wa syahadatan‘indal mawti wa maghfiratan ba’dal mawti wa ‘afwan‘indal hisabi wa amanan minal ‘adzabi wa nashibanminal jannati war zuqnan nadhara ila wajhikal karim.Wa shallallahu ‘ala sayyidina muhammadin wa alihi washahbihi wa sallam subhana rabbika robbil ‘izzati‘amma yashifuna wa salamun ‘alal mursalina wal hamdulillahi rabbil ‘alamin. ‘Adada kholqihi wa ridhonafsihi wa zinata ‘arsyihi wa midada kalimatihi.(Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mukelebihan dalam agamaku, keberkahan di dalam umur,kesehatan jasmani, kelapangan rezeki, bertobat sebelummenemui kematian, mengucapkan syahadat ketika akanmati, mendapatkan pengampunan setelah mati,mendapatkan kemudahan ketika ditegakkannya hisab dankeselamatan dari azab, serta mendapatkan kehidupansurga, dan berikanlah pada kami dapat melihat padazat-Mu, Yang Mahamulia.Semoga selawat dan salam Engkau limpahkan kepadapemimpin kami, Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga danpara sahabatnya. Mahasuci Tuhanmu, Tuhan yang muliadari apa-apa yang mereka sifati, dan salam atassekalian utusan Allah dan segala puji bagi Allah,Tuhan sekalian alam. Sebanyak ciptaan-Nya, sebanyakkeridaan atas diri-Nya, sebanyak para penjagaArsy-Nya, dan sebanyak tinta ayat-ayat suci-Nya.)

Saya punya pengalaman pribadi yang berkaitan dengankumandang Adzan. Kisah ini pernah saya tulis padarubrik sentuhan Kalbu di majalah AlKIsah no10/III/2005.
Saya bangga dengan tulisan ini, sebab tulisan ini yang mengantarku menjejakan kaki di tanahBetawi... Dan tulisan tersebut saya kerjakan di tempat Zoelharman (Blok A).. seorang teman alumni Teknik Manajemen Industri 1996 UII
Thanks to zoel atas diskusi dantumpangan tidur malamnya...
Wallahul Muwaffik Illa Aqwamith Tharieq
Wassalamu'alaikum Wr.Wb

Aji Setiawan

akhirnya selamat membaca...

Sentuhan Kalbu:

Keampuhan Suara Azan

Siang itu, mentari makin terik membakar tubuh. Apalagiaroma kemenyan dan minyak wangi mengurai ke seanterolapangan. Orang-orang tengah asyik menyaksikan atraksikuda lumping yang di daerah itu disebut jaran kepangatau jathilan. “Hiya… hiya… ya... ya… yao... yao… hiya,” teriakbeberapa pemain kuda lumping dengan penuh semangatmemacu kuda-kudaan sambil memutar-mutar cemetimengikuti irama gamelan yang ditabuh bertalu-talu.Makin lama ritmenya makin cepat.“Awas, jangan dekat-dekat! Nanti bisa kesurupan!”teriak penonton di pinggir lapangan.Kalau sudah kesurupan, tingkah pemain kuda lumpingtidak terkontrol dan menarik penonton sembaranganmasuk gelanggang. Anehnya, penonton yang terbawa arus,juga kesurupan. Kalau sudah demikian, keduanya bisamengeluarkan atraksi di luar batas kemampuan manusia,seperti mengupas kelapa dengan gigi, makankaca-beling, makan bara api, menggelindingkan tubuh diatas duri, dan lain-lain.Ditingkah irama lagu yang makin cepat, keringat punbercucuran membasahi tubuh pemain sehingga basahkuyup. Di lain pihak, penonton juga seperti tersihirdan tidak beranjak dari tempatnya berdiri. Tahu-tahumatahari telah berada tepat di atas ubun-ubun, dansuara azan berkumandang, tanda salat Zuhur telah tiba.Mendadak, di tengah suara azan, salah seorang pemainkuda lumping yang kesurupan itu berhenti beraksi.Matanya merah dan tatapannya liar. Tiba-tiba, tubuhnyakelojotan seperti kena sengatan listrik ribuan voltdan jatuh lunglai. Beberapa pawang pertunjukan itu menggotong pemain tadike luar arena dan menyemburkan air sarta meniuptelinganya dengan mantera. Biasanya langsung sadar,tapi kali ini tidak. Ini sungguh di luar kelaziman. Aku pulang sambil bertanya-tanya dalam hati. Benarkahsuara azan dapat menyadarkan orang kesurupan?Acara di lapangan desa itu merupakan bagian pestapanen padi yang menggelar berbagai atraksi. Ada pasarmalam, kesenian, dan berbagai lomba tradisional. Halitu berlangsung tiap tahun dan turun-temurun. Mengikat DajjalSekian tahun kemudian di Yogyakarta. Ketikaberlangsung orientasi mahasiswa, aku menghadapi salahseorang mahasiswa baru yang kesurupan di ruanginterogasi. Tidak ada yang berani mendekati, termasukpara senior yang bertugas “meneror” agar down. Katamereka, tempat ospek itu adalah kuburan yang diurukuntuk lapangan. Diperkirakan, mahasiswa baru itupikirannya kosong dan dirasuki makhluk halus yanggentayangan.Aku, sebagai orang yang dipercaya untuk seksikerohanian Islam, segera mengambil air wudu danmendekati mahasiswa itu. Sambil membaca lafaz azan,kutiup telinganya. Aneh, tiba-tiba mahasiswa tadimengerang keras dan kelojotan, sebelum akhirnya sadar.Aku jadi semakin yakin, suara azan dapat menyadarkanorang kesurupan.Tugasku memang melakukan penyegaran kepada mahasiswabaru yang down akibat dibentak-bentak para seniornya.Sekian tahun kemudian di Jakarta. Kami, sekitar 30peserta dari penjuru tanah air, mengikuti pelatihanjurnalisme radio di wilayah Jatinegara, Jakarta Timur.Kami menginap di hotel dekat taman Prumpung. Saat kamisedang ngobrol, tiba-tiba seorang peserta kelojotan.Mukanya kaku, tatapan matanya liar, dan suaranyamenggeram seperti harimau. Ia kesurupan. Beberapapeserta perempuan menjerit ketakutan dan berhamburankeluar ruangan. Puncak kesurupan itu adalah hancurnya beberapa piringdan gelas yang ada di atas meja oleh bantingan orangyang kesurupan itu. Panitia dan pengelola hotelbingung. Ketika didekati, peserta yang kesurupan itujustru memperlihatkan sikap yang hendak menerkam.Aku segera mengambil air wudu. Dan sambil melafalkanSurah An-Nas, kupegang tangannya. Kemudian kutiuptelinganya kanan dan kiri sambil melafalkan azanpelan. Begitu azan berakhir, ia siuman. Suatu ketika, seorang kawan yang lama mondok dipesantren bercerita, suara azan mengikat Dajjal denganrantai besi. Konon, Dajjal selalu menggigit rantaibesi itu namun berhenti ketika mendengar suara azan,dan rantai besi itu utuh kembali. Dajjal akan keluarke bumi ketika seluruh manusia tidak mengumandangkanazan. Dan hari itu adalah hari kiamat. Nau’dzubillahimin dzalik!Pengalamanku itu menempatkan diriku sebagai “penjagaorang kesurupan”, terutama ketika teman-temanmengadakan acara di kawasan yang wingit atau didugabanyak dihuni roh halus. Padahal sudah berkali-kali aku katakan, menyadarkan orang kesurupan itusebenarnya mudah. Yakni, dengan cara menenangkan diriorang tersebut. Kuncinya, kita juga mesti tenang danyakin bisa menyadarkan orang. Secara batin, orangkesurupan itu tubuhnya digerakkan oleh alam bawahsadar yang mengalami tekanan mental atau stressor. Azan, selain memanggil orang untuk menunaikan salat,ternyata juga dapat menyadarkan orang kesurupan.Setidaknya, itulah keyakinanku. (*)Aji Setiawan, S.T.Dan ada sebuah hadits Rasulullah SAW yang menyatakan bahwa suara adzan membuat setan dan jin lariterbirit-birit...

Aku

Shalawat Akhirah

Allahumma shalli wa sallim ‘alal insanil kamilil jami’i lilmahamidil ladzi ‘utiya jawami’ul kalimi shallallahu ‘alayhi wasallam al-ladzi ‘anat li khushushiyyatihi masyarafatil jabah, wa sajadat lahul jibal, shalatan daimatan qa-imatan bi madzharil alsuni wataharrakati bisshalati ‘alayhis syifahu wa sallim tasliman ‘alayhi wa ‘alal ladzinasthafa min kulli awwah. Allahummasyrah shudurana wa nawwir qulubana binuril faydli min hadlratikal qudsiyyah, wamnahna wamdadna bittawfiqi wal hidayah ila shirathikal mustaqim.

(Ya Allah, limpahkanlah selawat dan salam kepada manusia yang sempurna, yang terkumpul padanya segala pujian, juga yang diberikan padanya ucapan yang penuh makna, semoga selawat dan salam akan selalu tercurah padanya, yang condong atas kekhususannya semua kemuliaan dahi-dahi yang sujud, dan yang sujud baginya gunung-gunung, semoga selawat dan salam senantiasa didirikan oleh lidah-lidah yang berucap, dan pada bibir-bibir yang bergerak untuk berselawat padanya. Juga atas orang-orang yang telah dipilih dari semua manusia yang memohon atas kemurahannya. Ya Allah, lapangkanlah hati-hati kami dan berikanlah cahaya pada hati-hati kami dengan cahaya yang Engkau berikan dari sisi-Mu yang suci. Limpahkanlah dan berilah pada kami taufik dan hidayah menuju ke jalan-Mu yang lurus.)

Surat Untuk Sahabat

Gile lu...
Gua sudah sabar menunggu
Muak melepas belenggu
Lelah
Letih
Capek

Gile Lu...
Gua lu tinggalin
Sumpah
Gua sekarang bagai terowongan
Sumpah
Gua mau keluar

Kasidah Cinta

Uktum hawana in aradta ridhana
Wahdzar tubihu bisirrina lisiwana
Wakhdla’ lana in kunta rajiy washlana
Watruk munaka in aradta munana
Waj’al wuqufaka ma baqita bibabina
Fala’alla an tuhdza bina wa tarana
Awama ‘alimta biannana ahlul wafa
Wamuhibbuna ma zala tahta liwana
Faidza qadlayta huquqana ya mudda’iy
‘Ayantana fil ka-inati ‘ayana
Nahnul kiramu faman atana qashidan
Nalas sa’adata ‘inda ma yalqana
Fanhadl bi’azmin la takunu muqasshiran
Wanzhur taral ‘ussyaqa hawla himana
Mustabsyirina binayli ma qad ammalu
Farihina mudz nadharul jamala ‘iyana
Hamu bi’isyqatihim sukara ‘indama
Kusyifal hijabu wa syahadu ma’nana
Fahumul muradu wala yuradu siwahumu
Fal qalbu musytaghilun bihim walhana
Karrir lisam’iy dzikrahum wa haditsahum
Ta’mal ma’iy bihayatihim ihsana
Ya Robba makkata was shafa bi Muhammadin
Ighfirlana ya sami’an lidu’ana
Tsummas shalatu ‘alan Nabiyyi wa Alihi
Ma harrakat rihus shaba aghshana.

(Rahasiakanlah cinta kita, jika kau inginkan rida kami. Awas! Jangan beberkan rahasia kita ini kepada orang lain. Rendahkan dirimu jika ingin berhubungan dengan kami. Tinggalkanlah keinginanmu bila menginginkan keinginan kami.
Gunakan sisa waktumu untuk berdiri di depan pintu kami. Mungkin kau akan mendapati dan melihat kami. Tak tahukah kau bahwa kami adalah orang yang pandai membalas budi? Para pencinta kami selalu berada di bawah bendera kami. Wahai orang yang suka mengaku, jika kau mengaku telah memenuhi hak-hak kami, niscaya akan kau saksikan kami di jagat raya secara nyata.
Kami adalah orang-orang yang mulia. Siapa yang mengunjungi kami dengan suatu maksud, akan meraih kebahagiaan saat berjumpa. Bangkitlah dengan tekad bulat, dan jangan lalai. Perhatikan! Akan kau saksikan para pencinta di sekeliling tenda kami bergembira memperoleh yang mereka cita-citakan. Mereka berbahagia sejak menyaksikan keindahan. Mereka dalam luapan cinta, mabuk saat tersingkap hijab yang menutupi kediaman kami.
Merekalah yang diinginkan. Dan tiada yang diinginkan kecuali mereka. Hati sibuk dan terpikat oleh mereka. Ulangi dan ulangilah sebutan dan ucapan mereka. Beramal salehlah bersama kami dengan kehidupan mereka. Wahai Tuhan Ka’bah dan Shafa, dengan berkat Muhammad, ampunilah kami, wahai Yang Maha Mendengar Doa. Kemudian limpahkanlah selawat kepada Nabi dan keluarganya selama angin masih berembus, meniup dahan-dahan pohon.)

Shalawat

Allahumma inna nas-aluka ziyadatan fid dini wa barakatan fil ‘umri wa shihhatan fil jasadi wa sa’atan fir rizqi wa tawbatan qablal mauti wa syahadatan ‘indal mawti wa maghfiratan ba’dal mawti wa ‘afwan ‘indal hisabi wa amanan minal ‘adzabi wa nashiban minal jannati war zuqnan nadhara ila wajhikal karim.
Wa shallallahu ‘ala sayyidina muhammadin wa alihi wa shahbihi wa sallam subhana rabbika robbil ‘izzati ‘amma yashifuna wa salamun ‘alal mursalina wal hamdu lillahi rabbil ‘alamin. ‘Adada kholqihi wa ridho nafsihi wa zinata ‘arsyihi wa midada kalimatihi.

(Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu kelebihan dalam agamaku, keberkahan di dalam umur, kesehatan jasmani, kelapangan rezeki, bertobat sebelum menemui kematian, mengucapkan syahadat ketika akan mati, mendapatkan pengampunan setelah mati, mendapatkan kemudahan ketika ditegakkannya hisab dan keselamatan dari azab, serta mendapatkan kehidupan surga, dan berikanlah pada kami dapat melihat pada zat-Mu, Yang Mahamulia.
Semoga selawat dan salam Engkau limpahkan kepada pemimpin kami, Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga dan para sahabatnya. Mahasuci Tuhanmu, Tuhan yang mulia dari apa-apa yang mereka sifati, dan salam atas sekalian utusan Allah dan segala puji bagi Allah, Tuhan sekalian alam. Sebanyak ciptaan-Nya, sebanyak keridaan atas diri-Nya, sebanyak para penjaga Arsy-Nya, dan sebanyak tinta ayat-ayat suci-Nya.)

Menghina Muhammad SAW

Kisah Utama
Main Story

Karikatur Nabi, Bagaimana Menyikapinya?

Figur Rasulullah SAW digambarkan dalam karikatur yang dinilai melecehkan. Dunia Islam heboh. Reaksi keras bisa dimaklumi, tapi seharusnya tidak emosional dan anarkis – sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

Memasuki tahun baru 1427 Hijri, tiba-tiba dunia Islam tersentak. Di tengah suasana peringatan Hari Asyura 10 Muharram dan Tahun Baru Islam, kaum muslimin seluruh dunia terperangah gara-gara pemuatan karikatur yang menggambarkan Nabi Muhammad SAW sebagai pelaku bom bunuh diri. Karikatur yang pertama kali dimuat di harian terbesar terbitan Denmark, Jyllands-Posten, edisi 30 September 2005 itu menggambarkan seorang lelaki Arab berjenggot dan bercambang lebat, mengenakan sorban bertuliskan kalimat tauhid, sementara sebuah bom siap ledak nangkring di puncak sorban.
Memang, karikatur itu tidak secara langsung menggambarkan bahwa lelaki itu adalah Rasulullah SAW. Tapi, itu hanyalah satu dari 12 karikatur yang memang sengaja dibuat untuk menggambarkan tokoh junjungan kaum muslimin seluruh dunia tersebut. Bisa dimaklum jika reaksi keras – bahkan emosional dan anarkis – merebak di dunia Islam. Mereka berdemonstrasi mengutuk pemuatan karikatur tersebut. Terutama setelah Januari 2006 lalu koran-koran terbitan Norwegia, Prancis, Jerman, Italia, Spanyol, ikut-ikutan menerbitkan karikatur tersebut.
Tak ayal, para pemimpin di berbagai negara Islam pun – termasuk Indonesia – mengecamnya. “Pemerintah Indonesia mengecam pemuatan karikatur Nabi Muhammad SAW. Saya dapat memahami reaksi dan protes masyarakat Islam. Saya berharap pemuatan karikatur tersebut tidak terulang kembali. Pemuatan itu jelas tidak sensitif terhadap pandangan dan keyakinan umat agama lain,” kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Meskipun yang bertanggung jawab atas pemuatan karikatur tersebut adalah pemimpin redaksi Jyllands-Posten, pada umumnya kaum muslimin menuntut agar Pemerintah Denmark minta maaf. Tapi, menurut Perdana Menteri Denmark, Anders Fogh Rasmussen, menyatakan bahwa pemuatan karikatur semacam itu merupakan pelaksanaan dari kebebasan berekspresi (freedom of expression). Dan pemerintah Denmark merasa tidak memiliki kewenangan untuk mencampuri urusan pers.
Sementara menurut Flemming Rose, editor Jyllad-Rose yang bertanggung jawab atas pemuatan karikatur tersebut, menyatakan tidak perlu minta maaf. Apalagi, Januari lalu Kejaksaan Denmark telah memutuskan bahwa karikatur tersebut bukan merupakan hujatan atau penghinaan terhadap NabiMuhammad SAW. Namun, di lain pihak, justru Kare Bluitgen – yang pertama kali menawarkan ide karikatur tersebut – yang justru termenung bingung.
Mula-mula, Bluitgen yang juga pengarang cerita anak-anak terlarir di Denmark itu, bermaksud memperkenalkan Islam kepada anak-anak Denmark. Tapi, ia kesulitan dengan ilustrasinya, karena ia tahu menggambarkan sosok Muhammad, dilarang. Meski begitu, proyek penulisan buku anak-anak itu jalan terus – didukung oleh Flemming Rose, editor budaya Jyllands-Posten. Lalu mereka pun mengumumkan sayembara karikatur tentang Nabi Muhammad SAW. Dari 40 karikatur yang masuk, 12 di antaranya dimuat.
Namanya karikatur, tentulah tak lepas dari maksud menyindir, mengejek, mengkritik, bahkan bisa jadi juga menghina. Karikatur itu ada yang menggambarkan sosok seorang lelaki bertanduk setan, ada yang bersenjatakan belati, tapi yang paling fatal ialah lelaki bersorban dengan bom siap ledak yang nangkring di puncaknya. Tak urung dunia Islam pun geger. Protes keras pecah di mana-mana. Dr. Yusuf Qaradhawi, ulama Mesir terkemuka, yang juga pimpinan Forum Persatuan Ulama Islam Internasional, menyerukan agar para ulama, muballigh, dai, ustaz di seluruh dunia menjadikan hari Jumat 3 Februari lalu -- bertepatan dengan 4 Muharram 1427 H -- sebagai hari solidaritas terhadap penghinaan atas Rasulullah SAW.

Minta Maaf
Di Indonesia, demonstrasi merebak di sejumlah kota, seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Makassar, Padang, dan lain-lain. Tak urung kantor Kedutan Besar Denmark di Jakarta dan konsulatnya di Surabaya menjadi sasaran demonstran. Sangat disayangkan, ada juga media terbitan Indonesia yang ikut-ikutan memuat karikatur yang meresahkan tersebut, seperti tabloid Penta (Bekasi), tabloid Gloria (Surabaya) dan koran Rakyat Merdeka (Jakarta). dan koran Rakyat Merdeka (Jakarta).
Belakangan, dalam siaran persnya Perdana Menteri Denmark, Anders Fogh Rasmussen, mentarakan bahwa pemimpin redaksi Jyllands-Posten sudah minta maaf kepada umat Islam seluruh dunia. “Saya sangat prihatin dengan kenyataan bahwa gambar-gambar itu dianggap sebagai penghinaan terhadap Nabi Muhammad SAW dan Islam. Saya berharap pernyataan maaf dari harian Jyllands-Posten dapat memberikan ketenangan kaum muslimin yang merasa disakiti dan terhina,” kata Rasmussen.
Namun, lantaran demonstrasi tetap berlanjut, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Kofi Annan merasa perlu angkat bicara. Ia mengimbau umat Islam seluruh dunia agar menerima permintaan maaf tersebut. “Atas nama Allah yang Maha Pengasih, saya mendesak kepada kawan-kawan muslim untuk menerima permintaan maaf ini,” katanya. “Saya menghormati kebebasan, tapi kebebasan berekspresi dan menyatakan pendapat tidaklah absolut melainkan harus diikuti dengan tanggung jawab dan pertimbangan,” tambahnya.
Penghinaan terhadap Nabi Muhammad SAW seperti itu sesungguhnya bukan yang pertama kali terjadi. Sejak masa kenabian 15 abad silam, Rasulullah SAW sudah berkali-kali dihina. Dilempari batu oleh orang-orang gila ketika berdakwah di Thaif, ditimpuki kotoran unta oleh anak buah Abu Jahal ketika sujud di Ka’bah. Tapi, (ya Rasulullah!), Nabi tetap tabah dan sabar, tidak protes apalagi melawan; bahkan menganggap mereka “tidak mengerti, tidak mengetahui.”
Oleh karena itu, reaksi kaum muslimin yang keras – emosional dan mendekati anarkis – sesungguhnya tak pernah diajarkan oleh Rasulullah SAW. Sikap dan sifat Rasul yang lemah lembut dalam kerangka akhlaqul karimah (budi pekerti yang luhur) dalam menghadapi mereka yang memusuhi beliau, justru merupakan dakwah yang sangat jitu. Bahkan, dengan kelembutan dan kasih sayang itulah orang-orang yang memusuhi berbalik menjadi simpati, dan akhirnya menjadi muslim – bahkan sangat mencintai Rasulullah SAW.
Maka sangatlah tepat anjuran Habib Munzir Almassawa agar kaum muslimin bersikap Islami. Memang, Habib Munzir memahami reaksi kaum muslimin, namun janganlah ampai berlebihan. Bersamaan dengan itu, Habib Munzir menegaskan, inilah satnya untuk mendakwahkan ke dunia luas siapa sebenarnya sosok Muhammad Rasulullah SAW (lihat box: Kartun Denmark, Cambuk bagi Dakwah Kita). Meski sesungguhnya Nabi Muhammad SAW adalah tokoh dunia yang riwayatnya “terang benderang”, agaknya masih diperlukan dakwah yang lebih intensif.
Kesalah pahaman tentang Islam dan Nabi Muhammad SAW itu memang sering berlangsung dari abad ke abad. Bahkan sampai di abad 20 ini pun – 15 abad setelah dakwah Rasulullah SAW diproklamasikan -- penghinaan itu masih saja berlanjut. Pada 1989, mialnya, pengarang Salman Rushdi asal India berkewarga negaraan Inggris, menulis novel The Satanic Verses yang dianggap menghina Nabi. Lalu, September 1994, film True Lies garapan sutradara Steven Spielberg menggambarkan Islam identik dengan teroris. Tak berhenti sampai di situ, Juli 1997 wanita Yahudi, Tatyana Suskin, menyebarkan 20 poster yang menghina Islam dan Nabi Muhammad SAW. Salah satunya menggambarkan seekor babi mengenakan kafiyeh bertuliskan kata Muhammad, sementara kukunya menorehkan tulisan pada sebuah buku berjudul Al-Quran.

Film Dokumenter
Itu belum cukup. Pada 2003, dalam bukunya The Islamic Invasion, Confronting the World’s Fastest Growing Religion (Invasi Islam, Cara Menghadapi Agama yang Paling Cepat Berkembang di Dunia), Dr. Robert Morey menolak Islam sebagai agama. Masih ada lagi. Pada tahun yang sama, buku sejenis Who is Allah? Tulisan G.J.O. Moshay berusaha memutar balikkan fakta tentang Islam, menyebut Rasulullah SAW sebagai “pembohong paling ulung di dunia.” Belum lagi film dokumenter karya Theo van Gogh asal Belanda yang menghina Islam dan Muhammad SAW (2004), dan setahun kemudian, Museum Tate di London urung memamerkan patung karya John Latham karena dikhawatirkan melukai perasaan kaum muslimin.
Meski reaksi kaum muslimin kemarin bisa dianggap terlalu keras, bahkan kurang Islami, reaksi itu memang bisa dimaklumi. Sebab, Nabi Muhammad SAW adalah Rasulullah (utusan Allah), yang sering mendapat julukan sebagai Nabi Besar, Junjungan Kita, atau bahkan Kanjeng Nabi – di kalangan masyarakat Jawa. Bahkan kaum muslimin sangat mencintainya. Begitu besar penghormatan dan kecintaan itu, sehingga Allah SWT dan para malaikat pun menghormati dan menyalaminya dengan shalawat (QS Al-Ahzab:56).
Penghormatan yang sangat khidmat dan kecintaan yang sangat mendalam juga diwujudkan oleh kaum muslimin setiap kali mereka menyebut nama Rasululah – yang otomatis mengikutinya dengan shalawat. Setiap kali mengakhiri shalat lima waktu, meraka juga memanjatkan shalawat. Bahkan begitu usai mendengar suara azan, mereka lazim membaca doa, memohonkan tempat yang mulia bagi Rasulullah SAW. Sementara doa yang dipanjatkan kepada Allah SWT, sangat dianjurkan untuk mengawalinya dengan hamdalah (pujian kepada Alah SWT) dan shalawat.
Bukan hanya itu, peringatan maulid (hari kelahiran) Rasulullah SAW selalu diperingati dengan meriah, penuh haru dan khidmat. Di Indonesia, peringatan maulid menjadi tradisi kenegaraan yang selalu digelar di Istana Negara, sementara di Solo, Yogya dan Cirebon, sejak dua abad silam ada tradisi perayan Sekaten. Para ulama dan penyair pun, dengan penuh hormat, menyusun puluhan bait-bait puja puji terhadap kepribadian Rasulullah SAW. Sebutlah misalnya Barzanji, Diba’i, Burdah, Syaraful Anam, Simthud Durar, sampai yang terakhir Dhya-ul Lamy.
Penghormatan tiada tara dan kecintaan tiada batas itu, antara lain juga karena kaum muslimin mengharapkan syafa’at (pertolongan) Rasulullah SAW. Kelak, di Hari Kiamat, tak ada pertolongan dari siapapun kecuali dari Rasul. “Kita sudah beribadah dan beramal shaleh sebaik-baiknya. Tapi, siapa yang menjamin ibadah dan amal kita diterima oleh Allah SWT dan kita masuk sorga? Pada saat-saat kritis itulah kita sangat mengharap syafa’at Rasulullah SAW,” kata Habib Anis bin Alwi Alhabsyi, ulama kharismatik dari Solo.
Sebagai penghormatan dan kecintaan yang luar biasa itu pula, grup musik Debu dan Rayhan mendendangkan lagu-lagu nasyid, sementara penyair Taufiq Ismail dan grup Bimbo melantunkan kerinduan yang tak tertahankan: Rindu kami padamu, ya Rasul / Rindu tiada terperi / Cinta ikhlasmu pada manusia / Bagai cahaya suarga / Dapatkah kami membalas cintamu / Secara bersahaja?

AST/BSH

Baca lebih Komplit di Majalah AlKisah edisino 5/III/2006
Edar 22 Februari 2006